• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Perwakilan Dalam sistem Parlemen di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Konsep Perwakilan Dalam sistem Parlemen di Indonesia"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP PERWAKILAN

DALAM SISTEM PARLEMEN DI INDONESIA

Mhd Yusrizal Adi S, SH.MH

Fakultas Hukum Universitas Medan Area Medan, 2021

(2)

Sistem Parlemen

Sistem Unikameral

Sistem Bikameral

Sistem Trikameral

(3)

• Di dalam struktur parlemen tipe Uni Kameral (Satu kamar) tidak dikenal adanya dua badan yang terpisah seperti adanya DPR dan Senat ataupun Majelis Tinggi dan Majelis Rendah. Akan tetapi justru sistem Unikameral inilah yang sesungguhnya lebih populer karena sebagian besar negara dunia menganut sistem unikameral.

• Negara-negara yang berukuran kecil lebih menyukai untuk memilih satu kamar daripada dua kamar, untuk menciptakan keseimbangan kekuatan politik

• Fungsi Dewan atau Majelis Legislatif dalam sistem Unikameral terpusat pada satu badan legislatif tertinggi dalam struktur negara.

• Negara yang menganut sistem Unikameral yakni Vietnam,Singapura, Laos, Lebanon, Syiria, Kuwait

(4)

 Istilah sistem Bikameral disebut juga “second chamber”

Second chamber atau Upper House di berbagai negara dikenal dengan variasi nama yang bermacam-macam, Misalnya di Inggris dikenal dengan nama “house of lords”. di Switzerland dikenal dengan “council of state (standerat). Di Jerman dikenal dengan “Bunderest”. Di Malaysia dikenal

Dewan Negara”. Di Amerika Serikat, Kanada, Prancis

dikenal dengan “senate”

(5)

John Stuart Mill

But the houses need both be of the same composition, they may be intended as check on one another. One being supposed democratic, the other will naturally be constituted with aview to its being some restraint upon democracy.

“if one house represents populer feeling, the other should represent personal merit, tested and quaranted by actual public service, and fortified by practical experience. If one is the people’s chamber, the other should be the chamber of statesmen.”

(6)

Lord Bryce

Revisions of legislation

Initiation of non controversial bills

Delaying legislation of fundamental constitutional importance so as to enable the

opinion of the nation to be adequately expressed upon it

Public debate

Fungsi Second Chamber (kamar kedua)

(7)

Alasan penyusun

konstitusi

memilih sistem bikameral

Untuk membangun sebuah mekanisme pengawasan dan keseimbangan (checks

and balances) serta untuk pembahasan sekali lagi dalam bidang legislatif

Untuk membentuk perwakilan untuk menampung kepentingan tertentu yang

biasanya tidak cukup terwakili oleh Majelis pertama.

(8)

Secara khusus sistem bikameral telah digunakan untuk menjamin perwakilan yang memadai untuk daerah-daerah di dalam lembaga legislatif. Hasil dari kesenjangan representasi di Majelis kedua amat bervariasi didalam berbagai sistem di dunia.

Cara kerja lembaga legislatif jelas berkaitan dengan hubungan antara lembaga legislatif dan lembaga eksekutif. Sebagian besar sistem presidentil, adalah menganut bikameral. Hal ini memperlihatkan bahwa tidak ada suatu pandangan umum yang menunjukkan bahwa mendapatkan persetujuan dari dua majelis legislatif dan seorang presiden eksekutif adalah suatu prosedur berat atau mustahil.

Status majelis kedua sampai taraf tertentu bergantung pada caranya dipilih. Bila Majelis kedua dipilih oleh Pemilih, anggota-anggotanya dapat memiliki legitimasi langsung dari rakyat dengan lebih besar.

Bila majelis kedua dipilih tidak langsung maka anggotanya hanya mengandalkan jalur legitimasi sebatas dan jalur perwakilan yang menentukan keanggota mereka.

(9)

Menurut Arend Lijphart bahwa dalam membagi antara parlemen

bikameral kuat dan lemah ada 3 ciri yaitu

Kekuasan yang diberikan secara formal oleh konstitusi terhadap kamar kedua tersebut

Kepentingan Politik yang sesungguhnya dari kamar kedua tidak hanya bergantung dari kekuasan formalnya (dalam konstitusi) tetapi juga sistem seleksi keanggotan majelis kedua

tersebut

Perbedaan krusial antara dua kamar dalam legislatif bikameral adalah bahwa kamar

kedua mungkin dipilih dengan cara atau desain yang berbeda

(10)

• Menurut Andrew S. Ellis bahwa sistem Bikameral dapat digolongkan menjadi (strong )“Kuat” atau (soft )“lunak”. Di dalam sistem yang kuat, maka pembuatan undang- undang biasanya dimulai dari majelis manapun, dan harus dipertimbangkan oleh kedua majelis dalam forum yang sama sebelum bisa disahkan.

