• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepuasan Pernikahan dan Conflict Resolution pada Pasangan Long Distance Marriage

N/A
N/A
ㅤZanirah

Academic year: 2024

Membagikan "Kepuasan Pernikahan dan Conflict Resolution pada Pasangan Long Distance Marriage "

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

E-ISSN: 2654-5497, P-ISSN: 2655-1365 Website: http://jonedu.org/index.php/joe

Kepuasan Pernikahan dan Conflict Resolution pada Pasangan Long Distance Marriage

Laelatul Anisah1, Cahya Milia Tirta Safitri 2, Heppy Syawalina Kusuma3

1, 2, 3

Universitas Selamt Sri, Jl. Soekarno Hatta Km 03, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Indonesia [email protected]

Abstract

Long Distance Marriage or also called long-distance marriage, is a familiar phenomenon, including in Indonesia. Long Distance Marriage describes a situation where couples are physically separated. One partner has to go elsewhere for specific purposes, such as work, or the other partner has to stay at home or in their area of origin. Long-distance marriages also cause many wives to experience loneliness because their husbands have left them for months. Physical separation from people considered close is often a painful experience and can affect almost every aspect of life.This study aims to determine the relationship between marital satisfaction and conflict resolution in long-distance marriage couples. This study uses a quantitative correlational method. The data collection technique used the purposive sampling method, determining the sample with specific considerations. The number of participants in this study was 66 out of a total population of 260, with criteria including Married men/women, under 40 years of age and undergoing long-distance marriages.The results of this study indicate that there is a relationship between marital satisfaction and conflict resolution. This is indicated by the coefficient values of the two variables, namely Rxy = 0.246 with FCount = 4.123 (FCount>3.986) and P = 0.046 (p <0.05). There is a positive relationship between marital satisfaction and conflict resolution. This is indicated by the value of the correlation coefficient on marital satisfaction and conflict resolution variables, which is 6.1%. This means that the higher the marital satisfaction, the higher the level of conflict resolution in long-distance marriage couples. Vice versa, the lower the marital satisfaction, the lower the level of conflict resolution in long-distance marriage couples.

Keywords: Marital Satisfaction; Confict Resolution; Long Distance Marriage Couple

Abstrak

Long Distance Marriage atau disebut juga pernikahan jarak jauh merupakan fenomena yang tidak asing lagi termasuk di Indonesia. Long Distance Marriage menggambarkan situasi tentang pasangan yang terpisah secara fisik, yaitu salah satu pasangan harus pergi ketempat lain untuk kepentingan tertentu seperti bekerja dan pasangan yang lain harus tetap tinggal di rumah atau di daerah asalnya. Pernikahan jarak jauh juga menyebabkan banyaknya istri yang mengalami kesepian karena ditinggal oleh suaminya dalam waktu yang berbulan-bulan lamanya. Keterpisahan fisik dengan orang yang selama ini dianggap dekat sering kali menjadi pengalaman yang menyakitkan dan dapat dipengaruhi hampir setiap sisi dalam kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepuasan pernikahan dan confict resolution pada pasangan long distance marriage. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Teknik pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, yakni teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Adapun jumlah partisipan dalam penelitian ini adalah 66 dari total populasi sebanyak 260 dengan kriteria antara lain : Laki-Laki / Perempuan yang sudah menikah, Usia dibawah 40 tahun, dan menjalani long distance marriage.Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara kepuasan menikah dan conflict resolution. Hal itu ditunjukkan oleh nilai koefisiensi dari kedua variabel, yaitu Rxy = 0,246 dengan FHitung = 4,123 (FHitung>3,986) dan P = 0,046 (p<0,05). Ada hubungan positif antara kepuasan menikah dan conflict resolution. Hal itu ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi pada variabel kepuasan menikah dan conflict esolution yang bernilai 6,1%. Artinya semakin tinggi kepuasan menikah maka semakin tinggi tingkat conflict resolution pada pasangan long distance merriage. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah kepuasan menikah maka semakin rendah pula tingkat conflict resolution pada pasangan long distance merriage.

Kata kunci: Kepuasan Pernikahan; Confict Resolution; Pasangan Long Distance Marriage

Copyright (c) 2023 Laelatul Anisah, Cahya Milia Tirta Safitri, Heppy Syawalina Kusuma Corresponding author: Laelatul Anisah

Email Address: [email protected] (Jl. Soekarno Hatta Km 03, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah) Received 24 January 2023, Accepted 03 February 2023, Published 03 February 2023

(2)

PENDAHULUAN

Pernikahan adalah salah satu fase dalam hidup yang selalu menjadi impian banyak orang. Hal ini dikarenakan menikah adalah perwujudan cinta antara laki-laki dan perempuan yang sebelumnya hidup terpisah lalu menjadi satu untuk hidup bersama dalam sebuah ikatan. Pernikahan selalu identik dengan kesakralan, karena di dalamnya terdapat janji dan komitmen bukan hanya antara dua orang, namun juga melibatkan Tuhan Yang Maha Esa. Senada dengan hal tersebut, Walgito (2018) menyebutkan bahwa pernikahan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Walgito, 2018). Pernikahan dipandang sebagai komitmen emosional dan hukum, terdiri dari dua orang yang berbagi keintiman emosional dan fisik, berbagi tugas, dan sumber daya ekonomi, (Olson

& DeFrain, 2003).

