• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kumpulan Dongeng Pancasila Lengkap dengan Audiobook

N/A
N/A
ibesti raningrum

Academic year: 2025

Membagikan "Kumpulan Dongeng Pancasila Lengkap dengan Audiobook"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

KUMPULAN DONGENG

PROFIL PELAJAR PANCASILA Dilengkapi Audiobook

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA

2024

(2)

KUMPULAN DONGENG

PROFIL PELAJAR PANCASILA Dilengkapi Audiobook

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA

2024

Lisma Laurel, dkk.

(3)

iii

Pesan Bu Kapus

Hai, Sahabat Karakter!

Kapan terakhir kali Sahabat Karakter membaca dongeng atau dibacakan dongeng oleh Orang Tua atau Bapak/Ibu Guru? Nah, kali ini Pusat Penguatan Karakter, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyajikan kumpulan dongeng yang seru dan menarik untuk dibaca. Tidak hanya itu, kumpulan dongeng ini juga akan mengenalkan nilai-nilai Pancasila secara menyenangkan sesuai dengan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, kreatif, dan bernalar kritis.

Sahabat Karakter, dengan adanya kumpulan dongeng ini, kami berharap dapat meningkatkan minat baca dan wawasan Sahabat Karakter dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Kumpulan dongeng ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik sehingga membantu Sahabat Karakter dalam berimajinasi. Satu lagi, kumpulan dongeng ini menarik untuk dibaca karena merupakan hasil karya para penulis dari seluruh Indonesia yang memenangkan Kreasi Naskah Dongeng Profil Pelajar Pancasila tahun 2024 ini.

Selamat membaca dan Salam Cerdas Berkarakter!

Kepala Pusat Penguatan Karakter Rusprita Putri Utami

Hak Cipta pada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia

Dilindungi Undang-undang. Tidak diperbolehkan mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari penerbit.

Penafian: Buku ini disiapkan oleh Pemerintah dalam rangka pemenuhan kebutuhan buku bacaan terkait Profil Pelajar Pancasila. Buku ini disusun dan ditelaah oleh berbagai pihak di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Buku ini merupakan dokumen hidup yang senantiasa diperbaiki, diperbarui, dan dimutakhirkan sesuai dengan dinamika kebutuhan dan perubahan zaman. Masukan dari berbagai kalangan yang dialamatkan melalui alamat surel [email protected] diharapkan dapat meningkatkan kualitas buku ini.

Sehari Satu Dongeng

30 Kumpulan Dongeng Profil Pelajar Pancasila Pengarah

Suharti Penyelia

Rusprita Putri Utami, Dian Srinursih, Yulaika Ernawati Penulis

Lisma Laurel, Dian Sukma Kuswardhani, Yesi Devisa, Atik Setyowati, Rizki Dwi, Fenty

Windyanurkarina, Sumni To, Barbara Eni, Hanatri, Pupuy Hurriyah, Endang Saptarina, Booboo Fanny, Linda Tanjung, Mita Septiana, Anitanidong, Rizfan, Julia, Lairyf, Ussy, Fitria Fathima, Rama Aji, Lyan Callista Alexandra, Abang D, Muhammad Saukani, Dinda Kusuma, Debluenamoo, Syifa Muhjati, Zahrah AN, Bibiu, Aulia Nova Ardana Putri

Ilustrator

Octaviaayoe, Vicky Eva Mawarni, Vannia Rizky Santoso Editor Naskah

Shinta Handini, Ali Muakhir, Huda Wahid, Syarif Ali, Harlis Kurniawan, Nurhayati Pujiastuti, Hendarman, Maghfira D’ Izzania, Rika Hidayat, Amalia Risda H, Shabriella Yolanda

Pengarah Visual M Rizal Abdi Desain Sampul Octaviaayoe Penerbit

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Dikeluarkan oleh

Pusat Penguatan Karakter

Sekretariat Jenderal, Jalan Jenderal Sudirman Gedung C, Lantai 18, Jakarta 10270 https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/

Cetakan pertama, 2024

ISBN 978-623-504-587-0 (PDF)

Isi buku ini menggunakan huruf Andika 14pt, SIL International xii, 220 hlm: 21 x 29,7 cm