• Di dalam sistem “lunak (soft)”, Majelis yang satu memiliki

status lebih tinggi dari yang lain. Misalnya Majelis

pertama mungkin dapat mengesampingkan penolakan

atau amandemen RUU yang diajukan oleh Majelis Kedua.

(11)

Di Indonesia pernah berlaku sistem parlemen bikameral

yaitu pada masa demokrasi RIS 1949, dimana pada saat

itu bentuk negara Indonesia adalah Federal dan dengan

sistem pemeritnahan yang parlementer. Akan tetapi

bentuk parlemen bikameral saat itu tidak berlangsung

lama. Dengan berlakunya UUD Sementara 1950,

Parlemen Indonesia kembali menjadi bersistem

Unikameral. Senat sebagai kamar kedua atau Majelis

Tinggi dalam Konstitusi RIS 1949 merupakan perwakilan

Teritorial, mewakili negara bagian yang menyuarakan

kepentingan daerah.

(12)

• Saat ini setelah perubahan (amandemen) UUD 1945, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menjadi Parlemen Indonesia, dan dengan bentuk Bikameral yang terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) atau didalam teori bikameral dan dilihat dari tujuannnya, merupakan kamar kedua atau majelis tinggi dari parlemen, dan merupakan kamar kedua atau majelis tinggi untuk perwakilan teritorial dengan tugas menyuarakan aspirasi kepentingan masyarakat daerah.

• Pasal-pasal mengenai DPD terdapat dalam perubahan ke-3 dan Ke-4 UUD 1945 hanya memberikan kekuasaa kepada DPD sebatas yang berkenan dengan otonomi daerah, hubungan pusat daerah, dan pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah.

(13)

DPD dapat mengajukan RUU, ikut membahas RUU yang berkaitan dengan hal tersesbut dan melakukan pengawasan atas pelaksanaan UU tersebut (Pasal 22D Ayat (1)) dan ayat (2) Perubahan ke-3 UUD 1945.

DPD juga berwenang untuk membasa RUU dan

melakukan pengawasan atas pelaksanaan UU Mengenai

APBN, Pajak, Pendidikan dan Agama.

(14)

Keunggulan Sistem Bikameral (Prof.Dr. Dahlan Thain, SH.Msi.)

Kelebihan (keuntungan) dalam sistem legislatif bikameral adalah kemampuan anggota untuk:

1. Secara resm mewakili beragam pemilih (misalnya negara bagian, wilayah, etnik, atau golongan)

2. Memfasilitasi pendekatan yang bersifat musyarawarah terhadap penyusunan perundang-undangan;

3. Mencegah disahkan perundang-undangan yang cacat atau ceroboh

4. Melakukan Pengawasan atau pengendalian yang lebih baik atas lembaga eksekutif

(15)

Kelebihan (Keuntungan) Dalam Sistem Legislatif Unikameral (Prof.Dr. Dahlan Thaib SH,Msi)

1. Kemungkinan untuk dapat meloloskan UU (karena hanya satu badan yang diperlukan untuk mengadopsi RUU sehingga tidak perlu lagi menyesuaikan dengan usulan yang berbeda-beda;

2. Tanggung Jawab lebih besar (karena anggota legislatif tidak dapat menyalahkan Majelis lainnnya apabila suatu UU tidak lolos, atau bila kepentingan warga negara terabaikan.

3. Lebih sedikit anggota terpilih sehingga lebih mudah bagi masyarakat untuk memantau kepentingan mereka;

4. Biaya lebih rendah bagi Pemerintah dan Pembayar Pajak

(16)

Menurut Samuel C. Patterson & Anthony Mughan bahwa terhadap adanya dua kamar dalam parlemen karena adanya kebutuhan perwakilan. Berdasarkan teori, satu kamar berisi anggota-anggota yang secara luas, mewakili penduduk secara langsung. Sementara itu, kamar yang lainnnya berdasarkan perwakilan yang berbeda, bisa untuk kepentingan kelas sosial, kepentingan ekonomi, atau perbedaan teritorial.

