PENDAHULUAN
Fokus Penelitian
Apa implikasi dari putusan Pengadilan Agama Jember terhadap permohonan pengangkatan anak tahun 2016 untuk hak asuh anak, nasab dan hak waris.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Sebagai pengalaman awal yang memberikan nuansa tersendiri dan dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta memperluas ilmu yang diperoleh dari hasil penelitian ini, serta dapat memberikan kontribusi dalam bidang karya ilmiah.
Definisi Istilah
Dari segi penegakan hukum, dapat dikatakan tidak ada kedudukan yang tetap dalam menangani pelanggaran. Adopsi” berkembang di Indonesia sebagai terjemahan dari bahasa Inggris “adopsi” yang artinya mengangkat anak. Ketika Islam didakwahkan oleh Nabi Muahammad SAW, adopsi telah menjadi tradisi di kalangan mayoritas masyarakat Arab yang dikenal dengan istilah “tabanni” yang artinya mengambil. seorang anak angkat.
Pengadilan Agama adalah pengadilan bagi orang yang beragama Islam (lihat pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama). Dari pengertian di atas dapat diambil suatu kesimpulan yaitu, yang dimaksud dengan kesadaran hukum masyarakat Islam dalam pengajuan permohonan pengangkatan anak di Pengadilan Agama Jember, adalah sejauh mana kesadaran hukum masyarakat Islam dalam pengajuan permohonan pengangkatan anak di Pengadilan Agama Jember. aplikasi adopsi. di Pengadilan Agama dan bagaimana mekanisme pengangkatan anak di Pengadilan Agama Jember dan bagaimana Implikasi putusan Pengadilan Agama Jember terhadap hak asuh, hak asuh, dan hak waris anak.
Sistematika Pembahasan
Selain itu juga dijelaskan pengertian istilah-istilah untuk lebih memahami setiap kata dalam judul skripsi, dan Bab I diakhiri dengan uraian sistematika pembahasan.
KAJIAN KEPUSTAKAAN
Kajian Teori
- Pengertian Pengangkatan Anak
- Kewenangan Absolut Dan Relatif Pengadilan Agama
- Dasar Hukum Pengangkatan Anak Di Pengadilan
- Mekanisme Pengangkatan Anak Di Pengadilan Agama 41
- Analisis Permohonan Pengangkatan Anak Terhadap
- Akibat Hukum Pengangkatan Anak Yang Tidak
Masih belum ada undang-undang yang mengatur tentang pengangkatan anak di Indonesia yang dibuat secara lengkap dan lengkap. Perbedaan mendasar inilah yang juga menjadi alasan mengapa pengangkatan anak tidak diatur dalam hukum Indonesia. Peraturan pengangkatan anak juga tertuang dalam sejarah proses legislasi (legislative process) dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1997.
Pengangkatan anak tidak mengakibatkan putusnya ikatan darah antara anak angkat dengan orang tua serta keluarga kandung anak tersebut. 28 Pasal 49 Huruf a Undang-Undang Nomor 3 Republik Indonesia Tahun 2006 Membahas kewenangan pengadilan agama dalam perkara pengangkatan anak. Analisis permohonan pengangkatan anak mengenai hak perwalian, nasab dan hak waris anak angkat di pengadilan agama.
Pada dasarnya Kompilasi Hukum Islam (“KHI”) tidak mengatur tentang pengangkatan anak oleh orang tua tunggal.
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Mengingat peneliti ini merupakan studi kasus yang bermula dari kasus lapangan dan peneliti menemukan kasus tersebut di Pengadilan Agama Jember. Peneliti memilih Pengadilan Agama Jember karena, Pertama: perkara yang diterima di Pengadilan Agama Jember tinggi dan menduduki peringkat ke-2 se-Jawa Timur setelah Kabupaten Banyuwangi, sehingga masuk dalam Pengadilan Kelas I-A. Kedua: karena peneliti kenal dengan pihak Pengadilan Agama Jember yang melakukan magang mandiri pada lembaga tersebut, maka paling tidak peneliti bebas melakukan penelitian dan Pengadilan Agama Jember terbuka dalam memberikan informasi atau data serta masukan yang berkaitan dengan perkara tersebut. sedikitnya masyarakat Islam yang mengajukan permohonan pengangkatan anak ke Pengadilan Agama. Dengan sedikitnya permohonan pengangkatan anak yang diajukan ke Pengadilan Agama pada tahun 2016, maka hanya terdapat 2 (dua) permohonan pengangkatan anak yang diajukan ke Pengadilan Agama Jember dengan nomor 0702/Pdt.P/2016/PA.Jr dan nomor 0915/Pdt.P /2016 /PA.Jr, sesuai dengan tema besar peneliti yaitu kesadaran hukum masyarakat muslim untuk.
