• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterampilan Menulis Teks Eksposisi

N/A
N/A
Winni Wulandari

Academic year: 2024

Membagikan " Keterampilan Menulis Teks Eksposisi"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PAPER

Keterampilan Menulis Teks Eksposisi

Dosen :

Dr. Kundharu Saddhono, M.Hum.

Disusun Oleh : Dwi Hastuti (K1217020)

Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sebelas Maret Surakarta

2019

(2)

KETERAMPILAN MENULIS TEKS EKSPOSISI Oleh

DWI HASTUTI [email protected] 1. Keterampilan Berbahasa

Bahasa merupakan alat untuk berkomuniasi, digunakan untuk menyampaikan gagasan, pesan, dan informasi. Manusia bisa berpikir karena memiliki bahasa, tanpa bahasa manusia tidak bisa memiirkan berbagai hal. Tanpa bahasa juga akan membuat manusia tidak bisa berkomunikasi. Seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan apabila sudah melalui dan menyelesaikan sebuah proses, proses yang dilalui dalam bahasa dan berbahasa ada empat aspek. Keempat aspek berbahasa bukan hanya mendukung dalam ruang lingkup berbahasa saja, tetapi dalam ruang lingkup kehidupan pun saling berkaitan erat.

Kemampuan berbahasa (language art, languageskill) mencakup empat segi, yaitu kemampuan menyimak (listening skill), kemampuan berbicara (speaking skill), kemampuan membaca (reading skill), dan kemampuan menulis (writing skill).

Keempat aspek berbahasa tersebut sangat berperan penting dalam pengajaran suatu bahasa di Sekolah ( Darmuki dkk, 2018) . Keterampilan berbahasa berhubungan erat dengan proses-proses yang mendasari pikiran, semakin terampil seseorang berbahasa semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya (Siti, 2013). Semuanya saling berkaitan, atau tiap satu keterampilan akan berhubungan dengan keterampilan lainnya (Istova dan Hartati, 2016).

2. Pengertian Menulis

Pada hakikatnya menulis adalah kegiatan untuk menuangkan pikiran, gagasan, ide, keininan, perasaan maupun informasi ke dalam tulisan. Menulis dan berpikir adalah dua aktifitas yang saling berkaitan erat. Tulisan tidak dapat terlahir tanpa adanya pemikiran penulis. Untuk menghasilkan tulisan yang baik seorang penulis dituntut untuk memiliki tiga keterampilan dasar dalam menulis, yaitu kterampilan berbahasa, keterampilan berbahasa, keterampilan penyajian, dan keterampilan perwajahan. Menulis merupakan suatu kegiatan menuangkan pikiran, gagasan, dan perasaan seseorang yang diungkapkan dalam bahasa tulis (Rosidi, 2009:2). Menulis adalah kegiatan menggali pikiran dan perasaan mengenai suatu subjek, memilih hal- hal yang akan ditulis, menentukan cara menuliskanya, sehingga pembaca dapat

(3)

memahaminya dengan mudah dan jelas (McCrimmon dalam Saddhono dan Slamet, 2014:150).

Menulis bukan hanya sekadar menuliskan apa yang difikarkan tetapi merupakan kegiatan tang terorganisasi sedemikian rupa, sehingga mampu menjadi kegiatan komunikasi tidak langung antara penulis dan pembaca. Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh setiap orang. Terutama bagi sivitas akademik. Para sivitas akademik merupakan kaum intelektual yang seharusnya mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS) demi kemajuan peradaban. Segala bentuk pengetahuan yang ada apabila tidak didokumentasikan ke dalam tulisan akan sia-sia, karena hanya akan menjadi cerita lisan sesaat yang akan segera dilupakan pada masa-masa berikutnya. Menulis merupakan keterampilan yang sukar dan kompleks, oleh karena itu diperlukan suatu latihan yang berulang-ulang (Heaton dalam Saddhono dan Slamet, 2014:141)

3. Keterampilan Menulis

Keterampilan menulis merupakan satu dari empat keterampilan berbahasa.