(4)

v iv

Prakata

Hai Sahabat Karakter,

Tahukah kamu apa itu Profil Pelajar Pancasila? Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Nah...keenam dimensi Profil Pelajar Pancasila tersebut dikemas dalam sebuah kumpulan dongeng, supaya Sahabat Karakter dapat memahami nilainya dengan mudah dan menyenangkan. Semoga dengan membaca kumpulan dongeng ini, Sahabat Karakter diharapkan dapat memperoleh inti dari enam nilai dimensi Profil Pelajar Pancasila. Dengan menerapkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dengan demikian Sahabat Karakter dapat menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, menghargai perbedaan dan keberagaman, sehingga Indonesia menjadi bangsa dan negara yang kuat di mata dunia.

Selamat membaca dan semoga suka dengan kumpulan dongeng ini, ya!

Salam, Para Penulis

(5)

vii vi

Daftar Isi

Pesan Bu Kapus iii

Prakata iv

Dimensi Berkebinekaan Global 36

Pakai Apa, Ya? 38

Asal-Usul Siamang 44

Aturan si Raja Hutan 52

Perjalanan Upi 58

Teman yang Beragam 66

Dimensi Beriman, Bertakwa

kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia

1

Pohon Kesayangan Momo 2

Wortel-Wortel Luki 8

Kasuari dan Arbei Merah 16

Petualangan Peri Petty 22

Petualangan Tukik 30

(6)

ix viii

Dimensi Bergotong Royong 72

Kurcaci Hijau 74

Kontes Hewan Terkuat 80

Rendang Mak Uwo 86

Si Maumau dan Hujan Badai 92

Pasukan Pengurai 98

Dimensi Mandiri 104

Semut Bisa Terbang 106

Kelinci-Kelinci Kecil yang Pemberani 112 Induk Bebek dan Anak-Anaknya yang

Pemberani

118

Cahaya Bintang Kecil 124

Klunting ... Klunting 132

(7)

xi x

Dimensi Bernalar Kritis 140 Mengusir Mesin Raksasa 142 Misteri Pencuri Pisang 148

Kerbau yang Cerdik 158

Tantangan Raja 164

Petuah sang Merpati 172

Dimensi Kreatif 178

Puspa dan Burung Pipit 180

Wayang Istimewa 188

Restoran Wortel Muci 194

Penyelamat Sungai Mahakam 200

Sian Siput Petualang 206

Glosarium 212

Biodata Penulis 215

Biodata Ilustrator 220

(8)

Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia Pohon Kesayangan Momo 1 xii

(9)

Pohon Kesayangan Momo 3 Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia

2

M

omo si monyet punya pohon kesayangan. Pohon itu berada di tengah hutan. Setiap pagi, Momo selalu pergi ke sana. Dia akan bergelantungan, bermain, atau sekadar bermalas-malasan. Pokoknya di pohon itu Momo tidak pernah bosan.

Di sepanjang perjalanan menuju pohon kesayangan, Momo selalu bernyanyi riang, “Lalala ... aku mau ke pohonku.”

Momo sesekali menyapa teman-temannya. Momo memang monyet yang ramah.

“Halo, Caca! Ayo, ikut ke pohonku!” ajak Momo kepada Caca si ular sanca kembang, temannya yang sedang meliuk-liuk di pohon kelapa.

Caca mendesis. “Aku tidak suka pohonmu,” jawabnya.

Momo berkacak pinggang. Bagaimana bisa? Pohonnya punya banyak ranting. Pohon kesayangan Momo juga penuh daun-daun rimbun. Tidak ada pohon seindah pohon Momo.

“Itu karena pohonmu wangi. Aku tidak suka berbau harum atau wewangian. ”Bibir Momo tersenyum. Itulah yang ia sukai dari pohonnya.

Baunya wangi, seperti aroma masakan manusia. Apalagi kalau Momo menekan batang pohon kesayangannya dengan ujung kuku. Wah, aroma harum bertambah semerbak!

Penulis: Lisma Laurel Ilustrator: Octaviaayoe

Pindai QR Code untuk dengar

Audiobook

(10)

Pohon Kesayangan Momo 5 Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia

4

“Pohon cengkehmu menakutkan bagiku,” Caca melengos.

Ia menggeliat ke atas, mungkin akan menuju pucuk pohon kelapa.

“Tapi aku sangat suka pohonku!” Momo tertawa meninggalkan Caca.

