Komplikasi Ikterus Neonatorum
Bilirubin tidak terkonjugasi sangat toxic bagi bayi. Bayi dengan kadar bilirubin yang tinggi sangat beresiko terjadi komplikasi berat. Beberapa komplikasi yang bisa terjadi
antara lain:
1. Bilirubin ensefalopati akut. Gambaran awal dari adanya toksisitas bilirubin dalam 1 minggu pertama setelah lahir. Pada fase awal bilirubin ensefalopati akut, bayi memiliki reflek hisap yang jelek, hypotonia dan tangis menjadi lemah. Fase intermediate menunjukkan gangguan kesadaran, hypertonia dan irritable. Pada fase lanjut menunjukkan adanya kerusakan pada sistem saraf pusat yang ireversibel, ditandai retrocollis-opistotonus yang jelas, high pitched cry, tidak mampu menyusu, apneu, demam, gangguan kesadaran hingga koma, kadang mengalami kejang dan berujung
kematian.
2. Kernicterus, merupakan gambaran warna kuning pada sel-sel otak dan nekrosis sel otak yang kronik, perubahan permanen pada otak akibat deposisi bilirubin di otak. Daerah di otak yang paling sering terkena adalah ganglia basalis, hipokampus, badan geniculatum dan saraf kranial. Kerusakan terjadi ketika konsentrasi serum mencapai tingkat toksik, bilirubin tak terkonjugasi melintasi sawar otak pada neonatus. Risiko kernikterus terjadi pada bayi dengan kadar bilirubin > 25 mg/dl (Hamza, 2019).
DM gestitional
Gestational Diabetes Mellitus (GDM) adalah diabetes yang terjadi saat kehamilan dan tidak memiliki penyakit diabetes sebelum hamil. 2. PreGestational Diabetes Mellitus (PGDM) adalah diabetes yang terjadi pada ibu hamil dengan memiliki riwayat diabetes sebelumnya, bisa diabetes mellitus tipe 1 atau tipe 2. Proses terjadinya diabetes melitus gestasional pada ibu hamil dipengaruhi oleh beberapa faktor yang didukung oleh hormon-hormon yang aktif dan tinggi selama masa kehamilan. Pada kehamilan terjadi peningkatan produksi hormon-hormon antagonis insulin, antara lain: progesteron, estrogen, human placenta lactogen, dan kortisol. Peningkatan hormon-hormon tersebut
menyebabkan terjadinya resistensi insulin dan peningkatan kadar glukosa darah.
Faktor Risiko Diabetes Gestasional
Usia lebih dari 25 tahun saat hamil.
Kelebihan berat badan sebelum hamil (BMI di atas 25)
Memiliki keluarga dengan sejarah diabetes.
Pernah mengalami diabetes gestasional sebelumnya.
Pernah mengalami keguguran.
Pernah melahirkan bayi di atas 4.5 kg.
Gaya hidup sedentari (kurang gerak)
Merujuk pada Buku PPK PENATALAKSANAAN PAPDI, tatalaksana Diabetes Melitus Gestasional meliputi terapi nutrisi medis, terapi insulin dan terapi farmakologis.
Terapi Nutrisi Medis
Jumlah kalori yang dianjurkan adalah 3 kkal/berat badan ideal sebelum hamil
Sasaran glukosa plasma puasa ≥105 mg/dl dan dua jam setelah makan ≤130 mg/dl. Apabila sasaran tidak tercapai dapat diberikan terpai insulin
Terapi Insulin
Jenis insulin yang dipakai adalah insulin manusia.
Insulin analog yang dipakai jika tidak tersedia insulin manusia.
Dosis dan frekuensi sangat tergantung kadar glukosa darah.
Pada umumnya insulin dihentikan pada saat pasien bersalin untuk mencegah hipoglikemia.
Sifilis
Sifilis merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum
Bakteri tersebut menginfeksi tubuh manusia melalui luka di alat kelamin, anus, bibir, maupun mulut.
Penularan sifilis dipicu oleh aktivitas seksual yang dilakukan oleh penderitanya, seperti penetrasi, seks oral, atau seks anal.
Karena itulah, sifilis adalah penyakit menular yang dapat dicegah dengan menggunakan alat pengaman, seperti kondom, saat melakukan aktivitas seksual.
Selain itu, sifilis adalah penyakit yang juga berpotensi ditularkan dari ibu penderita ke bayinya. Sifilis bawaan pada bayi baru lahir disebut dengan istilah sifilis kongenital.
Kondisi sifilis kongenital pada bayi dapat dikurangi risikonya dengan mengobati penyakit tersebut sebelum ibu hamil memasuki umur kehamilan 4 bulan.
Tata laksana sifilis kongenital dibedakan atas empat keadaan yaitu 1. Pada pemeriksaan fisik tampak tanda sifiliskongenital 2. Pada pemeriksaan fisik normal, dibagi menjadi
a. Ibu mempunyai titer 4X, namun tidakdiobati.
b. Ibu diobati, titer menurun, dan tidakmenderita reinfeksi/relaps.
c. Ibu diobati, titer ibu rendah dan stabil treponema pallidium