TOKSIKOLOGI
Dr.dr.Rika Susanti, Sp.F.M(K)
Racun adalah suatu zat yang dalam jumlah relatif kecil (bukan minimal), yang jika masuk
atau mengenai tubuh seseorang akan
menyebabkan timbulnya reaksi kimiawi (efek kimia) yang besar yang dapat menyebabkan
sakit, bahkan kematian
Jalan Masuk Keracunan
peroral / ingesti
inhalasi parenteral,
injeksi Kulit
perektal atau
pervaginal
KERACUNAN INSEKTISIDA
DEFINISI
Insektisida adalah semua zat kimia dan bahan
lain serta jasad renik, serta virus yang
dipergunakan untuk memberantas atau
mencegah binatang-binatang yang dapat
menyebabkan penyakit pada manusia
Pestisida zat kimia/bahan lain yang digunakan untuk membrantas atau
mengendalikan hama dimana pengelompokannya dapat dibagi menurut sasaran yang akan dibasmi
Insektisida Herbisida Fungisida
Insektisida
dalam kesehatan digunakan untuk membasmi lalat, nyamuk, kecoa, serta
vektor demam berdarah dan malaria
Penggolongan Insektisida
Insektisida dapat digolongkan menjadi:
1. Golongan Hidrokarbon Terkhlorinasi
2. Golongan Inhibitor Kolonesterase
Golongan Hidrokarbon Terkhlorinasi
Hidrokarbon terklorinasi merupakan bahan campuran
yang ditemukan dalam insektisida, yang bersifat
persisten dan dapat terakumulasi di alam serta bersifat
toksik terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya
Hidrokarbon terklorinasi
• tidak reaktif, stabil,
• memiliki kelarutan yang sangat tinggi di dalam lemak
• memiliki kemampuan degradasi yang rendah
Jenis hidrokarbon terklorinasi
• DDT,
• Dieldrin
• Aldrin
• Endrin
• Chlordane
• Lidane
• Methoxychlor
• Toxaphane
• BHC ( benzene hexa chlorida)
Golongan Inhibitor Kolinesterase
a. Organofosfat
Organofosfat merupakan insektisida yang berasal dari ester
asam fosfat atau asam tiofosfat `dan banyak digunakan
dalam pertanian,rumah tangga, perkebunan dan praktek
dokter hewan
• Azinophosmethyl
• Chloryfos
• Demeton Methyl
• Dichlorovos
• Dimethoat
• Disulfoton
• Ethion
• Palathion
• Malathion
• Parathion
• Diazinon
• Chlorpyrifos.
CONTOH
Waktu paruh insektisida ini tergantung pada pH:
▪Pada pH netral waktu paruhnya berkisar beberapa jam untuk diklorovos hingga beberapa minggu untuk
parathion
▪jika pH sedikit asam waktu paruhnya akan meningkat
beberapa kali.
Golongan Inhibitor Kolinesterase
b. Karbamat
Karbamat merupakan ester asam Nmetilkarbamat yang
memiliki daya toksisitas yang rendah terhadap mamalia
dibandingkan dengan organofosfat, tetapi sangat efektif dalam
membunuh insekta
• Benfurakarb
• Karbaril
• Fenobukarb (BPMC)
• Metiokarb
• Propoksur.
CONTOH
CARA KERJA
• Organofosfat dapat masuk ke dalam tubuh, melalui saluran pernafasan atau inhalasi, saluran cerna atau digesti dan
permukaan kulit yang tidak terlindungi atau penetrasi
• Organofosfat menimbulkan efek pada serangga, mamalia dan
manusia melalui inhibisi asetilkolinesterase pada saraf
KERACUNAN GAS KARBON MONOKSIDA
Karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau yang dihasilkan dari proses pembakaran yang tidak sempurna dari material yang berbahan dasar karbon
Intoksikasi gas CO 🡪 80% penyebab kefatalan
yang disebabkan oleh trauma inhalasi
Di dunia diperkirakan 1500 orang mati setiap tahunnya karena CO
lebam mayat pada keracuan gas CO 🡪 cherry pink colour
Keberadaan gas CO 🡪 akan
menggantikan posisi
oksigen yang berkaitan
dengan haemoglobin dalam
darah
CO berasal dari alam 🡪 dari lautan, oksidasi metal di atmosfir, pegunungan, kebakaran hutan, dan badai listrik alam. Salah satu sumber CO buatan adalah kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar bensin.
