KUALITAS AIR DI SEKITAR TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH GALUGA, KEC. CIBUNGBULANG, BOGOR
ELIANAH
DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
2016
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Kualitas Air di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah Galuga, Kec. Cibungbulang, Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, 17 Mei 2016 Elianah NIM A14100106
ABSTRAK
ELIANAH. Kualitas Air di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah Galuga, Kec. Cibungbulang, Bogor. Dibimbing oleh YAYAT HIDAYAT dan WAHYU PURWAKUSUMA.
Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Galuga diduga berpotensi mencemari tanah dan air di lingkungan sekitarnya. Pencemaran lingkungan di sekitar TPA terutama berasal dari air lindi yang dihasilkan selama proses dekomposisi bahan organik di TPA. Air lindi tersebut mengandung bahan-bahan yang beracun. Oleh sebab itu, perlu dilakukan kajian tentang kualitas air di sekitar TPA. Contoh air diambil di saluran air lindi, jaringan irigasi, dan di sumur. Baku mutu air menurut Direktorat Penyelidikan Masalah Air, Dinas Pekerjaan Umum, RI; PP No. 82 Tahun 2001; dan PERMENKES No. 492 Tahun 2010 digunakan untuk menilai kualitas air di lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan air lindi memiliki pH tergolong basa dengan nilai tertinggi 8.52, kadar nitrat tertinggi 104.469 mg/L, kadar total padatan tersuspensi (TSS, total suspended solid) tertinggi 234.00 mg/L, kadar logam Pb tertinggi 0.108 mg/L, dan temperatur air berkisar 29- 330C. Air irigasi memiliki pH yang lebih rendah dibandingkan air lindi dengan nilai tertinggi 7.76, kadar nitrat tertinggi 72.432 mg/L, kadar TSS tertinggi 43.21 mg/L, kadar logam Pb tertinggi 0.067 mg/L, dan temperatur air berkisar 28-330C. Air sumur memiliki pH yang tergolong netral yakni 6.83, kadar nitrat tertinggi 41.186 mg/L, kadar TSS tertinggi 126.35 mg/L, kadar logam Pb tertinggi 0.081 mg/L, dan temperatur air berkisar antara 26-310C. Air lindi TPA Galuga dapat dikatakan belum aman dibuang ke lingkungan badan air alami. Air sumur perlu pengolahan terlebih dahulu agar layak dimanfaatkan sebagai air minum.
Kata kunci: Air irigasi, air lindi, air sumur, kualitas air, tempat pembuangan akhir
ABSTRACT
ELIANAH. Water quality around Galuga landfill at Cibungbulang, Bogor.
Supervised by YAYAT HIDAYAT dan WAHYU PURWAKUSUMA.
Galuga landfill is suspected to potentially contaminate soil and water at nearby environment around the landfill. The main source of contaminant is leachate that is produced during organic matter decomposition in the landfill. The leachate may contain hazard compounds so that a set of research was conducted to evaluate water quality at nearby environment around the landfill. Water samples were taken from leachate drains, irrigation network, and some local wells. Water quality was evaluated using water quality standard of the Directorate of Water Issues Investigation of Public Work, Regulation of Health Ministry Number 492 year 2010 and Water Issues Investigation Directorate, Department of Public Works, Republic of Indonesia; PP Number 82 of 2001; and PERMENKES Number 492 of 2010. The results shows that Galuga landfill’s leachate has alkaline pH with the highest value of 8.52, nitrate concentration may reach 104.469 mg/L, TSS concentration up to 234.00 mg/L, Pb content may reach 0.108 mg/L, and the water temperature ranges from 29-330C. Irrigation water (at nearby location) pH is lower than of the leachate with the highest pH value 7.76, nitrate concentration up to 72.432 mg/L, TSS concentration up to 43.21 mg/L, Pb content may reach 0.067 mg/L, and the water temperature ranges from 28-330C. Local well water has neutral pH value of around 6.83, nitrate concentration up to 41.186 mg/L, TSS concentration up to 126.35 mg/L, Pb metal content up to 0.081 mg/L, and water temperature ranges from 26-310 C.
In general, the leachate from Galuga landfill is not safe to be directly released to the surrounding area and the water of local wells need sufficient treatment before being used as drinking water.
Keywords: Irrigation water, landfill, leachate, water quality, well water
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada
Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan
KUALITAS AIR DI SEKITAR TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH GALUGA, KEC. CIBUNGBULANG, BOGOR
ELIANAH
DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
2016
Judul Skripsi : Kualitas Air di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah Galuga, Kec. Cibungbulang, Bogor
Nama : Elianah NIM : A14100106
Disetujui oleh
Dr Ir Yayat Hidayat, MSi Pembimbing I
Ir Wahyu Purwakusuma, MSc Pembimbing II
Diketahui oleh
Dr Ir Baba Barus, MSc Ketua Departemen
Tanggal Lulus:
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan April 2015 ini ialah kualitas air, dengan judul Kualitas Air di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah Galuga, Kec.Cibungbulang, Bogor.
Terima kasih penulis ucapkan kepada :
1. Bapak Dr Ir Yayat Hidayat, MSi dan Bapak Ir Wahyu Purwakusuma, MSc selaku pembimbing yang telah sabar dan memotivasi penulis hingga dapat menyelesaikan tugas akhir ini,
2. Ibu Dr Enni Dwi Wahjunie, Msi selaku penguji yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun,
3. Dinas Pendidikan Kabupaten Siak, Riau yang telah mendanai seluruh biaya studi penulis selama di IPB,
4. Ayah (Absori) dan ibu (Cicih) tercinta yang senantiasa mencurahkan kasih sayang dan doa yang tak pernah henti untuk penulis, teteh Nurhikmah, SPd dan adik-adikku Abdurrofi Assyidiq dan Sulis Alfiani yang senantiasa memberikan semangat kepada penulis,
5. Teman-teman seperjuangan Lela Antikawati SP, Salimah Fiddaroini SP, Putri Eka Ningtyas SP, Indra Aditya H. SP, Nuris Hidayatullah, teman-teman Ilmu Tanah Angkatan 2010, kak Sanya Anda Lusiana Msi dan Lina Febriyanti serta Dennovan Umoro SPt atas dukungan dan semangatnya untuk penulis,
6. Serta semua pihak yang telah berpartisipasi membantu dalam penyelesaian karya ilmiah ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Mei 2016 Elianah
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 2
METODE PENELITIAN 2
Waktu dan Lokasi Penelitian 2
Bahan dan Alat 2
Metode 2
HASIL DAN PEMBAHASAN 6
Gambaran Umum Lokasi Penelitian 6
Kualitas Air 8
SIMPULAN DAN SARAN 15
Simpulan 15
Saran 15
DAFTAR PUSTAKA 16
LAMPIRAN 18
RIWAYAT HIDUP 23
DAFTAR TABEL
1 Metode analisis kualitas air 4
2 Metode analisis tanah 4
3 Kriteria mutu air berdasarkan PP RI No. 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan 5 4 Baku mutu air limbah berdasarkan Direktorat Penyelidikan Masalah Air 5
5 Kriteria mutu air minum berdasarkan PERMENKES RI No. 492 tahun
2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum 5
6 Derajat keasaman (pH) air 8
7 Temperatur udara ketika penelitian dan temperatur air 10
8 Kadar total padatan tersuspensi dalam air 11
9 Kadar nitrat dalam air 12
10 Kadar nitrat dalam air, N-total dan C-organik dalam tanah 13
11 Kadar logam Pb dalam air 14
DAFTAR GAMBAR
1 Peta lokasi pengambilan contoh air 3
2 Kondisi lokasi pengambilan contoh air, (a) Lokasi AL 1 ; (b) Lokasi AL 2 ; (c) Lokasi AL 3; (d) Lokasi AL 4; (e) Lokasi AP 1; (f) Lokasi AP 2;
(g) Lokasi AS 1
3 3 Pembagian lahan berdasarkan fungsi, (a) Zona aktif ; (b) Zona tidak
aktif dilengkapi dengan ventilasi gas metan
6 4 Peningkatan jumlah sampah terangkut di Kota dan Kabupaten Bogor
(2008 – 2013)
7 5 Endapan dari air sumur yang tertahan pada kertas Millipore (0.45 µ) 11
6 Tanaman Azolla 15
DAFTAR LAMPIRAN
1 Komposisi timbunan sampah per tahun (2009 s.d. 2013) 18 2 Komposisi sampah terangkut per tahun (2009 s.d. 2013) 18 3 Jumlah timbunan sampah dan volume sampah terangkut serta cakupan
wilayah pelayanan 18
4 Persyaratan kualitas air minum berdasarkan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 492/Menkes/PerIV/2010 19
5 Baku mutu air limbah berdasarkan Direktorat Penyelidikan Masalah Air 20 6 Kriteria mutu air berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun
2001 tentang Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran 21
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Galuga berlokasi di Desa Galuga, Cibungbulang, Bogor. Dalam proses operasionalnya TPA sampah membutuhkan lahan yang cukup luas dan sangat berpotensi memberikan dampak negatif bagi lingkungan di sekitarnya. Dampak negatif yang ditimbulkan terutama terkait dengan kesehatan lingkungan.
