PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka rumusan masalah ini adalah bagaimana memberikan asuhan keperawatan pada klien patah tulang sebelum dan sesudah operasi di RSUD dr.
Manfaat Penelitian
- Bagi peneliti
- Bagi tempat penelitian
- Bagi perkembangan ilmu keperawatan
Besar harapan kami, hasil sumbangsih ilmiah ini dapat menjadi masukan atau saran dan bahan dalam perencanaan asuhan keperawatan pada residen patah tulang pra dan pasca operasi di RSUD dr. Hasil penulisan ilmiah ini diharapkan dapat memberikan gambaran penerapan langsung teori keperawatan pada klien patah tulang sebelum dan sesudah operasi.
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Anatomi Fisiologi Tulang
Tulang panjang terdiri dari batang yang panjang dan tebal yang disebut diafisis dan dua ujung yang disebut epifisis. Bentuknya tidak beraturan dan intinya kenyal dengan lapisan luar tulang padat. Tulang pipih terdiri dari dua lapisan jaringan tulang keras dengan lapisan tulang spons di tengahnya.
Tulang ini terdapat di tempat-tempat yang membutuhkan perlindungan, seperti tengkorak, panggul, tulang rusuk, dan tulang belikat. Ini adalah tulang kecil yang terletak di sekitar tulang yang berdekatan dan didukung oleh tendon dan jaringan wajah seperti patela. Dengan cara ini terbentuklah tulang pipih, terdiri dari dua lapisan jaringan tulang padat dan keras, ditutupi oleh periosteum, yang dipisahkan satu sama lain oleh lapisan tulang interstisial tipis.. Jaringan tulang spons (bentuk retikulat).
Ketika embrio berkembang, semua tulang tubular awalnya berupa batang tulang rawan yang ditutupi oleh penichondrium (selaput yang menutupi tulang rawan). Pusat osifikasi pertama yang disebut diafisis muncul di tengah jaringan yang nantinya akan menjadi tulang yang sedang berkembang.
Etiologi
Patofisiologi
Manisfestasi klinis
Penatalaksanaan
Pemeriksaan penunjang
Komplikasi
Hal ini disebabkan oleh edema atau pendarahan yang menekan otot, saraf, pembuluh darah, atau tekanan eksternal seperti gips, belat, dan kawat gigi. Sindrom emboli lemak merupakan sindrom yang menyebabkan komplikasi serius pada patah tulang panjang, terjadi karena sel lemak yang diproduksi sumsum tulang kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan kadar oksigen darah menurun. Biasanya terjadi pada kasus patah tulang terbuka, namun bisa juga terjadi pada penggunaan bahan lain dalam pembedahan, seperti pin dan pelat yang dimasukkan ke dalam tulang.
Jadi jika terjadi patah tulang, risiko terjadinya infeksi lebih besar, baik karena penggunaan alat bantu maupun prosedur invasif. Komplikasi ini terjadi karena patah tulang yang tidak sembuh dalam waktu 6 sampai 8 bulan dan tidak mendapat konsolidasi sehingga terjadi infeksi, namun bisa juga terjadi bersamaan dengan infeksi yang disebut pseudoarthrosis terinfeksi.
Pathway
Konsep asuhan keperawatan pada klien pre dan post operatif fracture
- Pengkajian
- Diagnosa keperawatan
- Intervensi
- Implementasi keperawatan
- Evaluasi keperawatan
Berikut uraian diagnosa yang terjadi pada klien patah tulang sebelum dan sesudah operasi menurut (Nurarif Huda, 2015). Trauma multipel c) Pneumotoraks d) Infark miokard e) Kardiomiopati.. i) Koagulasi intravaskular diseminata j) Sindrom respon inflamasi sistemik Fraktur Pasca Operasi. Setelah melakukan asuhan keperawatan selama diharapkan integritas kulit tidak mengalami kerusakan lebih lanjut, dengan kriteria hasil.
Setelah memberikan asuhan keperawatan selama ini diharapkan gangguan mobilitas fisik dapat teratasi, dengan hasil yang diharapkan. Setelah dilaksanakan tindakan asuhan keperawatan diharapkan gangguan mobilitas fisik dapat teratasi, dengan kriteria outcome. Implementasi keperawatan adalah pengelolaan dan pelaksanaan rencana keperawatan yang ditetapkan pada tahap perencanaan.
Tindakan edukatif merupakan tindakan yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan klien dalam merawat dirinya dengan membantu klien memperoleh perilaku baru yang dapat mengatasi masalah. Evaluasi formatif ini dilakukan segera setelah perawat melaksanakan rencana keperawatan untuk menilai efektivitas tindakan keperawatan yang dimulai.
