i
TUGAS INDIVIDU
KEPENDUDUKAN DAN PENGENDALIAN FERTILITAS Dosen : Dr. Sriyana, Herman, AMK., SKM., M.Kes
OLEH
ALANTI P1B122002
ROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER KESEHATAN REPRODUKSI UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR 2024
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkah dan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah dengan judul Kependudukan Dan Pengendalian Fertilitas.
Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa Makalah ini tidak mungkin dapat terselesaikan dengan baik. Namun, berkat bimbingan dan bantuan dari berbagi pihak, akhirnya Makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Dan tidak lupa saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Sriyana, Herman, AMK., SKM., M.Kes selaku dosen mata kuliah ini.Tugas ini dibuat sebagai syarat memperoleh nilai dalam tugas akhir.
Sebagai manusia, penulis manyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan dan pengerjaan tugas makalah ini. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan masukan berupa kritikan dan saran yang bersifat membangun bagi penulis dari para pembaca untuk memperbaiki tugas ini. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.
Makassar, 01 Mei 2024
ALANTI
iii DAFTAR ISI
SAMPUL... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
BAB II PERMASALAHAN ... 2
2.1 Rumusan Masalah ... 2
2.2 Tujuan ... 2
BAB III PEMBAHASAN ... 3
3.1 Teori Penduduk Kuno. ... 3
3.2 Teori Penduduk Modern ... 4
3.3 Teori Malthus (Thomas Robert Malthus) ... 5
3.4 Teori Kependudukan Kontemporer ... 10
3.5 Teori Transisi Kependudukan ... 12
3.6 Ukuran dan Variabel Demografi ... 13
BAB IV PENUTUP ... 16
4.1 Kesimpulan ... 16
4.2 Saran ... 16
DAFTAR PUSTAKA ... 17
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Demografi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk dalam suatu wilayah dengan faktor-faktor pengubahnya (mortalitas, natalitas, migrasi dan distribusi). Secara umum Demografi adalah ilmu yang mempelajari persoalan dan keadaan-keadaan perubahan penduduk atau dengan kata lain segala hal yang berhubungan dengan komponen-komponen perubah tersebut seperti kelahiran, kematian, dan migrasi sehingga menghasilkan suatu keadaan dan komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin tertentu.
Banyaknya teori yang berkembang di ranah ilmu pengetahuan menyebabkan munculnya teori ilmu sosial yang beragam dan dari beragmnya teori ilmu sosial menyebabkan daya pemikiran yang beragam pula terhadap teori- teori ilmu sosial, salah satunya adalah teori Robert Maltus yang pemikirannya mengenai masalah kependudukan. Masalah kependudukan tentunya bukan masalah yang asing lagi di masyarakat, oleh karena itu penulistertarik untuk mengkaji pengetahuan tentang teori robert malthus sehingga dari pengkajian informasi yang lebih mendetail dapat menambah wawasan para pembaca.
2 BAB II PERMASALAHAN
2.1 Rumusan Masalah
1. Apa saja teori-teori kependudukan ?
2. Apa saja yang terkait dengan teori penduduk kuno ? 3. Apa saja yang terkait dengan teori penduduk modern ? 4. Apa saja yang terkait di dalam teori malthus ?
5. Apa saja yang terkait di dalam teori kependudukan kontemporer ? 6. Apa saja yang terkait di dalam teori transisi kependudukan ? 7. Apa saja ukuran dan Variabel Demografi?
2.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa saja teori-teori kependudukan 2. Untuk mengetahui tentang teori penduduk kuno 3. Untuk mengetahui tentang teori penduduk modern 4. Untuk mengetahui tentang teori teori malthus
5. Untuk mengetahui tentang teori kependudukan kontemporer 6. Untuk mengetahui tentang teori transisi kependudukan 7. Untuk mengetahui ukuran dan variabel pendidikan
3 BAB III PEMBAHASAN
3.1 Teori Penduduk Kuno
Teori penduduk kuno dimulai dengan tulisan Confucius sekitar tahun 500 BC yang menyebutkan bahwa pertumbuhan penduduk terlalu cepat ( besar ) dapat menekan standart hidup masyarakat karena mengurangi pendapatan pekerja.