Tujuan pernikahan secara umum adalah membentuk keluarga yang sejahtera dan bahagia selamanya (Agustian, 2013). Pernikahan diharapkan mampu berjalan harmonis hingga akhir hayat.

Suami istri seyogyanya mampu menerima tanggung jawab dan memainkan peran sebagai pasangan yang telah menikah, yang di dalamnya terdapat hubungan seksual, keinginan mempunyai anak dan menetapkan pembagian tugas antara suami istri (Duvall dan Miller, 1985). Pernikahan diibaratkan seperti sebuah kapal, dimana suami sebagai nahkoda dan istri sebagai asisten nahkoda yang dalam hal ini dapat saling bekerjasama untuk mencapai tujuan yang sama. Seperti yang disampaikan Parsons dan Bales (dalam Olson & DeFrain, 2003) yang menyatakan bahwa di dalam sebuah keluarga, pria dan wanita tentunya memiliki peran masing-masing yang berbeda. Pria sebagai suami memainkan peran instrumental, yang bertanggung jawab atas tugas-tugas seperti mencari nafkah di luar rumah, dan wanita sebagai istri meminkan peran ekspresif, seperti mengasuh anak. Hanya saja dalam mengarungi kehidupan rumah tangga, kadang peran suami istri tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Kehidupan rumah tangga pada kenyataanya tidak semudah yang dibayangkan. Terdapat banyak faktor yang melatarbelakangi keutuhan rumah tangga, terutama dalam hal finansial.

Meningkatnya kebutuhan hidup dan tingginya persaingan dalam meniti karir membuat banyak pasangan suami istri memilih tinggal terpisah untuk meniti karir di luar kota atau bahkan di negara yang berbeda. Pernikahan jarak jauh atau long distance marriage dilakukan untuk mempertahankan pekerjaan, pernikahan jarak jauh juga dijalani dengan tujuan untuk mencari penghasilan lebih baik.

Pasangan suami istri akan mencari pekerjaan yang lebih baik, untuk memperbaiki keadaan ekonomi dan untuk pencapaian jenjang karir (Ekasari, Wahyuningsih, & Setyaningrum, 2007).

Long distance marriage atau disebut juga pernikahan jarak jauh merupakan fenomena yang tidak asing lagi termasuk di Indonesia. Long distance marriage menggambarkan situasi tentang pasangan yang terpisah secara fisik, yaitu salah satu pasangan harus pergi ketempat lain untuk kepentingan tertentu seperti bekerja dan pasangan yang lain harus tetap tinggal di rumah atau di daerah asalnya (Pistole, dalam Ramadhini dan Hendriani, 2015). Pernikahan jarak jauh juga menyebabkan banyaknya istri yang mengalami kesepian karena ditinggal oleh suaminya dalam waktu

(3)

yang berbulan-bulan lamanya. Keterpisahan fisik dengan orang yang selama ini dianggap dekat sering kali menjadi pengalaman yang menyakitkan dan dapat dipengaruhi hampir setiap sisi dalam kehidupan.

Menurut Fischman (dalam Baron & Byrne, 2005) ketika pasangan mengalami perpisahan dalam menjalani hubungan pernikahan jarak jauh kemungkinan akan muncul rasa kesepian. Menurut Ferk (dalam Li, Roslan, Abdullah & Abdullah, 2015) juga penyebab terjadinya pernikahan jarak jauh atau long distance marriage adalah faktor pekerjaan dengan pertimbangan meningkatkan kehidupan keluarga, mempertahankan karir, pendapatan berpotensi lebih tinggi dan peluang lebih baik untuk kemajuan karir. Salah satu contohnya adalah suami atau istri yang bekerja di luar negeri sehingga harus menjalani hubungan pernikahan jarak jauh. Umumnya, mereka memilih kondisi tersebut karena mempertahankan profesi atau pekerjaan masing-masing. Menjalin hubungan pernikahan jarak jauh bukanlah persoalan yang mudah dibandingkan dengan pasangan yang tinggal serumah serta memiliki intensitas waktu bertemu hampir setiap hari. Long distance marriage juga dijelaskan oleh Maines (1993) bahwa pernikahan jarak jauh adalah pernikahan terpisah antara suami dengan istri yang didasari atas komitmen sebelum pernikahan karena tuntutan karir atau pekerjaan (Margiani & Ekayati, 2013). Berdasarkan pengertian tersebut, bahwa pernikahan jarak jauh dilakukan pasangan suami istri semata-mata karena tuntutan pekerjaan dimana pasangan tersebut telah memiliki komitmen dan dapat menerima konsekuensi yang akan berimbas kepada keharmonisan rumah tangga.

