Presentasi
HAKIKAT ILMU
PENDIDIKAN
Oleh : RANI WINARNI G2J124011
Ilmu pendidikan adalah kajian sistematis mengenai proses dan praktik mendidik. Ilmu ini mencakup pengembangan teori, metodologi, dan praktik yang terkait dengan pengajaran, pembelajaran, serta perkembangan peserta didik. Tujuan utama dari ilmu pendidikan adalah untuk memahami dan meningkatkan proses pendidikan dengan pendekatan yang ilmiah. Dalam ilmu pendidikan, fokus utamanya adalah pada pengembangan individu yang holistik—baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Konsep Pendidikan Sebagai
Pendidikan dipandang sebagai ilmu karena memiliki objek kajian
Ilmu
yang jelas, yaitu manusia dalam konteks pendidikan. Sebagai ilmu, pendidikan memenuhi kriteria ilmiah, yaitu sistematis,
terorganisir, dan dapat diuji kebenarannya. Pendidikan sebagai ilmu juga melibatkan pengkajian tentang bagaimana proses pengajaran
dapat berlangsung secara efektif dan efisien, serta bagaimana peserta didik dapat mencapai perkembangan optimal dalam
berbagai aspek kehidupan.
Ontolo gi
Ontologi berkaitan dengan hakikat objek kajian ilmu pendidikan, yaitu
manusia dan proses pendidikan itu sendiri. Dalam ilmu pendidikan, objek ontologisnya adalah manusia dalam konteks proses belajar dan mengajar.
Pendidikan dipandang sebagai aktivitas yang memanusiakan manusia, di mana peserta didik mengalami perkembangan baik dalam aspek intelektual, moral,
sosial, maupun emosional. Ontologi pendidikan juga mencakup pemahaman tentang bagaimana manusia belajar, berkembang, dan berinteraksi dalam
konteks sosial, budaya, dan moral. Jadi, keberadaan pendidikan dianggap sebagai suatu proses yang berkaitan erat dengan pembentukan karakter dan
pemahaman pengetahuan.
Epistemolo
Epistemologi dalam pendidikan membahas tentang Mempelajari
gi
sumber dan validitas pengetahuan dalam pendidikan. Pengetahuan dalam pendidikan dapat diperoleh melalui berbagai cara, termasuk:•Pengalaman empiris, di mana guru dan siswa belajar dari interaksi langsung dengan lingkungan.
•Penalaran logis, melalui refleksi dan pemikiran kritis yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik.
•Tradisi atau kebudayaan, di mana pengetahuan diteruskan dari generasi ke generasi melalui pendidikan formal maupun informal.
Metode ilmiah, observasi, eksperimen, refleksi, serta pendekatan interdisipliner (seperti dari psikologi, sosiologi, dan filsafat) juga digunakan dalam pengembangan pengetahuan di bidang pendidikan. Ilmu pendidikan juga terus berkembang melalui teori-teori baru
tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana pengajaran yang efektif harus dilakukan.
Aksiolo gi
membahas nilai-nilai atau tujuan dari pendidikan. Pendidikan tidak hanya berfungsi untuk mentransfer pengetahuan tetapi juga untuk
mengembangkan nilai-nilai moral, sosial, dan budaya. Nilai-nilai ini meliputi:
•Etika, di mana pendidikan bertujuan untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan, keadilan, tanggung jawab, dan integritas.
•Estetika, pendidikan juga bertujuan untuk mengembangkan apresiasi terhadap seni, budaya, dan keindahan.
•Nilai Sosial, pendidikan bertujuan untuk membentuk individu yang peduli terhadap masyarakat, bekerja sama, dan memahami pentingnya kontribusi dalam kehidupan sosial.
Oleh karena itu, aksiologi mengarahkan proses pendidikan untuk mencapai keseimbangan antara pengembangan intelektual, moral, dan sosial siswa.
Aliran-Aliran Konvensional Pendidikan
Perennialisme: Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan karakter peserta didik melalui pembelajaran ide-ide besar dan prinsip universal. Fokusnya pada pembelajaran yang abadi dan tidak terikat oleh konteks zaman.
Esensialisme: aliran yang berpendapat bahwa pendidikan harus berfokus pada pengajaran keterampilan dasar dan pengetahuan inti yang esensial untuk kehidupan. Menurut pandangan ini, tujuan pendidikan adalah untuk mempersiapkan individu agar memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dianggap penting oleh masyarakat.
Progresivisme: dipelopori oleh John Dewey dan menekankan bahwa pendidikan harus berfokus pada siswa dan pengalaman belajar
yang relevan dengan kehidupan mereka. Pendidikan seharusnya
mempersiapkan siswa untuk berpartisipasi dalam masyarakat secara demokratis dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
Rekonstruksionisme: aliran pendidikan yang berfokus pada perubahan sosial dan menekankan peran pendidikan dalam
memecahkan masalah sosial dan politik. Para pendukung aliran ini
percaya bahwa pendidikan harus mempersiapkan siswa untuk menjadi agen perubahan di masyarakat dan membantu menciptakan dunia yang
lebih baik.
