• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Tujuan Pendidikan Islam Menurut Ibnu Khaldun Dalam Perspektif Aliran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionalisme

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Konsep Tujuan Pendidikan Islam Menurut Ibnu Khaldun Dalam Perspektif Aliran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionalisme"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

1 ABSTRAK

Syafa’ati, Sri. 2016. Konsep Tujuan Pendidikan Islam Menurut Ibnu Khaldun Dalam Perspektif Aliran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionalisme. Skripsi.

Program Studi Pendidikan Agama Islam Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ponorogo. Pembimbing: Dr. H. M. Miftahul Ulum, M. Ag.

Kata Kunci : Tujuan Pendidikan Islam, Ibnu Khaldun, Rekonstruksionalisme.

Pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan manusia dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam. Tokoh pendidikan Islam, Ibnu Khaldun menyatakan dalam pendidikan mencakup tiga tujuan yaitu, peningkatan pemikiran, kemasyarakatan dan kerohanian. Penulis dalam penelitian ini akan memandang tujuan pendidikan Islam menurut Ibnu Khaldun dengan filsafat rekonstruksionalisme karena aliran ini memandang tujuan pendidikan haruslah menumbuhkan kesadaran terdidik sekaligus mampu memecahkan persoalan kehidupan yang dihadapi manusia dalam skala global, sehingga searah dengan tujuan pendidikan Ibnu Khaldun tersebut.

Untuk mendeskripsikan masalah di atas, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimana hakekat tujuan pendidikan Islam menurut Ibnu Khaldun dalam perspektif aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme? (2) Bagaimana epistemologi tujuan pendidikan Islam menurut Ibnu Khaldun dalam perspektif aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme?. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penulis, menggunakan metode analisis data, yaitu dengan menggunakan content analisis (analisis isi). Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang dilakukan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya bertumpu pada penelitian kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan.

Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa: (1) Dalam perspektif aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme, hakekat tujuan pendidikan Islam menurut Ibnu Khaldun yaitu tujuan peningkatan pemikiran, kemasyarakatan dan kerohanian, yang mana manusia diarahkan untuk memampukan subjek-subjek didik membangun dunia bagi masyarakat melalui pendayagunaan kemampuan akal, indra dan intuisi. (2) Dalam perspektif aliran filsafat rekonstruksionalisme tujuan pendidikan Islam menurut Ibnu Khaldun tersebut berusaha untuk mencari jawaban dan sekaligus memperkirakan perkembangan ke depan atas situasi dan kondisi serta permasalahan yang ada dengan menuntut ilmu dan memperoleh keterampilan sehingga meningkatlah akal pikirannya dan kehidupannya dalam masyarakat maupun akhirat.

Tujuannya pun sama-sama berorientasi bagi kesejahteraan masyarakat, bersifat proaktif dan antisiptif dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin global untuk menuju kehidupan yang sejahtera sesuai dengan tujuan pendidikan Islam menurut Ibnu Khaldun tersebut.

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia adalah makhluk Allah yang bertugas sebagai khalifah di bumi. Disamping sebagai khalifah, manusia juga termasuk makhluk paedagogik yaitu makhluk Allah yang dilahirkan membawa potensi dapat dididik dan dapat mendidik.1 Karena manusia lahir tidak mengetahui sesuatu apapun, tetapi ia dianugerahi oleh Allah Swt pancaindera, pikiran dan rasa sebagai modal untuk menerima ilmu pengetahuan, memiliki keterampilan dan mendapatkan sikap tertentu melalui proses kematangan dan belajar terlebih dahulu.2 Maka dari itu, diperlukanlah proses pendidikan dan pengajaran.

Dengan pendidikan dan pengajaran potensi itu dapat dikembangkan manusia, namun perkembangan itu tidak akan maju kalau tidak melalui proses tertentu, yakni proses pendidikan. Salah satunya dengan pendidikan Islam ini penting untuk membentuk pribadi muslim menuju pada manusia yang bertaqwa.3

Sedangkan pendidikan agama Islam itu sendiri adalah usaha sadar untuk menyiapkan manusia dalam meyakini, memahami, menghayati dan

1 Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: PT RENIKA CIPTA, 2009), 1.

2 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Bandung:

PT Remaja Rosdakarya, 2006), 137.

3 Zakiyah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi aksara, 1996), 17-18.

(3)

mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.4

Dan tujuannya adalah membantu terbinanya sarjana muslim yang beriman, berilmu dan beramal sesuai dengan ajaran Islam.5 Tujuan pendidikan Islam ini didasarkan pada sistem nilai yang istimewa yang berasaskan pada al- Qur‟an dan Hadits, yaitu keyakinan kepada Tuhan, kepatuhan dan penyerahan

kepada segala perintah-Nya, sebagaimana yang dipraktekkan oleh Rasulullah Saw. Pendidikan Islam juga bertujuan untuk mendorong timbulnya kesadaran moral para peserta didik dengan membawa hubungan organik pendidikan Islam dengan sistem etika Islam. Dengan demikian tujuan pendidikan adalah untuk melahirkan kesalehan keagamaan dan sosial sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Qur‟an dan hadits Nabi Saw. Aspek lainnya dari pendidikan Islam adalah menyiapkan anak didik agar melaksanakan kewajiban-kewajiban keagamaan sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur‟an dan Hadits.

Namun pada kenyataannya, bangsa Indonesia ini tengah dilanda krisis dalam berbagai aspek kehidupan. Seperti maraknya tawuran pelajar, merebaknya narkoba dan beberapa perilaku yang menyimpang dari norma-

4 Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), 75-76.

5 Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), 6-7.

(4)

norma agama dan budaya.6 Realitas ini diakibatkan karena bangsa Indonesia berhadapan dengan kemajuan iptek, era globalisasi serta percepatan arus perubahan sosial, sehingga rentan akan timbulnya berbagai konflik.7 Selain itu, karena pemerataan ekonomi tidak merata, maka banyaklah masyarakat yang krisis ekonomi, sehingga banyak masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Hal ini juga diakibatkan karena tingkat pendidikan yang rendah. Karena pendidikan adalah bekal bagi manusia untuk dapat hidup sejahtera.

Perkembangan masyarakat dunia dari waktu ke waktu terus berubah.

Kita sebagai bagian dari masyarakat dunia tersebut dipaksa untuk ikut dalam perubahan itu. Era ini ditandai dengan kemampuan menguasai dan mendayagunakan arus informasi, bersaing secara terus-menerus dalam belajar dan menguasai kemampuan menggunakan berbagai teknologi. Itulah gambaran era global yang terjadi di depan mata, di mana umat manusia harus menghadapinya. Kondisi ini tentunya akan mempengaruhi dunia pendidikan.8 Maka pendidikan Islam pun mau tidak mau terlibat untuk mengatasi dan menyelesaikan masalah-masalah tersebut.9

6 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), 175.

7 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam: di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi (Jakarta: PT Jara Grafindo Persada, 2012), 101.

8 Toto Suharto, et al, Rekonstruksi dan Modernisasi Lembaga Pendidikan Islam (Yogyakarta:

Global Pustaka Utama, 2005), 101.

9 Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam (Jakarta: PT RAJA GRAFINDO PERSADA, 2009), 15-17.

(5)

Oleh karena itu, seperti halnya dengan aliran filsafat rekonstruksionalisme yang memandang tujuan pendidikan haruslah menumbuhkan kesadaran terdidik yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi manusia dalam skala global, dan memberi keterampilan kepada mereka agar memiliki kemampuan memecahkan masalah –masalah tersebut.10

Dengan aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme ini diharapkan mampu menjawab masalah-masalah yang dihadapi masyarakat di atas.