Di Indonesia belum ada data statistik terkait jumlah pasangan suami istri yang sedang menjalani long distance marriage. Di Amerika Serikat, data statistik terkait dengan hubungan jarak jauh (long distance marriage) dilihat pada survei yang dilakukan oleh The Center for The Study of Long Distance Relationships yang menyatakan bahwa pada tahun 2005, 3,5 juta penduduk Amerika Serikat menjalani pernikahan jarak jauh (long distance marriage), selanjutnya pada tahun 2011, hubungan jarak jauh tersebut meningkat menjadi 7,2 juta orang. Pada individu yang masih berpacaran, dilaporkan pada tahun 2005 sebanyak 4,5 juta orang dan meningkat pesat pada tahun 2011, yaitu menjadi 10 juta orang (Jacobs dan Lyubomirsky, 2013).

Kariuki (2004) dalam penelitiannya memaparkan bahwa sebanyak 81% responden yang menjalani pernikahan jarak jauh (long distance marriage) memiliki permasalahan terkait pemenuhan kebutuhan seksual, 72% responden mengaku bahwa kebutuhan seksualnya tidak terpenuhi dan merasa jauh secara emosi, sementara 45% responden mengaku bahwa terdapat perselingkuhan di dalam rumah tangga mereka. Pasangan yang menjalani long distance marriage tentu memiliki conflict resolution (resolusi konflik) yang berbeda dengan pasangan yang tinggal serumah. Hal ini dikarenakan faktor jarak, pertemuan, serta komunikasi yang terbatas. Namun, belum tentu setiap pasangan mampu menyelesaikan permasalahannya dan memiliki resolusi konflik yang baik serta mendapatkan hasil yang diinginkan. Dengan keadaan jarak jauh ini para pasangan hanya dapat menyelesaikan permasalahannya melalui teknologi.

(4)

Komunikasi jarak jauh dilakukan pasangan suami istri yang berjauhan dengan menggunakan media komunikasi. Salah satunya dengan menggunakan telepon dan internet yang memudahkan dalam berkomunikasi. Resolusi konflik yang baik adalah pasangan yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan permasalahannya dengan cara saling terbuka terhadap pasangan serta saling mendukung dan membangun kepercayaan (Fowers dan Olson, dalam Andromeda dan Noviajati, 2015). Tidak hanya pada masalah komunikasi saja, namun kebutuhan seksual pada hubungan jarak jauh ini juga memiliki konflik tersendiri pada setiap pasangan hubungan jarak jauh. Kebutuhan seksual juga salah satu hal penting dalam pernikahan. Karena mereka yang jarang bertemu, pemenuhan kebutuhan seks dapat menjadi suatu masalah dalam pernikahan jarak jauh. Kondisi tersebut menjadi permasalahan yang harus diatasi oleh setiap pasangan dengan menemukan cara penyaluran yang tepat dan sesuai dengan minat dan hobi pribadi agar tidak menimbulkan dampak negatif melainkan menimbulkan nilai kepuasan yang cukup (Gunarsa, 2012).

Namun, jika dilihat dari masalah-masalah yang ada di hubungan jarak jauh ini secara negatifnya, di antaranya yakni melemahnya hubungan di antara pasangan, merasa kesepian, muncul kecurigaan dari teman dan kerabat, ikatan keluarga yang merenggang, hilangnya kesempatan memiliki anak, seringnya terjadi konflik, terjadinya perceraian dan kondisi keuangan yang kurang.

Menurut Dargie, dkk (2015) dalam penelitiannya, bahwa pasangan yang sedang menjalani hubungan jarak jauh (long distance relationship) saat menikah akan lebih mengalami kepuasan, keintiman dan komunikasi yang lebih lancar. Selain itu, menurut Hartwell (2006) salah satu cara agar hubungan jarak jauh tetap bertahan adalah akibat adanya komitmen yang kuat di antara pasangan.

