KESADARAN DAN KETIDAKSADARAN TOKOH PADA NOVEL CERMIN TAK PERNAH BERTERIAK, KARYA IDA R. YULIA: KAJIAN PSIKOLOGI CARL GUSTAV JUNG
Anzaki Wakhid Nur Rohman
(S1 Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya) [email protected]
Parmin
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya [email protected]
Abstrak
Penelitian ini menggunakan novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia sebagai sumber data penelitian. Hal yang menarik dari novel tersebut adalah selain termasuk novel remaja, dalam novel tersebut ditemukan fenomena kesadaran dan ketidaksadaran pada dua tokohnya, Ega dan Baskoro. Atas fenomena yang terjadi, novel tersebut dianalisis menggunakan teori psikologi analitis Carl Gustav Jung. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan bentuk kesadaran tokoh dalam novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia, (2) mendeskripsikan bentuk ketidaksadaran tokoh dalam novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia, (3) mendeskripsikan bentuk ketidaksadaran kolektif dalam novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan psikologis. Sumber data pada penelitian ini adalah novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia. Data penelitian berupa informasi tentang kesadaran dan ketidaksadaran pada tokoh Ega dan Baskoro yang diperoleh dari dialog, perbuatan, dan narasi yang didapat dari novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia. Teknik pengumpulan data menggunakan metode dokumentatif, teknik baca, dan catat serta mengelompokkan data berupa kesadaran (ego dan sikap jiwa) serta ketidaksadaran (personal dan kolektif). Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif serta menghubungkan dengan teori kesadaran dan ketidaksadaran Jung. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) kesadaran pada tokoh Ega dan Baskoro berupa ego dan sikap jiwa (ekstrovert dan intorvert); (2) ketidaksadaran personal pada tokoh Ega dan Baskoro; (3) ketidaksadaran kolektif berupa pesona, anima, dan shadow.
Kata Kunci: kesadaran, ketidaksadaran, Cermin Tak Pernah Berteriak, Jung
Abstract
This research uses Cermin Tak Pernah Berteriak novel by Ida R. Yulia as the research data source. The interesting thing about this novel is Cermin Tak Pernah Berteriak by Ida R. Yulia as the object of research. The interesting thing about this novel is beside youth novel indeed, it also finds the phenomenon of awareness and unconsciousness in two of its characters, Ega and Baskoro. For the phenomena that occured, the novel is analyzed using the analytical psychology theory of Carl Gustav Jung. The aims of this study are (1) to describe the form of character awareness in Cermin Tak Pernah Berteriak novel by Ida R. Yulia, (2) to describe the form of unconsciousness of the characters in Cermin Tak Pernah Berteriak novel by Ida R. Yulia, (3) to describe the form of the collective unconscious in Cermin Tak Pernah Berteriak by Ida R. Yulia. This study uses a qualitative research method with a psychological approach. The source of the data in this research is Cermin Pernah Berteriak novel by Ida R. Yulia. The research data is in the form of information about the awareness and unconsciousness of the characters Ega and Baskoro which is obtained from the dialogues, actions, and narrations obtained from Cermin Tak Pernah Berteriak novel by Ida R. Yulia. The data collection technique used a documentary method, reading, and note-taking techniques as well as grouping the data in the form of awareness (ego and mental attitude) and unconsciousness (personal and collective). The data analysis technique used descriptive analysis and connected with Jung's theory of consciousness and unconsciousness. The results of this study are as follows: (1) awareness of the characters Ega and Baskoro is found in the form of ego and mental attitude (extrovert and introvert); (2) the personal unconsciousness of the figures of Ega and Baskoro (charm, anima, and shadow); (3) the collective uncounsciousness of charm, anima, and shadow.
Keywords: consciousness, unconsciousness, Cermin Tak Pernah Berteriak, Jung
PENDAHULUAN
Kecenderungan suatu kepribadian pada manusia dapat diterapkan pada tokoh novel.
Penciptaan tokoh pada suatu karya sastra, dalam hal ini novel, tidak bisa terlepas dari kepribadian manusia tertentu untuk menguatkan karakter tokoh sehingga pembaca merasa karakter tokoh benar-benar hidup dan nyata. Meski tokoh novel adalah fiktif, mereka juga memiliki kepribadian yang merujuk pada kesadaran dan ketidaksadaran mereka dalam bertindak.
Salah satu novel yang berkutat pada kesadaran dan ketidaksadaran tokohnya adalah Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia.
Novel tersebut bercerita tentang perubahan keadaan dalam rumah tangga sejak kematian Mama (Ibu Ega) dan Sekar akibat kecelakaan motor yang dikendarai oleh mamanya. Perubahan tidak hanya terjadi pada situasi di dalam rumah, namun juga turut mengubah pola kesadaran pada dua tokoh, yakni Ega dan Baskoro (Papa Ega) menjadi ketidaksadaran. Ketidaksadaran ini berupa seringnya kedua tokoh tersebut bercakap- cakap dengan sosok Mama di depan cermin rias meski Mama telah meninggal dunia. Selain itu, Baskoro yang mulanya penyabar menjadi pemarah di luar kontrol dirinya sejak kecenderungannya menyukai sesama jenis diketahui oleh anaknya. Sisi menarik pada novel tersebut adalah adanya batas antara kesadaran dan ketidaksadaran kedua tokoh, Ega dan Baskoro, menjadi tumpang-tindih. Meski begitu, wilayah kesadaran dan ketidaksadaran kedua tokoh tersebut bisa ditelaah lebih lanjut dengan menggunakan pisau bedah Carl Gustav Jung (selanjutnya disebut Jung).
Penelitian dengan teori Jung termasuk ke dalam psikoanalisis. Tiga hal utama (Ahmadi, 2016, 2015) penyebab psikoanalisis masuk dalam bidang kesastraan, yakni (1) psikoanalisis baik Freudian, Jungian, Frommian, dan Lacanian tidak lepas dari psyche yang memunculkan ketidaksadaran (unconsciousness) yang kadang timbul ke permukaan melalui dimensi-dimensi yang samar dan yang lepas dari sensor kesadaran (consciusness); (2) sastra dan psikoanalisis memiliki histori yang saling terkait, sastra mempengaruhi psikoanalisis dan psikoanalisis mempengaruhi sastra; (3) sastra memunculkan self defence mechanism yang kadang tidak dimunculkan dalam kehidupan keseharian. Bisa dikatakan, kesastraan dan psikologi memiliki keterkaitan karena kepribadian manusia dan
tokoh yang terkandung di dalam karya sastra cenderung memiliki kesamaan.