Behaviorisme: berfokus pada pengamatan perilaku yang dapat diukur dan perubahan perilaku sebagai tujuan utama pendidikan. Para behavioris, seperti
B.F. Skinner, percaya bahwa pembelajaran adalah hasil dari penguatan (reinforcement) yang diberikan pada respons tertentu.
Konstruktivisme: menyatakan bahwa pengetahuan dibangun oleh siswa melalui interaksi dengan lingkungannya dan pengalamannya sendiri.
Pemikiran ini banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh seperti Jean Piaget dan Lev Vygotsky.
Humanisme: dalam pendidikan menekankan pengembangan penuh potensi individu dan kebutuhan emosional siswa. Tokoh seperti Carl
Rogers dan Abraham Maslow mendukung pandangan bahwa pendidikan harus memperhatikan perasaan, kepribadian, dan
kebutuhan psikologis siswa.
Liberalisme klasik: menekankan kebebasan individu dalam memperoleh
pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai hak individu yang harus diakses oleh setiap orang tanpa paksaan.
Setiap aliran konvensional pendidikan menawarkan pandangan yang berbeda mengenai peran pendidikan, guru, dan siswa. Aliran-aliran ini telah memengaruhi kebijakan dan praktik pendidikan di seluruh dunia.
Pendekatan pendidikan yang diterapkan di suatu tempat sering kali
merupakan hasil dari kombinasi beberapa aliran ini, disesuaikan dengan konteks sosial dan budaya setempat.
Asas-Asas Pendidikan
Asas Kemanusiaan: Pendidikan harus mengakui dan menghormati hak-hak asasi manusia serta memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi unik yang
harus dikembangkan.
Asas Demokrasi: Pendidikan harus berlangsung dalam
suasana demokratis, yang memberikan kebebasan dan partisipasi aktif bagi peserta didik dalam proses belajar mengajar.
• Asas Keseluruhan: Pendidikan harus mencakup perkembangan seluruh aspek manusia, baik fisik, intelektual, emosional, maupun
spiritual.
• Asas Keseimbangan: Pendidikan harus memperhatikan keseimbangan antara teori dan praktik, antara pengetahuan dan keterampilan, serta antara kebutuhan individu dan kebutuhan sosial.
• Asas Keberlanjutan: Pendidikan harus berorientasi pada perkembangan berkelanjutan, di mana setiap tahapan pendidikan
mempersiapkan peserta didik untuk tahap berikutnya, hingga mencapai kematangan intelektual dan moral.
Axiology: Teacher Ethics in Educating the Golden Generation (Aksiologi: Etika Guru dalam Mendidik Generasi Emas) oleh Alfi
sukrina 2024
• Terjadi banyak permasalahan mengenai etika saat ini dikarenakan merosotnya kualitas suatu bangsa. Faktanya ada banyak pemerosotan akhlak kita lihat hari ini. Tak hanya itu, mirisnya guru pun juga sudah mulai memasuki kemerosotan akhlak.
hal ini kita bisa melihat pada beberapa konten guru yang tidak mencerminkan etika seorang guru. karena guru adalah uswatun hasanah, maka sudah sewajarnya
memiliki akhlak yang baik karena ia akan digugu dan ditiru siswanya. Oleh karena itu hubungan inilah maka aksiologi memberikan kerangka untuk memahami dan
menentukan nilai-nilai moral yang mendasari etika.
Semuel Unwakoly (2022) mengatakan aksiologi adalah sebuah cabang dari ilmu fisafat yang mencoba untuk menganalisis hakikat nilai. Nilai tersebut diantaranya adalah nilai-nilai kebenaran, kebaikan, keindahan, dan religius. Menurut Sumantri
dalam margono, aksiologi terbagi menjadi (1) Moral conduct, dari bidang ini menciptakan disiplin ilmu khususnya “ilmu etika” atau nilai etika. (2) Esthetic Expression, bidang ini melahirkan konsep teori keindahan atau nilai estetika. (3)
Sosio Political Live, bidang ini melahirkan konsep Sosio Politik.
solusi yang bisa dilakukan adalah dengan penataan kembali guru sesuai dengan pemendiknas no 39. Tahun 2009 pasal 5 yaitu dengan sertifikasi guru. maka
dengan begitu maka seorang pengajur tentu akan mengikuti dan mematuhi
sitertifikasi guru. tujuanya adalah agar guru mengajar dengan sebaik mungkindan dengan propesionalisme. Apabila guru tidak melakukan tugasnya dengan baik, maka sesuai dengan pasal 17 PP 74 Tahun 2008 dengan sanksi tunjangan tidak
bisa dibayarkan. Sehingga dengan begini krisis moral dapat diminimalisir oleh guru. (Tanyid, 2014, p. 247)