Dalam pernikahan, setiap permasalahan yang terjadi dibutuhkan sikap saling terbuka, saling mendukung dalam menyelesaikan permasalahan serta kerja sama. Jika dari masing-masing pasangan salah satunya tidak ada yang terbuka dan tidak saling mendukung dalam menyelesaikan masalah, maka hal ini akan berpengaruh terhadap kepuasan pernikahan. Ketika kepuasan pernikahan yang dirasakan berkurang, maka akan mempengaruhi dengan komitmen yang terbentuk. Seperti yang dijelaskan Johnson (dalam Latifatunnikmah, 2015) yaitu, adanya kepuasan dalam perkawinan serta terbentuknya suatu kepercayaan individu terhadap pasangannya akan menyebabkan individu itu tidak ingin meninggalkan hubungannya. Aylor (2003) mengatakan bahwa hubungan jarak jauh dipercaya dapat menghasilkan kepuasan hubungan yang rendah. Kepuasan hubungan yang rendah dapat menyebabkan stress, strategi penyelesaian masalah yang kurang efektif diantara pasangan, dan menurunnya tingkat kepercayaan pada pasangan (Lee-Ji-Yeon, 2012).

Farris (dalam Arida, 2011) menyatakan bahwa hal-hal penting yang sangat diperlukan dalam pernikahan jarak jauh adalah kepercayaan, dukungan dari pasangan, komitmen yang kuat, serta komunikasi yang terbuka antara pasangan. Apabila salah satu dari pasangan tersebut mulai tidak percaya dan tidak jujur maka salah satu pasangan itu akan merasa tidak aman dan tidak nyaman.

Menurut Juu, Wook, Kim, Hyun, & Park, 2013 untuk mencapai kepuasan pernikahan dapat pula dilihat dari beberapa hal yang menjadi motivasi seseorang untuk menikah, yaitu: cinta (love),

(5)

persahabatan (companionship), kecocokan (conformity), mengesahkan hubungan seksual (legitimization of sex), mengesahkan identitas anak (legitimization of child), kesiapan untuk menikah (sense of readiness), keuntungan yang sah (legal benefit), dan hubungan jarak jauh (Long Distance Marriage).

Individu yang terbuka mengenal dirinya pada pasangan akan meningkatkan kepuasan pernikahan, karena lebih bisa memahami pasangannya. Kepuasan pernikahan dapat didefinisikan sebagai penilaian subjektif sifatnya dinamis dari pasangan suami istri terhadap kehidupan dalam pernikahan pasangan, yang bisa dinilai dengan memandang berbagai aspek di dalam kehidupan dalam pernikahan Olson dan Fowers (dalam Subrata, 2015). Aspek-aspek kepuasan pernikahan yang dikemukakan oleh Olson dan Fowers (dalam Subrata, 2015) meliputi: komunikasi, aktivitas bersama, orientasi keagamaan, pemecahan masalah, pengelolaan keuangan, hubungan seks, keluarga dan teman, hadirnya buah hati dan pengasuhan, kepribadian dan kesamaan peran. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pernikahan menurut Papalia, Olds dan Feldman (2008) yaitu : komitmen yang kuat, pola interaksi yang sudah pasti di dalam masa dewasa awal, usia pernikahan, pengelolaan keuangan, keagamaan, dukungan emosional dan perbedaan harapan di antara suami istri.

Kepuasan pernikahan juga berkaitan dengan keterlibatan pengasuhan. Hubungan antara kedua orang tua berpengaruh terhadap hubungan orang tua dan anak. Orang tua berbagi tanggung jawab untuk mengasuh anak, yaitu bagaimana kedua orang tua mampu hadir secara nyata untuk anaknya dan menunjukkan kestabilan hubungan mereka (Chris, 2022). Menurut Jernecke dan South (2013) kedekatan pasangan suami dan istri adalah salah satu aspek terpenting dari kualitas kepuasan pernikahan, akan tetapi bagi pasangan suami istri yang menjalani hubungan jarak jauh, ketidakpuasan tidak bisa dihindari karena mereka tidak memiliki banyak waktu bersama. Sahlstein (dalam Pistole, dkk, 2010) mengemukakan jika rasa rindu yang dialami pasangan tidak akan terpenuhi apabila mereka tidak menikmati waktu luang bersama-sama dengan pasangannya. Oleh karena itu, salah satu kunci utama yang dapat menolong pasangan jarak jauh atau long distance marriage ini adalah keterbukaan.

Sebagai seorang istri atau suami harus memiliki sikap empati dan simpati apabila pasangan dalam keadaan yang kurang baik secara psikologis atau pun ekonomi. Pasangan harus mengerti dan mampu menempatkan diri ketika suami atau istri membutuhkannya. Sikap yang ditunjukkan dengan mendengarkan pembicaraan tanpa mengkritik pembicara adalah sikap empati yang bisa ditunjukkan kepada suami, terutama saat melangsungkan pernikahan jarak jauh. Istri mendengarkan dahulu keluhan dari suami ketika misalnya ada masalah pekerjaan, ekonomi, dan keluarga. Lalu, istri meresponnya dengan kata-kata motivasi atau kata positif supaya suami lebih semangat untuk bekerja.

