• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konflik Palestina dan Israel

N/A
N/A
asahongsam

Academic year: 2024

Membagikan "Konflik Palestina dan Israel "

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Konflik Palestina dan Israel 1. Sejarah

Perang antara Palestina dan Israel semakin diperhatikan publik sejak 7 Oktober 2023 lalu. Namun, sebenarnya konflik ini dimulai pada 2 November 1917. Saat itu, Menteri Luar Negeri Inggris Arthur Balfour menulis surat untuk tokoh komunitas Yahudi Inggris bernama Lionel Walter Rothschild. Surat berisi 67 kata itu mengikat pemerintah Inggris mendirikan rumah nasional untuk orang Yahudi di Palestina.

Inti surat yang dikenal dengan nama Deklarasi Balfour itu membuat Eropa menjanjikan gerakan Zionis pada negara dengan 90% diisi oleh penduduk asli Arab Palestina. Ketegangan yang meningkat ini menjadi awal terjadinya Pemberontakan Arab pada 1936-1939. Pada April 1936, Komite Nasional Arab meminta warga Palestina melakukan pemogokan umum. Mandat Inggris itu dibentuk 1923 dan berlangsung hingga 1948. Selama itu, Inggris memfasilitasi migrasi massal orang Yahudi, kedatangannya cukup besar setelah gerakan Nazi di Eropa. Namun, migrasi besar-besaran itu mendapat pertentangan dari warga Palestina. Mereka khawatir akan ada perubahan demografi negara dan penyitaan tanah oleh Inggris yang akan diberikan untuk tempat Yahudi bermukim.

Ketegangan yang meningkat ini menjadi awal terjadinya Pemberontakan Arab pada 1936-1939. Pada April 1936, Komite Nasional Arab meminta warga Palestina melakukan pemogokan umum. Pemogokan massal terjadi selama enam bulan. Namun dibalas Inggris dengan melakukan penangkapan massal dan penghancuran rumah, praktik yang masih dilakukan Israel hingga kini.

Pemberontakan fase kedua yang dipimpin para petani Palestina terjadi pada 1937.

Sementara paruh kedua pada 1939, Inggris mengerahkan 30 ribu tentara di Palestina dan mereka menjatuhkan bom melalui udara, memberlakukan jam malam, menghancurkan banyak rumah, penahanan administratif, dan pembunuhan massal. Selama tiga tahun pemberontakan ribuan orang menjadi korban. Terdapat 5.000 orang Palestina terbunuh, 15-20 ribu orang terluka dan 5.600 dipenjara.

Populasi Yahudi kian membengkak 33% namun dengan lahan hanya 6% di Palestina pada 1947. Ini yang membuat PBB turun tangan dan mengadopsi Resolusi 181 untuk pembagian wilayah Palestina menjadi negara Arab dan Yahudi. Rencana PBB itu

(2)

ditolak Palestina. Karena Resolusi 181 akan memberikan 56% wilayah palestina pada Yahudi, termasuk sebagian besar wilayah pesisir subur. Saat itu 94% wilayah Palestina adalah bersejarah dengan 67% populasi. Di sisi lain, paramiliter Israel telah mulai operasi militer sebelum mandat kekuasaan Inggris berakhir 14 Mei 1948. Mereka menjatuhkan sejumlah wilayah Palestina untuk perluasan perbatasan wilayah Israel. Pada 1947-1948, lebih dari 500 desa, kota kecil dan besar Palestina hancur. Sekitar 15 ribu orang Palestina terbunuh, termasuk adanya puluhan pembantaian.

Insiden tersebut membuat Gerakan Zionis menguasai 78% wilayah bersejarah Palestina. Sementara 22% sisanya dibagi menjadi yang dikenal saat ini Tepi Barat dan Jalur Gaza. Pada 15 Mei 1948, Israel didirikan dan keesokan harinya perang Arab dengan negara baru itu dimulai. Perang berakhir Januari 1949 dengan gencatan senjata antara Israel dan Mesir, Lebanon, Yordania, dan Suriah.

Perlawanan atau Intifada dalam bahasa Arab dilakukan Palestina pertama kali pada Desember 1987 di Jaluar Gaza. Ini dilakukan setelah empat warga Palestina tweas saat truk Israel bertabrakan dengan dua van yang membawa pekerja Palestina. Protes menyebar ke Tepi Barat dengan pemuda Palestina melemparkan batu ke tank dan tentara Israel. Inilah yang menjadi awal terbentuknya gerakan Hamas, cabang Ikhwanul Muslimin yang melakukan perlawanan bersenjata pada Israel. Israel tak tinggal diam dengan melakukan sejumlah aksi seperti pembunuhan mendadak, penutupan universitas, deportasi aktivis, dan penghancuran rumah. Perlawanan itu berakhir setelah adanya Perjanjian Oslo tahun 1993. Saat itu juga dibentuk pemerintah sementara di wilayah pendudukan Tepi Barat dan Jalur Gaza, Otoritas Palestina (PA).

