فوُ ُرْيَت
A. Biografi Ibnu Khaldun
BAB III
KONSEP TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBNU KHALDUN
`Abd-Rah}ma>n) adalah salah seorang tokoh Arab yang berhasil memasuki Spanyol pada awal dinasti Abbasiyah. Sejarah menyebutkan bahwa tokoh utama Arab Islam yang berhasil menyebrangi Laut Tengah dan memasuki daratan Andalusia adalah seorang keturunan Arab dari Dinasti Umayyah, yaitu ‘Abd al-Rah}ma>n al-Da>khil.82 Jika ‘Abd al-Rah}ma>n (Ibnu Khaldun) dikatakan berasal dari Sisilia atau Sevilla (Isybilia ibu kota pertama Andalusia) yang secara geografis bukan bagian dari Arab, maka ketokohan diri Khaldu>n yang dikenal sebagai tokoh Arab semata-mata karena ia sebagai imigran Arab yang berbaur dengan masyarakat baru, dan jadilah ia seorang warga Spanyol dari Arab.83
Keluarga Khaldu>n pada sekitar tahun 700-an berhijrah kembali dari Andalusia ke Arab (Afrika Utara). Situasi sosial politik di Andalusia pada waktu itu kurang menguntungkan bagi kaum muslim, khususnya imigran Arab, sehingga mereka berpikir untuk kembali ke tanah arab lagi.
Dinasti Islam Arab di Andalusia dan keluarganya pun mengalami keruntuhan total, sehingga penguasa Andalusia mengharuskan mereka untuk angkat kaki dari tanah Spanyol. Keluarga Khaldu>n berhijrah ke Afrika karena mengikuti keadaan sosial dan politik pada waktu itu.
82 Gelar al-Da>khil bagi „Abd al-Rah}ma>n adalah karena ia berhasil memasuki Spanyol (Andalusia) Eropa kemudian menguasai, mengislamkan dan mendirikan dinasti Umayyah di sana.
Dinasti al-Da>khil di Spanyol akhirnya lebih dikenal dengan nama Dinasti Umayyah II di Andalusia.
Sebagai seorang Arab keturunan Mu‟a>wiyah pendiri Dinasti Umayyah yang telah berhasil memasuki Andalusia, `Abd al-Rah}ma>n diberi gelar al-Da>khil, yang artinya “yang masuk”.
83 Moh. Pribadi, Pemikiran Sosiologi Islam Ibn Khaldu> n (Yogyakarta: SUKA Press, 2014), 23.
Meskipun tidak semuanya hijrah ke Afrika, orang tua dan sebagian besar keluarga Khaldu>n pindah ke Afrika termasuk orang tua Ibnu Khaldun.
Akhirnya, tokoh ‘Abd al-Rah}ma>n ini pun lahir di Tunis, ibu kota Tunisia Afrika dalam keluarga Arab Hadramaut yang masih murni.
Buku Rih}lah Ibn Khaldu>n menyebutkan bahwa nasab Ibnu Khaldun, sebagaimana diakuinya sendiri, berasal dari Hadramaut di Arab Yaman. Nasab inilah yang menyambung garis keturunannya sampai Wa>il ibn H{ujr sebagaimana telah disinggung di atas. Kakeknya ini, Wa>il bin H{ujr dikenal sebagai salah satu nama keluarga terhormat, pemuka Arab yang masyhur dan memiliki pamor sosial.
Ibnu Khaldun di usia mudanya sudah terjun dalam kegiatan politik praktis. Ia diangkat sebagai sekretaris Sultan Abu ‘Inan dari Fez Maroko dan pada waktu itu ia baru berusia 20 tahun. Dunia politik bagi dirinya adalah pilihan hidupnya sehingga dia senantiasa siap ketika diberi jabatan penting oleh pemerintah pada masanya.
