• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMPOSISI SAPLING PADA KAWASAN PENYANGGA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT KILIRAN JAO KECAMATAN KAMANG BARU

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "KOMPOSISI SAPLING PADA KAWASAN PENYANGGA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT KILIRAN JAO KECAMATAN KAMANG BARU"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

KOMPOSISI SAPLING PADA KAWASAN PENYANGGA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT KILIRAN JAO KECAMATAN KAMANG BARU

KABUPATEN SIJUNJUNG

Oleh

Gusmayeni Mardian, Nursyahra dan Abizar

Program studi biologi STKIP PGRI Sumatera Barat

Abstrak

Sapling is the young trees have high more than 1,5 m and diameters < 10 cm. knowledge of the sapling is very important because it describes the regeneration of trees in the future. Research about composition of sapling at buffer zone in palm plantation Kiliran Jao Kecamatan Kamang Baru Kabupaten Sijunjung. have been carried out from Juni until August 2014 by using the transect with quadrate plot. The results showed the composition of seedling at buffer zone was 30 species 17 families and 110 individuals. The highest individual of sapling at buffer zone was Euphorbiaceae (38 individual). The highest relative diversity was Mallotus subpeltatus (20,909%). Species have the highest relative frequency wasMallotus subpeltatusdanSemecarpus sp. (9,231%). Euphorbiaceae is categorized as dominant family while the family Anacardiaceae, Annonaceae and Leeaceae can be categorized as a co-dominant.

Keywords : composition, sapling

Pendahuluan

Hutan tropis Indonesia merupakan bagian dari paru - paru dunia. Namun, hutan di Indonesia mengalami kerusakan dengan laju 2,4 juta ha/tahun. Saat ini kawasan tersebut mengalami tekanan sangat berat, mulai dari praktek legal logging, illegal logging, kebakaran hutan serta tumpang tindihnya peruntukan antara hutan dan perkebunan kelapa sawit, Hak Pengelolaan Hutan (HPH), serta pertambangan (Forest watch Indonesia dan Global forest watch, 2003).

Akibat kerusakan hutan akan membuat kondisi hutan tersebut berubah secara dratis menjadi hutan sekunder. Anakan pohon merupakan awal dari suatu proses regenerasi di dalam suatu ekosistem dimana proses tersebut sangat kuat dipengaruhi oleh tingkat gangguan terhadap ekosistemnya.

Konversi hutan menjadi perkebunan sawit menjadi penyebab utama penurunan biodiversitas hutan hujan tropis dataran rendah di Indonesia (Basyar, 2001; Goenadi, Dradjat, dan Hutabarat, 2005 dalam Purnomo, 2012).

Kepedulian konsumen kelapa sawit terhadap produk yang ramah lingkungan mensyaratkan produk minyak sawit harus berasal dari kebun yang dikelola berdasarkan asas kelestarian.

Konsep tersebut mendorong dibentuknya Round Table on Sustainable Palm Oil(RSPO) yang telah memformulasikan perangkat kriteria dan indikator untuk produksi lestari.

Upaya pemenuhan target-target RSPO dilakukan dengan menyediakan area konservasi pada setiap perkebunan kelapa sawit untuk melindungi biodiversitas di dalamnya. Area konservasi dalam perkebunan pada umumnya memiliki luasan yang terbatas dan terisolasi oleh area perkebunan yang luas.

Area konservasi ini berfungsi sebagai kawasan penyangga (Buffer zone) (Purnomo, 2012).

Salah satu perkebunan kelapa sawit yang memiliki kawasan konservasi adalah Perkebunan sawit PT. Bina Pratama Sakato Jaya (BPSJ). Kawasan yang dijadikan sebagai lahan konservasi di perkebunan kelapa sawit PT. Bina Pratama Sakato Jaya ini luasnya ± 2,5 Ha.