Didalam laporan WHO (1992) dinyatakan paling tidak 90% dari CO di udara perkotaan berasal dari emisi kendaraan bermotor.
Berdasarkan estimasi, jumlah CO dari sumber buatan diperkirakan mendekati 60 juta ton per tahun.
Kecepatan timbulnya gejala-gejala atau kematian akibat keracunan CO
ditentukan oleh konsentrasi CO dalam udara lingkungan dan lamanya
inhalasi atau lamanya paparan CO.
PATOFISIOLOGI
Mekanisme cedera pada trauma inhalasi, yaitu
kerusakan jaringan karena suhu yang sangat tinggi, iritasi paru-paru, dan asfiksia.
Keracunan karbon monoksida 🡪 turunnya kapasitas transportasi oksigen dalam darah oleh hemoglobin dan penggunaan oksigen di tingkat seluler.
Penurunan fraksi oksigen yang diinspirasi (FIO2)
akan menyebabkan hipoksia.
CO mengikat hemoglobin secara reversible lebih kuat 230-270 kali dari oksigen 🡪 menyebabkan anemia relatif. Organ yang paling cepat terganggu adalah jantung dan otak.
CO mengikat myoglobin jantung lebih kuat daripada mengikat hemoglobin 🡪 depresi miokard dan hipotensi 🡪 hipoksia jaringan.
Kadar HbCO 16% dalam darah sudah dapat menimbulkan gejala klinis.
(Perhatikan tabel 2.1)
Pada intoksikasi berat, pasien menunjukkan gangguan sistem saraf
pusat termasuk demyelisasi substansia alba. Hal ini menyebabkan
edema dan nekrosis fokal.
Dosis letal
Ditemukan lebam mayat berwarna merah terang (cheery red colour) yang tampak jelas jika kadar COHb mencapai 30% atau lebih.
Jaringan otot, visera, dan darah juga berwarna merah terang
Kadang-kadang dapat ditemukan tanda asfiksia dan hyperemia visera.
Ditemukan eritema, dan vesikal / bula pada kulit dada perut, luka, atau anggota gerak badan
Pada otak besar dapat ditemukan ptekie di substansia alba jika korban dapat bertahan hidup lebih dari ½ jam
Pada miokardium dapat ditemukan perdarahan dan nekrosis
Pada analisa toksikologik darah akan ditemukan adanya ikatan COHb
PEMERIKSAAN JENAZAH
Karbon monoksida
• Karbon monoksida dapat berasal dari alam dan buatan. Mampu berikatan 230-270 kali lebih kuat dengan Hb dibanding oksigen.
• Ikatan COHb akan mengakibatkan jaringan kekurangan oksigen terutama jantung dan otak.
• Kecepatan timbulnya gejala atau kematian ditentukan oleh konsentrasi CO dalam udara dan lamanya inhalasi atau lamanya paparan. Dosis letal CO adalah 70-80% dalam darah.
• Ikatan COHb dapat menyebabkan depresi miokard dan hipotensi yang
menyebabkan hipoksia jaringan.
• Pada korban yang mati tidak lama setelah keracunan CO, ditemukan lebam mayat berwarna merah terang (cheery red colour) yang tampak jelas jika kadar COHb mencapai 30% atau lebih
• Pada analisis toksikologik darah akan ditemukan adanya COHb pada korban keracunan CO yang tertunda kematian sampai 72 jam
• Pemeriksaan forensik dalam kasus keracunan oleh dokter yang
menangani kasusnya, harus berperan ganda, sebagai dokter klinik
(attending doctor) dan sebagai dokter “forensik” (assessing doctor)
KERACUNAN NARKOBA
NARKOTIKA
Bahasa Yunani Narkoun yang berarti
membuat lumpuh atau mati rasa
1 UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkoti ka adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini
Golongan I
Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak
digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan.