METODE PENELITIAN
Subyek Penelitian
Batasan Istilah (Definisi Operasional)
Prosedur Penelitian
Teknik dan Instrument Pengumpulan Data
Keabsahan Data
Observasi dan pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan teknik inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi pada tubuh klien. Misalnya melalui observasi dan wawancara, peneliti dapat menggunakan observasi yang dilihat pada dokumen atau catatan klien serta kajian pendukungnya, yang dapat berupa foto atau gambar. Triangulasi teknis artinya peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda untuk memperoleh data dari sumber data yang sama.
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara pada pagi hari pada saat narasumber masih segar agar diperoleh data yang lebih berharga.
Analisis Data
Implementasi asuhan keperawatan pada klien patah tulang pasca operasi di RSUD Dr dijelaskan dibawah ini. Diagnosis yang sama dengan teori yang ditemukan pada klien 1 dan 2 adalah nyeri akut yang berhubungan dengan cedera fisik (prosedur bedah). Diagnosis keempat pada Klien 2 adalah defisit perawatan diri terkait kelemahan dan kesenjangan teori.
Diagnosis klien 1 dan klien 2 yang menunjukkan kesenjangan dengan teori adalah risiko jatuh. Intervensi nyeri akut yang disiapkan peneliti untuk klien 1 sesuai (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018), antara lain: 1. Intervensi nyeri akut yang disiapkan peneliti untuk klien 2 sesuai (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018), antara lain: Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018) antara lain 1.
Dan penggunaan serta penulisan ukuran outcome pada klien 2 sudah sesuai dengan SLKI (Standar Outcome Keperawatan Indonesia). Tindakan intervensi diagnosis gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal pada klien 1 menurut (Pokja Tim SIKI DPP PPNI, 2018) antara lain: 1. Tindakan intervensi diagnosis gangguan mobilitas fisik terkait gangguan muskuloskeletal pada klien 2 sudah sesuai menurut (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018), antara lain 1.
Pada saat penerapan dan penulisan kriteria, hasil pada klien 2 sudah sesuai dengan SLKI (Standar Hasil Keperawatan Indonesia). Dan rumusan intervensi keperawatan pada klien 1 dan klien 2 dengan gangguan mobilitas fisik sudah sesuai dengan teori yang ada. Pada saat penerapan dan penulisan kriteria, hasil pada klien 2 sudah sesuai dengan SLKI (Standar Hasil Keperawatan Indonesia).
Dan rumusan intervensi keperawatan pada klien 2 dengan gangguan mobilitas fisik sudah sesuai dengan teori yang ada. Intervensi tindakan untuk mendiagnosis defisiensi perawatan diri terkait frailty pada klien 2 menurut (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018) antara lain, 1. Dalam penerapan dan penulisan kriteria, hasil pada klien 2 sesuai dengan SLKI ( Standar Indonesia untuk Hasil Keperawatan). 6) Resiko terjatuh.
Intervensi tindakan pada klien 1 dengan diagnosis risiko jatuh sesuai menurut (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018), antara lain 1. Intervensi tindakan pada klien 2 dengan diagnosis risiko jatuh sesuai sesuai (Tim Pokja SIKI DPP) . PPNI, 2018) antara lain 1.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembahasan
Pada pembahasan kali ini peneliti membahas tentang asuhan keperawatan pada 2 klien patah tulang sesuai dengan konsep teori yang ada. Diagnosa keperawatan kedua yang dilakukan pada klien 1 yang mempunyai ketidaksesuaian dengan teori adalah penurunan integritas kulit berhubungan dengan prosedur invasif. Dimana data subjektif dan data objektif pendukung diagnosis perfusi perifer tidak efektif pada klien 2 tidak ditemukan pada data pengkajian.
Dimana data subjektif dan data objektif yang mendukung diagnosis defisit perawatan diri pada klien 2 tidak ada pada data pengkajian. Menurut peneliti manfaat pelaksanaan intervensi nyeri akut yang disiapkan pada klien 1 dan klien 2 sesuai dengan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yaitu observasi, terapi, edukasi dan kolaborasi. Menurut peneliti manfaat pelaksanaan intervensi disabilitas mobilitas fisik yang disiapkan pada klien 1 dan klien 2 sesuai dengan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yaitu observasi, terapi, edukasi dan kolaborasi.
Kekurangannya adalah penerapan dan penulisan kriteria hasil pada klien 1 tidak sesuai dengan teori yang terdapat dalam SLKI. Karya Tujlis Ilmiah tentang Asuhan Keperawatan Klien Pasca Fraktur Femur di Bangsal Cempaka RSUD Abdul Wahab Sjahranie.