Dianjurkan adanya hubungan optimal antara penduduk dan tanah pertanian secara proporsional yang memadai. Pemerintah harus bertanggung jawab agar proporsi selalu dapat dipertahankan.
Teori Cina Kuno menyatakan :
1. Tingkat kematian akan naik apabila persediaan bahan makanan tidak cukup.
2. Perkawianan pada usia dini (muda) akan menyebabkan tingkat kematian semakin tinggi.
3. Peperangan dapat memperlambat pertumbuhan penduduk.
4. Upacara perkawinan yang mewah dan mahal akan menurunkan tingkat perkawinan.
Pada Zaman Yunani Kuno sekitar tahun 300 BC mencurahan perhatian kepada penyusunan kebijaksanaan dan peraturan kependudukan dari pada teorinya.
Plato dan Aristoteles membahas masalah titik optimum jumlah penduduk yang di kaitkan dengan bentuk serta ciri negara kota Yunani dalam kondisi ideal.
Plato dalam bukunya LawsI mengemukakan agar jumlah penduduk yang di kehendaki dapat tetap di pertahankan. Bila jumlah penduduk kurang, dirangsang dengan hadiah agara pemuda dan pemudi untuk kawin dan melahirkan akan mendatangkan penduduk dari luar daerah. Jika penduduk telah mencapai jumlah yang berlebihan di anjurkan untuk mengendalikan atau membatasi kelahiran atau memindahkan penduduk keluar daerah.
Aristoteles dalam bukunya politica menyimpulkan bahwa jumlah penduduk yang terlalu banyak akan menambah kemiskinan dan kepincangan
4
sosial. Faktor yang dapat mencegah bertambahnya jumlah penduduk yang berlebihan dengan cara penguguran kandungan (aborsi).
Jaman Romawi, Cicero tahun 50 BC meneropong masalah penduduk dari segi perspektif suatu kerajaan yang besar dan bukan menurut ukuran negara kota Yunani. Pertumbuhan penduduk yang besar di butuhkan untuk kepentingan militer (ekspansi). Perkawinan dan kelahiran mendapat bantuan dari pemerintah, sebaliknya yang tidak menikah mendapat sangsi sesuai perundang-undangan Romawi waktu itu yang menolak selibat.
Jaman Kristen Awal, Agustinus tahun 400 menyetujui sistem selibat tetapi sangat menentang pengguguran kandungan, pembunuhan anak dan perceraian.
Ibnu Khaldun abad ke-14 mengemukakan bahwa penduduk yang padat akan menyebakan tingkat kehidupan semakin baik karena pembagian kerja akan bertambah luas dan semua sumber daya akan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Kondisi ekonomi yang saehat dari tata kehidupan politik akan merangsang pertumbuhan dengan meningkatnya kelahiran dan menurunnya kematian.
3.2 Teori Penduduk Modern
Teori penduduk modern muncul pada periode Renaissance dengan perubahan pesat karena :
➢ Bangkitnya negara-negara baru
➢ Penemuan-penemuan baru di bidang ilmiah
➢ Eksplorasi terhadap wilayah baru (penemuan benua baru,daerah jajahan).
➢ Perubahan sistem pemerintah (Feodalisme demokrasi).
➢ Pertumbuhan, Perdagangan dan aliran kapitalisme.
➢ Revolusi industri.
Pandangan Merkantilisme yang di kembangkan oleh bodin dan Machiavelli pada abad XVII dan XVIII menekankan pada kekuasaan dan kesejahteraan negara terutama akumulasi uang dan logam mulia sebagai sasaran utama kebijaksanaan nasional. Pentingnya pertumbuhan penduduk yang besar dengan merangsang perkawianan dan pembentukan keluarga besar, meningkatkan program kesehatan masyarakat, mencegah arus emigrasi keluar negeri dan
5
meningkatkan imigrasi terutama pekerja-pekerja dengan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Jumlah penduduk yang banyak merupakan elemen penting dalam kekuatan negara dibidang ekonomi dan politik. Penduduk yang besar dapat meningkatkan angkatan perang, penghasilan negara dapat di tingkatkan, upah dan biaya produksi dapat di tekan.