Sekolah sebagai lembaga utama untuk melakukan perubahan sosial, ekonomi dan politik dalam masyarakat. Dan aliran ini menghendaki untuk membangkitkan kesadaran peserta didik tentang masalah-masalah tersebut dan mengajarkan kepada keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut.11

Selain itu, salah satu tokoh pendidikan Islam yang banyak berbicara mengenai pendidikan ialah Ibnu Khaldun.12 Beliau adalah sarjana ilmu pengetahuan Islam terbesar yang juga menguasai berbagai ilmu pengetahuan lainnya seperti sejarah, geografi, politik dan pendidikan. Ia adalah pendiri filsafat sejarah dan pelopor bidang sosiologis. Ibnu Khaldun membahas proses

10 Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan (Bandung: CV Alfabeta, 2003) 171.

11 Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-dasar Pendidikan Pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), 156.

12Secara gramatikal, penulisan nama Ibnu Khaldun adalah Ibn Khaldu>n, namun masyarakat Indonesia sudah populer menyebut Ibn Khaldu>n dengan Ibnu Khaldun, maka penulisan skripsi ini menggunakan nama Ibnu Khaldun.

(6)

pendidikan dalam perspektif perkembangan masyarakat. Ia mengembangkaan teori pendidikannya dalam bingkai masyarakat Islam dan memfokuskan perhatiannya pada pendidikan, pada bidang pemahaman etika dan sikap keagamaan, namun pada saat yang bersamaan ia memberikan nuansa pandangan sosiologisnya pada pendidikan tersebut.13

Salah satu pemikiran Ibnu Khaldun dalam pendidikan yang akan dijelaskan oleh penulis ialah mengenai tujuan pendidikan. Dari segi peningkatan kemasyarakatan, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa ilmu dan pengajaran adalah lumrah bagi manusia. Ilmu dan pengajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat ke arah lebih baik.

Semakin dinamis suatu budaya masyarakat, semakin bermutu dan dinamis pula keterampilan di masyarakat tersebut. Untuk itu seyogyanya senantiasa berusaha memperoleh ilmu dan keterampilan sebanyak mungkin sebagai salah satu cara membantunya untuk dapat hidup dengan baik dalam masyarakat yang dinamis dan berbudaya.14

Penulis akan memandang pemikiran Ibnu Khaldun ini dengan pemikiran aliran filsafat rekonstruksionalisme. Dari pemikiran Ibnu Khaldun di atas diharapkan akan mampu membentuk manusia atau masyarakat yang dinamis dan berbudaya selalu mengikuti perubahan perkembangan zaman namun tetap bermutu ke arah lebih baik, sehingga pendidikan mampu

13 Ibid., 69.

14 Syamsul Kurniawan dan Erwin Mahruz, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013) 104.

(7)

merubah dan menyembuhkan moral bangsa yang sudah semakin rusak dan beralih kembali pada moral-moral agama dan negara. Dan juga dengan adanya pendidikan inilah manusia akan mampu memenuhi kebutuhannya dan saling tolong menolong dalam hal kebaikan. Sehingga, manusia tahu dan bahkan mampu mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya saat ini.

Berangkat dari pemaparan tersebut di atas, penulis ingin mengangkat sebuah judul “Konsep Tujuan Pendidikan Islam Menurut Ibnu Khaldun Dalam Perspektif Aliran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionalisme”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana hakekat tujuan pendidikan Islam menurut Ibnu Khaldun dalam perspektif aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme ?

2. Bagaimana epistemologi tujuan pendidikan Islam menurut Ibnu Khaldun dalam perspektif aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme ?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dirumuskan, maka dapat ditentukan tujuan penelitian ini, antara lain:

1. Untuk mendiskripsikan hakekat tujuan pendidikan Islam menurut Ibnu Khaldun dalam perspektif aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme.

(8)

2. Untuk mendiskripsikan epistemologi tujuan pendidikan Islam menurut Ibnu Khaldun dalam perspektif aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang akan dikembangkan dalam penelitian ini adalah:

1. Memberi pengetahuan tambahan dalam bidang filsafat pendidikan, khususnya aliran filsafat rekonstruksionalisme. Dan juga tokoh pendidikan khususnya Ibnu Khaldun.

2. Bagi kalangan akademis, penelitian ini akan memberikan masukan awal untuk penelitian lebih lanjut dalam masalah yang sama atau masalah- masalah yang bersinggungan dengan obyek penelitian lain.

3. Pengetahuan bagi penulis khususnya dan pembaca bagi umumnya tentang tokoh pendidikan Ibnu Khaldun dan aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme.

4. Sebagai sumbangan pemikiran yang memperluas wawasan bagi siapa saja yang terkait di dalam dunia pendidikan.

E. Telaaah Hasil Penelitian Terdahulu

Disamping memanfaatkan teori yang relevan untuk menjelaskan pada situasi, peneliti kualitatif juga melakukan telaah hasil penelitian terdahulu

(9)

yang ada relevansinya dengan fokus penelitian, untuk bahan telaah pustaka pada penelitian ini penulis mengangkat judul skripsi:

Pertama: Annas Ma‟ruf, tahun 2007 berjudul : Relevansi Aliran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionlisme Dengan Pengembangan Sistem Pendidikan Islam. Adapun penelitian ini untuk menjawab bagaimana konsep aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme, bagaimana konsep pendidikan Islam, dan bagaimana relevansi konsep pendidikan Islam menurut aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme dengan pengembangan sistem pendidikan Islam. Sedangkan metode yang digunakan yaitu dengan pendekatan filosofis. Jenis penelitiannya pun menggunakan data-data kepustakaan (library research).

Kesimpulan dari penelitian tersebut ialah aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme merupakan aliran filsafat pendidikan yang menghendaki perubahan secara menyeluruh. Peserta didiknya dapat dibangkitkan kemampuannya untuk secara konstruktif dan antisipatif menyesuaikan diri dengan dengan tuntutan perubahan dan perkembangan mayarakat sebagai akibat adanya pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan Islam juga tidak hanya bersifat teoritis atau ilmu pengetahuan saja, melainkan bersifat praktek yaitu membentuk pribadi dan martabat manusia yang memiliki sikap mental dan perilaku, karsa dan rasa yang bersumber atas dasar dan nilai-nilai Islam tidak dapat diragukan lagi. Terdapat relevansi antara

(10)

aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme dengan sistem pendidikan Islam.

Kedua, Masrifatul Munawaraoh, tahun 2004 berjudul: Komparasi Pemikiran Pendidikan Islam Antara Imam Ghazali dengan Ibnu Khaldun.

Penelitian ini dilaksanakan untuk mencari jawaban atas bagaimana tujuan dan metode pendidikan Islam menurut Imam Ghazali dan Ibnu Khaldun, bagaimana persamaan dan perbedaan tujuan dan metode pendidikan Islam menurut Imam Ghazali dan Ibnu Khaldun dan bagaimana relevansi tujuan dan metode pendidikan Islam menurut Imam Ghazali dan Ibnu Khaldun dengan masa sekarang ini. Metode yang digunakan adalah metode library research. Sedangkan metode analisis data menggunakan 3 metode, yaitu metode komparasi, contens analysis dan metode historis.

Dengan hasil penelitiannya berkesimpulan bahwa Imam Ghazali mengembangkan tujuan pendidikan Islam untuk membentuk manusia yang sholeh guna pendekatan diri kepada Allah dan mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Metodenya menekankan pendidikan agama dan akhlak.

Sedangkan Ibnu Khaldun mengembangkan tujuan pendidikan Islam untuk membentuk diri pribadi manusia secara utuh guna memperoleh kemahiran dan keahlian. Metodenya dengan malakah, tadrij dan rih}lah. Persamaan pemikiran pendidikan Islam terletak pada metode pendidikan Islam, yaitu metode malakah dan tadrij. Perbedaan pemikiran kedua tokoh terletak pada tujuan

(11)

akhir yaitu untuk menjadi manusia yang shalih sedang Ibnu Khaldun untuk memperoleh kemahiran dan keahlian. Relevansi tujuan dan metode pendidikan Islam Imam Ghazali dan Ibnu Khaldun dengan masa sekarang ini bisa dikatakan masih relevan.

