i
MAKALAH
KONSEP KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN KEAGAMAAN ISLAM
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisis Kebijakan Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Dr. H. Abd. Muhith, S. Ag., M. Pd.
Di Susun oleh : kelompok 1
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UIN KIAI HAJI ACHMAD SHIDDIQ JEMBER 2024
Wardatun Nadziro : 211101030004
Andini Karunia Putri : 211101030044
Abdullah Afifi : 212101030052
ii
KATA PENGANTAR
Puji sukur atas kehadirat allah swt. Yang telah memberikan kami kekuatas serta kelancaran dalam menyelesaikan makalah mata kuiah Analisis Kebijakan Pendidikan Islam yang berjudul Konsep Kebijakan Pendidikan Islam Dan Kebijakan Pendidikan Keagamaan Islam ini dapat terselesaikan seperti waktu yang telah kami rencanakan. Tersususnnya makalah ini tentunya tidak lepas dari berbagai pihak yang telah memberikan bantuan secara materiin dan moril kepada kita, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak agar dapat menjadi motivasi bagi kami untuk lebih baik lagi dalam berkarya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Jember, 02 Maret 2024
Kelompok 1
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 2
C. Tujuan ... 2
BAB II PEMBAHASAN ... 3
A. Arah Kebijakan Pendidikan Islam ... 3
B. Tujuan Kebijakan Pendidikan Islam ... 5
C. Konsep Kebijakan Pendidikan Islam ... 6
BAB III PENUTUP ... 11
A. Kesimpulan ...11
DAFTAR PUSTAKA ... 12
LAMPIRAN-LAMPIRAN _
1
BAB I
PENDAHUULUAN A. Latar Belakang
Pendidikan Islam memiliki peran yang penting dalam membentuk karakter dan pemahaman agama masyarakat Muslim. Dengan meningkatnya kebutuhan akan pendidikan agama yang berkualitas dan relevan dengan perkembangan zaman, konsep kebijakan pendidikan Islam dan kebijakan pendidikan keagamaan Islam di lembaga pendidikan menjadi subjek yang semakin diperhatikan.
Di berbagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, termasuk Indonesia, Malaysia, Turki, dan negara-negara di Timur Tengah, pemerintah dan lembaga pendidikan telah merancang kebijakan-kebijakan khusus untuk mempromosikan pendidikan Islam yang berkualitas. Konsep-konsep dasar seperti inklusivitas, integrasi ilmu agama dan ilmu umum, pembangunan karakter, dan peningkatan kualitas pendidikan menjadi fokus utama dalam merumuskan kebijakan pendidikan Islam yang efektif.
Dalam konteks kebijakan pendidikan keagamaan Islam di lembaga pendidikan, metode pengajaran, kurikulum, pelatihan guru, dan penilaian memainkan peran penting dalam menentukan efektivitas pendidikan agama Islam. Upaya-upaya untuk meningkatkan pemahaman agama, pembentukan karakter, dan peningkatan kualitas pendidikan Islam melalui kebijakan-kebijakan ini menjadi kunci dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan agama yang komprehensif dan berdaya guna.
Dengan latar belakang ini, penelitian lebih lanjut tentang konsep kebijakan pendidikan Islam dan kebijakan pendidikan keagamaan Islam di lembaga pendidikan menjadi penting untuk memahami bagaimana kebijakan ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengembangan masyarakat Muslim secara holistik dan berkelanjutan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah Arah Kebijakan Pendidikan Islam?