Contoh : heroin, kokain, ganja
Golongan II Narkotika yang berkhasiat
pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat
digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi tinggi menimbulkan ketergantungan.
Contoh : morfin, petidin, dan derivatnya
Golongan III Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak
digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu
pengetahuan, serta mempunyai potensi ringan menimbulkan ketergantungan.
Contoh : kodein dan garam-
garam narkotika dalam golongan tersebut
KLASIFIKASI NARKOTIKA
Psikotropika : zat atau obat, baik alamiah atau sintetik bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku
Golongan I
Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat kuat dalam
mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh : MDMA, Ecstasy, LSD, Psilosibina
Golongan II Psikotropika yang
berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan, serta
mempunyai potensi kuat dalam mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh : Phensiklidin (PCP), Amfetamin, Metilfenidat (Ritalin)
Golongan III Psikotropika yang
berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengatahunan serta mempunyai potensi sedang dalam
mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh : Flunitrazepam
Golongan IV Psikotropika yang
berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan dalam
mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh ; Alprazolam,, Diazepam, Estazolam, Klobazam, Nitrazepam, Lorazepam,
Klonazepam ,Triazolam, Fenobarbital
KLASIFIKASI PSIKOTROPIKA
Alami
Semi Sintetik
Sintetik Narkotika :
Cara pembuatan
• Opium (Papaver Somniferum)
• Kokain (Erythroxylon Coca)
• Ganja (Cannabis sativa)
Gejala Toksitasi Opium
• Konstraksi pupil (atau dilatasi pupil karena anoksia akibat overdosis berat) dan satu atau lebih tanda berikut, yang berkembang selama atau segera setelah pemakaian opium, yaitu:
• Mengantuk atau koma bicara cadel.
• Gangguan atensi atau daya ingat.
• Perilaku maladaptif atau perubahan psikologis yang bermakna secara klinis misalnya : – Euforia awal diikuti oleh apatis
– Disforia
– Agitasi atau retardasi psikomotor – Gangguan pertimbangaan
• Gangguan fungsi sosial atau pekerjaan yang berkembang selamaatau segera setelah
pemakaian opium
Gejala Toksitasi Kokain
• Agitasi iritabilitas gangguan dalam pertimbangan perilaku seksual yang impulsif
• Kemungkinan berbahaya peningkatan aktivitas
psikomotor : takikardia, hipertensi, midriasis
Narkotika Semi Sintetik
• Dibuat dari alkaloid opium yang mempunyai inti Phenanthren
• Diproses secara kimiawi menjadi suatu bahan obat yang berkhasiat sebagai narkotik
• Contoh : Heroin, Codein, Oxymorphon
Narkotika Sintetik
Dibuat dengan suatu proses kimia dengan
menggunakan bahan baku kimia sehingga diperoleh
suatu hasil baru yang mempunyai efek narkotik,
contoh : Petidine, Nisentil, Leritine
TAHAP-TAHAP KETERGANTUNGAN
• tahap dimana tubuh seorang pengguna menjadi terbiasa dengan narkoba dengan dosis rendah
Toleransi
• tahap seorang pengguna narkoba memiliki keinginan untuk terus menerus mengkonsumsi narkoba
Kebiasaan
• Mempengaruhi pengguna dalam segala aspek, mereka merasa tidak dapat hidup tanpa narkoba.
Kematian karena overdosis sering terjadi pada tahap
Addict
ini.Zat Adiktif Lainnya
Minuman Alkohol
•Golongan A : kadar etanol 1 – 5 %
•Golongan B : kadar etanol 5 – 20 %
•Golongan C : kadar etanol 20 – 45 %
Inhalasi contoh: Lem, Tiner, Penghapus
Cat Kuku, Bensin
Tembakau
• Tanda khas : sukar didapatkan
Needle marks
Pemeriksaan Luar Jenazah
• Lokasi : fossa ante cubiti, lengan atas, punggung tangan dan kaki
• Tempat lain : leher, di bawah lidah, perianal,
• Pada perempuan : disekitar papilla mamae.
