• Tidak ada hasil yang ditemukan

khutbah mukjizat nabi

N/A
N/A
Moh Agus Setiabudi

Academic year: 2024

Membagikan "khutbah mukjizat nabi"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

ءِايَبِنْلأَاْ فِرَشْأَ ىلَعَ مُلَاسَّلاْوَ ةُلَاصَّلاْوَ ،نِيْدِّلاْوَ ايَنْ دِّلاْ رِوْمُأَ ىلَعَ نِيَعِتَسَّنْ هِبِوَ ،نِيَمِلاعِلاْ بِّرِ هِ*+لَل دِّمِحَلاْ

ىلإِ .نٍاسَّحْإِبِ مْهُعِبِتَ نِمُوَ نِيَعِبِاتَلاْوَ هِبِاحَصْأَوَ هِل*اْ ىلَعَوَ مْلَسَوَ هِيَلَعَ هِلَلاْ ىلَصْ .دِّمِحَمُ انَيَبِنْ ،نِيَلَسَرَمِلاْوَ

.

اْ8دِّمِـحَمُ انْدِّيَسَ نٍأَ دِّهُشْأَوَ نِيَبِمِلاْ قُّحَلاْ كُلَمِلاْ هِل كُيْرَشْلَا هُدِّحْوَ هِلَلاْ لَاإِ هِ*لإِ لَا نٍأَ دِّهُشْأَ ،نِيْدِّلاْ مُوْيْ

.

لَاإِ نِتَوْمِتَ لَاوَ هِتَاقَتَ قُّحْ هِلَلاْ اْوْقَتَاْ نٍوَرَضِاحَلاْ اهُ يْأَ ايَفَ دِّعِبِ امُأَ نِيَمُلأَاْ دِّعَوْلاْ قُدِاصْ هِلوْسَرِوَ هُدِّبِعَ

: .

ثُيَحْ نِمُ هِقْزُرَيْوَ ،ا8جًرَخْمُ هِل لْعِجْيْ هِلَلاْ قُّتَيْ نِمُوَ مْيْرَكَلاْ هِبِاتَكِ يْفَ ىلاعِتَ هِلَلاْ لَاقْوَ نٍوْمِلَسَّمُ مْتَنْأَوَ

بُسَّتَحَيْلَا

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Sudah sepatutnya kita bersyukur atas segala anugerah yang diberikan Allah kepada kita, khususnya anugerah iman dan islam. Sebagaimana dikatakan Syekh Nawawi al-Bantani di dalam kitabnya, Qathrul Ghaits: sebaik- baiknya anugerah adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tentu saja ketaatan itu didasari oleh adanya iman dan Islam. Kemudian shalawat dan salam semoga kita istiqomahi untuk Nabi kita Sayyiduna Muhammad Saw, serta untuk keluarga dan para sahabatnya. Mereka semua adalah tauladan kita dalam menjalankan agama dan kehidupan di dunia ini. Mereka telah memberikan contoh, maka kita selaku generasi penerus bertugas merawat dan mengembangkan warisan mereka, yaitu agama Islam ini. Selanjutnya tidak bosan-bosannya khatib mengingatkan agar selalu ada iktikad di dalam diri kita untuk meningkatkan ketakwaan. Dengan adanya iktikad ini setidaknya kita menyadari dosa dan kesalahan kita, sehingga kita berupaya memperbaikinya. Dengan begitu, secara tidak langsung kita telah

mengimplementasikan iktikad tersebut sehingga ketakwaan kita tidak lagi stagnan. Apalagi Allah menegaskan di dalam firman-Nya:

بِّابِللَااْ ىلوَاO*يْ نٍوْقَتَاْوَ ىوْقَتَلاْ دِاْزَّلاْ رَيَخَ نٍإِفَ

Artinya, “Maka sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah ketakwaan, dan hendaklah bertakwa kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah

Sebagaimana sudah maklum bahwa Nabi Muhammad merupakan makhluk paling mulia, bahkan menjadi panglima para nabi dan rasul Allah. Keistimewaan ini tentu saja merupakan kehendak Allah, sehingga tidak ada satu pun dari makhluk-Nya yang berani mengajukan komplain. Dan keputusan Allah ini juga berbanding lurus dengan kepribadian Nabi Muhammad sebagaimana diceritakan di dalam buku-buku sejarah. Selain itu,

keputusan Allah tersebut juga selaras dengan ujian yang menimpa kepada baginda Nabi Muhammad Saw, mulai beliau menjelang lahir hingga wafat pada usia 63 tahun.