Momo melanjutkan perjalanan. Dia bertemu dengan Riri si Nuri Maluku yang berwarna semerah darah.

“Halo, Riri! Kamu sedang apa?”

Riri menoleh. Ia sedang mengunyah biji-bijian, kemudian berteriak

“Jangan ke pohonmu, Momo!”

Momo berhenti melangkah. “Ada apa dengan pohonku?” tanyanya.

“Pohonmu terpilih dalam tradisi sasi,” jawab Riri.

“Tradisi sasi?” Momo kembali bertanya.

Riri mengangguk. Ia mengepakkan sayap dan bersiap terbang. “Kalau tidak percaya, biar aku tunjukkan. Aku tadi tidak sengaja mendengar orang-orang Sabuai berbicara tentang pohon cengkeh di tengah hutan.”

Momo langsung berlari dan bergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya dengan cepat. Tangannya sempat tergores ranting pohon, tetapi Momo tidak peduli. Momo hanya ingin segera sampai di pohon cengkeh kesayangannya.

Ternyata, benar yang Riri katakan. Orang-orang Sabuai telah berkumpul di dekat pohon kesayangannya. Mereka mengenakan karanunu yang disebut juga dengan kain berang, yaitu ikat kepala berwarna merah.

Seorang manusia yang tubuhnya sedikit bungkuk, menyilangkan kaki di dekat pohon kesayangan Momo. Dia membakar api yang berasal dari damar.

“Saya berdoa kepada Upu Lanite dan tete-nene moyang kami agar menjaga hutan kami dan juga pohon-pohon ini,” ucapnya. Upu Lanite berarti Tuhan, sementara tete-nene moyang berarti leluhur atau kakek-nenek pendahulu kita.

Setelah itu, manusia-manusia yang semuanya terdiri dari laki-laki mulai menancapkan dahan kayu di sekitar pohon kesayangan Momo.

Mereka juga membalutkan kain berang pada dahan kayu tersebut. Momo ingin menangis. Ia tidak akan bisa lagi bermain, bergelantungan, dan bermalas-malasan di sana.

(11)

Pohon Kesayangan Momo 7 Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia

6

“Kenapa dari seluruh pohon di hutan ini, pohon kesayanganku yang harus terpilih dalam tradisi sasi?”

tanya Momo.

“Itu karena pohon cengkehmu paling besar di sini,”

jawab Riri. “Pohon itu harus dijaga dan dilestarikan.”

“Tapi, kan, aku tidak merusak pohonnya. Kalaupun ada ranting yang patah akibat aku suka bergelantungan, jumlahnya sangat sedikit,” kata Momo.

“Sudahlah, Momo. Ayo, kita cari pohon lain saja!”

hibur Riri.

“Tidak ada yang seperti pohon kesayanganku. Aku sudah sangat sayang dengan pohon cengkeh itu. Aku tidak mau berganti pohon!” seru Momo.

“Ini hutan, Momo. Seluruh pohon tidak benar-benar milik kita,” Riri terbang, lalu hinggap lebih dekat dengan Momo.

Momo tidak menjawab. Ia mengusap air matanya.

Monyet kecil itu sangat sedih. Itu semua karena tradisi sasi, tradisi yang tidak membolehkan mengambil apapun dari pohon kesayangannya itu untuk menjaga kelestariannya.

Kalau sampai melanggar, ia akan dihukum.

Bagi hewan-hewan yang mendiami hutan ini, mereka juga harus mematuhi hukum tersebut. Apabila melanggar, mereka tidak akan dihukum oleh manusia, tapi akan dihukum oleh Yang Maha Kuasa.

Pernah suatu kali, ada hewan yang melanggar, lalu hewan itu sakit perut. Ada pula yang menjadi demam atau terkena penyakit lainnya. Sakitnya pun bisa sangat lama. Momo tidak mau sakit.

Ia masih suka bergelantungan, bermain, dan bermalas-malasan walaupun bukan di pohon kesayangannya.

“Cuma enam bulan, Momo. Atau paling lama dua tahun,” Riri membesarkan hati Momo.

Momo menyeka air matanya. “Baiklah.

Aku akan datang setelah masa tradisi sasi selesai.

Sampai jumpa lagi pohon kesayanganku,” ucapnya.