Biasanya, yang paling umum terhadap Senates

(kamar kedua), secara konstitusional diberikan

untuk perwakilan teritorial

(17)

Pada prinsipnya, Lembaga Perwakilan harus mencerminkan tiga jenis perwakilan yaitu:

1.Keterwakilan Penduduk;

2.Keterwakilan Ruang (Daerah);

3.Keterwakilan Deskriptif (khususnya berbagai

bentuk kelompok masyarakat yang dalam

proses pemilihan umum tidak akan terwakili.

(18)

Keterkaita n Negara

Federal dengan Bikamerali

sme

• Di dalam sistem Federal Bikameral, bahwa susunan legislatif secara jelas mempunyai susunan, struktur dua tingkat. Struktur yang pertama adalah kesatuan sebagai negara yang lengkap,

• Struktur kedua, beberapa negara federasi dengan karakteristik khusus.

• Dalam parlemen nasionalnnya

tingkatan ini tidak dapat dielekkan /

dihindarkan diwujudkan dalam dua

kamar yang terpisah, yaitu kamar

pertama yang berasal dari rakyat

secara keseluruhan, dan kamar kedua

yang dibuat dari anggota perwakilan

dari tiap negara bagian

(19)

• Di dalam Negara Kesatuan, Sifat Kamar kedua dalam beberapa kasus merefleksikan sadar atau tidak sadar keinginan mereka yang dibingkai dalam konstitusi untuk melembutkan agresivitas demokrasi dari kamar pertama dengan suatu badan perwakilan dari suatu karakter “konservatif”.

• Di beberapa Negara dengan Parlemen Unikameral, saran/pendapat harus diminta dari Majelis Lain. Misalnya, Mesir, dan Luksemburg dari Island Councils (Dewan Pulau-Pulau), the popularly elected shoura atau council of state.

• Di Zambia, bahwa the House of Chiefs boleh mengajukan resolusi kepada parlemen tentang RUU dan yang lainnya. Sifat dasar konservatisme ini dapat lebih jauh dipertimbangkan dalam dua kamar, dan yang kedua dengan perbandingan komposisi dari dua kamar

• Di dalam Negara Kesatuan, Sifat Kamar kedua dalam beberapa kasus merefleksikan sadar atau tidak sadar keinginan mereka yang dibingkai dalam konstitusi untuk melembutkan agresivitas demokrasi dari kamar pertama dengan suatu badan perwakilan dari suatu karakter “konservatif”.

• Di beberapa Negara dengan Parlemen Unikameral, saran/pendapat harus diminta dari Majelis Lain. Misalnya, Mesir, dan Luksemburg dari Island Councils (Dewan Pulau-Pulau), the popularly elected shoura atau council of state.

• Di Zambia, bahwa the House of Chiefs boleh mengajukan resolusi kepada parlemen tentang RUU dan yang lainnya. Sifat dasar konservatisme ini dapat lebih jauh dipertimbangkan dalam dua kamar, dan yang kedua dengan perbandingan komposisi dari dua kamar

(20)

Sekian

&

Terima Kasih

Referensi

Dokumen terkait

perubahan itu didasari substansi DPD sebagai representasi penduduk dalam satu wilayah atau ruang yang akan mewakili kepentingan-kepentingan daerah dalam sistem parlemen ( bicameral

dikatagorikan sebagai strong becameralism, karenamemiliki symmetrical chamber dengan kekuasaan yang diberikan konstitusi sama dengan kamar pertama, memiliki

Namun demikian sistem ini memiliki sisi buruknya yaitu dengan diberikannya ambang batas tertentu bagi calon anggota parlemen yang akan duduk, maka bagi partai yang secara

dikatakan negara demokrasi konstitusional ( modern ) terletak ditangan lembaga legislatif sebagai kekuasaan yang terdiri dari salah satu atau dua majelis dalam.. parlemen suatu

Secara umum pandangan tersebut terbagi atas dua: Pertama , pandangan yang menganggap MPR hanya sebagai Join Session antara DPR dan DPD sehingga parlemen cenderung pada sistem

Kewenangan yang diberikan oleh UUD 1945 dalam Pasal 22D ayat (3) materinya tidak menyeluruh untuk kepentingan daerah, yakni hanya dapat melakukan pengawasan atas

Dengan adanya ketentuan Pasal 22D ayat (2) UUD 1945 yang memberikan kewenangan konstitusional kepada Pemohon untuk ikut membahas RUU, maka berdasarkan penafsiran sistematis,

sistem perwakilan politik dalam parlemen atau MPR RI antara lain; a) adanya ketidakjelasan representatif politik, karena banyaknya anggota yang diangkat ketimbang