Dari kedua penelitian tersebut memiliki perbedaan dengan penelitian sekarang. Perbedaan dari penelitian pertama ialah, untuk penelitian sekarang peneliti hanya memfokuskan pada satu sistem pendidikan saja yaitu tujuan pendidikan Islam yang akan di pandang melalui filsafat pendidikan Rekonstruksionalisme. Sedangkan pada penelitian kedua peneliti juga hanya mengambil satu pemikiran saja dari tokoh Ibnu Khaldun tentang pemikirannya mengenai tujuan pendidikan Islam. Dari keduanya, yaitu aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme dan tokoh Ibnu Khaldun ini akan dihasilkan sebuah penelitian tentang pemikiran Ibnu Khaldun mengenai tujuan pendidikan Islam namun akan di pandang dari sudut pandang filsafat pendidikan rekonstruksionalisme.

Dari segi jenis penelitian ini juga sama-sama menggunakan library research, dengan menggunakan metode yaitu, deduktif dan induktif.

F. Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filosofis, yaitu berupaya menjelaskan inti, hakikat atau hikmah mengenai sesuatu yang

(12)

berada di balik obyek formalnya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas dan inti yang terdapat dibalik yang bersifat lahiriyah.15

Dan menggunakan pendekatan sejarah atau historis, yaitu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, obyek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut.

Sehingga melalui pendekatan ini seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia.16

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang dilakukan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya bertumpu pada penelitian kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan.17

2. Sumber Data

Sumber data yang dijadikan bahan-bahan dalam kajian ini merupakan sumber data yang diperoleh dari bahan-bahan kepustakaan yang dikategorikan sebagai berikut:

a. Sumber data primer

Sumber data primer merupakan bahan utama atau rujukan utama dalam mengadakan suatu penelitian untuk mengungkapkan dan

15 Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), 42-43.

16 Ibid., 46-47.

17 Haidar Nawawi, Penelitian Terapan (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1994), 73.

(13)

menganalisis penelitian tersebut. Adapun sumber data yang digunakan adalah:

1) Abdurrahman ibnu Khaldun. Muqaddimah Ibnu Khaldun. Beirut:

Dar Al-Kitab Al‟Arabi, 2001.

b. Sumber data sekunder

Sumber data sekunder ini digunakan untuk menunjang penelaahan data-data yang dihimpun dan sebagai pembanding dari data primer, sumber-sumber tersebut diantaranya adalah:

1) Abd. Rachman Assegaf. Filsafat Pendidikan Islam: Paradigma Baru Pendidikan Hadhari Berbasis Integratif-Interkonektif.

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014.

2) Abdul Rahman. Pendidikan Integralistik: Menggagas Konsep Manusia Dalam Pemikiran Ibn Khaldun (Semarang: Walisongo Press, 2009), 51.

3) Al-Allamah Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun.

Mukaddimah Ibnu Khaldun. Terj. Masturi Irham. Jakarta Timur:

Pustaka Al-Kautsar, 2015.

4) Basuki As‟adi dan Miftahul Ulum. Pengantar Filsafat Pendidikan. Ponorogo: Stain Po Press, 2010.

5) Hafidz Hasyim. Watak Peradaban dalam Epistemologi Ibnu Khaldun (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012).

(14)

6) Heri Gunawan,. Pendidikan Islam: Kajian Teoretis dan Pemikiran Tokoh. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014.

7) Muhaimin. Rekonstruksi Pendidikan Islam. Jakarta: PT RAJA GRAFINDO PERSADA, 2009.

8) Muhammad Muntahibin Nafis. Ilmu Pendidikan Islam.

Yogyakarta: Teras, 2011.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam skripsi ini adalah:

a. Editing

Pemeriksaan kembali data yang diperoleh terutama dari segi kelengkapannya, kejelasan makna, dan keselarasan makna antara satu dengan yang lainnya.

b. Organizing

Menyusun secara sistematis data-data yang diperoleh dari pustaka, baik sumber primer maupun sekunder.18

c. Penemuan hasil, yaitu melakukan analisa lanjutan terhadap hasil pengorganisasian sehingga diperoleh kesimpulan tertentu yang merupakan jawaban dari rumusan masalah.

18Mahmud, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2011), 104.

(15)

4. Teknik Analisis Data

Materi pembahasan didasarkan pada kajian pustaka atas karya- karya kepustakaan, baik berupa buku-buku atau bacaan-bacaan lainnya yang berkaitan dengan penulisan ini.

Dari data-data yang terkumpul, maka selanjutnya data tersebut dianalisis dengan menggunakan metode content analysis, yaitu analisis ilmiah tentang isi pesan atau komunikasi.19 Metode ini digunakan untuk menganalisis isi dan berusaha menjelaskan bangunan pemikiran tentang masalah yang dibahas dengan menggunakan proses berfikir induktif- deduktuf dalam penarikan-penarikan kesimpulannya.

Induktif yaitu proses berfikir yang berangkat dari fakta-fakta khusus, peristiwa-peristiwa yang konkrit, kemudian dari fakta-fakta atau pristiwa khusus itu ditarik generalisasi yang bersifat umum.20

Sedangkan deduktif yaitu suatu metode berpikir dimana suatu kesimpulan ditarik dari prinsip-prinsip umum kemudian diterapkan kepada suatu yang bersifat khusus.21

19 Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Bayu Indra Grafika, 1998), 49.

20 Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: Allfabet, 2005), 91-99.

21 Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat dan Etika (Jakarta: Prenada Media, 2003), 19.

(16)

G. Sistematika Pembahasan

Sistematika penyusunan laporan hasil penelitian kualitatif (library research) ini nantinya akan dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu awal, inti, dan akhir. Untuk memudahkan dalam penulisan, maka pembahasan dalam laporan penelitian penulis kelompokkan menjadi lima bab yang masing- masing bab terdiri sub bab yang berkaitan. Sistematika pembahasan ini adalah:

Bab pertama, adalah pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab kedua yaitu kajian teori, yang berisi mengenai konsep tujuan pendidikan Islam dan konsep aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme.

Yang di dalamnya berisi mengenai pengertian pendidikan Islam dan tujuannya, serta pengertian, sejarah, ciri-ciri, teori dan konsep tujuan pendidikan Islam menurut aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme.

Bab ketiga, yaitu paparan data yang berisi tentang konsep tujuan pendidikan Islam menurut Ibnu Khaldun, yang mengemukakan hasil penelitian literatur mengenai sketsa biografis, karya-karya dan pemikiran Ibnu Khaldun tentang tujuan dalam pendidikan Islam.

Bab keempat, yaitu perspektif aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme terhadap konsep tujuan pendidikan Islam menurut Ibnu khaldun. Dan dalam bab ini membahas hakekat tujuan pendidikan Islam

(17)

menurut Ibnu Khaldun dalam perspektif aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme dan epistemologi tujuan pendidikan Islam menurut Ibnu Khaldun dalam perspektif aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme.

Bab kelima adalah bab terakhir dari tahapan laporan penelitian yang berisi kesimpulan dan saran.

(18)

BAB II

KONSEP TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM DAN KONSEP ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN REKONSTRUKSIONALISME

A. Konsep Tujuan Pendidikan Islam 1. Pengertian Pendidikan Islam

Jika dilihat secara etimologis, istilah pendidikan Islam terdiri dari dua kata, yaitu pendidikan dan Islam. Dalam konteks keislaman, definisi pendidikan sering disebut dengan berbagai istilah, yakni al-tarbiyah, al- ta’li>m, al-ta’di>b danal-riya>d}a. Dari setiap istilah-istilah tersebut memiliki makna yang berbeda-beda pula. Hal ini dikarenakan perbedaan konteks kalimatnya dalam penggunaan istilah tersebut. Akan tetapi, dalam keadaan tertentu, semua istilah tersebut memiliki makna yang sama, yakni pendidikan.22 Berikut adalah paparan mengenai pandangan pengertian pendidikan secara etimologi:

a. Al-Tarbiyah

Istilah yang sangat populer dalam dunia pendidikan Islam ialah istilah al-Tarbiyah. Walaupun istilah ini secara jelas tidak ditemukan dalam al-Qur‟an maupun al-Hadits, tetapi ada beberapa istilah yang maknanya sama dengan istilah tarbiyah, yaitu kata al-ra>bb, rabbaya>ni,

22 Heri Gunawan, Pendidikan Islam: Kajian Teoretis dan Pemikiran Tokoh (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), 1-2.