Namun yang pasti, beragam cobaan yang dihadapi Nabi tidak membuat gentar dan takut untuk

memperjuangkan agama Allah. Maka sebagaimana falsafah kehidupan yang cukup populer: jika seseorang akan diangkat derajatnya, maka cobaannya akan semakin berat. Di dalam hadits Nabi yang diriwayatkan Imam at- Tirmidzi di dalam kitabnya, Sunan at-Tirmidzi, juga disebutkan:

طُخْسَّلاْ هِلَفَ طُخْسَ نِمُوَ اضِرَلاْ هِلَفَ يْضِرِ نِمِفَ ،مْهُلَاتَبِاْ ا8مُوْقْ بُحْأَ اْذَإِ هِلَلاْ نٍإِوَ

Artinya, “Sesungguhnya ketika Allah menyukai sebuah kaum maka akan memberi cobaan terhadap mereka.

Maka siapa saja yang rela – menerima (akan cobaan tersebut) maka akan mendapatkan ridho-Nya, dan siapasaja yang membenci (cobaan tersebut) maka akan mendapatkan murka-Nya.” (HR. At-Tirmidzi).

Dengan demikian, maka wajar kiranya bila cobaan yang menghampiri Nabi Muhammad datang bertubi-tubi dan bermacam-macam, sebab derajat Nabi sedang menuju tingkatan yang paling tinggi di antara seluruh makhluk-Nya.

Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah

Meskipun Nabi dilanda berbagai macam cobaan, namun Allah tidak membiarkan menghadapi sendirian, terlebih ketika cobaan tersebut berkaitan dengan tanda-tanda kerasulan Nabi. Maka agar masyarakat jazirah Arab pada waktu itu mempercayainya, Allah memberikan segudang keistimewaan kepada Nabi sebagai tanda kebenaran status Nabi sebagai utusan Allah. Keistimewaan di sini bersifat kejadian di luar kebiasaan manusia, atau yang biasa disebut mukjizat.

Maka kita mendengar kisah Nabi dapat membelah bulan, bisa mengeluarkan air dari jari-jarinya, sepotong roti yang dibagi Nabi dapat mengenyangkan rombongannya, melakukan Isra’ Mi’raj dalam waktu semalam, serta mukjizat yang akan abadi hingga kiamat nanti, yaitu Al-Quran. Itulah sebagian mukjizat Nabi yang sudah masyhur di kalangan kita. Namun masih ada mukjizat Nabi yang barangkali belum cukup populer di telinga kita.

Misalnya mukjizat yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab Shahih-nya:

: . .

ىبِرِ ىنَمِعِطْيْ ىنْإِ مْكَتَئَيَهُكِ تُسَّل ىنْإِ لَاقْ لْصْاْوْتَ كُنْإِ اْوْلاقَفَ مْهُل 8ةًمِحْرِ لَاصْوْلاْ نِعَ ىبِنَلاْ مْهُاهُنْ

ىنَيَقَسَّيْوَ

Artinya, “Nabi melarang para sahabatnya melakukan puasa wishal (puasa terus-menerus tanpa berbuka berlanjut hingga hari esoknya) sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka. Kemudian para sahabat

(2)

mengomentari: ‘sesungguhnya Anda sendiri melakukan wishal’, Nabi menjawab: Sesungguhnya kondisi (fisik)ku tidak sama seperti kondisi kalian, sesungguhnya Tuhanku yang memberikan aku makan dan minum.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam Al-Qasthalani di dalam kitabnya, Irsyadus Sari li syarhi Shahihil Bukhari, mengatakan bahwa Nabi diberi makan dan minum oleh Allah bukan bermakna secara hakiki, melainkan Allah menganugerahi kekuatan

layaknya orang setelah makan dan minum.