• Masih baru : disertai tanda-tanda perdarahan subkutan, perivenous kalau dipencet akan keluar cairan serum atau darah.
• Pada kasus ketagihan : banyak bekas suntikan lama berupa jaringan parut titik-titik sepanjang lintasan vena dan disebut “intravenous mainline tracks.
• Juga ditemukan abses, granuloma atau ulkus :cara suntikan subkutan.
• Tidak terdapat bekas suntikan: menghirup bau morfin, atau merokok
dengan campuran heroin pemeriksaan toksikologi nasal swab
Aspek Medikolegal Keracunan Narkoba
Berdasarkan ketentuan Pasal 153
UU 35/2009
UU 35/2009 mencabut UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, dan
tidak mencabut UU 5/1997
Akan tetapi, Lampiran UU 5/1997 mengenai
jenis Psikotropika Golongan I dan Golongan II telah dicabut, karena telah
ditetapkan sebagai Narkotika Golongan I
dalam UU 35/2009.
Undang-Undang Tentang Narkotika No.35 Tahun 2009
• Menyatakan bahwa "Narkotika golongan satu dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan
PASAL 8 AYAT 1
• Menyatakan bahwa "Dalam jumlah terbatas, narkotika golongan satu dapat digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan untuk reagensia diagnostik, serta reagensia laboratorium setelah
mendapatkan persetujuan atas rekomendasi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan".
PASAL 8 AYAT 2
• Menyatakan bahwa "Narkotika golongan dua dan tiga yang berupa bahan baku, baik alami maupun sintetis, yang digunakan untuk produksi obat diatur dengan peraturan menteri".
Pasal 37
Pasal 53 ayat 1
• "Untuk kepentingan pengobatan dan berdasarkan indikasi medis, dokter dapat memberikan Narkotika golongan dua atau tiga dalam jumlah terbatas dan sediaan tertentu kepada pasien dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan"
Pasal 111 ayat (1)
• Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum, menanam,
memelihara,memiliki,menyimpan,menguasai,atau menyediakan narkotika golongan I,dalam bentuk tanaman,dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2tahun paling 12 tahun dan pidana denda paling sedikit
Rp.800.000.000,00 dan paling banyak Rp.8.000.000.000,00.
Pasal 112 ayat(1)
• Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihra, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menydiakan narkotika golongan satu bukan tanaman, dipidana dengan pidana paling singkat empat tahun dan paling lama dua belas tahun dan di pidana denda paling sedikit delapan ratus juta rupiah dan paling banyak delapan miliar rupiah.
• Percobaan atau pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana narkotika dan prekusrsor narkotika
sebagaimana dimaksud dalam pasal 111, 112, 113, 114, 115, 116, 117, 118, 119, 120, 121, 122, 123, 124, 125, 126 dan 129 pelakunya dipidana penjara yang sama sesuai dengan ketentuan yang dimaksud dalam pasal-pasal tersebut.
Pasal 132
• Setiap orang menyuruh, memberi atau menjanjikan sesuatu, memberikan kesempatan, menganjurkan, memberikan kemudahan, memaksa dengan ancaman,
memaksa dengan kekerasan, melakukan tipu muslihat atau membujuk anak yang belum cukup umur untuk
menggunakan narkotika di pidana dengan penjara paling singkat lima tahun dan paling lama lima belas tahun dan pidana denda paling sedikit satu miliar rupiah dan paling banyak sepuluh miliar rupiah.
Pasal 133
• Setiap penyalahgunaan narkotika golongan satu bagi diri sendiri di pidana dengan pidana penjara paling lama empat tahun
Pasal 127
Psikotropika
▣ Berdasarkan Undang-Undang No.5 Tahun 1997
Pasal 60 ayat 1 (a)
Memproduksi atau mengedarkan psikotropika dalam bentuk obat yang tidak
terdaftar pada department yang bertanggung jawab dibidang kesehatan,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 200.000.000,-(dua
ratus juta rupiah).