(2)

PT. Bina Pratama Sakato Jaya terletak di Sungai Tenang Kecamatan Kamang Baru secara geografis terletak pada 101⁰24’13.52” – 101⁰32’6.80 BT dan 12’40.11” - 047’48.69 LS. Jarak PT. Bina Pratama Sakato Jaya dari ibu kota propinsi 239 km, dari ibu kota kabupaten + 125 km, dari ibu kota kecamatan + 20 km dan 12 km dari Jalan Lintas Sumatera. Perkebunan kelapa sawit PT. Bina Pratama Sakato Jaya Kiliran Jao ini sebelah utara berbatasan dengan peladangan masyarakat Kamang, dan Timpeh 4 dan Timpeh 5, sebelah barat berbatasan dengan peladangan warga kampung Sungai Tenang dan Parit Rantang, sebelah selatan dengan peladangan warga Kampung Suro dan Muara Takung, dan sebelah barat berbatsan dengan peladangan warga Beringin Sakti (SP3) dan Kampung Suro (BPSJ, 2014).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui species dan komposisi sapling pada kawasan penyangga di perkebunan kelapa sawit Kiliran Jao Kecamatan Kamang Baru Kabupaten Sijunjung.

Bahan dan Metoda

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode garis berpetak Terlebih dahulu dilakukan survei lokasi penelitian.

Kemudian dilakukan pembuatan plot yang berukuran 5 m x 5 m. Kemudian pada setiap plot dilakukan pengamatan pada seluruh sapling dan semua sampel diberi nomor, mencatat ciri morfologi, serta jumlah individu dari setiap jenis sapling yang dijumpai pada lokasi pengamatan. Seluruh individu yang diberi nomor sampel, kemudian dilakukan pengawetan spesimen. Selanjutnya juga dilakukan pencatat-an data faktor lingkungan meliputi suhu udara dan kelembaban udara..

Individu yang telah jadi spesimen selanjutnya dikeringkan dengan menggunakan oven untuk dan diidentifikasi, identifikasi dibantu dengan buku identifikasi tumbuhan ataupun dibantu oleh ahli taksonomi tumbuhan.

Hasil dan Pembahasan

Dari penelitian yang telah dilakukan pada kawasan penyangga (buffer zone) di perkebunan sawit Kiliran Jao Kecamatan Kamang Baru Kabupaten Sijunjung, maka diperoleh hasil sebanyak 17 familia yang terdiri dari 30 species dan 110 individu. Hasil tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

(3)

Tabel 1. Species sapling pada kawasan penyangga di perkebunan sawit Kiliran Jao Kecamatan Kamang Baru Kabupaten Sijunjung

No Familia Species Jumlah individu Total

individu Transek I Transek II

I Anacardiaceae 1 Spondias pinnata 0 3 3

2 Semecarpussp. 2 9 11

II Annonaceae 3 Goniothalamus tapis 1 1 2

4 Popowiasp. 2 1 3

5 Phaeanthussp. 1 1 2

6 Polyalthiasp. 1 0 3 3

7 Polyalthiasp. 2 0 4 4

III Araliaceae 8 Polysciassp. 0 1 1

IV Chrysobalanaceae 9 Licaniasp. 0 1 1

V Ebenaceae 10 Dyospyros cauliflora 0 3 3

VI Euphorbiaceae 11 Aporosasp. 1 4 5

12 Cleistanthus sumatranus 3 0 3

13 Drypetes polyneura 0 3 3

14 Macaranga hullettii 0 1 1

15 Macaranga tanarius 1 2 3

16 Mallotus subpeltatus 14 9 23

VII Leguminosae 17 Acaciasp. 2 0 2

VIII Lauraceae 18 Beilschmiediasp. 1 1 2

19 Litseasp. 1 3 4

IX Leeaceae 20 Leea indica 0 2 2

21 Leea rubra 2 7 9

X Melastomaceae 22 Memecylon paniculatum 0 1 1

XI Meliaceae 23 Chisochetonsp. 0 1 1

XII Myristicaceae 24 Myristicasp. 1 2 3

XII Myrtaceae 25 Eugenia patens 3 0 3

26 Syzigiumsp. 0 1 1

XIV Piperaceae 27 Piper aduncum 0 2 2

XV Rhamnaceae 28 Ziziphussp. 1 1 2

XVI Rhizophoraceae 29 Carallia brachiata 0 1 1

XVII Sapindaceae 30 Nepheliumsp. 2 4 6

Jumlah 38 72 110

(4)

Tabel 2. Komposisi sapling pada kawasan penyangga di perkebunan sawit Kiliran Jao Kecamatan Kamang Baru Kabupaten Sijunjung

Keterangan : ** = Dominan

* = Co-dominan

No Familia Species Individu familia Dominan dan

Co-dominan (%)

