PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap praktek jual beli benih cengkeh sistem Mappalla pada masyarakat Bukkere Kabupaten Sidrap. Apa dampak penerapan praktek jual beli benih cengkeh sistem Mappalla pada masyarakat Bukkere Kabupaten Sidrap.
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitiaan
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Penelitian Terdahulu
Perbedaan penelitian yang akan kami kaji adalah menjelaskan praktik jual beli benih cengkeh dalam sistem Mappalla dalam perspektif hukum Islam (studi kasus di masyarakat Bukkere, kabupaten Sidrap). Sedangkan penelitian terdahulu menjelaskan hukum Islam tentang jual beli benih ikan lele dengan sistem takaran di Desa Reksosari Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang.
Tinjauan Teoritis
- Tinjauan tentang Al-‘Urf
- Tinjauan tentang Maslahat
- Tinjauan tentang Gharar
Sedangkan 'urf al-fi'li (kebiasaan yang berupa perbuatan) seperti transaksi jual beli kebutuhan sehari-hari di pasar, tanpa mengucapkan akad dan qabul, disebut jual beli muthah. Dari pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa pengertian urfa adalah apa yang diketahui masyarakat baik berupa perkataan, perbuatan atau aturan yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat tersebut. Urf seperti ini tidak bisa dijadikan dalil syariat karena dalil adanya 'urf hanya bisa diterima jika tidak ada nash yang memuat kebenaran permasalahan yang dihadapi.
Jika ia bercanggah dengan teks tertentu yang menyebabkan undang-undang dalam teks tidak berfungsi, maka 'urf jelas tidak boleh digunakan dan digunakan sebagai bukti dalam kes ini. Menurut Mushtafa Ahmad az-Zarqa', sekiranya 'urf itu sudah wujud ketika nas umum datang, maka perlu dibezakan antara 'urf. Menurut mazhab Hanafiyah, jika 'urf yang ada adalah 'urf umum, ia boleh mengkhususkan teks umum.14 Kerana pengkhususan itu tidak menjadikan hukum dalam nas itu tidak praktikal.
Dalam hal ini, ulama Hanafi dan Malikijah adalah yang paling banyak menggunakan Urf sebagai hujah berbanding ulama Syafi'i dan Hanebilah. Dalam bidang muamelah antara lain Islam membenarkan berburu binatang, berjual beli (baî‘al-salam), bekerjasama dalam bidang pertanian (muzâra‘ah) dan perladangan (musâkah). 26. Jual beli gharar termasuklah jual beli secara lot dalam pelbagai bentuk.
Tinjauan Konseptual
Jual Beli dengan cara saling melempar (bai’ al-munabazah), yaitu seseorang melemparkan pakaiannya kepada orang lain dan apabila orang yang dilempar melemparkan pakaiannya kepada orang yang melemparkannya, maka keduanya wajib membawa jualan. dan membeli, meskipun pembeli tidak mengetahui kualitas barang yang dibelinya. Jual Beli dengan cara menyentuh (bai' al-mulamasah), yaitu jika seseorang menyentuh suatu barang maka dia wajib membeli barang itu, meskipun dia belum mengetahui dengan jelas barang mana yang akan dibelinya... yang sudah dapat dibebani kewajiban) yang diakui dan diyakini, yang mengikat seluruh pemeluknya.43. Seperti yang terjadi pada masyarakat Bukkere Kabupaten Sidrap yaitu jual beli bibit cengkeh dengan sistem Mappalla'.
Namun sistem jual beli ini tidak diperbolehkan dalam Islam karena mengandung unsur penipuan di dalamnya. Jual beli Mappalla' (grosir) dalam Islam sering disebut Al-Jizāfu, yaitu jual beli sesuatu tanpa menggunakan sistem ukur atau penimbangan dan perhitungan yang cermat, sehingga hasil penilaian yang diperoleh kedua belah pihak hanya bersifat spekulatif.44. Masyarakat Bukkere mengenal Mappalla' sebagai tanaman yang masih berada di dalam tanah, yang diberi batas/petak yang terdiri dari beberapa biji.
Kemudian, dalam praktik mappalla, akad jual beli biasanya dilakukan hanya secara lisan tanpa adanya bukti transaksi yang sah, sehingga memungkinkan terjadinya perselisihan di kemudian hari.