2. Bagaimanakah Tujuan Kebijakan Pendidikan Islam?
3. Bagaimanakah Konsep Kebijakan Pendidikan Dan Keagamaan Islam?
C. Tujuan Masalah
2
1. Untuk Mendeskripsikan Arah Kebijakan Pendidikan Islam.
2. Untuk Mendeskripsikan Tujuan Kebijakan Pendidikan Islam.
3. Untuk Mendeskripsikan Konsep Kebijakan Pendidikan Dan Keagamaan Islam.
3
BAB II PEMBAHASAN A. Arah Kebijakan Pendidikan Islam
Pendidikan agama dan keagamaan adalah bagian dari usaha pemerintah untuk menyamakan pendidikan, seperti yang diatur dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan agama berkaitan dengan pelajaran agama di setiap jenjang pendidikan, sementara pendidikan keagamaan mencakup upaya menyamakan pendidikan formal, nonformal, dan informal, termasuk menyediakan fasilitas yang sama untuk lembaga pendidikan agama seperti pondok pesantren, madrasah, dan universitas agama. Dalam menerapkan kebijakan ini, pemerintah memiliki dua pilihan, yaitu menerapkan langsung melalui program atau membuat kebijakan turunan dari kebijakan publik yang ada.1 Hasanudin menyoroti beberapa persoalan dalam pengimplementasian kebijakan Pendidikan Agama Islam, di antaranya yaitu:
1. Alokasi waktu yang terbatas untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
2. Kurangnya kualitas guru agama dan perlunya peningkatan dalam aspek profesionalisme dan sarana prasarana.
3. Pengajaran yang cenderung fokus pada aspek kognitif dan kurang memperhatikan aspek afektif dan psikomotorik.
4. Kurangnya koordinasi antara Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional.
5. Kesenjangan antara peran guru agama dan guru lain dalam pembinaan sikap keberagamaan.
6. Prioritas rendah terhadap Pendidikan Agama Islam dalam pengelolaannya.
7. Kesenjangan antara misi Pendidikan Agama Islam dengan realitas keluarga dan masyarakat.
8. Tantangan dari era globalisasi dan informasi yang menuntut harmonisasi antara agama dengan modernisasi.2
Arah kebijakan Pendidikan Islam mengacu pada arah kebijakan Kementerian Agama Bidang Pendidikan 2015-2019, antara lain:
1. Meningkatkan akses dan mutu pendidikan anak usia dini (PAUD) diarahkan pada upaya:
1 Rachmad Sobri, “Politik Dan Kebijakan Tentang Pendidikan Agama Dan Kagamaan Di Indonesia (Analisis Kebijakan PP No. 55 Tahun 2007)”, Jurnal Pendidikan Islam 08, No. 01 (Februari 2019): 114.
2 Ade Salamun dan jlkkjSofyan Sauri, “Isu dan Masalah Dalam Analisis Evaluasi dan Pengembangan Kebijakan Pendidikan Agama Islam”, Jurnal Pendidikan Islam, VOL: 12/NO: 01 Februari 2023, 232-236.
4
• Peningkatan dana operasional sekolah berupa BOS untuk RA;
• Penyediaan ruang kelas pendidikan RA yang berkualitas;
• Penyediaan peralatan dan perlengkapan pendidikan RA yang berkualitas; dan
• Pengembangan kurikulum yang disertai dengan pelatihan, pendampingan dan penyediaan buku pendidikan yang berkualitas sesuai kurikulum pendidikan anak usia dini yang berlaku.
2. Meningkatkan akses dan mutu pendidikan dasar-menengah (wajib belajar 12 tahun) yang meliputi:
• Memperluas akses masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan.
• Meningkatkan penyediaan sarana prasarana pendidikan yang berkualitas.
• Meningkatkan mutu peserta didik.
• Meningkatkan jaminan mutu kelembagaan pendidikan.
• Meningkatkan kurikulum dan pelaksanaannya.
• Meningkatkan kualitas guru dan tenaga kependidikan.
3. Meningkatkan akses, mutu dan relevansi pendidikan tinggi keagamaan meliputi:
• Meningkatkan akses pendidikan tinggi keagamaan.
• Meningkatkan kualitas layanan pendidikan tinggi keagamaan.
• Meningkatkan mutu dosen dan tenaga kependidikan perguruan tinggi keagamaan.
• Meningkatkan kualitas hasil penelitian/riset dan inovasi perguruan tinggi keagamaan.
4. Meningkatkan layanan pendidikan keagamaan yang berkualitas meliputi:
• Peningkatan akses pendidikan keagamaan.
• Peningkatan mutu sarana prasarana pendidikan keagamaan.
• Peningkatan mutu peserta didik pendidikan keagamaan.
• Peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan keagamaan.
• Peningkatan penjaminan mutu kelembagaan pendidikan keagamaan.
• Peningkatan kualitas pembelajaran keagamaan yang moderat pada pendidikan keagamaan.
5. Meningkatkan kualitas pendidikan agama pada satuan pendidikan umum untuk memperkuat pemahaman dan pengamalan untuk membina akhlak mulia dan budi pekerti luhur meliputi:
• Peningkatan mutu dan pemerataan guru pendidikan agama.