Keterampilan menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang produktif dan ekspresif yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung dan tidak secara tatap muka dengan pihak lain (Tarigan, 2008:3). Selain itu keterampilan menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak lain dengan melalui bahasa tulis. Ketepatan pengungkapan gagasan harus didukung dengan ketepatan bahasa yang digunakan, kosakata dan gramatikal dan penggunaan ejaan (Abbas 2006:125). Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang sukar dan kompleks. Hal ini dikarenakan keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang dikuasai seseorang sesudah menguasai keterampilan berbaha lainya seperti menyimak, berbicara, dan membaca. Kegiatan menulis merupkan kegiatan yang sangat komplekskarena melibatkan cara berpikir yang teratur dan berbagai persyaratan yang berkaitan dengan teknik penulisan, antara lain (1) adanya kesatuan gagasan, (2) penggunaan kalimat yang jelas dan efektif, (3) paragraf disusun dengan baik, (4) penerapan kaidah ejaan yang benar, dan (5) penguasaan kosa kata yang memadai. Keterampilan menulis dapat dikuasai dan diperoleh dengan jalan praktek dan latihan yang tersistematis (Tarigan 2008:22).

Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang dianggap paling tinggi tingkatannya jika dibandingkan dengan ketiga keterampilan lainnya. Sehubungan

(4)

dengan hal tersebut, aktivitas menulis dipandang sebagai bentuk manifestasi kemampuan dan keterampilan berbahasa yang paling akhir dikuasai oleh pembelajar bahasa setelah kemampuan menyimak, berbicara, dan membaca ( Nur'aini dkk, 2015)

4. Pengertian Teks Eksposisi

Teks dalam bahasa Indonesia terbagi kedalam beberapa jenis dan setiap teks memiliki ciri-ciri yang berbeda. Untuk membedakan jenis-jenis teks dapat dilihat dari struktur teksnya. Karangan dapat disajikan dalam lima bentuk atau ragam wacana, antara lain; karangan narasi, karangan deskripsi, karangan eksposisi, karangan argumentatif, karangan persuasif (Saddhono dan Slamet, 2014:159).

Teks sendiri adalah sebuah tulisan yang isinya menceritakan atau memaparkan kejadian berdasarkan konteks dan tujuan dari teks itu sendiri. Karangan eksposisi adalah karangan yang hanya bertujuan menjelaskan suatu persoalan dan pembacalah yang memberikan penilaian terhadap karangan tersebut. Eksposisi (paparan) adalah ragam wacana yang dimaksudkan untuk menerangkan, menyampaikan, atau menguraikan sesuatu hal yang dapat memperluas atau menambah pegetahuan dan pandangan pembacanya (Keraf 1982:3). Karangan eksposisi adalah wacana yang berupa penjelasan-penjelasan sehingga dapat membuka cakrawala berpikir pembacanya. Karangan eksposisi ini murni memaparkan, menjelaskan dan menguraikan informasi tentang sesuatu hal dan dapat menambah wawasan lebih mendalam bagi pembaca (Gani 1999:151). Dari penjelasan diatas maka teks eksposisi merupakan tulisan yang menjelaskan suatu prosedur atau proses, memberikan definisi, menerangkan, menjelaskan sesuatu.

5. Menulis Teks Eksposisi merupakan Keterampilan Berbahasa

Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa penting dan harus dikuasai oleh setiap orang. Sebuah tulisan dapat menggambarkan jalan pikiran dan ide seseorang. Dengan demikian menulis dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam menilai keterampilan seseorang. Selain itu, menulis juga dapat menunjukkan tingkat intelektual (Satini:2016). Keterampilan menulis mampu mengarahkan siswa untuk terampil berkomunikasi secara tertulis. Menulis teks eksposisi merupakan keterampilan yang memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia untuk menyampaikan informasi sejelas-jelasnya, menambah wawasan, dan pengetahuan.

Menulis teks eksposisi dapat dikatakan sebagai salah satu aspek keterampilan

(5)

berbahasa hal ini dikarenakan menulis teks eksposisi merupakan keterampilan proses yang menuangkan ide, gagasan, dan pikiran seseorang ke dalam bentuk tulisan. Hasil belajar berupa tulisan yang memiliki kekhususan dalam hal penilaian kegiatan menulis harus mengarah pada aspek-aspek antara lain; isi, gagasan yang disampaikan, organisasi, isi, tata kalimat, pilhan kata dan ejaan (Saddhono dan Slamet, 2014:212).