Dengan langkah gontai, Momo berjalan menjauhi pohon kesayangannya. Jauh dalam hatinya, Momo sangat sedih. Namun, ia tidak bisa dan tidak boleh melanggar hukum adat. Mungkin dengan begitu, Momo bisa menjaga pohon kesayangannya. Kelak ketika waktunya tiba, pohon itu akan jauh lebih besar dan lebih kuat.

“Ayo, kita mencari pohon lain untuk bermain, Momo! Tersenyumlah!” Riri menyemangati Momo.

“Tidak ada yang akan bisa menggantikan pohonku!”

Momo mulai menaiki sebuah pohon secara acak.

Ia bergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya.

“Aku akan menunggu saatnya tiba, Pohon Kesayanganku!” teriaknya. “Aku akan datang lagi kepadamu!”

Itulah kisah Momo si monyet kecil dalam menjaga tradisi sasi, sekalipun tradisi itu mengikat pohon kesayangannya. Untuk sementara waktu,Momo tidak bisa bergelantungan, bermain, dan bermalas-malasan di pohon kesayangannya. Momo tahu aturan harus dijaga supaya alam tetap indah dan terawat.

(12)

9

8 Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia Wortel-Wortel Luki

S

ore itu, Luki sedang menikmati secangkir teh dan sepiring kue wortel di rumahnya yang hangat. Luki melepas lelah, setelah memanen wortel di kebunnya. Hasil panen kali ini cukup bagus.

Dua karung wortel, kini aman dalam lemari penyimpanannya.

“Sepertinya, sebentar lagi turun hujan,” gumam Luki.

Sejak siang, mendung memang sudah menggantung di langit Desa Kelinci. Suara guntur juga beberapa kali terdengar.

Tak! Tak Tak!

Tetesan air hujan akhirnya jatuh mengenai atap rumah Luki.

Semakin lama, hujan semakin lebat.

Luki melongok keluar jendela. Air hujan tampak mengalir dengan deras di jalanan. Untung Luki tinggal di bukit. Kalau tidak, mungkin rumahnya bisa kebanjiran.

“Semoga tidak terjadi banjir,” harap Luki.

Hujan masih turun sepanjang malam. Luki tertidur pulas tanpa tahu peristiwa besar telah terjadi di Desa Kelinci.

“Luki! Luki!”

Penulis: Dian Sukma Kuswardhani Ilustrator: Octaviaayoe

9 Pindai QR Code

untuk dengar Audiobook

(13)

11

10 Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia Wortel-Wortel Luki

Luki terbangun karena mendengar pintu rumahnya digedor. Ia segera turun dari tempat tidur dan membuka pintu.

“Ada apa?” tanya Luki sambil mengucek matanya.

“Desa Kelinci kebanjiran! Kepala desa meminta semua warga berkumpul di rumahnya,” ujar Lilo, tetangga yang menggedor rumahnya.

Luki bergegas keluar. Ia masih memakai piyama tidurnya. Ternyata yang ia khawatirkan benar-benar terjadi.

Luki terperangah melihat rumah-rumah di bawah bukit tergenang air seperti danau. Rumah-rumah warga desa hanya tampak cerobong asapnya.

Rumah kepala desa berada di kaki bukit. Rumah itu aman dari banjir. Warga Desa Kelinci yang rumahnya kebanjiran, berada di sana.

Untungnya, semua warga selamat. Mereka bisa menyelamatkan diri dengan cepat.

Kepala desa memutuskan untuk membangun rumah sementara untuk penampungan warga. Mereka akan mendirikannya di kebun kepala desa.

Tak hanya itu, kepala desa juga meminta semua warga Desa Kelinci mengumpulkan persediaan wortelnya.

“Kumpulkan semua wortel yang kalian punya! Nanti akan kita bagi sama rata. Kita harus bisa bertahan sampai musim panen yang akan datang,” kata kepala desa.

Lilo dan Jojo bertugas untuk mengumpulkan wortel-wortel itu. Warga kelinci yang rumahnya tidak kebanjiran kembali pulang untuk menyiapkan wortel mereka. Luki juga ikut pulang.

Sesampainya di rumah, Luki membuka lemari penyimpanan.

Ia memandang dua karung wortelnya dengan perasaan tidak rela.

