• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kematian dalam Ajaran Buddha

N/A
N/A
Panya Dama s

Academic year: 2024

Membagikan "Kematian dalam Ajaran Buddha"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

UTS SUTTA THEMATIK DASAR OLEH

AROGIO DHARMA

(20230200027)

(2)

AGENDA

DIgha Nikàya Majjhima Nikāya Aṅguttara Nikāya Saṃyutta Nikāya

2

(3)

DIGHA NIKÀYA

Kutipan langsung;

Kematian menurut Mahàsatipaññhàna Sutta yaitu; Makhluk apa pun juga, kelompok makhluk apa pun juga, ada, mengalami kematian, musnah, terputus, lenyap,

meninggal dunia, sekarat, berakhir, terputusnya gugus-gugus, lepasnya jasmani, itu, disebut kematian (D.II.305).

(4)

DIGHA NIKÀYA

Kutipan tidak langsung;

Jalan mulia berunsur delapan menurut Mahàsatipaññhàna sutta yaitu;

1.Pandangan Benar, 2.Pikiran Benar, 3.Ucapan Benar, 4.Perbuatan Benar, 5.Penghidupan Benar, 6.Usaha Benar, 7.Perhatian Benar,

8.Konsentrasi Benar.(D.II.311).

(5)

DIGHA NIKÀYA

Kutipan paragraf;

Dalam ajaran Buddha, kematian dipandang sebagai bagian alami dari siklus kehidupan yang tidak bisa dihindari. kematian dalam ajaran Buddha juga dihubungkan erat dengan kelahiran kembali, di mana individu diyakini akan mengalami serangkaian kehidupan berurutan jika belum mencapai Nibbāna (kebahagiaan tertinggi). Tiga hal ini tidak lepas dari kematian yaitu;Anicca, Dukkha, dan Anatta, yang berarti ketidaktetapan, penderitaan, dan ketiadaan diri.

Anicca mengajarkan bahwa segala sesuatu dalam dunia ini bersifat sementara dan berubah, termasuk kehidupan dan kematian. Dukkha mengacu pada penderitaan yang dihasilkan dari ketidaktetapan dan keinginan akan hal-hal yang bersifat sementara. Sedangkan Anatta menunjukkan bahwa tidak ada diri yang abadi atau substansial di dalam diri manusia.dengan hal ini kita arus memahami segala sesuatu yang hidup akan mengalami kematian ,jadi kit arus memperaktikan jalan mulia berunsur delapan yaitu; 1.Pandangan Benar, 2.Pikiran Benar, 3.Ucapan Benar,

4.Perbuatan Benar, 5.Penghidupan Benar, 6.Usaha Benar, 7.Perhatian Benar, 8.Konsentrasi Benar (D.II.305-311).

(6)

MAJJHIMA NIKĀYA

Kutipan langsung;

sifat tathāgata menurut kandaraka sutta yaitu;Seorang tathāgata muncul di dunia ini, sempurna, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingan bagi orang-orang yang harus dijinakkan (M.ll.344).

(7)

MAJJHIMA NIKĀYA

kutipan yang tidak langsung;

orang yang bijaksana menurut kandaraka sutta yaitu; Tidak melakukan praktik

penyiksaan terhadap semua makhluk.

Seperti manusia dan hewan lain,memiliki sifat padam,sejuk, ia yang menahan rasa lapar pada watu yang tidak tepat dan ia berdiam dengan mengalami

kebahagiaan,inilah inilah orang yang bijaksana (M.ll.344).

(8)

MAJJHIMA NIKĀYA

Kutipan paragraf ;

Sang Buddha, atau di sebut juga sebagai pangeran Siddhartha Gautama, adalah guru tertinggi dalam Buddhisme, yang memberikan contoh langsung tentang bagaimana mencapai pencerahan dan menemukan jalan menuju pembebasan dari penderitaan. Ia dihormati dan dianggap sebagai sumber ajaran dan inspirasi bagi jutaan orang yang mengikuti ajaran Buddhisme di seluruh dunia. Dalam Kandaraka Sutta juga sudah di sebutkan, seorang Tathāgata (sang Buddha) hadir di dunia ini dengan keutuhan yang sempurna. Mereka telah mencapai pencerahan sempurna, yang memiliki pengetahuan sejati dan perilaku yang sempurna. Sang Buddha adalah sosok mulia menurut agama Buddha yang memahami seluruh alam, sang Buddha adalah sorang pemimpin yang tak tertandingi bagi mereka yang perlu diarahkan. Tathāgata seseorang yang telah mencapai penerangan sempurana,dalam mecapai penerangan sempurna sang Buddha melakukan peraktik menghindari penyiksaan terhadap semua makhluk, sebaliknya sang Buddha menunjukkan sifat padam dan sejuk. Sang Budha juga menahan rasa lapar di waktu yang tidak tepat, dan menikmati kebahagiaan dalam ketenangan. Dengan demikian, menurut Kandaraka Sutta, orang bijaksana adalah mereka yang tidak hanya memiliki pemahaman yang dalam, tetapi juga menunjukkan kasih sayang dan kebijaksanaan dalam tindakan mereka, menjauhkan diri dari penderitaan dan membawa kedamaian bagi diri mereka sendiri dan orang lain (M.ll.344).