6. Tujuan Teks Eksposisi

Karangan eksposisi termasuk dalam jenis karangan bahasan. Karangan bahasan merupakan karangan yang menjelaskan sesuatu, misalnya mengenai proses, peristiwa dan lain-lain. Cara yang digunakan untuk menerangkan hal-hal tersebut adalah dengan mendefinisikan, menguraikan, membandingkan dan menafsirkan.

Eksposisi memberikan informasi dan dalam tulisan eksposisi pengarang atau penulis berusaha memaparkan kejadian atau masalah agar pembaca memahaminya. Jadi karangan eksposisi bersifat menjelaskan sesuatu hal secara objektif. Ini berarti tulisan eksposisi harus menyajikan topik yang faktual, isinya mempunyai manfaat yang mengkomunikasikan informasi, ide, atau fakta (Parera, 1982:3). Tujuan paragraf eksposisi yaitu memaparkan, menjelaskan, menyampaikan informasi, mengajarkan, dan menerangkan sesuatu tanpa disertai dengan ajakan atau desakan agar pembaca menerima atau mengikutinya (Wiyanto, 2007). karangan eksposisi adalah karangan yang bertujuan menjelaskan dan memberikan informasi tentang sesuatu seperti yang terdapat pada petunjuk penggunaan sesuatu, buku teks, proses pembuatan masakan dan tentang perawatan sesuatu (Semi, 1990:37).

7. Ciri-ciri Teks Eksposisi

Setiap teks memiliki ciri-ciri tersendiri, ada beberapa ciri-ciri yang dimiliki teks ekposisi. Pertama, Berupa tulisan yang memberikan pengertian dan pengetahuan, sebuah karangan eksposisi harus memberikan pengetahuan serta pengertian kepada pembacanya, sehingga pembaca paham dengan informasi yang disampaikan dan menambah pengetahuan pembaca mengenai suatu permasalahan. Kedua, Menjawab pertanyaan tentang apa, mengapa, kapan dan bagaimana. Hal ini sangat penting sebab pada hakikatnya karangan eksposisi merupakan jawaban atas pertanyaan- pertanyaan berupa apakah itu, bagaimana berlangsungnya hal itu, dan dari mana berasal. Jawaban inilah yang nantinya menjelaskan atau menguraikan sebuah informasi kepada pembaca. Ketiga, Disampaikan dengan lugas dan bahasa baku. Dalam menlis

(6)

karangan eksposisi menyampaikan informasi harus langsung menuju sasaran. Artinya, bahasa yang digunakan tidak berbelit-belit supaya informasi yang hendak disampaikan dapat langsung diterima dengan baik. Keempat, Menggunakan nada netral, tidak memihak dan memaksakan sikap penulis kepada pembaca. Dalam menulis karangan eksposisi penulis harus mengungkapkan fakta yang sebenarnya, penulis tidak boleh memihak pada salah satu fakta sehingga tidak menimbulkan persepsi yang memihak (Semi, 1990:30).

8. Struktur Teks Eksposisi

Teks eksposisi memiliki tiga bentuk yaitu pertanyaan pendapat (tesis), argumentasi, penegasan ulang pendapat. Tesis dalam teks ekposisi terdapat diawal teks eksposisi merupakan bagian pembuka. Tesis berisi pendapat umum yang disampaikan penulis terhadap permasalahan yang diangkat dalam teks eksposisi. Tesis terkadang tidak terungkap di dalam sebuah kalimat di dalam eksposisi itu, hanya tersirat saja. Tesis ini dapat diungkapkan dalam sebuah kalimat yang utuh, atau penggal sebuah kalimat yang. Argumentasi digunakan untuk mendukung tesis yang disampaikan yang berupa unsusr penjelas. Argumentasi ini bisa berupa alasan logis, data hasil temuan, fakta-fakta, atau pernyataan para ahli. Argumen yang baik harus mampu mendukung pendapat yang disampaikan penulis atau pembicara. Argumentasi bertujuan untuk memengaruhi, meyakinkan dan membujuk pembaca tentang kenebaran pendapat penulis. Penegasan ulang biasanya tedapat diakhir teks ekposisi. Penegasan ulang pendapat merupakan pnejelasan kembali atas tesis yang telah disampaikan, didasarkan pada fakta-fakta yang telah dijabarkan penulis pada argumentasi (Tim Kemendikbud, 2013:3).