Bagaimanapun wortel-wortel itu adalah hasil jerih payahnya. Apakah ia harus memberikan semuanya?

Luki mendengar pintunya diketuk. Gilirannya tiba. Luki akhirnya mengeluarkan sekarung wortel. Sekarung lainnya, ia biarkan di dalam lemari. Luki khawatir akan kehabisan wortel sebelum bisa menanamnya lagi.

“Ini semua wortel milikku,” katanya kepada Lilo. Suaranya sedikit bergetar karena gugup.

“Wah, banyak juga panenmu! Terima kasih, ya,” ucap Jojo sambil membantu Lilo mengangkat karung wortel ke gerobak. Luki hanya tersenyum.

Setelah semua wortel berhasil dikumpulkan dan dihitung, kepala desa memanggil warga Desa Kelinci. Warga desa datang sambil membawa keranjang seperti yang diminta oleh kepala desa. Anak-anak kelinci juga ikut datang. Semua mengantre dengan tertib. Luki juga ikut mengantre.

(14)

13 Wortel-Wortel Luki 12 Beriman, Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia

“Lihat, jumlahnya tidak seberapa. Bagaimana mungkin cukup untukku sampai musim panen berikutnya?” gumam Luki begitu tiba di rumah. Luki merasa menyimpan sebagian wortelnya merupakan keputusan yang tepat.

Meskipun memiliki sekarung wortel di lemari penyimpanan, Luki tetap memasak wortelnya sedikit demi sedikit. Ia mau menghabiskan wortel pemberian kepala desa terlebih dahulu.Setelah seminggu berlalu, banjir pun surut. Hujan mulai jarang turun. Warga Desa Kelinci pulang untuk memeriksa rumahnya. Sayangnya, rumah-rumah rusak parah. Banyak yang harus diperbaiki. Warga desa yang tinggal di bukit ikut turun tangan.

Luki pun tak ketinggalan. Ia membantu warga desa bersih-bersih. Sore harinya, Luki baru pulang ke rumah.

“Aduh, aku lapar! Enaknya masak apa, ya?” ucap Luki sambil memeriksa keranjang wortelnya.

“Ah, tinggal satu! Kecil lagi. Untung masih ada wortel di lemari,” kata Luki.

Luki hendak mengambil wortel yang disimpan dari dalam lemari.

Namun, ketika membuka lemari, Luki mencium bau tak sedap.

“Bau busuk apa ini?” gerutunya.

Luki tidak mengira kalau bau itu berasal dari karung wortelnya.

Karung wortel Luki basah. Ketika dikeluarkan, sebagian wortel membusuk dan ditumbuhi jamur.

“Hah! Kenapa bisa begini?” seru Luki panik.

Luki baru menyadari kalau atap di atas lemarinya bocor. Air hujan terus menetes dan merembes ke dalam lemari. Itulah yang menyebabkan karung basah dan wortel di dalamnya menjadi busuk.

Luki ingin menangis melihat wortel-wortelnya. Wortel busuk itu tidak bisa diapa- apakan lagi selain dibuang.

“Sayang sekali. Andaikan aku jujur memberikan semuanya, pasti wortel-wortel ini bisa lebih berguna,” sesalnya.

(15)

15

14 Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia Wortel-Wortel Luki

Rumah-rumah warga akhirnya selesai diperbaiki.

Mereka bersyukur bisa kembali ke rumah masing-masing.

“Luki!” terdengar panggilan dari luar.

Rupanya Bu Titi datang membawakan kue wortel. Bu Titi ingin berterima kasih karena Luki mengajak keluarganya makan bubur manis bersama.

Tak hanya Bu Titi, warga desa bergantian datang ke rumah Luki untuk mengantar makanan. Luki menerimanya dengan senang dan mata berkaca-kaca.

Ternyata kegembiraan saling berbagi rasanya semanis bubur wortel. Luki akan mengingat kebaikan itu di dalam hatinya. Dia berharap suatu hari nanti bisa membalasnya.

Namun, menyesal saja tentu juga tidak akan bisa mengembalikan wortel- wortelnya. Sekarang, dada Luki terasa sesak karena dipenuhi rasa bersalah.

Untungnya, tidak semua wortel membusuk. Wortel yang tidak terkena rembesan air hujan masih bisa dimakan. Luki memisahkan wortel-wortel itu.