Namun, pilihan jabatan politik kenegaraan tampaknya tidak ia pegang selamanya, karena setelah itu ia justru meninggalkan jabatan politiknya dan memusatkan perhatian pada kegiatan mengajar dan menulis. Di antara hasil pemikirannya tentang sejarah, ia berpendapat bahwa sejarah pada hakekatnya adalah catatan tentang peristiwa-peristiwa
yang terjadi dalam peradaban manusia, peristiwa sekarang adalah kelanjutan dari peristiwa lampau.84
2. Riwayat Pendidikan dan Politik
Al-Wa>fi menulis masa berguru dan mencari ilmu adalah periode kehidupan belajar Ibnu Khaldun yang pertama. Periode ini berlangsung sejak tahun kelahirannya 732 sampai 751 H. Ia menghabiskan waktu selama 20 tahun di tanah kelahirannya Tunisi dan 15 tahun di antaranya untuk belajar menghafal al-Qur‟an, ilmu tajwid, ilmu qiraah dan ilmu lainnya di hadapan para gurunya85.
Pendidikannya dimulai dari ayahnya sendiri sebagai guru pertamanya. Kemudian belajar pada sejumlah guru,86 yakni : (1) ahli al- Qur‟an: Abu ‘Abd Alla>h Muh}ammad ibn Sa’ad ibn Burra>l; (2) ahli ilmu qiraah: Abu al-‘Abba>s Ah}mad ibn Muh}ammad al-Batarni>; (3) ahli nah}w:
al-Syekh Abu ‘Abd Alla>h ibn al-‘Ara>bi, Abu ‘Abd Alla>h Muh}ammad ibn al-Syawa>sy al-Zarza>li> dan Abu al-‘Abba>s Ah}mad ibn al-Qas}s}a>r; (4) ahli sastra dan budaya Arab: Abu ‘Abd Alla>h Muhammad ibn Bah}r; (5) ahli Hadits: Syams al-Di>n Abi> ‘Abd Alla>h Muh}ammad ibn Ja>bir ibn Sulaima>n al-Qaisi> al-Wa>diyasi>; (6) ahli fikih: Abu ‘Abd Alla>h Muh}ammad ibn ‘Abd Alla>h al-Jayya>ni> dan Abu al-Qa>sim Muh}ammad al-Qas}i>r, Abu ‘Abd Alla>h
84 Ibid., 24-26.
85 Ibid., 37.
86 Rahman, Pendidikan Integralistik, 51.
Muh}ammad ibn ‘Abd al-Sala>m; (7) ahli logika: Abu ‘Abd Alla>h Muh}ammad ibn Ibra>hi>m al-A<bili> serta Abi Mu>sa> ‘I<sa> ibn al-ima>m.
Tidak banyak ditemukan referensi tentang riwayat pendidikannya, selain bukunya Rih}lah Ibn Khaldu>n. Dalam buku itu disebutkan bahwa pada usia 17 tahun, yaitu usia saat seorang anak muda beranjak remaja, ia sudah dapat menempati jenjang pendidikan setara dengan pendidikan sekolah menengah seperti fenomena pendidikan masa kini. Yang tampak dari sekian banyak gurunya dengan berbagai keahliannya, ia belajar secara khusus dengan mendatangi mereka.
Dengan kecerdasan otaknya inilah, ia mampu menyerap ilmu yang diajarkan oleh para gurunya ditambah dengan usaha belajar mandirinya.
Dengan pola seperti ini, ia secara cepat menjadi seorang sarjana („a>lim) yang menjadikannya mulai tampak secara signifikan di mata masyarakat sebagai cendekiawan muda yang cerdas. Melalui pola berguru (mendatangi para guru untuk menjadi siswanya dan belajar ilmu) yang didukung oleh kecerdasan otaknya, ia berhasil menjadi pemuda terpelajar yang terus berkembang sampai masa dewasa dan menjadi mahaguru di masa tuanya.87 Hal inilah yang membuat Ibnu Khaldun terus dapat menduduki posisi-posisi penting di istana kerajaan. Karena kecerdasan dan keuletan beliaulah ia dipercaya untuk mengemban tugas kerajaan.
