فوُ ُرْيَت
B. Aliran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionalisme
1. Pengertian dan Sejarah Lahirnya Aliran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionalisme
Kata rekonstruksionalisme dalam bahasa Inggris “reconstruct” yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionalisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern.58
Rekonstruksionalisme sebagai aliran pendidikan sejak awal sejarahnya di tahun 1920 dengan lahirnya sebuah karya John Dewey yang berjudul “Reconstruction in Philosophy” yang kemudian digerakkan secara nyata oleh George Counts dan Harold Rugg di tahun 1930-an
56 Nafis, Ilmu Pendidikan Islam, 70-71.
57 Uhbiyati dan Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam 1, 68.
58 Basuki As‟adi dan Miftahul Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan (Ponorogo: Stain Po Press, 2010), 30.
selalu ingin menjadikan lembaga pendidikan sebagai wahana rekonstruksi masyarakat.59
Hal ini dilatar belakangi karena keadaan masyarakat yang dilanda oleh kesulitan ekonomi dan masalah-masalah sosial yang sangat besar, pendidikan ditantang untuk lebih memberikan pelayanan sebagai sebuah agen perubahan dari rekonstruksi sosial dari pada mempertahankan status quo dengan ketidaksamaan-ketidaksamaan dan masalah-masalah yang terpendam di dalamnya. Ia mendorong sekolah-sekolah untuk bersekutu dengan kekuatan-kekuatan progresif dan buruh, wanita, petani dan kelompok-kelompok minoritas, menuju pada perubahan yang diperlukan.
Counts mengecam pendidikan progresif karena telah gagal mengembangkan suatu teori kesejahteraan sosial, dan ia menegaskan bahwa pendekatan pendidikan berpusat pada anak (the child centered approach) tidak memadai untuk menjamin keterampilan-keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan dalam menghadapi abad 20, dapat dihasilkan oleh pendidikan.60 Rekonstruksionisme ini pun telah pula diformulasikan oleh George S. Counts dalam sebuah karya klasiknya
“Dare the Schools Build a New Socil Order?” Yang diterbitkan pada tahun 1932.61
59 Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam: Paradigma Baru Pendidikan Hadhari Berbasis Integratif-Interkonektif (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), 206.
60 As‟adi dan Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan, 33-34.
61 Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), 172.
Counts juga menulis bahwa dewasa ini terdapat jurang pemisah yang besar di antara banyak kenyataan yang sulit dihilangkan, antar peradaban industri kita dengan adat istiadat, kesetiaan-kesetiaan, pemahaman-pemahaman dan pandangan-pandangan kita. Tugas yang membawa pikiran dari usaha-usaha kita tertuju pada mencapai keselamatan dengan kondisi-kondisi fisik abad baru adalah suatu upaya pendidikan yang bersifat raksasa dan sangat penting. Sebenarnya kita tidak mengenal perdamaian dan ketentraman sampai daya upaya tersebut selesai (The Prospect of American Democracy, 1938). Pada tahun 1932, Counts menerbitkan “The Selective Character of America Secondary Education”. Ia menyatakan bahwa sekolah-sekolah karena mengabdikan ketidaksamaan yang mencolok berdasarkan garis ras, kelas dan etnik. Ia menegaskan bahwa sekarang ini sekolah-sekolah menengah umum sebagian besar dimasuki oleh anak-anak dari kelas-kelas sosial yang lebih baik kemampuan keluarganya. Hal ini memberikan tontonan kepada kita tentang sesuatu hak istimewa yang sedang dipamerkan atas biaya masyarakat, yang memperlihatkan bahwa kelas-kelas yang berkemampuan lebih baik telah memperoleh kedudukan yang istimewa dalam masyarakat modern.62
Di sisi lain, aliran ini pada prinsipnya pun sependapat dengan aliran perenialisme dalam mengungkap krisis kebudayaan modern. Kedua