Sore itu, Luki mengambil sedikit wortel dan menyimpannya dalam keranjang. Ia juga memasak sup wortel untuk makan malam. Luki sudah menyiapkan rencana untuk besok pagi.Keesokan harinya, menjelang makan siang, Lilo dan Jojo mencari Luki ke rumahnya.

Mereka heran karena Luki tidak kelihatan membantu memperbaiki rumah warga desa. Mereka mengira Luki kelelahan dan sakit.

“Wah, kalian datang tepat waktu! Ayo, bantu aku membawa ini!” pinta Luki.

Lilo dan Jojo terheran-heran melihat sepanci besar bubur wortel manis. “Mau dibawa ke mana?” tanya Lilo.

“Dibawa ke rumah kepala desa. Kita makan bersama. Kurasa bubur ini cukup banyak untuk makan siang warga desa,” ucap Luki.

Sebelum pergi, Luki mengaku kepada Lilo dan Jojo tentang wortelnya. Lilo dan Jojo bersedia memaafkan Luki. Menurut mereka, warga juga pasti bersedia memaafkan karena Luki sudah sadar dan berusaha menebus kesalahannya.

Lilo dan Jojo dengan sigap menyiapkan gerobak untuk mengangkut bubur buatan Luki. Tak ada warga desa yang menolak bubur wortel manis itu. Mereka menyantapnya dengan lahap dan gembira. Luki ikut senang melihatnya.

Hatinya pun merasa lega.

(16)

17 Kasuari dan Arbei Merah Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia

16

S

eharian ini, Sari si kasuari, mondar-mandir di depan sarangnya. Pagi tadi, Sari bertemu Dera si cenderawasih. Itu pertama kalinya mereka berjumpa. Sari sangat kagum dengan warna bulu Dera yang cantik. Warna bulu itu kecokelatan pada tubuh dan sayapnya, berpadu dengan hijau zamrud pada kepalanya, serta keemasan pada ekor dengan sedikit putih di ujungnya. Sari ingin sekali memiliki bulu yang berwarna-warni seperti itu.

Melihat Sari yang tampak gelisah, Mimbi si burung mambruk menegurnya, “Sari, kulihat kamu mondar-mandir saja dari tadi. Apa yang sedang kamu pikirkan?”

“Ah, sebenarnya aku ingin mengubah warna buluku, Mimbi.”

Mimbi terkejut mendengar alasan Sari. “Lho, ada apa dengan bulumu, Sari?”

“Aku ingin buluku berwarna-warni seperti bulu Dera.”

“Tapi bulumu itu unik, lho, Sari. Itu ciri khasmu.”

“Ah, kamu tidak bisa memahami perasaanku karena kamu juga cantik, Mimbi!” tukas Sari dengan nada sedikit ketus sambil berlalu.

Penulis: Yesi Devisa Ilustrator: Octaviaayoe

Pindai QR Code untuk dengar

Audiobook

(17)

Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia 19

18 Kasuari dan Arbei Merah

“Auuw, aduh! Sakit!!”

Sari meringis kesakitan. Kedua sayap Sari memeluk erat perutnya.

Bugi yang mendengar teriakan tersebut lantas turun dan mendekati Sari.

“Kamu kenapa, Sari?”

“Pe ... perutku sakit, Bugi!”

Bugi melihat sisa arbei merah yang dikumpulkan Sari berserakan di tanah. Bugi masih bertanya keheranan, “Kamu memakan buah arbei merah? Bukankah ini rasanya asam?”

Sari mengangguk pelan.

“Buah arbei merah ini belum matang sempurna, Sari. Rasanya asam sekali. Jika kamu makan dalam jumlah banyak, perutmu akan sakit dan itu tidak baik. Makanlah arbei yang berwarna kehitaman karena rasanya lebih manis,” jelas Bugi panjang lebar.

“Benarkah, Bugi? Aku pikir jika memakan buah yang berwarna merah, maka buluku akan berubah warna menjadi merah. Seperti tubuhmu yang berubah warna tadi,” ungkap Sari lirih.

“Hah! Mengubah warna bulu?” tanya Bugi semakin bingung dengan alasan Sari.

Kasuari itu mengangguk lesu karena masih menahan sakit perutnya.