(19)

nurrabbi>, ribbi>yun dan rabba>ni. Sementara itu, Fahru al-Razzi dalam buku pendidikan Islam berpendapat bahwa rabbaya>ni tidak hanya pengajaran bersifat ucapan, tetapi terkait dengan pengajaran tinggah laku. Pendapat lain juga diungkapkan oleh Sayyid Qutb dalam buku yang sama, bahwa kata rabba>niyyi>n bermakna pemeliharaan anak serta menumbuhkan kematangan setiap mentalnya.23

Apabila istilah al-tarbiyah diidentikkan dengan bentuk madli- nya rabbaya>ni> sebagaimana yang tertera dalam Qur‟an surat al-Isra>’

ayat 24:

رِغَص ِِاَيّػبَر اَمَك اَمُهَْْْرا ّبَر ْلُقَو ِةَّْْرلا َنِم ّؿّذلا َحاََج اَمََُ ْضِفْخاَو

Artinya: Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Q.S. Al-Isra>’: 24).24

Yaitu kata “kama> rabbaya>ni> s}aghi>ra” dan bentuk mudhari‟nya nurrabbi dalam Qur‟an surat Ash-Shu’ara>’ ayat 18:

َ ِِ َؾِرُمُ ْنِم اَيِ َ ْ ِ َلَو اًييِلَو اَيِ َ ّبَرُػ َْ َأ َؿاَق

Artinya: Firaun menjawab: "Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. (Q.S. Ash-Syu’ara>: 18).25

23 Ibid., 2-3.

24 Al-Qur‟an, 17: 24.

25 Ibid., 26: 18.

(20)

Dalam kata “alam nurabbika fi>na> wali>da” al-tarbiyah mempunyai arti mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, menumbuhkan, memproduksi dan menjinakkan. Hanya saja dalam konteks kalimat dalam Qur‟an surat al-Isra>’ lebih luas, mencakup aspek jasmani- ruhani, sedang dalam surat ash-Shu’ara>’ hanya mencakup aspek jasmani.

Namun apabila al-tarbiyah diidentikkan dengan ar-ra>bb, para ahli memberikan pengertian yang beragam. Ibn ‘Abdilla>h Muhammad bin Ah}mad al-Ans}ari al-Qurt}ubi> memberikan arti ar-ra>bb dengan Pemilik, Tuan, Yang Maha Memperbaiki, Yang Maha Pengatur, Yang Maha Menambah dan Yang Maha Menunaikan. Pengertian ini merupakan interpretasi dari kata ar-ra>bb dalam surah al-Fa>t}ih}a dan merupakan nama dari nama-nama Allah dalam Asma>ul H{usna.26

Tarbiyah juga diartikan dengan “proses transformasi ilmu pengetahuan dari pendidik (rabba>ni) kepada peserta didik, agar ia memiliki sikap dan semangat yang tinggi dalam memahami dan menyadari kehidupannya, sehingga terbentuk ketaqwaan, budi pekerti dan kepribadian yang luhur”. Sebagai proses, tarbiyah menuntut adanya perjenjangan dalam transformasi ilmu pengetahuan, mulai dari

26 Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), 30.

(21)

pengetahuan yang mendasar menuju pengetahuan yang lebih tinggi dan sulit. Paradigma ini diambil dari Qur‟an surat ali-‘Imra>n ayat 7927:

اًداَ ِ اوُ وُك ِساّلِل َؿوُقَػي ُُّ َةّوُػ ّلاَو َمْكُْْاَو َباَتِكْلا ُّللا َُيِتْؤُػي ْفَأ ٍرَشَ ِل َفاَك اَم ْمُتُْك اََِِو َباَتِكْلا َفوُمّلَعُػت ْمُتُْك اَِِ َ ّيِ اّبَر اوُ وُك ْنِكَلَو ِّللا ِفوُد ْنِم ِِ

َفوُ ُرْيَت

Artinya: “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah- penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (Q.S. Ali-‘Imra>n: 79).28

Jadi, tarbiyah di sini diartikan sebagai proses pendidikan yang mencakup segala aspek, yaitu jasmani dan rohani. Yang mana bukan hanya akalnya saja yang diajarkan berbagai ilmu pengetahuan, namun jasmaninya ikut diajarkan berbagai hal-hal positif sehingga dalam segala sifatnya peserta didik juga mampu mencerminkan apa saja yang diajarkan pendidiknya.

b. Al-Ta‟lim

Istilah yang juga sering disebut dalam pendidikan Islam ialah istilah al-ta’li>m. Para ahli mengatakan bahwa al-ta’li>m diartikan sebagai bagian kecil dari al-tarbiyat al-aqliyah, yang bertujuan memperoleh ilmu pengetahuan dan keahlian berpikir, yang sifatnya

27 Muhammad Muntahibin Nafis, Ilmu Pendidikan Islam (Yogyakarta: Teras, 2011), 16.

28 Al-Qur‟an, 3: 79.

(22)

mengacu pada domain kognitif saja.29 Ta’li>m merupakan kata benda buatan (mas}dar) yang berasal dari akar kata ‘allama. Sebagian para ahli menerjemahkan istilah tarbiyah dengan pendidikan, sedangkan ta’li>m diterjemahkan dengan pengajaran.30

Muhammad Rasyid Ridha, mengartikan ta’li>m dengan proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. Pengertian ini didasarkan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 31 tentang „allama Tuhan kepada Nabi Adam as. Proses transmisi itu dilakukan secara bertahap sebagaimana Nabi Adam menyaksikan dan menganalisis asma>’ (nama-nama) yang diajarkan Allah kepadanya.31 Dalam QS. Al-Baqarah ayat 151:

َباَتِكْلا ُمُكُمّلَعُػيَو ْمُكيّكَزُػيَو اَِتاَيآ ْمُكْيَلَ وُلْػتَػي ْمُكِْم اوُ َر ْمُكيِ اَْلَ ْرَأ اَمَك َفوُمَلْعَػت اوُ وُكَت َْ اَم ْمُكُمّلَعُػيَو َةَمْكِْْاَو

Artinya:“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (Q.S. al-Baqarah: 151).32

Ayat ini menunjukkan perintah kepada rasul-Nya untuk mengajarkan al-Kitab dan al-Sunnah kepada umatnya. Menurut Muhaimin, pengajaran dalam ayat ini mengandung teoritis dan praktis,

29 Gunawan, Pendidikan Islam, 4.

30 Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), 18.

31 Ibid., 19.

32AL-Qur‟an, 2: 151.

(23)

sehingga peserta didik memperoleh kebijakan dan kemahiran melaksanakan hal-hal yang mendatangkan manfaat dan menghilangkan kemadharatan. Pengajaran ini juga mencakup ilmu pengetahuan dan al-h}ikmah (bijaksana).