62 As‟adi dan Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan, 32-33.
aliran tersebut memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang kebudayaannya terganggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpangsiuran. Aliran perenialisme ini memilih cara dan jalan pemecahan masalah dengan kembali kepada budaya abad pertengahan, maka rekonstruksionalisme berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan paling mungkin tentang tujuan pertama dan tertinggi dalam kehidupan manusia.63
Untuk mencapai tujuan tersebut, rekonstruksionalisme berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atau orang, yakni agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. Maka proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionalisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru, untuk mencapai tujuan utama tersebut memerlukan kerjasama antar umat manusia.64
Rekonstruksionalisme yang seringkali diartikan sebagai rekonstruksi sosial merupakan perkembangan dari gerakan filsafat pendidikan progresivisme.65 Kaum konstruksionalisme umumnya berpendapat bahwa kaum progresif tidaklah cukup jauh dalam usaha- usaha mereka memperbaiki masyarakat. Mereka percaya bahwa kaum progresivis hanya berkenaan dengan masalah-masalah masyarakat seperti
63 Ibid., 173.
64As‟adi dan Ulum, Pengantar Filsafat Pendidikan, 31.
65 Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam, 206.
yang ada sekarang, padahal apa yang diperlukan dalam abad kemajuan teknologi yang cepat adalah rekonstruksi masyarakat dan penciptaan tatanan dunia baru. Ia menyatakan bahwa sekolah-sekolah tidak akan betul-betul melaksanakan peranannya, sampai sekolah-sekolah menjadi pusat-pusat bagi pengembangan dari sebuah mayarakat baru secara keseluruhan yang terikat pada upaya menghilangkan kemiskinan, perang rasialisme. Ia menyatakan bahwa apabila sekolah-sekolah diharapkan menjadi lembaga-lembaga yang betul-betul efektif, maka mereka harus menjadi pusat-pusat pembangunan, dan tidak hanya untuk perenungan peradaban kita.
Hal ini tidaklah berarti kita akan berusaha memperkenalkan pembaharuan-pembaharauan khusus melalui lembaga sistem pendidikan.
Bagaimana pun kita akan memberi kepada anak-anak kita suatu wawasan tentang kemungkinan-kemungkinan yang terletak di depan dan berusaha memperoleh kesetiaan-kesetiaan dan entusiasme mereka dalam mewujudkan wawasan. Lembaga-lembaga dan praktek-praktek sosial pun, semuanya hendaknya diuji secara kritis ditinjau dari wawancara tersebut.66
Selanjutnya perkembangan rekonstruksionalisme sosial segera disambut oleh beberapa tokoh lainnya, antara lain Brameld yang berpendapat bahwa meskipun kita bergerak dari sebuah masyarakat
66 Ibid., 34
agraris, masyarakat pedesaan menuju suatu masyarkat yang berteknologi tinggi, masyarakat kota, ada kesenjangan serius dalam kemampuan kita untuk menyesuaikan diri pada sebuah masyarakat teknologis. Edwin O.
Reischaur, seorang sejarahwan dari Universitas Harvrad, seorang mantan Duta Besar USA Jepang, menyatakan bahwa perlu suatu pembangunan kembali yang laur biasa dari pendidikan, apabila umat manusia ingin terus dapat hidup dalam wajah dunia yang berkembang cepat. Apabila kita tidak bergerak cepat menuju pembangunan kembali pendidikan, maka kita akan sangat terlambat. Tidak lama lagi manusia akan menghadapi banyak kesulitan yang gawat, yang hanya dapat diatasi pada skala global.
Karena itu harus ada suatu tingkat pemahaman yang lebih tinggi dan suatu kemampuan yang jauh lebih besar untuk bekerja sama antar orang- orang dan bangsa yang berbeda-beda yang ada sekarang ini.67
Bagaimana pun pendidikan, seperti yang sekarang diselenggarakan di negara-negara ini dan di setiap negara lainnya di dunia, untuk kepentingan tersebut tidak bergerak cukup cepat dalam arah yang benar untuk menghasilkan pengetahuan tentang dunia luar dan sikap-sikap terhadap orang lain yang mungkin penting untuk mempertahankan hidup manusia dalam satu atau dua generasi.68
67 Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-dasar Pendidikan Pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), 158.