“Emm ... Sari, tubuh kita diciptakan berbeda-beda dan istimewa.

Tuhan memberikan kita satu keistimewaan yang berbeda dengan yang lainnya.”

“Apa maksudnya, Bugi?” tanya Sari tak mengerti.

Bugi tersenyum. “Tuhan memberiku keistimewaan berubah warna saat tubuhku terkena cahaya matahari yang hangat atau akibat perubahan suhu. Selain itu tergantung dari suasana hatiku juga. Nah, ini sudah jadi keistimewaan bunglon sepertiku. Maka dari itu, kasuari sepertimu pasti diberi keistimewaan lain yang berbeda denganku. Coba lihat tubuhmu yang tinggi dan besar. Paruh serta kakimu juga kuat. Di Papua ini, hanya kamu satu-satunya burung yang memiliki cakar tiga dan berkuku tajam seperti belati. Bukankah itu keren?” jelasnya.

Sari menganggap Mimbi tidak akan pernah dapat memahami perasaannya karena Mimbi adalah seekor mambruk, burung merpati hutan yang cantik bermahkota dengan bulu berwarna seperti langit fajar yang biru keabu-abuan. Mimbi dan Dera sama cantiknya. Hal ini membuat Sari sedikit merasa iri hati. Sari berjalan menjauh sambil memikirkan cara mengubah warna bulunya. Di tengah jalan, ia melihat Bugi si bunglon yang sedang menaiki pohon arbei. Setibanya di atas, tubuh Bugi berubah menjadi warna oranye kemerahan.

“Ah, aku punya ide!” seru Sari dalam hati.

Sari bergegas mengumpulkan arbei yang berwarna merah sebanyak mungkin, lalu memakannya dengan tergesa-gesa.

Sesaat kemudian, Sari memuntahkan sebagian arbei di paruhnya. “Ehmm, asam!”

pekiknya.

Sari mengerjap-ngerjapkan matanya.

Namun, ia berusaha memaksakan diri untuk terus memakan hampir semua arbei itu.

Tiba-tiba …

(18)

Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia 21

20 Kasuari dan Arbei Merah

Sari mendengar penuturan Bugi dengan saksama dan menyadari bahwa ucapan Bugi benar. Dirinya istimewa. Dera si cenderawasih memang berbulu indah. Mimbi bermahkota cantik. Namun, ia juga tak kalah keren karena memiliki tubuh yang kuat dan gagah.

“Bugi, terima kasih atas ucapanmu. Kamu benar, Tuhan memberi keistimewaan yang berbeda-beda dan semuanya indah. Aku, kamu, Mimbi, Dera, dan yang lain memiliki keistimewaannya sendiri yang tak akan ditemukan pada hewan lainnya.”

“Iya, sama-sama, Sari. Kalau begitu, lekas pulang dan beristirahatlah.

Matahari akan tenggelam dan hari mulai petang. Ingat, jangan makan sembarangan lagi! Sayangi tubuhmu yang istimewa itu agar tidak sakit lagi, ya!” pesan Bugi.

“Baiklah, Bugi, akan kuingat nasihatmu. Aku pulang dulu, ya!” seru Sari bersungguh-sungguh.

Saat berjalan pulang, Sari teringat kembali ucapan Mimbi tentang warna bulunya yang khas. Ia menyesal telah bersikap acuh pada Mimbi.

Padahal Mimbi bermaksud baik dengan ucapannya.

“Besok pagi, aku harus menemui Mimbi untuk meminta maaf karena telah mengabaikannya,” gumam Sari.

Sari kembali ke sarangnya untuk beristirahat. Rasa sakit di perutnya berangsur-angsur berkurang. Hatinya tidak lagi gelisah dengan warna bulunya yang hitam legam. Kini, ia tahu letak keistimewaanya. Ia berjanji akan selalu menyayangi dirinya sendiri dan tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan seperti tadi. Malam ini, Sari tertidur sambil tersenyum menyelami indahnya mimpi.

(19)

22 Beriman, Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia Petualangan Peri Petty 23

S

uasana kampung peri pagi itu begitu ceria. Warga peri sangat bersuka cita. Mereka bersiap menyambut musim hujan yang menyegarkan. Namun, tidak dengan Peri Petty, dia tampak murung. Dia duduk dengan sedih menatap ibunya yang sakit. Sudah sebulan, ibunya terbaring di atas tempat tidur. Semua tabib di kampung peri sudah dia hubungi. Namun, keadaan ibunya belum juga membaik.