Beberapa contoh dampak negatif yang diakibatkan oleh keberadaan TPA sampah diantaranya adalah air lindi yang dihasilkan dari tumpukan sampah, berpotensi menjadi tempat berkembangnya bibit penyakit, menyebabkan polusi udara, serta estetika pemandangan yang buruk di lokasi TPA dan sekitarnya.
Kerugian lain yang cukup serius adalah potensi terjadinya longsor timbunan sampah di TPA, seperti kasus di TPA Leuwigajah, Bandung tahun 2005 dan di TPA Bantar Gebang, Bekasi tahun 2006.
Air lindi merupakan salah satu dampak negatif yang dinilai cukup serius. Air lindi merupakan cairan dari sampah yang mengandung unsur-unsur terlarut dan tersuspensi (Ali 2011). Air lindi yang berada di permukaan tanah dapat menimbulkan polusi pada air tanah dan air permukaan, hal ini dikemukakan oleh Ehrig (1993) dalam Ali (2011) : Pertama, air permukaan yang terpolusi oleh air lindi dengan kandungan zat organik tinggi pada proses penguraian secara biologis akan menghabiskan kandungan oksigen dalam air dan akhirnya seluruh kehidupan dalam air yang tergantung oleh keberadaan oksigen terlarut akan mati; Kedua, keterbatasan oksigen terlarut di dalam air tanah yang tercemar air lindi akan menyebabkan zat organik yang terbawa air lindi semakin lama terurai, sehingga sumber air yang berasal dari air tanah tidak sesuai lagi untuk air bersih.
Indah et al. (2006) menyebutkan bahwa air lindi merupakan penyebab utama pencemaran air di sekitar lokasi TPA, baik air bawah tanah maupun air permukaan.
Pencemaran itu terjadi karena lindi dapat masuk dan mengalir melalui pori-pori tanah dalam jumlah dan konsentrasi yang berlebihan. Lindi dapat bersifat mencemari dan mengganggu keseimbangan proses daur ulang alami jika komponen-komponen yang terkandung di dalamnya, baik itu senyawa-senyawa organik maupun anorganik melebihi daya dukung atau kemampuan badan air untuk menguraikannya.
Keberadaan TPA sampah dapat dikatakan lebih banyak memberikan dampak negatif bagi lingkungan di sekitarnya dibandingkan keuntungan yang diperoleh oleh masyarakat dari hasil kegiatan memulung. Potensi pencemaran lingkungan tersebut tentunya perlu mendapat perhatian lebih, terutama terkait kesehatan lingkungan perairan dan keberadaan air bersih yang merupakan kebutuhan bagi banyak orang. Atas latar belakang permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan kajian terkait kualitas air di sekitar tempat pembuangan akhir sampah Galuga, agar dampak negatif yang ditimbulkan dapat diminimalkan.
2
Tujuan Penelitian
Penelitian bertujuan mengkaji kualitas air di sekitar TPA Galuga dan membandingkan hasil uji di laboratorium dengan baku mutu kualitas air limbah, air irigasi, dan air minum.
METODE PENELITIAN
Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai Juni 2015. Penelitian lapang dilaksanakan di wilayah sekitar TPA, Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Bogor. Penelitian laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian dan Laboratorium Lingkungan Akuakultur, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan, IPB.
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan adalah contoh air lindi, air sumur, dan air irigasi, contoh tanah terganggu, HNO3, Brucin, H2SO4 pekat, K2Cr2O7 1 N, FeSO4
1 N, HCl 0,0948 N, NaOH 1 N, dan bahan-bahan lain yang digunakan dalam analisis di laboratorium.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian lapang adalah termometer Hg, botol plastik polyetilen 1.5 liter dan 300 ml, cooler box, bor tanah. Alat yang digunakan di laboratorium antara lain pH-meter, AAS, spektrofotometri, vacum pump, kertas millipore 0.45 µm, dan alat-alat lain yang digunakan dalam analisis di laboratorium.
Metode
Penelitian dilakukan secara deskriptif untuk menilai kualitas air di sekitar TPA Galuga. Kualitas air ini dijadikan patokan untuk melihat sebaran cemaran yang berasal dari TPA. Untuk itu, dilakukan pengambilan contoh air secara berturutan yang tersebar mulai dari lokasi di dekat site TPA hingga titik terjauh secara geografis. Diduga kadar cemaran akan lebih pekat di sekitar site TPA dan berkurang dengan semakin jauhnya jarak dari site TPA. Jarak sebaran cemaran akan ditentukan oleh tingkat pengelolaan sampah yang dilakukan dan peluang kebocoran akibat pengaruh alamiah.
Pelaksanaan penelitian terdiri atas empat tahap, yaitu (1) Tahap persiapan (2) pengambilan contoh, (3) analisis contoh di laboratorium, (4) analisis data.
Tahap persiapan
Tahap persiapan meliputi pengamatan lapang, pemilihan lokasi pengambilan contoh, dan perizinan lokasi. Dipilih tujuh lokasi pengambilan contoh air, yakni
3
empat lokasi di saluran aliran lindi berawal dari reservoir air lindi, dua lokasi di lahan pertanian, dan satu lokasi merupakan salah satu sumur warga. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada tujuan dari penelitian, yaitu mengkaji kualitas air di sekitar TPA Galuga, sehingga dipilih lokasi terdekat dengan TPA. Peta lokasi pengambilan contoh disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1 Peta lokasi pengambilan contoh air
Lokasi 1 (AL1) merupakan sebuah reservoir air yang banyak ditumbuhi eceng gondok, lokasi 2 (AL2) merupakan saluran air lindi yang berjarak lebih kurang 100 m dari kolam lindi , lokasi 3 (AL3) merupakan saluran air lindi yang paling dekat dengan TPA, lokasi 4 (AL4) merupakan saluran lindi dekat instalasi pengolahan air limbah (IPAL), lokasi 5 (AP1) dan lokasi 6 (AP2) merupakan air irigasi di lahan pertanian, lokasi 7 (AS1) merupakan sumur warga. Gambaran kondisi lokasi pengambilan contoh air disajikan pada Gambar 2.
(e) (f) (g)
Gambar 2 Kondisi lokasi pengambilan contoh air, (a) Lokasi AL 1; (b) Lokasi AL 2; (c) Lokasi AL 3; (d) Lokasi AL 4; (e) Lokasi AP 1; (f) Lokasi AP 2; (g) Lokasi AS 1
(a) (b) (c) (d)
4
Pengambilan contoh air dilakukan sebanyak tiga kali pada setiap lokasi.
Pengambilan contoh air pertama dilakukan pada kondisi curah hujan cukup tinggi.
Kedua, pengambilan contoh dilakukan pada curah hujan sedang. Ketiga, pengambilan contoh dilakukan pada kondisi curah hujan sangat sedikit sekali.Pengkelasan curah hujan tersebut didasarkan pada jumlah hari hujan sebelum waktu pengambilan contoh air. Sedangkan pengambilan contoh tanah dilakukan hanya 1 kali di setiap lokasi.