Menurut Jung (Mutmainna, 2019), kepribadian pada seseorang bisa tersimpan dalam wilayah kesadaran dan ketidaksadaran yang dipengaruhi oleh pengalaman. Lebih lanjut, (Ismail, 2016) kepribadian menurut Jung memiliki tiga tingkat dari sebuah kesadaran, yakni kesadaran atau ego, ketidaksadaran personal, dan ketidaksadaran kolektif. Kesadaran berperan untuk menentukan persepsi, perasaan, dan ingatan sehingga manusia mampu membedakan baik-buruk serta menyesuaikan tindakan terhadap lingkungan yang ditempatinya.
Ketidaksadaran personal berkutat pada pengalaman masa lalu yang ditutupi sehingga tidak berada pada wilayah kesadaran. Meski begitu, ketidaksadaran ini bisa tiba-tiba terpantik karena suatu kondisi. Tahapan di atas ketidaksadaran personal ada ketidaksadaran kolektif. Ketidaksadaran ini berkutat pada kesadaran kolektif yang diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya serta pengalaman emosional tertentu yang diturunkan.
Fenomena kesadaran dan ketidaksadaran pada tokoh Ega dan Baskoro dalam novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia bisa diteliti dengan psikologi analitis Carl Gustav Jung. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut: 1) mendeskripsikan bentuk kesadaran tokoh dalam novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia dengan ditinjau dari kajian psikologi analitis Carl Gustav Jung, 2) mendeskripsikan bentuk ketidaksadaran tokoh dalam novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia, 3) mendeskripsikan bentuk ketidaksadaran kolektif dalam novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia.
Manfaat penelitian ini terbagi menjadi dua, yakni manfaat teoretis dan praktis. Pada manfaat teoritis, penelitian ini bermanfaat dalam penguatan disiplin ilmu kesusastraan, terutama yang berhubungan dengan penokohan dengan ditinjau dari kesadaran dan ketidaksadaran. Pada manfaat praktis bagi pembaca, diharapkan dapat lebih memahami kesadaran dan ketidaksadaran pada tokoh novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia. Untuk peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menjadi referensi dalam proses penelitian serta dapat meningkatkan keilmuan dan wawasan mengenai teori kesadaran dan ketidaksadaran Jung.
Penelitian yang relevan terhadap penelitian ini ditinjau dari dua segi, yakni
menggunakan sumber data penelitian yang sama dan menggunakan teori yang sama. Ditinjau dari menggunakan sumber data penelitian yang sama, yakni menggunakan Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia, ada satu penelitian terdahulu, yaitu 1) penelitian Alfat, Rokhmansyah, & Dahri (2022) yang berjudul
“Identitas Gender Tokoh Utama dalam Novel Cermin Tak Pernah Berteriak Karya Ida R.
Yulia”. Dengan menggunakan teori kajian gender, Alfat, Rokhamsyah, & Dahri memperoleh hasil penelitian bahwa identitas gender dari tokoh Baskoro yang berubah-ubah, Baskoro laki-laki yang memiliki hobi melakukan crossdressing (suka berdandan seperti perempuan). Yang membedakan dengan penelitian ini adalah teori yang digunakan untuk menganalisis novel Cermin Tak Pernah Berteriak Karya Ida R. Yulia.
Ditinjau dari teori Jung, ada tiga penelitian yang relevan. Pertama, penelitian dari mahasiswa Unesa, yakni penelitian Kusuma (2012) yang berjudul “Ketidaksadaran dan Faktor yang Mempengaruhi Struktur Ketidaksadaran Tokoh Utama (Aku) Novel Napas Mayat Karya Bagus Dwi Hananto: Kajian Psikologi Analitis Carl Gustav Jung”. Hasil penelitian tersebut adalah bentuk khusus isi ketidaksadaran dalam novel Napas Mayat karya Bagus Dwi Hananto berupa bayang-bayang, imago, anima-animus serta faktor-faktor yang mempengaruhi struktur ketidaksadaran pada tokoh Aku dalam novel Napas Mayat karya Bagus dwi Hananto yang terdiri dari faktor ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif. Persamaan dengan penelitian ini adalah sama-sama menggunakan teori psikologi analitis Jung. Perbedaannya dengan penelitian ini adalah pada penelitian Kusuma hanya terbatas pada ketidaksadaran, sedangkan penelitian ini cakupannya lebih luas pada analisisnya, termasuk pada kesadaran dan ketidaksadaran.
Kedua, penelitian Shiva (2018) yang berjudul “Kesadaran dan Ketidaksadaran Tokoh Ara dalam Cerpen Ingatan Ara Karya Dewi Ria Utari: Analisis Psikologi Sastra”. Hasil penelitian tersebut adalah kesadaran dan ketidaksadaran sosok Ara dalam cerpen Ingatan Ara terdapat (1) perubahan kepribadian karakter Ara dari ekstrovert ke introvert, (2) kesadaran yang dialami tokoh Ara, termasuk sikap mental yang terdiri dari ekstrovert dan introvert, fungsi jiwa yang terdiri dari perasaan, pemikiran, penginderaan, dan intuisi, serta pribadi ketidaksadaran yang dialami oleh tokoh Ara.
Ketiga, penelitian Ahmad (2020) yang berjudul “Ketidaksadaran Kolektif Tokoh dalam Novel Anak Rantau Karya Ahmad Fuadi: Kajian Psikologi Analitis Carl Gustav Jung”. Pada penelitian tersebut, ditemukan bahwa: (1) peranan persona dari diri seorang Datuk Marajo yang menampilkan satu karakter yang berbeda untuk menutupi karakter yang merupakan miliknya, (2) peranan arketipe anima dalam diri tokoh Martiaz yakni sisi feminin yang ada dalam diri seorang pria, (3) peranan bayang (shadow) pada tokoh Jenggo untuk menutupi kesalahannya, dan (4) peranan arketipe diri (self) pada Datuk Marajo untuk mendapatkan ketenangan.