Kata ta’li>m menurut „Abdul Fat}t}ah Jala>l merupakan proses yang terus menerus diusahakan manusia sejak lahir. Sehingga satu segi telah mencakup aspek kognisi, dan pada segi lain tidak mengabaikan aspek afektif dan psikomotorik. Hal ini ia jadikan dasar ketika menafsiri ayat 151 di atas, dengan argumentasi bahwa rasul adalah Mu’allimin (pendidik).33

Pada akhirnya Fat}t}ah memandang proses ta’li>m lebih universal dari tarbiyah. Sebab ketika mengajarkan “tila>wat al-Qur’a>n” kepada kaum muslimin, Rasul tidak hanya sekedar terbatas pada mengajar mereka membaca, melainkan membaca disertai perenungan tentang pengertian, pemahaman, tanggung jawab dan penanaman amanah.34

Jadi ta’li>m diartikan oleh para tokoh di atas sebagai sebuah pengajaran. Yang mana hanya mencakup segi kognitif saja. Namun tokoh-tokoh lain juga bependapat bahwa ta’li>m tersebut tidak hanya mencakup aspek kognitif saja, melainkan juga mencakup aspek

33 Nafis, Ilmu Pendidikan Islam, 11.

34 Ibid., 12.

(24)

kognitif dan psikomotorik. Hal ini dilandaskan pada ayat-ayat al- Qur‟an tersebut.

c. Al-Ta‟dib

Istilah ta’di>b berasal dari akar kata addaba-yuaddibu-ta’di>ban yang mempunyai arti antara lain: membuatkan makanan, melatih akhlak yang baik, sopan santun dan tata cara pelakanaan sesuatu yang baik.35 Ta’di>b lazimnya diterjemahkan dengan pendidikan sopan santun, tata krama, adab, budi pekerti, akhlak, moral dan etika. Ta’di>b yang seakar dengan adab memiliki arti pendidikan peradaban atau kebudayaan, artinya, orang yang berpendidikan adalah orang yang berperadaban, sebaliknya peradaban yang berkualitas dapat diraih melalui pendidikan. Ta’di>b bermakna pengenalan atau pengakuan secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat- tempat yang tepat, dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa sehingga, membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan.

Pengertian ini berdasarkan pada salah satu Hadits Nabi yang artinya: “Tuhanku telah mendidikku, sehingga menjadikan baik pendidikanku”. 36

35 Nafis, Ilmu Pendidikan Islam, 3.

36 Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, 6.

(25)

Hadits ini memberikan asumsi bahwa kompetensi Nabi Muhammad sebagai seorang Rasul dan misi utamanya adalah pembinaan akhlak. Sehingga, implikasinya terhadap seluruh aktivitas pendidikan Islam seharusnya memiliki relevansi dengan peningkatan kualitas budi pekerti sebagaimana yang diajarkan Rasulullah.37

Apabila pendidikan Islam merupakan ekuivalensi dari term al- ta’di>b menurut al-At}t}as, maka term tersebutlah yang paling cocok digunakan sebagai istilah dalam pendidikan Islam. Hal ini karena konsep ta’di>b -lah yang diajarkan Nabi Muhammad Saw kepada umatnya pada waktu terdahulu. Al-At}t}as mengatakan bahwa orang yang terpelajar adalah orang baik. “Baik” yang dimaksud di sini adalah ada>b dalam arti menyeluruh, yang meliputi kehidupan material dan spiritual seseorang, yang berusaha menanamkan kualitas kebaikan yang diterimanya. Oleh karena itulah, orang yang benar-benar terpelajar menurut perspektif Islam, di definisikan oleh al-At}t}as dengan orang yang ber-adab.38

Pendidikan di sini diartikan sebagai ta’di>b yaitu pendidikan yang direlevansikan dengan budi pekerti manusia.

37 Nafis, Ilmu Pendidikan Islam, 4.

38 Gunawan, Pendidikan Islam, 6.

(26)

d. Al-Riyadhah

Istilah pendidikan dalam konteks Islam yang keempat digunakan istilah al-riya>d}ah. Tetapi penggunaan istilah al-riyad}a>h ini khusus digunakan oleh al-Ghazali, yang terkenal dengan istilahnya riya>d}atu al-sibyi>n, yang artinya pelatihan terhadap individu pada fase anak-anak. Pengertian al-riya>d}ah dalam pendidikan Islam adalah mendidik jiwa anak dengan akhlak mulia. Pengertian al-riya>d}ah dalam konteks pendidikan Islam ini tidak dapat disamakan dengan pengertian al-riya>d}ah dalam pandangan ahli sufi dan ahli olahraga. Para sufi mendefinisikan al-riya>d}ah dengan “menyendiri pada hari-hari tertentu untuk beribadah dan bertafakkur mengenai hak-hak dan kewajiban orang mukmin”. Ahli olah raga mendefinisikan al-riya>d}ah dengan

“aktivitas-aktivitas tubuh untuk menguatkan jasad manusia”.

Menurut al-Ghazali, dalam mendidik pada fase anak-anak ini lebih menekankan pada domain afektif dan psikomotoriknya, ketimbang kognitifnya. Oleh karena itu, menurutnya apabila anak kecil sudah terbiasa untuk berbuat sesuatu yang positif, maka pada masa remaja atau muda lebih mudah membentuk kepribadian yang shaleh dan secara otomatis pengetahuan yang bersifat kognitif lebih mudah diperolehnya. Tetapi sebaliknya, jika sejak kecil terbiasa melakukan hal-hal yang naif, maka di hari tuanya anak tersebut akan sulit

(27)

membiasakan aktivitas yang baik, walaupun tingkat keilmuannya sudah memadai. Berdasarkan hal tersebut al-Ghazali memakai istilah al-riya>d}ah sebagai istilah alternatif dalam pendidikan Islam.39

Sehingga dapat dipahami bahwa pendidikan merupakan proses mendidik, membina, mengendalikan, mengawasi dan mentransmisikan ilmu pengetahuan yang dilaksanakan oleh para pendidik kepada anak didik untuk membebaskan kebodohan, meningkatkan pengetahuan dan membentuk kepribadian yang lebih baik dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Pendidikan juga merupakan usaha dan upaya para pendidik yang bekerja secara interaktif dengan para peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan serta memajukan kecerdasan dan keterampilan semua orang yang terlibat dalam pendidikan. Dengan demikian, yang dikembangkan dan ditingkatkan ilmu pengetahuan dan kecerdasannya bukan hanya anak didik, melainkan para pendidik dan semua orang yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam pendidikan.40

Sedangkan menurut ilmu bahasa (etimologi), Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu kata salima yang berarti selamat, sentosa, dan damai.

Dari asal kata itu dibentuk kata asla>ma, yusli>mu, isla>man, yang berarti

39 Ibid., 8-9.

40 Anas Salahuddin, Filsafat Pendidikan (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), 22.

(28)

memeliharakan dalam keadaan selamat sentosa, dan berarti juga menyerahkan diri, tunduk, patuh, dan taat.41

Secara istilah (terminologi), Islam berarti suatu nama bagi agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul. Atau lebih tegas lagi Islam adalah ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul. Islam adalah rahmat, hidayah dan petunjuk bagi manusia dan merupakan manifestasi dari sifat rahman dan rahim Allah SWT.42

Pengertian pendidikan Islam pun cukup beraneka ragam dan bermacam-macam yang sudah dinyatakan oleh para pakar pendidikan Islam. Misalnya pandangan Muhamma>d At}iyah al-Abrashi, pendidikan Islam adalah sebuah proses untuk mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan berbahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya (akhlaknya), teratur fikirannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik lisan maupun tulisan. Menurut Marimba, pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dari pengertian ini, pendidikan ditopang dengan adanya tiga unsur; pertama, harus ada usaha

41 Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), 91.

42 Ibid., 94-95.

(29)

berupa bimbingan bagi pengembangan potensi jasmani dan rohani secara berimbang, kedua, adanya usaha yang dilakukan itu harus berdasarkan atas ajaran Islam. Ketiga, usaha itu bertujuan agar peserta didik memiliki kepribadian utama menurut ukuran Islam (kepribadian muslim).43

Pendidikan Islam juga diartikan usaha sadar untuk membimbing manusia menjadi pribadi beriman yang kuat secara fisik, mental dan spiritual serta cerdas, berakhlak mulia, dan memiliki keterampilan yang diperlukan bagi kebermanfaatan dirinya, masyarakatnya dan dilingkungannya.44

Dapat diambil kesimpulan dari beberapa pandangan pendidikan Islam di atas, bahwa pendidikan Islam merupakan proses trans- internalisasi pengetahuan dan nilai Islam kepada peserta didik melalui upaya pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan, pengarahan dan pengembangan potensi-potensinya, guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat, jasmani dan ruhani. Bimbingan tersebut dilakukan secara sadar dan terus-menerus dengan disesuaikan fitrah dan kemampuan, baik secara individu, kelompok, sehingga ia mampu menghayati, memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara utuh-menyeluruh dan komperhensif.45

43 Nafis, Ilmu Pendidikan Islam, 23.

44 Sutrisno dan Muhyidin Albarobis, Pendidikan Islam Berbasis Problem Sosial (Jogjakarta:

Arr-Ruzz Media, 2012), 22.