Dengarkan dan pahami dengan baik, di mana komunikasi yang akan disampaikan suami atau istri, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman. Pasangan yang dibatasi oleh jarak hanya dapat berkomunikasi melalui media sosial atau telepon. Kolaborasi antara keduanya diperlukan. Isi pesan harus jelas dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Pernikahan jarak jauh banyak faktor yang mempengaruhi

(6)

kesalahpahaman dalam hubungan komunikasi, sehingga membutuhkan komunikasi terbuka diantara keduanya (Amelia et al., 2018).

Resolusi konflik pada disetiap pernikahan itu perlu. Jika adanya suatu konflik di dalam rumah tangga dan tidak ada solusi di dalamnya, maka bisa terjadi ketidaknyamanan bagi pasangan. Resolusi konflik yang efektif bisa dilakukan dengan tidak mengungkit masa lalu. Di dalam pernikahan sebisa mungkin hindari untuk mengungkit adanya masa lalu pada pasangan, karena hal itu merupakan hal yang sangat sensitif, dapat memicu pertengkaran. Memperlihatkan keterbukaan dengan menyampaikan perasaan, entah itu positif atau negatif, terbuka terhadap informasi, fokus pada masalah, tidak saling menuduh satu sama lain, mau berubah, memiliki kesadaran untuk ada jika pasangan membutuhkan serta membangun intimacy dan kepercayaan dengan pasangan (Renanita &

Setiawan, 2018).

Bagi istri yang menjalani pernikahan jarak jauh, hidup dari suami merupakan tantangan yang cukup berat. Kelelahan fisik akibat rutinitas urusan rumah tangga sehari-sehari juga dapat berakibat pada kelelahan psikologis. Hasil penelitian oleh Purba dan Siregar (dalam Dharmawijayanti, 2016) menyebutkan bahwa hubungan jarak jauh dapat memberikan dampak negatif terhadap kondisi biologis maupun psikologis karena dapat memicu stres ketika konflik sedang muncul dalam hubungan. Kondisi seperti ini terutama banyak terjadi pada wanita yang pada dasarnya memiliki sifat lebih sensitif dan emosional. Bagi pasangan yang menjalani long distance marriage ini memang bukan hal yang mudah untuk dilalui. Setiap pasangan pasti ada permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Maka keterbukaan dan kepercayaan bagi pasangan jarak jauh sangat diperlukan.

Peningkatan komunikasi dengan menggunakan media sosial juga sangat diperlukan, namun juga harus disesuaikan dengan waktu yang tepat antara pasangan hubungan jarak jauh.

Fenomena pernikahan jarak jauh kini sudah menjadi hal yang wajar. Terutama bagi pasangan yang cenderung fokus akan kebutuhan finansialnya. Hanya saja tidak semua pasangan LDM dapat mempertahankan pernikahan. Di Kabupaten Kendal, jumlah kasus perceraian paska pandemi terus meningkat. Data pengadilan agama kelas IA sejak Januari 2020 hingga September 2021 terdapat 4.814 kasus cerai. Faktor yang melatarbelakangi perceraian kebanyakan dipicu karena LDM.

Ironisnya, penggugat didominasi pihak istri yang menjalankan pekerjaan sebagai TKW di luar negeri (Agus, 2021). Berdasarkan kondisi tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tetang Hubungan antara Kepuasan Pernikahan dan Conflict Resolution Pada Pasangan Long Distance Marriage.

METODE

Penelitian Kepuasan Pernikahan dan Conflict Resolution pada Pasangan Long Distance Marriage ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Teknik pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, yakni teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2016). Adapun jumlah partisipan dalam penelitian ini adalah 66 dari

(7)

total populasi sebanyak 260 dengan kriteria antara lain : Laki-Laki / Perempuan yang sudah menikah, Usia dibawah 40 tahun, dan menjalani long distance marriage.

Metode pengumpulan data menggunakan skala likert. Skala ini terdiri dari dua jenis pernyataan yaitu pernyataan bersifat favorable, yang berarti mendukung pada objek penelitian dan unfavorable yang berarti tidak mendukung pada objek sikap. Terdapat dua skala yang digunakan, yaitu skala Kepuasan Pernikahan yang telah diadaptasi dari teori kepuasan pernikahan milik Fowers

& Olson (1993). Skala tersebut mengacu pada aspek antara lain : (1) Isu Kepribadian, (2) Resolusi Konflik, (3) Komunikasi, (4) Kesetaraan Peran, (5) Waktu Luang, (6) Pengaturan Keuangan, (7) Hubungan Seks, (8) Anak dan Pengasuhan, (9) Keluarga dan Teman, serta (10) Agama. Sementara itu, variabel Conflict resolution diadaptasi dari skala Crawford dan Bodine (1996) yang mencakup : (1) kemampuan orientasi, (2) kemampuan mengelola emosi, (3) kemampuan dalam berkomunikasi, (4) berpikir kritis, (5) kemampuan berpikir kreatif dan (6) kemampuan persepsi.