Dari tiga penelitian tersebut, belum ada yang menggunakan sumber data novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia.
Penelitian ini perlu dilakukan dengan tiga dasar alasan. Pertama, novel Cermin Tak Pernah Berteriak (2015) karya Ida R. Yulia belum banyak diteliti. Hal ini menunjukkan bahwa karya tersebut masih belum mendapat sorotan dari lingkup akademisi secara kritis. Kedua, meski novel tersebut terbilang sebagai novel remaja, namun isu yang diangkat cukup krusial, yakni perubahan orientasi seksual pada tokohnya.
Ketiga, perubahan orientasi seksual pada tokoh novel masih jarang ditinjau dengan menggunakan kesadaran dan ketidaksadaran pisau bedah Jung, terlebih lagi sering muncul bayang-bayang tokoh yang sudah meninggal. Hal ini yang membuat novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R.
Yulia menarik untuk dianalisis menggunakan psikologi analitis Jung.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif (Ratna, 2009) adalah metode dengan memberikan perhatian terhadap data-data alamiah yang berhubungan dengan konteks keberadaannya, bisa berasal dari tulisan, ungkapan panjang, dan pengamatan perilaku dengan analisis isi (content analysis) penghayatan dan interaksi antar konsep dan pengkajian empiris. Penelitian kualitatif (Anas, 2009) lebih banyak digunakan dalam ilmu humaniora, misalnya sosiologi, antropologi, maupun psikologi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif karena penelitian ini ingin menjangkau data deskriptif berupa kata, frasa, kalimat, maupun wacana yang diperoleh dari sumber data penelitian yakni novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia.
Pendekatan, Sumber Data, dan Data Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi tokoh karena menggunakan teori Jung terkait kesadaran dan ketidaksadaran tokoh.
Pendekatan psikologis menekankan analisis psikologis tokoh di dalam novel. Sumber data penelitian ini adalah novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia dengan jumlah halaman 291 halaman yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, anak cabang penerbit Gramedia, Jakarta. Data penelitian ini berupa informasi tentang kesadaran dan ketidaksadaran pada tokoh Baskoro dan Ega yang diperoleh dari dialog, perbuatan, dan narasi yang didapat dari novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R.
Yulia.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode dokumentatif. Metode ini digunakan karena datanya berasal dari novel dan mendokumentasikan semua data yang diperlukan dalam penelitian (Sugiyono, 2009: 329). Selain itu, juga menggunakan teknik baca dan catat serta mengelompokkan data berupa kesadaran (ego dan sikap jiwa) dan ketidaksadaran (personal dan kolektif). Ketidaksadaran kolektif dibagi lagi menjadi persona, anima, dan shadow.
Pertama, membaca intensif dan berulang- ulang novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia agar didapat pemahaman yang maksimal. Kedua, mengidentifikasi masalah yang terdapat pada novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia. Ketiga, mengelompokkan data dengan cara memilah-milah data yang dicatat berdasarkan tujuan penelitian.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis deskriptif yang melibatkan interpretasi dan berusaha mendeskripsikan makna atau subjek atau keadaan yang menjadi pembahasan dalam penelitian ini. Teknik ini menggunakan pemaparan dalam bentuk deskriptif terhadap masing-masing data secara fungsional.
PEMBAHASAN
1. Bentuk Kesadaran Tokoh
Ego pada tokoh Ega dibuktikan pada tindakan kesehariannya secara sadar. Ada pertimbangan tertentu sehingga Ega memilih bertindak tertentu dengan kesadaran penuh. Ego pada tokoh Ega bisa dilihat di bawah ini.
"Papa terakhir kali ngambil rapor Ega pas Ega kelas lima SD," katanya masih cemberut. "Ega sekarang udah SMA lho, Pap, udah semester satu." (Yulia, 2015:
17)
Pada kutipan di atas, terlihat bahwa Ega memiliki pertimbangan untuk meminta Papanya agar mengambil rapornya ke sekolah. Hal tersebut juga diperkuat dengan adanya Ega sedikit memaksa mengantar Mama dan Sekar ke sekolah.
Pertimbangan tersebut berkaitan dengan ego di dalam tokoh Ega. Berikut kutipannya
.
"Ega mau ke sekolah juga, Ma. Ega yang anterin Mama, ya? Mama kan nggak jago bawa motor." Ia menuntun Honda Vario hitam ke sudut lapangan basket mini di depan rumah, mulai memanaskan mesin.
…
"Mas Ega yang antar ya, Dik! Nggak usah manja gitu sama mama, deh!" Ega berkacak pinggang, menatap adiknya dari halaman depan, malas mendekati Sekar.
(Yulia, 2015: 21)
Pada kutipan di atas, terlihat bahwa Ega memiliki pertimbangan untuk meminta Papanya agar mengambil rapornya ke sekolah. Hal tersebut juga diperkuat dengan adanya Ega membujuk mengantar Mama dan Sekar ke sekolah. Pertimbangan tersebut berkaitan dengan ego di dalam tokoh Ega. Berikut kutipannya.
Ia bahkan langsung duduk di depan kemudi, mendahului gerakan Pak Harjo.
...
"Biar Ega aja, Pak, bisa lebih cepat," sahut Ega tak sabar. Telapak tangan kanannya ia sodorkan ke arah Pak Harjo.
...
"Pak Harjo naik deh cepetan, nggak usah ngotot gitu! Serahin kuncinya!" bentak Ega keras. (Yulia, 2015: 35)
Setelah kecelakaan yang menimpa Mama dan Sekar, Ega memutuskan untuk tetap tinggal di dalam kamar jenazah untuk berkabung atas meninggalnya Mama dan Sekar, adiknya.
Ega bersikeras tetap tinggal, ia bahkan meminta Pak Harjo keluar dari kamar jenazah jika memang benar-benar tidak tahan. (Yulia, 2015: 37)
Untuk tokoh Baskoro, ayah Ega, juga ditemukan kesadaran berupa ego. Hal tersebut dibuktikan pada kutipan berikut ini.
Baskoro tak tahan lagi. "Ke Wisma Nusantara, sekarang!" putusnya, tak mau dibantah. Ia berjalan kelar dari pekarangan Central Mosque dengan raut sebal. (Yulia, 2015: 80)
Pada kutipan di atas, terlihat bahwa Baskoro memiliki ego yang kuat sehingga saat di London Central Mosque, ia meminta teman- temannya agar segera pergi ke Wisma Nusantara.