Pandangan Fisiokrat abad ke-18 tidak menyetujui campur tangan pemerintah dengan berbagai peraturan dan aspek lain dalam pandangan Merkantitlisme. Menurut Gide dan Rist aliran fisiokrat yang fundamental adalah tatanan alamiah condong kepada hukum alam atau Laissezfaire, peranan tanah pertanian dalam produksi sangat menonjol dalam aspek ekonomi. Aliran fisiokrat menolak pandangan merkatilisme yang mendorong pertumbuhan penduduk walaupun bila perlu menurunkan tingkat kehidupan. Menurut Qudesnay seorang tokoh aliran fisiokrat, suatu negara hendaknya mempunyai penduduk yang cukup banyak tetapi dengan syarat agar mereka dapat mencepai taraf hidup yang layak.
Semua kegiatan diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan bukan untuk memperbanyak jumlah penduduk. Jumlah penduduk sangat tergantung pada pesediaan bahan makanan sehingga sektor pertanian harus di rangsang pertumbuhannya agar prosedurnya meningkat melebihi pertambahan jumlah penduduk.
Kemajuan ilmiah akan mampu memperbanyak jumlah persediaan makanan sampai apada suatu ttik di mana seorang pria hanya cukup bekerja satu setengah jam saja dalam sehari untuk dapat memenuhi kebutuhannya.
3.3 Teori Malthus (Thomas Robert Malthus)
Pandangan Malthusianisme di kemukakan oleh Thomas Robert Malthus seorang ulama Inggris yang lahir tahun 1766 dan meninggal tahun 1844. Menurut Malthus :
1. Bahan makanan di butuhkan untuk hidup.
2. Nafsu antara pria dan wanita di butuhkan dan akan tetap keadaannya seperti itu.
6
3. Apabila tidak ada hambatan penduduk akan bertambah menurut deret ukur dan bahan makanan akan bertambah menurut deret hitung.
Malthus juga mengatakan bahwa pertumbuhan penduduk jauh lebih cepat dari bahan makanan. Akibatnya pada suatu saat akan terjadi perbedaan yang besar antara penduduk dan kebutuhan hidup.
Dalil yang dikemukakan Malthus yaitu bahwa jumlah penduduk cenderung untuk meningkat secara geometris (deret ukur), sedangkan kebutuhan hidup riil dapat meningkat secara arismatik (deret hitung). Menurut pendapat Malthus ada faktor-faktor pencegah yang dapat mengurangi kegoncangan dan kepincangan terhadap perbandingan antara penduduk dan manusia yaitu dengan jalan :
• Preventive checks
Yaitu faktor-faktor yang dapat menghambat jumlah kelahiran yang lazimnya dinamakan moral restraint. Termasuk didalamnya antara lain :
1. Penundaan masa perkawinan 2. Mengendalikan hawa nafsu 3. Pantangan kawin
4. Positive checks
• Positive checks
Yaitu faktor-faktor yang menyebabkan bertambahnya kematian, termasuk di dalamnya antara lain:
1. Bencana Alam 2. Wabah penyakit 3. Kejahatan 4. Peperangan
Positive checks biasanya dapat menurunkan kelahiran pada negara-negara yang belum maju.
Hambatan atau rintangan terhadap pertumbuhan penduduk (checks to population) dibedakan dalam :
1. Ultimate check (hambatan akhir) berupa bencana kelaparan, akibat perbedaan jumlah penduduk dan bahan makanan
7
2. Immediate check (hambatan segera) berupa hambatan pencegahan melalui penundaan usia kawin dan melahirkan dinegara yang telah maju dan hambatan positif seperti pembunuhan, epidemi, kemalaratan, dan peperangan di negara yang belum maju.
