• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesulitan Bernapas dan Sesak

N/A
N/A
yan

Academic year: 2024

Membagikan " Kesulitan Bernapas dan Sesak"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS INDIVIDU

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Farmakoterapi 2 Dosen Pengampu : Apt. Teodhora, S.Farm., M.Farm.

Disusun Oleh :

Lidiana Sulfi 21334006

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS FARMASI

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

2024

(2)

TUGAS STUDI KASUS I

Ny. F 53 thn seorang guru dtg ke RS YYY dgn keluhan nafasnya susah trasa di leher, sesak seperti tercekik pd pagi hr sblm msuk RS, pasien dtg sebelumnya rujukan dari RS XXX, &

mengeluh sperti serangan jantung trasa keringat dingin&berdebar-debar namun skrg sudah menghilang. Keluhan sebelumnya dimulai sejak pukul 10:00 WIB. Pasien mngatakan sblmnya mmiliki riwayat pnyakit jantung&pernah dirawat di RS YYY.g

Pasien mngatakan sdh dilakukan pemasangan Ring, Hipertensi, DM. Diagonis utama UAP Pertanyaan :: Identifikasi tujuan pengobatan pasien ?? Apakah sdh tepat berdasarkan diagnosis.

Jawab :

Obat sudah sesuai, perlu pengawasan CPG dan Aspilet, karena Aspilet bisa membuat penurunan HB, selesai dirawat bisa di pilih salah satu saja, kemudian valsartan untuk tensi sudah cukup, untuk interaksi obat = 1. Alprozolam dengan ISDN, menurunkan tekanan darah, mengubah denyut nadi. Untuk 2. Alprozolam dengan Bisoprolol, menyebabkan pusing, pingsan dan mengubah denyut nadi, pemberian alprozolam hati - hati bila perlu saja. 3. Aspirin dan Valsartan tidak diberikan bersamaan dapat menurunkan efektifitas valsartan di beri jarak. 4. Bisoprolol dg Valsartan meningkatkan efek samping sehingga di beri jarak meminumnya, bila sudah selesai rawat bisa dipilih salah satu saja, untuk simvastatin tidak terlalu perlu karena enzim jantung masih bagus,

TUGAS STUDI KASUS II

Nama Pasien Tn. S, usia 64 thn masuk ke RS 3 september 2019, riwayat hipertensi dgn keluhan sesak nafas, nyeri dada, & perut kembung, kaki bengkak ± 1 hari sblm masuk RS.

Diagnosa utama : Hipertensi Stage II & komplikasi Angina pektoris (yg dilihat dr hasil EKG) Pertanyaan :: Identifikasi tujuan pengobatan pasien ?? Apakah sdh tepat berdasarkan diagnosis.

Jawab :

Pemberian obat sudah sesuai, terapi menghilangkan bengkak, mengendalikan tekanan darah, dari perkembangan vital sudah sesuai dan penanganan keluhan sudah sesuai. Karena masih ada sesak

(3)

bisa dilihat dari HB yang rendah perlunya penambah darah, karena bila HB rendah maka sel2 darah susah untuk menghantarkan oksigen sehingga masih adanya keluhan sesak. Serta mengendalikan berat badan

TUGAS STUDI KASUS III

Tn. SD 55 thn, BB 85 kg. Mengalami sesak di dada saat bekerja. SD mengalami sesak pd bgian tulang dada pd jam 20.30 yg kmudian menjalar ke bag lengan kiri, keadaan itu trjadi di dim toilet stelah adu argumen dgn seseorang.

SD bernafas terengah-tengah&keringat brlebihan, oleh Pusat Layanan Kesehatan SD diberi terapi 0,4 mg mikrogliseril sublingual, aspirin 325 mg dan metoprolol 5 mg merasa sakit pd dada. SD diantar ke RS pd jam 21.15. RS tsb tdk memiliki lab. Cardiac catheter&waktu u/

trasportasi 1,5 jam melalui trasportasi udara.

Pertanyaan :: Identifikasi tujuan pengobatan dan apa tambahan farmakoterapi yang harus dimasukkan ?

Jawab :

TUGAS STUDI KASUS HIPERTENSI

Tn. B usia 59 thn telah dirawat 2 hari yg lalu di RS setelah nonton pertandingan sepak bola bersama putranya. Pd hasil pemeriksaan awal mnunjukkan memar pd lengan kiri dan paha atas.