87 Pribadi, Pemikiran Sosiologi Islam Ibn Khaldu> n, 37-38.
Dan begitu sebaliknya indikator penting yang mendukung keberhasilan belajar Ibnu Khaldun tersebut adalah kedekatan keluarganya dengan lingkungan elit penguasa atau pada saat tertentu ia menjalani kehidupannya di lingkungan istana kesultanan. Lingkungan elit kerajaan merupakan lembaga nonformal yang dapat menjadi wahananya yang penting untuk mengakses perkembangan ilmu pengetahuan masyarakat sejak dini dan secara luas. Istana juga merupakan lembaga yang semakin terbuka bagi dirinya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan karena ia menjadi bagian dari anggota keluarga istana.
Ibnu Khaldun di usia yang masih relatif muda sudah mulai dikenal masyarakat sebagai remaja yang pandai dan menguasai sejumlah ilmu pengetahuan. Syafi‟i Ma‟arif menulis penelitiannya bahwa Ibnu Khaldun pada usia 17 tahun sudah mulai ikut kegiatan intelektual di kota kelahirannya. Disamping itu, ia juga ikut mengamati kehidupan politik dari dekat karena memang ia hidup di lingkungan pusat kekuasaan. Dan beliau pun sudah menguasai beberapa disiplin ilmu, terutama ilmu keislaman. Selain ilmu keislaman Ibnu Khaldun juga tertarik pada sejumlah ilmu, yaitu ilmu politik, sejarah, ekonomi, geografi, hukum, fikih dan ilmu-ilmu lainnya. Terdorong oleh ketertarikannya terhadap fikih
yang kental dengan alirannya, ia pun memutuskan untuk menjadi pengikut Madzhab Fikih Ma>liki.88
Sehingga Ibnu Khaldun tidak hanya dikenal masyarakat sebagai ilmuwan agama namun juga dikenal sebagai ilmuwan yang ahli dalam berbagai bidang, misalnya ilmu sosial, alam dan politik yang mampu memberikan banyak sekali warisan ilmu pengetahuan kepada generasi penerusnya. Tidak mengherankan kalau di usia muda Ia sudah mampu dalam berbagai bidang keilmuwan, karena dari kecil sudah diajarkan berbagai ilmu.
Ia pun menimba ilmu pengetahuan dan pada saatnya ia bersikap realistis. Paradigma ilmu pengetahuannya senantiasa ditopang oleh semua data positif dan fakta yang didapat melalui metode pengamatannya. Dalam konteks ini, Ibnu Khaldun dinilai sebagai sosiolog yang berpandangan rasional objektif dan jauh dari khayalan. Metode pengamatan dan akses nyata pada kenyataannya sosial yang ada pada waktu itu adalah pilihan data sosiologinya. Sementara itu, lingkungan hidupnya di istana menuntut dirinya untuk tidak boleh lemah karena berada di sisi para politikus dan sultan. Kenyataan ini adalah tantangan serius dan memerlukan otak dan pikiran yang kuat. Di sisi lain, kualitas keilmuannya secara otomatis juga dinikmati oleh lingkungan istana. Istana menikmati nama besarnya, dan
88 Ibid., 38-39.
sebaliknya, ia dinilai sangat berperan dalam menjaga nama besar lingkungan terhormat, yaitu istana dan kerajaan.89
Akan tetapi, studinya secara tiba-tiba terhenti akibat terjangkitnya penyakit pes pada tahun 749 H di sebagian besar belahan dunia bagian timur. Wabah itu merenggut ribuan nyawa. Akibatnya lebih jauh, penguasa dan ulama hijrah ke Maghrib jauh (Maroko) pada tahun 750 H.
oleh karena itu, ia berusaha mendapatkan pekerjaan dan mencoba mengikuti jejak kakeknya di dunia politik. Komunikasi yang dijalinnya dengan ulama dan tokoh-tokoh terkenal banyak membantunya mencapai jabatan-jabatan tinggi.90
Pada waktu berusia 20 tahun Ibnu Khaldun dipanggil oleh Abu Muh}ammad ibn Tarafkin penguasa Tunisia untuk memangku jabatan sekretaris Sultan Abu Ish}a>q ibn Yah}ya> al-H{afsi>. Ia menerima tawaran tersebut dan untuk pertama kali pada tahun 751 H memangku jabatan pemerintahan.