HASIL DAN DISKUSI Uji Normalitas

Uji normalitas terhadap variable grit akademik dan kedisiplinan mahasiswa yang dilakukan dengan teknik Kolmogorov-Smirnov pada program SPSS 23.00 for Windows menunjukkan sebaran data NORMAL, dimana variabel kepuasan pernikahan dan conflict resolution memiliki nilai P = 0,200 (p>0,05).

Uji Linieritas

Uji linieritas hubungan pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kedua variabel penelitian memiliki hubungan yang linear atau tidak. Uji linieritas menggunakan teknik ANOVA pada program SPSS 23.00 for Windows menunjukkan adanya hubungan linear antara kepuasan pernikahan dengan conflict resolution, dimana FHitung = 0,990 dan p = 0,498 (p>0,05) yang berarti variabel kepuasan pernikahan memiliki hubungan yang linear dengan conflict resolution.

Uji Hipotesis

Hasil uji hipotesis yang dilakukan dengan teknik korelasi Person Product Moment pada program SPSS 23.00 for Windows menunjukkan adanya hubungan antara antara kepuasan pernikahan dengan conflict resolution, dimana koefisiensi dari kedua variabel Rxy = 0,246 dengan P = 0,046 (p>0,05). Dengan demikian hipotesis null diterima dan hipotesis alternative diterima, yang berarti terdapat hubungan antara antara kepuasan pernikahan dengan conflict resolution.

Hasil uji hipotesis dalam pengolahan data menunjukkan adanya nilai koefisien korelasi rxy = 0,246 dengan p = 0,046 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara antara kepuasan pernikahan dengan conflict resolution. Dengan demikian hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima.

Dalam penelitian tentang grit akademik dan kedisiplinan mahasiswa, hasil yang diperoleh dari uji hipotesis menunjukkan R Square = 0,061 dengan P = 0,046 (p<0,05). Hal ini menunjukkan

(8)

bahwa sumbangan efektif (SE) kepuasan pernikahan dengan conflict resolution pada pasangan long distance marriage sebesar 6,1 % dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain.

Tabel 1. Sumbangan Efektif (SE) Kepuasan Pernikahan Keterangan Sumbangan Efektif

Kepuasan Pernikahan 6,1%

Hasil penelitian juga mendeskripsikan bagaimana tingkat Kepuasan Pernikahan dan Conflict Resolution

Tabel 2. Statistik Deskriptif Hasil Penelitian Descriptive Statistics

Mean Std. Deviation N

Kepuasan Pernikahan 3,00 0,3 50

Conflict Resolution 3,04 0,5 50

Dari tabel diatas dapat diketahui nilai mean (rata-rata) variabel kepuasan pernikahan 3,00 dan Conflict Resolution sebesar 3,04 dengan nilai standar deviasi masing- masing variabel yang sudah dibulatkan yaitu menjadi 0,3 dan 0,5. Berdasarkan nilai mean (rata-rata) dan standar deviasi, nilai tersebut kemudian digunakan untuk membagi hasil penelitian menjadi 3 kategori, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Rumus yang digunakan untuk mengetahui kategori ini menggunakan pedoman yang telah dikemukakan oleh Azwar (2015).

Tabel 3. Rumus Kategosisasi Hasil Penelitian

Rumus Yang Digunakan

Kategorisasi Kepuasan Pernikahan Conflict Resolution

Rendah X < 2,7 X < 2,5

Sedang 2,7 ≤ X < 3,3 2,5 ≤ X < 3,5

Tinggi X > 3,3 X > 3,5

Tabel 4. Kategorisasi Hasil Penelitian

Keterangan Kepuasan Pernikahan Conflict Resolution

F % F %

Rendah 7 10,6% 1 1,5%

Sedang 38 57,6% 61 92,4%

Tinggi 21 31,8% 4 6,1%

Total 66 100% 66 100%

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pernikahan dan conflict resolution berada pada kategori sedang. Penelitian ini masih terdapat beberapa kelemahan. Adapun beberapa kemungkinan yang menyebabkan penelitian ini mengalami banyak kelemahan diantaranya adalah: 1.

(9)

Penyebaran kuesioner melalui Google Form yang masih asing di hadapan responden membuat mereka sedikit kebingungan tentang perintah yang diberikan, sehingga banyak dari mereka hanya mengisi satu kuesioner sebelum akhirnya diberikan instruksi lanjutan. 2. Kesibukan masing-masing responden yang berbeda-beda membuat peneliti harus bersabar menunggu respon dari kuesioner yang telah disebarkan. 3. Efek pasca pandemik yang mengakibatkan responden mengalami penyesuaian diri dalam pengisian kuesioner penelitian.