(9)

AṄGUTTARA NIKĀYA

Kutipan langsung;

“Orang bijaksana menghindari apa yang membahayakan, dan mengambil apa yang bermanfaat. Dengan sampai pada apa yang bermanfaat, yang kokoh dikatakan sebagai bijaksana”(A.II.46).

(10)

AṄGUTTARA NIKĀYA

Kutipan tidak langsung;

Menurut Aṅguttara Nikāya bahwa orang yang baik akan mendapatkan empat manfaat, yaitu pertumbuhan dalam perilaku yang bermoral, konsentrasi yang bermoral, kebijaksanaan yang bermoral, dan kebebasan yang bermoral (A.II.238).

(11)

AṄGUTTARA NIKĀYA

Kutipan paragraf;

Dalam kehidupan secara umum sering kali tercermin dalam prinsip sederhana yang menggambarkan orang bijaksana menghindari segala sesuatu yang berpotensi membahayakan, sementara mereka dengan teliti mengambil segala yang bermanfaat.

Dalam setiap langkah mereka, keselamatan dan manfaat menjadi panduan. Pertama-tama, mereka akan mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam perilaku yang bermoral.

Melalui pengalaman dan refleksi atas tindakan mereka, mereka akan terus berkembang menjadi individu yang lebih baik secara moral. Selain itu, kebaikan hati mereka akan mendukung konsentrasi yang mendalam dalam menjalani hidup, karena fokus mereka terletak pada hal-hal yang baik dan benar. Kemudian, kebijaksanaan yang mereka peroleh dari mempraktikkan kebaikan akan menjadi panduan dalam menghadapi berbagai situasi dan tantangan. Dan yang terakhir, tetapi tidak kalah pentingnya, kebaikan mereka akan memberikan mereka kebebasan yang sesungguhnya (A.II.46,238).

(12)

SAṂYUTTA NIKĀYA

Kutipan langung (VAṄGĪSASAṂYUTTA ) Orang-orang yang suka mencemooh,

Terbunuh oleh keangkuhan, jatuh ke neraka.

Orang-orang bersedih dalam waktu yang lama. Terbunuh oleh keangkuhan, terlahir kembali di neraka (S.I.187).

(13)

SAṂYUTTA NIKĀYA

Kutipan Tidak Langsung (VAṄGĪSASAṂYUTTA )

Bagaikan bulan yang bersinar di langit tanpa awan, menyejukkan dengan

keindahannya; bagaikan matahari yang bersinar tanpa noda, memberi kehangatan dan kecerahan yang tak terhingga. Demikian pula, ajaran Dhamma yang Agung bersinar terang, melampaui seluruh dunia dengan keagungannya yang menuntun menuju kedamaian dan kebijaksanaan yang abadi (S.I.196).

(14)

SAṂYUTTA NIKĀYA

Kutipan paragraf (VAṄGĪSASAṂYUTTA )

Didalam lingkungan kehidupan ini kita menemukan berbagai macam sifat manusia yang baik maupun buruk,hal itu yang mengondisikan karma yang akan di dapatkan,dikarena kita akan mewariskan karma yang telah kita perbuat.contoh sifat manusia yang menggambarkan karma buruk menurut Saṃyutta Nikāya yaitu; Orang- orang yang suka mencemooh, Terbunuh oleh keangkuhan, jatuh ke neraka. Orang-orang bersedih dalam waktu yang lama. Terbunuh oleh keangkuhan, terlahir kembali di neraka.untuk menghindari hal ini terjadi kita arus memahami ajaran Dhamma yang akan membantu kita dalam menjalani kehidupan yang lebih baik,di karenaka jaran Dhamma yang Agung bersinar terang, melampaui seluruh dunia dengan keagungannya yang menuntun menuju kedamaian dan kebijaksanaan yang abadi (S.1.187-196).

Referensi

Dokumen terkait

Setiap kali kita mempraktikkan Ajaran Buddha Dharma dengan benar di dalam proses pembinaan pikiran kita, maka tingkat kesadaran kita pun akan naik 1 poin, namun

Dalam ajarannya, Buddha mengenal 5 aspek, yaitu duniawi luar, sensasi, persepsi, keputusan, kesadaran selain dunia bawah sadar, banyak ajaran-ajaran Buddha yang lebih ditekankan

Oleh karena itu sulit untuk memutuskan ikatan duniawi, dan menekuni Ajaran Buddha Dharma juga tidak hanya melafalkan paritta dan melakukan kebajikan, namun yang terpenting

dengan yang lainya. Sehingga menjadi agama yang sempurna bila dijalani dengan penuh disiplin oleh umatnya. inti pokok ajaran Siwa-Buddha itu adalah nirbana atau

Demikian tugas dan tujan Dharmaduta, yakni menyebarkan ajaran Buddha Dharma supaya jaran Dharma (Dhamma) dapat lestari dan umat Buddha dapat mengetahui ajaran yang benar,

Agama Buddha mempunyai arti ajaran yang dirumuskan di dalam empat kebenaran yang mulia (Catur Arya Satyani), 20 di mana ajaran tersebut disampaikan oleh Buddha Gautama kepada

Dalam rangka membentuk keluarga bahagia yang menjadi tujuan perkawinan dalam agama Buddha, setiap pasangan harus mengikuti ajaran Sang Buddha tentang praktik

Dokumen ini membahas tentang diare, penyakit yang biasa terjadi di antara anak-anak dan menjadi salah satu penyebab kematian di