Tidak berhenti di situ, Baskoro pernah meminta meninggalkan King William IV Pub saat mengetahui Jonathan menaruh hati kepadanya.
Dalam pandangan Baskoro, mereka hanya sekadar bersinggah setelah menonton konser Bon Jovi. Nyatanya, Jonathan mengajaknya ke pub gay untuk berkencan dengan dengannya. Hal ini membuat Baskoro sedikit marah dengan mengungkapkan kekesalan lewat mengajak Jonathan meninggal tempat. Berikut kutipannya.
Baskoro mendongak, tak membalas senyumannya. "Kita pulang, sekarang." Ia berdiri terlebih dahulu, meninggalkan meja mereka tanpa menoleh lagi. (Yulia, 2015: 97)
Selain itu, Baskoro juga menunjukkan egonya lewat kepeduliannya terhadap Ega, anak semata wayangnya. Baskoro memutuskan meninggalkan Jonathan sendirian di salah satu hotel di Semarang. Berikut kutipannya.
"Ega sakit, aku harus pulang. Intinya, aku dapat ceramah panjang lebar di pagi hari dari bawahanku sendiri kalau aku kurang bisa memperhatikan anakku," jawabku ketus, bicara dengan satu kali helaan napas. (Yulia, 2015: 190)
Selain ego, sikap jiwa juga tergolong di dalam kesadaran. Sikap jiwa terdiri dari tipe ekstrovert dan introvert. Kedua tokoh, Ega dan Baskoro, tidak selalu berada pada satu tipe, melainkan bisa memiliki kedua tipe sekaligus.
Hal ini disebabkan karena suasana hati mereka dan keadaan tertentu sehingga memantik kedua tokoh tersebut meresponsnya.
Tanda ekstrovert muncul pada tokoh Ega karena dipengaruhi oleh dunia objektif di luar diri. Hal ini bisa dilihat pada kutipan berikut ini.
Reaksi yang tak kusangka akan dialami sendiri oleh putraku yang dulunya hiperaktif dan ceria. (Yulia, 2015: 42)
... Kalau mulai sekarang Ega 'membaur' dengan kalangan yang lebih merakyat?
Itulah kenapa aku menyukai Rismalita, gadis asli Jogja itu, beserta teman- temannya yang sering main ke rumah kami sejak Ega masuk SMA. (Yulia, 2015: 56)
Sepuluh menit kemudian, kamar Ega sudah heboh oleh tambahan tiga suara lagi, yang dua di antaranya saling berebutan ngomong. (Yulia, 2015: 179)
Pada kutipan di atas, bisa dilihat bahwa Ega suka bergaul dengan teman-temannya serta diperkuat dengan sifat periang. Namun, keriangan Ega tersebut seketika berubah sejak kematian Mama dan Sekar. Hal tersebut dibuktikan dari kutipan berikut ini.
... Ega lebih sering mengurung diri di kamar ... Ia lebih banyak diam, yang kemudian berakhir dengan mengunci diri di dalam kamar selama berjam-jam, tak mau makan. (Yulia, 2015: 42)
Mereka datang di pemakaman Alia keesokan harinya, dan Ega hanya sebentar menemui mereka. Dia paling enggan menemui tamu, atau siapapun, tak peduli itu teman-temannya sendiri yang datang untuk menyampaikan ucapan belasungkawa. (Yulia, 2015: 105-106)
Pada kutipan di atas, bisa dilihat bahwa Ega seketika berubah menjadi pendiam dan pemurung sejak Mama dan Sekar meninggal akibat kecelakaan. Hal ini menunjukkan bahwa Ega memiliki tipe introvert karena dipengaruhi oleh dunia subjektif di dalam diri. Dari temuan tersebut, bisa dikatakan bahwa Ega memiliki kombinasi antara dua tipe tersebut.
Sama halnya dengan Ega, Baskoro juga mulanya adalah orang suka berada di keramaian.
Hal tersebut dibuktikan pada kutipan berikut ini.
Mereka disambut oleh beberapa orang Indonesia dan sebagian lagi berwajah Timur Tengah ketika memasuki pintu utama, dengan lambang Garuda Pancasila di bagian atas pintu. ... Baskoro dan
Jonathan mengikuti, berbasa-basi sebentar, sebelum akhirnya dibimbing masuk ke bagian belakang Wisma Nusantara. Pesta sesungguhnya ada di situ, semacam pesta kebun. (Yulia, 2015:
81-82)
Baskoro menghela napas keras. "... Kita berdua saja nonton ke sana. Aku dapat tempat strategis nih, dekat dengan panggung. Siapa tahu bisa dapat lemparan kaus atau botol air minum langsung dari Jon Bon Jovi." (Yulia, 2015: 87-88)
Pada kutipan di atas, bisa dilihat bahwa Baskoro pada mulanya suka berada di keramaian, salah satunya berada di dalam pesta. Ia bersama Jonathan dan Shenas pergi ke pesta tersebut untuk bertemu dengan Alia. Selain itu, Baskoro juga suka menonton konser. Bisa dikatakan bahwa Baskoro memiliki tipe ekstrovert dengan melihat kecenderungannya tersebut.
Kematian Alia juga berdampak pada Baskoro. Sama halnya dengan Ega, Baskoro menjadi pemurung dan pelamun. Hal ini dibuktikan pada kutipan berikut ini.
Kini kuakui, aku bahkan lebih parah dari Ega. Putraku sepertinya sudah mulai beradaptasi menghadapi kesepian tak lazim di dalam rumah kami sepeninggalan Alia dan Sekar. Tapi aku? Kedatangan Jonathan kembali ke Jogja terus terang saja membuatku seolah hilang pegangan.
(Yulia, 2015: 124)
Ega berhenti melangkah begitu keluar dari kamar mandi. Ia terdiam melihat papanya menunduk dan mengecup sesuatu yang tak terlihat di depan meja rias mamanya.
(Yulia, 2015: 127)
Pada kutipan di atas, bisa dilihat bahwa Baskoro merasakan lebih parah dari apa yang dirasakan Ega. Terlebih lagi, sejak kedatangan Jonathan ke Jogja, memantik Baskoro menjadi mudah melamun. Hal ini menunjukkan bahwa Baskoro memiliki tipe introvert karena dipengaruhi oleh dunia subjektif di dalam diri.
