• Tidak ada hasil yang ditemukan

keracunan

N/A
N/A
Dent Girls

Academic year: 2025

Membagikan "keracunan"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

TOKSIKOLOGI

Dr.dr.Rika Susanti, Sp.F.M(K)

(2)

Racun adalah suatu zat yang dalam jumlah relatif kecil (bukan minimal), yang jika masuk

atau mengenai tubuh seseorang akan

menyebabkan timbulnya reaksi kimiawi (efek kimia) yang besar yang dapat menyebabkan

sakit, bahkan kematian

(3)

Jalan Masuk Keracunan

peroral / ingesti

inhalasi parenteral,

injeksi Kulit

perektal atau

pervaginal

(4)

KERACUNAN INSEKTISIDA

(5)

DEFINISI

Insektisida adalah semua zat kimia dan bahan

lain serta jasad renik, serta virus yang

dipergunakan untuk memberantas atau

mencegah binatang-binatang yang dapat

menyebabkan penyakit pada manusia

(6)

Pestisida zat kimia/bahan lain yang digunakan untuk membrantas atau

mengendalikan hama dimana pengelompokannya dapat dibagi menurut sasaran yang akan dibasmi

Insektisida Herbisida Fungisida

(7)

Insektisida

dalam kesehatan digunakan untuk membasmi lalat, nyamuk, kecoa, serta

vektor demam berdarah dan malaria

(8)

Penggolongan Insektisida

Insektisida dapat digolongkan menjadi:

1. Golongan Hidrokarbon Terkhlorinasi

2. Golongan Inhibitor Kolonesterase

(9)

Golongan Hidrokarbon Terkhlorinasi

Hidrokarbon terklorinasi merupakan bahan campuran

yang ditemukan dalam insektisida, yang bersifat

persisten dan dapat terakumulasi di alam serta bersifat

toksik terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya

(10)

Hidrokarbon terklorinasi

• tidak reaktif, stabil,

• memiliki kelarutan yang sangat tinggi di dalam lemak

• memiliki kemampuan degradasi yang rendah

(11)

Jenis hidrokarbon terklorinasi

• DDT,

• Dieldrin

• Aldrin

• Endrin

• Chlordane

• Lidane

• Methoxychlor

• Toxaphane

• BHC ( benzene hexa chlorida)

(12)

Golongan Inhibitor Kolinesterase

a. Organofosfat

Organofosfat merupakan insektisida yang berasal dari ester

asam fosfat atau asam tiofosfat `dan banyak digunakan

dalam pertanian,rumah tangga, perkebunan dan praktek

dokter hewan

(13)

• Azinophosmethyl

• Chloryfos

• Demeton Methyl

• Dichlorovos

• Dimethoat

• Disulfoton

• Ethion

• Palathion

• Malathion

• Parathion

• Diazinon

• Chlorpyrifos.

CONTOH

(14)

Waktu paruh insektisida ini tergantung pada pH:

▪Pada pH netral waktu paruhnya berkisar beberapa jam untuk diklorovos hingga beberapa minggu untuk

parathion

▪jika pH sedikit asam waktu paruhnya akan meningkat

beberapa kali.

(15)

Golongan Inhibitor Kolinesterase

b. Karbamat

Karbamat merupakan ester asam Nmetilkarbamat yang

memiliki daya toksisitas yang rendah terhadap mamalia

dibandingkan dengan organofosfat, tetapi sangat efektif dalam

membunuh insekta

(16)

• Benfurakarb

• Karbaril

• Fenobukarb (BPMC)

• Metiokarb

• Propoksur.

CONTOH

(17)

CARA KERJA

• Organofosfat dapat masuk ke dalam tubuh, melalui saluran pernafasan atau inhalasi, saluran cerna atau digesti dan

permukaan kulit yang tidak terlindungi atau penetrasi

• Organofosfat menimbulkan efek pada serangga, mamalia dan

manusia melalui inhibisi asetilkolinesterase pada saraf

(18)

KERACUNAN GAS KARBON MONOKSIDA

(19)

Karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau yang dihasilkan dari proses pembakaran yang tidak sempurna dari material yang berbahan dasar karbon

Intoksikasi gas CO 🡪 80% penyebab kefatalan

yang disebabkan oleh trauma inhalasi

(20)

Di dunia diperkirakan 1500 orang mati setiap tahunnya karena CO

lebam mayat pada keracuan gas CO 🡪 cherry pink colour

Keberadaan gas CO 🡪 akan

menggantikan posisi

oksigen yang berkaitan

dengan haemoglobin dalam

darah

(21)

CO berasal dari alam 🡪 dari lautan, oksidasi metal di atmosfir, pegunungan, kebakaran hutan, dan badai listrik alam. Salah satu sumber CO buatan adalah kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar bensin.