Sebab jika dimaknai secara hakiki maka tentu saja Nabi tidak melaksanakan puasa wishal. Pernyataan Nabi dan komentar Imam Al-Qasthalani tadi menunjukkan bahwa Nabi bukan manusia biasa. Kalau dilihat secara lahiriah memang Nabi layaknya manusia pada umumnya, seperti fisik, bahasa, kebiasaan, dan prilaku lainnya yang memperkuat hal tersebut.

Ini juga dipertegas oleh Nabi sendiri di dalam banyak kesempatan yang bersabda: ‘saya merupakan manusia layaknya seperti kalian.’ Namun bila ditelusuri lebih dalam, dengan melihat sisi batin sosok Kanjeng Nabi, maka menjadi jelas kalau Nabi merupakan manusia pilihan Allah, sehingga ada sikap beliau yang tidak lumrah layaknya manusia yang lain. Sebagaimana dalam riwayat tadi, yang dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk meningkatkan keimanan kita terhadap pribadi Nabi Muhammad.

Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah

Mukjizat lain yang juga bisa dibilang tidak disadari oleh kebanyakan kita adalah keberhasilan Nabi Muhammad dalam mengentaskan masyarakat Jahiliyah hanya dalam waktu kurang lebih 23 tahun. Sudah banyak dari kita yang mengetahui bahwa masa kenabian Muhammad relatif sebentar, hanya dua dekade lebih sedikit.

Bahkan bila dikerucutkan lagi pasca hijrah ke Madinah, di mana sejak saat itulah Nabi secara resmi diakui dan diangkat sebagai pemimpin umat, maka hanya 10 tahun atau satu dekade Nabi menciptakan masyarakat Arab sebagai bangsa beradab. Selama itu kultur Jahiliyah dikikis secara bertahap dengan berbagai macam strategi jitu yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.

Bila kita mau merenungkan secara seksama, kejadian ini tampaknya agak susah diterima oleh akal sehat.

Dengan kata lain, fenomena ini cukup susah untuk dinilai sebagai kejadian biasa, normal, dan lumrah. Bisa kita bayangkan budaya Jahiliyah masyarakat Arab yang sudah mengakar lintas generasi bisa lenyap seketika hanya dalam 1 hingga 2 dekade. Budaya tribalisme, berwatak keras, merendahkan kaum perempuan, bermain judi, mengkonsumsi minuman keras, serta menyembah berhala dengan segala tradisinya dapat sirna dalam durasi waktu yang cenderung cepat tersebut.

Hal ini terbukti sejak Nabi wafat budaya Jahiliyah semacam tadi tidak ditemukan lagi di masyarakat Arab.

Tampaknya, jika hanya mengandalkan usaha lahiriah dan kehormatan Nabi Muhammad, sulit untuk mencapai prestasi sebesar itu. Maka dari itu, pasti ada campur tangan Allah selaku Dzat yang Maha segala-galanya, termasuk mengubah masyarakat Arab dari zaman Jahiliyah ke zaman penuh hidayah, yang menjadikan bangsa Arab memiliki marwah dan martabat di mata dunia pada saat itu. Inilah mukjizat kedua Nabi yang jarang kita sadari bersama sehingga menganggapnya sebagai prestasi politik pada umumnya. Padahal kalau ditinjau dari aspek teologis, yang lebih kuat dan mudah diterima oleh akal sehat seorang Muslim, maka ini juga pantas disebut kejadian yang tidak lumrah, yang kita kenal dengan istilah mukjizat.

Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah

Dengan mengetahui kedua mukjizat yang tidak populer tadi semoga dapat meningkatkan kepercayaan kita kepada Baginda Nabi Muhammad selaku makhluk yang paling istimewa di sisi Allah. Serta menjadikan kita semakin bersyukur karena termasuk umatnya makhluk paling istimewa ini. Semoga dengan kepercayaan seperti ini membuat kita pantas mendapatkan syafaatnya kelak di akhirat.