9. Ciri Kebahasaan Teks Eksposisi

Banyak cara yang dapat digunakan untuk mengomunikasikan ide kepada orang lain, baik itu komunikasi lisan maupun tertulis. Dari segi tujuannya komunikasi tertulis, ada berbagai bentuk tulisan yang dapat digunakan, diantaranya bentuk eksposisi atau paparan. Dalam karangan eksposisi ini, pengarang bertujuan memberikan informasi atau penjelasan dengan cara mengembangkan gagasan dengan harapan pembaca benar-benar mengetahui informasi atau penjelasan yang disampaikan.

(7)

Ciri kebahasan teks eksposisi antara lain; (a) bersifat nonfiksi/ilmiah: teks eksposisi memaparkan informasi atau pengetahuan sering kali dilengkapi dengan pendapat para ahli, contoh, dan fakta-fakta, (b) bersifat informatif/menjelaskan /memaparkan: teks eksposisi bertujuan memberikan informasi atau penjelasan dengan cara mengembangkan gagasan dengan harapan pembaca benar-benar mengetahui informasi atau penjelasan yang disampaikan itu, (c) berdasarkan fakta: teks eksposisi menggunakan fakta-fakta untuk membuat rumusan dan kaidah yang dikemukakan itu lebih konkret, (d) menggunakan pronomina. Pronomina merupakan kata ganti atau jenis kata yang menggantikan nomina atau frasa nomina. Contohnya adalah saya, kapan, -nya, ini, (e) menggunakan konjungsi. Konjungsi, konjungtor, atau kata sambung adalah kata atau ungkapan yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, serta kalimat dengan kalimat. Contoh: dan, atau, serta. Dalam teks eksposisi konjungsi digunakan untuk memperkuat argumentasi, (f) memakai kata leksikal. Kata leksikal adalah merupakan kata yang mengacu pada benda, baik nyata maupun abstrak, dalam kalimat berkedudukan sebagai subjek. Contoh kata leksikal: meja, kursi.

10. Teknik Penyajian Teks Eksposisi

Teks eksposisi merupakan jenis teks yang paling umum dipakai. Kerangka dasar teks ekposisi dimulai dari sebab dan diakhiri akibat. Teknik penyajian adalah cara untuk menyajikan sesuatu dalam sebuah teks. Ada beberapa teknik penyajian teks ekposisi. Informasi dalam teks eksposisi disajikan dalam teknik-teknik berikut:

(a) Teknik identifikasi merupakan teknik pengembangan paragraf atau karangan eksposisi yang berusaha untuk memberikan jawaban atas pertanyaan “apa itu” atau

“siapa itu?”, (b)Teknik perbandingan merupakan suatu cara untuk menunjukkan kesamaan dan perbedaan antara dua objek atau lebih dengan menggunakan dasar tertentu, (c)Teknik klasifikasi merupakan suatu teknik pengembangan dengan menempatkan atau mengelompokkan suatu hal dalam suatu kelompok aspek atau kategori tertentu, (d)Teknik analisis merupakan suatu teknik pengembangan dengan cara membagi-bagi, melepaskan, atau menguraikan suatu objek ke dalam komponen- komponen, (e)Teknik definisi merupakan suatu proses yang berusaha meletakkan batas-batas makna dari unsur kata itu sendiri. Secara luas, teknik ini diartikan sebagai membatasi suatu hal yang didefinisikan (Kusmayadi, 2007).

(8)

11. Langkah-langkah Menulis Teks Eksposisi

Ada tiga langkah yang harus dilakukan dalam menulis eksposisi. Pertama, Menulis pendahuluan. Pada bagian ini penulis menyajikan latar belakang penulisan, alasan memilih topik tersebut, pentingnya topik itu, batasan pengertian topik itu, permasalahan, tujuan penelitian dan kerangka acuan yang digunakan. Kedua, Menulis tubuh eksposisi. Pada bagian menulis tubuh eksposisi ini, penulis harus mengembangkan kerangka karangan agar isi karangan tersebut teratur dan sistematis.

Setelah itu penulis menyajikan gagasan secara terperinci agar dapat terjalin paragraf- paragraf yang padu dan teratur. Ketiga, Menulis simpulan. Simpulan yang disajikan dalam bagian ini isi karangan eksposisi. Kesimpulan tersebut tidak mengarah pada usaha untuk mempengaruhi pikiran pembaca (Keraf, 1995: 9).