KESIMPULAN

Ada hubungan antara kepuasan menikah dan conflict resolution. Hal itu ditunjukkan oleh nilai koefisiensi dari kedua variabel, yaitu Rxy = 0,246 dengan FHitung = 4,123 (FHitung>3,986) dan P = 0,046 (p<0,05). Ada hubungan positif antara kepuasan menikah dan conflict resolution. Hal itu ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi pada variabel kepuasan menikah dan conflict esolution yang bernilai 6,1%. Artinya semakin tinggi kepuasan menikah maka semakin tinggi tingkat conflict resolution pada pasangan long distance merriage. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah kepuasan menikah maka semakin rendah pula tingkat conflict resolution pada pasangan long distance merriage. Presentase Sumbangan Efektif (SE) yang diberikan oleh variabel kepuasan menikah dan conflict resolution sebesar 6,1% dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain

REFERENSI

Agus. (2021, October 6). Sejak Pandemi, 3.158 Ibu Muda di Kendal Memilih Jadi Janda | Hukum.

Gatra. https://www.gatra.com/news-524936-hukum-sejak-pandemi-3158-ibu-muda-di- kendal-memilih-jadi-janda.html

Agustian, H. (2013). Gambaran Kehidupan Pasangan yang Menikah di Usia Muda di Kabupaten Dharmasraya. Jurnal Pendidikan Luar Sekolah (I). 1.

Amelia, R., & Abidin, M. Z. (2018). Hubungan Antara Self Disclouser dan Religiusitas dengan Komitmen Pernikahan Pada Istri Pelaut TNI-AL. 12(01), 25–35.

Andromeda, & Noviajati, P. (2015). “Berjuang dan Terus Bertahan”: Studi Kasus Kepuasan Perkawinan pada Isteri sebagai Tulang Punggung Keluarga. Seminar Psikologi &

Kemanusiaan, 557–563. http://mpsi.umm.ac.id/files/file/557-563 zzAndromeda.pdf

Arida, P. (2011). Gambaran Trust pada Istri yang Menjalani Commuter Marriage Tipe Adjusting.

Fakultas psikologi Universitas Sumatera Utara.

Aylor, B.A. (2003). Maintaining long distance relationship. In Carany, D.J., & Dainton, M. (Eds).

Maintaining relationship throught communication: relational, contextual and culture variations. 127-134. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum

Baron, R.A. dan Byrne, D. (2005). Psikologi Sosial. Edisi Kesepuluh: Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

(10)

Crawford, D., & Bodine, R. (1996). Conflict Resolution Education. A Guide to Implementing Programs in Schools, Youth-Serving Organizations, andCommunity and Juvenile Justice Settings. Washington,D.C.:U.S. Department of Justice and U.S. Department of Education.

Dargie, E., Blair, K. L., Goldfinger, C., Pukall, C. F. (2015). Go Long! Predictors of Positive Relationship Outcomes in Long-Distance Dating Relationships.

Journal of Sex & Marital Therapy.

Duvall, E. M & Miller, C. M. (1985). Marriage and Family Development 6th ed. New York : Harper

& Row Publisher.

Ekasari, N., Wahyuningsih, S., & Setyaningrum. (2007). Permasalahan pada Istri Commuter Marriage. Universitas Surabaya Fakultas Psikologi.

Fatimah, Siti. (2018). Hubungan Cinta Komitmen Dengan Kepuasan Pernikahan Dimoderatori Oleh Kebersyukuran. Psikodimensia. 17 (1) : 26-35.

Fowers, B. J. & Olson, D. H. (1993). Enrich Marital Scale: a brief research and clinical tool. Journey of Family Psychology, 7 (2), 176-185.

Gunarsa, Yulia Singgih D. & Singgih D. Gunarsa. (2012). Psikologi Untuk Keluarga. Jakarta:

Penerbit Libri.

Hartwell-Walker, M. (2006). The Challenge of Long-Distance Relationships. Retrieved December 22 , 2022, from Psych Central: http://www.psychcentral.com

Jacobs, K. B., Lyubomirsky, S. (2013). The Journal of Positive Psychology: Dedicated To Furthering Research And Promoting Good Practice. The Journal of Positive Psychology, 8 (3), 196-206.

Jannah, Miftakhul., Wulandari, Primatia Yogi. (2022). Gambaran Kepuasan Pernikahan Pada Pasangan Suami Istri Yang Menjalani Commuter Marriage. Sikontan Journal. 1 (2) : 83-96.