Subyek Penelitian
- Sumber Data Manusia
- Sumber Data Non Manusia
Untuk memperoleh keterangan dan data latar belakang dalam mengajukan permohonan anak angkat ke Pengadilan Agama. Dalam konteks ini peneliti ingin mengetahui dan mendeskripsikan kesadaran hukum masyarakat muslim ketika mengajukan permohonan pengangkatan anak di Pengadilan Agama Jember. Metode analisis data deskriptif digunakan untuk menganalisis data yang berkaitan dengan gambaran objek penelitian yaitu kesadaran hukum masyarakat muslim mengenai pengajuan permohonan pengangkatan anak ke Pengadilan Agama Jember.
Keputusan pengangkatan anak oleh pengadilan agama tidak mempunyai akibat hukum sehingga tidak mengubah hubungan hukum nasab dan mahram antara anak angkat dengan orang tua kandungnya. Implikasi Putusan Pengadilan Agama Jember Terhadap Permohonan Pengangkatan Anak Tahun 2016 Tentang Hak Asuh Anak, Nasab Dan Hukum Waris. Persyaratan yang harus dipenuhi dalam mengajukan permohonan pengangkatan anak ke Pengadilan Agama harus sesuai dengan peraturan yang ada di Pengadilan Agama.
Dan Mekanisme Pengangkatan Anak yang dilaksanakan di Pengadilan Agama Jember telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan tidak bertentangan atau bertentangan dengan hukum Islam. Implikasi Putusan Pengadilan Agama Jember Terhadap Permohonan Pengangkatan Anak Tahun 2016 Tentang Hak Asuh Anak, Nasab Dan Hak Waris. Mekanisme Pengangkatan Anak yang dilakukan di Pengadilan Agama Jember telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan tidak bertentangan atau bertentangan dengan hukum Islam.
Putusan Pengadilan Agama Jember tentang permohonan pengangkatan anak tahun 2016 tentang hak asuh anak, nasab dan hak waris. Kesadaran hukum masyarakat Islam untuk mengajukan permohonan pengangkatan anak di Pengadilan Agama Jember (adopsi tahun 2016).
Tekhnik Pengumpulan Data
- Observasi
- Wawancara
- Dokumentas
Gambaran Obyek Penelitian
- Sejarah Pendirian Pengaddilan Agama Jember
- Visi Dan Misi Pengadilan Agama Jember
- Fungsi Dan Tujuan Pengadilan Agama Jember
- Legalitas Dan Struktur Organisasi
- Wilayah Kewenangan Lembaga
- Tupoksi Pengadilan Agama
- Kewenangan Peradilan Agama Menyelesaikan
- Kewenangan Peradilan Agama Menyelesaikan
- Tugas Dan Wewenang Lain Yang Diberikan Undang-
- Prosedur Berperkara Di Pengadilan Agama Jember
Sejarah Pengadilan Agama Jember Ketentuan pasal 24 ayat 2 (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menyatakan: “Kekuasaan Mahkamah adalah kekuasaan mandiri untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan”. Sementara itu, hal tersebut tertuang pada subbab Pengadilan Agama Jember merupakan salah satu penyelenggara peradilan yang tugas dan fungsinya telah diatur dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 dan terakhir mengalami perubahan lagi. berdasarkan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009. Pengadilan Agama Jember didirikan sekitar tahun 1950, berlokasi di kota koordinasi bekas kediaman Besuki dengan kantor pertama di Masjid Jamek (lama) BAITUL AMIN Jember.
Kantor Pengadilan Agama Ersyad pindah ke Lingkungan Tegal Boto, Desa Sumbersari, Kecamatan Sumbersari, Kota Jember untuk menempati gedung sendiri dengan tanah sendiri. Sejak tahun 2015, Pengadilan Agama Jember pindah ke gedung baru di Jalan Cendrawasih No. Pengadilan Agama Jember termasuk dalam wilayah hukum Pengadilan Tinggi Agama Surabaya dengan jumlah perkara yang diterima. Pada tahun 2009, terdapat 6.045 kasus, kedua setelah Pengadilan Agama Banyuwangi yang berjumlah 6.786 kasus.