1 Anacardiaceae 2 14 12,727*

2 Annonaceae 5 14 12,727*

3 Araliaceae 1 1 0,909

4 Crysobalanaceae 1 1 0,909

5 Ebenaceae 1 3 2,727

6 Euphorbiaceae 6 38 34,545**

7 Leguminosae 1 2 1,818

8 Lauraceae 2 6 5,455

9 Leeaceae 2 11 10,000*

10 Melastomaceae 1 1 0,909

11 Meliaceae 1 1 0,909

12 Myristicaceae 1 3 2,727

13 Myrtaceae 2 4 3,636

14 Piperaceae 1 2 1,818

15 Rhamnaceae 1 2 1,818

16 Rhizophoraceae 1 1 0,909

17 Sapindaceae 1 6 5,455

Jumlah 30 110 100

(5)

Tabel 3. Kerapatan dan Frekuensi sapling yang di temukan pada Kawasan Penyangga di Perkebunan Sawit Kiliran Jao Kecamatan Kamang Baru Kabupaten Sijunjung

No. Familia No Species Ʃ K KR F FR

I Anacardiaceae 1 Spondias pinnata 3 0,012 2,727% 0,100 1,538%

2 Semecarpussp. 11 0,044 10,000% 0,600 9,231%

II Annonaceae 3 Goniothalamus tapis 2 0,008 1,818% 0,200 3,077%

4 Popowiasp. 3 0,012 2,727% 0,200 3,077%

5 Phaeanthussp. 2 0,008 1,818% 0,200 3,077%

6 Polyalthiasp. 1 3 0,012 2,727% 0,100 1,538%

7 Polyalthiasp. 2 4 0,016 3,636% 0,200 3,077%

III Araliaceae 8 Polysciassp. 1 0,004 0,909% 0,100 1,538%

IV Chrysobalanaceae 9 Licaniasp. 1 0,004 0,909% 0,100 1,538%

V Ebenaceae 10 Dyospyros cauliflora 3 0,012 2,727% 0,200 3,077%

VI Euphorbiaceae 11 Aporosasp. 5 0,020 4,545% 0,200 3,077%

12 Cleistanthus sumatranus 3 0,012 2,727% 0,100 1,538%

13 Drypetes polyneura 3 0,012 2,727% 0,200 3,077%

14 Macaranga hullettii 1 0,004 0,909% 0,100 1,538%

15 Macaranga tanarius 3 0,012 2,727% 0,300 4,615%

16 Mallotus subpeltatus 23 0,092 20,909% 0,600 9,231%

VII Leguminoseae 17 Acaciasp. 2 0,008 1,818% 0,100 1,538%

VIII Lauraceae 18 Beilschmiediasp. 2 0,008 1,818% 0,200 3,077%

19 Litseasp. 4 0,016 3,636% 0,300 4,615%

IX Leeaceae 20 Leea indica 2 0,008 1,818% 0,200 3,077%

21 Leea rubra 9 0,036 8,182% 0,500 7,692%

X Melastomaceae 22 Memecylon paniculatum 1 0,004 0,909% 0,100 1,538%

XI Meliaceae 23 Chisochetonsp. 1 0,004 0,909% 0,100 1,538%

XII Myristicaceae 24 Myristicasp. 3 0,012 2,727% 0,300 4,615%

XIII Myrtaceae 25 Eugenia patens 3 0,012 2,727% 0,200 3,077%

26 Syzigiumsp. 1 0,004 0,909% 0,100 1,538%

XIV Piperaceae 27 Piper aduncum 2 0,008 1,818% 0,100 1,538%

XV Rhamnaceae 28 Ziziphussp. 2 0,008 1,818% 0,200 3,077%

XVI Rhizophoraceae 29 Carallia brachiata 1 0,004 0,909% 0,100 1,538%

XVII Sapindaceae 30 Nepheliumsp. 6 0,024 5,455% 0,500 7,692%

Jumlah 110 0,440 100% 6,500 100%

Keterangan : K= Kerapatan FR= Frekuensi Relatif KR= Kerapatan Relatif Ʃ= Jumlah Individu F = Frekuensi

(6)