Perlawanan kedua Palestina terjadi 28 September 2000. Saat itu pemimpin oposisi Partai Likud Israel, Ariel Sharon, melakukan kunjungan provokatif ke kompleks Masjid Al Aqsa. Bentrok terjadi, yang menewaskan lima warga Palestina dan melukai 200 orang selama dua hari. Selain itu juga memperluas pemberontakan bersenjata. Sejak saat itu, Israel diketahui terus menerus melakukan serangan militer berkepanjangan di Gaza.

2. Genosida oleh Israel

Tindakan Israel terhadap Palestina saat ini memenuhi unsur kejahatan genosida dalam Statuta Roma dan harusnya bisa diadili International Criminal Court. Genosida menurut pasal 6 Statuta Roma 1998 merupakan kejahatan yang dilakukan secara

(3)

sistematis dengan tujuan untuk menghancurkan seluruh atau sebagian etnis, ras, suku, dan agama seperti :

a. Membunuh suatu kelompok;

b. Menyebabkan luka parah atau merusak Mental suatu kelompok;

c. Dengan sengaja mengancam jiwa suatu kelompok yang menyebabkan luka fisik baik sebagian maupun keseluruhan;

d. Melakukan tindakan yang dimaksudkan untuk mencegah kelahiran dalam kelompok;

e. Memindahkan anak-anak secara paksa dari satu kelompok-ke kelompok lain.

Mengulik dari perbuatan yang dilakukan oleh Israel, tidak dapat dipungkiri Israel telah melakukan kejahatan genosida. Agresi Israel di Gaza sampai saat ini menewaskan lebih dari 14.000 jiwa warga Palestina, di antaranya 5.600 perempuan dan 3.550 anak-anak hingga Rabu, 22 November 2023. Selain itu, penyerangan rumah sakit di Gaza dianggap merupakan strategi militer Israel untuk memusnahkan warga Palestina. Bahkan, kini lebih dari 800.000 warga Palestina dilaporkan tidak memiliki akses ke pelayanan kesehatan, termasuk para korban luka.

Sedikitnya 100 warga Palestina tewas per 6 Desember 2023 ketika pertempuran sengit terus berlanjut antara tentara Israel dan militan Palestina di darat. Pada Selasa malam (5/12) waktu setempat, kantor media pemerintah yang dikelola Hamas di Gaza mengatakan bahwa jumlah warga Palestina yang tewas telah bertambah menjadi 16.248 orang sebagai akibat serangan Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober. Menurut pernyataan tersebut, jumlah orang yang hilang mencapai 7.600 orang, dan jumlah orang yang terluka mencapai 43.616 orang. Apabila diperhatikan, dari rentang tanggal 22 November hingga 6 Desember 2023, jumlah korban tewas bertambah sekitar 2000 lebih jiwa.

Apabila dilihat kebelakang, pada 2014 Israel dalam serangan 50 hari Israel telah membunuh lebih dari 2100 warga Palestina, termasuk 1462 warga sipil dan hampir 500 anak- anak. Selanjutnya, pada masa covid 19 sepanjang Maret 2020 ada 357 warga Palestina ditahan oleh tentara Israel, termasuk diantaranya 48 perempuan dan 4 perempuan.

(4)

3. Hukum yang dilanggar

Tindakan yang dilakukan oleh Israel ini tentu merupakan kejahatan genosida.

Dalam konflik bersenjata, warga sipil berada dalam perlindungan. Berdasarkan Konvensi Jenewa IV/1949 dan Protokol Tambahan I/1977, penduduk sipil merupakan pihak yang harus dilindungi dan tidak boleh diserang seperti yang tercantum dalam pasal 4 konvensi jenewa iv/1949 “persons protected by the convention are those who, at a given moment and in any manner whatsoever, find themselves, in case of a conflict or occupation, in the hands of a party to the conflict or occupying power of which they are not nationals”.

Maksud dari pasal 4 konvensi jenewa iv/1949 adalah bahwa orang yang dilindungi dalam konvensi adalah mereka yang pada saat dan karena peristiwa,menemukan dirinya dalam kasus pertikaian atau kependudukan, berada di tangan pihak yang bertikai atau negara yang menduduki yang bukan negaranya.

Pasal 13 Konvensi Jenewa IV/1949 menyatakan bahwa “The provisions Art 4

“The whole of the populations of the countries in Conflict, without any adverse distinction based in Particular, on race, nationality, religion or political Optimum, and are intended to alleviate the sufferings Caused by war”. Maksud dari pasal tersebut adalah Bahwa perlindungan penduduk sipil meliputi seluruh Penduduk dari negara- negara yang bersengketa, Tanpa perbedaan yang merugikan apapun yang Didasarkan atas suku, kewarganegaraan, agama atau keadaan politik dan dimaksudkan untuk meringankan penderitaan-penderitaan yang disebabkan oleh perang.