68 Ibid., 159.
2. Ciri-ciri Aliran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionalisme
Setelah memahami pengertian dan juga sejarah aliran filsafat rekonstruksionalisme, maka di bawah ini adalah ciri-ciri dari aliran filsafat pendidikan rekonstruksionalisme :
a. Berakar pada perspektif (sudut pandang) sosiologi pendidikan yang digagas oleh Karl Marx dan Karl Mennheim.
b. Sasaran pendidikan ialah menciptakan tatanan demokratis yang universal.
c. Nilai bersifat persetujuan/komitmen yang berkaitan dengan latar belakang sosial dalam era kesejahteraan (welfare state).
d. Bersifat revolusioner yang akan menuju kehidupan yang sejahtera pada kurun waktu tertentu.69
Sehingga dapat dipahami bahwa aliran ini menginginkan pada perubahan yang berorientasi pada masa depan dan tatanan kehidupan baru menuju kehidupan yang sejahtera.
3. Teori Aliran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionalisme
Selain ciri-ciri yang disebutkan di atas, dikemukakan pula oleh Brameld mengenai teori pendidikan rekonstruksionalisme, yaitu sebagai berikut:
a. Pendidikan harus dilaksanakan di sini dan sekarang dalam rangka menciptakan tata sosial baru yang akan mengisi nilai-nilai dasar
69 Oong Komar, Filsafat Pendidikan Nonformal (Bandung: CV Pustaka Setia, 2006), 159.
budaya kita, dan selaras dengan mendasari kekuatan-kekuatan ekonomi dan sosial masyarakat modern. Sekarang peradaban menghadapi kemungkinan penghancuran diri. Pendidikan harus mensponsori perubahan yang benar dalam nurani manusia. Oleh karena itu, kekuatan teknologi yang sangat hebat harus dimanfaatkan untuk membangun umat manusia, bukan untuk menghancurkannya.
Masyarakat harus diubah bukan melalui tindakan politik, melainkan dengan cara yang sangat mendasar, yaitu melalui pendidikan bagi para warganya, menuju suatu pandangan baru tentang hidup dan kehidupan mereka bersama.
b. Masyarakat baru harus berada dalam kehidupan demokrasi sejati, di mana sumber dan lembaga utama dalam masyarakat dikontrol oleh warganya sendiri. Semua yang mempengaruhi harapan dan hajat masyarakat, semuanya akan menjadi tanggung jawab rakyat melalui wakil-wakil yang dipilih. Masyarakat ideal adalah masyarakat demokratis, dan harus direalisasikan secara demokrasi. Struktur, tujuan dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan tata aturan baru harus diakui merupakan bagian dari pendapat masyarakat.
c. Anak, sekolah dan pendidikan itu sendiri dikondisikan oleh kekuatan budaya dan sosial, menurut Brameld, kaum progresif terlalu sangat menekankan bahwa kita semua dikondisikan secara sosial. Perhatian kaum progresif hanya untuk mencari cara di mana individu dapat
merealisasikan dalam masyarakat, dan mengabaikan derajat di mana masyarakat telah menjadikan dirinya. Menurut rekonstruksionalisme, hidup beradab adalah hidup berkelompok, sehingga kelompok akan memainkan peran yang penting di sekolah. Pendidikan merupakan realisasi dari sosial (social self realization). Melalui pendidikan, individu tidak hanya mengembangkan aspek-aspek sifat sosialnya melainkan juga belajar bagaimana keterlibatannya dalam perencanaan sosial.
d. Guru harus meyakini terhadap validitas dan urgensi dirinya dengan cara bijaksana dengan memperhatikan prosedur yang demokratis.
Guru harus melaksanakan pengujian secara terbuka terhadap fakta- fakta, walaupun bertentangan dengan pandangan-pandangannya.