Didalam laporan WHO (1992) dinyatakan paling tidak 90% dari CO di udara perkotaan berasal dari emisi kendaraan bermotor.

Berdasarkan estimasi, jumlah CO dari sumber buatan diperkirakan mendekati 60 juta ton per tahun.

Kecepatan timbulnya gejala-gejala atau kematian akibat keracunan CO

ditentukan oleh konsentrasi CO dalam udara lingkungan dan lamanya

inhalasi atau lamanya paparan CO.

(22)

PATOFISIOLOGI

Mekanisme cedera pada trauma inhalasi, yaitu

kerusakan jaringan karena suhu yang sangat tinggi, iritasi paru-paru, dan asfiksia.

Keracunan karbon monoksida 🡪 turunnya kapasitas transportasi oksigen dalam darah oleh hemoglobin dan penggunaan oksigen di tingkat seluler.

Penurunan fraksi oksigen yang diinspirasi (FIO2)

akan menyebabkan hipoksia.

(23)

CO mengikat hemoglobin secara reversible lebih kuat 230-270 kali dari oksigen 🡪 menyebabkan anemia relatif. Organ yang paling cepat terganggu adalah jantung dan otak.

CO mengikat myoglobin jantung lebih kuat daripada mengikat hemoglobin 🡪 depresi miokard dan hipotensi 🡪 hipoksia jaringan.

Kadar HbCO 16% dalam darah sudah dapat menimbulkan gejala klinis.

(Perhatikan tabel 2.1)

Pada intoksikasi berat, pasien menunjukkan gangguan sistem saraf

pusat termasuk demyelisasi substansia alba. Hal ini menyebabkan

edema dan nekrosis fokal.

(24)

Dosis letal

(25)

Ditemukan lebam mayat berwarna merah terang (cheery red colour) yang tampak jelas jika kadar COHb mencapai 30% atau lebih.

Jaringan otot, visera, dan darah juga berwarna merah terang

Kadang-kadang dapat ditemukan tanda asfiksia dan hyperemia visera.

Ditemukan eritema, dan vesikal / bula pada kulit dada perut, luka, atau anggota gerak badan

Pada otak besar dapat ditemukan ptekie di substansia alba jika korban dapat bertahan hidup lebih dari ½ jam

Pada miokardium dapat ditemukan perdarahan dan nekrosis

Pada analisa toksikologik darah akan ditemukan adanya ikatan COHb

PEMERIKSAAN JENAZAH

(26)

Karbon monoksida

• Karbon monoksida dapat berasal dari alam dan buatan. Mampu berikatan 230-270 kali lebih kuat dengan Hb dibanding oksigen.

• Ikatan COHb akan mengakibatkan jaringan kekurangan oksigen terutama jantung dan otak.

• Kecepatan timbulnya gejala atau kematian ditentukan oleh konsentrasi CO dalam udara dan lamanya inhalasi atau lamanya paparan. Dosis letal CO adalah 70-80% dalam darah.

• Ikatan COHb dapat menyebabkan depresi miokard dan hipotensi yang

menyebabkan hipoksia jaringan.

(27)

• Pada korban yang mati tidak lama setelah keracunan CO, ditemukan lebam mayat berwarna merah terang (cheery red colour) yang tampak jelas jika kadar COHb mencapai 30% atau lebih

• Pada analisis toksikologik darah akan ditemukan adanya COHb pada korban keracunan CO yang tertunda kematian sampai 72 jam

• Pemeriksaan forensik dalam kasus keracunan oleh dokter yang

menangani kasusnya, harus berperan ganda, sebagai dokter klinik

(attending doctor) dan sebagai dokter “forensik” (assessing doctor)

(28)

KERACUNAN NARKOBA

(29)

NARKOTIKA

Bahasa Yunani Narkoun yang berarti

membuat lumpuh atau mati rasa

1 UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkoti ka adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini

(30)

Golongan I

Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak

digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan.

Contoh : heroin, kokain, ganja

Golongan II Narkotika yang berkhasiat

pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat

digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta

mempunyai potensi tinggi menimbulkan ketergantungan.