Dari temuan tersebut, bisa dikatakan bahwa Baskoro memiliki kombinasi antara dua tipe tersebut.
2. Bentuk Ketidaksadaran Personal
Tingkatan selanjutnya adalah ketidaksadaran personal. Ismail (2016: 5) menyebut bahwa fenomena ini terjadi karena banyak pengalaman yang telah hilang oleh sebab terlupakan atau sengaja ditekan sehingga pengalaman tersebut masuk ke dalam ketidaksadaran personal, yang bisa sewaktu- waktu muncul di ingatan manusia tanpa disadari.
Sebelum kematiannya, Kehadiran Mama Ega meninggalkan pengalaman mendalam sehingga Ega perlu menekan pengalaman tersebut untuk merelakan atas kematian Mamanya.
Bukannya hilang, pengalaman atas kehadiran Mamanya yang masih hidup, mengesankan bahwa ada sosok lain di dalam cermin. Padahal, kenyataannya adalah ketidaksadaran personal yang muncul tiba-tiba dengan membawa pengalaman terdahulu. Hal ini dibuktikan pada kutipan berikut ini.
Ega menyandarkan punggung di tembok rumah sakit. "Hati-hati, Pap." Ia langsung mengakhiri panggilan. Badannya merosot jatuh, terduduk lemas di lantai. (Yulia, 2015: 39)
Dan aku panik ketika mendapati putraku terduduk lemas di pojok kamar mandi dengan kepala terakuk di atas kedua lututnya.
...
Ia mengangguk saja. Matanya perlahan mulai fokus ke arahku. (Yulia, 2015: 65- 66)
Tadi sewaktu Hendi memasak di dapur, ia seperti melihat bayangan mamanya, tersenyum ketika memotong sayuran sambil menasihatinya agar tidak anti buah dan sayur. (Yulia, 2015: 136)
Ega tetap tercenung, menunduk menatap layar ponsel yang masih menyala. (Yulia, 2015: 152)
Ketika Ega melihat ke arah cermin, napasnya seolah berhenti. Bayangan seorang wanita tampak menggeleng ke arahnya, seolah memintanya menenangkan diri. (Yulia, 2015: 256)
Ega melangkah perlahan mendekati cermin, menempelkan kedua tangannya pada permukaan kacanya. "Mama? Mama, ini Ega." Beberapa detik kemudian anak
itu sadar ia hanya berhalusinasi. (Yulia, 2015: 257)
Pada kutipan di atas, bisa dilihat bahwa Ega masih terngiang oleh kehadiran Mamanya sebelum kematiannya. Sejak kematian Mamanya, Ega masih sulit menerima bahwa Mamanya sudah tidak ada lagi. Hal inilah yang menyebabkan sosok Mama tiba-tiba hadir tanpa di luar kesadarannya.
Hal yang sama juga dialami oleh Baskoro.
Baskoro kerap menganggap bahwa Sekar dan Alia masih hidup. Hal ini dibuktikan pada kutipan berikut ini.
"Oke, Papa tunggu, ya. Nggak usah lama- lama mandinya kayak Dik Sek --" Ah, Ya Tuhan. Salah besar. Kenapa aku mendadak menyebut ...
Aku baru sadar kalau suara Ega terdengar seperti agak diseret. (Yulia, 2015: 45)
Wajah Baskoro tampak memucat ketika melihat salah astu pasangan gay di dekat meja mereka berciuman setelah minum bir.
Jonathan menyenggol lengan Baskoro, menahan tawa. (Yulia, 2015: 93)
Mataku terasa panas. Apa ini? Alia, apa yang ingin kau sampaikan padaku?
Masihkah kau mengawasiku dari sana?
Atau, jangan-jangan kau tetap berada di sini, di dalam kamar kita? (Yulia, 2015:
105)
Tak sebanding dengan Alia yang selalu kelihatan sempurna tiap kali mematur diri di depannya. Kulihat bayangannya berdiri di belakangku, dengan raut cemas yang sama persis seperti Ega. Kedua tangan halus dengan kuku lentiknya merengkuh pundakku, memelukku dari belakang.
...
Aku menggelengkan kepala dengan kuat, dan seketika bayangannya menghilang.
ketika kupandang lagi cermin itu, tanpa seorang pun memelukku dari belakang, menguatkanku ketika aku merasa lemah, pertahananku bobol. (Yulia, 2015: 108)
Sewaktu pandanganku tak sengaja melihat ke arah cermin di depan meja rias Alia, aku terperanjat. Alia duduk di sana, tersenyum ke arahku. Seperti tak terjadi apa-apa, ia mulai meraih alat make up-nya dan
berdandan, mematut diri di depan cermin.
(Yulia, 2015: 126)
"Terima kasih, Sayang. Aku tahu kau selalu ada di sini, bersamaku." Aku memeluk Alia dari belakang, kukecup pipinya sejenak dari samping. Ia membalasnya dengan sapuan lembut pada bibirku, tersenyum hangat. (Yulia, 2015: 127)
Akhirnya yang kutunggu muncul juga.
Wanita yang selalu tampak cantik dan sempurna di mataku. Ia tersenyum manis, mulai memijit leherku yang terasa tegang.
...
Aku terus menatap ke arah cermin, memandangnya lekat.
...
Aku tetap menatap wajah lembutnya di depan cermin. Ia akhirnya menatapku juga melalui cermin itu, tersenyum menggoda.
(Yulia, 2015: 210)
Pada kutipan di atas, bisa dilihat bahwa Baskoro sering terbayang-bayang oleh istrinya di cermin. Selain itu, pengalaman Baskoro bersama Jonathan turut hadir bersamaan dengan rasa kesepian yang melandanya. Hal ini dibuktikan pada kutipan berikut ini.
"Hah?! Jon siapa?!" Samar aku melihat wajah seorang ana laki-laki berkedip bingung menatapku. Aku duduk tegak di atas sofa, mengucek mata sebentar. Gila, aku ketiduran?! Jam berapa ini?! (Yulia, 2015: 97)
Sambil terhuyung, aku berdiri dengan pandangan kabur. Aku harus ke kamarku.