Pengambilan Contoh dan Analisis di Laboratorium
Contoh air diambil dengan menggunakan botol plastik bervolume 1500 L, kemudian dimasukkan ke dalam cooler box yang telah diisi es batu dan segera dibawa ke laboratorium. Parameter yang dianalisis dan metode yang digunakan disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Metode analisis kualitas air
No. Parameter Metode/Alat
1 Suhu Pembacaan skala/ termometer Hg
2 pH pH-meter
3 Total suspended solid (TSS) Gravimetri
4 Nitrat Spektrofotometri
5 Logam Pb Atomic absorption spectrophotometry (AAS) Pengambilan contoh tanah terganggu dilakukan di tujuh lokasi. Empat lokasi di tepi saluran lindi, dua lokasi di lahan pertanian, dan satu lokasi di lahan permukiman warga. Contoh tanah diambil dengan menggunakan bor pada tiga lapisan kedalaman, yakni 0-20 cm, 20-40 cm, dan 40-60 cm. Kemudian tanah dimasukkan ke dalam plastik dan diberi label.
Tanah dikeringudarakan di laboratorium. Kemudian, tanah digerus dengan menggunakan mortar dan diayak dengan menggunakan ayakan berukuran 2 mm dan 0,5. Sifat kimia tanah dan metode analisis yang digunakan disajikan pada pada Tabel 2.
Tabel 2 Metode analisis tanah
No. Sifat Kimia Tanah Metode
1. N-Total Kjeldahl
2. C-Organik Walkley dan Black
Analisis Data
Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil analisis kualitas air dicocokkan dengan standar baku mutu berdasarkan peraturan perundangan. Standar baku mutu kualitas air irigasi mengacu pada PP RI No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan (Tabel 3).
Pengkelasan air sesuai dengan peruntukkannya yang tercantum dalam PP RI Nomor 82 Tahun 2001 pasal 8 ayat 1 diuraikan sebagai berikut.
Kelas I : Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk air baku minum dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Kelas II : Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk
5
mengairi pertanaman, dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Kelas III : Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Kelas IV : Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Tabel 3 Kriteria mutu air berdasarkan PP RI No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
No. Parameter Satuan Kelas
I II III IV
1 Temperatur 0C Deviasi 3a Deviasi 3a Deviasi 3a Deviasi 5a
2 pH - 6-9 6-9 6-9 5-9
3 TSS mg/L 50 50 400 400
4 Nitrat (sbg N) mg/L 10 10 20 20
5 Logam Pb mg/L 0.03 0.03 0.03 1
aDeviasi berdasarkan temperatur udara ketika pengambilan contoh air
Hasil analisis kualitas air lindi dicocokkan dengan baku mutu air limbah menurut Direktorat Penyelidikan Masalah Air, Dinas Pekerjaan Umum, RI. Standar baku mutu air limbah disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Baku mutu air limbah berdasarkan Direktorat Penyelidikan Masalah Air Parameter
Mutu Air I
(Baik)
II (Sedang)
III (Kurang)
IV (Kurang sekali)
Temperatur (oC) 45 45 45 45
pH 6-9 5-9 4.5-9.5 4.0-10
TSS (mg/L) 100 200 400 500
Nitrat (sbg N)
(mg/L) 10 20 30 50
Logam Pb (mg/L) 0.1 0.5 1 5
Hasil analisis kualitas air sumur dicocokkan dengan kriteria mutu air minum yang tertuang dalam PERMENKES RI No. 492 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Kriteria mutu air minum berdasarkan PERMENKES RI No. 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum
No Parameter Satuan Kriteria
1 Temperatur 0C temperatur udara ±3
2 pH - 6.5-8.5
3 TSS mg/L -
4 Nitrat (sbg N) mg/L 10
5 Logam Pb mg/L 0.01
6
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Galuga berlokasi di Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. TPA ini beroperasi sejak tahun 1986 dengan luas awal daerah pengoperasian yakni sekitar 17 Ha (diperoleh melalui pembebasan lahan warga). Hingga saat ini luas total wilayah TPA Galuga adalah sekitar 27.8 Ha yang terdiri dari areal pembongkaran sampah, sarana jalan dan saluran drainase, saluran dan kolam pengolahan air limbah (IPAL), kantor dan pos pengawas, pos pelayanan kesehatan, lahan penampungan sampah, pabrik kompos, lahan timbunan longsoran, lahan kosong, dan penggunaan lainnya (UPTD TPA Galuga 2013).
TPA Galuga berada di wilayah yang memiliki curah hujan tahunan sekitar 2500-3000 mm/tahun dengan temperatur udara harian rata-rata berkisar antara 18- 34 0C. Di samping itu, TPA ini berada pada wilayah yang bertopografi cukup tinggi dan berdampingan dengan lahan pertanian serta permukiman. Pusat timbunan sampah TPA Galuga dan lahan pertanian dipisahkan oleh saluran air lindi yang berpangkal pada reservoir air yang banyak ditumbuhi eceng gondok.
Daerah pelayanan TPA Galuga mencakup Kota dan Kabupaten Bogor. Area pembongkaran dan penimbunan sampah di TPA ini dibagi menjadi dua, yakni area untuk sampah Kota Bogor seluas 14 Ha dan untuk sampah Kabupaten Bogor seluas 2.5 Ha. Pembagian lahan ini didasarkan pada jumlah sampah kota yang lebih banyak dibandingkan dengan sampah kabupaten.
Berdasarkan fungsinya lahan di TPA Galuga dibagi menjadi dua, yakni zona tidak aktif dan zona aktif. Zona aktif merupakan bagian lahan yang digunakan dalam proses penimbunan sampah baru (Gambar 3a). Di area inilah para pemulung beraktivitas menyortir sampah yang dianggap masih dapat didaur ulang dalam timbunan sampah tersebut. Dipandang dari kacamata ekonomi hal ini memberikan keuntungan bagi pemulung karena menjadi sumber penghasilan setiap harinya, akan tetapi dari sisi kesehatan dan keamanan, aktivitas ini cukup membahayakan karena gunungan sampah tersebut berpotensi longsor dan menjadi sumber penyakit.
(a) (b)
Gambar 3 Pembagian lahan berdasarkan fungsi, (a) Zona aktif; (b) Zona tidak aktif dilengkapi dengan ventilasi gas metan
7
Zona tidak aktif merupakan bagian lahan yang sedang dipulihkan. Pemulihan dilakukan bila umur timbunan sampah telah mencapai lebih kurang lima tahun.
Area zona tidak aktif ditanami vegetasi berkayu dan ditumbuhi rerumputan serta dilengkapi dengan paralon dengan ketinggian kurang dari dua meter (Gambar 3b).
Paralon berfungsi sebagai ventilasi gas metan ke atmosfer. Gas metan merupakan hasil dari proses fermentasi lanjut sampah-sampah organik di TPA. Penanganan yang tidak tepat terhadap gas metan tersebut dapat berpotensi memicu terjadinya ledakan atau kebakaran di TPA.
Metode pengelolaan sampah yang diterapkan di TPA Galuga adalah sistem terbuka (open dumping). Dengan cara ini sampah ditimbun dalam keadaan terbuka namun dikendalikan penempatannya agar merata dengan menggunakan alat berat.
Darmasetiawan (2004) mengungkapkan bahwa metode open dumping ini menimbulkan masalah pencemaran lingkungan, seperti : polusi udara karena debu, bau, dan gas yang dihasilkan, polusi air dan tanah akibat air lindi yang dihasilkan, dan estetika lingkungan yang buruk karena pemandangan yang kotor. Lindi tersebut mudah disebarkan melalui limpasan air hujan dan meresap ke dalam tanah hingga mencemari air tanah termasuk air sumur di sekitarnya. Di samping itu, berdasarkan penuturan ketua operasional lapang TPA Galuga diketahui bahwa pada awal pemanfaatannya lahan tersebut tidak diberi pelapis dasar yang bertujuan untuk mengurangi potensi aliran lindi ke dalam air tanah. Oleh sebab itu, pencemaran air di sekitar TPA sangat berpotensi terjadi.