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di lapangan tentang komposisi sapling pada kawasan penyangga di perkebunan kelapa sawit Kiliran Jao, species Mallotus subpeltatusmendominasi di kawasan penyangga ini, hal tersebut dapat dilihat dari jumlah individu yang ditemukan baik pada transek I maupun pada transek II. Dimana pada kedua transek speciesMallotusmemiliki jumlah individu terbanyak. Hal ini menunjukan bahwa species Mallotus mampu hidup dengan baik pada kondisi lingkungan yang berada pada kawasan penyangga di perkebunan kelapa sawit ini yang suhunya berkisar dari 30,2 – 31⁰C dengan kelembaban 70,5 – 71 %. Species Mallotus (balik angin) dapat digunakan sebagai obat – obatan tradisional. Daunnya dapat digunakan sebagai obat demam dan obat sakit kepala sedangkan air dari akar yang direbus lebih dulu dapat diminumkan untuk ibu-ibu sesudah proses melahirkan (Djarwaningsih, 2007).

Menurut Silk, Kebler dan Welzen dalam Solviana (2012), bahwa Macaranga dan Mallotus dari familia Euphorbiaceae merupakan species pionir. Kombinasi antara species Macaranga dan Mallotus dapat digunakan sebagai parameter untuk memprediksi gangguan hutan.

Dari species yang didapatkan yang memiliki nilai ekonomis diantaranyaSyzigium sp (kayu kelat) sering dipakai untuk keperluan kayu bangunan dan pertukangan. Sedangkan Diospyros (kayu arang-arang) termasuk jenis penghasil kayu perdagangan penting bagi sektor kehutanan (Rasnovi, Vincent, Kusmana dan Tjitrosemito, 2007).

Familia yang memiliki jumlah individu terbanyak adalah familia Euphorbiaceae (34,545%) yaitu sebanyak 6 species dan 38 individu. Familia kedua terbanyak adalah familia Anacardiaceae (12,727%) sebanyak 2 species dan 14 individu, familia Annonaceae (12,727%) sebanyak 5 species dan 14 individu serta terbanyak ketiga adalah familia Leeaceae (10,000%) sebanyak 2 species dan 11 individu. Sedangkan familia yang memiliki persentase terendah adalah familia Araliaceae, Chrysobalanaceae, Melastomaceae, Meliaceae dan Rhizophoraceae (0,909%). Familia Euphorbiaceae dikategorikan sebagai familia

dominan sedangkan familia Anacardiaceae, Annonaceae dan Leeaceae dapat dikategorikan sebagai familia co-dominan. Menurut Johnston dan Gilman (1995 dalam Kardiman, 2012) familia yang memiliki nilai presentase > 20%

dikategorikan sebagai familia dominan selanjutnya familia yang memiliki nilai presentase 10 - 20% dikategorikan sebagai familia co-dominan.

Dilihat dari komposisi sapling dan keadaan vegetasi, maka kawasan penyangga di perkebunan kelapa sawit Kiliran Jao Kecamatan Kamang Baru Kabupaten Sijunjung ini termasuk kedalam hutan sekunder karena sudah mengalami gangguan dan adanya daerah–daerah yang terbuka. Pada kawasan penyangga ini ditemukan 6 species dari familia Euphorbiaceae. Menurut Whitmore (1990 dalam Solviana, 2012) familia Euphorbiaceae merupakan salah satu species pionir . Dengan ditemukannya banyak species pionir pada kawasan ini maka dapat dikatakan bahwa kawasan penyangga ini telah terganggu.

Kerapatan relatif tertinggi ditemukan pada species sapling Mallotus subpeltatus (20,909%) dari familia Euphorbiaceae, yang mana species ini di temukan hampir pada setiap plot pengamatan.

Frekuensi relatif tertinggi ditemukan pada species Mallotus subpeltatus dan Semecarpus sp. (9,231%). Mallotus subpeltatus dan Semecarpus sp. merupakan species tumbuhan dengan tingkat penguasaan yang tinggi pada kawaan penyangga ini.

Tingginya frekuensi relatif tersebut menunjukan bahwa penyebaran species Mallotus subpeltatusdanSemecarpussp. lebih luas dibandingkan dengan species lainnya.

Whitmore (1975 dalam Wahyudi, 2004) mengatakan bahwa tinggiya nilai frekuensi relatif dari suatu berarti species tersebut mempunyai penyebaran yang lebih luas dari species lainnya.

