`Seutas Kenangan
Yok (Satriyo) Dam
Ibu satriyo Bule satiyem Sri (anak satiyem) Sekar (adik) Endah
Film ini berjudul “seutas kenangan”. Film ini bercerita tentang satriyo (sebagai tokoh utama) yang sudah dewasa, dan pergi merantau untuk bekerja di Jakarta.
Kehidupan Satriyo yang kini sudah dewasa pun berubah dari kehidupannya yang sebelumnya. Satriyo kini disibukkan dengan pekerjaannya di kantor yang begitu banyak, dan bahkan ia sering harus lembur malam.
Ditengah berbagai kesibukannya, ia tidak lupa bahwa ia masih memiliki keluarga di kampung halamannya. Ibunya dan adiknya selalu menunggu ia kembali atau untuk hanya sekedar berkunjung kembali ke kampung halamannya. Satriyo yang memiliki kesibukan yang cukup padat menjadi bingung Ketika dihadapkan dengan hal tersebut antara lanjut terus bekerja, atau kembali sejenak ke kampung halaman yang penuh kenangan. Sampai akhirnya Satriyo kembali ke kampung halamannya dan bertemu dengan keluarganya. Ia juga sempat bertemu dengan beberapa tetangganya dan temannya. Ia kembali teringat dengan beberapa kenangan yang membekas baginya disana.
Dari segi psikoanalisis, Menurut Freud perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga sub system dalam kepribadian manusia.yaitu : Id, Ego, dan Superego.
Sistem komunikasi interpersonal Sensasi, Persepsi, memori, berpikir
Karakter Satriyo dapat kita cermati sebagai karakter yang santai, kalem, dan tidak gegabah. Dari segi psikoanalisis, dapat kita cermati ia mampu menahan gejolak – gejolak dalam dirinya. Ia mampu mengontrol Id, Ego, dan Super egonya.
Seperti pada saat ia bimbang apakah akan pulang atau tidak, ia mampu melawan gejolak dalam dirinya untuk tidak pulang kampung.
Dari segi konsep diri, terlihat beberapa ciri-ciri konsep diri positif dalam dirinya, seperti dinamis, bersikap terbuka.
Kemudian dari segi konsep diri, ada yang Namanya citra yang datang dari penilaian orang lain. Karakter satriyo memiliki citra tersebut, karena ia masih belum menikah walaupun sudah mapan.
Karakter adam menunjukkan karakter yang peduli dengan temannya. ia memiliki kedekatan dengan Satriyo, sehingga komunikasi diantara mereka dapat berjalan dengan efektif.
Adam pun sebagai teman memberikan sedikit pencerahan kepada satriyo. Adam menyarankan kepada satriyo agar tidak terlalu membawa perasaan, dan lebih baik untuk tetap pulang, bertemu dengan orang tuanya. Pada akhirnya Satriyo dapat mengerti dan menerima pesan dari adam. Disini dapat terlihat satriyo mampu menerima pesan, atau saran dari orang lain dengan baik. Disini terjadi gejolak didalam diri satria, pada akhirnya ia dapat menekan ego nya. Disini juga terlihat salah satu konsep diri yang positive didalam diri satriya yaitu dia bersikap terbuka terhadap saran orang lain.
Selain itu, ada tokoh lain yaitu Bule Satiyem. Karakter dari Bule satiyem disini selalu penasaran dengan urusan orang lain. Bahkan dicerita ini, bule satiyem menanyakan Satriyo kapan akan menikah, sambil sedikit merendahkan satriyo.
Dari segi psikoanalisis, dapat dilihat bule Satiyem yang mengedepankan Id nya Dimana dia merendahkan Satriyo yang masih belum menikah, dan ia sedikit memaksa satriyo agar berkenalan dengan anaknya.
Selain itu, dari segi konsep diri, ada salah satu konsep diri negative dalam bule satiyem, yaitu berprasangka negative terhadap orang lain.