Kerangka Pikir
METODE PENELITIAN
- Jenis penelitian
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Fokus Penelitian
- Jenis dan Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
Penelitian ini berfokus pada sistem Mappalla yang digunakan dalam jual beli benih cengkeh pada masyarakat Bukkere Kabupaten Sidrap. Berikut ini akan dijelaskan tahapan praktek jual beli benih cengkeh dengan sistem mappalla pada masyarakat Bukkere Kecamatan Panca Lautang Kabupaten Sidrap. Kemudian pembayaran pembelian dan penjualan benih cengkeh melalui sistem mappalla masyarakat Bukkere tidak disertai kuitansi atau bukti pembayaran.
Jual beli bibit cengkeh mappalla pada masyarakat Bukkere merupakan sistem kekeluargaan dan kepercayaan yang diutamakan. Praktek jual beli bibit cengkeh yang biasa dilakukan oleh masyarakat Bukkere dikenal dengan sistem mappalla. Lokasi pengambilan dan pembelian bibit cengkeh dengan sistem mappalla biasanya dilakukan di kebun petani.
Implikasi Praktek Jual Beli Bibit Cengkih Dalam Perspektif Sistem Hukum Islam Mappalla (Studi Kasus Pada Masyarakat Bukkere Kabupaten Sidrap)”.
HASIL PENELITIAN
Penerapan Praktik Jual Beli Bibit Cengkeh Sistem Mappalla’ pada
Dan sebagian besar masyarakat Bukkere mempunyai kebun cengkeh, sehingga petani cengkeh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga memproduksi bibit cengkeh untuk dijual, namun penggunaan sistem mappalla sudah menjadi adat di masyarakat ini. Untuk memenuhi kebutuhan penghidupan masyarakat Bukkere yang mayoritas adalah petani yaitu melalui jual beli, karena Bukkere penuh dengan tanaman cengkeh maka masyarakat melakukan kegiatan ekonomi jual beli dengan menggunakan sistem Mappalla, dimana Mappalla' itu sendiri adalah bahasa masyarakat Desa Cenrana khususnya masyarakat Bukkere dan sistemnya. Jual beli ini sudah menjadi adat atau sudah dibudayakan di kalangan masyarakat Bukkere.” 1. Mappalla' adalah istilah yang digunakan masyarakat Bukkere di Desa Cenrana, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidrap untuk menjual benih.
Bibit yang digunakan dalam jual beli adalah bibit cengkeh karena sebagian besar masyarakat di Bukkere menanam cengkeh dan menggunakan sistem mappalla' karena tidak memakan banyak waktu untuk merawatnya lalu membeli dan menjualnya. Saya sudah 3 tahun jual beli sistem mappalla ini dengan pod yang umurnya ± 10 tahun.” 2. Mekanisme yang digunakan dalam praktek mappalla' untuk mengetahui pertumbuhan barang yang diperdagangkan adalah melalui evaluasi.
Ijab dan qabul yang dilakukan dalam jual beli benih cengkeh dengan sistem mappalla pada masyarakat Bukkere Kecamatan Panca Lautang Kabupaten Sidrap bersifat lisan dan diakhiri dengan jabat tangan antara petani dan pembeli.
Praktik Jual Beli Bibit Cengkeh Sistem Mappalla’ pada Masyarakat Bukkere
Untuk sah atau tidaknya, Anda harus mengetahui terlebih dahulu rukun dan syarat jual beli yang harus dipenuhi. Praktek jual beli bibit cengkeh dengan sistem mappalla di masyarakat Bukkere kecamatan Panca Lautang Kabupaten Sidrap, barang yang dijadikan barang jualan jelas milik petani, barang atau barang jualan tersebut tidak najis dan tidak bersih. Berdasarkan uraian di atas, menjadi jelas bahwa tidak semua jual beli yang mengandung unsur gharar adalah haram.
Jual beli bibit cengkeh dengan menjalankan sistem mappalla pada masyarakat Bukkere dalam pelaksanaan ijab dan qabul yang diutamakan adalah kekeluargaan dan kepercayaan karena dalam jual beli tidak ada dokumen tertulis seperti akad, kuitansi atau bukti-bukti lainnya. pembayaran tidak, sehingga mereka saling percaya, karena sudah menjadi budaya di masyarakat Bukkere. Seperti kebiasaan jual beli bibit cengkeh dengan sistem mappalla pada masyarakat Bukkere, bibit cengkeh masih berada di dalam tanah pada saat aqad dan belum tumbuh daun maupun batang. Berdasarkan uraian tersebut, ijab dan qabul dalam jual beli harus tetap, namun bentuknya tergantung kebiasaan masing-masing, yang terpenting maksud dan tujuannya sama dan kemauan kedua belah pihak tetap.