يْلوْقْ لَوْقْأَ مْيَكَحَلاْ رَكِذَوَ تِايْلآاْ نِمُ هِيَفَ امِبِ مْكِايْإِوَ يْنَعِفَنْوَ مْيَظِعِلاْ نٍآرَقَلاْ يْفَ مْكَلوَ يْل هِلَلاْ كَرِابِ .

مْيَحْرَلاْ رِوْفَغَلاْ وْهُ هِنْإِ مْيَظِعِلاْ هِلَلاْ رَفَغَتَسَأفَ اْذَهُ.

khutbah 2

c لَا هُدِّحْوَ هِلَلاْوَ هِلَلاْ لَاإِ هِلاْ لَا نٍأَ دِّهُشْأَوَ هِنْانَتَمُاْوَ هِقَيَفَوْتَ ىلَعَ هِل رَكَ شُّلاْوَ هِنْاسَّحْإِ ىلَعَ هِلَل دِّمِحَل .

.

.دِّمِحَمُ انْدِّيَسَ ىلَعَ لْصْ مْهُلَلاْ هِنْاْوْضِرِ ىلإِ ىعَاْدِّلاْ هِلوْسَرِوَ هُدِّبِعَ اْ8دِّمِحَمُ انْدِّيَسَ نٍأَ دِّهُشْأَوَ هِل كُيْرَشْ

اْ8رَيَثكِ ا8مِيَلَسَّتَ مْلَسَوَ هِبِاحَصْأَوَ هِلاْ ىلَعَوَ

هِسَّفَنَبِ هِيَفَ أَدِّبِ .رَمُأبِ مْكِرَمُأَ هِلَلاْ نٍأَ اْوْمِلَعَاْوَ ىهُنْ امِعَ اْوْهُتَنْاْوَ رَمُأَ امِيَفَ هِلَلاْاْوْقَتَاْ سُانَلاْ اهُ يْاْ ايَفَ دِّعِبِ امُأَ

.

هِيَلَعَ اْوْ لَصْ اْوْنَمُآ نِيْذَلاْ اهُ يْاْآيْ ىبِنَلاْ ىلَعَ نٍوْ لَصَّيْ هِتَكَئِلآمُوَ هِلَلاْ نٍإِ ىلاعِتَ لَاقْوَ هِسَدِّقَبِ هِتَكَئِلآمِبِ ىنَـثَوَ

ا8مِيَلَسَّتَ اْوْمِلَسَوَ

كُلَسَرِوَ كُئِآيَبِنْاْ ىلَعَوَ .دِّمِحَمُ انْدِّيَسَ لَآ ىلَعَوَ مْلَسَوَ هِيَلَعَ هِلَلاْ ىلَصْ .دِّمِحَمُ انْدِّيَسَ ىلَعَ لْصْ مْهُ*+لَلاْ

ضَرِاْوَ نِيَبِرَقَمِلاْ ةًكَئِلآمُوَ ةًيَقَبِ نِعَوَ ىلَعَوَ نٍامِثعَوَ رَمِعَوَ .رَكَبِ ىبِأَ نِيْدِّشْاْرَلاْ ءِافَلَخْلاْ نِعَ مْهُ*+لَلاْ

مْحْرِأَ ايْ كُتَمِحْرَبِ مْهُعِمُ انَعَ ضَرِاْوَ نِيْدِّلاْ مُوْيْ ىلاْ .نٍاسَّحْابِ مْهُل نِيَعِبِاتَلاْ يْعِبِاتَوَ نِيَعِبِاتَلاْوَ ةًبِاحَصَّلاْ

نِيَمِحْاْرَلاْ تِاْوْمُلَااْوَ مْهُنَمُ ءِآيَحْلَااْ تِامِلَسَّمِلاْوَ نِيَمِلَسَّمِلاْوَ تِانَمُؤْمِلاْوَ نِيَنَمُؤْمِلَل رَفَغْاْ مْهُ*+لَلاْ. مْهُ*+لَلاْ

(3)

