1
Nama: Raisah Syarfinah NIM: 06041382328068
Mata Kuliah: Sejarah Asia Barat Daya
Dosen Pengampu: Dr. Dedi Irwanto.,M.Hum UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS)
Konflik Yaman Utara dan Yaman Selatan
A. Latar Belakang
Penduduk Yaman mayoritas beragama Islam, yang terbagi menjadi dua kelompok utama: Syiah Zaydi, yang umumnya tinggal di wilayah utara, dan Sunni. Sejarah pemerintahan di Yaman utara didominasi oleh dinasti Zaydi, yang berkuasa sejak abad ke-9 hingga tahun 1962. Namun, pada dekade 1960-an, terjadi perubahan besar dalam lanskap politik Yaman akibat perang saudara di utara dan gerakan pemberontakan di selatan melawan Inggris, yang telah menguasai kota pelabuhan Aden dan wilayah sekitarnya sejak abad ke-19. Hasil dari konflik ini adalah berdirinya Republik Arab Yaman (YAR) di utara dan Republik Demokratik Rakyat Yaman (PDRY) yang berhaluan sosialis di selatan. Pada tahun 1990, kedua negara ini bersatu membentuk Republik Yaman, dengan Ali Abdullah Saleh, mantan pemimpin YAR, terpilih sebagai presiden negara baru tersebut (Serr, 2017).
Pembahasan mengenai unifikasi Yaman Utara dan Yaman Selatan perlu diawali dengan melihat konteks sejarah dunia setelah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945. Pada periode ini, muncul dua kekuatan superpower, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet, yang merupakan pemenang utama dalam konflik global tersebut. Kedua negara ini memiliki ideologi yang saling bertentangan, dengan Amerika Serikat mengusung sistem liberalisme dan kapitalisme, sementara Uni Soviet menganut komunisme dengan dasar Marxisme-Leninisme.
Persaingan ideologis ini memicu perlombaan pengaruh di berbagai kawasan dunia, termasuk negara-negara berkembang, yang kemudian dikenal sebagai Perang Dingin. Oleh karena itu, untuk memahami sepenuhnya proses unifikasi Yaman pada tahun 1990, penting untuk memahami konteks Perang Dingin, karena konflik ideologi global ini turut membentuk realitas politik yang memisahkan kedua negara Yaman sebelum bersatu kembali (Mulyastanto, 2016).
2
Gambar.1 1 Letak Geopolitik Yaman (Sumber: Tagar)
Wilayah yang sekarang dikenal sebagai Yaman pernah berada di bawah kekuasaan berbagai kekaisaran, termasuk Abyssinia, Persia, Romawi, Arab, dan Turki. Setelah Kekaisaran Ottoman runtuh, bagian utara Yaman meraih kemerdekaannya pada tahun 1918. Yaman Utara tetap berbentuk monarki yang dipimpin oleh imam Zaidi hingga tahun 1962, ketika militer merebut kekuasaan dengan menggulingkan Mohammed Al-Badr. Uni Soviet memandang Yaman Utara sebagai wilayah strategis dalam kebijakan luar negerinya karena lokasinya yang dekat dengan Arab Saudi, salah satu negara penghasil minyak terbesar. Bagi Moskow, Yaman Utara memiliki nilai penting sebagai alat untuk menekan politik negara-negara di kawasan Teluk Persia (BRYJKA, 2016).
B. Pembahasan
1. Perang Saudara dan Intervensi Regional
Selama lebih dari sepuluh tahun, Republik Yaman terus dilanda berbagai konflik bersenjata yang melibatkan kelompok militan domestik dan kekuatan asing. Secara keseluruhan, konflik- konflik ini telah melemahkan otoritas pemerintah pusat dan memecah negara menjadi sejumlah wilayah yang dikuasai oleh kekuatan lokal (Sharp, 2020).
Dalam konflik yang terjadi di Yaman, sejumlah suku di wilayah utara memilih bergabung dengan Houthi untuk melawan pemerintah, sementara suku lainnya tetap setia kepada pemerintah dan memerangi kelompok Houthi. Di Yaman Selatan, banyak suku yang
3
mendukung Southern Transitional Council (STC), meskipun ada juga yang tetap bersekutu dengan pemerintah. Ketegangan ini diperburuk oleh krisis politik yang meletus pada tahun 2011, yang dipengaruhi oleh gelombang demokratisasi di dunia Arab yang dikenal sebagai Arab Spring (Sosial et al., 2023).
Pemberontakan Houthi adalah salah satu pemicu utama perang saudara di Yaman.
Kelompok Houthi, yang berasal dari komunitas Syiah Zaydi, telah lama merasa terpinggirkan dalam politik dan masyarakat Yaman sejak berakhirnya sistem pemerintahan imamah pada tahun 1970. Meskipun mereka telah beberapa kali menyuarakan aspirasi mereka, respons pemerintah terhadap gerakan ini bervariasi dari waktu ke waktu. Pada akhirnya, Houthi berhasil menguasai wilayah Yaman Utara, merebut Sana'a sebagai ibu kota, dan menggulingkan pemerintahan Presiden Hadi (Ahmed, 2019).
Tidak hanya itu. Pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok Houthi dilatarbelakangi oleh keinginan mereka untuk memperoleh hak-hak yang lebih luas dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi. Ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintahan yang dianggap korup turut memperbesar keresahan mereka. Ketegangan meningkat ketika Arab Saudi memberikan dukungan kepada Presiden Ali Abdullah Saleh dan penerusnya, Abdrabbuh Mansour Hadi, melalui intervensi militer di Yaman. Arab Saudi bahkan melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi dalam operasi militer di wilayah perbatasan. Pada tahun 2014, pasukan Houthi melancarkan aksi menuju ibu kota Sana’a dan mendesak Presiden Hadi untuk mengadakan dialog demi membentuk pemerintahan koalisi bersama kelompok-kelompok politik lainnya. Tekanan dari pemberontak pun terus meningkat, menyasar institusi kepresidenan hingga kediaman pribadi presiden (Sari, 2023).
Kelompok Houthi diperkirakan memiliki kekuatan militer antara 20.000 hingga 30.000 personel, di mana sekitar 30 hingga 40 persen di antaranya berusia di bawah 18 tahun, dan 15 hingga 25 persen bahkan masih di bawah usia 16 tahun. Beberapa anak dilaporkan direkrut untuk tujuan eksploitasi seksual (Gupta, 2015). Menyikapi situasi ini, Arab Saudi bersama sejumlah negara Timur Tengah lainnya memberikan dukungan militer kepada Presiden Yaman, Abdrabbuh Mansour Hadi, dengan tujuan menghentikan pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok Houthi yang beraliran Syiah dan mengembalikan stabilitas di negara tersebut.
4 A. Perang 1972
Perang antara Yaman Utara dan Yaman Selatan pada tahun 1972 merupakan konflik bersenjata yang dipicu oleh sengketa perbatasan dan perbedaan ideologi antara kedua negara yang saat itu terpisah. Yaman Utara, yang dikenal sebagai Republik Arab Yaman, didukung oleh Arab Saudi dan negara-negara Barat, sementara Yaman Selatan, atau Republik Demokratik Rakyat Yaman, mendapat dukungan dari Uni Soviet dan negara-negara sosialis lainnya.
Gambar.1 2 Peta Ketika Perang 1967 - 1990 (Sumber: Sejarah Militer)
Konflik ini berlangsung singkat namun intens, dengan pertempuran yang terjadi pada bulan Oktober 1972. Meskipun pertempuran tersebut tidak berlangsung lama, konflik ini mencerminkan ketegangan yang mendalam antara kedua negara, yang kemudian berlanjut dengan perang serupa pada tahun 1979 (Faridah et al., 2021).
Setelah pertempuran tahun 1972, kedua belah pihak menandatangani Perjanjian Kairo pada 28 Oktober 1972, yang menyatakan niat untuk menyatukan kedua negara dalam satu republik.
Namun, implementasi dari perjanjian ini mengalami banyak hambatan dan baru terealisasi pada tahun 1990 dengan penyatuan resmi Yaman (Hermann, 2020).
Perang Yaman 1972 terjadi sebagai konflik bersenjata antara Republik Arab Yaman (Yaman Utara) dan Republik Demokratik Rakyat Yaman (Yaman Selatan). Konflik ini dipicu oleh ketegangan ideologis antara kedua negara setelah Yaman terbagi pascakolonialisme: Yaman Utara menganut sistem republik konservatif yang didukung oleh negara-negara Barat dan Arab Saudi, sedangkan Yaman Selatan berhaluan sosialis dan mendapat dukungan dari Uni Soviet serta negara-negara Blok Timur. Pada bulan Oktober 1972, pecah bentrokan militer di sepanjang perbatasan kedua negara. Meskipun pertempuran tidak berlangsung lama, perang ini
5
menunjukkan dalamnya perpecahan politik dan ideologis di Semenanjung Arab kala itu.
Konflik berakhir dengan Perjanjian Kairo pada akhir Oktober 1972, yang menghasilkan kesepakatan untuk menyatukan kedua Yaman dalam waktu dekat meskipun pada kenyataannya penyatuan baru terjadi pada tahun 1990 (Prados, 2005).
B. Perang 1979
Gambar.1 3 Keadaan Konflik Yaman 1979
Konflik antara Republik Arab Yaman (Yaman Utara) dan Republik Demokratik Rakyat Yaman (Yaman Selatan) pada tahun 1979, yang dikenal sebagai Perang Yaman Kedua, adalah perang singkat namun penting yang mencerminkan perbedaan ideologis dan persaingan geopolitik di kawasan tersebut selama masa Perang Dingin.
Setelah pembunuhan Presiden Yaman Utara Ahmad al-Ghashmi dan eksekusi Presiden Yaman Selatan Salim Rubai Ali pada tahun 1978, hubungan antara kedua negara memburuk drastis. Ketegangan ini memuncak dalam konflik bersenjata pada Februari 1979, dengan Yaman Selatan melancarkan serangan ke wilayah Yaman Utara (Nisa et al., 2024).
Pasukan Yaman Selatan, yang didukung oleh Uni Soviet dan negara-negara blok Timur, berhasil melakukan serangan signifikan ke wilayah Yaman Utara. Namun, tekanan internasional dan mediasi oleh Liga Arab menghasilkan Perjanjian Kuwait pada Maret 1979, yang mengakhiri permusuhan dan menyerukan penyatuan kedua negara (Lee, 2020).
6
Konflik ini menjadi ajang persaingan antara kekuatan besar dunia. Yaman Selatan mendapat dukungan dari Uni Soviet, sementara Yaman Utara didukung oleh Arab Saudi dan negara-negara Barat. Keterlibatan ini mencerminkan dinamika Perang Dingin di kawasan Timur Tengah.
C. Perang Saudara 1986 di Yaman Selatan
Gambar.1 4 Warga Sipil ditangkap
Perang Saudara 1986 di Yaman Selatan (Republik Demokratik Rakyat Yaman) adalah konflik internal di dalam Partai Sosialis Yaman (YSP) yang berkuasa, yang mengakibatkan pembunuhan ribuan orang dan melemahkan rezim komunis sebelum penyatuan dengan Yaman Utara pada 1990. Latar Belakang Konflik:
• Yaman Selatan, di bawah pemerintahan Marxis, dipimpin oleh Ali Nasir Muhammad (Presiden sejak 1980).
• Faksi internal YSP terpecah antara pendukung Ali Nasir dan kelompok Abdul Fattah Ismail (mantan pemimpin yang kembali dari pengasingan).
• Ketegangan terjadi karena perbedaan kebijakan, termasuk hubungan dengan Uni Soviet dan pendekatan terhadap Yaman Utara.
Peristiwa 13 Januari 1986:
• Pada sebuah rapat Politbiro, Ali Nasir Muhammad diduga memerintahkan pembantaian terhadap rivalnya, termasuk Abdul Fattah Ismail (tewas dalam konflik).
7
• Pertempuran pecah di Aden antara pasukan pendukung Ali Nasir melawan faksi loyalis Ismail.
• Ribuan orang tewas (perkiraan: 4.000–10.000 korban), termasuk banyak tokoh senior partai.
• Ali Nasir kalah dan melarikan diri ke Yaman Utara, sementara faksi pemenang dipimpin oleh Ali Salem al-Beidh (Day, 2022).
D. Penyatuan Yaman Selatan & Yaman Utara 1990 - 1994
Yaman memiliki sejarah panjang yang dipenuhi dengan berbagai konflik. Setelah penyatuannya pada tahun 1990, negara ini terus menghadapi berbagai tantangan, termasuk perang saudara. Salah satu konflik utama yang terjadi adalah bentrokan antara kekuatan Yaman yang pro-serikat utara dan kekuatan separatis sosialis Yaman selatan, yang didukung oleh berbagai kelompok pendukungnya (Diyarti et al., 2022).
Penyatuan Yaman terjadi pada 22 Mei 1990, ketika Republik Arab Yaman (Yaman Utara) dan Republik Demokratik Rakyat Yaman (Yaman Selatan) bergabung membentuk Republik Yaman. Ali Abdullah Saleh dari Yaman Utara menjadi presiden, sementara Ali Salim al-Beidh dari Yaman Selatan menjabat sebagai wakil presiden. Proses unifikasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tekanan ekonomi, perubahan geopolitik pasca-Perang Dingin, dan keinginan untuk menyatukan kembali dua wilayah yang sebelumnya terpisah (Abdul Hamid et al., 2022).
Syarat – syarat yang diajukan kepada Pemberontak Al – Houthi
Pemimpin kelompok pemberontak Al Houthi di Yaman Utara menyatakan kesediaannya untuk menerima tawaran pemerintah Yaman terkait perundingan dan gencatan senjata, dengan syarat bahwa pemerintah yang dipimpin oleh Ali Abdullah Saleh menghentikan operasi militer terhadap mereka, yang mereka anggap tidak adil. Dalam perundingan damai yang berlangsung di Doha, pemerintah Yaman mengajukan enam syarat kepada kelompok pemberontak Al Houthi sebagai dasar untuk mencapai kesepakatan.
1. Pemerintah meminta kelompok pemberontak Al Houthi untuk menarik pasukannya dari berbagai gedung dan fasilitas milik negara.
2. Pemerintah meminta kelompok pemberontak Al Houthi untuk membuka kembali akses jalan di wilayah utara Yaman.
8
3. Pemerintah menuntut kelompok pemberontak Al Houthi untuk mengembalikan senjata yang telah mereka rampas kepada otoritas Yaman.
4. Pemerintah meminta kelompok pemberontak Al Houthi untuk membebaskan seluruh tahanan, termasuk warga negara Arab Saudi.
5. Pemerintah meminta kelompok pemberontak Al Houthi untuk meninggalkan pos-pos militer di kawasan pegunungan.
6. Pemerintah menuntut kelompok pemberontak Al Houthi untuk menghentikan serangan terhadap pasukan Arab Saudi (Jakti & Jamil, 2016,Rizal, 2010).
7.
E. Perang Yaman – Sekarang
Kawasan Timur Tengah diguncang oleh gejolak politik yang dikenal dengan sebutan Arab Spring pada tahun 2011. Musim Semi Arab merupakan rangkaian aksi demonstrasi yang menentang pemerintahan otoriter yang telah lama bercokol di negara-negara Arab, dengan tuntutan untuk mewujudkan sistem pemerintahan yang lebih demokratis.
Gelombang pertama gerakan ini dimulai di Tunisia dan Mesir, lalu menyebar ke negara- negara lain seperti Libya, Suriah, dan Yaman. Di Yaman, Arab Spring memicu aksi protes terhadap pemerintahan Ali Abdullah Saleh yang telah berkuasa selama 33 tahun sejak 1978 hingga 2012. Gerakan tersebut kemudian dikenal sebagai Revolusi Yaman. Revolusi diawali oleh aksi para pemuda di ibu kota Sana’a yang menuntut perubahan menuju pemerintahan yang lebih baik. Kejatuhan rezim otoriter pun terjadi, dan pemilihan umum diselenggarakan hingga akhirnya Abdrabbuh Mansour Hadi terpilih sebagai presiden baru pada Februari 2012 (Aulia, 2025).
2. Peran PBB dalam Konflik Yaman Utara & Yaman Selatan
Amnesty International melaporkan bahwa lebih dari dua puluh juta penduduk Yaman sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyatakan bahwa konflik yang berlangsung telah menyebabkan lebih dari satu juta warga terdampak secara tidak langsung, terutama melalui penyebaran penyakit seperti diare dan kolera. Hal ini terjadi akibat runtuhnya sistem ekonomi, layanan kesehatan, dan berbagai fasilitas umum. Jika situasi ini tidak segera ditangani, dikhawatirkan akan muncul pandemi di kalangan masyarakat Yaman.
Selain itu, hampir tiga juta balita serta ibu hamil dan menyusui mengalami malnutrisi dan berbagai bentuk disabilitas sebagai dampak dari krisis yang terus berlangsung (Agama, 2023).
9
Masyarakat internasional juga dituntut untuk siap mengambil tindakan bersama secara cepat dan tegas sesuai dengan ketentuan Piagam PBB. Tindakan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing kasus dan dilakukan melalui kerja sama dengan organisasi- organisasi regional yang berkaitan, terutama ketika suatu negara gagal melindungi rakyatnya atau bahkan terbukti menjadi pelaku pelanggaran. Dalam beberapa situasi, respons ini mungkin memerlukan tindakan koersif, termasuk penggunaan kekuatan militer bersama jika dibutuhkan, melalui otoritas Dewan Keamanan PBB. Konsep ini telah diterima dan didukung oleh komunitas internasional dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) PBB pada tahun 2005, di mana lebih dari 150 negara menyatakan komitmennya terhadap prinsip Responsibility to Protect (Tanggung Jawab untuk Melindungi) (Sutrisna, 2017).
Tujuan utama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah untuk melindungi generasi mendatang dari bahaya perang. Oleh karena itu, PBB turut berperan aktif dalam menyelesaikan berbagai konflik yang terjadi antarnegara di dunia. Dalam upaya penyelesaian sengketa tersebut, PBB berpegang pada prinsip-prinsip tertentu, salah satunya tercantum dalam Pasal 2 ayat (3) Piagam PBB. Pasal tersebut menyatakan bahwa "Setiap anggota harus menyelesaikan perselisihan internasional mereka melalui cara-cara damai sedemikian rupa sehingga perdamaian, keamanan internasional, dan keadilan tidak terancam." Ini berarti setiap negara anggota wajib menyelesaikan konflik dengan pendekatan damai yang tidak mengganggu stabilitas global (Pasya, 2021).
Setelah bentrokan bersenjata pada Oktober 1972, ketegangan antara Yaman Utara dan Selatan mulai mereda berkat dorongan dari komunitas internasional, termasuk PBB. Organisasi ini:
1. Mendorong penyelesaian damai dan dialog antarnegara – sesuai dengan prinsip dalam Piagam PBB Pasal 2 Ayat 3, PBB mengajak kedua pihak menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
2. Bekerjasama dengan Liga Arab dan negara-negara regional untuk memfasilitasi perjanjian damai. Salah satu hasil penting dari mediasi tersebut adalah Perjanjian Kairo 1972, yang menyerukan rencana penyatuan kedua Yaman dalam satu negara, meskipun rencana ini belum segera terwujud.
3. Mengamati situasi politik dan keamanan di kawasan – meskipun PBB tidak mengirimkan pasukan perdamaian secara langsung, lembaga-lembaga di bawah
10
naungannya seperti Departemen Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian (DPO) melakukan pemantauan dan pelaporan terhadap perkembangan situasi di Yaman.
4. Mendukung upaya kemanusiaan – meskipun lebih signifikan dalam konflik Yaman modern (pasca-2015), PBB sejak awal turut mendorong pengiriman bantuan kemanusiaan dan pembangunan pascakonflik di wilayah yang terdampak (Lackner, 2020).
PBB, meskipun memiliki keterbatasan dalam hal sumber daya dan perlengkapan, menangani konflik di Yaman dengan pendekatan yang mirip seperti pada konflik kompleks lainnya, yaitu melalui penunjukan utusan khusus dan penerapan sanksi. Pendekatan ini dikenal sebagai strategi "wortel dan tongkat" dalam penyelesaian konflik. Utusan khusus tersebut berusaha menjalin komunikasi dengan berbagai pihak yang terlibat, dengan tujuan membujuk mereka untuk bersedia melakukan perundingan damai. Di sisi lain, terdapat tekanan terselubung berupa ancaman sanksi, yang telah diberlakukan oleh PBB terhadap lima individu di Yaman sebagai upaya menekan pihak-pihak yang memperburuk situasi (Need et al., 2019).
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah berupaya menjalin kerja sama dengan pihak- pihak yang terlibat guna mencapai solusi damai dalam konflik yang terjadi. Pada Desember 2018, PBB berhasil memfasilitasi tercapainya kesepakatan damai antara kelompok Houthi dan pemerintah Yaman dalam perundingan yang diadakan di Swedia. Kesepakatan ini dikenal dengan nama Perjanjian Stockholm, yang mencakup pertukaran tahanan serta kesepakatan untuk menarik pasukan dari wilayah strategis di sepanjang Laut Merah, termasuk kota pelabuhan Hodeida—yang menjadi jalur vital bagi masuknya makanan dan bantuan kemanusiaan. Namun, perbedaan pendapat dan kurangnya kepercayaan antar pihak telah menghambat implementasi perjanjian tersebut, sementara pertempuran dan ketegangan terus berlanjut di berbagai wilayah Yaman .
- Gerakan Selatan
Gerakan oposisi regional di provinsi selatan Yaman, yang awalnya dipelopori oleh pensiunan jenderal militer selatan, Nasir Ali an-Nuba, kini telah berkembang menjadi aliansi politik yang lebih luas. Aliansi ini menaungi berbagai kelompok oposisi selatan, beberapa di antaranya menganggap mantan pemimpin Partai Sosialis Yaman (YSP) dan mantan wakil presiden, Ali Salem al-Beidh, sebagai pendukung perjuangan mereka. Pada tahun 2009, Sheikh Tareq al-Fadhli, mantan sekutu Presiden Saleh di Kongres Rakyat Umum (GPC), juga bergabung dengan gerakan ini (Day, 2022).
11 Kesimpulan
Konflik antara Yaman Utara dan Yaman Selatan terjadi karena perbedaan pandangan politik dan ideologi setelah kedua wilayah menjadi negara yang terpisah. Yaman Utara cenderung berpihak ke negara-negara Barat dan bersifat konservatif, sedangkan Yaman Selatan mengikuti paham sosialis dan didukung oleh Uni Soviet. Perbedaan ini membuat hubungan mereka tegang dan akhirnya pecah menjadi perang pada tahun 1972.
Meskipun perang tidak berlangsung lama, konflik tersebut menunjukkan betapa sulitnya kedua negara untuk bekerja sama. Namun, dengan bantuan negara-negara Arab dan dorongan dari komunitas internasional, termasuk PBB, akhirnya tercapai kesepakatan damai melalui Perjanjian Kairo. Isi perjanjian tersebut salah satunya adalah rencana penyatuan kedua Yaman, walaupun baru benar-benar terjadi pada tahun 1990. Secara keseluruhan, konflik ini menjadi bukti bahwa perbedaan ideologi bisa menyebabkan perpecahan, namun dialog dan kerja sama dapat membuka jalan menuju perdamaian.
12
Daftar Pustaka
Abdul Hamid, M. A., Abdul Rahman, M. Z., & Raja Sulong, R. H. (2022). Faktor-Faktor Konflik Di Republik Yaman Berdasarkan Perspektif Abdul Hadi Awang Dan Kesannya Kepada Keadilan Sosial Factors of Conflict in The Republic of Yemen Based on Abdul Hadi Awang’s Perspective and Its Impact on Social Justice. Online Journal of Research in Islamic Studies, 9(2), 29–46.
https://doi.org/10.22452/ris.vol9no2.2
Agama, B. G. (2023). Peran PBB dalam mengatasi pelanggaran HAM di Yaman Pada Tahun 2015-2018. 1–53.
Ahmed, N. (2019). Yemeni Civil War: Causes, Consequences and Prospects. Jdp (Jurnal Dinamika Pemerintahan), 2(2), 82–91. https://doi.org/10.36341/jdp.v2i2.943
Aulia, Y. P. (2025). SIYAR Journal. 5(1), 44–62.
BRYJKA, F. (2016). North and South Yemen As a Theatre of a Proxy War During the Cold War. Journal of Science of the Gen. Tadeusz Kosciuszko Military Academy of Land Forces, 180(2), 19–34. https://doi.org/10.5604/17318157.1216079 Day, S. (2022). the Political Challenge of Yemenʹs Southern Movement. Yemen on the Brink,
108, 61–74. https://doi.org/10.2307/j.ctt6wpjfk.8
Diyarti, S., Asasriwarni, A., & Zulfan, Z. (2022). Analisis Sistem Peradilan Agama di Negara Yaman dan Pelaksanaannya. Jurnal Mediasas : Media Ilmu Syari’ah Dan Ahwal Al-Syakhsiyyah, 5(2), 148. https://doi.org/10.58824/mediasas.v5i2.486 Faridah, F., Yusuf, M., & Wahyudi, R. F. (2021). Kontribusi dan Dinamika Kehidupan
Muslim di Republik Yaman (Kajian Sejarah Dakwah). Jurnal Mimbar: Media Intelektual Muslim Dan Bimbingan Rohani, 7(1), 22–45.
https://doi.org/10.47435/mimbar.v7i1.579
Hermann, C. P. (2020). The inter-yemeni 1979 border conflict: an outbreak of cold war tensions in the arabic peninsula? 1991(March 1979), 1–10.
Jakti, G. P., & Jamil, A. (2016). Upaya Pemerintah Ali Abdullah Saleh Menyelesaikan Konflik Dengan Pemberontak Al Houthi. E-Journal Ilmu Hubungan
13 Internasional, 1–13.
Lackner, H. (2020). The role of the united nations in the yemen crisis. Global, Regional, and Local Dynamics in the Yemen Crisis, July, 15–32. https://doi.org/10.1007/978- 3-030-35578-4_2
Lee, S. M. (2020). Behind the Curtain: Syria’s 1979 Mediation in the Yemen Dispute.
Negotiation Journal, 36(1), 43–55. https://doi.org/10.1111/nejo.12308 Mulyastanto, R. Y. (2016). Unifikasi Yaman : Proses Penyatuan Kembali antara Yaman
Utara dan Yaman Selatan pada tahun 1972 - 1990. 1–19.
http://repository.upi.edu/id/eprint/28200
Need, T. H. E., Precisely, F. O. R., & Diplomacy, G. (2019). THE UN AND YEMEN : THE NEED FOR PRECISELY THE NEED FOR PRECISELY.
Nisa, R. C., Nisak, K., & Wargadinata, W. (2024). the Dynamics of the Saudi—Yemen Conflict: a Social Constructivist Analysis of Public Perception. Jurnal CMES, 17(1), 45. https://doi.org/10.20961/cmes.17.1.69434
Pasya, M. N. M. (2021). Peran Perserikatan Bangsa-Bangsa Dalam Menghadapi Sengketa Internasional. Researchgate, July, 0–19.
https://www.researchgate.net/profile/Muhammad-
Pasya/publication/353314853_PERAN_PERSERIKATAN_BANGSA- _BANGSA_DALAM_MENGHADAPI_SENGKETA_INTERNASIONAL/li nks/60f2f026fb568a7098b92d2d/PERAN-PERSERIKATAN-BANGSA- BANGSA-DALAM-MENGHADAPI-SENGKETA-INTERNASIONAL.pdf Prados, E. (2005). The US and Yemen: A Half-Century of Engagement.
Sari, I. P. (2023). Konflik Internal Negara Yaman Yang Melibatkan Negara-Negara Di Timur Tengah. June, 1–8.
Serr, M. (2017). Understanding the War in Yemen. Israel Journal of Foreign Affairs, 11(3), 357–369. https://doi.org/10.1080/23739770.2017.1419405
Sharp, J. M. (2020). Yemen: Civil war and regional intervention. Key Congressional Reports for September 2019: Part III, 309–337.
Sosial, J. I., Jishs, S., No, V., Hal, A., Setiawati, D., Rahayu, H. R., Arbakafin, Y., & Malang,
14
F. B. U. (2023). Kondisi Umum dan Pemicu Terjadinya Pergolakan Yaman.
2(1), 11–18.
Sutrisna, I. (2017). Upaya Dewan Keamanan PBB Dalam Melindungi Rakyat Yaman Pada Revolusi Rakyat Yaman Tahun 2011. Jom FISIP, 4(1–9).