Perlu kita ketahui bahwa Sistem Jual Beli Mappalla diterima oleh seluruh Masyarakat Bukkere dan dalam bertransaksi ada ijin dan Qabul antara kedua belah pihak dan juga dilihat dari adat istiadat dan diterima oleh banyak masyarakat.
Dampak dari Penerapan Praktik Jual Beli Bibit Cengkeh Sistem Mappalla’di
Meskipun sejak awal proses jual beli dalam sistem Mappalla’ sudah ada kesepakatan bahwa kerugian ditanggung masing-masing pihak, namun konsep Maslahat dalam Islam menolak kerugian atau hal-hal yang dapat merugikan, sehingga hilanglah manfaatnya sendiri. . Dilihat dari manfaatnya, berdasarkan kualitas dan pentingnya manfaat jual beli, sistem Mappalla terlibat dalam pelestarian kehidupan dan harta benda. Hal inilah yang dilakukan masyarakat Bukkere dalam hal jual beli dengan sistem Mappalla untuk mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dilihat dari segi hukum Islam, praktek jual beli benih cengkeh sistem Mappalla pada masyarakat Bukkere Kabupaten Sidrap sudah sesuai dengan kaidah jual beli dalam Islam, karena setelah meninjau ketentuan dan syarat jual beli. penjualan, praktek ini mematuhi syarat dan ketentuan jual beli. uang dalam Islam. Jual Beli Bibit Cengkih Sistem Mappalla' pada Masyarakat Bukkere Kabupaten Sidrap, dimana sistem ini mengandung ketidakpastian pertumbuhan bibit sesuai dengan pertumbuhan bibit cengkeh dari mana diambil, sehingga dampak yang ditimbulkan kepada penjual adalah yang di pembeli adalah bibit cengkeh tersebut tidak dijamin masih berada di dalam tanah (belum tumbuh daun) pertumbuhannya akan baik. Walaupun jual beli bibit cengkeh dengan sistem mappalla pada masyarakat Bukkere selama ini tidak pernah menimbulkan konflik antara kedua belah pihak, namun hal tersebut akan lebih baik dibandingkan dengan adanya perjanjian jual beli antara petani (penjual) dan pembeli yang dilakukan pada tahun 2017. tertulis dan jelas agar perjanjian jual beli mempunyai kekuatan hukum yang pasti sehingga dapat dipertanggungjawabkan di kemudian hari.
Review Hukum Islam Jual Beli Bibit Ikan Lele Dengan Sistem Takar di Desa Reksosari Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang.
PENUTUP
Simpulan
Pelaksanaan Masyarakat Bukkere sehubungan dengan praktek Jual Beli Bibit Bunga Anyelir Sistem Mappalla yang masih ada di dalam tanah, diberikan batasan/holding yang terdiri dari beberapa bibit yang diperjualbelikan hanya dengan menggunakan sistem penilaian saja, dimana Bibit yang digunakan dalam jual beli adalah bibit anyelir karena masyarakat Bukkere merupakan mayoritas petani anyelir dan mereka menggunakan sistem mappalla karena menganggap cara ini lebih mudah dan tidak membutuhkan perawatan yang lebih lama dari pihak petani. Hal inilah yang menyebabkan sistem mappalla masih digunakan oleh masyarakat Bukkere hingga saat ini dan menjadi tradisi alami dalam masyarakat yang dikenal dengan nama Al-'Urf. Dalam pembayaran yang tidak disertai invoice, landasannya adalah rasa percaya dan kekeluargaan, karena petani dan pembeli sudah saling percaya.
Dimana gharar (ketidakjelasan) mengenai objek transaksi yaitu biji cengkeh, berdasarkan berbagai pendapat para ulama, masih tergolong gharar ringan dan tidak dapat dihilangkan kecuali dengan susah payah, sehingga dikecualikan dari hukum asal usulnya. gahar. Oleh karena itu, akan ada kerugian bagi pembeli. Dilihat dari sisi keuntungannya, sistem ini merugikan karena bibit cengkeh yang masih berada di tanah yang baik tidak terjamin pertumbuhannya, kondisi bibit tidak diketahui dan tidak dapat ditentukan. langsung terlihat oleh pembeli.
Saran
Pembiayaan murabahah pada bank syariah berupa dokumen otentik pelaksanaan pilar, syarat dan prinsip syariah. Penerapan Teori Mashlahah (Maslahat) Najm Al-Dîn Al-Thûfî dalam penyelesaian sengketa akad bisnis di bank syariah. Sistem Jual Beli Buah Grosir Dalam Perspektif Ekonomi Islam (Studi Kasus Pasar Pa'baeng-Baeng Makassar.