Diana (1992) mengungkapkan bahwa komposisi air lindi sangat bervariasi karena proses pembentukannya dipengaruhi oleh karakteristik sampah (organik- anorganik), mudah tidaknya penguraian (larut-tidak larut), kondisi tumpukan sampah (suhu, pH, kelembapan, umur), karakteristik sumber air (kuantitas dan kualitas air yang dipengaruhi iklim, dan hidrogeologi), komposisi tanah penutup, ketersediaan nutrien, mikroba, dan kehadiran in hibitor.
Rekaman data yang dimiliki UPTD Galuga menunjukkan terjadi peningkatan volume sampah terangkut sebesar 1.45% (Gambar 4) dan didominasi oleh jenis sampah organik (Lampiran 1 dan Lampiran 2). Peningkatan tersebut diduga karena jumlah penduduk yang berdomisili di kota dan kabupaten Bogor semakin meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan jumlah penduduk tersebut pada akhirnya berimplikasi pada meningkatnya jumlah pemukiman, pertokoan/perhotelan/restoran/, serta fasilitas umum dan sosial.
1542
1602 1636 1685 1718 1748
1400 1500 1600 1700 1800
2008 2009 2010 2011 2012 2013 VOLUME SAMPAH (M3/HARI)
TAHUN
Gambar 4 Peningkatan jumlah sampah terangkut di Kota dan Kabupaten Bogor (2008 - 2013)
8
Peningkatan volume sampah terangkut berakibat pada peningkatan volume timbunan sampah yang ada di TPA. Peningkatan jumlah timbunan sampah yang tidak terkendali akan berdampak pada berkurangnya umur guna TPA sampah Galuga ini karena luas lahan tidak bertambah. Oleh sebab itu, sangat diperlukan adanya upaya penanganan sampah yang baik dan tepat dimulai dari masyarakat sendiri, seperti mengurangi produksi sampah (reduce), penggunaan kembali (reuse), dan mendaur ulang (recycle).
Kualitas Air
Kualitas air menyatakan tingkat kesesuaian air untuk dipergunakan bagi pemenuhan kebutuhan tertentu bagi kehidupan manusia, seperti untuk mengairi tanaman, minuman ternak, dan kebutuhan langsung untuk diminum, mandi, mencuci, dan sebagainya. Kualitas air ditentukan oleh kandungan sedimen tersuspensi dan bahan kimia yang terlarut di dalam air tersebut (Arsyad 2000).
Derajat Keasaman Air (pH)
Nilai pH menyatakan intensitas keasaman atau alkalinitas dari suatu cairan encer dan mewakili konsentrasi hidrogen ionnya. Nilai pH merupakan parameter penting dalam analisis kualitas air karena pengaruhnya terhadap proses-proses biologis dan kimia di dalamnya (Chapman 2000 dalam Kurniawan 2006). Suatu lingkungan perairan dapat dikatakan baik jika memenuhi syarat untuk menjamin kehidupan dan mempunyai pH netral yaitu berkisar 6.5-7.5 (Purwanti et al. 2005).
Dalam beberapa kasus pH air yang jauh dari netraldiketahui dapat memberikan dampak negatif bagi makhluk hidup, misalnya penurunan kekerasan gigi akibat konsumsi minuman yang memiliki pH lebih kecil dari 7 (Prasetyo 2004).
Air lindi TPA Galuga memiliki pH yang tergolong basa dengan rata-rata tertinggi 8.52 (Tabel 6). Hasil ini didukung oleh Arbain et al. (2008) yang melaporkan bahwa nilai pH air lindi TPA Suwung, Bali yakni 8.57. Salah satu faktor yang mempengaruhi pH air lindi adalah umur sampah. Pohland dan Harper (1985) dalam Priambodho (2005) menyebutkan bahwa pada proses pertambahan umur tumpukan sampah akan terjadi fase fermentasi metana sebagai hasil dekomposisi biologis anaerobik yang hampir sempurna dengan nilai pH berfluktuasi 7.5 - 9.
Tabel 6 Derajat keasaman (pH) air
Lokasi Nilai pH air ke-
Rata-rata
1 2 3
AL1 8.08 8.40 8.27 8.25
AL2 8.15 8.42 8.29 8.29
AL3 8.37 8.67 8.51 8.52
AL4 8.17 8.20 7.98 8.12
AP1 7.03 8.05 8.21 7.76
AP2 7.21 7.81 7.97 7.66
AS1 6.63 6.88 6.97 6.83
Nilai pH air irigasi perlu dikontrol untuk menjaga keseimbangan keasaman/kebasaaan air atau jika memungkinkan bernilai netral.
Ketidakseimbangan pH air irigasi dapat menyebabkan kerusakan sel-sel tanaman sehingga metabolisme sel terganggu dan menurunkan daya serap nutrisi yang
9
dibutuhkan oleh tanaman (Sinaga et al. 2013). Hasil penelitian menunjukkan air irigasi di sekitar TPA Galuga memiliki rata-rata pH yang lebih rendah dibandingkan pH air lindi yaitu 7.76 (AP 1) dan 7.66 (AP 2). Nilai tersebut dinilai masih aman untuk pemanfaatan pengairan berdasarkan PP No. 82 tahun 2001. Salah satu faktor yang mempengaruhi pH air di lahan pertanian adalah pemupukan. Pupuk yang digunakan untuk keperluan pertanian pada umumnya bereaksi asam.
Penggunaan pupuk diketahui akan berdampak pada penurunan pH tanah. Seperti yang disebutkan oleh Suwandi dan Hilman (1990) bahwa peningkatan dosis pupuk N yang berasal dari pupuk ZA pada tanaman cabai menurunkan pH tanah. Oleh sebab itu pengasaman tanah akibat pupuk diduga akan berdampak pula pada penurunan pH air di lahan pertanian.
Hasil analisis air sumur menunjukkan nilai pH 6.83 dan merupakan pH terendah dibandingkan air lindi dan air irigasi. Hal ini didukung oleh Komala et al.
(2008) yang melaporkan air sumur memiliki pH 6.35. Salah satu sumber pengisian air sumur adalah air tanah. Oleh sebab itu, perbedaan jenis tanah diduga menjadi penyebab keragaman pH air sumur. Di samping itu, kondisi lingkungan di sekitar sumur juga diduga ikut berperan mempengaruhi pH air sumur. Misal, jarak dari septictanks. Jarak sumur dan septictanks perlu diperhitungkan agar rembesan limbah dari septictanks tidak sampai mencemari air sumur.
Berdasarkan waktu pengambilan contoh dapat dikatakan pH air lindi meningkat pada hasil pengujian kedua dan menurun kembali pada hasil pengujian ketiga. Sedangkan pH air irigasi dan air sumur selalu meningkat pada pengujian kedua hingga ketiga, beruturut-turut berdasarkan waktu pengambilan contoh adalah 7.03, 8.05, 8.21 pH air irigasi (AP 1) dan 6.63, 6.88, 6.97 untuk nilai pH air sumur (AS 1). Ali (2011) mengungkapkan bahwa fluktuasi pH perairan dipengaruhi oleh aktivitas fotosintesis, respirasi organisme akuatik, suhu, dan keberadaan ion-ion di perairan tersebut. Namun demikian, perubahan pH tersebut tidak sampai melebihi baku mutu atau dapat dikatakan masih berada pada kisaran pH yang diperbolehkan.
Temperatur Air
Pengamatan terhadap temperatur air penting dilakukan karena temperatur air berkorelasi dengan aktivitas kimia di dalam air. Temperatur air yang tinggi akan berakibat pada meningkatnya reaksi kimia di dalam air, seperti meningkatnya laju fotosintesis oleh fitoplankton (Simanjutak 2009). Ompusungu (2009) melanjutkan bahwa peningkatan temperatur air akan menimbulkan beberapa akibat, diantaranya penurunan jumlah oksigen terlarut dan peningkatan kecepatan reaksi kimia di dalam air.