45 Nafis, Ilmu Pendidikan Islam, 26.

(30)

2. Tujuan Pendidikan Islam

Kata tujuan berakar dari kata dasar “tuju” yang berarti arah atau jurusan. Maka, tujuan berarti maksud atau sasaran, atau dapat juga berarti sesuatu yang hendak dicapai. Sementara pengertian tujuan secara istilah adalah batas akhir yang dicita-citakan seseorang dan dijadikan pusat perhatiannya untuk dicapai melalui usaha.

Tujuan menurut Zakiyah Darajat adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai. Sementara menurut HM. Arifin, tujuan itu bisa jadi menunjukkan kepada futuritas (masa depan) yang terletak suatu jarak tertentu tidak dapat dicapai kecuali dengan usaha melalui proses tertentu. Meskipun banyak pendapat tentang pengertian tujuan, umumnya pengertian itu berpusat pada usaha atau perbuatan yang dilaksanakan untuk suatu maksud tertentu. Jadi, secara sederhana yang dimaksud dengan tujuan pendidikan adalah batas akhir yang dicita-citakan akan tercapai melalui suatu usaha pendidikan.

Pengertian tujuan pendidikan secara lebih luas dikemukakan oleh al-Syaibani, yang dimaksud dengan tujuan pendidikan adalah perbuatan yang diinginkan yang diusahakan oleh proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan pada kehidupan pribadinya, atau pada kehidupan masyarakat dan alam sekitar tempat individu hidup, atau pada

(31)

proses pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.46

T.S. Eliot menyatakan bahwa pendidikan yang amat penting itu tujuannya haruslah diambil dari pandangan hidup, sehingga jika pendidikan Islam, maka rumusan tujuan pendidikannya haruslah diambil dari Islam pula.47 Dalam realitas para pemikir dan ahli pendidikan Islam, para ahli pendidikan Islam belum ada kesepakatan dalam merumuskan tujuan pendidikan secara bulat. Diantaranya tujuan oleh Imam Ghazali : 1) insan paripurna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt, 2) insan paripurna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat, karena itu berusaha mengajar manusia agar mampu mencapai tujuan yang dimaksudkan tersebut.

Al-At}t}as menghendaki tujuan pendidikan Islam adalah manusia yang baik. Sedangkan Marimba berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya orang yang berkepribadian muslim. Mahmud Yunus dalam bukunya merumuskan tujuan pendidikan: mendidik anak- anak, pemuda/pemudi dan orang dewasa, supaya menjadi seorang muslim yang shalih dan berakhlak mulia, sehingga salah seorang anggota masyarakat yang sanggup hidup di atas kaki sendiri, mengabdi kepada

46 Salim dan Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam, 114.

47 Nafis, Ilmu Pendidikan Islam, 58.

(32)

Allah dan berbakti kepada bangsa dan tanah airnya, bahkan semua umat manusia.48

Dari seluruh formulasi tujuan pendidikan Islam di atas, dapatlah diambil sebuah benang merah tujuan pendidikan Islam adalah bahwa terbentuknya insan kamil yang di dalamnya memiliki wawasan kaffah agar mampu menjelaskan tugas-tugas kehambaan, kekhalifahan dan pewaris Nabi. Dalam versi lain, Muhammad Iqbal yang dikutip Dawam Raharjo, memberikan kriteria insan kamil dengan insan yang beriman yang di dalam dirinya terdapat kekuatan, wawasan, perbuatan dan kebijaksanaan dan mempunyai sifat-sifat yang tercermin dalam pribadi Nabi berupa karimah, tahapan untuk mencapai insan kamil itu diperoleh melalui ketaatan terhadap hukum-hukum Allah, penguasaan ini sebagai bentuk tertinggi kesadaran diri tentang pribadi dan kekhalifahan Ilahi.49

Namun, di dalam pendidikan Islam tujuan pendidikan itu dikelompokkan dalam 4 macam, yaitu:

a. Tujuan Umum

Tujuan umum, adalah tujuan yang hendak dicapai dari seluruh kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran dan yang lainnya.

Tujuan ini meliputi seluruh aspek kemanusiaan yang meliputi sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan. Tujuan umum

48 Ibid., 61.

49 Ibid., 66-67.

(33)

ini berbeda dalam setiap tingkat umur, kecerdasan, situasi dan kondisi, dengan kerangka yang sama. Bentuk insan kamil dengan pola takwa harus dapat tergambar pada pribadi seseorang yang sudah dididik, walaupun dalam ukuran kecil dan mutu yang rendah, sesuai dengan tingkat-tingkat tersebut.50

Sedangkan cara atau alat yang paling efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikan ialah dengan pengajaran. Karena itu pengajaran sering diidentikkan dengan pendidikan, meskipun istilah ini tidak sama. Pengajaran ialah proses membuat jadi terpelajar (tahu, mengerti, menguasai, ahli, belum tentu menghayati dan meyakini), sedang pendidikan ialah membuat orang jadi terdidik (mempribadi, menjadi adat kebiasaan). Maka pengajaran agama seharusnya mencapai tujuan pendidikan Islam.51

Tujuan umum pendidikan Islam harus dikaitkan pula dengan tujuan pendidika nasional Negara tempat pendidikan Islam itu dilaksanakan serta dikaitkan pula dengan tujuan institusional lembaga yang menyelenggarakan itu. Tujuan umum ini hanya dapat dicapai setelah melaui proses pengajaran, pengamalan, pembiasaan, penghayatan dan keyakinan akan kebenarannya. Tahapan dalam mencapai tujuan itu pada pendidikan formal (sekolah/madrasah),

50 Ibid., 69.

51 Zakiyah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi aksara, 1996), 30.

(34)

dirumuskan dalam bentuk tujuan kurikuler yang selanjutnya dikembangkan dalam tujuan intruksional.

b. Tujuan Akhir

Pendidikan Islam ini berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini berakhir. Tujuan umum yang berbentuk insan kamil dengan pola takwa dapat mengalami perubahan naik turun dalam perjalanan hidup seseorang.

Karena itulah pendidikan Islam berlaku seumur hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai. Namun bagi orang yang sudah takwa dalam bentuk insan kamil, masih perlu mendapatkan pendidikan dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan, sekurang-kurangnya pemeliharaan supaya tidak luntur dan berkurang, meskipun pendidikan oleh diri sendiri dan bukan dalam pendidikan formal.52

Tujuan akhir pendidikan Islam itu dapat dipahami dari firman Allah SWT :

َفوُمِلْ ُم ْمُتْػ َأَو اِ ّنُتوَُ اَو ِِتاَقُػت ّ َ َّللا اوُقّػتا اوَُمآ َنيِذّلا اَهّػيَأ اَي

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati

52 Nur Uhbiyati dan Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam 1 (Bandung: Pustaka Setia, 1998), 65-66.

(35)

melainkan dalam keadaan beragama Islam (berserah diri kepada Allah)”.

(Q.S. Ali-‘Imra>n: 102).53

Mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah inilah merupakan ujung dan akhir dari proses hidup dan ini merupakan isi kegiatan pendidikan. Inilah akhir dari proses pendidikan yang dapat dianggap sebagai tujuan akhirnya. Insan kamil yang mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah inilah merupakan tujuan akhir pendidikan Islam.54

c. Tujuan Sementara

Tujuan sementara ialah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Tujuan operasional dalam bentuk tujuan instruksional yang dikembangkan menjadi tujuan instruksional umum dan khusus (TIU dan TIK) dapat dianggap tujuan sementara dengan sifat yang agak berbeda.