Pasien telah diresepkan parasetamol 4 x sehari&sesuai kebutuhan serta ibuprofen 400 mg 3xsehari.

Dilihat dari riwayat medis pasien kelihatannya sehat-sehat saja. Pd waktu pemeriksaan terlihat kelebihan BB yaitu 81 kg, perokok aktif yaitu 20 batang/hari&minum sekitar 30 unit alkohol/minggu. TD saat masuk a/ 165/80 mmHg dgn denyut jantung 90 detik/menit. TD dan

(4)

detak jantung yang meningkat telah terjadi selama 48 jam terakhir. Dokter kemudian mendiagnosis pasien mengalami hipertensi.

1. Apa itu hipertensi?

Jawab :

Hipertensi adalah kondisi di mana tekanan darah dalam arteri meningkat secara persisten.

Diagnosis hipertensi biasanya didasarkan pada pengukuran tekanan darah yang tinggi dalam dua atau lebih kunjungan medis.

Referensi:

- Williams, B., et al. (2018). *2018 ESC/ESH Guidelines for the management of arterial hypertension: The Task Force for the management of arterial hypertension of the European Society of Cardiology (ESC) and the European Society of Hypertension (ESH).* European Heart Journal, 39(33), 3021-3104.

2. Apa target terapi yg tepat u/ TD pasien?

Jawab :

Untuk pasien tersebut, target terapi yang tepat adalah mengontrol tekanan darahnya agar tetap dalam rentang normal. Rekomendasi terapi yang sesuai adalah dengan memulai penggunaan obat antihipertensi. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, kombinasi parasetamol dan ibuprofen cukup, namun perlu ditambahkan obat antihipertensi yang sesuai dengan kondisi pasien.

Pilihan terapi antihipertensi yang bisa dipertimbangkan adalah ACE inhibitor, ARB, atau diuretik. Namun, pemilihan terapi harus disesuaikan dengan kondisi spesifik pasien dan faktor risiko lainnya. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk memilih obat antihipertensi yang paling sesuai dengan keadaan pasien.

Referensi:

(5)

- Whelton PK, Carey RM, Aronow WS, et al. 2017 ACC/AHA/AAPA/ABC/ACPM/AGS/APhA/ASH/ASPC/NMA/PCNA Guideline for the Prevention, Detection, Evaluation, and Management of High Blood Pressure in Adults: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Clinical Practice Guidelines. Hypertension. 2018;71(6):e13-e115.

Doi:10.1161/HYP.0000000000000065

3. Selain TD, saran&terapi apa lagi yg dibutuhkan pasien u/ memastikan pencegahan resiko penyakit kardiovaskular? Berikan alasan yg jelas u/ saran yg diberikan kemudian jelaskan apa resiko yg dpt trjdi apabila saran anda tdk diikuti?

Jawab :

Selain memantau tekanan darah, penting bagi pasien untuk menjalani gaya hidup sehat dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala sebagai upaya pencegahan resiko penyakit kardiovaskular. Saran dan terapi yang dapat diberikan meliputi:

a. Diet Sehat : Menganjurkan diet rendah lemak jenuh, rendah garam, dan tinggi serat.

Konsumsi makanan yang kaya akan buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, ikan berlemak, dan kacang-kacangan telah terbukti mengurangi resiko penyakit kardiovaskular. Diet sehat membantu menurunkan kadar kolesterol dan mengontrol tekanan darah.

b. Aktivitas Fisik Teratur : Mendorong pasien untuk melakukan aktivitas fisik secara teratur, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang. Aktivitas fisik membantu menjaga berat badan ideal, memperkuat jantung, meningkatkan sirkulasi darah, dan mengurangi resiko penyakit jantung.

c. Berhenti Merokok : Memberikan dukungan dan bantuan kepada pasien untuk berhenti merokok. Merokok merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular karena dapat merusak pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah, dan meningkatkan kadar kolesterol.

(6)

d. Pengelolaan Stres : Mengajarkan teknik-teknik relaksasi, meditasi, atau yoga untuk mengelola stres. Stres yang tidak terkendali dapat meningkatkan tekanan darah dan meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular.

e. Pemantauan Kesehatan Berkala : Menyarankan pasien untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, termasuk pemeriksaan tekanan darah, kadar kolesterol, dan gula darah.