Meski dengan sumber daya yang minim, pimpinan Pengadilan Agama Jember bertekad memperbarui dan meningkatkan citra Pengadilan Agama Jember dengan meningkatkan transparansi peradilan, sebagaimana diatur dalam Keputusan Ketua Mahkamah Agung nomor 144 Tahun 2007. mengenai keterbukaan informasi. di pengadilan sebagai tindak lanjut diundangkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Pemanfaatan Sistem Administrasi Peradilan Agama (SIADPA) dan pengelolaan data kepegawaian melalui aplikasi Sistem Informasi Kepegawaian (SIMPEG), serta dibukanya website Pengadilan Agama Jember merupakan upaya untuk segera mewujudkan visi dan misi Pengadilan Agama Jember. Pengadilan Agama. Pengadilan Agama merupakan pengadilan tingkat pertama yang mempunyai tugas dan wewenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dalam perkara perkawinan, warisan, wasiat, dan hibah, yang dilakukan atas dasar syariat Islam. hukum. serta wakaf, zakat, infaq dan shadaqah serta ekonomi syariah sebagaimana diatur dalam Pasal 49 Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009.
Pengadilan Agama Jember menyatakan dalam Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945: “Peradilan adalah kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan dan menegakkan hukum serta keadilan”. Sementara itu, ayat (2) menyatakan: “Kekuasaan kehakiman dilaksanakan oleh Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya pada peraturan perundang-undangan umum, peradilan agama, peradilan militer, peradilan tata usaha negara, dan oleh Mahkamah Konstitusi.” Pengadilan Agama Jember merupakan salah satu penyelenggara peradilan yang tugas dan fungsinya diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Pengadilan Agama merupakan pengadilan tingkat pertama yang mempunyai tugas dan wewenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dalam perkara perkawinan, warisan, wasiat, dan hibah, yang dilakukan atas dasar syariat Islam. hukum. serta wakaf, zakat, infaq dan shadaqah serta ekonomi syariah sebagaimana diatur dalam Pasal 49 Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009.
Penyajian Data Dan Analisis
- Latar Belakang Masyarakat Muslim Dalam
- Mekanisme Pengangkatan Anak Di Pengadilan Agama
Dengan membenarkan permohonan pihak-pihak, calon anak angkat adalah sah daripada pemohon, tanpa kehilangan ibu bapa ibu bapa kandung atau akibat pengambilan anak angkat itu. Berbeza dengan nasab anak angkat, nasab tetap pada ibu bapa kandung, walaupun telah diambil oleh orang lain, kerana ini tidak mempunyai akibat hukum dalam Penetapan Anak Angkat oleh Pengadilan Agama dan oleh itu tidak mengubah nasab dan keturunan yang sah.hubungan mahram antara anak angkat dengan ibu bapa kandungnya. Masyarakat Islam dimaklumkan bahawa permohonan pengangkatan anak Islam telah dikemukakan ke mahkamah agama.
Sedangkan nasab anak angkat tetap nasabnya kepada orang tua kandungnya, meskipun ia telah menjadi anak angkat orang lain, karena putusan pengadilan agama mengenai pengangkatan anak tidak mempunyai akibat hukum, oleh karena itu tidak mengubah hubungan hukum nasab dan mahram antara anak angkat dan orang tua kandungnya. Peradilan Agama Menindaklanjuti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006, Peradilan Agama, salah satu lembaga yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi pencari keadilan yang beragama Islam, selama ini menerima perkara permohonan pengangkatan anak yang diajukan oleh umat Islam berdasarkan hukum Islam. Tahun 1989 tentang peradilan agama mengenai keputusan pengangkatan anak berdasarkan hukum Islam telah “resmi” dikukuhkan. menjadi kewenangan mutlak pengadilan agama.
Alasan masyarakat Islam mengajukan permohonan pengangkatan anak ke pengadilan agama adalah karena mereka meyakini bahwa pengadilan agama adalah pengadilan yang dikhususkan bagi orang-orang yang beragama Islam dengan memutus perkara tidak hanya berdasarkan hukum, tetapi juga berdasarkan syariat Islam. . Sebagaimana telah dijelaskan di atas, mekanisme pengangkatan anak merupakan suatu tata cara yang dilakukan oleh pemohon atau warga negara yang hendak mengangkat anak dengan mengajukan permohonan pengangkatan anak ke Pengadilan Agama. Dalam mengajukan permohonan pengangkatan anak ke Pengadilan Agama, masyarakat harus lebih mengetahui tata cara pendaftaran permohonan pengangkatan anak di Pengadilan Agama, dan masyarakat harus mengikuti aturan hukum.
Putusan Pengadilan Agama tentang pengangkatan anak tentunya menjadi dasar bagi pemohon dan anak angkat untuk melaksanakan hubungan keluarga yang baru, walaupun sudah menjadi hak asuh orang tua angkatnya, namun tidak melupakan keluarga atau anak angkatnya. garis keturunan. dari orang tua biologis.