Contoh : morfin, petidin, dan derivatnya

Golongan III Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak

digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu

pengetahuan, serta mempunyai potensi ringan menimbulkan ketergantungan.

Contoh : kodein dan garam-

garam narkotika dalam golongan tersebut

KLASIFIKASI NARKOTIKA

(31)

Psikotropika : zat atau obat, baik alamiah atau sintetik bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku

Golongan I

Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat kuat dalam

mengakibatkan sindroma ketergantungan.

Contoh : MDMA, Ecstasy, LSD, Psilosibina

Golongan II Psikotropika yang

berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan, serta

mempunyai potensi kuat dalam mengakibatkan sindroma ketergantungan.

Contoh : Phensiklidin (PCP), Amfetamin, Metilfenidat (Ritalin)

Golongan III Psikotropika yang

berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengatahunan serta mempunyai potensi sedang dalam

mengakibatkan sindroma ketergantungan.

Contoh : Flunitrazepam

Golongan IV Psikotropika yang

berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan dalam

mengakibatkan sindroma ketergantungan.

Contoh ; Alprazolam,, Diazepam, Estazolam, Klobazam, Nitrazepam, Lorazepam,

Klonazepam ,Triazolam, Fenobarbital

KLASIFIKASI PSIKOTROPIKA

(32)

Alami

Semi Sintetik

Sintetik Narkotika :

Cara pembuatan

• Opium (Papaver Somniferum)

• Kokain (Erythroxylon Coca)

• Ganja (Cannabis sativa)

(33)

Gejala Toksitasi Opium

• Konstraksi pupil (atau dilatasi pupil karena anoksia akibat overdosis berat) dan satu atau lebih tanda berikut, yang berkembang selama atau segera setelah pemakaian opium, yaitu:

• Mengantuk atau koma bicara cadel.

• Gangguan atensi atau daya ingat.

• Perilaku maladaptif atau perubahan psikologis yang bermakna secara klinis misalnya : – Euforia awal diikuti oleh apatis

– Disforia

– Agitasi atau retardasi psikomotor – Gangguan pertimbangaan

• Gangguan fungsi sosial atau pekerjaan yang berkembang selamaatau segera setelah

pemakaian opium

(34)

Gejala Toksitasi Kokain

• Agitasi iritabilitas gangguan dalam pertimbangan perilaku seksual yang impulsif

• Kemungkinan berbahaya peningkatan aktivitas

psikomotor : takikardia, hipertensi, midriasis

(35)

Narkotika Semi Sintetik

• Dibuat dari alkaloid opium yang mempunyai inti Phenanthren

• Diproses secara kimiawi menjadi suatu bahan obat yang berkhasiat sebagai narkotik

• Contoh : Heroin, Codein, Oxymorphon

(36)

Narkotika Sintetik

Dibuat dengan suatu proses kimia dengan

menggunakan bahan baku kimia sehingga diperoleh

suatu hasil baru yang mempunyai efek narkotik,

contoh : Petidine, Nisentil, Leritine

(37)

TAHAP-TAHAP KETERGANTUNGAN

• tahap dimana tubuh seorang pengguna menjadi terbiasa dengan narkoba dengan dosis rendah

Toleransi

• tahap seorang pengguna narkoba memiliki keinginan untuk terus menerus mengkonsumsi narkoba

Kebiasaan

• Mempengaruhi pengguna dalam segala aspek, mereka merasa tidak dapat hidup tanpa narkoba.

Kematian karena overdosis sering terjadi pada tahap

Addict

ini.
(38)

Zat Adiktif Lainnya

Minuman Alkohol

Golongan A : kadar etanol 1 – 5 %

Golongan B : kadar etanol 5 – 20 %

Golongan C : kadar etanol 20 – 45 %

Inhalasi contoh: Lem, Tiner, Penghapus

Cat Kuku, Bensin

Tembakau

(39)

• Tanda khas : sukar didapatkan

Needle marks

Pemeriksaan Luar Jenazah

• Lokasi : fossa ante cubiti, lengan atas, punggung tangan dan kaki

• Tempat lain : leher, di bawah lidah, perianal,

• Pada perempuan : disekitar papilla mamae.

• Masih baru : disertai tanda-tanda perdarahan subkutan, perivenous kalau dipencet akan keluar cairan serum atau darah.

• Pada kasus ketagihan : banyak bekas suntikan lama berupa jaringan parut titik-titik sepanjang lintasan vena dan disebut “intravenous mainline tracks.

• Juga ditemukan abses, granuloma atau ulkus :cara suntikan subkutan.