• Peningkatkan mutu dan pemahaman siswa terhadap pendidikan agama.
• Peningkatan mutu kelembagaan pendidikan agama.
6. Meningkatkan tata kelola pendidikan agama diarahkan pada upaya:
• Penguatan struktur dan tata organisasi pengelola pendidikan dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan pada semua jenis, jenjang dan jalur pendidikan;
5
• Penguatan lembaga penelitian kebijakan pendidikan dan jaringannya agar dapat menghasilkan kajian-kajian kebijakan dalam pengembangan norma, standar, prosedur, dan kriteria pembangunan pendidikan yang inovatif;
• Penguatan penyusunan dan penyelarasan peraturan yang menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan yang merata, berkeadilan dan bermutu;
• Penguatan sistem informasi pendidikan melalui penguatan kelembagaan dan kapasitas pengelola sistem informasi;
• Peningkatan komitmen pengembil kebijakan dalam penyediaan data dan informasi pendidikan sehingga pengumpulan data dan informasi dapat dilakukan dengan lebih baik;
• Penyelarasan peraturan yang memungkinkan pemanfaatan sumberdaya keuangan untuk pembiayaan semua jenis satuan pendidikan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah;
• Penguatan kapasitas pengelola pendidikan untuk dapat berperan secara maksimal dalam pengelolaan satuan pendidikan secara transparan dan akuntabel; dan
• Peningkatan partisipasi seluruh pemangku kepentingan pembangunan pendidikan untuk memperbaiki efektivitas dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan dalam memberikan dukungan bagi satuan pendidikan untuk pelayanan pendidikan.3
B. Tujuan Kebijakan Pendidikan Islam
Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3 Nomor 20 tahun 2003 ditegaskan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
4Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany dalam bukunya Falsafah al-tarbiyyah al- Islamiyyah mengatakan: “tujuan pendidikan yaitu adanya perubahan yang diinginkan dan di
3 DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM KEMENTRIAN AGAMA RI,
Pendis.kemenag.go.id., Arah Kebijakan Dan Strategi Pendidikan Islam Tahun 2015-2019, https://pendis.kemenag.go.id/profil/arahan-kebijakan
4 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 (Jakarta: Sinar Grafika, 2016) Cet. Ke- 7 hal.7.
6
usahakan oleh proses pendidikan untuk mencapainya, baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya, masyarakat sekitar pada proses pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi yang professional dalam masyarakat”.
5Berdasarkan tujuan pendidikan nasional tersebut, maka tujuan kebijakan Pendidikan Islam dilakukan untuk memperbaiki dan menyempurkan kekerangan-kekurangan yang ada, agar pelaksanaan pendidikan Islam semakin bermutu dan semakin baik.
Beberapa Tujuan kebijakan Pendidikan Islam : 1. Meningkatkan Pemahaman Agama
Salah satu tujuan utama pendidikan Islam adalah untuk meningkatkan pemahaman umat Islam terhadap ajaran agama mereka. Ini melibatkan mempelajari Al-Qur'an, Hadis, sejarah Islam, dan prinsip-prinsip ajaran Islam lainnya.
2. Membentuk Karakter Islami
Pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk karakter individu yang sesuai dengan nilai- nilai dan prinsip-prinsip Islam. Ini termasuk moralitas, etika, kesabaran, kejujuran, dan sikap saling menghormati.
3. Mengembangkan Keterampilan Akademis
Selain pembentukan karakter, pendidikan Islam juga bertujuan untuk mengembangkan keterampilan akademis, seperti membaca, menulis, berhitung, dan pengetahuan umum lainnya, agar peserta didik dapat berkontribusi secara positif dalam masyarakat.
4. Menyebarkan Pengetahuan Keagamaan
Tujuan lainnya adalah menyebarkan pengetahuan keagamaan kepada generasi muda agar mereka dapat menjadi pemimpin yang mampu menjaga dan menyebarkan ajaran Islam di masa depan.
C. Konsep Kebijakan Pendidikan Islam
1. Pengertian Kebijakan.Banyak kalangan mempersoalkan dan membedakan pengertian “kebijakan” dan
“kebijaksanaan” dalam studi kebijakan publik di Indonesia. Pertanyaan yang sering diajukan adalah
5 Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany, Falsafah al-tarbiyyah al-Islamiyyah Terj. Hasan Langulung, Falsafah pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang,1979) Cet. Ke-1 hal. 399.