Sejak itu Ibnu Khaldun mulai mengikuti jejak dan tradisi keluarga dan nenek moyangnya yang bekerja pada jabatan-jabatan tertinggi negara.
Adapun yang mendorong Ibnu Khaldun menerima jabatan tersebut karena ia merasa tidak lagi mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pelajarannya di Tunisia karena akibat wabah penyakit tersebut. Sehingga
89 Ibid., 40.
90 Zaprulkhan, Filsafat Pendidikan Sebuah Kajian Tematik, 235.
Ia sedih dan tidak dapat melanjutkan pelajarannya. Ibnu Khaldun tetap memangku jabatan sekretaris sampai ia hijrah ke kota Fez Maroko, pada tahun 755 H/134 M.
Pada tahun 752 H Sultan al-Maghri>b al-Aqs}a Abu al- H{asa>n meninggal, ia digantikan oleh anaknya Abu ‘Inan. Ibnu Khaldun dipanggil oleh Abu ‘Inan ke kota Fez pada tahun 755 H dan pada tahun inilah Ia diangkat sebagai seorang anggota majelis ilmu, lalu diangkat sebagai salah seorang sekretaris sultan.91 Keberadannya di kota Fez ini dipergunakan untuk melanjutkan pelajarannya yang pernah terhenti dengan para ulama dan sastrawan kenamaan di kota tersebut, sebagaimana dimanfaatkan untuk mengunjungi perpustakaan-perpustakaan Fez yang pada waktu itu merupakan salah satu perpustakaan Islam terlengkap.
Pada tahun 758 H, Ibnu Khaldun ditangkap oleh Sultan Abu ‘Inan dengan tuduhan melakukan sabotase terhadap sultan. Ia dipenjara selama dua tahun dan setelah Abu Sali>m ibn Abu al-H{asa>n menjadi Sultan al- Maghri>b al-Aqs}a> pada bulan Sya‟ban 760 H Ibnu Khaldun diangkat menjadi sekretaris pribadi sultan. Dengan demikian Ibnu Khaldun berada di al-Maghri>b al-Aqs}a> sebelum kunjungannya ke Andalusia selama delapan tahun. Dua tahun ditahan di penjara Fez (7588-760 H) dan selama lebih kurang enam tahun bekerja sebagai seorang pejabat di kota Fez
91 Al-Allamah Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun, Mukaddimah Ibnu Khaldun, terj.
Masturi Irham (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2015), 1083.
dengan tiga sultan dan dua orang putra mahkota: masing-masing Sultan Abu ‘Inan pada tahun 755-758 H, putra mahkota al-H{asa>n ibn ‘Umar pada tahun 760 H, Sultan Mansur Sulaima>n pada tahun 760 H, Sultan Abu Sali>m pada tahun 760-762 H dan putra mahkota „Umar ibn ‘Abdilla>h pada tahun 763-764 H.
Setelah memperhatikan bahwa situasi politik di Afrika Utara tidak menguntungkan, Ibnu Khalun berangkat menuju Andalus dan memilih kota Granada sebagai tempat tinggal, karena antara Ibnu Khaldun dan sultan Granada Abu ‘Abdulla>h Raja III Banu al-Ah}ma>r dan menterinya Lisa>n ad-Di>n al-Khati>b telah terjalin persahabatan yang erat, sejak keduanya mengungsi di istana Sultan Abu Sali>m di Fez. Pada waktu itu Ibnu Khaludun menjadi sekretaris pribadi dan pejabat protokol sultan.
Sejak Ibnu Khaldun menginjakkan kakinya di Granada, Sultan Abu ‘Abdulla>h dan menterinya Lisan al-Khati>b menyambutnya dengan hangat dan menyediakan tempat tinggal yang megah untuk Ibnu Khaldun sebagai balasan atas pelayanan atau bantuan yang diberikan oleh Ibnu Khaldun kepada keduanya pada waktu mereka berada di istana Abu Sali>m di Fez.