نِيْدِّلاْ رَصَّنْ نِمُ رَصَّنْاْوَ ةًيْدِّحْوْمِلاْ كَدِابِعَ رَصَّنْاْوَ نِيَكِرَشُّمِلاْوَ كَرَشُّلاْ لَذَأَوَ نِيَمِلَسَّمِلاْوَ مُلَاسَلإِاْ زَّعَأَ

نِيْدِّلاْ مُوْيْ ىلإِ كُتَامِلَكِ لْعَاْوَ نِيْدِّلاْ ءِاْدِّعَأَ رَمُدِوَ نِيَمِلَسَّمِلاْ لَذَخَ نِمُ لَذَخَاْوَ. ءِلَابِلاْ انَعَ عْفَدِاْ مْهُ*+لَلاْ

8ةًصْآخَ ايَسَّيَنْوَدِّنْاْ انْدِّلَبِ نِعَ نِطْبِ امُوَ اهُنَمُ رَهُظَ امُ نِحَمِلاْوَ ةًنَتَفَلاْ ءِوْسَوَ نِحَمِلاْوَ لَزُلَازَّلاْوَ ءِابِوْلاْوَ

.

انَقْوَ 8ةًنَسَّحْ ةُرَخَلآاْ ىفَوَ 8ةًنَسَّحْ ايَنْ دِّلاْ ىفَ انَتَآ انَبِرِ نِيَمِلاعِلاْ بِّرِ ايْ 8ةًمُآعَ نِيَمِلَسَّمِلاْ نٍاْدِّلَبِلاْ رَئِاسَوَ

.

نِيْرَسَاخْلاْ نِمُ نِنْوْكَنَل انَمِحْرَتَوَ انَل رَفَغَتَ مْل نٍإِوَ انَسَّفَنْاْ انَمِلَظَ انَبِرِ رِانَلاْ بِّاْذَعَ

!

يْغَبِلاْوَ رَكَنَمِلاْوَ ءِآشُّحَفَلاْ نِعَ ىهُنَيْوَ ىبِرَقَلاْ يذَ ءِآتَيْإِوَ نٍاسَّحْلإِاْوَ لَدِّعِلابِ انْرَمُأيْ هِلَلاْ نٍإِ هِلَلاْدِابِعَ

رَبِكِأَ هِلَلاْ رَكِذَلوَ مْكِدِزَّيْ هِمِعِنْ ىلَعَ هُوَرَكَشْاْوَ مْكِرَكِذَيْ مْيَظِعِلاْ هِلَلاْ اْوَرَكِذَاْوَ نٍوَرَكِذَتَ مْكَلَعِل مْكَظِعِيْ

Referensi

Dokumen terkait

Peran strategis ulama atau ustadz itu antara lain, (1) memimpin shalat jamaah di awal waktu, (2) mendidik jamaah dalam berdoa sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad saw, (3)

dan alhamdulillah ada perubahan kearah yang lebih baik pada diri saya (Wawancara Bapak Zaini jamaah shalat Jumat Masjid Darussalihin kecamatan Gambut, 18 September

Sejarah diwajibkannya shalat jumat dimulai seiring dengan diwajibkannya shalat fardhu (wajib) atas semua umat Islam yaitu pada malam isra’ dan mi’raj nabi Muhammad saw, satu

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan baginda besar Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, shahabat dan pengikutnya, atas jasa dan perjuangan besar

Telah disebutkan bahwa sesungguhnya pada bulan ke sembilan kehamilan Sayyidah Aminah (Rabiul Awwal) saat hari-hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad saw sudah semakin mendekati,

Sholawat beserta salam juga kita kirimkan kepada Baginda kita yaitu Nabi Muhammad SAW, semoga dengan senantiasanya kita bersholawat kepada beliau kita bisa mendapatkan syafaatnya

Nabi Muhammad dalam memperhatikan bulan Rajab sampai memanjatkan doa yang sebagaimana diriwayatkan oleh Anas Ibn Malik dalam Musnad Ahmad: “Ya Allah, semoga Engkau memberkahi kami pada

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah memberikan petunjuk dan membimbing umatnya kejalan yang diridhai