12. Kesalahan Karangan Eksposisi Siswa SMA

Menulis teks eksposisi merupakan salah satu jenis teks yang diajarkan di sekolah menengah atas. Umumnya organisasi tulisan dalam karangan siswa masih menampakkan penalaran bahasa yang kurang logis, dan terdapat banyak kesalahan bahasa yang meliputi pemakaian ejaan, diksi, kalimat, dan ada beberapa tulisan yang sama atau mirip. Akan tetapi, dalam penelitian ini peneliti menganalisis kesalahan berbahasa ditinjau dari empat aspek, yaitu ejaan, diksi, kalimat, dan paragraf (Sumarwati 2010). Pada karangan teks ekposisi siswa sekolah menengah atas ditemukan adanya kesalahan berbahasa.

Ada beberapa kesalahan berbahasa yang terjadi pada siswa saat menulis teks eksposisi. Kesalahan yang terjadi diantara lain mengenai kesalahan ejaan, kesalahan memilih diksi, kesalahan menyusun kalimat, dan kesalahan menyusun paragraf.

Penyebab terjadinya kesalahan berbahasa antara lain karena kurangnya penguasaan bahasa asing oleh siswa, lalu guru kurang dalam memberi contoh, adanya pengaruh bahasa asing, siswa masih kurang dalam latihan menulis, dan kurangnya waktu yang disediakan untuk menulis. Dari beberapa kendala yang dihadapi, upaya yang digunakan untuk mengurangi kesalahan berbahasa dalam karangan siswa dapat diklakukan dengan meningkatkan penguasaan kaidah bahasa siswa, memperbanyak latihan mengarang, menerapkan teknik koreksi yang tepat, dan melaksanakan pembelajaran menulis dengan pendekatan proses (Ariningsih dkk, 2012).

(9)

Referensi

Abbas, S. (2006). Pembelajaran Bahasa Indonesia Yang Efektif Di Sekolah Dasar. Jakarta:

Dirjen Dikti Depdiknas.

Ariningsih, N. E., Sumarwati, dan Saddhono, K. (2012). Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia dalam Karangan Eksposisi Siswa Sekolah Menengah Atas. JPBS FKIP Universitas Sebelas Maret. BASASTRA Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra Indonesia dan Pengajarannya, 1(1). 40-53. ISSN I2302-6405

Berry, M., & Batty, C. (2016). The stories of supervision: Creative writing in a critical space.

New Writing, 13(2), 247–260. https://doi.org/10.1080/14790726.2016.1142568

Disarro, D. R. (2014). Let’s chat: Cultural historical activity theory in the creative writing classroom. New Writing, 11(3), 438–451. https://doi.org/10.1080/14790726.2014.956123 Flood, J. (1986). The Text, the Student, and the Teacher: Learning from Exposition in Middle

Schools. The Reading Teacher, 39(8), 784-791. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/20199223

Gani, E. (1999). Pembinaan Keterangan Menulis di Perguruan Tinggi. Buku Ajar. Padang:

DIP Proyek UNP.

Hebert, M., Bohaty, J. J., Nelson, J. R., & Lambert, M. C. (2018). Identifying and

discriminating expository text structures: An experiment with 4th and 5th grade struggling readers. Reading & Writing, 31(9), 2115–2145. https://e- resources.perpusnas.go.id:2051/10.1007/s11145-018-9826-9

Istova, M., & Hartati, T. (2016). Pengaruh Media Film Animasi Fiksi Islami Untuk Meningkatkan Kemampuan Menyimak Dan Berbicara Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, 2(1) : 72 - 86.

Kemdikbud. (2013). Buku Siswa Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik SMA/MA/SMK/MAK kelas X. Jakarta.

Keraf, G. (1982). Eksposisi dan Deskripsi. Jakarta: Nusa Indah Keraf. G. (1995). Eksposisi. Jakarta:Grasindo.

Kosasih. (2012). Dasar-Dasar Keterampilan Bersastra. Bandung: Yrama Widya

Kusmayadi, I. (2007). Think Smart Bahasa Indonesia untuk Kelas XI SMA/MA. Bandung:

Grafindo.