Pasal 60 ayat 2
Menyalurkan psikotropika, dipidana penjara paling lama 5(lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,-
(seratus juta rupiah).
Pasal 60 ayat 3
Menerima penyaluran psikotropika, dipidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak
Rp. 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah).
Pasal 60 ayat 4
dan 5
Menyerahkan dan menerima penyerahan psikotropika, dipidana paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000,-
(enam puluh juta rupiah).
Pasal 62
Barang siapa tanpa hak memiliki, menyimpan dan membawa psikotropika, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
tahun dengan pidana denda paling vbnayk Rp. 60.000.000,- (enam
puluh juta rupiah
Pasal 63
•
Melakukan pengangkutan psikotropika tanpa dilengkapi dokumen pengangkutan,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dengan
pidana denda paling banyak Rp.
60.000.000,- (enam puluh juta rupiah).
Pasal 64 ayat (a dan b)
•
Menghalang-halangi penderita syndrome ketergantungan untuk mengalami
pengobatan dan atau perawatan pada
fasilitas rehabilitasi atau
menyelenggarakan fasilitas rehabilitasi tanpa memiliki izin, dipidana denga
penjara paling lama la (satu) tahun denga pidana denda paling bvanyak Rp.
20.000.000,- (dua puluh juta rupiah).
Pasal 65
•
Tidak melaporkan penyalahgunaaan dan atau pemilikan psikotropika secara tidak sah, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1(satu) tahu dengan pidana denda paling banyak Rp.
20.000.000,- (dua puluh juta rupiah).
KERACUNAN ALKOHOL
JENIS ALKOHOL
ETANOL
• Etanol atau etil alkohol (C2H5OH) merupakan
komponen yang terkandung di dalam minuman beralkohol legal
• Minuman yang mengandung etanol ini aman dikonsumsi
(tidak melebihi dosis dianjurkan)
METANOL
• zat berbahaya apabila
dikonsumsi (sering pd minuman oplosan)
• Bahan ini biasanya digunakan untuk bahan industri sebagai pelarut, pembersih dan
penghapus cat.
• Sifatnya beracun dan mudah
terbakar
Keracunan alkohol (etil alkohol)
• Akut dan kronis = alcoholic abuse
• Penyalahgunaan alkohol
• Undang-undang
• Mudah didapat
• Konflik -> mabuk
• Tindakan kriminal
• Kecelakaan lalu lintas & kecelakaan kerja
• Bunuh diri
SUMBER
• Air tape, tuak, brem, hasil peragian
• Beer (4-8% alc)
• Anggur (10-20% alc)
• Whisky, brandy, vodka (40-45% alc)
• Rum (40-50% alc)
GEJALA
Kadar dalam darah :
• < 30 mg/100cc: mudah terangsang / penglihatan
• 30 – 50 mg: kontrol diri, kecepatan reaksi
• 60 – 80 mg: gejala di atas lebih jelas
• 80 – 100 mg: keracunan pusat vital
• 300 mg: fase narkose -> delirium halusinasi
• 400 mg: depresi SSP, kelumpuhan kardiorespirasi -> MATI
• Dosis toksis -> kebiasaan minum alc, sensitivitas individual(ALDH 1),
sinergisme dengan obat2an lain, penyakit
PEMERIKSAAN
• Bau alkohol
• Hidup -> mulut dan hidung
• Mati -> alat2 dalam tubuh, darah, otak
• Toksikologi
• Udara ekspirasi, darah, urine (hidup)
• Darah perifer, urine, otak, hati (mati)
• Kadar alkohol 2 lt udara alveoli(0,43mg%)= 1mg% alc darah
• Urine alkohol = 1,2 alc darah = alc otak
• Modifikasi Microdifusi Conway (semikuantitatif)
• Gas Kromatografi (kuantitatif)
Faktor yang mempengaruhi kerja racun
Cara Pemberian
Keadaan Tubuh
Umur
Kesehatan
Hipersensitif
Racun
Dosis
Konsentrasi Bentuk dan
Kombinasi
TERIMA KASIH