• Tidak terdapat bekas suntikan: menghirup bau morfin, atau merokok

dengan campuran heroin pemeriksaan toksikologi nasal swab

(40)

Aspek Medikolegal Keracunan Narkoba

Berdasarkan ketentuan Pasal 153

UU 35/2009

UU 35/2009 mencabut UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, dan

tidak mencabut UU 5/1997

Akan tetapi, Lampiran UU 5/1997 mengenai

jenis Psikotropika Golongan I dan Golongan II telah dicabut, karena telah

ditetapkan sebagai Narkotika Golongan I

dalam UU 35/2009.

(41)

Undang-Undang Tentang Narkotika No.35 Tahun 2009

• Menyatakan bahwa "Narkotika golongan satu dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan

PASAL 8 AYAT 1

• Menyatakan bahwa "Dalam jumlah terbatas, narkotika golongan satu dapat digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan untuk reagensia diagnostik, serta reagensia laboratorium setelah

mendapatkan persetujuan atas rekomendasi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan".

PASAL 8 AYAT 2

• Menyatakan bahwa "Narkotika golongan dua dan tiga yang berupa bahan baku, baik alami maupun sintetis, yang digunakan untuk produksi obat diatur dengan peraturan menteri".

Pasal 37

(42)

Pasal 53 ayat 1

• "Untuk kepentingan pengobatan dan berdasarkan indikasi medis, dokter dapat memberikan Narkotika golongan dua atau tiga dalam jumlah terbatas dan sediaan tertentu kepada pasien dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan"

Pasal 111 ayat (1)

• Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum, menanam,

memelihara,memiliki,menyimpan,menguasai,atau menyediakan narkotika golongan I,dalam bentuk tanaman,dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2tahun paling 12 tahun dan pidana denda paling sedikit

Rp.800.000.000,00 dan paling banyak Rp.8.000.000.000,00.

Pasal 112 ayat(1)

• Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihra, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menydiakan narkotika golongan satu bukan tanaman, dipidana dengan pidana paling singkat empat tahun dan paling lama dua belas tahun dan di pidana denda paling sedikit delapan ratus juta rupiah dan paling banyak delapan miliar rupiah.

(43)

• Percobaan atau pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana narkotika dan prekusrsor narkotika

sebagaimana dimaksud dalam pasal 111, 112, 113, 114, 115, 116, 117, 118, 119, 120, 121, 122, 123, 124, 125, 126 dan 129 pelakunya dipidana penjara yang sama sesuai dengan ketentuan yang dimaksud dalam pasal-pasal tersebut.

Pasal 132

• Setiap orang menyuruh, memberi atau menjanjikan sesuatu, memberikan kesempatan, menganjurkan, memberikan kemudahan, memaksa dengan ancaman,

memaksa dengan kekerasan, melakukan tipu muslihat atau membujuk anak yang belum cukup umur untuk

menggunakan narkotika di pidana dengan penjara paling singkat lima tahun dan paling lama lima belas tahun dan pidana denda paling sedikit satu miliar rupiah dan paling banyak sepuluh miliar rupiah.

Pasal 133

• Setiap penyalahgunaan narkotika golongan satu bagi diri sendiri di pidana dengan pidana penjara paling lama empat tahun

Pasal 127

(44)

Psikotropika

▣ Berdasarkan Undang-Undang No.5 Tahun 1997

Pasal 60 ayat 1 (a)

Memproduksi atau mengedarkan psikotropika dalam bentuk obat yang tidak

terdaftar pada department yang bertanggung jawab dibidang kesehatan,

dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 200.000.000,-(dua

ratus juta rupiah).

Pasal 60 ayat 2

Menyalurkan psikotropika, dipidana penjara paling lama 5(lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,-

(seratus juta rupiah).

(45)

Pasal 60 ayat 3

Menerima penyaluran psikotropika, dipidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak

Rp. 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah).

Pasal 60 ayat 4

dan 5

Menyerahkan dan menerima penyerahan psikotropika, dipidana paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000,-

(enam puluh juta rupiah).

Pasal 62

Barang siapa tanpa hak memiliki, menyimpan dan membawa psikotropika, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)

tahun dengan pidana denda paling vbnayk Rp. 60.000.000,- (enam

puluh juta rupiah

(46)

Pasal 63

Melakukan pengangkutan psikotropika tanpa dilengkapi dokumen pengangkutan,

dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dengan

pidana denda paling banyak Rp.