Aku butuh Alia. Aku benar-benar membutuhkan istriku sekarang. Bukan dia.
Bukan pria itu.
....
"Pak Harjo, tolongin Ega! Papa pingsan!!" samar-samar kudengar suara langkah kaki mendekat sebelum duniaku benar-benar gelap. (Yulia, 2015: 99)
Dari temuan tersebut, bisa dikatakan bahwa Ega dan Baskoro masih sulit menerima atas kehilangan sosok Mama dan Sekar.
Pengalaman tersebut ditekan sehingga masuk pada ketidaksadaran personal. Pada tahap ini, ketidaksadaran personal bisa sewaktu-waktu
muncul tanpa disadari, berupa ingatan sekilas dan bayang-bayang pengalaman.
3. Bentuk Ketidaksadaran Kolektif
Tingkatan terakhir adalah ketidaksadaran kolektif. Jung menyebut ketidaksadaran kolektif (1987: 7) adalah bentuk pembawaan lahir dari psyche, pola kelakuan psikis yang selalu ada secara potensial sebagai kemungkinan dan apabila diwujudkan nampak sebagai gambaran spesifik. Ismail (2016: 6) mengatakan bahwa ketidaksadaran kolektif disusun dari gambaran- gambaran dengan bentuk pemikiran yang kuno atau jejak ingatan dari nenek moyang kita di masa lalu, bukan hanya masa lalu manusia tetapi juga masa lalu sebelum peradaban manusia dimulai, dan juga evolusi dari pertalian keluarga yang terdahulu. Dari pengertian tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa ketidaksadaran kolektif berasal dari pola kelakuan psikis yang diturunkan secara turun-temurun yang berkaitan dengan pikiran, emosi, dan tindakan seseorang.
Ketidaksadaran kolektif terdiri dari persona, anima/animus, dan shadow. Pesona (Lindzey, 1993: 188) adalah topeng berupa tindakan seseorang yang dipakai sebagai respons terhadap tuntutan kebiasaan tradisi masyarakat.
Pesona muncul jika manusia menunjukkan tindakan yang diinginkan masyarakat sehingga respons alamiah tidak ditampilkan. Lebih mudahnya, pesona bisa disebut dengan perilaku berpura-pura agar mudah diterima oleh masyarakat.
Pesona Ega tampak ketika ia meminta perhatian Baskoro dengan cara meminta mengambil rapornya. Namun, Ega menutup- nutupi dengan dalih ingin berganti suasana, meskipun sebenarnya Ega ingin diistimewakan.
Hal ini dibuktikan pada kutipan berikut ini.
"Dia sekarang sudah tampak putus asa.
"Nggak, nggak ada yang spesial. Cuma pengin ganti suasana saja, Pap." (Yulia, 2015: 17)
Selain itu, ketika dilanda duka sejak kematian Mamanya dan Sekar, Ega berpura-pura tegar meskipun seharian dia belum makan.
Dengan berhenti makan, berdampak pada kesehatannya. Meskipun Baskoro melihat kondisi kesehatan Ega yang kurang baik, Ega tetap berpura-pura agar terlihat kuat dirundung duka.
Hal ini dibuktikan pada kutipan berikut ini.
"Nggak lapar." Hanya itu reaksinya, tetap menunduk memainkan ponsel, bermain game.
"Kamu seharian belum makan, Ga."
(Yulia, 2015: 44)
"Jadi kamu sakit? Apa setelah ini kita periksa ke dokter?" Aku menatapnya lebih seksama.
"Cuman serak ini, ngapain ke dokter? Ega udah minum jahe hangat,"Ega mengangkat bahu." (Yulia, 2015: 46)
Pesona Baskoro juga tampak ketika dia menyembunyikan sosok Jonathan dari Pak Harjo.
Baskoro tidak ingin hubungan masa lalunya dengan Jonathan juga turut diketahui oleh Pak Harjo yang berakibat Pak Harjo mengetahui orientasi seksual Baskoro sebagai seorang biseksual. Itulah sebabnya Baskoro memilih berdalih agar Pak Harjo tidak mengetahui sosok Jonathan terlalu jauh. Hal ini dibuktikan pada kutipan berikut ini.
“Memangnya Pak Bas pernah kenal orang yang bernama Pak Jonathan?” tanya Pak Harjo dengan raut penasaran, yang bagiku sangat mengganggu.
"Pernah dengar sih, kayaknya pelanggan lama tuh, sebelum Pak Harjo kerja di sini menggantikan Pak Slamet," kilahku.
(Yulia, 2015: 54)
Selain itu, Baskoro juga menutupi kesibukannya mengurus Jonathan saat berkunjung ke Jogja. Baskoro berdalih kepada Ega dengan cara ada pekerjaan di luar kota karena Baskoro mengetahui bahwa Ega tidak mungkin menerimanya yang memiliki hubungan spesial dengan Jonathan. Itulah sebabnya Baskoro memilih menggunakan pekerjaannya untuk alasan ke luar kota. Hal ini dibuktikan pada kutipan berikut ini.
Sebenarnya yang membuat Ega kesal bukan Hendi, tapi papanya. Sejak awal Januari, papanya perlahan berubah menjadi orang yang sok sibuk, gila kerja.
… Tapi, kali ini terasa berbeda. Selalu saja ada alasan yang kadang kurang masuk akal. Meeting di luar kota, menjadi sopir tour berhari-hari padahal ada Pak Ridwan
ataupun Pak Agus yang bisa menggantikan. (Yulia, 2015: 176)
Dari temuan tersebut, dapat dikatakan bahwa Ega cenderung memiliki pesona untuk menutupi perasaan berduka serta agar tetap terlihat tegar di depan Papanya. Baskoro sendiri cenderung memiliki pesona untuk menutupi hubungannya dengan Jonathan. Baskoro mengetahui bahwa hubungan spesialnya dengan Jonathan tidak bakal bisa diterima oleh Ega sehingga dia memilih berpura-pura dan menutupi dengan alasan pekerjaan.
Anima dan animus menggambarkan karakteristik seksual yang ada pada pria dan wanita. Jung (1987: 106-107) mengatakan bahwa anima adalah sisi feminim pada pria, sedangkan animus adalah sisi maskulin pada wanita.