- Kelemahan teori Malthus :
1. Manusia mempunyai kemampuan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk melalui pemakaian kontrasepsi.
2. Migrasi penduduk dari tempat yang padat ketempat lain. Penemuan benua baru dan tanah jajahan menyebabkan penduduk dari eropa banyak berpindah tempat tinggal. Keaadaan ini dapat menurunkan tingkat kepadatan penduduk dan membuka lahan pertanian ditempat yang baru.
3. Peningkatan teknologi pertanian melalui pengadaan bibit unggul, pemupukan, pengendalian hama, dan penanganan pasca panen, melipatgandakan hasil pertanian sehingga ancaman kekurangan pangan dapat diatasi.
4. Manusia dapat memanfaatkan potensi laut melalui Revolusi Biru. Rumput laut, ikan, dan berbagai hasil laut dapat meningkatkan kesejahteraan manusia.
5. Napsu seksual dan daya reproduksi manusia bukanlah sesuatu yang konstan tetapi dapat berubah-ubah. Malthus tidak membedakan fekunditas dan fertilitas.
Akan tetapi bagaimanapun juga teorinya menarik perhatian dunia, karena dialah yang mula-mula membahas persoalan penduduk secara ilmiah. Disamping itu essaynya merupakan methode untuk menyelesaikan atau perbaikan persoalan penduduk dan merupakan dasar bagi ilmu-ilmu kependudukan sekarang ini.
Pengikut-pengikut teori Malthus antara lain :
1. Francis Flace (1771 – 1854)Pada tahun 1882 menulis buku yang berjudul Illustration and Proofs of the population atau penjelasan dari bukti mengenai asas penduduk. Ia berpendapat bahwa pemakaian alat kontrasepsi tidak menurunkan martabat keluarga, tetapi manjur untuk kesehatan. Kemiskinan dan penyakit dapat dicegah.
2. Richard Callihie (1790 – 1843)Ia menulis buku yang berjudul “What Is Love”, apakah cinta itu menurut dia – Mereka yang berkeluarga tidak
8
perlu mempunyai jumlah anak yang lebih banyak dari pada yang dapat dipelihara dengan baik.
3. Wanita yang kurang sehat tidak perlu menghadapi bahaya maut karena kehamilan
4. Senggama dapat dipisahkan dari ketakutan akan kehamilan
5. Pengikut yang lain antara lain Any C. Besant (1847-1933)Ia menulis buku yang berjudul “Hukum Penduduk, akibatnya dan artinya terhadap tingkah laku dan moral manusia”
6. Pengikut yang tidak dapat dilupakan lagi ialah dr. George Drysdale yang hidup tahun 1825 – 1904. Ia berpendapat bahwa keluarga berencana dapat dilakukan tanpa merugikan kesehatan dan moral. Menurut anggapannya kontrasepsi adalah untuk menegakkan moral masyarakat.
Aliran Marxist (Karl Marx dan Fried Engels)
Aliran ini tidak sependapat dengan Malthus (bila tidak dibatasi penduduk akan kekurangan makanan). Karl Marx dan Friedrich Engels (1834) adalah generasi sesudah Maltus. Paham Marxist umumnya tidak setuju dengan pandangan Maltus, karena menurutnya paham Maltus bertentangan dengan nurani manusia.
Dasar Pegangan Marxist adalah beranjak dari pengalaman bahwa manusia sepanjang sejarah akan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Beda pandangan Marxist dan Maltus adalah pada “Natural Resource” tidak bisa dikembangkan atau mengimbangi kecepatan pertumbuhan penduduk.Menurut Marxist tekanan penduduk di suatu negara bukanlah tekanan penduduk terhadap bahan makanan, tetapi tekanan terhadap kesempatan kerja (misalnya di negara kapitalis). Marxist juga berpendapat bahwa semakin banyak jumlah manusia semakin tinggi produk yang dihasilkan, jadi dengan demikian tidak perlu diadakan pembatasan penduduk.