Pada tujuan sementara bentuk insan kamil dengan pola takwa sudah kelihatan meskipun dalam ukuran beberapa ciri pokok yang sudah kelihatan pada pribadi anak didik. Tujuan pendidikan Islam seolah-olah merupakan suatu lingkaran yang pada tingkat paling rendah merupakan suatu lingkaran kecil. Semakin tinggi tingkatan pendidikannya, lingkaran tersebut semakin besar. Tetapi sejak tingkat

53 Al-Qur‟an, 3: 102.

54 Uhbiyati dan Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam 1, 66-67.

(36)

pendidikan permulaan bentuk lingkarannya sudah harus kelihatan.

Bentuk lingkaran inilah yang menggambarkan insan kamil itu. Di sinilah barangkali perbedaan yang mendasar bentuk tujuan pendidikan Islam dibandingkan dengan tujuan pendidikan yang lainnya. Karena itulah maka setiap lembaga pendidikan Islam harus dapat merumuskan tujuannya sesuai dengan tingkatan dan jenis pendidikannya. Meskipun demikian polanya sama dan yang berbeda hanyalah bobot dan mutunya saja.55

d. Tujuan Operasional

Tujuan oprasional, yaitu tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu disebut operasional.

Dalam pendidikan formal, tujuan operasional ini disebut intruksional yang selanjutnya dikembangkan menjadi tujuan intruksional umum (TIU) dan tujuan intraksional khusus (TIK).

Tujuan intruksional ini merupakan tujuan pengajaran yang direncanakan dalam unit-unit pengajaran. Dalam tujuan operasional ini lebih ditekankan kemampuan dan keterampilan anak didik dari pada sifat penghayatan dan kepribadian, misalnya dapat berbuat,

55 Ibid., 67-68.

(37)

terampil melakukan, lancar mengucapkan dan sebagainya.56 Kemampuan dan keterampilan yang dituntut pada anak didik, merupakan sebagai kemampuan dan keterampilan insan kamil dalam ukuran anak, yang menuju yang semakin sempurna (meningkat).

Anak harus terampil melakukan ibadat (sekurang-kurangnya ibadat wajib), meskipun belum memahami dan menghayati ibadat itu.57

B. Aliran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionalisme

1. Pengertian dan Sejarah Lahirnya Aliran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionalisme

Kata rekonstruksionalisme dalam bahasa Inggris “reconstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionalisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern.58

Rekonstruksionalisme sebagai aliran pendidikan sejak awal sejarahnya di tahun 1920 dengan lahirnya sebuah karya John Dewey yang berjudul “Reconstruction in Philosophy yang kemudian digerakkan secara nyata oleh George Counts dan Harold Rugg di tahun 1930-an

56 Nafis, Ilmu Pendidikan Islam, 70-71.

57 Uhbiyati dan Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam 1, 68.

58 Basuki As‟adi dan Miftahul Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan (Ponorogo: Stain Po Press, 2010), 30.

(38)

selalu ingin menjadikan lembaga pendidikan sebagai wahana rekonstruksi masyarakat.59

Hal ini dilatar belakangi karena keadaan masyarakat yang dilanda oleh kesulitan ekonomi dan masalah-masalah sosial yang sangat besar, pendidikan ditantang untuk lebih memberikan pelayanan sebagai sebuah agen perubahan dari rekonstruksi sosial dari pada mempertahankan status quo dengan ketidaksamaan-ketidaksamaan dan masalah-masalah yang terpendam di dalamnya. Ia mendorong sekolah-sekolah untuk bersekutu dengan kekuatan-kekuatan progresif dan buruh, wanita, petani dan kelompok-kelompok minoritas, menuju pada perubahan yang diperlukan.

Counts mengecam pendidikan progresif karena telah gagal mengembangkan suatu teori kesejahteraan sosial, dan ia menegaskan bahwa pendekatan pendidikan berpusat pada anak (the child centered approach) tidak memadai untuk menjamin keterampilan-keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan dalam menghadapi abad 20, dapat dihasilkan oleh pendidikan.60 Rekonstruksionisme ini pun telah pula diformulasikan oleh George S. Counts dalam sebuah karya klasiknya

“Dare the Schools Build a New Socil Order? Yang diterbitkan pada tahun 1932.61

59 Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam: Paradigma Baru Pendidikan Hadhari Berbasis Integratif-Interkonektif (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), 206.

60 As‟adi dan Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan, 33-34.

61 Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), 172.

(39)

Counts juga menulis bahwa dewasa ini terdapat jurang pemisah yang besar di antara banyak kenyataan yang sulit dihilangkan, antar peradaban industri kita dengan adat istiadat, kesetiaan-kesetiaan, pemahaman-pemahaman dan pandangan-pandangan kita. Tugas yang membawa pikiran dari usaha-usaha kita tertuju pada mencapai keselamatan dengan kondisi-kondisi fisik abad baru adalah suatu upaya pendidikan yang bersifat raksasa dan sangat penting. Sebenarnya kita tidak mengenal perdamaian dan ketentraman sampai daya upaya tersebut selesai (The Prospect of American Democracy, 1938). Pada tahun 1932, Counts menerbitkan “The Selective Character of America Secondary Education”. Ia menyatakan bahwa sekolah-sekolah karena mengabdikan ketidaksamaan yang mencolok berdasarkan garis ras, kelas dan etnik. Ia menegaskan bahwa sekarang ini sekolah-sekolah menengah umum sebagian besar dimasuki oleh anak-anak dari kelas-kelas sosial yang lebih baik kemampuan keluarganya. Hal ini memberikan tontonan kepada kita tentang sesuatu hak istimewa yang sedang dipamerkan atas biaya masyarakat, yang memperlihatkan bahwa kelas-kelas yang berkemampuan lebih baik telah memperoleh kedudukan yang istimewa dalam masyarakat modern.62

Di sisi lain, aliran ini pada prinsipnya pun sependapat dengan aliran perenialisme dalam mengungkap krisis kebudayaan modern. Kedua

62 As‟adi dan Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan, 32-33.

(40)

aliran tersebut memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang kebudayaannya terganggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpangsiuran. Aliran perenialisme ini memilih cara dan jalan pemecahan masalah dengan kembali kepada budaya abad pertengahan, maka rekonstruksionalisme berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan paling mungkin tentang tujuan pertama dan tertinggi dalam kehidupan manusia.63

Untuk mencapai tujuan tersebut, rekonstruksionalisme berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atau orang, yakni agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. Maka proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionalisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru, untuk mencapai tujuan utama tersebut memerlukan kerjasama antar umat manusia.64

Rekonstruksionalisme yang seringkali diartikan sebagai rekonstruksi sosial merupakan perkembangan dari gerakan filsafat pendidikan progresivisme.65 Kaum konstruksionalisme umumnya berpendapat bahwa kaum progresif tidaklah cukup jauh dalam usaha- usaha mereka memperbaiki masyarakat. Mereka percaya bahwa kaum progresivis hanya berkenaan dengan masalah-masalah masyarakat seperti

63 Ibid., 173.

64As‟adi dan Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan, 31.

65 Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam, 206.

(41)

yang ada sekarang, padahal apa yang diperlukan dalam abad kemajuan teknologi yang cepat adalah rekonstruksi masyarakat dan penciptaan tatanan dunia baru. Ia menyatakan bahwa sekolah-sekolah tidak akan betul-betul melaksanakan peranannya, sampai sekolah-sekolah menjadi pusat-pusat bagi pengembangan dari sebuah mayarakat baru secara keseluruhan yang terikat pada upaya menghilangkan kemiskinan, perang rasialisme. Ia menyatakan bahwa apabila sekolah-sekolah diharapkan menjadi lembaga-lembaga yang betul-betul efektif, maka mereka harus menjadi pusat-pusat pembangunan, dan tidak hanya untuk perenungan peradaban kita.

Hal ini tidaklah berarti kita akan berusaha memperkenalkan pembaharuan-pembaharauan khusus melalui lembaga sistem pendidikan.