Keduanya berperan menjaga relasi yang berada dalam ketidaksadaran untuk mengimbangi kesadaran antara pria dan wanita. Karena kedua tokoh yang dianalisis pada novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia adalah pria, maka hanya aspek anima yang diteliti.
Anima pada Ega tampak karena dia membawa sifat-sifat menurun dari Mamanya, mulai dari bentuk hidung, pipi, serta suka mencatat apa yang dibutuhkan. Hal ini dibuktikan pada kutipan berikut ini.
Raut lembut istriku terwaris sempurna padanya, khas Timur Tengah, dengan hidung mancung dan tulang pipi menonjol.
Berapa kali aku bersyukur ia lebih mirip dengan istriku daripada aku ... (Yulia, 2015: 17)
Ega sempat-sempatnya mencatat pesan dari dokterku tadi? Ya ampun, kalau begini dia jadi mirip dengan Alia. (Yulia, 2015:
130)
Tampak Ega mengenakan hoodie hijau kesayangannya menutupi rambut dengan latar gulungan ombak pantai yang akan datang mendekat, sok imut tapi jarinya ditekuk seperti lambang metal.
"Benar dugaanku. Dia cukup manis.
Hidung dan matanya mirip Alia." (Yulia, 2015: 170)
Dari kutipan tersebut, terlihat bahwa Ega membawa sifat-sifat menurun dari Mamanya sehingga Ega tampak lebih feminim.
Berbeda dengan Ega, anima pada Baskoro lebih menonjolkan pada kegemarannya berdandan seperti istrinya. Hal ini dibuktikan pada kutipan berikut ini.
Bisa kurasakan wajahku menghangat mendengar bisikannya, tepat di telinga kananku. Aku tertunduk, merasa malu.
"Aku sudah lama tidak berdandan seperti
ini," gumamku lirih.
"Tapi kau tetap cantik, Bas ---"
"Shally," ralatku segera. (Yulia, 2015:
181)
Aku menunduk, nanar melihat berderet- deret alat rias di atas meja. Kuraih satu lipstik berwarna merah merekah, seperti akan tampak cantik ketika aku memakainya, sama seperti yang dikenakan
Alia saat ini.
Kupoleskan lipstik itu perlahan di atas
bibirku yang mengering.
kulanjutkan memoles lipstik itu hingga bibirku kini tertutup sempurna oleh warna merah sepekat darah. (Yulia, 2015: 211)
Mereka bahkan heboh memasangkan bulu mata palsu padaku, atau menyatakan kekaguman pada wig yang kupakai. (Yulia, 2015: 233)
"Beginilah Papa, Ga. Suka dandan seperti wanita, seperti mendiang Mamamu...
(Yulia, 2015: 245)
Dari temuan tersebut, bisa dikatakan bahwa anima pada Ega cenderung menyerupai sifat dan wajah Mamanya. Sedangkan, anima pada Baskoro cenderung menyerupai istrinya lewat dandanan dan pakaian yang dia kenakan.
Shadow (Lindzey, 1993: 190) berkutat pada insting-insting binatang yang diwarisi manusia dalam evolusinya dari bentuk-bentuk kehidupan yang lebih rendah. Dengan kata lain, shadow mengakibatkan munculnya pikiran- pikiran, perasaan-perasaan, serta tindakan- tindakan yang tidak menyenangkan dari seseorang yang tidak patut bagi masyarakat dalam kesadaran tingkah laku. Shadow hadir bisa dalam berbagai bentuk, seperti perasaan/tindakan ingin merusak, menghancurkan, dan tindakan serupa yang menyamai dengan insting binatang.
Shadow pada Ega tampak jelas saat dia masih labil dalam mengontrol emosi dan tindakannya sehingga berakibat kerusakan.
Tindakan ini bisa disebabkan karena rasa ingin diperhatikan saat berada di usia remaja. Tidak adanya bentuk pemenuhan apreasiasi dari Papanya sehingga dia memilih untuk melampiaskannya dengan menyetir secara ugal- ugalan. Hal ini dibuktikan pada kutipan berikut ini.
Anak itu sila kabur hura-hura dengan temannya, membawa salah satu mobilku yang harusnya menjadi mobil rental dan tour, seringnya dia bawa Fortuner. Belum punya SIM, masih di bawah umur, dan entah sudah bolak-balik ke kantor polisi dan kantor kepala sekoah, mengurus masa- masa labilnya.
…
Sampai ketika ia menghancurkan halaman depan rumah orang dengan mobil rental yang ia bawa kabur, dan aku harus menanggung semua kerugian, aku marah besar padanya. (Yulia, 2015: 18)
Kenakalannya itu yang sering membuatku bentrok dengannya beberapa tahun belakangan ini. (Yulia, 2015: 19)
Akhirnya, Ega meledak juga. Mood tak terlalu bagus dan capek, pulangnya ia kena flu dan ngamuk pada Hendi yang melontarkan candaan garing. ... Seharian ini ia membentak Hendi sudah lebih dari tiga kali. Atau bahkan lebih? (Yulia, 2015:
176-177)
Selain itu, Ega juga meluapkan kemarahan yang tidak terkontrol saat mengetahui Papanya mengenakan pakaian wanita. Hal ini dibuktikan pada kutipan berikut ini.
Dan dengan kasar ia menarik kerudung panjang yang menutupi kepalaku melepaskannya paksa. Wig cokelat auburn kesayanganku bahkan hampir ikut tertarik, yang buru-buru aku pegang agar tak lepas.
(Yulia, 2015: 236)
Matanya berkaca-kaca. Mendadak ia memukul setir, membuat mobil kami oleng kek kanan dan suara klakson berkali-kali terdengar di belakang kami sebelum ia dengan cepat mengendalikan kembali laju mobil dengan benar. (Yulia, 2015: 238)
Sama halnya dengan Ega, shadow pada Baskoro juga tampak jelas ketika dia meluapkan
kemarahannya saat Ega menolak kehadirannya dengan pulang malam. Perlakuan Ega kepada Baskoro muncul karena Baskoro sering pergi ke luar kota sampai berhari-hari. Kecurigaan pun timbul di pikiran Ega. Baskoro tidak menenangkan apa yang terjadi pada Ega, sebaliknya, dia malah melampiaskan dengan kemarahan yang berujung pada kekerasan fisik.
Hal ini dibuktikan pada kutipan berikut ini.