7
apakah kebijakan dan kebijaksanaan Mempunyai arti yang sama atau berbeda?. Ali Imron berpendapat bahwa kata “kebijaksanaan” merupakan terjemahan dalam bahasa Inggris “policy”
yang Berarti mengurus masalah atau kepentingan umum, dan juga administrasi Pemerintah.6 Sedangkan kebijakan adalah terjemahan dari “wisdom”. Kata “policy” kemudian memunculkan beberapa istilah yaitu politic, policy, dan Polici. Politic berarti seni dan ilmu pemerintahan (The art and science of Government); policy berarti hal-hal mengenai kebijaksanaan pemerintah, dan Polici yang berkenaan dengan pemerintahan. Sedangkan wisdom (Kebijakan) Adalah suatu ketentuan dari pimpinan yang berbeda dengan aturan yang ada, Yang dikenakan kepada sesorang karena adanya alasan yang dapat diterima Untuk tidak memberlakukan aturan yang berlaku.7 Dari Pembedaan terminology ini kemudian Imron mendefinisikan kebijaksanaan (policy) sebagai aturan-aturan yang semestinya dan harus diikuti tanpa Pandang bulu, mengikat kepada siapa pun dengan kebijaksanaan tersebut. Sedangkan kebijakan (wisdom) adalah suatu ketentuan dari pimpinan yang Berbeda dengan aturan yang ada, yang dikenakan kepada sesorang karena Adanya alasan yang dapat diterima untuk tidak memberlakukan aturan yang Berlaku.8
Definisi lain terkait dengan kebijakan publik telah diungkapkan oleh Para ahli di antaranya Carl J. Friedrick mendefinisikan kebijakan publik Sebagai “Public policy is a proposed course of action of a person, group, or Government within a given environment providing obstacles and Opportunities which the policy was proposed to utilize and overcome in an Effort to reach a goal or realize an objective or purpose”9 (Kebijakan publik Adalah serangkaian tindakan yang diusulkan seseorang, kelompok, atau Pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dengan menunjukkan hambatan-Hambatan dan kesempatan kesempatan terhadap pelaksanaan usulan Kebijakan tersebut dalam rangka mencapai tujuan tertentu).
James E. Anderson; “Public policies are those policies developed By governmental bodies and officials.10 (Kebijakan publik adalah kebijakan-Kebijakan yang dikembangkan oleh badan-
6 Ali Imron, Kebijaksanaan Pendidikan di Indonesia; Proses, Produk, dan Masa Depannya,(Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 12-17
7 James E. Anderson, Public Policy Making, (New York: Holt, Rinehart and Winston, 1979), Hal.3.
8 Ali Imron, Kebijaksanaan Pendidikan di Indonesia; Proses, Produk, dan Masa Depannya,(Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 12-17
9 Carl J. Friedrick, Man and His Government, (New York: Mc Graw Hill, 1963), hal.79.
10 James E. Anderson, Public Policy Making, (New York: Holt, Rinehart and Winston, 1979), Hal.3.
8
badan dan pejabat-pejabat Pemerintah), dan Syafaruddin mengartikan kebijakan publik sebagai hasil Pengambilan keputusan oleh manajemen puncak baik berupa tujuan, prinsip Maupun aturan yang berkaitan dengan hal-hal strategis untuk mengarahkan Pada manajer dan personel dalam menentukan masa depan organisasi yang Berimplikasi bagi kehidupan masyarakat.11
Dari beberapa pengertian tersebut, jika kebijakan dikaitkan dengan Pendidikan Islam (Islamic education policy) dapat diartikan sebagai Seperangkat aturan yang dirumuskan melalui proses pengambilan keputusan Oleh pejabat publik (pemerintah) mengenai pendidikan Islam dalam rangka Mencapai tujuan tertentu.
2. Pengertian Kebijakan Pendidikan Islam
Terdapat banyak istilah untuk menyebutkan pendidikan dalam Islam. Istilah-istilah tersebut berasal dari terminologi Arab yaitu “al-Tarbiyah”, “al-ta’dib”, “al-ta’lim”, “al-tadrib”, dan
“al-riyadhoh”. Kelima terminologi tersebut, yang popular menjadi bahasan pendidikan Islam oleh para pemikir pendidikan adalah terminologi “al-tarbiyah”, “al-Ta’dib”, dan “al-ta’lim” sedangkan yang sering digunakan dalam Menyebutkan praktik pendidikan Islam adalah terminologi “al- tarbiyah” Seperti penggunaan istilah “at-Tarbiyah al-Islamiyah” yang berarti Pendidikan Islam.