Tabel 7 menunjukkan bahwa temperatur air bervariasi berdasarkan lokasi dan waktu pengambilan. Tidak terlihat pola perbedaan yang khas antara temperatur air lindi, air irigasi, dan air sumur. Air lindi memiliki temperatur yang berada pada kisaran 29-330C, air irigasi 28-330 C, dan air sumur 26-310C. Berdasarkan kondisi sekitar lokasi dan waktu pengambilan contoh menunjukkan bahwa temperatur air lebih dipengaruhi oleh temperatur udara ketika pengambilan contoh dan keadaan di sekitar lokasi. Seperti yang dikemukakan oleh Komala et al. (2008) temperatur air sumur dipengaruhi oleh waktu pengambilan contoh air.
Berdasarkan lokasi pengambilan contoh, hasil penelitian menunjukkan bahwa temperatur udara di sekitar lokasi air sumur relatif lebih rendah dibandingkan temperatur udara lokasi lainnya. Keadaan tersebut mengakibatkan air sumur memiliki temperatur yang lebih rendah dibandingkan dengan air lindi dan
10
air irigasi. Sumur penduduk berada di area pemukiman, sedangkan air lindi dan air irigasi berada di tempat yang terbuka.
Tabel 7 Temperatur udara ketika penelitian dan temperatur air
Lokasi Temperatur air ke- (0C) Temperatur udara ke- (0C)
1 2 3 1 2 3
AL1 28 32.0 26 30 32.0 30
AL2 28 31.0 29 30 31.0 31
AL3 30 30.0 28 31 30.0 30
AL4 31 29.0 29 29 29.0 31
AP1 33 28.0 29 31 28.0 31
AP2 33 33.0 31 30 33.0 31
AS1 27 26.0 31 29 26.0 32
Faktor lain yang mempengaruhi temperatur air di alam adalah keberadaan naungan. Adanya naungan di sekitar lokasi perairan menyebabkan terhalangnya radiasi matahari secara langsung ke badan air, sehingga temperatur air relatif lebih rendah dibandingkan air yang berada di lokasi terbuka atau tanpa naungan. Oleh sebab itu, air sumur memiliki temperatur yang lebih rendah dibandingkan contoh air lainnya, karena air sumur berada di wilayah permukiman dan terdapat vegetasi di sekitarnya.
Temperatur air lindi dapat dikatakan masih berada pada level baik berdasarkan baku mutu air limbah yang diatur oleh Direktorat Penyelidikan Masalah Air. Begitu pula dengan temperatur air irigasi dan air sumur masih memenuhi baku mutu air yang ditetapkan dalam PP No. 82 Tahun 2001 dan PERMENKES No. 492 Tahun 2010.
Total Padatan Tersuspensi
Total suspended solid (TSS) didefinisikan sebagai jumlah bobot bahan tersuspensi dalam suatu volume tertentu yang dinyatakan dalam mg per liter.
Sumber suspensi ini dapat berasal dari kotoran hewan, manusia, lumpur, dan limbah industri (Sastrawijaya 2000) serta dapat pula berasal dari sisa-sisa tumbuhan. TSS merupakan salah satu bagian dari zat padat dalam air selain zat padat terlarut dan koloidal. Analisis zat padat penting dilakukan bagi penentuan komponen-komponen air secara lengkap juga untuk perencanaan serta pengawasan proses pengolahan dalam bidang air minum maupun air buangan (Alaerts dan Santika 1984).
Kadar TSS dalam air bervariasi menurut lokasi pengambilan contoh. Kadar tertinggi diperoleh dari air lindi AL 3 dengan kadar rata-rata 234 mg/L dan paling rendah diperoleh dari air irigasi yakni 26.68 mg/L (Tabel 8). Kadar tertinggi tersebut diduga karena lokasi AL 3 berjarak sangat dekat dengan TPA. Di samping itu, TSS di lokasi AL 1 (reservoir air lindi) menunjukkan kadar yang cukup rendah.
Hal ini mengindikasikan adanya peran eceng gondok yang tumbuh di perairan tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Dewi (2012), eceng gondok mampu menurunkan TSS di perairan hingga 97%.
Air irigasi memiliki kadar TSS yang cukup rendah yakni dengan rata-rata 43.21 mg/L dan 26.68 mg/L. Sedangkan air sumur memiliki kadar TSS yang dinilai cukup tinggi yakni sebanyak 126.35 mg/L. Suspensi tersebut dapat terlihat di dasar wadah air yang didiamkan selama 24 jam dan jika disentuh tekstur suspensi
11
tersebut terasa sangat halus. Gambar 5 menunjukkan endapan suspensi yang ada di kertas saring millipore ukuran pori 0.45 µm dan berwarna orange terang.
Tabel 8 Kadar total padatan tersuspensi dalam air
Lokasi Kadar TSS ke- (mg/L)
Rata-rata
1 2 3
AL1 10.47 39.00 74.44 41.30
AL2 11.63 40.00 57.93 36.52
AL3 208.00a 230.00a 264.00a 234.0
AL4 35.00 48.84 88.00 57.28
AP1 25.58 36.05 68.00 43.21
AP2 15.00 29.00 36.05 26.68
AS1 107.50b 132.56b 139.00b 126.35
aTidak memenuhi standar baku mutu air limbah berdaasrkan Direktorat Penyelidikan Masalah Air.
bTidak memenuhu standar baku mutu persyaratan air minum berdasarkan PERMENKES Nomor 492 Tahun 2010.
Berdasarkan waktu pengambilan contoh, hasil penelitian menunjukkan kadar TSS meningkat dari pengujian pertama hingga ketiga. Hal ini mengindikasikan bahwa adanya pengaruh jumlah hujan terhadap kadar TSS di dalam air. Jumlah hujan yang cukup tinggi mengakibatkan kadar TSS dalam air menurun karena terjadi pengenceran kadar zat tersuspensi dan sebaliknya. Kadar TSS yang dinilai telah melampaui baku mutu air limbah (level kurang) yakni hanya pada air lindi yang berlokasi di AL 3. Demikian pula dengan kadar TSS dalam air sumur penduduk dapat dikatakan telah melampaui kadar TSS yang diatur dalam PERMENKES No. 492 Tahun 2010, sedangkan kadar TSS dalam air irigasi dinilai masih aman untuk pemanfaatan pengairan tanaman.
Air lindi yang mengandung suspensi cukup tinggi perlu diolah terlebih dahulu agar aman dibuang ke perairan umum. Hal tersebut perlu dilakukan karena suspensi yang tinggi pada air buangan akan berdampak pada pendangkalan lingkungan perairan. Begitu pula dengan air sumur, perlu pengolahan terlebih dahulu agar layak dimanfaatkan untuk air minum. Pengolahan tersebut dapat dilakukan secara fisik atau kimia. Pengolahan secara fisik dapat dilakukan dengan cara menggunakan filter tertentu untuk menyaring suspensi yang ada di dalam air. Akan tetapi pengolahan secara fisik membutuhkan biaya yang cukup mahal, seperti filter yang banyak diperjualbelikan. Oleh sebab itu pengolahan secara kimia lebih disarankan, misalnya penggunaan tawas dan kapolrit. Penggunaan bahan koagulan tersebut sangat mudah dan harganya murah.
Gambar 5 Endapan dari air sumur yang tertahan pada kertas millipore (0.45 µm)
12
Kandungan Nitrat dalam Air
Nitrat merupakan bentuk nitrogen utama dalam perairan dan nutrien utama bagi tumbuhan dan alga. Ali (2011) menyebutkan bahwa senyawa nitrat dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan. Nitrifikasi yang merupakan proses oksidasi amonia menjadi nitrit dan nitrat adalah proses penting dalam siklus nitrogen yang berlangsung dalam kondisi aerob. Kadar nitrat yang tinggi dalam lingkungan perairan akan mengakibatkan terjadinya penyuburan badan air atau eutrofikasi dan akan mengkibatkan methemoglobinemia jika kadar nitrat yang tinggi dalam air minum dikonsumsi oleh bayi berumur di bawah tiga bulan (Manampiring 2009).