Bagaimana pun kita akan memberi kepada anak-anak kita suatu wawasan tentang kemungkinan-kemungkinan yang terletak di depan dan berusaha memperoleh kesetiaan-kesetiaan dan entusiasme mereka dalam mewujudkan wawasan. Lembaga-lembaga dan praktek-praktek sosial pun, semuanya hendaknya diuji secara kritis ditinjau dari wawancara tersebut.66

Selanjutnya perkembangan rekonstruksionalisme sosial segera disambut oleh beberapa tokoh lainnya, antara lain Brameld yang berpendapat bahwa meskipun kita bergerak dari sebuah masyarakat

66 Ibid., 34

(42)

agraris, masyarakat pedesaan menuju suatu masyarkat yang berteknologi tinggi, masyarakat kota, ada kesenjangan serius dalam kemampuan kita untuk menyesuaikan diri pada sebuah masyarakat teknologis. Edwin O.

Reischaur, seorang sejarahwan dari Universitas Harvrad, seorang mantan Duta Besar USA Jepang, menyatakan bahwa perlu suatu pembangunan kembali yang laur biasa dari pendidikan, apabila umat manusia ingin terus dapat hidup dalam wajah dunia yang berkembang cepat. Apabila kita tidak bergerak cepat menuju pembangunan kembali pendidikan, maka kita akan sangat terlambat. Tidak lama lagi manusia akan menghadapi banyak kesulitan yang gawat, yang hanya dapat diatasi pada skala global.

Karena itu harus ada suatu tingkat pemahaman yang lebih tinggi dan suatu kemampuan yang jauh lebih besar untuk bekerja sama antar orang- orang dan bangsa yang berbeda-beda yang ada sekarang ini.67

Bagaimana pun pendidikan, seperti yang sekarang diselenggarakan di negara-negara ini dan di setiap negara lainnya di dunia, untuk kepentingan tersebut tidak bergerak cukup cepat dalam arah yang benar untuk menghasilkan pengetahuan tentang dunia luar dan sikap-sikap terhadap orang lain yang mungkin penting untuk mempertahankan hidup manusia dalam satu atau dua generasi.68

67 Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-dasar Pendidikan Pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), 158.

68 Ibid., 159.

(43)

2. Ciri-ciri Aliran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionalisme

Setelah memahami pengertian dan juga sejarah aliran filsafat rekonstruksionalisme, maka di bawah ini adalah ciri-ciri dari aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme :

a. Berakar pada perspektif (sudut pandang) sosiologi pendidikan yang digagas oleh Karl Marx dan Karl Mennheim.

b. Sasaran pendidikan ialah menciptakan tatanan demokratis yang universal.

c. Nilai bersifat persetujuan/komitmen yang berkaitan dengan latar belakang sosial dalam era kesejahteraan (welfare state).

d. Bersifat revolusioner yang akan menuju kehidupan yang sejahtera pada kurun waktu tertentu.69

Sehingga dapat dipahami bahwa aliran ini menginginkan pada perubahan yang berorientasi pada masa depan dan tatanan kehidupan baru menuju kehidupan yang sejahtera.

3. Teori Aliran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionalisme

Selain ciri-ciri yang disebutkan di atas, dikemukakan pula oleh Brameld mengenai teori pendidikan rekonstruksionalisme, yaitu sebagai berikut:

a. Pendidikan harus dilaksanakan di sini dan sekarang dalam rangka menciptakan tata sosial baru yang akan mengisi nilai-nilai dasar

69 Oong Komar, Filsafat Pendidikan Nonformal (Bandung: CV Pustaka Setia, 2006), 159.

(44)

budaya kita, dan selaras dengan mendasari kekuatan-kekuatan ekonomi dan sosial masyarakat modern. Sekarang peradaban menghadapi kemungkinan penghancuran diri. Pendidikan harus mensponsori perubahan yang benar dalam nurani manusia. Oleh karena itu, kekuatan teknologi yang sangat hebat harus dimanfaatkan untuk membangun umat manusia, bukan untuk menghancurkannya.

Masyarakat harus diubah bukan melalui tindakan politik, melainkan dengan cara yang sangat mendasar, yaitu melalui pendidikan bagi para warganya, menuju suatu pandangan baru tentang hidup dan kehidupan mereka bersama.

b. Masyarakat baru harus berada dalam kehidupan demokrasi sejati, di mana sumber dan lembaga utama dalam masyarakat dikontrol oleh warganya sendiri. Semua yang mempengaruhi harapan dan hajat masyarakat, semuanya akan menjadi tanggung jawab rakyat melalui wakil-wakil yang dipilih. Masyarakat ideal adalah masyarakat demokratis, dan harus direalisasikan secara demokrasi. Struktur, tujuan dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan tata aturan baru harus diakui merupakan bagian dari pendapat masyarakat.

c. Anak, sekolah dan pendidikan itu sendiri dikondisikan oleh kekuatan budaya dan sosial, menurut Brameld, kaum progresif terlalu sangat menekankan bahwa kita semua dikondisikan secara sosial. Perhatian kaum progresif hanya untuk mencari cara di mana individu dapat

(45)

merealisasikan dalam masyarakat, dan mengabaikan derajat di mana masyarakat telah menjadikan dirinya. Menurut rekonstruksionalisme, hidup beradab adalah hidup berkelompok, sehingga kelompok akan memainkan peran yang penting di sekolah. Pendidikan merupakan realisasi dari sosial (social self realization). Melalui pendidikan, individu tidak hanya mengembangkan aspek-aspek sifat sosialnya melainkan juga belajar bagaimana keterlibatannya dalam perencanaan sosial.

d. Guru harus meyakini terhadap validitas dan urgensi dirinya dengan cara bijaksana dengan memperhatikan prosedur yang demokratis.

Guru harus melaksanakan pengujian secara terbuka terhadap fakta- fakta, walaupun bertentangan dengan pandangan-pandangannya.

Guru menghadirkan beberapa pemecahan alternatif dengan jelas dan ia memperkenankan siswa-siswanya untuk mempertahankan pandangan-pandangan mereka sendiri.70

e. Cara dan tujuan pendidikan harus diubah kembali seluruhnya dengan tujuan untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan krisis budaya dewasa ini, dan untuk menyesuaikan kebutuhan dengan sains sosial. Yang penting dari sains social adalah mendorong kita untuk menemukan nilai-nilai, di mana manusia percaya atau tidak bahwa nilai-nilai itu bersifat universal.

70 Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan (Bandung: IKAPI, 2003), 169-170.

Referensi

Dokumen terkait

maka kata-kata yang dapat penulis sarankan adalah konsep Pendidikan Islam Ibnu Khaldun ini diharapkan bisa menjadi wahana bagi peningkatan Pendidikan Islam ke depan, sehingga

Adapun tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun, bahwa di dalam Muqaddimahnya ia tidak merumuskan tujuan pendidikan secara jelas, akan tetapi dari uraian yang

Adapun tujuan pendidikan anak menurut konsep Ibnu Khaldun juga tidak disebutkan secara langsung, tetapi dapat diungkapkan bahwa sesungguhnya tujuan pendidikan

2016 Filsafat Manusia dalam Muqaddimah Ibnu Khaldun Dalam penelitian ini hanya membahas pemikiran Ibnu Khaldun tentang dimensi-dimensi sosial manusia, sebagai makhluk.

PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Anas Nur Wahidin NPM : 18250035 Jurusan/Prodi : Konsep Modernisasi Pendidikan Agama Islam Dalam Perspektif Ibnu

Tujuan penelitian ini yaitu untuk menunjukkan bahwa konsep filsafat islam yang ada dalam pemikiran Ibnu Rusyd dan keberadaannya yang bisa kita temukan sampai sekarang memiliki

KONSEP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MENURUT IBNU KHALDUN DAN RELAVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN MODERN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar sarjana

Ibnu Khaldun juga menggaris bawahi relavansi kurikulum pendidikan dengan keadaan sos lingkungannya.1 Kajian filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar,