PERKEMBANGAN BAHASA ANAK AUTIS
Anita Solihatul Wahidah, M.Pd.I, M.Si IAI Ngawi
Abstract
The language limitations experienced by autistic children encourage them to form appropriate communication patterns to be able to build and develop autistic children’s communication as the main medium of interaction with the environment, one of which is non-verbal communication. This background makes researchers conduct research on non-verbal communication, the right solution to improve the language of children with autism.
This study uses descriptive qualitative research methods, namely research methods that describe, describe and interpret the object under study systematically so that researchers can find out how to apply non-verbal communication to improve communication skills of autistic children. This research method uses data collection techniques through observation or observations and interviews. The data analysis technique used in this research is descriptive qualitative by interpreting the data in the form of observations and interviews obtained.
The results of the study concluded that to improve the language skills of autistic children, a teacher could use non-verbal communication. The forms of non-verbal communication that teachers often use are facial expressions, body and hand movements, touch, and proximity. And for the results of observations, it is known that some autistic children have increased, such as: being able to pronounce words fluently without stuttering, getting more fluent in language even though they are still slurred, because to improve the condition of the lisp it is not enough in a short time, the ability to socialize has also experienced improvement after being invited to fantasy exercise together, having started to be able to focus and say words according to the teacher’s orders, the behavior of children who used to be difficult to control has now decreased because the focus of children’s attention has increased to the teacher as a source of communication after the teacher keeps a close distance with them.
Keywords: Non-Verbal Communication, Language Development of Autistic Children
Abstrak
Keterbatasan bahasa yang dialami anak autis mendorong untuk membentuk pola komunikasi yang tepat untuk mampu membangun dan mengembangkan komunikasi anak autis sebagai media utama berinteraksi dengan lingkungan, salah satunya dengan komunikasi non verbal. Latar belakang inilah yang menjadikan peneliti melakukan penelitian komunikasi non verbal solusi tepat tingkatkan berbahasa anak autis.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif yaitu metode penelitian yang menggambarkan, memaparkan dan menginterpretasikan objek yang diteliti dengan sistematis sehingga peneliti dapat mengetahui bagaimana penerapan komunikasi non verbal untuk meningkatkan kemampuan komunikasi anak autis.
Metode penelitian ini, menggunakan teknik pengumpulan data melalui pengamatan atau observasi dan wawancara. Tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan memaknai data-data berupa hasil pengamatan dan wawancara yang diperoleh.
Hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak autis seorang guru bisa menggunakan komunikasi non verbal.
Bentuk-bentuk komunikasi non verbal yang seing digunakan guru adalah ekspresi wajah, gerakan tubuh dan tangan, sentuhan, dan kedekatan jarak. Dan untuk hasil observasi diketahui bahwa beberapa anak autis mengalami peningkatan seperti:
sudah mampu mengucapkan kata-kata dengan lancar tanpa terputus-putus, semakin lancar dalam berbahasa meskipun masih cadel, karena untuk memperbaiki kondisi cadelnya tidak cukup waktu yang singkat, kemampuan bersosiaslisasi juga sudah mengalami peningkatan setelah sering diajak senam fantasi bersama-sama, sudah mulai bisa fokus dan mengucapkan kata sesuai dengan perintah guru, Perilaku anak yang dulunya masih susah dikendalikan sekarang sudah berkurang karena fokus perhatian anak meningkat kepada guru sebagai sumber komunikasi setelah guru menjaga kedekatan jarak dengan mereka.
Kata kunci : Komunikasi Non Verbal, Perkembangan Bahasa Anak Autis
A. PENDAHULUAN
Dalam dunia pendidikan anak, lebih dari sepuluh tahun yang lalu, sebagian besar pengajar di sekolah konvensional tidak menyadari pentingnya meningkatkan pemahaman secara komprehensif terhadap murid-murid dengan kebutuhan pendidikan khusus. Murid- murid berkebutuhan khusus ini dianggap lebih layak ditempatkan di sekolah khusus atau istilah yang populer sebagai Sekolah Luar Biasa (SLB).84
Namun beberapa tahun terahir mulai banyak sekolah biasa mencoba merangkul murid-murid dengan beragam kebutuhan pendidikan khusus, termasuk murid-murid dengan spektrum autisme. Peningkatan kesadaran ini tentu bersamaan dengan peningkatan tanggung jawab. Oleh sebab itu agar memahami karakter murid berkebutuhan khusus terutama spektrum autis, guru harus memahami kebutuhan-kebutuhan anak ini. Untuk membantu murid-murid autis, kita harus mampu memahami kebutuhan setiap anak.
Gangguan spektrum autis merupakan ketidakmampuan anak yang tergabung dalam tiga
84 Francine Brower, 100 Ide Membimbing Anak Autis, alih bahasa Novita Heny Purwanti, cet. Ke-1 (Jakarta: Erlangga, 2010), hlm. ix
aspek gangguan keharmonisan hubungan, yaitu gangguan komunikasi, sosialisasi, dan penolakan terhadap perubahan atau hal baru.85 Untuk itu penerapan komunikasi yang tepat untuk menjalin hubungan dengan murid penyandang autis sangat diperlukan. Hal inilah yang akan dicoba diutarakan dalam tulisan ini.
Komunikasi dapat dikatakan sebagai kemampuan untuk membiarkan orang lain mengetahui apa yang diinginkan individu, menjelaskan tentang sesuatu kepada orang lain, serta untuk mengetahui sesuatu dari orang lain. Dengan kata lain, komunikasi merupakan suatu aktivitas sosial antar dua orang atau lebih untuk dapat saling bertukar informasi.
Kita sering menganggap bahwa komunikasi adalah seni berbicara. Pada kenyataannya, komunikasi merupakan kombinasi dari gerakan tubuh, bahasa tubuh, ekspresi wajah, intonasi dan konteks atau kondisi yang berlaku pada saat itu.86
Berkomunikasi dengan peserta didik sangat penting bagi guru dalam proses pembelajaran. Dengan berkomunikasi, guru dapat menyampaikan pesan berupa informasi, gagasan, arahan, harapan dan suatu penjelasan materi pembelajaran kepada peserta didik.
Melalui komunikasi, guru juga dapat memotivasi dan menggerakkan peserta didik untuk giat belajar, serta menjalin hubungan erat dengan peserta didik untuk kelancaran proses pembelajaran. Oleh karena itu guru harus mampu berkomunikasi secara baik dan efektif dengan peserta didik.87
Komunikasi juga penting dalam dunia pendidikan anak berkebutuhan khusus autis. Anak berkebutuhan khusus tentu memiliki pola dan karakteristik tersendiri dalam berkomunikasi. Menurut Okha, autis adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak yang gejalanya telah timbul sebelum anak tersebut mencapai usia tiga tahun. Penyebabnya adalah gangguan neurobiologist yang mempengaruhi fungsi otak sehingga anak tidak mampu berkomuniaksi dan berinteraksi dengan dunia luar secara aktif. Untuk itu komunikasi dan hubungan sosial sangat penting dibangun sejak kecil kepada anak penyandang autisme.88
Dalam aspek komunikasi anak autis mengalami permasalahan pada kemampuan berbicara yang sangat lambat.Bahkan bicaranya sama sekali tidak berkembang serta tidak ada usaha dari sang anak untuk dapat mengimbangi komunikasi dengan orang lain atau kalau anak autis dapat berbicara maka bicaranya tersebut tidak dipakai untuk berkomunikasi dengan orang lain tetapi dengan dirinya sendiri dan sering pula menggunakan bahasa atau kata-kata yang aneh yang tidak dimengerti serta diulang-ulang.
Jika pada usia 2-3 tahun, di masa anak balita lain mulai belajar bicara, anak autis tidak menampakkan tanda-tanda perkembangan komunikasi/ bahasa. Kadang kala ia mengeluarkan suara tanpa arti. Namun anehnya, sekali-kali ia bisa menirukan kalimat atau nyanyian yang sering ia dengar. Tapi bagi dia, kalimat ini tidak ada maknanya. Kalau pun ada perkembangan bahasa, biasanya ada keanehan dalam kata-katanya. Setiap kalimat yang diucapkan bernada tanda tanya atau mengulang kalimat yang diucapkan olehorang lain (seperti latah) atau membeo. Tata bahasanya kacau, sering menyebut “kamu” sedangkan yang dimaksud “saya”.89
Keterbatasan bahasa yang dialami anak autis mendorong untuk membentuk pola
85 Ibid
86 Ibid., hlm. 16
87 Nur Irwantoro, Yususf Suryana, Kompetensi Pedagogik: Untuk Peningkatan dan Penilaian Kinerja Guru dalam Rangka Implementasi Kurikulum Nasional, (Surabaya: Genta Grop Production, 2016), hlm. 389
88 Kak Okha, Permainan & Aktivitas Sederhana Serta Mudah Dipraktikkan untuk Anak Autis, (Jogjakarta:JAVALITERA, 2007), hlm 5.
89 Geniofam, Mengasuh & Mensukseskan Anak Berkebutuhan Khusus, (Yogyakarta: Garailmu, 2010), hlm. 31
komuniaksi yang tepat untuk mampu membangun dan mengembangkan komunikasi anak autis sebagai media utama berinteraksi dengan lingkungannya salah satunya dengan komunikasi non verbal.
B. PENGERTIAN KOMUNIKASI NON VERBAL
Menurut Hardjana, sebagaimana dikutip oleh Nur Irwanto, pengertian komunikasi secara etimologis berasal dari bahasa Latin yaitu cum, sebuah kata depan yang artinya
‘dengan’ atau ‘bersama dengan’, dan kata umus, sebuah kata bilangan yang berarti ‘satu’.
Dua kata tersebut membentuk kata benda communio, yang dalam bahasa inggris disebut communion, yang mempunyai makna ‘kebersamaan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan, atau hubungan’. Maka komunikasi memiliki makna ‘pemberitahuan, berhubungan, pembicaraan, percakapan, dan pertukaran pikiran’.90
Nur Irwantoro danYusuf Suryana, mengutip pendapat Effendi, menyampaikan bahwa secara umum komunikasi adalah proses penyampaian suatu pernyataan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain sebagai konsekuensi dari hubungan sosial.91 Dalam pengertian lain, Wiryawan dan Noorhadi mendefinisikan komunikasi sebagai proses penyampaian gagasan dari seseorang kepada orang lain. Menurut Lexicograper, seorang ahli kamus bahasa, komunikasi adalah suatu upaya yang bertujuan memberi sesuatu untuk mencapai kebersamaan. Bila dua orang berkomunikasi maka terjadi pemahaman yang sama terhadap pesan yang saling dipertuturkan dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan oleh keduanya.92
Dari beberapa definisi pengertian komunikasi di atas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses penciptaan persamaan pengertian, ide, pemikiran dan sikap terhadap orang lain. Dalam proses komunikasi paling tidak terdapat beberapa komponen yang terlibat, yaitu sumber, pesan, saluran/media, penerima, dan timbal balik/efek. Keseluruhan komponen tersebut sama pentingnya dalam mewujudkan proses komunikasi yang efektif.
Menurut Ruben & Stewart, sebagaimana dikutip oleh Prisca Oktafia Della, komunikasi nonverbal memiliki beberapa saluran, yaitu paralanguage, wajah dan gerakan tubuh (kinesics), sentuhan (haptics), penampilan fisik serta proximity (jarak) dan chronemics (waktu).93
1. Paralanguage (Vokalik)
Salah satu bagian dari paralanguage adalah vocalics- pesan-pesan auditori yang diciptakan dalam proses bicara (cara berbicara). Bagaimana nada bicara, nada suara, keras atau lemahnya suara, kecepatan berbicara & intonasi. Sebelum anak-anak mengembangkan kemampuan berbahasa mereka, pola nada dalam bahasa merupakan hal familier yang mereka tangkap. Dalam terapi wicara, anak-anak autis diajarkan mengenali kata-kata dengan menggunakan nada suara, intonasi dan penekanan yang jelas, sehingga mereka dapat menangkap makna dari pentingnya kata-kata yang digunakan.94
90 Nur Irwantoro, Yususf Suryana, Kompetensi Pedagogik: Untuk Peningkatan dan Penilaian Kinerja Guru dalam Rangka Implementasi Kurikulum Nasional, (Surabaya: Genta Grop Production, 2016), hlm. 391
91 Ibid.
92 Ibid.,
93 Prisca Oktafia Della, Penerapan Metode Komunikasi Non Verbal yang Dilakukan Guru Pada Anak-Anak Autis Di Yayasan Pelita Bunda Therapy Center Samarinda, (Samarinda: Universitas Mulawarman, 2016), hlm.
117
94 Ibid.
2. Kinestics
Mencakup gerakan tubuh, lengan & kaki, ekspresi wajah (facial expression), dan perilaku mata (eye behavior). Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, ekspresi wajah kita akan selalu berubah tanpa melihat apakah kita sedang berbicara atau mendengarkan.
Orang-orang yang terlibat dalam tindak komunikasi sering menggerakkan kepala dan tangannya selama interaksi berlangsung. Mata juga merupakan saluran komunikasi nonverbal yang penting, tidak hanya selama interaksi tetapi juga sebelum dan sesudah interaksi berakhir. Dengan memelihara kontak mata dan tersenyum, orang-orang yang terlibat mengindikasikan bahwa mereka tertarik dengan persoalan yang sedang diperbincangkan.95
Hal ini dirasa penting untuk menyampaikan pesan dalam komunikasi secara benar dan menghindari adanya perbedaan persepsi atau pandangan yang bisa berdampak pada terjadinya miskomunikasi.
3. Haptics (sentuhan)
Haptics atau sentuhan atau kontak tubuh dikatakan oleh Emmert dan Donaghy, seperti yang dikutip Prisca, adalah cara terbaik untuk mengomunikasikan sikap pribadi, baik yang positif mapupun yang negatif. Frekuensi dan durasi sentuhan dapat menjadi indikator tentang persahabatan dan rasa suka di antara orang yang melakukannya.
Contohnya, berjabat tangan, berpelukan, menyentuh lengan atas (persahabatan), menampar, memukul, mengelus kepala, mencium tangan, dan sebagainya.96
Sentuhan dalam membangun komuniaksi antar guru dan anak penyandang autis sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan dnegan sentuhan anak akan merasa lebih dekat dengan guru. Setelah muncul kedekatan dan rasa nyaman dari anak maka guru bisa mulai melakukan komuniaksi dengan anak. Komuniaksi yang dibangun dari kedekatan hubungan melalaui sentuhan ini akan efektif dan mampu membantu perkembangan kemampuan berbahasa anak autis.
4. Proxemics (jarak)
Proxemics adalah suatu cara bagaimana orang-orang yang terlibat dalam suatu tindak komunikasi berusaha untuk merasakan dan menggunakan ruang (space).97 Jarak dalam komunikasi dapat digunakan ketika bersama dengan orang lain, dalam hal ini termasuk juga tempat atau lokasi posisi atara gguru dan murid berada. Pengaturan jarak menentukan seberapa jauh atau seberapa dekat tingkat keakraban guru dengan siswa, menunjukkan seberapa besar penghargaan, suka atau tidak suka dan perhatian guru terhadap orang lain, selain itu juga menunjukkan simbol sosial hubungan kemasyarakatan.
C. KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA DINI
Kemampuan berbahasa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan anak. Kemampuan berbahasa yang baik dapat membantu anak dalam berkomunikasi, menyampaikan ide dan gagasannya, bercakap-cakap dengan orang lain dan juga sebagai alat untuk berpikir.
Kemampuan berbahasa anak terjadi secara bertahap seiring dengan perkembangan kognitif, sosial emosional, fisik dan lain sebagainya. Perkembangan bahasa anak dimulai
95 Ibid.
96 Ibid.
97 Ibid.
dengan menangis. Begitu anak lahir, bahasa pertama yang dilakukannya adalah dengan menangis. Hal ini menunjukkan bahwa alat ujar anak berfungsi dengan baik. Perkembangan bahasa belum sempurna sampai akhir masa bayi, dan akan terus berkembang sepanjang kehidupan anak. Ketika seorang anak masuk Taman Kanak-kanak atau sekitar usia 5 tahun, anak telah menguasai hampir semua bentuk dasar tata bahasa. Anak sudah dapat membuat pertanyaan, kalimat negatif, kalimat tunggal, serta kalimat majemuk.98
Menurut Sefeldt dan Nita B, sebagaimana dikutip Sunardi, mengemukakan bahwa perkembangan bahasa anak usia 4-6 tahun secara umum adalah sebagai berikut:
1. Perkembangan bahasa terjadi dengan sangat cepat.
2. Pada usia tiga tahun, anak berbicara secara monolog dan pada usia 4 tahun anak menguasai 90% fonetik dan sintaksis, tetapi masih sangat umum.
3. Anak sudah mampu terlibat dalam percakapan dengan anak atau orang dewasa lainnya.
4. Diawal usia 5 tahun, anak sudah memiliki perbendaharaan kata sebanyak kira-kira 2500 kata.
5. Anak sering mengalami kesulitan mengucapkan suara huruf l, r, sh.
6. Anak sering salah mengerti tentang kata-kata dan digunakannya sebagai humor.
7. Anak menjadi pembicara yang tidak putus-putus.99
Sementara itu Padmonodewo, sebagaimana dikutip oleh Sunardi, mengemukakan bahwa dalam perkembangan berbahasa, anak secara bertahap berubah dari sekedar melakukan ekspresi saja ke berekspresi dengan berkomunikasi, dan dari hanya berkomunikasi dengan menggunakan gerakan dan isyarat untuk menunjukkan kemauannya, berkembang menjadi komunikasi melalui ujaran yang jelas dan tepat. Lebih lanjut dijelaskan bahwa anak telah mampu mengembangkan keterampilan berbicara melalui percakapan yang dapat memikat orang lain. Mereka menggunakan bahasa dengan berbagai cara misalnya dengan bertanya, berdialog, berbicara untuk mengekspresikan perasaan dan ide-idenya, atau mendeskripsikan suatu benda, dan peristiwa yang diamatinya, serta bernyanyi.100
Dari kedua pendapat di atas dapat penulis menyimpulkan bahwa perkembangan bahasa anak terjadi secara bertahap dan sangat cepat. Kemampuan berbahasa anak diaktualisasikan dengan berbagai cara, yakni berkomunikasi dengan orang lain untuk mengekspresikan ide, gagasan, benda-benda dan peristiwa yang dialaminya. Anak menggunakan bahasa melalui dialog, bertanya dan bahkan bernyanyi mengenai apa yang ingin disampaikannya. Di samping itu daya serap anak mengenai bahasa sangat tinggi, karena mereka ingin membentuk perbendaharaan kata yang tidak terhingga jumlahnya.
Kemampuan berbahasa ini sangat berguna bagi anak dalam berinteraksi sosial dengan teman sejawatnya. Jika anak mengalami gangguan dalam berbahasa makan anak akan mengalami perasaan minder dan enggan bersosiaslisasi dengan teman lainnya.
Hasilnya anak akan lebih asyik sendiri dengan permainannya dan semakin memperburuk kemampuan berbahasa dan berinteraksi sosial anak. Oleh karena itu peran lingkungan sangat membantu perkembangan kemampuan berbahasa anak.
D. ANAK DENGAN GANGGUAN AUTIS 1. Pengertian Autis
Menurut Handoyo, dalam buku karangan Wikasanti, autisme berasal dari kata
‘auto’ yang artinya sendiri. Istilah ini dipakai karena mereka yang mengidap gejala
98 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Sumber Belajar Penunjang PLPG 2017 Materi Pedagogik Guru Kelas PAUD/TK: Perkembangan dan Karakter Anak Usia Dini,2017, hlm. 16.
99 Ibid.
100 Ibid., hlm.17
autisme seringkali memang terlihat seperti seorang yang hidup sendiri. Mereka seolah- olah hidup di dunianya sendiri dan terlepas dari kontak sosial yang ada di sekitarnya.
Sedangkan pandangan dari Priyatna, masih dalam buku yang sama, menyatakan bahwa autisme mengacu pada problem dengan interaksi sosial, komunikasi dan bermain dengan imajinatif yang mulai muncul sejak anak berusia di bawah tiga tahun dan mereka mempunyai keterbatasan pada level aktifitas dan interest.101
2. Faktor Penyebab Autis pada Anak
Berkat hasil penemuan penelitian dan alat kedokteran yang semakin canggih, diperkuat dengan otopsi,menemukan faktor utama penyebab autis adalah faktor gangguan neurobiologis pada susunan saraf pusat (otak), atau kelainan otak. Biasanya gangguan ini terjadi dalam 3 bulan pertama masa kehamilan bila pertumbuhan sel-sel otak di beberapa tempat tidak sempurna.102Beberapa penelitian menemukan bahwa anak autis mengalami kelainan fungsi di daerah otak yang disebabkan karena adanya keracunan kehamilan, infeksi virus rubella, kejadian perinatal (setelah kelahiran) yang membuat bayi kekurangan oksigen, kesalahan pembentukan jaringan otak ketika bayi masih di dalam perut,adanya kelainan metabolisme hingga perkiraan adanya kelainan kromosom.
Pada anak autis, neurotransmitter (cairan kimiawi dalam otak yang bertugas menghantarkan impuls dan menerjemahkan respons yang diterima) mengalami perbedaan dengan orang normal. Dimana jumlahnya sekitar 30%-50% penderita autisme mengalami peningkatan serotonin dalam darah.103
Selain faktor gangguan otak, autis juga disebabkan karena faktor genetik. Adanya anggota keluarga yang mempunyai gangguan psikologis menetap seperti autis dapat membawakan gen tersebut ke anak atau keturunan mereka sebesar 3%-5%. Artinya keluarga yang memiliki satu anak autismaka memiliki peluang 1-20 kali lebih besar untuk melahirkan anak lainnya yang mengidap autis. Usia orang tua saat memiliki anak juga berpengaruh terhadap resiko autis yang diidap anak.104
Selain itu, kondisi lingkungan dengan hadirnya virus dan zat kimia atau logam dapat memicu munculnya autism. Terpaparnya janin dan anak akan bahan-bahan logam berat dapat membuat anak dapat terkena autis.105
Tiga poin utama diatas merupakan faktor yang dikenal sebagai penyebab autisme yang sering terjadi. Sehingga kita perlu memperhatikan betul agar bisa mengurangi resiko autis pada anak. Apabila kita memiliki anggota keluarga yang memiliki autisme maka kita perlu mendampingi agar selalu kuat dalam menjalani hari-harinya.
3. Ciri-ciri Autis
Berikut ini merupakan poin ciri-ciri penyandang autis menurut Supratikna, seperti di kutip Wikasanti dalam bukunya Mengupas Therapy bagi Para Tuna Grahita106 dari segi bahasa dan komunikasi dengan ciri-ciri ekspresi wajah yang datar, tidak
101 Wikasanti, Mengupas Therapy bagi Para Tuna Grahita: Retardasi Mental Sampai Lambat Belajar, (Jogjakarta: Maxima, 2014), hlm 121.
102 Geniofam, Mengasuh & Mensukseskan Anak Berkebutuhan Khusus, (Jogjakarta: Garailmu, 2010), hlm.
30
103 Ibid.
104 Esthy Wikasanti, Mengupas Therapy bagi Para Tuna Grahita: Retardasi Mental Sampai Lambat Belajar, (Jogjakarta: Maxima, 2014), hlm. 123
105 Ibid.
106 Ibid,
menggunakan bahasa/isyarat tubuh, mengerti dan menggunakan kata secara terbatas/
harafiah (literaly).
Dalam berhubungan dengan orang lain mereka tidak responsif, tidak ada senyum sosial dan tampak asyik bila dibiarkan sendiri. Begitu juga dalam hubungan dengan lingkungan mereka suka bermain repeatif (diulang-ulang), marah atau tak menghendaki perubahan-perubahan dan berkembangnya rutinitas yang kaku (rigid).
Ketika merespons terhadap rangsangan indera/sensoris mereka kadang seperti tuli, panik terhadap suara-suara tertentu, berputar-putar, membentur-benturkan kepala dan pergelangan.Sedangkan pada kesenjangan perilaku mereka suka menggambar secara rinci tapi tidak dapat mengancing baju, berjalan di usia normal, tetapi tidak dapat berkomunikasi dan suatu waktu dapat melakukan sesuatu,tetapi dilain waktu tidak dapat melakukannya lagi.
E. PERKEMBANGAN BAHASA DAN KOMUNIKASI ANAK AUTIS
Menurut Jenny Thomson, Anak autis sangat berbeda dengan anak lain dalam hal berbahasadan berkomunikasi karena mengalami kesulitan memproses dan memahami bahasa. Sebagian dari mereka mungkin mampu memproses bahasa dan memahami artinya, tetapi hanya dapat menginterpretasi bahasa secara harfiah. Contoh, saat Thomson dalam penelitiannya memberikan pelajaran memasak kepada anak autis, ia meminta anak autis untuk menuangkan air panas ke atas bubuk saos. Namun yang terjadi anak autis itu menuangkan air ke atas bungkus bubuk saos dan ke lantai. Dari sini terlihat bahwa anak autis akan mengalami kebingungan dalam menginterpetasi kata.107
Beberapa karakter perkembangan bahasa anak autis pada bidang komunikasi adalah anak cenderung jarang berbicara, percakapan terbatas, perkembangan kemampuan berbicara lebih lambat dibanding anak-anak sebayanya, tidak bisa memberikan respons secara spontan, tidak bisa masuk ke dalam situasi sosial, tidak memiliki keinginan untuk berkomunikasi.108
Oleh karena itu perlu adanya terapi pada anak penyandang autis. Terapi yang diberikansifatnya menyeluruh atau komprehensif. Mulai dari aspek fisik hingga psikis mendapat porsi terapi masing-masing dalam rangka meningkatkan perkembangannya.
Hal ini dikarenakan penyebab autis yang begitu kompleks. Adapun terapi yang biasa dilakukan untuk anak autis, menurut Esthy Wikasanti, adalah Applied Behavioral Analysis (ABA), terapi wicara, terapi okupasi dan fisik, terapi sosial, terapi bermain, terapi perilaku, terapi perkembangan, terapi visual, dan terapi biomedik.109
1. Terapi Wicara atau Terapi Berbicara
Terapi ini digunakan untuk membantu anak penyandang autis yang mengalami kesulitan dalam berbicara dan berbahasa. Sebab hampir semua anak autis mengalami gangguan berbahasa dan berbicara.110 Dalam terapi wicara ini hal yang dilakukan adalah menempatkan komunikasi atau pembicaraan yang sesuai konteks. Komunikasi bisa menggunakan benda-benda sebagai referensi untuk membantu murid, contohnya cangkir untuk menunjukkan minum, alas piring untuk menandai waktu makan, atau mantel untuk menandai waktu bermain. Ketika anak mulai merespons benda- benda sebagai suatu bentuk komunikasi, kemudian setiap benda dilengkapi dengan
107 Jenny Thomson, Memahami Anak Berkebutuhan Khusus, alih bahasa Eka Widayati, (Erlangga, 2012), hlm.88
108 Ibid., hlm. 89
109 Esthy Wikasanti, Mengupas Therapy bagi Para Tuna Grahita: Retardasi Mental Sampai Lambat Belajar, (Jogjakarta: Maxima, 2014), hlm. 127
110 Ibid.
gambar agar bisa dimengerti sebagai sebuah simbol untuk melambangkan hal yang dimaksud.111
Satu strategi menurut Francine Brower yang telah berhasil digunakan untuk membangun komunikasi dua arah dengan anak-anak autis adalah Sistem Komunikasi Pertukaran Gambar. Tips-tips dan saran untuk pendekatan ini adalah berupa mengganti kata-kata atau kalimat yang akan kita sampaikan melalui gambar.112
2. Terapi Bermain
Terapi bermain merupakan salah satu terapi yang juga memungkinkan melatih perkembangan wicara/bahasa, dan interaksi sosial anak autis. Dengan mengikuti terapi bermain penyandang autis dapat meminimalisir perilaku agresifnya, perilaku menyakiti diri sendiri dan menghilangkan stereotip yang tidak bermanfaat.gerakan terapi bermain yang sederhana seperti tepuk tangan, merentangkan kedau tangan, menyusun balok, bermain palu dan pasak, serta bermain alat yang lain.113
Melalui permainan anak-anak akan mendapatkan ilmu atau pelajaran dengan cara yang paling efektif. Permainan adalah hal yang penting baginya untuk meningkatkan kemampuan bahasa dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungannya.114
3. Terapi Komunikasi Sesuai Konteks
Komunikasi merupakan perpaduan dari gerakan tubuh, bahasa tubuh, ekspresi wajah, intonasi dan konteks atau kondisi yang berlaku pada saat itu. Murid autis mengalami kesultan besar dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, perlu dibuatkan komunikasi yang yang nyaman sebagai bentuk pembuka pemahaman dan mengurangi rasa frustasi.
Komunikasi sesuai konteks memiliki maksud bawha saat melaukan interaksi dan komunikasi guru harus menyampaikan sesuai apa yang dibutuhkan oleh anak autis dan dirancang dengan komunikasi yang sederhana yang mudah difahami anak autis.
Alat bantu bisa digunakan dalam hal ini yaitu menggunakan alat peraga berupa benda, maupun gambar dan bisa ditingkatkan kembali dengan mengganti simbol-simbol tertentu untuk mewakili kata sederhana.115
4. Memperbaiki Percakapan
Sering kali anak autis mengalami kendala dalam komunikasi. Diantaranya ia enggan atau tidak percaya diri untuk berbicara. Terkadang bahasa yang diucapkannya terkesan dipaksakan dan hasilnya suara yang dikeluarkan tidak terdengar atau sulit difahami oleh orang lain. Karena upaya anak autis untuk menjadi pembicara pertama (komunikan) tidak berhasil, menjadikannya semakin enggan untuk berbicara dan semakin memperburuk perkembangan kemampuan berbahasanya.
Ketika situasi ini terjadi, jelaskan bahwa anak perlu mengulang dan memperbaiki kembali ucapannya dan dijealskan bahwa guru ingin mendengar kembali apa yang diucapkannya. Hal ini dilakukan untuk membangun kembali kepercayaannya dalam
111 Francine Brower, 100 Ide Membimbing Anak Autis, alih bahasa Novita Heni Purwanti, (Erlangga, 2010), hlm. 16
112 Ibid.
113 Esthy Wikasanti, Mengupas Therapy bagi Para Tuna Grahita: Retardasi Mental Sampai Lambat Belajar, (Jogjakarta: Maxima, 2014), hlm. 129
114 Kak Okha, Permainan & Kreatifitas Sederhana serta Mudah Dipraktikkan untuk Anak Autis, (Jogjakarta:
Javalitera, 2014), hlm. 5
115 Francine Brower, 100 Ide Membimbing Anak Autis, alih bahasa Novita Heni Purwanti, (Erlangga, 2010), hlm. 16
berkomunikasi. Dan sekaligus menunjukkan bahwa komunikasi yang dibangunnya membuahkan hasil.116
5. Berbicara Apa Adanya
Pada terapi ini dimaksudkan bahwa guru tidak harus menanggapi komentar- komentar murid autis secara serius. Terkadang guru mengharap aturan sosial yang tidak tertulis berjalan dan dapat dimengerti anak, guru berharap murid menghormatinya di kelas. Hal ini perlu dijelaskan secara apa adanya, dan murid akan meamhaminya jika kita menjelaskannya sejak awal secara bertahap.117
6. Membangun Dialog
Cara yang dapat digunakan untuk membangun dialog dengan anak autis adalah sebagai berikut:
a. Menjadwal waktu tertentu yang jauh dari kebisingan kelas akan dapat fokus pada interaksi dalam percakapan.
b. Memberi aturan spesifik yang berhubungan dengan dialog. Menjelaskan bahwa kedua belah pihak saling bergiliran dalam berbicara. Lakukan kontak mata, gerakan tubuh dan sentuhan untuk menarik perhatian anak autis.
c. Melakukan permainan peran yang melibatklan percakapan.
d. Mendorong anak autis yang enggan berkomunnikasi untuk membuat kalimat- kalimat yang panjang dan mencontohkan jawaban pertanyaan dalam komunikasi yang lebih lengkap
e. Menggunakan percakapan secara tertulis. Dilakuklan dengan guru membuat pertanyaan secara tertulis dan murid menjawab dengan tertulis pula.
f. Kerika ada masalah dalam percakapan, perlu disediakan waktu untuk menunjukkan cara memperbaikinya kepada murid autis.118
7. Mengajak Anak Senam Fantasi
Terapi ini lebih ditujukan untuk membangun keselarasan gerak tubuhnya.
Selain itu digunakan juga untuk mengurangi ketegangan-ketegangan otot pada anak.
Setelah anak melakukan senam fantasi, misalkan “senam burung elang”, “senan ular”
dan lain sebagainya, anak akan merasa rileks dan nyaman. Sehingga saat kondisi seperti ini guru akan lebih mudah untuk mengajak komunikasi dan mencoba meningkatkan perkembangan kemapuan bahasa anak.
8. Konsistensi dalam Membimbing Anak Autis
Hal ini merupakan keharusan untuk mengatasi dan memberikan terapi perkembangan kemampuan berbahasa anak austis. Guru perlu menjaga kesabaran, menyampaikan apa yang telah disepakati bersama secara terus-menerus, dan memperingatkan anak bila ada perubahan. Berusaha untuk terus menjalin komunikasi yang jelas dengan murid dan menjaga untuk mengembangkan serta mempertahankan kualitas komunikasi yang baik dengan murid sepanjang hari.119
F. PENERAPAN KOMUNIKASI NON VERBAL GURU UNTUK MENINGKATKAN
116 Ibid., hlm.20
117 Ibid., hlm. 22
118 Ibid., hlm. 23
119 Ibid., hlm. 5
PERKEMBANGAN BAHASA ANAK AUTIS 1. Aspek Komunikasi Non Verbal Ekspresi Wajah
Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, ekspresi wajah kita akan selalu berubah tanpa melihat apakah kita sedang berbicara atau mendengarkan. Orang- orang yang terlibat dalam tindak komunikasi sering menggerakkan kepala dan tangannya selama interaksi berlangsung. Mata juga merupakan saluran komunikasi nonverbal yang penting, tidak hanya selama interaksi tetapi juga sebelum dan sesudah interaksi berakhir. Dengan memelihara kontak mata dan tersenyum, orang-orang yang terlibat mengindikasikan bahwa mereka tertarik dengan persoalan yang sedang diperbincangkan.
Ekspresi wajah atau mimik adalah hasil dari satu atau lebih gerakan atau posisi otot pada wajah. ekspresi wajah dapat menyampaikan keadaan emosi dari seseorang kepada orang yang mengamatinya. Ekpsresi wajah merupakan salah satu cara penting dalam menyampaikan pesan sosial dalam kehidupan manusia. Manusia dapat mengalami ekpresi wajah tertentu secara sengaja, tapi umumnya ekspresi wajah dialami secara tidak sengaja akibat perasaan atau emosi tertentu dari wajah, walaupun banyak orang yang merasa amat ingin melakukannya.
Hubungan perasaan dan ekspresi wajah juga dapat berjalan sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa melakukan ekspresi wajah tertentu dengan sengaja (misalnya tersenyum), dapat mempengaruhi atau menyebabkan perasaan terkait benar-benar terjadi.
Ada 4 (empat) ekspresi wajah yang sering digunakan guru dalam merangsang peningkatan kemampuan berbahasa anak autis, yakni:
a. Ekspresi Senang
Pada dasarnya semua anak autis mengalami kesulitan untuk fokus terhadap suatu hal, contohnya seperti tidak mendengarkan perintah dari gurunya dan pandangannya ke arah lain. Terkadang kelakuan anak autis bisa membuat guru merasa kesal dan jengkel. Untuk menarik perhatian dan fokus anak autis kepada guru maka guru menggunakan ekspresi wajah senang dan memancing anak dengan kegiatan atau permainan yang mampu menarik perhatian anak dan menunjukkan rasa senang antara guru dan anak.
Penyampaian komunikasi non verbal dengan ekspresi wajah senang ditujukan untuk menghindari model penyampaikan materi yang konservatif sehingga anak autis jenuh atau bisa tiba-tiba marah karena tidak menyukai materi yang diberikan.
Cara yang diberikan untuk mengembalikan kegembiraan anak autis adalah dengan membiarkan apa yang dia inginkan, misalnya memberikan mainan yang mereka mau, ataupun dengan bernyanyi atau menari. Hal ini bisa dilakukan saat guru mendata kehadiran anak, guru melakukannya dengan menyanyikan irama lagu
“kalau kau suka hati” dengan mengganti liriknya menjadi “kalau kau suka hati panggil mas Bagas” dan seterusnya bergantian satu persatu menyebut nama anak didik yang dijawab oleh anak didik dengan menyebut nama teman mereka yang disebutkan. Semua dilakukan dengan senantiasa menjaga ekspresi wajah senang guru untuk menarik perhatian anak, terutama anak penyandang autis.
b. Ekspresi Marah
Dalam mengekspresikan rasa marah guru menunjukkan hal tersebut karena adanya hal-hal yang tidak dihormati, disaat guru memberikan arahan bahwa tidak boleh meludah tetapi anak tetap melakukannya. Sehingga gurukomnikasi non verbal
menunjukkan ekspresi marah dengan mimik wajah akan mengamuk, menaikkan alis, dahi berkerut dan mata melebar. Komunikasi wajah adalah komunikasi yang kuat dan selain ekspresi senang, ekspresi marah pun sangat mudah di ketahui.
Ekspresi wajah marah yang diciptakan guru ini semata hanya untuk menjaga kondusifitas proses kegiatan di kelas. Bukan berarti melampiaskan emosi kemarahan kepada anak. Namun hanya sekedar ekspresi yang diharapkan difahami anak bahwa yang dilakukannya salah dan tidak disukai oleh guru.
Selain guru, ekspresisaat marah anak autis jugadapat dimengerti karena kebanyakan anak penyandang autis sangat mudah mengamuk dan itu mengartikannya bahwa anak sedang marah.
c. Ekspresi Sedih
Ekspresi sedih sangat sering terjadi pada saat seseorang mendapatkan hal yang tidak dia inginkan, atau hal yang mengecewakan, ekspresi sedih sangat mudah untuk ditebak. Banyak orang yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya karena raut wajah dapat berbicara. Ekpresi sedih dilakukan guru saat anak-anak tidak menaati perintah, pada saat anak tidak mau makan dan membuang makanannya ke lantai, mimik wajah guru tentunya akan murung dan kecewa. Perasaan sedih dan kecewa hampir sama karena kedua subjek tersebut dapat terjadi karena respon yang ada akan menangis.
Seperti halnya ekspresi wajah sebelumnya, ekspresi wajah sedih juga dilakukan untuk menarik perhatian dan menyambung komunikasi antara guru dan anak autis.
Dengan ekspresi wajah sedih, terkesan seperti bermain drama, anak akan merasa iba dan mendekati guru seraya bertanya ”Ibu Guru kenapa sedih?”.Dengan begitu guru sudah bisa meningkatkan komunikasi anak autis dengan memancing perhatian dan rasa penasaran mereka melalui ekspresi wajah sedih.
Anak autis juga dapat sangat cepat menyimpulkan sesuatu yang mana hal itu dapat terjadi apabila guru yang biasanya dia jumpai tidak hadir, atau telah digantikan dengan guru lain. Tidak berbeda jauh dengan manusia normal umumnya, artinya pada saat ada hal-hal yang menimbulkan ekspresi ini terjadi maka yang ada didalam pikiran orang tersebut adalah akan memperlihatkan mimik yang seperti apa, misalnya hanya mengeluarkan ekspresi wajah murung atau tidak berekspresi sama sekali (datar).
d. Ekspresi Terkejut
Ekspresi ini terjadi pada saat hal-hal yang terjadi secara tiba-tiba, pada saat melihat ruangan belajar yang berantakan, banyak sampah berserakan dan lain sebagainya. Ekspresi terkejut yang dilakukan guru juga dilakukan untuk menarik perhatian siswa baik secara disengaja maupun secara spontanitas.
Sedangkan ekspresi terkejut pada anak autis akan memperlihatkan wajah yang pucat, kaku dan menjadi tegang. Sama halnya dengan anak-anak normal saat berekspresi terkejut, dikagetkan dengan sesuatu yang membuat wajah terlihat pucat.
Namun pada anak normal tidak mempengaruhi pada seluruh anggota tubuh, yang terjadi hanya perasaan kaget yang menyebabkan kontak mata menjadi lebar karena secara spontan dikagetkan tetapi jiwa sadar pada anak normal setelah terkejut akan membuat mereka memandang bahwa kenyataan dari hal tersebut sebagai hal yang biasa.
e. Komunikasi Non Verbal Gerakan Tubuh (Kinestic)
Merupakan proses pertukaran pikiran, gagasan atau pesan yang disampaikan melalui isyarat, pandangan mata, sentuhan, artifak (lambang yang digunakan).
Selama proses penelitian, peneliti mengamati gerakan tubuh guru yang digunaan sebagai bentuk komunikasi kepada anak autis sebagai berikut:
1) Berkacak Pinggang
Gerakan tubuh ini akan terjadi pada seseorang yang mengindikasikan bahwa tidak menyetujui hal telah terjadi. Bisa terjadi pada saat marah dan terkejut. Posisi tangan berada dipinggang menunjukkan bahwa akan melakukan hal tegas. Guru pada saat marah akan memberikan gerakan tubuh ini, menunjukkan bahwa dia marah dan berharap anak-anak dapat mengerti.
Ketika berada di sekolah guru dapat melakukan hal ini saat anak melakukan beberapa kesalahan. Misalkan saat anak berlarian hingga naik ke atas meja, guru menegurnya dengan sedikit mengangkat dana suara lebih tinggi sembari meletakkan tangan di pinggangnya (berkacak pinggang). Gerakan ini sangat mendukung sebagai penegasan bahwa guru sedang menyampaikan hal yang serius dan perlu diperhatikan. Dan saat anak melihatnya dari jauh juga bisa merespon bahwa guru sedang menegur atau menunjukkan gerakan yang tidak suka terhadap perilaku yang dilakukan oleh anak. Sehingga anak faham maksud guru berkaca pinggang dan anak bisa kembali pada tempatnya dengan tertib.
Begitu juga yang dilakukan anak-anak pada saat tidak mau makan, mereka akan melipat tangannya atau mengacak pinggang seolah-olah memperlihatkan kekesalannya. Hal ini terjadi juga pada anak normal, bahkan orang dewasa pun sering melakukan gerakan tubuh ini.
2) Menggelengkan dan Menganggukkan Kepala
Menggelengkan kepala sering terjadi secara spontan. Ada gelengan kepala yang berarti “Ya”, ada pula yang berarti “Tidak”, bahkan ada yang berarti
“Mungkin”, semua tergantung cara menggelengkannya.
Gerakan menggelengkan kepala yang dilakukan guru kepada anak autis di sekolah sebagai tanda bahwa apa yang dilakukan anak-anak tidak disukai atau tidak dikehendaki oleh guru. Misalnya saat Ibra di kelas berperilaku tak terkendali dan menarik pakaian temannya, guru menegurnya dengan berkata,
“tidak boleh seperti itu mas!” sambil tangannya digerakkan dan menggelengkan kepala untuk lebih menekankan larangannya kepada Ibra.
3) Memberikan Jempol
Gerakan tubuh ini sering terjadi pada seseorang yang menyetujui suatu kesepakatan, atau melakukan hal-hal yang sangat baik. Terjadi pada saat guru memberikan pujian jika anak berkelakuan baik.
Gerakan ini sering dilakukan guru ketika sedang memberi intruksi kapada anak di kelasnya tak terkecuali anak penyandang autis untuk membuang sampah yang berserakan di kelas. Anak penyandang autis pun didekati guru seraya mengucapkan, “wah pinter sekali ...” dengan tangan guru mengacungkan jempol, tanda guru mengapresiasi dan membenarkan hal yang telah dilakukan. Dan terlihat anak autis tersebut juga merespon balik dengan tersenyum senang.
Hal ini memperlihatkan bahwa komunikasi gerkan tubuh yang hanya sekedar mengacungkan jempol dari guru bisa difahami dan direspon baik oleh anak-anak penyandang autis.
4) Menunjuk
Menunjuk merupakan hal yang sangat sering terjadi pada komunikasi non verbal, mengacungkan jari telunjuk ke arah yang diinginkan, memberi tahu dengan sesuatu yang di arahkan ke tempat yang dimaksud, menentukan siapa-siapa yang diberi tugas, dipilih, diangkat.
5) Kontak mata
Mata juga merupakan komunikasi non verbal dengan kontak mata orang- orang yang terlibat mengindikasikan bahwa mereka tertarik dengan persoalan yang sedang dibicarakan. Jika guru berkomunikasi dengan anak autis sangat jarang sekali terjadinya kontak mata, hal yang dilakukan adalah memanggil namanya, pada saat terapi dimulai jika anak tidak menatap guru, tentu nya guru akan mengarahkan anak untuk menatapnya dengan cara dipegang kepalanya sampai anak menatap guru dan bisa menjawab pertanyaan / perintah.
f. Komunikasi Non Verbal Sentuhan (Haptics)
Bahasa tubuh dapat dipercayai sangat penting dalam melancarkan proses komunikasi. Dengan mengetahui arti dari bahasa tubuh maka dapat melihat perasaan seseorang yang sebenarnya. Salah satu aspek komunikasi bahasa tubuh adalah sentuhan. Berikut peneliti jabarkan hasil penelitian peningkatan komunikasi anak autis melalui bahasa tubuh sentuhan (haptics).
1) Jabat Tangan
Berjabat tangan dengan anak autis dilakukan guru dengan maksud untuk menunjukkan rasa perhatian juga melatih murid untk menjalin hubungan yang lebih baik dengan guru. Jabat tangan yang dibiasakan sebelum dan sesudah pelajaran akan memberi efek kedekatan tersendiri antara guru dan murid.
Dua orang yang saling berjabat tangan bisa menunjukkan kesetaraan tingkat atau kedekatan ikatan hubungan. Jabat tangan dapat dianalisadari kualitas sentuhannya. Dengan memperhatikan cara seseorang berjabat tangan sedikit banyak kita bisa mengetahui sifat dan maksud orang itu.
Jabat tangan yang dibiasakan antara guru dan murid saat mulai masuk kelas dimaksudkan untuk menyambut dan menyemangati murid agar belajar dengan baik dan dimaksudkan juga untuk membangun hubungan komunikasi yang baik. Sedangkan jabat tangan yang dibiasakan guru setelah selesai pembelajaran dan menjelang waktu pulang dimaksudkan memberi ungkapan selamat telah melaksanakan pembelajaran dengan baik, ungkapan perpisahan dengan harapan selamat diperjalanan sampai di rumah.
Berjabat tangan juga merupakan komunikasi non verbal kepada murid untuk mengajarkan rasa horbat kepada guru atau orang yang lebih tua dengan cara berjabat tangan dan mencium tangan. Sedangkan jabat tangan antar sesama murid dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa saling menyayangi.
2) Sentuhan kasih sayang (berpelukan, memberikan ciuman, usapan di kepala, usapan di pipi dan usapan di punggung)
Ketika beraa di kelas seorang guru diharapkan untuk selalu melakukan komunikasi non verbal dengan selalu melakukan kontak tubuh pada anak-anak autis. Setiap hari anak-anak diajarkan untuk berjabat tangan dan mencium tangan guru, sembari guru mengelus kepala anak sambil bertanya “apa kabar”. Begitu pula jika anak bisa menuruti perintah, guru akan memberikan pujian sambil memeluk atau mengelus punggung / kepala anak. Jika anak tidak merespon pada saat dipanggil, tentunya anak akan merespon pada saat disentuh. Disitu menandakan bahwa sentuhan sangat penting sekali untuk menjalin komunikasi.
Sentuhan merupakan hal yang sehat dan menenangkan. Semua orang membutuhkannya. Sentuhan merangsang perasaan dan menumbuhkan tanggapan. Satu bentuk perhatian yang dilandasi rasa cinta kasih dan peduli yang bertujuan untuk meningkatkan jalinan rasa kasih antara guru dan murid.
3) Komunikasi Non Verbal Jarak (Proximity)
Jarak kedekatan antara guru dan anak, ataupun sebaliknya sangatlah penting dalam proses komunikasi, berinteraksi dan proses belajar mengajar.
Dikarenakan proses belajar 1 anak dengan 1 guru perlu didasari dengan kedekatan. Sang guru harus mengamati terlebih dahulu bagaimana karakter anak, guru harus mengenal sifat anak lebih dalam setiap harinya agar anak merasa nyaman dengan guru.
Tetapi seberapa lama waktu yang diperlukan sangatlah tidak tentu, tidak bisa diprediksikan berapa hari anak akan akrab dengan guru, karena semua anak tidak memiliki karakter yang sama, ada yang cepat ingin bergaul, ada pula yang acuh dengan guru.
Kedekatan jarak (proximity) tidak hanya meliputi jarak antara orang-orang yang terlibat dalam percakapan, tetapi juga orientasi fisik mereka. Penting untuk disadari bahwa orang-orang dari budaya yang berbeda mempunyai cara-cara yang berbeda pula dalam menjaga jarak ketika bergaul dengan sesamanya. Bila kita berbicara dengan orang berbeda budaya, kita harus dapat memperkirakan pelanggaran-pelanggaran apa yang bakal terjadi, menghindari pelanggaran- pelanggaran tersebut, dan meneruskan interaksi kita tanpa memperlihatkan reaksi permusuhan.
Kita mungkin mengalami perasaan-perasaan yang sulit kita kontrol; kita mungkin menyangka bahwa orang lain tidak tahu adat, agresif, dan perasaan negatif lainnya ketika orang itu berada pada jarak yang dekat dengan kita, padahal sebenarnya tindakannya itu merupakan perwujudan hasil belajarnya tentang bagaimana menggunakan ruang dan kedekatan jarak yang tentu saja dipengaruhi oleh budayanya. Kedekatan yang terjalin harmonis, baik itu individu ataupun sosial selalu terciptakan dikalangan manapun dengan adanya kedekatan jarak (proximity).
Kedekatan seorang guru dengan anak-anak autis haruslah cukup harmonis. Hal ini bisa terlihat saat seorang anak autis yang masih belum bisa mengontrol dirinya, bahkan masih memakai pempers, mengompol di kelas, guru pun tanpa sungkan dan jijik membersihkan dan mengganti pempers anak tersebut. Kedekatan guru dan anak ini mendorong dan merangsang komunikasi dari anak dengan reaksi anak yang cenderung lebih suka dan dekat dengan Ibu
guru yang membantunya saat ada kesulitan.
G. KESIMPULAN
Komunikasi adalah suatu proses penciptaan persamaan pengertian, ide, pemikiran dan sikap terhadap orang lain. Dalam proses komunikasi paling tidak terdapat beberapa komponen yang terlibat, yaitu sumber, pesan, saluran/media, penerima, dan timbal balik/efek. Keseluruhan komponen tersebut sama pentingnya dalam mewujudkan proses komunikasi yang efektif.
Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak autis guru bisa menggunakan komunikasi non verbal. Bentuk-bentuk komunikasi non verbal yang bisa digunakan guru adalah ekspresi wajah, gerakan tubuh dan tangan, sentuhan, dan kedekatan jarak
DAFTAR PUSTAKA
Brower, Fancine, 100 Ide Membimbing Anak Autis, alih bahasa Purwanti Novita Heny, Jakarta:
Erlangga. 2007.
Della, Prisca Oktafia, Penerapan Metode Komunikasi Non Verbal yang Dilakukan Guru Pada Anak-Anak Autis Di Yayasan Pelita Bunda Therapy Center Samarinda, Samarinda:
Universitas Mulawarman, 2016.
Geniofam, Mengasuh & Mensukseskan Anak Berkebutuhan Khusus. Jogjakarta: Gerai Ilmu, 2010.
Irwantoro, Nur dan Suryana, Yusuf, Kompetensi Pedagogik, untuk Peningkatan dan Penilaian Kinerja Guru dalam Rangka Implementasi Kurikulum Nasional, Bandung: Genta Group Production), 2016.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Sumber Belajar Penunjang PLPG 2017 Materi Pedagogik Guru Kelas PAUD/TK: Perkembangan dan Karakter Anak Usia Dini,2017.
Okha, Kak, Permainan & Aktivitas Sederhana serta Mudah Dipraktikkan untuk Anak Autis.
Jogjakarta: JAVALITERA, 2014.
Thompson, Jenny. Memahami Anak Berkebutuhan Khusus, Jakarta: Erlangga, 2012.
Wikasanti, Esthy, Mengupas Terapi Bagi Para Tunagrahita: Retardasi Mental Sampai Lambat Belajar. Jogjakarta: Maxima, 2014.