Kadar rata-rata nitrat tertinggi diperoleh dari contoh air lindi yang diambil dari lokasi AL 3 yakni sebanyak 104 mg/L (Tabel 9). Hasil ini cukup sejalan dengan hasil penelitian Arbain et al. (2008) yang melaporkan kadar nitrat dalam air lindi sebanyak 75.10 mg/L. Kadar nitrat yang tinggi tersebut diduga karena jarak lokasi AL 3 paling dekat dengan TPA dan berdasarkan data komposisi sampah di TPA diketahui bahwa komposisi tertinggi merupakan sampah organik. Kondisi ini memungkinkan terbentuknya senyawa nitrat yang tinggi dalam air lindi tersebut.
Steenvoorden (1989) dalam Ompusungu (2009) mengungkapkan bahwa sumber pencemaran nitrat di dalam air umumnya berasal dari limbah industri, septictanks, limbah hewan, dan limbah angkutan air. Mengacu pada baku mutu air limbah, kadar air lindi TPA Galuga dinilai telah melampaui ambang batas yang ditetapkan dan telah berada pada level kurang sekali (sangat buruk).
Tabel 9 Kadar nitrat dalam air
Lokasi Kadar nitrat ke- (mg/L)
Rata-rata
1 2 3
AL1 68.287a 75.974a 93.057a 79.106
AL2 57.194a 64.190a 43.206a 54.863
AL3 79.475a 91.573a 142.358a 104.469
AL4 47.886a 61.272a 71.084a 60.081
AP1 61.706b 59.925b 95.666b 72.432
AP2 50.989b 81.809b 59.411b 64.070
AS1 47.228c 37.929c 38.399c 41.186
aTidak memenuhi standar baku mutu air limbah berdaasrkan Direktorat Penyelidikan Masalah Air.
b Tidak memenuhi Tidak memenuhi standar baku mutu air berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001.
c Tidak memenuhu standar baku mutu persyaratan air minum berdasarkan PERMENKES Nomor 492 Tahun 2010.
Kandungan nitrat dalam air lindi yang melampaui ambang batas akan memberikan dampak negatif bagi lingkungan perairan, salah satunya adalah penyuburan badan air atau eutrofikasi. Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya untuk menekan laju peningkatan kadar nitrat dalam perairan. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mereduksi nitrat dalam air lindi tersebut misalnya pemanfaatan eceng gondok (Ali 2011 dalam Marthana 2014). Lebih lanjut hasil panen dari biomassa tumbuhan tersebut dapat dimanfaatkan untuk bahan pembuatan pupuk hijau.
Kadar nitrat dalam air irigasi menunjukkan hasil yang cukup tinggi pula, yakni dengan rata-rata 72 mg/L dan 64 mg/L. Senyawa nitrat diduga berasal dari pupuk yang dimanfaatkan di lahan pertanian tersebut. Adapun kadar nitrat di dalam air sumur penduduk menunjukkan kadar nitrat terendah dari seluruh contoh air,
13
yakni senilai 41 mg/L. Senyawa nitrat dalam air sumur ini diduga berasal dari limbah pemukiman dan lokasinya yang dekat dengan lahan sawah. Hal ini didukung oleh pendapat Mulyani dan Sudadi (1999) yang mengemukakan bahwa nitrat dalam air tanah dapat berasal dari resapan limbah pemukiman yang padat atau dapat pula disebabkan oleh lokasi sumur yang dekat dengan sawah yang tanahnya rutin dipupuk (Ganefati et al. 2005). Di samping itu, tingginya kadar nitrat dalam air irigasi dan air sumur diduga karena tercemar oleh limbah dari TPA.
Kadar nitrat dalam air irigasi dinilai telah melampaui batas maksimum yang diperbolehkan berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001. Begitu pula kadar nitrat dalam air sumur penduduk dinilai telah melampaui kadar nitrat maksimum yang diatur dalam PERMENKES No. 492 Tahun 2010.
Berdasarkan waktu pengambilan contoh, kadar nitrat dalam contoh air berfluktuasi dan tidak ditemukan pola yang khas. Akan tetapi kadar nitrat yang diperoleh dari AL 1, AL 2, dan AL 4 selalu meningkat dari pengujian pertama hingga ketiga sedangkan contoh air dari lokasi lainnya mengalami perubahan yang tidak berpola.
Kadar nitrat di dalam air menunjukkan adanya keterkaitan dengan kadar N- total dan C-Organik di dalam tanah. Hasil uji laboratorium menunjukkan tanah yang berada di lokasi perairan yang mengandung kadar nitrat yang tinggi memiliki kadar N-total dan C-organik di dalam tanah yang tinggi pula. Misal, di lokasi AL 3 yang memiliki kadar nitrat dalam air hingga 104 mg/L menunjukkan kadar N- Total dalam tanah yang tinggi pula yakni 0.284 % pada lapisan 0-20 cm, 0.283%
pada lapisan 20-40 cm, dan 0.233%, pada lapisan tanah dengan kedalaman 40-60 cm. Begitu pula dengan kadar C-organik tanah, lokasi AL 3 ini memiliki kadar C- organik yang tinggi dibandingkan yang lainnya, yakni 3.4 % pada kedalaman 0-20 cm, 28 % pada kedalaman 20-40 %, dan 2.2 % pada kedalaman 40-60 (Tabel 10).
Tabel 10 Kadar nitrat dalam air, N-total dan C-organik dalam tanah
Lokasi
Kadar rata-rata
nitrat dalam air
(mg/L)
Kadar N-Total dalam tanah (%)
Kadar C-organik dalam tanah (%)
0-20 cm
20-40 cm
40-60 cm
0-20 cm
20-40 cm
40-60 cm AL1 79.106 0.33 0.26 0.14 3.06 1.94 0.58 AL2 54.863 0.20 0.13 0.09 2.53 1.20 0.83 AL3 104.469 0.28 0.28 0.23 3.41 2.80 2.21
AL4 60.081 0.15 0.13 0.12 2.09 2.09 1.23
AP1 72.432 0.22 0.14 0.08 1.70 0.89 0.27
AP2 64.070 0.16 0.13 0.11 2.23 1.32 0.68
AS 1 41.186 0.13 0.08 0.07 1.94 0.86 0.82 Kadar Logam Pb dalam Air
Logam Pb merupakan logam berat yang tidak dapat terurai dan bersifat akumulatif pada lingkugan (Ganefati et al. 2008). Beberapa dampak dari paparan logam Pb diungkapkan oleh Sudarmadji et al. (2006), diantaranya adalah gangguan neurologi, fungsi ginjal, dan sistem reproduksi. Tabel 11 menunjukkan logam Pb terdeteksi dalam contoh air dengan kadar yang bervariasi. Hasil pengujian contoh air pertama menunjukkan kadar logam Pb berada di bawah 0.005 mg/L (negatif).
14
Hal ini diduga karena terjadi hujan yang cukup sering sebelum pengambilan contoh, sehingga terjadi pengenceran kadar Pb dalam air. Sedangkan hasil pengujian berikutnya menunjukkan logam Pb terdeteksi dengan kadar yang berbeda dan relatif terjadi peningkatan dibanding pengukuran I.
Kadar rata-rata tertinggi diperoleh dari air lindi AL 3 dan AL 4 yakni sebanyak 0.108 mg/L. Hasil ini didukung oleh Komala et al. (2008) yang melaporkan kadar logam Pb dalam air lindi yakni sekitar 0.17 mg/L. Logam Pb dalam air lindi tersebut diduga berasal dari limbah B3 yang ikut tertimbun di TPA, kemudian terbawa oleh aliran air ke lokasi yang lebih rendah. Di samping itu, tingginya kadar logam Pb di lokasi AL 3 dan AL 4 disebabkan karena lokasinya yang sangat dekat dengan TPA. Semakin dekat jarak lokasi peairan dari pusat timbunan sampah kepekatan bahan atau zat yang terbawa oleh aliran air semakin pekat pula dan menurun seiring bertambahnya jarak dari pusat pencemar. Hal ini berkaitan dengan peran tanah sebagai filter dan keberadaan penghambat aliran air, misal rerumputan.