Marahimin. (2010). Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya

(10)

Nur'aini, H. I. M., Saddhono, K., & Ulya, C. (2015). Implementasi Kurikulum 2013 pada Pembelajaran Menulis Teks Eksposisi (Studi Kasus di Kelas X SMK Negeri 1 Karanganyar). BASASTRA, 3(3). 1-17. ISSN I2302-6405

Oktaria, D., Andayani, & Saddhono, K. (2018). Penguasaan Kalimat Efektif sebagai

Kunci Peningkatan Keterampilan Menulis Eksposisi. Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa, 15(2), 165-177. ISSN I2302-6405

Parera, J.D. (1982). Pelajaran Berbahasa Indonesia. Jakarta:Erlangga

Rakhman, A. N. (2013). An analysis of thematic progression in high school students exposition texts. Passage, 1(1), 65-74.

Rosidi, I. (2009). Menulis Siapa Takut. Yogyakarta: Kanisius.

Saddhono, K., & St. Y. Slamet (2014). Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Indonesia:

Teori dan Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu

Darmuki, A., Andayani, Nurkamto, J., & Saddhono, K. (2018). The Development and Evaluation of Speaking Learning Model by Cooperative Approach. International Journal of Instruction, 11(2), 115-128. https://doi.org/10.12973/iji.2018.1129a

Saddhono, K., & St. Y. Slamet. (2012). Meningkatkan keterampilan berbahasa indonesia (teori dan aplikasi). Bandung: Karya Putra Darwati.

Samsudin, A. (2012). Peningkatan Kemampuan Menulis Eksposisi Berita Dan Menulis Eksposisi Ilustrasi Siswa Kelas V Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Terpadu Membaca Dan Menulis< br. Jurnal Penelitian Pendidikan, 13(2), 1-11.

Satini, M. P. (2016). Kemampuan Menulis Karangan Eksposisi Dengan Menggunakan Teknik Mind Map Siswa Kelas X SMA Negeri 14 Padang. Jurnal Gramatika, 2(2).

http://dx.doi.org/10.22202/JG.2016.v2i2.976

Semi, M.A (2007). Dasar-dasar Keterampilan Menulis. Bandung:Angkasa Semi. (1990). Menulis efektif. Padang: CV Ankasa Raya

Septianingrum, F. D. (2013). Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Eksposisi Proses dengan Metode Inkuiri Pada Siswa Kelas IV SD Negeri Yosodipuro No. 104 Surakarta (Doctoral dissertation, Universitas Sebelas Maret).

Syafi’ie, I. (1988). Retorika dalam Menulis. Jakarta: Depdikbud.

Tarigan, H.G. (2008). Menulis Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Wiyanto, A. (2007). Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Referensi

Dokumen terkait

Instrumen untuk mengumpulkan data adalah tes keterampilan menulis teks eksposisi, tes penguasaan kalimat efektif, dan angket keaktifan menulis.Teknik analisis

Oleh karena itu, penelitian ini akan diarahkan dengan judul “Model Discovery Learning dalam Keterampilan Menulis Teks Eksposisi dan Berpikir Kritis (Eksperimen Kuasi

Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa implikasi teoretis dalam penelitian ini adalah keterampilan menulis teks eksposisi tidak akan muncul begitu saja

Mengacu pada rata-rata hitung (M) yang diperoleh, disimpulkan bahwa keterampilan menulis teks eksposisi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Padang Panjang secara umum

Keenam , siswa yang memperoleh nilai dengan kualifikasi Kurang Sekali (KS) berjumlah 3 orang (8,82%).Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa keterampilan menulis

Pengamatan Sikap Santun Saat Tes Menulis Teks Eksposisi Siswa Kelas VII SMP Negeri 14 Padang dengan Berbantuan Media Gambar Berdasarkan Tabel 6, dapat dikemukakan bahwa keterampilan

Keterampilan menulis karangan eksposisi dengan menggunakan teknik konstruktivisme siswa kelas X SMA Negeri 2 Batang Kapas Kabupaten Pesisir Selatan, untuk seluruh indikator memperoleh

Pertama, keterampilan menulis teks eksposisi sebelum menggunakan model discovery learning siswa kelas X SMK Negeri 8 Padang berada pada kualifikasi Hanpir Cukup HC dengan rata-rata