Sedangkan terminologi yang lainnya jarang digunakan Dan berkonotasi pada pengertian pendidikan yang sempit seperti pendidikan Non-formal dalam bentuk majlis ta’lim, pengajian masyarakat, pelatihan dan Lan-lain, meskipun sesungguhnya terminologi ta’lim dan ta’dib juga Digunakan pada awal perkembangan Islam.
Pertanyaannya adalah terminologi mana yang paling tepat untuk Menunjukkan pendidikan Islam?. Syed Muhammad Al-Naquib Al-Attas Memberikan pendapat bahwa istilah “ta’dib” adalah terminology paling Tepat untuk menyebut pendiidkan Islam, sebab struktur konsep ta’dib sudah Mencakup unsur-unsur ilmu (‘ilm), instruksi (ta’lim), dan pembinaan yang Baik (tarbiyah).
Sehingga tidak perlu lagi dikatakan bahwa makna Pendidikan Islam merujuk pada istilah tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib yang Dipakai secara bersamaan.12 Berbeda dengan pendapat Al-Attas, Konferensi Internasional Islam I di Mekah tahun 1977 mengartikan pendidikan Islam Mencakup tiga
11 Syafaruddin, Efektifitas Kebijakan; Konsep, Strategi dan Aplikasi Kebijakan Menuju Organisasi Sekolah Efektif, (Jakarta: Rineka Ciota, 2008), hlm. 77.
12 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas,(Bandung:
Mizan, 2003), hlm. 175.
9
pengertian sekali gus yakni tarbiyah, ta’lim, ta’dib.13 Terlepas dari berbagai pendapat tersebut, dalam hal-hal tertentu Ketiga terminology-tarbiyah, ta’lim, ta’dib-memiliki persamaan dan Perbedaan makna. Persamaan pengertian terletak kepada proses ilmu
Pengetahuan (process of knowledge), Sementara perbedaannya secara Semantik terletak kepada penekanan pengertian dan penggunaanya. Istilah Tarbiyah (ةيبرتلا (dipakai untuk menunjukkan pendidikan secara Berkesinambungan, artinya sesuai dengan tahapan-tahapan kehidupannya Dan hanya mengacu kepada kepemilikan pengetauan bukan penanaman.14 Istilah ta’lim (ميلعت (digunakan dalam rangka usaha memberi pengetahuan Mengenalkan dan tidak mengandung arti pembinaan kepribadian, sebab
Sedikit kemungkinan ke arah pembentukan kepribadian yang dibebabkan Oleh pemberian pengetahuan.15 Sedangkan istilah ta’dib (بيدأت (lebih Menekankan kepada usaha pembentukan karakter dan kepribadian yang Baik. Terlepas dari perbedaan dan perdebatan makna semantic tersebut, Para ahli pendidikan Islam telah mencoba memformalisasi dan Mendefinisikan pengertian pendidikan Islam, diantaranya adalah sebagai Berikut:
Al-Syaibaniy, mengemukakan bahwasanya: Pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah-laku individu Peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam Sekitarnya.
Proses tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan Pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan profesi di antara sekian Banyak profesi asasi dalam masyarakat.16 Muhammad Fadhil al-Jamaly, mendefinisikan pendidikan Islam sebagai: Upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak peserta didik Hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan Kehidupan yang mulia. Dengan proses tersebut, diharapkan akan Terbentuk pribadi peserta didik yang lebih sempurna; baik yang Berkaitan dengan potensi akal, perasaan, maupun perbuatannya.17 Sedangkan Menurut Ahmad D. Marimba, mengemukakan Bahwasanya: Pengertian pendidikan Islam sebagai
13 King Abdul Aziz University, First Word Conference on Muslim Education, Recommendation, Jedah and Makkah; (Makkah: King Abdul Aziz University, 1977), h.15.
14 Abd. Rahman Abdullah, Aktualisasi Konsep Dasar Pendidikan Islam, Rekonruksi Pemikiran Dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: UII Press, 2001), h. 33.