Tabel 11 Kadar logam Pb dalam air
Lokasi Kadar Pb pengukuran ke- (mg/L)
Rata-rata
1 2 3
AL1 <0.005 0.05814 0.05814 0.04043
AL2 <0.005 0.05814 0.05814 0.04043
AL3 <0.005 0.13953a 0.18023a 0.10825 AL4 <0.005 0.13953a 0.18023a 0.10825 AP1 <0.005 0.05814b 0.13953b 0.06756 AP2 <0.005 0.09884b 0.09884b 0.06756 AS 1 <0.005 0.09884c 0.13953c 0.08112
aTidak memenuhi standar baku mutu air limbah berdaasrkan Direktorat Penyelidikan Masalah Air.
b Tidak memenuhi Tidak memenuhi standar baku mutu air berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001.
c Tidak memenuhu standar baku mutu persyaratan air minum berdasarkan PERMENKES Nomor 492 Tahun 2010.
Logam Pb juga terdeteksi di dalam air sumur dan air irigasi dengan kadar yang lebih rendah dibandingkan dengan air lindi, yakni 0.067 mg/L dalam air irigasi dan 0.081 mg/L dalam air sumur. Hal ini diduga karena adanya pencemaran air yang disebabkan oleh keberadaan air lindi yang dihasilkan di TPA Galuga.
Mengacu pada baku mutu air, kadar logam Pb dalam air lindi, air irigasi, dan air sumur dapat dikatakan telah melampaui batas maksimum yang diperbolehkan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka diperlukan adanya upaya penanganan air lindi secara tepat untuk menghindari penyebaran pencemar ke lingkungan sekitarnya. Salah satu metode mudah dan murah yang dapat diterapkan untuk menurunkan kadar logam Pb tersebut adalah fitoremedasi.
Secara alamiah beberapa tumbuhan diketahui memiliki kemampuan mengakumulasi logam berat dengan kadar yang tinggi pada akar atau tajuknya.
Salah satu contoh tumbuhan yang memiliki kemampuan mengakumuluasi logam Pb yaitu Azolla (Gambar 6). Juhaeti dan Syarief (2003) melaporkan bahwa Azolla mampu mengakumulasi logam Pb hingga 50 ppm.
15
Selain kemampuannya mengakumulasi logam Pb dalam jumlah yang cukup tinggi, Azolla diketahui pula memiliki kemampuan menambat nitrogen karena tumbuhan tersebut berasosiasi dengan bakteri penambat N yaitu Anabaena azollae.
Kemampuan Azolla sebagai fitoremediator dan penambat nitrogen tersebut dapat menjadi pilihan yang tepat untuk membantu memperbaiki kualitas lingkunan perairan sekaligus memanfaatkan biomassanya sebagai bahan pupuk organik.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Air lindi TPA Galuga memiliki temperatur air berkisar 29-330C, pH tergolong basa dengan nilai tertinggi 8.52, kadar nitrat tertinggi 104.469 mg/L, kadar TSS tertinggi 234.00 mg/L, dan kadar logam Pb tertinggi 0.108 mg/L,
2. Air irigasi memiliki temperatur air berkisar antara 28-330C, pH tergolong basa dengan nilai tertinggi 7.76, kadar TSS tertinggi 43.21 mg/L, kadar nitrat tertinggi 72.432 mg/L, dan kadar logam Pb tertinggi 0.067 mg/L, 3. Air sumur memiliki temperatur air berkisar 26-310C, pH yang tergolong
netral yakni 6.83, kadar nitrat 41.186 mg/L, kadar TSS 126.35 mg/L, dan kadar logam Pb 0.081 mg/L,
4. Air lindi belum aman dibuang ke lingkungan badan air alami, terutama berdasarkan parameter nitrat, TSS, dan logam Pb,
5. Air sumur perlu diolah terlebih dahulu agar layak untuk dimanfaatkan sebagai air minum.
Saran
Sarana IPAL di TPA Galuga perlu difungsikan sebaik-baiknya untuk menekan dampak negatif dari air lindi yang berpotensi mencemari lingkungan perairan di sekitarnya. Metode fitoremediasi juga dapat dijadikan pilihan yang tepat untuk menurunkan tingkat pencemaran perairan, yakni dengan memanfaatkan tumbuhan yang memiliki kemampuan hiperakumulator zat tertentu. Selain mudah, metode ini juga membutuhkan biaya yang cukup minim.
Gambar 6 Tanaman Azolla (Samsi 2015)
16
DAFTAR PUSTAKA
Alaerts dan Santika. 1984. Metoda Penelitian Air. Surabaya (ID): Usaha Nasional Ali M. 2011. Rembesan Air Lindi (leachete) Dampak pada Tanaman dan
Kesehatan. Surabaya (ID) : UPN Pr.
Arbain, Mardana NK, Sudana IB. 2008. Pengaruh air lindi TPA Suwung terhadap kualitas air tanah dangkal di sekitarnya di Kelurahan Peduangan, Kota Denpasar. Ecotrophic [internet]. [diunduh 2015 Jan 11];3(2):55-60. Tersedia pada : http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tampil&id=5802
&idc=27
Arsyad S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. Bogor (ID) : IPB Pr.
Chapman D. 2000. Water Quality Assesment. London
Darmasetiawan M. 2004. Perencanaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Jakarta (ID): Ekamitra Engineering.
Diana E. 1992. Pemantauan dampak lokasi pembuangn akhir sampah secara sanitary landfill Bantar Gembang terhadap kualitas air permukaan, air tanah dan sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya [tesis]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor
Ertawati, Ilza M, dan Nofrizal. 2015. Sistem pengolahan limbah TPA Muara Fajar dan pengaruh terhadap kualitas air tanah di sekitarnya. Jurnal Ilmu Lingkungan [internet]. [diunduh 2016 Jan 04]; 9(1).Tersedia pada : ejournal.unri.ac.id/
index.php/JIL/artikel/view/2763/pdf
Ganefati SP, Istiqomah SH, Purwanto. 2005.Pengolahan air minum sumur gali untuk rumah tangga secara aerasi, filtrasi, dan desinfeksi. Jurnal Teknik Lingkungan [internet]. [diunduh Jan 7 2016]; 6(1):262-267. Tersedia pada : ejournal.bppt.go.id/index.php/JTL/article/view/412.
Ganefati SP, Susanto JP, Suwarni A. 2008. Pengolahan leachate tercemar Pb sebagai upaya pencegahan pencemaran lingkungan TPA. Jurnal teknik lingkungan. [internet].[diunduh 2016 Jan 04]; 9(1):92-97.Tersedia pada : http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/JTL/article/view/538
Hilman Y dan Suwandi. 1990. Pengaruh penggunan pupuk N dan dosis P terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Bul. Penel. Hort. 19(1):25-31 Hanum F. 2002. Proses pengolahan air sungai untuk keperluan air minum. Jurusan
Teknik Kimia. Sumatera Utara: USU
Indah AY, Zulkifli H, Faizal M. 2006. Pengaruh lindi TPA Batu Putih Kabupaten OKU terhadap kualitas air di sekitar TPA. Jurnal Pengelolaan Lingkungan dan Sumber Daya Alam.[internet].[diunduh 2015 Apr 22];4(2):37-46. Tersedia pada: http://eprints.unsri.ac.id/392/1/PENGARUH_LINDI_TEMPAT _PEMBUANGAN_AKHIR.pdf
Juhaeti T dan Syarief F. 2003. Studi potensi beberapa jenis tumbuhan air untuk fitoremediasi. Bogor (ID): Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi. LIPI.
[KEMENKES RI] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Jakarta (ID): Kemenkes
[KEMEN LH] Kementrian Lingkungan Hidup RI. 2001. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Jakarta (ID): Kemen LH
17
Komala PS, Primasari B, Rivai F. 2008. Pengaruh sistem open dumping di lokasi pembuangan akhir sampah terhadap kandungan logam berat pada air tanah dangkal di sekitarnya. Studi kasus LPA Air Dingin, Padang. Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Andalas [internet]. [diunduh 2015 Mar 3];1(29).
Tersedia pada: http://repository.unand.ac.id/1076/1/1-8_puti_Srikomala- _Studi_Air_Tanah_LPA_Air_Dingin.pdf
Kurniawan B. 2006. Analisis kualitas air sumur sekitar wilayah tempat pembuangan akhir sampah [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor Manampiring AE. 2009. Studi kandungan nitrat pada sumber air minum masyarakat
Kelurahan Rurukan, Kecamatan Tomohon Timur Kota Timohon. Universitas Sam Ratulangi
Mulyani Y dan Sudadi P. 1999. Pencemaran nitrit, nitrat, dan zat organik di sungai dan sumur gali pada aliran Sungai Ciliwung antar Desa Cibogo sampai Depok, Bogor.Buletin Geologi Tata Lingkungan[internet]. [diunduh 2015 Jan 11];
Nomor 26 Tersedia pada :isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/search.html?act=tampil
&id=28974&idc=24.
Ompusungu H. 2009. Analisa kandungan nitrat air sumur gali masyarakat di sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Namo Bintang, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang [skripsi]. Sumatera Utara (ID): USU Pohland FG. dan Harper SR. 1985. Critical Review and Summary of Leachate and
Gas Production from Landfills. U.S. Environmental Protection Agency. Ohio.
165 p in Priambodho K. 2005. Kualitas Air pada Tempat Pembuangan Akhir Sampah Galuga Kabupaten Bogor
[skripsi]. IPB: Bogor
Purwanti AA, Sunarto, Setyaningsih R. 2005. Kualitas air tanah di sekitar aliran Sungai Pepe, Surakarta. BioSmart [internet]. [diunduh 2016 Mar 04];7(1):66- 71. Tersedia pada : http://dglib.uns.ac.id/dokumen/detail/689/Kualitas-air- tanah-di-sekitar-aliran-sungai-Pepe-Surakarta
Prasetyo EA. 2004. Keasaman minuman ringan menurunkan kekerasan permukaan gigi [artikel penelitian]. Surabaya (ID) : Universitas Airlangga
Samsi DF. 2015. Azolla. Wordpress [internet]. [diunduh 2016 April 30]; Tersedia pada : https://aanfarm.wordpress.com/2015/03/19/jual-pupuk-azolla/
Sastrawijaya AT. 2000. Pencemaran Lingkungan. Jakarta (ID): Rineke Cipta Sinaga IL, Jamilah, Mukhlis. 2013. Kualitas air irigasi di Desa Air Hitam
Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Batubara. Agroekoteknologi [internet].
[diunduh 2016 Feb 8];2(1):186-191. Tersedia pada : http://jurnal.usu.ac.id/
index. php/ agroekoteknologi/article/view/5752
Sudadi P. 2003. Penentuan kualitas air tanah melalui analisis unsur kimia terpilih.
Buletin Geologi Tata Lingkungan[internet]. [diunduh 2014 Sep 23];13(2):81- 89. Tersedia pada : http://pag.bgl.esdm.go.id/sites/default/files/ buletin/
Penentuan%20Kualitas%20Air%20Tanah%20Melalui%20Analisis%20Unsur
%20Kimia%20Terpilih%20%28%20Purwanto%20Sudadi%20%29%20hal%
2081-89.pdf
Sudarmaji, Mukono J, Corie IP. 2006. Toksikologi logam berat B3 dan dampaknya terhadap terhadap kesehatan.Jurnal Kesehatan Lingkungan [internet].[diunduh 2015 Jul 08];2(2):129-142. Tersedia pada : http://www.journal.unair.ac.
id/filerPDF/KESLING-2-2-03.pdf
18
LAMPIRAN
Lampiran 1 Komposisi timbunan sampah per tahun (2009 s.d. 2013)
No Jenis Timbunan Sampah (m3/Hari)
2009 2010 2011 2012 2013
\
1 Organik 1411.72 1415.37 1416.59 1428.61 1435.31
2 Plastik 297.66 298.43 298.68 310.59 317.25
3 Kertas 201.14 201.66 201.84 213.74 220.44
4 Logam 5.57 5.58 5.59 17.47 18.17
5 Tekstil 68.21 68.38 68.44 80.33 81.03
6 Karet 8.35 8.37 8.38 20.26 20.96
7 Kaca/
Mineral 25.75 25.75 25.84 37.72 38.42
8 B3 0.46 0.46 0.47 12.35 13.05
9 Lain-Lain 108.34 108.34 108.72 120.61 127.21
10 Residu 192.79 192.79 193.46 205.36 212.06
Jumlah 2320.00 2320.00 2326.01 2477.00 2484.00
Lampiran 2 Komposisi sampah terangkut per tahun (2009 s.d. 2013
No Jenis Timbunan Sampah (m3/hari)
2009 2010 2011 2012 2013
1 Organik 988.81 991.86 994.29 1002.77 1006.47
2 Plastik 209.13 209.13 209.64 18.04 223.74
3 Kertas 141.32 141.32 141.67 150.06 155.76
4 Logam 3.91 3.91 3.92 12.30 13.00
5 Tekstil 47.92 47.92 48.04 56.42 57.12
6 Karet 5.87 5.87 5.88 14.26 14.96
7 Kaca/
Mineral 18.09 18.09 18.14 26.52 27.22
8 B3 0.33 0.33 0.33 8.71 9.41
9 Lain-Lain 76.12 76.12 76.31 84.70 89.40
10 Residu 135.45 135.45 135.79 144.184 148.88
Jumlah 1625.02 1630.00 1634.01 1718.00 1748.00 Persentase sampah
terangkut/
timbunan sampah (%)
70.04 70.07 70.19 70.21 70.31
Lampiran 3 Jumlah timbunan sampah dan volume sampah terangkut serta cakupan wilayah pelayanan
No Tahun
Timbunan sampah (m3/Hari)
Sampah Terangkut
(m3/Hari)
Cakupan Wilayah Pelayanan (%)
1 2006 2185 1497 68.5
2 2007 2210 1515 68.6
3 2008 2224 1542 69.3
4 2009 2294 1602 69.8
5 2010 2337 1636 70.0
6 2011 2402 1685 70.14
7 2012 2447 1718 70.21
8 2013 2484 1748 70.32
19
Lampiran 4 Persyaratan kualitas air minum berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492/Menkes/PerIV/2010
Parameter Satuan Kadar maksimum yang
diperbolehkan Parameter yang berhubungan
langsung dengan kesehatan a) Parameter mikrobiologi
1. E. Coli Jumlah/100
ml sampel 0
2. Total bakteri Koliform
Jumlah/100
ml sampel 0
b) Kimia anorganik
1) Arsen mg/L 0.01
2) Fluorida mg/L 1.5
3) Total Kromium mg/L 0.05
4) Kadmium mg/L 0.003
5) Nitrit, (sbg. NO2-) mg/L 3
6) Nitrat, (sbg. NO3-) mg/L 50
7) Sianida mg/L 0.07
8) Selenium mg/L 0.01
Parameter yang tidak berhubungan langsung dengan kesehatan
a) Parameter fisik
1) Bau Tidak berbau
2) Warna 15
3) TDS mg/L 500
4) Kekeruhan mg/L 5
5) Rasa Tidak berasa
6) Suhu Suhu udara ± 3
b) Parameter kimiawi
1) Alumunium mg/L 0.2
2) Besi mg/L 0.3
3) Kesadahan mg/L 500
4) Khlorida mg/L 250
5) Mangan mg/L 0.4
6) pH mg/L 6.5 – 8.5
7) Seng mg/L 3
8) Sulfat mg/L 250
9) Tembaga mg/L 2
10) Amonia mg/L 1.5
Parameter Tambahan Bahan Anorganik
a) Air raksa mg/L 0.001
b) Barium mg/L 0.7
c) Boron mg/L 0.5
d) Timbal mg/L 0.01