Guru menghadirkan beberapa pemecahan alternatif dengan jelas dan ia memperkenankan siswa-siswanya untuk mempertahankan pandangan-pandangan mereka sendiri.70
e. Cara dan tujuan pendidikan harus diubah kembali seluruhnya dengan tujuan untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan krisis budaya dewasa ini, dan untuk menyesuaikan kebutuhan dengan sains sosial. Yang penting dari sains social adalah mendorong kita untuk menemukan nilai-nilai, di mana manusia percaya atau tidak bahwa nilai-nilai itu bersifat universal.
70 Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan (Bandung: IKAPI, 2003), 169-170.
f. Kita harus meninjau kembali penyusunan kurikulum, isi pelajaran, metode yang dipakai, struktur administrasi dan cara bagaimana guru dilatih. Semua itu harus dibangun kembali bersesuaian dengan teori kebutuhan tentang sifat dasar manusia secara rasional dan ilmiah.
Kita harus menyusun kurikulum di mana pokok-pokok dan bagiannya dihubungkan secara integral, tidak disajikan sebagai suatu sekuensi komponen pengetahuan.71
4. Konsep Tujuan Pendidikan menurut Aliran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionalisme
Aliran ini yakin bahwa pendidikan tidak lain adalah tanggung jawab sosial. Hal ini mengingat bahwa eksistensi pendidikan dalam keseluruhan realitasnya diarahkan untuk pengembangan atau perubahan masyarakat. Hal ini dikarenakan tidak hanya berkonsentrasi tentang hal- hal yang berkenaan dengan hakekat manusia, tetapi juga terhadap teori belajar yang dikaitkan dengan pembentukan kepribadian subjek didik yang berorientasi pada masa depan. Oleh karena itu pula, maka identitasnya terletak pada filsafat pendidikannya. Bahkan penetapan tujuan dalam hal ini merupakan sesuatu yang penting dalam aliran ini.
Segala sesuatu yang diidamkan untuk masa depan suatu masyarakat mesti ditentukan secara jelas oleh pendidikan.72
71 Ibid., 171.
72 Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, 177.
Aliran filsafat rekonstruksionalisme memandang tujuan pendidikan haruslah menumbuhkan kesadaran terdidik yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi manusia dalam skala global, dan memberi keterampilan kepada mereka agar memiliki kemampuan memecahkan masalah –masalah tersebut.73
Rekonstruksionalisme menghendaki agar peserta didik dapat dibangkitkan kemampunnya untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan perkembangan masyarakat sebagai akibat adanya pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik tetap berada dalam suasana aman dan bebas.74
Dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam, aliran ini lebih bersifat proaktif dan antisipatif. Dikatakan proaktif, karena ia berusaha untuk mencari jawaban dan sekaligus memperkirakan perkembangan ke depan atas situasi dan kondisi serta permasalahan yang ada. Dikatapan antisipatif, karena ia berusaha untuk mengondisikan situasi, kondisi dan faktor menjadi lebih ideal, sehingga permasalahan yang ada akan dipecahkan ke perubahan yang lebih ideal. Tugas pendidikan Islam jika dilihat dari filsafat pendidikan rekonstruksionalisme yaitu membantu peserta didik agar menjadi cakap dan selanjutnya mampu ikut bertanggung jawab terhadap pengembangan masyarakatnya melalui
73 Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan, 171.
74 Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam (Surabaya: PSAPM, 2003), 41.
upaya amar ma‟ruf nahi munkar. Jadi, diperlukan aktivitas pendidikan yang berkomitmen terhadap pengembangan kreativitas secara berkelanjutan, sehingga khazanah budaya bisa diperkaya, nilai-nilai insani dan Illahi tidak hanya dilestarikan begitu saja tetapi juga diperkaya isinya, serta produktif, baik dari segi ekonomik, aestetik, sosial, kulltural dan sebagainya.75
Rekonstruksionalisme percaya, bahwa pengembangan watak manusia mesti selalu berinteraksi dengan kondisi-kondisi yang mengelilinginya. Suatu kebudayaan lahir berdasarkan pola adaptasi yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan lingkungan masyarakatnya. Mengingat manusia adalah bagian terpenting dalam sebuah masyarakat, maka apa pun yang ia lakukan selalu berkenaan dengan pembentukan kebudayaannya. Pembentukan kebudayaan ini sangat tergantung pada aspek kebebasan yang memang merupakan hak esensial manusia. Untuk itu, demokrasi mestilah menjadi asas penting dalam kehidupan sosial dalam skala apa pun.