Pendapat Aliran Marxist :
• Populasi manusia tidak menekan makanan, tapi mempengaruhi kesempatan kerja.
9
• Kemeralatan bukan terjadi karena cepatnya pertumbuhan penduduk, tapi karena kaum kapitalis mengambil sebagian hak para buruh
• Semakin tinggi tingkat populasi manusia, semakin tinggi produktifitasnya, jika teknologi tidak menggantikan tenaga manusia sehingga tidak perlu menekan jumlah kelahirannya, ini berarti ia menolak teori Malthus tentang moral restraint untuk menekan angka kelahiran.
Aliran Neo-Malthusian (Garreth Hardin & Paul Ehrlich)
Pada abad 20 teori Malthus mulai diperdebatkan kembali. kelompok ini menyokong aliran Malthus, akan tetapi lebih radikal lagi dan aliran ini sangat menganjurkan untuk mengurangi jumlah penduduk dengan menggunakan cara- cara “Preventif Check” yaitu menggunakan alat kontrasepsi.
Tahun 1960an dan 1970an foto-foto telah diambil dari ruang angkasa dengan menunjukkan bumi terlihat seperti sebuah kapal yang berlaya dengan persediaan bahan bakar dan bahan makanan yang terbatas. Pada suatu saat kapal ini akan kehabisan bahan bakar dan bahan makanan tersebut sehingga akhirnya malapetaka menimpa kapal tersebut.
Tahun 1871 Ehrlich menulis buku “The Population Bomb” dan kemudian direvisi menjadi “The Population Explotion” yg berisi:
• Sudah terlalu banyak manusia di bumi ini.
• Keadaan bahan makanan sangat terbatas.
• Lingkungan rusak sebab populasi manusia meningkat.
Analisis ini dilengkapi oleh Meadow (1972), melalui buku “The Limit to Growth” ia menarik hubungan antara variabel lingkungan (penduduk, produksi pertanian, produksi industri, sumber daya alam) dan polusi. Tapi walaupun begitu, melapetaka tidak dapat dihindari, hanya manusia cuma menunggunya, dan membatasi pertumbuhannya sambil mengelola alam dengan baik.
Kritikan terhadap Meadow umumnya dilakukan oleh sosiolog yang menyindir Meadow karena tidak mencantumkan variabel sosial-budaya dalam penelitiannya.
Karena itu Mesarovic dan Pestel (1974) merevisi gagasan Meadow &
mencantumkan hubungan lingkungan antar kawasan.
10 3.4 Teori Kependudukan Kontemporer a) Teori Fisiologi dan sosial ekonomi
- John Stuart Mill ( ahli filsafat dan ekonom Inggris ), menerima pendapat Malthus. Mill mengasumsikan bahwa :
• Laju pertumbuhan penduduk melampaui makanan
• Manusia dapat mempengaruhi perilaku demografinya
• Manusia dengan produktifitas tinggi, cenderung ingin keluarga kecil
• Kekurangan pangan dapat diatasi dengan migrasi dan impor.
- Arsene Dumont
Mengemukanan teori kapilaritas sosial yang intinya mengatakan bahwa setiap orang akan selalu mempunyai keinginan untuk memperbaiki keadaan sosial ekonominya. Adanya kapilaritas sosial menyebabkan terjadinya penurunan angka kelahiran karena dengan anak yang banyak dapat menghambat pencapaian keadaan sosial ekonomi yang lebih baik. Keadaan ini akan terjadi pada suatu masyarakat yang telah maju peradabannya.
- Emile Durkheim
Wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi, maka akan muncul persaingan yang keras antar sesama anggotanya untuk mempertahankan hidupnya.
Masyarakat tradisional terdapat persaingan hidup yang kecil dibanding masyarakat industri.
- Thomas Jarold
Seorang dokter dari inggris mengatakan bahwa kemampuan reproduki manusia akan berkurang apabila ia semakin banyak menggunakan tenaganya baik fisik maupun mental. Kehidupan manusia yang lebih sibuk maka pertambahan penduduk akan semakin berkurang.
- Michael Thomas Sadler
Mengemukakan akan terjadi suatu mekanisme keseimbangan antara pertambahan jumlah penduduk dan tingkat kemakmuran. Bertambahnya tingkat kemakmuran akan menyebabkan berkurangnya kemampuan atau keingina menambah jumlah anak dan sebaliknya.
11 - Thomas Doubleday
Mengemukakan adanya korelasi antara tingkat kelahiran dan tingkat kemakmuran.
Tingkat kehidupan yang sulit akan merangsang orang untuk meningkatkan kelahiran sedaangkan tingkat kehidupan yang makmur akan mengurangi kemampuan melahirkan. Keadaan ini disebut sebagai the real and great law of human population. Kemampuan reproduksi manusia dipengaruhi oleh pola makannya. Penduduk yang makmur banyak makan daging hewan dan banyak makan sayuran yang menyebabkan meningkatnya daya reproduksi.
- Raymond Pearl
Berdasarkan hasil penelitiannya pada lalat, ayam dan beberapa kelompok manusia yang mengusahakan suatu bidang tanah tertentu. Over population tidak akan mungkin timbul sebab perkembangan jumlah manusia akan mengikuti suatu pola tertentu berupa logistic curve yang mula-mula melengkung naik hingga mencapai suatu titik puncak tertentu untuk kemudian melengkung turun lagi. Hal ini terjadi karena terbatasnya ruang yang tersedia.
- Corrado Gini
Mengemukakan teori evolusi sosial yang menyatakan bahwa perkembangan penduduk akan mengikuti suatu proses evolusi yang kira-kira akan sama seperti proses hidup seseorang. Setiap kelompok penduduk pada awalnya akan mempunyai tingkat peradaban sederhana dan angka kelahiran yang tinggi. Jumlah penduduk akan terus bertambah diikuti kemampuan-kemampuan dalam bidang sosial ekonomi. Pada akhirnya akan terjadi pengurangan pertambahan penduduk baik akibat peperangan atau penurunan angka kelahiran mengakibatkan jumlah penduduk akan menciut.
b) Teori Teknologi
Kelompok ini muncul untuk menolak pandangan Malthus yang pesimis dalam melihat perkembangan dunia.Teori ini dimotori oleh Herman Khan, ia berpendapat bahwa kemiskinan yang terjadi di negara berkembang akan dapat diatasi jika negara maju dapat membantu daerah miskin, sehingga kekayaan dan kemampuan daerah hidup itu akan didapatkan oleh orang-orang miskin.Ia
12
beranggapan bahwa teknologi maju akan mampu melakukan pemutaran ulang terhadap nasib manusia pada suatu masa yang disebut ‘Era Substitusi’.
3.5 Teori Transisi Kependudukan Tahap Peralihan keadaan demografis:
1. Tingkat kelahiran dan kematian tinggi. Penduduk tetap/naik sedikit. anggaran kesehatan meningkat. Penemuan obat obatan semakin maju. Angka kelahiran tetap tinggi.
2. Angka kematian menurun,tingkat kelahiran masih tinggi-pertumbuhan penduduk meningkat. Adanya Urbanisasi., usia kawin meningkat. ,Pelayanan KB > Luas., pendidikan meningkat.
3. Angka kematian terus menurun, angka kelahiran menurun – laju pertumbuhan penduduk menurun.
4. Kelahiran dan kematian pada tingkat rendah pertumbuhan penduduk kembali seperti kategori I – mendekati nol. Keempat kategori ini akan didialami oleh negara yang sedang melaksanakan pembangunan ekonomi.
Struktur & persebaran penduduk Membahas : - Komposisi penduduk
- Persebaran penduduk.
Kegunaan pengelompokan penduduk:
1. Mengetahui human resources yg ada menurut umur & jenis.
2. Mengambil suatu kebijakan yg berhub dengan penduduk.
3. Membandingkan keadaan satu penduduk dengan penduduk lain
4. Melalui gambaran piramid pddk dapat diket proses demografi yg telah terjadi pada penduduk.
Penerapan Transisi kependudukan Yang mencerminkan kenaikan taraf hidup rakyat di suatu negara adalah besarnya tabungan dan akumulasi kapital dan laju pertumbuhan penduduknya. Laju pertumbuhan yang sangat cepat di banyak negara sedang berkembang nampaknya disebabkan oleh fase atau tahap transisi demografi yang dialaminya. Negara-negara sedang berkembang mengalami fase transisi demografi di mana angka kelahiran masih tinggi sementara angka
13
kematian telah menurun. Kedua hal ini disebabkan karena kemajuan pelayanan kesehatan yang menurun angka kematian balita dan angka tahun harapan hidup.
Ini terjadi pada fase kedua dan ketiga dalam proses kependudukan. Umumnya ada empat tahap dalam proses transisi, yaitu:
❖ Tahap 1: Masyarakat pra-industri, di mana angka kelahiran tinggi dan angka kematian tinggi menghasilkan laju pertambahan penduduk rendah;
❖ Tahap 2: Tahap pembangunan awal, di mana kemajuan dan pelayanan kesehatan yang lebih baik menghasilkan penurunan angka kelahiran tak terpengaruh karena jumlah penduduk naik.
❖ Tahap 3: Tahap pembangunan lanjut, di mana terjadi penurunan angka kematian balita, urbanisasi, dan kemajuan pendidikan mendorong banyak pasangan muda berumah tangga menginginkan jumlah anak lebih sedikit hingga menurunkan angka kelahiran. Pada tahap ini laju pertambahan penduduk mungkin masih tinggi tetapi sudah mulai menurun;
❖ Tahap 4: Kemantapan dan stabil, di mana pasangan-pasangan berumah tangga melaksanakan pembatasan kelahiran dan mereka cenderung bekerja di luar rumah. Banyaknya anak cenderung hanya 2 atau 3 saja hingga angka pertambahan neto penduduk sangat rendah atau bahkan mendekati nol.
3.6 Ukuran dan Variabel Demografi
Beberapa ukuran dasar dalam Demografi adalah sebagai berikut:
1. Fertilitas (Kelahiran)
Fertilitas dalam pengertian demografi adalah kemampuan riil seorang wanira untuk melahirkan, yang dicerminkan dalam jumlah bayi yang dilahirkan.
Beberapa ukuran dasar fertilitas yang sering digunakan adalah:
a. Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate)
b. Angka Kelahiran Menurut Umur (Age Spesific Fertility Rate) c. Angka Fertilitas Total (Total Fertility Rate)
Rumus masing-masing fertilitas:
14 a. Angka Kelahiran Kasar (CBR)
𝐶𝐵𝑅 =𝐵 𝑃× 𝑘 dimana:
𝐵 : jumlah kelahiran pada tahun tertentu 𝑃 : jumlah penduduk pada pertengahan tahun 𝑘 : konstanta (1.000)
b. Angka Kelahiran Menurut Umur (ASFR) 𝐴𝑆𝐹𝑅𝑥 = 𝐵𝑥
𝑃𝑥 × 𝑘 dimana:
𝑥 : umur wanita dalam kelompok umur 5 tahunan (15-19, 20-24, .... , 45- 49).
c. Angka Fertilitas Total (TFR) 𝑇𝐹𝑅 = 5 ∑ 𝐴𝑆𝐹𝑅
45−49
𝑥=15−19
2. Mortalitas (Kematian)
Mortalitas berkaitan erat dengan tingkat kematian penduduk yang ada pada suatu daerah. Tidak semua kejadian kematian dicatat dalam ilmu demografi. Sebab menurut PBB dan WHO, kematian merupakan peristiwa hilangnya tanda-tanda kehidupan secara permanen beberapa saat setelah lahir hidup. Karena itulah, jumlah keguguran dan still birth tidak dihitung sebagai kematian.
Beberapa angka kematian yang sederhana antara lain:
a. Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) 𝐶𝐷𝑅 =𝐷
𝑃× 𝑘 dimana:
𝐷 : jumlah kematian pada tahun tertentu 𝑃 : jumlah penduduk pada pertengahan tahun
15 𝑘 : konstanta (1.000)
b. Angka Kematian Menurut Umur (Age Spesific Death Rate) 𝐴𝑆𝐷𝑅𝑥= 𝐷𝑥
𝑃𝑥 × 𝑘 dimana:
𝐷𝑥 : jumlah kematian dalam kelompok umur 𝑥 (𝑥 = 0-14, 15-19, dan seterusnya)
𝑃𝑥 : jumlah penduduk kelompok 𝑥 𝑘 : konstanta (1.000)
3. Migrasi
Migrasi artinya perpindahan penduduk dari satu daerah menuju daerah lain, entah itu untuk sementara waktu ataupun menentap dalam jangka waktu lama.
Rumus menghitung migrasi di suatu daerah:
𝐵𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑚𝑖𝑔𝑟𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 − 𝐵𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑚𝑖𝑔𝑟𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘 × 𝑘
4. Angka Pertumbuhan Penduduk (Population Growth Rate atau ‘r’)
1. Pertumbuhan Geometri : 𝑃𝑡 = 𝑃𝑜∙ (1 + 𝑟)𝑛 𝑃𝑡 : jumlah penduduk pada akhir tahun 𝑃𝑜 : jumlah penduduk pada awal tahun 𝑟 : angka pertumbuhan penduduk 𝑛 : lamanya waktu antara 𝑃𝑜 dan 𝑃𝑡 2. Pertumbuhan Eksponensial : 𝑃𝑡 = 𝑃𝑜∙ 𝑒𝑚
dimana : 𝑒 = angka eksponesial 2,71828
16 BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Demografi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk dalam suatu wilayah dengan faktor-faktor pengubahnya (mortalitas, natalitas, migrasi dan distribusi).
Teori-teori tentang kependudukan terbagi atas : Teori penduduk kuno, teori penduduk modern, teori Malthus, teori kependudukan kontemporer, dan teori transisi kependudukan.
Teori Malthus (Thomas Robert Malthus) seorang ulama Inggris yang lahir tahun 1766 dan meninggal tahun 1844.Menurut pendapat Malthus ada faktor- faktor pencegah yang dapat mengurangi kegoncangan dan kepincangan terhadap perbandingan antara penduduk dan manusia yaitu dengan jalan : Preventive checks dan positive checks.
Terdapat 2 aliran yaitu : Aliran Marxist (Karl Marx dan Fried Engels) Aliran ini tidak sependapat dengan Malthus (bila tidak dibatasi penduduk akan kekurangan makanan). Dan Aliran Neo-Malthusian (Garreth Hardin & Paul Ehrlich) kelompok ini menyokong aliran Malthus, akan tetapi lebih radikal lagi dan aliran ini sangat menganjurkan untuk mengurangi jumlah penduduk dengan menggunakan cara-cara “Preventif Check” yaitu menggunakan alat kontrasepsi.
Teori kependudukan kontemporer terbagi atas Teori Fisiologi dan sosial ekonomi dan teori teknologi.
4.2 Saran
Hakikat dari manusia itu sendiri yang penuh dengan ketidaksempurnaan. Begitu juga dengan makalah ini, Says kelas 1A, Fakultas kesehatan masyarakat menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan karena ini adalah sebuah usaha yang manusiawi. Maka dari itu saya mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan penyusunan makalah selanjutnya.
17
DAFTAR PUSTAKA
Firman Lubis, 1982, Masalah Kependudukan dan Kesehatan Masyarakat , Bagian IKM/IKP FK. UI
Paul Ehrlich, 1981, Ledakan Kependudukan, Gramedia, Jakarta Rozy Munir, 1983, Teori-teori Kependudukan, Bina Aksara, Jakarta
Ruslan Prawiro, 1983, Kependudukan Teori Fakta dan Masalah, Alumni, Bandung