Jernecke, A. M. & South, S. C. (2013). Attachment Orientations as Mediators in the Intergenerational Transmission of Marital Satisfaction. Journal of Family Psychology, Vol. 27 (4), 550–559 Ju, H., Wook, J., Kim, C., Hyun, M., & Park, J. (2013). Mediational effect of meaning in life on the

relationship between optimism and well-being in community elderly. Archives of Gerontology and Geriatrics, 56(2), 309–313. https://doi.org/10.1016/j.archger.2 012.08.008 Kariuki, W. Jane. (2004). The Impact of Long Distance Marriage On The Family: A Study of

Families With Spouses Abroad in Kiambu Country. University of Nairobi: Department of Sociology and Social Work.

Latifatunnikmah. (2015). “Komitmen Pernikahan pada Pasangan Suami Istri Bekerja,” Skripsi, Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Lee, Ji-Yeon, Pistole, M. C. (2012). Predictors of Satisfaction in Geographically Close and Long- Distance Relationships. Journal of Counseling Psychology 2012, Vol. 59, No. 2, 303–313 Li, S. Y., Roslan, S., Abdullah, M. C., & Abdullah, H. (2015). Commuter Families: Parental

Readiness, Family Environment and Adolescent School 81 Performance. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 172, 686–692. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.01.420

(11)

Margiani, Kristin., Ekayati, IGAA Novi. (2013). Stres Dukungan Keluarga dan Agresivitas pada Istri Yang Menjalani Pernikahan Jarak Jauh. Persona, Jurnal Psikologi Indonesia. 2(3) : 191-198.

Mijil, Niki Putri. (2014). Peran Dukungan Sosial terhadap Kesepian Istri yang Menjalani Hubungan Pernikahan Jarak Jauh (Long Distance Marriage). Psikoborneo. 2(4) : 222-230.

Olson, D. H & DeFrain, J, (2003). Marriage and Family: Intimacy, diversity and strengths”, (4"' edition). McGrawHill, Boston.

Papalia, D.E., Old, S.W., and Feldman, Ruth D. (2008). Human Development. Edisi Kesembilan.

Jakarta: Kencana

Ramadhini, S., & Hendriani, W. 2015. Gambaran Trust Pada Wanita Dewasa Awal yang sedang Menjalani Long Distance Marriage. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental. Vol.4, No.1.

Renanita, T., & Setiawan, J. L. (2018). Marital Satisfaction in Terms of Communication, Conflict Resolution, Sexual Intimacy, and Financial Relations among Working and Non-Working Wives. Makara Human Behavior Studies in Asia, 22(1), 12.

https://doi.org/10.7454/hubs.asia.1190318

Subrata, P. (2015). Hubungan antara Penyesuaian Pernikahan dengan Kepuasan Pernikahan pada Suami Istri Beda Agama. Skripsi. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT Alfabet.

Supatmi, Inggit., Masykur, Achmad Mujab. (2018). “Ketika Berjauhan Adalah Sebuah Pilihan” Studi Fenomologi Pengalaman Istri Pelaut Yang Menjalani Pernikahan Jarak Jauh (Long Distance Marriage). Jurnal Empati. 7 (1) : 288-294.

Syahputri, Sindy Elbahani., Khoirunnisa, Riza Noviana. (2021). Hubungan Antara Komitmen Dengan Forgiveness Dalam Menghadapi Konflik Pada Dewasa Muda Yang Menjalin Hubungan Jarak Jauh. Jurnal Penelitian Psikologi. 8(9) : 142-153.

Walgito, Bimo. (2018). Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Andi: Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dalam penelitian ini untuk mendiskripsikan dinamika komitmen pernikahan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada pasangan suami istri bekerja. Metode

oleh pasangan suami istri berkaitan dengan aspek yang ada dalam suatu pernikahan,.. seperti rasa bahagia, puas, serta pengalaman-pengalaman yang

Hal ini dapat terjadi karena istri yang menjalani commuter marriage tipe adjusting dan tipe established memiliki banyak kesamaan seperti pekerjaan suami, penghasilan suami,

Pada subjek pertama ibu SJ untuk mempertahankan pernikahan selama menjalani pernikahan jarak jauh dengan suami adalah dengan selalu menjaga komunikasi dengan

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada Hubungan Antara Perilaku Asertif Terhadap Kepuasan Pernikahan Pada Pasangan Suami-Istri yang Bekerja

Tema kepuasaan pernikahan yang didapatkan dari penelitian ini adalah orientasi materi, model komunikasi rutin dan periodik, suami lebih banyak mengalah, pengelolaan keuangan

Kepuasan perkawinan yang dirasakan pada istri yang menjalani hubungan pernikahan jarak jauh dengan istri yang tinggal serumah bersama sang suami belum tentu sama.. Apalagi dari

Sedangkan kelebihan dari pernikahan jarak jauh yaitu jarang sekali terjadi konflik antara suami dan istri karena terbatasnya waktu untuk bertemu jadi mereka menggunakan waktu itu untuk