Mengingat manusia adalah bagian masyarakat, maka pendidikan secara efisiensi mesti mengacu pada kepentingan rekonstruksi masyarakat. Pendidikan bagi rekonstruksionalisme mesti diarahkan untuk memampukan subjek-subjek didik membangun dunia bagi masyarakat
75 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam: di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi (Jakarta: PT Jara Grafindo Persada, 2012), 101.
melalui pendayagunaan kemampuan akal, indra dan intuisi, sehingga pendidikan harus menjadikan subjek didiknya mampu menggunakan ilmu pengetahuan yang diperolehnya sebagai wahana bagi perealisasian nilai- nilai spiritual. Untuk itu perlu adanya upaya integrasi intelektual dan cinta, sebab hidup bukanlah rutinitas, tetapi seni kreatif, konstruktif dan inovatif.
Rekonstruksionalisme percaya bahwa pendidikan sebagai suatu lembaga masyarakat tentulah diarahkan pada upaya rekayasa sosial, sehingga segala aktivitasnya pun senantiasa merupakan solusi bagi berbagai problematika kehidupan dalam masyarakat. Sekolah dalam hal ini menjadi agen perubahan sosial, politik dan ekonomi yang primer. Oleh karena itu, lembaga pendidikan mesti memiliki komitmen untuk menciptakan masyarakat baru yang sarat dengan nilai-nilai dasar budaya dan sosial ekonomi yang akan membentuk harmonisasi masyarakat.
Pendidikan dalam hal ini mesti diarahkan pada perubahan pola pikir masyarakat, sehingga teknologi-teknologi yang begitu besar lebih dijadikan sebagai sumber kreativitas dari pada untuk menghancurkan.
Transformasi sosial merupakan suatu keniscayaan dan ini hanya dapat dilakukan melalui pendidikan. Sebagai sebuah lembaga yang bebas pendidikan tidak mungkin tanpa mekanisme.76 Hal ini dikarenakan tujuan pendidikan, kurikulum, metode, peranan guru dan sekolah sebagai
76 Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, 181-182.
lembaga pendidikan itu hendaknya searah dengan situasi dan kebutuhan masyarakat. Peserta didik dalam sekolah yang bercorak rekonstruksionalisme ini diarahkan supaya mampu beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat di mana ia tinggal. Jadi, orientasi pendidikannya adalah masyarakat.77
Maka dari itu, rekonstruksionalisme sosial ini mendorong berkembangnya sekolah-sekolah masyarakat atau community school dengan lebih menekankan pada masyarakat daripada individu, sekolah masyarakat merupakan sekolah yang berpusat pada masyarakat, atau social-centered school, yang menggunakan sekolah untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Sekolah hendaknya berhubungan dengan masalah- masalah nyata dan praktis yang ditemukan dalam masyarakat kita, masalah sehari-hari yang dihadapi oleh setiap orang.78
Dari pemaparan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwasannya tujuan pendidikan menurut aliran rekonstruksionalisme ini ialah:
1. Sekolah-sekolah rekonstruksionis berfungsi sebagai lembaga utama untuk melakukan perubahan sosial, ekonomi dan politik dalam masyarakat.
77 Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam, 206.
78 Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan, 159.
2. Tugas sekolah-sekolah rekonstruksionis adalah mengembangkan insinyur-insinyur sosial, warga-warga negara yang mempunyai tujuan mengubah secara radikal wajah masyarakat masa kini.
3. Tujuan pendidikan rekonstruksionis adalah membangkitkan kesadaran para peserta didik tentang masalah sosial, ekonomi dan politik, dan mengajarkan kepada mereka keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut.79
79 Ibid., 156.
BAB III
KONSEP TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBNU KHALDUN