Pemeriksaan rutin dapat membantu mendeteksi faktor risiko penyakit kardiovaskular secara dini dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang sesuai.

Apabila saran-saran tersebut tidak diikuti, pasien berisiko mengalami komplikasi serius seperti serangan jantung, stroke, atau gagal jantung. Penelitian menunjukkan bahwa mengabaikan gaya hidup sehat dan pengelolaan faktor risiko dapat meningkatkan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular. Sebagai contoh, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal *Circulation* pada tahun 2017 menemukan bahwa penerapan lima gaya hidup sehat (tidak merokok, berolahraga teratur, menjaga berat badan sehat, diet sehat, dan mengonsumsi alkohol secara moderat) dapat mengurangi resiko kematian akibat penyakit jantung koroner hingga 82% pada wanita dan 79%

pada pria.

Referensi:

- Benjamin, E. J., et al. (2017). *Heart Disease and Stroke Statistics—2017 Update: A Report From the American Heart Association.* Circulation, 135(10), e146-e603. doi:

10.1161/CIR.0000000000000485

4. Apa golongan utama obat yg digunakan u/ mengobati hipertensi?

Jawab :

Golongan utama obat yang digunakan untuk mengobati hipertensi meliputi:

a. ACE Inhibitor (Inhibitor Enzim Konversi Angiotensin) : Contohnya enalapril, lisinopril.

Obat ini bekerja dengan menghambat enzim yang merangsang penyempitan pembuluh darah, sehingga mengurangi tekanan darah.

(7)

b. ARB (Angiotensin II Receptor Blocker) : Contohnya losartan, valsartan. Obat ini bekerja dengan menghalangi efek angiotensin II, yang menyebabkan pembuluh darah menyempit.

c. Diuretik : Contohnya hidroklorotiazid, furosemid. Diuretik bekerja dengan mengurangi jumlah air dan natrium dalam tubuh, sehingga menurunkan volume darah dan tekanan darah.

d. Beta Blocker : Contohnya metoprolol, atenolol. Obat ini bekerja dengan mengurangi denyut jantung dan memperlambat kerja jantung, sehingga menurunkan tekanan darah.

e. Calcium Channel Blocker : Contohnya amlodipin, nifedipin. Obat ini menghambat aliran kalsium ke dalam sel-sel otot jantung dan pembuluh darah, sehingga merelaksasi pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah.

Referensi:

- Whelton PK, Carey RM, Aronow WS, et al. 2017

5. Golongan obat mana yg sesuai u/ pengobatan lini pertama u/ pasien?

Jawab :

Dari obat lini pertama, yaitu ACEi/ARB-CCB dan ACEi/ARB-Diuretik, ACEi/ARB-CCB lebih dipilih karena lebih dapat ditoleransi dan luaran kardiovaskular yang sudah terbukti secara ilmiah.Di Indonesia terdapat panduan antihipertensi yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) tahun 2015, serta Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (Indonesin Society of Hypertension / INASH) tahun 2019. Dari berbagai panduan tersebut, ada 5 golongan obat yang direkomendasikan, yaitu:

ď‚· Angiotensin converting enzyme inhibitors (ACEI): captopril, lisinopril

ď‚· Angiotensin receptor blockers (ARB): candesartan, valsartan

ď‚· Beta-blockers: bisoprolol, atenolol, propranolol

ď‚· Calcium channel blockers (CCB)-dihidropiridin: amlodipine, nifedipine

ď‚· Calcium channel blockers (CCB)-nondihidropiridin: diltiazem, verapamil

ď‚· Diuretik (thiazide / thiazide-like diuretic): hydrochlorothiazide, indapamide Referensi:

(8)

- Paul A.J., et al., 2014. 2014 Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure in Adults Report From the Panel Members Appointed to the Eighth Joint National Committee (JNC 8). In : The Journal of the American Medical Association (2014) 311 (5), pp 507–520.

- Alomedika.com. dr.Farhanah Meutia,SpJP(K),FIHA

6. Sebutkan salah satu golongan obat yang anda sebutkan pada pertanyaan 4 dan jelaskan:

a. macam-macam obat dari golongan tersebut.

Jawab :

Berikut adalah beberapa contoh dan penjelasan tentang obat-obat dari golongan ACE Inhibitor:

1. Enalapril (Enalaprilat) : Enalapril adalah ACE inhibitor yang sering digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi dan gagal jantung. Ini bekerja dengan menghambat enzim ACE, yang bertanggung jawab untuk mengonversi angiotensin I menjadi angiotensin II, yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Dengan menghambat enzim ini, enalapril membantu melebarkan pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah.

2. Lisinopril : Lisinopril adalah ACE inhibitor yang umum digunakan untuk mengobati hipertensi dan gagal jantung. Cara kerjanya mirip dengan enalapril, dengan menghambat enzim ACE dan menghasilkan efek vasodilatasi untuk menurunkan tekanan darah.

3. Captopril : Captopril adalah ACE inhibitor yang digunakan untuk mengobati hipertensi dan gagal jantung. Ini bekerja dengan menghambat enzim ACE, mengurangi produksi angiotensin II, dan menyebabkan pelebaran pembuluh darah.

4. Ramipril : Ramipril adalah ACE inhibitor yang sering diresepkan untuk pengobatan hipertensi, gagal jantung, dan untuk melindungi fungsi ginjal pada pasien dengan diabetes. Ramipril bekerja dengan menghambat enzim ACE, yang pada gilirannya mengurangi produksi angiotensin II dan pelebaran pembuluh darah.

Referensi:

(9)

- Mahmood SS, Levy D, Vasan RS, Wang TJ. The Framingham Heart Study and the epidemiology of cardiovascular disease: a historical perspective. Lancet. 2014;383(9921):999- 1008. doi:10.1016/S0140-6736(13)61752-3.

b. Dosis dan frekuensi awal yang tepat Jawab :

Dosis dan frekuensi awal untuk obat golongan ACE inhibitor dapat bervariasi tergantung pada kondisi klinis pasien serta respons individu terhadap obat tersebut. Namun, umumnya, berikut adalah dosis dan frekuensi awal yang sering direkomendasikan untuk beberapa ACE inhibitor yang umum digunakan:

1. Enalapril : Dosis awal untuk enalapril biasanya adalah 2,5 mg hingga 5 mg sekali sehari.

Dosis ini dapat ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan respons pasien, dengan dosis maksimum biasanya tidak melebihi 40 mg per hari.

2. Lisinopril : Dosis awal untuk lisinopril biasanya adalah 5 mg hingga 10 mg sekali sehari.

Dosis ini juga dapat ditingkatkan sesuai dengan respons pasien, dengan dosis maksimum biasanya tidak melebihi 40 mg per hari.

3. Captopril : Dosis awal untuk captopril biasanya adalah 12,5 mg hingga 25 mg dua atau tiga kali sehari. Dosis ini juga dapat disesuaikan dengan respons pasien, dengan dosis maksimum biasanya tidak melebihi 450 mg per hari.

4. Ramipril : Dosis awal untuk ramipril biasanya adalah 2,5 mg hingga 5 mg sekali sehari.

Dosis ini dapat ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan respons pasien, dengan dosis maksimum biasanya tidak melebihi 10 mg per hari.

Referensi:

- Drug Information." Lexicomp Online, Wolters Kluwer Clinical Drug Information, Inc., 2023.

c. Dosis maksimum u/ hipertensi Jawab :

Dosis maksimum untuk ACE inhibitor dapat bervariasi tergantung pada jenis obat, kebutuhan pasien, serta respons individu terhadap pengobatan. Berikut adalah dosis maksimum umum untuk beberapa ACE inhibitor yang umum digunakan:

(10)

1. Enalapril : Dosis maksimum enalapril biasanya adalah sekitar 40 mg per hari.

2. Lisinopril : Dosis maksimum lisinopril biasanya adalah sekitar 40 mg per hari.

3. Captopril : Dosis maksimum captopril biasanya adalah sekitar 450 mg per hari.

4. Ramipril : Dosis maksimum ramipril biasanya adalah sekitar 10 mg per hari.

Referensi:

- Drug Information." Lexicomp Online, Wolters Kluwer Clinical Drug Information, Inc., 2023.

d. Kontraindikasi Jawab :

Berikut adalah beberapa kontraindikasi umum untuk penggunaan ACE inhibitor:

1. Hipersensitivitas : Pasien yang memiliki riwayat reaksi alergi atau hipersensitivitas terhadap ACE inhibitor tertentu tidak boleh menggunakan obat tersebut.

2. Riwayat Angioedema : Pasien yang pernah mengalami angioedema (pembengkakan serius di kulit, jaringan bawah kulit, dan selaput lendir) karena penggunaan ACE inhibitor sebelumnya tidak boleh menggunakan obat ini lagi.

3. Stenosis Bilateral Arteri Renal : ACE inhibitor dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal pada pasien dengan stenosis bilateral arteri renal (penyempitan pada arteri ginjal kedua).

4. Gagal Ginjal Berat : Pasien dengan gagal ginjal berat yang membutuhkan dialisis mungkin tidak cocok untuk menggunakan ACE inhibitor.

5. Kehamilan : Penggunaan ACE inhibitor selama kehamilan dapat berisiko terhadap janin dan menyebabkan cacat lahir, serta meningkatkan risiko komplikasi pada ibu dan janin.

Oleh karena itu, ACE inhibitor biasanya tidak direkomendasikan untuk wanita hamil.

Referensi:

- Neutel JM. ACE Inhibitors: An Overview. The Journal of Clinical Hypertension.

2002;4(5):381-388. doi:10.1111/j.1524-6175.2002.01402.x.

- Lexicomp Online, Wolters Kluwer Clinical Drug Information, Inc., 2023.

e. Efek samping

(11)

Jawab :

Berikut adalah beberapa efek samping umum yang dapat terjadi pada penggunaan ACE inhibitor:

1. Batuk Kering : Batuk kering adalah efek samping yang umum terjadi pada penggunaan ACE inhibitor. Batuk ini biasanya bersifat nonproduktif dan tidak produktif, dan dapat mengganggu kualitas hidup pasien.

2. Hipotensi : ACE inhibitor dapat menyebabkan penurunan tekanan darah, terutama pada awal penggunaan atau saat dosis ditingkatkan. Ini dapat menyebabkan gejala seperti pusing, pingsan, atau lemah.

3. Gagal Ginjal : Pada beberapa kasus, penggunaan ACE inhibitor dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal atau gagal ginjal, terutama pada pasien dengan penyakit ginjal prerenal atau stenosis arteri ginjal.

4. Hiperkalemia : ACE inhibitor dapat menyebabkan peningkatan kadar kalium dalam darah, yang dapat menyebabkan hiperkalemia. Gejala hiperkalemia termasuk lemah, kelelahan, dan aritmia jantung.

5. Angioedema: Meskipun jarang terjadi, ACE inhibitor dapat menyebabkan angioedema, yang merupakan pembengkakan serius di kulit, jaringan bawah kulit, dan selaput lendir.

Ini adalah efek samping yang serius dan memerlukan perhatian medis segera.

6. Penurunan Jumlah Hemoglobin : Beberapa pasien yang menggunakan ACE inhibitor dapat mengalami penurunan jumlah hemoglobin dalam darah, yang dapat menyebabkan anemia.

Referensi:

- Drug Information." Lexicomp Online, Wolters Kluwer Clinical Drug Information, Inc., 2023.`

Referensi

Dokumen terkait

mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru. Berkaitan dengan masalah diatas, pada kegiatan

; (2) usaha yang dilakukan guru dalam mengatasi kesulitan belajar yaitu mengenali peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, memahami sifat dan jenis kesulitan

Profil kesulitan belajar yang ditunjukkan hasil observasi guru mayoritas mengalami kesulitan belajar tingkat sedang sehingga guru memerlukan kerjasama dengan ahli

Berdasarkan tabel 1 dapat terlihat bahwa kesulitan guru pada evaluasi praktikum adalah guru tidak mengalami kesulitan dalam persiapan praktikum presentase terendah

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru wali kelas III, beliau mengatakan bahwa terdapat tiga peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Dalam hal kesulitan membaca,

Penyebab pendukung sebagian besar guru ekonomi yang menjadi informan dalam penelitian ini belum melakukan PTK adalah: (a) mengalami kesulitan- kesulitan teknis dalam

Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan diatas, peneliti tertarik untuk membahas mengenai kesulitan belajar siswa dan strategi guru dalam mengatasi kesulitan belajar matematika

Penelitian ini membahas kesulitan yang dihadapi guru dalam mengajarkan numerasi di kelas V Sekolah