60.000.000,- (enam puluh juta rupiah).

Pasal 64 ayat (a dan b)

Menghalang-halangi penderita syndrome ketergantungan untuk mengalami

pengobatan dan atau perawatan pada

fasilitas rehabilitasi atau

menyelenggarakan fasilitas rehabilitasi tanpa memiliki izin, dipidana denga

penjara paling lama la (satu) tahun denga pidana denda paling bvanyak Rp.

20.000.000,- (dua puluh juta rupiah).

Pasal 65

Tidak melaporkan penyalahgunaaan dan atau pemilikan psikotropika secara tidak sah, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1(satu) tahu dengan pidana denda paling banyak Rp.

20.000.000,- (dua puluh juta rupiah).

(47)

KERACUNAN ALKOHOL

(48)

JENIS ALKOHOL

ETANOL

• Etanol atau etil alkohol (C2H5OH) merupakan

komponen yang terkandung di dalam minuman beralkohol legal

• Minuman yang mengandung etanol ini aman dikonsumsi

(tidak melebihi dosis dianjurkan)

METANOL

• zat berbahaya apabila

dikonsumsi (sering pd minuman oplosan)

• Bahan ini biasanya digunakan untuk bahan industri sebagai pelarut, pembersih dan

penghapus cat.

• Sifatnya beracun dan mudah

terbakar

(49)

Keracunan alkohol (etil alkohol)

• Akut dan kronis = alcoholic abuse

• Penyalahgunaan alkohol

• Undang-undang

• Mudah didapat

• Konflik -> mabuk

• Tindakan kriminal

• Kecelakaan lalu lintas & kecelakaan kerja

• Bunuh diri

(50)

SUMBER

• Air tape, tuak, brem, hasil peragian

• Beer (4-8% alc)

• Anggur (10-20% alc)

• Whisky, brandy, vodka (40-45% alc)

• Rum (40-50% alc)

(51)

GEJALA

Kadar dalam darah :

• < 30 mg/100cc: mudah terangsang / penglihatan

• 30 – 50 mg: kontrol diri, kecepatan reaksi

• 60 – 80 mg: gejala di atas lebih jelas

• 80 – 100 mg: keracunan pusat vital

• 300 mg: fase narkose -> delirium halusinasi

• 400 mg: depresi SSP, kelumpuhan kardiorespirasi -> MATI

• Dosis toksis -> kebiasaan minum alc, sensitivitas individual(ALDH 1),

sinergisme dengan obat2an lain, penyakit

(52)

PEMERIKSAAN

• Bau alkohol

• Hidup -> mulut dan hidung

• Mati -> alat2 dalam tubuh, darah, otak

• Toksikologi

• Udara ekspirasi, darah, urine (hidup)

• Darah perifer, urine, otak, hati (mati)

• Kadar alkohol 2 lt udara alveoli(0,43mg%)= 1mg% alc darah

• Urine alkohol = 1,2 alc darah = alc otak

• Modifikasi Microdifusi Conway (semikuantitatif)

• Gas Kromatografi (kuantitatif)

(53)

Faktor yang mempengaruhi kerja racun

Cara Pemberian

Keadaan Tubuh

Umur

Kesehatan

Hipersensitif

Racun

Dosis

Konsentrasi Bentuk dan

Kombinasi

(54)

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

Dalam melaksanakan tugas dan fungsi tersebut, Direktorat Standardisasi Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif melaksanakan pelayanan publik sesuai dengan

NAPZA ( Narkotika, Psikotropika, dan Zat adiktif lainnya ) atau yang lebih dikenal di masyarakat dengan istilah NARKOBA ( narkotika dan bahan / obat berbahaya

   Jabatan / Pekerjaan Direktur Pengawasan Keamanan, Mutu, dan Ekspor Impor Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif.    Unit Organisasi Direktorat

Biaya akan dibebankan pada DIPA Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekusor dan Zat Adiktif, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional,

02.01 Persentase kesesuaian perencanan penyusunan standar Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif sesuai roadmap 83 Persentase 03.01 Persentase standar

Pengawasan peredaran Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif (NAPZA) serta Obat-Obat Tertentu yang sering disalahgunakan (OOT), dilakukan Loka POM di Kabupaten

Obat berdasar Asal Obat Sintetik Obat Generik obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya Obat Bermerek Dagang

Alkohol digolongkan ke dalam Napza narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya karena mempunyai sifat menenangkan sistem saraf pusat, mempengaruhi fungsi tubuh maupun tingkah laku