Kamu bohong, kan? Buktinya kamu nggak mau kasih bukti habis beli buku apa. masa dari jam empat sore sampai malam Cuma ngabisin waktu di Gramedia!” Pak Baskoro berkacak pinggang. “Ayo jujur, kamu habis ngeluyur sama siapa, dan di mana?! sejak Papa pulang dari Semarang, kamu jadi rada aneh gini, pasti ada yang kamu sembunyikan dari Papa!” (Yulia, 2015: 221)
Dilihatnya Pak Baskoro menggenggam kuat lengan kanan Ega, menyeretnya agar duduk di salah satu kursi tamu sambil melepas ranselnya dengan paksa. Semua isi ransel ia keluarkan, termasuk ponsel dan iPad mini yang terasa lembap.
…
Mata Pak Baskoro tampak berkilat ketika menatap putranya. “Ayo, bilang saja!
bilang apa yang sudah sampai di ujung lidah kamu tapi kamu masih menahan diri hingga sekarang. Bilang, Ga!” (Yulia, 2015: 222)
Hanya terdengar telapak tangan menghantam wajah seseorang dengan keras. (Yulia, 2015: 223)
Dari temuan tersebut, dapat dikatakan bahwa shadow pada Ega cenderung keluar karena disebabkan oleh rasa ingin diperhatikan sehingga dia melampiaskannya dengan menyetir mobil secara ugal-ugalan. Selain itu, Ega juga melampiaskan kemarahannya saat mengetahui Papanya mengenakan pakaian wanita.
Sedangkan, shadow pada Baskoro cenderung keluar sebagai bentuk pertahanan diri karena Ega melawannya dengan cara pulang malam dan tanpa kabar. Selain itu, Baskoro mulai curiga bahwa Ega sudah mengetahui apa yang dia lakukan di luar kota. Oleh sebab itu, Baskoro meluapkannya dengan kemarahan pada Ega.
PENUTUP Kesimpulan
Novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia memiliki kesadaran personal berupa ego, dan sikap jiwa (ekstrovert dan introvert) pada tokoh Ega dan Baskoro. Kedua tokoh memiliki kesadaran tersebut dengan porsi berimbang.
Temuan tersebut ditinjau dengan teori psikologi analitis Jung.
Novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia memiliki ketidaksadaran personal pada tokoh Ega dan Baskoro. Ketidaksadaran personal ditandai dengan munculnya ketidaksadaran tanpa disadari, berupa ingatan sekilas dan bayang-bayang pengalaman.
Novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia memiliki ketidaksadaran kolektif berupa persona, anima/animus, dan shadow.
Saran
Penelitian ini mengacu pada kesadaran dan ketidaksadaran tokoh pada sebuah novel.
Diharapkan penelitian ini mampu digunakan sebagai bahan acuan untuk peneliti lain yang ingin membahas terkait kesadaran dan ketidaksadaran tokoh pada sebuah novel dengan teori psikologi analitis Jung. Selain itu, peneliti selanjutnya bisa/dapat menggunakan novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia dengan menggunakan teori yang lain agar ada kekayaan secara analitis pada novel tersebut.
Dengan adanya penelitian, baik yang berhubungan dengan kesadaran dan ketidaksadaran tokoh maupun dengan novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia, bisa memperkaya penelitian sastra pada lingkup akademisi.
DAFTAR RUJUKAN
Ahmad, Riskal. 2020. “Ketidaksadaran Kolektif Tokoh dalam Novel Anak Rantau Karya Ahmad Fuadi: Kajian Psiokologi Analitis Carl Gustav Jung”. Telaga Bahasa, Vol. April No. 1, hal. 191-130.
Ahmadi, Anas. 2016. “Cerita Rakyat Jerman Perspektif Psikologi Jungian”. Jurnal Totobuang, volume 4, Desember nomer 2, hal. 147-159.
Ahmadi, Anas. 2019. Metode Penelitian Sastra:
perspektif monodisipliner dan interdisipliner. Gresik: Graniti.
Ahmadi, Ahmadi. 2015. Psikologi Sastra. Gresik:
Graniti.
Alfat, Alfian Rokhmansyah, Dahri D. 2022.
“Identitas Gender Tokoh Utama dalam
Novel Cermin Tak Pernah Berteriak Karya Ida R. Yulia”. Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya. Januari no. 1, hal.
13-27.
Ismail, Feiby. 2016. “Pemikiran Carl Gustav Jung Tentang Teori Kepribadian (Implikasinya Terhadap Interaksi Sosial)”. Directory of Open Acces Jurnal.
Jung, Carl Gustav. 1987. Menjadi Diri Sendiri.
Gramedia: Jakarta.
Kusuma, Yanny Husain. 2012. “Ketidaksadaran dan Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Ketidaksadaran Tokoh Utama (Aku) Novel Napas Mayat Karya Bagus Dwi Hananto:
Kajian Psikologi Analitis Carl Gustav Jung”. Jurnal. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Lindzey, Gardner dan Hall, Calvin S. 1993.
Teori-Teori Psikodinamik (Klinis).
Kanisius: Yogyakarta.
Matthew, H Olson. 2013. Pengantar Teori-teori Kepribadian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mutmainna. 2019. “Kesadaran dan Ketidaksadaran Tokoh dalam Novel Tarian Dua Wajah Karya S. Prasetyo Utomo Kajian Psikologi Analitis Carl Gustav Jung”. Jurnal Skripsi. Makassar:
Universitas Negeri Jember.
Parmin, Jack. 2016. “Pendekatan dalam Penelitian Sastra”. Prosiding: Seminar Nasional Sastra Indonesia (SENASI) dengan tema “Sastra dan Industri Kreatif”. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metode, dan Teknik
Penelitian Sastra. Cetakan Keenam.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Shiva, Nailis. 2018. “Kesadaran dan Ketidaksadaran Tokoh Ara dalam Cerpen Ingatan Ara Karya Dewi Ria Utari:
Analisis
Psikologi Sastra”. Jurnal. Semarang:
Universitas Diponegoro.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta.
Trisakti & Tim Penyusun. 2019. Pedoman Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa. Surabaya:
Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya.
Yulia, Ida R. 2015. Cermin Tak Berteriak.
Jakarta: Elex Media Komputindo.