Kesimpulan

1. Sapling yang didapatkan sebanyak 30 species yang terdiri dari 17 famili dan 110 individu.

(7)

2. Komposisi sapling untuk kerapatan relatif tertinggi adalah Mallotus subpeltatus (20,909%) dan terendahnya adalah Polyscias sp., Licania sp., Macaranga hulletti, Memecylon paniculatum, Chisocheton sp., Syzigium sp., dan Carallia brachiata(0,909%). Species yang memiliki frekuensi relatif tertinggi adalah Mallotus subpeltatus dan Semecarpus sp.

(9,231%) sedangkan terendahnya adalah Spondias pinnata, Polyalthia sp.1, Polyscias sp., Licania sp., Cleistanthus sumatranus, Macaranga hulletti, Acacia sp., Memecylon paniculatum, Chisocheton sp., Syzigium sp., Piper aduncum, dan Carallia brachiata(1,538 %).

Ucapan Terimakasih

Dengan selesainya penelitian ini penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak PT. Incasi Raya Group dan PT. BPSJ atas bantuan, fasilitas dan pertolongan selama di lapangan.

Daftar pustaka

BPSJ. 2014. Profil Perusahaan.

Corner, E. J. H dan K. Watanabe. 1969.

Illustrated Guide to Tropical Plants.

Tokyo: Hirokawa Publishing Company.

Djawarningsih, T. 2007. Jenis – Jenis Euphorbiaceae (Jarak – Jarakan) Yang Berpotensi Sebagai Tanaman Obat Tradisional. Herbarium

Bogoriense Bidang Botani. Cibinong Science Center: Puslit Biologi – LIPI.

Forest Watch Indonesia-Global Forest Watch.

2003. Keadaan Hutan Indonesia.

http://www.Scribd.Com.

Hansen, B. 1976. Flora Malesiana, series 1, Spermatophyta. Germany: Noordhoff International Publishing, Leiden. P : 783-805.

Kardiman, R. 2011. Struktur Tegakan Pohon Setelah 14 Tahun Penebangan di Plot Permanen Bukit Gajabuih. Jurnal.

Padang: Universitas Andalas.

Purnomo, D. W. 2012. Desain Koridor Vegetasi untuk mendukung Nilai Konservasi Kawasan Perkebunan Sawit. Jurnal. Bogor: Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogar – LIPI

Rasnovi,S., Vincent, G., Kusmana, C. dan Tjitrosemito, S. 2007. Keragaman Jenis Anakan Tumbuhan Berkayu pada Wanatani Karet: Pengaruh Umur dan Intensitas Manajemen. Bagian 3 – 6 : Jambi.

Schulze, E. D., Beck, E., dan Hohenstein, K.

M. 2005. Plant Of Ecology.

Germany: Springer. ISBN 3 – 540 – 20833 – X.

Solviana. 2012. Komposisi dan Struktur Seedling dan Sapling pada Lahan Pra dan Pasca Tambang Batubara PT.

SLN di Kabupaten Dharmasraya.

Jurnal. Padang: Universitas Andalas.

Whitmore, T. C. 1972. Tree Flora of Malaya.

London: Longman Group Limited.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka peneliti telah melakukan penelitian tentang komposisi vegetasi dasar pada perkebunan kelapa sawit di

Salah satu daerah yang memiliki perkebunan kelapa sawit terluas di Sumatera selatan yaitu Kabupaten Banyuasin dimana luas perkebunan kelapa sawit-nya sebesar 27.536 Ha

Nilai lingkungan perkebunan kelapa sawit akan terasa pada saat musim kemarau yaitu terjadi perbedaan jumlah defisit air antara sebelum dan sesudah adanya

Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui jenis-jenis tumbuhan paku- pakuan yang ada di kawasan perkebunan kelapa sawit Desa Pembuang Hulu II1. (2) mengetahui manfaat

Komposisi Coleoptera permukaan tanah di areal perkebunan kelapa sawit di Kenagarian Manggopoh Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam terdiri dari 10 famili, 15 genus

mengembangkan ternak sapi pada kawasan perkebunan kelapa sawit di Propinsi Jambi dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh variabel yang diamati (luas lahan kebun

Perbandingan hasil pengamatan jenis burung di kawasan monokultur (perkebunan kelapa sawit PT. AWB, Kabupaten Dharamasraya, Sumatera Barat) dan kawasan lain yang

Hadirnya perkebunan kelapa sawit di desa Purwosari Baru telah membawa dampak langsung bagi kehidupan sosial masyarakat setempat maupun sekitarnya diantaranya yaitu: a Menurut para