15 Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), h. 26.
16 Omar Mohammad Al-Thoumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta, Bulan Bintang, 1979), h. 399.
17 Muhammad Fadhil al-Jamaly, Nahwa Tarbiyat Mukminat, (al-Syirkat al-Tunisiyat li al-Tauzi, 1977), h. 3.
10
bimbingan atau pimpinan Secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (insan kamil).18
18 Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung, Al-Ma’arif, 1989), h. 19.
11
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Dari ketiga poin materi tersebut, dapat disimpulkan sebagai berikut:
Arah kebijakan Pendidikan Islam mencakup berbagai upaya untuk meningkatkan akses, mutu, dan relevansi pendidikan Islam dari tingkat pendidikan dasar hingga tinggi.
Ini termasuk peningkatan infrastruktur, peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan, serta penyediaan kurikulum yang sesuai. Tantangan yang dihadapi dalam implementasi kebijakan Pendidikan Agama Islam antara lain terbatasnya waktu untuk mata pelajaran agama, kurangnya kualitas guru agama, dan kesenjangan antara misi pendidikan agama Islam dengan realitas masyarakat modern.
Tujuan kebijakan Pendidikan Islam meliputi meningkatkan pemahaman agama, membentuk karakter Islami, mengembangkan keterampilan akademis, menyebarkan pengetahuan keagamaan, serta memperbaiki kekurangan yang ada dalam sistem pendidikan Islam untuk meningkatkan mutu dan efektivitasnya.
Konsep kebijakan Pendidikan Islam melibatkan pemahaman yang mendalam tentang terminologi pendidikan Islam, seperti tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib, serta upaya formalisasi dan definisi pengertian pendidikan Islam oleh para ahli. Definisi tersebut mencakup upaya mengubah tingkah laku individu, mendorong kehidupan yang dinamis berdasarkan nilai-nilai Islam, dan membimbing peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Kesimpulannya, kebijakan Pendidikan Islam mengarah pada upaya meningkatkan
mutu, relevansi, dan aksesibilitas pendidikan Islam dengan tujuan memperbaiki
kekurangan yang ada dan mencapai tujuan pendidikan nasional yang mencakup
pengembangan kemampuan individu dan membentuk karakter yang sesuai dengan ajaran
Islam. Konsep kebijakan Pendidikan Islam juga mencakup pemahaman yang mendalam
tentang terminologi dan definisi pendidikan Islam untuk memandu proses pendidikan
dengan lebih baik.
12
DAFTAR PUSTAKA
Abdulllah, A. R. (2001). Aktualisasi Konsep Dasar Pendidikan Islam. Yogyakarta: UII Press.
Al-Jamaly, M. F. (1977). Nahwa Tarbiyat Mukminat.
Al-Syaibany, O. M.-T. (1979). Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Anderson, J. E. (1979). Public Policy Making. New York: Holt, Rinehsrt and Winston.
Aziz, K. A. (1977). First Word Conference On Muslim Education,Recommendation, Jedah and Makkah. Makkah: King Abdul Aziz University.
Darajat, Z. (1992). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Daud, W. M. (2003). Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syekh M. Naquib Al-Attas.
Bandung: Mizan.
Friedrick, C. J. (1979). Man And His Goverment. New York: Mc Graw Hil.
Marimba, A. D. (1989). Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma"arif.
RI, D. J. (n.d.). pendis.kemenag.go.id. Retrieved from Arah Krbijakan Dan Strategi Pendidikan Islam Tahun 2015-2019: https://pendis.kemenag.go.id/profil/arahan-kebijakan
Sauri, A. S. (2023). Isu dan Masalah Dalam Analisis Evaluasi dan Pengembangan Kebijakan Pendidikan Agama Islam. Jurnal Pendidikan Islam, 219-240.
Sobri, R. (2019). Politik Dan Kebijakan Tentang Pendidikan Agama Dan Keagamaan Di
Indonesia(Analisis Kebijakan PP No. 55Tahun 2007. Jurnal Pendidikan Islam, 109-124.
Syafaruddin. (2008). Efektifitas Kebijakan; Konsep Strategi dan Aplikasi Kebijakan Menuju Organisasi Sekolah Efektif. Jakarta: Rineka Ciota.
(2016). Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003. Jakarta: Sinar Grafika.