Pada tahun 765 H, sultan Abu ‘Abdilla>h menugaskan Ibnu Khaldun sebagai duta negaranya untuk menghadap raja Castilia. Raja Castilia pada waktu itu adalah Petrus yang berkuasa sekitar tahun 1350 M.
Ia terkenal sebagai raja yang bengis. Ia bertugas menyelesaikan perjanjian perdamaian dan mengatur hubungan diplomatik antara Granada dan Castilia. Ibnu Khaldun mengemban tugas ini dengan penuh keberhasilan.
Akan tetapi keberhasilannya menjadikan musuh-musuh dan pembuat fitnah tidak tinggal diam, mereka menghasut Perdana Menteri Lisan al- Khati>b bahwa Ibnu Khaldun telah mendekati Sultan. Maka situasi pun menjadi genting dan Ibnu khaldun menyadari hal itu.
Sebelum situsi memburuk antara Ibnu Khaldun dan Lisan al- Khati>b, maka ia memohon kepada sultan agar diizinkan untuk meninggalkan Andalus. Pada tahun 776 H Ibnu Khaldun meningglkan Andalus menuju Baougie (Bejaya)92.
Karena ibnu Khaldun selalu mendapatkan kedudukan yang baik dalam pemerintahan kerajaan, akibatnya beliau banyak musuh yang selalu berusaha menyingkirkannya. Oleh karena itu dia memutuskan untuk meninggalkan dunia politik dan memusatkan perhatian dan tenaganya ke dalam ilmu pengetahuan. Beliau pergi ke Jazirah Arabbia, tinggal di pinggiran padang Sahara bersama kabilah-kabilah Arab Badui selama empat tahun. Dari sinilah dia mulai menulis kitab dan memberi pelajaran dari Jami’ al-Azh}a>r. Dia mempunyai hubungan yang baik dengan Sultan Mesir, karena itu beliau dihormati dan diberi jabatan pengadilan Makiyyah tahun 1786 H. Ketika dia merasa punya kedudukan yang lebih
92 Ibid., 1084-1085.
baik di kairo timbullah kerinduannya pada anak istrinya yang berada di Maghribi. Mereka pun dimintanya agar pindah ke Mesir hidup bersamanya. Tapi malang bagi mereka sewaktu mereka berlayar dari Maghribi ke Mesir kapal yang membawa mereka tenggelam di tengah lautan, karena duka cita yang mendalam atas kematian keluarganya itu, dia hidup mengasingkan diri dari dunia ramai. Dia meninggalkan jabatannya dan hanya hidup tekun mengajar dan mengarang. Setelah kitab Tarikhnya selesai ditulis diapun meninggal dunia pada tahun 808 H dalam usia 74 tahun93.
Melalui terjun langsung di dunia politik dan berhubungan langsung dengan kehidupan sosial masyarakat pada saat itulah yang memberikan kesempatan kepada Ibnu Khaldun untuk dapat mengeluarkan buah pikirannya berupa teori-teorinya yang dirangkum dalam beberapa karya-karyanya yang fenomenal, yang sampai pada saat ini dapat kita pelajari dan kita jadikan sebuah penelitian yang pada akhirnya akan tercipta karya-karya baru dari pengembangan karya-karya Ibnu Khaldun tersebut. Walaupun begitu banyak tantangan dan rintangan dalam mengemban tugasnya tersebut Ibnu Khaldun tetap fokus dan bersemangat menyempatkan dirinya untuk terus menimba ilmu dan menuliskan segala
93 Busyairi Madjidi, Konsep Pendidikan Para Filosof Muslim (Yogyakarta: Al-Amin Press, 1997), 128-129.
pengalaman dan ilmu yang diperolehnya sehingga ia mampu mewariskan karya-karya yang luar biasa untuk dunia pendidikan.