Pasal 31 Konvensi Jenewa IV/1949 mengatur tentang Penangkapan dan Penghapusan Kebebasan terhadap Penduduk Sipil Opertion Cast Lead. Pasal 31 memberikan perlindungan bagi penduduk sipil bahwa mereka tidak diperkenankan mendapatkan tindakan apapun yang dapat menimbulkan penderitaan jasmani ataupun pemusnahan orang-orang yang dilindungi oleh konvensi. Tetapi pada kenyataannya dalam Opertion Cast Lead tentara-tentara Israel sering melakukan penangkapan kepada penduduk- penduduk sipil tanpa adanya alasan yang jelas. Seperti pada masa covid 19 sepanjang Maret 2020 ada 357 warga Palestina ditahan oleh tentara Israel, termasuk diantaranya 48 perempuan dan 4 perempuan.

Pelanggaran lain yang dilakukan oleh Israel selama Opertion Cast Lead adalah pelanggaran terhadap Pasal 24 dan Pasal 50 Konvensi Jenewa IV/1949 tentang

(5)

Perlindungan Hak-hak anak. Dapat dilihat dari berbagai media dan berita melaporkan bahwa anak-anak turut menjadi korban dalam serangan seakan Israel tidak menghiraukan bunyi pasal 24 dan 50 Konvensi Jenewa IV/1949. Dalam pasal-pasal tersebut sudah dengan jelas disebutkan bahwa pihak dalam pertikaian harus mengambil tindakan yang perlu untuk menjamin bahwa anak-anak dibawah lima belas tahun, yatim piatu, atau yang terpisah dari keluarga sebagai akibat perang tidak terlantar dan juga kekuatan pendudukan wajib, berkerjasama dengan pemerintah lokal untuk memfasilitasi kerja yang tepat dari semua lembaga yang ditujukan untuk perawatan dan pendidikan anak-anak.

Tetapi faktanya di lapangan serangan yang dilakukan oleh pasukan Israel tidak pandang bulu, bahkan korban yang jatuh paling banyak adalah anak-anak.

Ketika kita memeriksa definisi genosida untuk menilai situasi di Gaza, menjadi jelas sebagian besar yang tewas dalam serangan Israel memiliki ras, etnis, dan agama yang sama dengan warga Palestina, sementara sebagian besar mengikuti agama Islam. Jadi, warga Palestina memenuhi definisi "kelompok" dalam konteks kejahatan genosida, dengan identitas etnis, agama, dan nasional yang sama.

Fakta bahwa upaya telah dilakukan untuk mengusir orang-orang dari kelompok nasional, agama, dan etnis lain sejak awal konflik menunjukkan warga Palestina adalah sasaran serangan.

Selain itu, kenyataan bahwa yang tewas termasuk orang-orang dari negara lain, agama, dan kelompok etnis tidak menghapus kejahatan genosida, karena korban utama secara signifikan adalah warga Palestina.

Melakukan salah satu dari lima tindakan yang dilarang sudah cukup untuk menetapkan atanya kejahatan genosida. Dalam kasus praktik Israel, tampaknya mereka sejalan dengan setidaknya tiga dari tindakan yang didefinisikan dalam kejahatan.

Referensi

Dokumen terkait

Secara yuridis normatif konflik yang terjadi di Suriah memiliki keterkaitan dengan konvensi-konvensi internasional salah satunya ialah konvensi jenewa 1949,

Jumlah ini menjadikan Sri Lanka sebagai negara dengan jumlah kasus orang hilang terbanyak di dunia ( Human Right Watch, 2010 :11). Pasal 3 Konvensi Jenewa secara jelas

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ketentuan dalam Konvensi Jenewa IV tahun 1949 mengenai perlindungan terhadap anak-anak dalam situasi

Ketentuan tersebut terdapat pada amanat Pasal 36 Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa tentang Perlindungan Korban-korban Pertikaian-Pertikaian Bersenjata

mereka, orang-orang yang dilindungi dalam arti Konvensi Jenewa IV adalah.. penduduk sipil musuh. Karena selain di wilayahnya sendiri, suatu negara dalam perang

Dalam Konvensi- konvensi Den Haag 1907 dikenal pihak yang bertikai dalam konflik bersenjata hanyalah aktor Negara, dalam Konvensi-konvensi Jenewa 1949 tidak

Pertikaian bersenjata sebagaimana yang diatur dalam Pasal 2 ini dapat terjadi antara dua atau lebih Pihak Peserta Agung (Konvensi Jenewa menggunakan isstilah Peserta Agung

Perlindungan terhadap penduduk sipil yang diatur dalam konvensi jenewa IV adalah tidak sama dengan orang yang dilindungi yang diatur dalam konvensi jenewa I, II, dan III yang