Peri Petty bertanya kepada Peri Nusi yang sangat jenius. Selain jenius, Peri Nusi juga terkenal memiliki banyak kawan yang juga pintar.

“Hai, Peri Nusi! Apa yang harus aku lakukan agar ibuku sembuh? Semua tabib di kampung peri ini sudah pernah aku datangi,” ucap Peri Petty.

Penulis: Atik Setyowati Ilustrator: Octaviaayoe

Pindai QR Code untuk dengar

Audiobook

(20)

Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia 25

24 Petualangan Peri Petty

“Pergilah ke gua cahaya di tengah hutan. Di sana, kamu akan bertemu dengan Peri Topu. Dia sangat ahli dalam hal pengobatan,”

nasihat Peri Nusi.Peri Petty bergegas menuju tengah hutan. Dia tidak peduli malam akan segera datang. Dia pun tak menghiraukan gelegar petir yang menyambar. Akhirnya, Peri Petty berhasil sampai di gua cahaya. Dia segera memasuki gua dan menyampaikan maksudnya.

“Wahai, Peri Topu! Berilah aku obat yang manjur untuk ibuku,”

ucap Peri Petty memohon.

“Alam telah menyediakan obatnya. Bawakan aku benda-benda ciptaan Tuhan.

Hanya dengan itu, aku baru bisa meramu obat untuk ibumu,” perintah Peri Topu.

“Benda ciptaan Tuhan? Apakah itu, wahai, Peri Topu?” tanya Peri Petty penasaran.

Peri Topu tidak menjawabnya. Peri Petty pulang sambil terus memikirkan pesan Peri Topu.

Keesokan harinya, Peri Petty pergi ke kios serba ada. Di sana, dia membeli sekarung macam-macam benda. Dia menyeret karung dengan susah payah.

“Wah, belanjaanmu banyak sekali! Sini aku bantu!” ucap Peri Nusi yang kebetulan lewat.

“Omong-omong, untuk apa kamu belanja sebanyak ini?”

“Peri Topu memintaku membawa benda-benda ciptaan Tuhan untuk membuat ramuan obat. Aku tak tahu mana yang ciptaan Tuhan, maka aku borong semua benda ini,” jelas Peri Petty.

Peri Nusi membuka karung milik Peri Petty.

“Oh, bukan! Bukan ini ciptaan Tuhan. Ini semua benda buatan bangsa peri. Bukan ciptaan Tuhan,” kata Peri Nusi sambil mengeluarkan satu per satu benda dari dalam karung.

“Cangkir, piring, sendok, pigura, vas bunga, boneka ... ini semua buatan peri.”

“Jadi, ini bukan ciptaan Tuhan?” Peri Petty mengernyit bingung.

“Coba kamu pikirkan benda yang bangsa peri tidak sanggup membuatnya,” jelas Peri Nusi.Peri Petty tampak berusaha keras berpikir.

“Ah, hujan ... air! Para peri tidak bisa membuat air. Jika air sungai kering, mereka kebingungan mencari sumber air lain,” tebak Peri Petty girang.

“Tepat sekali! Selain itu, apa lagi?”

Peri Petty tampak berpikir lagi, lalu tersenyum dan bergegas pergi.

“Terima kasih, Peri Nusi!” teriaknya sambil terbang meninggalkan Peri Nusi.Peri Petty pergi ke sungai untuk mengambil air. Namun, tiba-tiba, dia terkena cipratan air. Air yang mengalir deras menghantam bebatuan di depannya. Cipratannya membuat sayap Peri Petty menjadi kuyup. Dia menjadi lemah dan tidak bisa terbang sebelum sayapnya kering.

(21)

Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia 27

26 Petualangan Peri Petty

Peri Petty berdiri di pinggir sungai. Tangannya menggapai air yang mengalir deras di depannya. Ups! Dia hampir terpeleset. Untung dia sempat berpegangan pada akar pepohonan. Setelah berusaha cukup keras, akhirnya sebotol air berhasil diambilnya.

Di tepi sungai, Peri Petty hendak mengambil sebongkah batu hitam.

Batu itu sangatlah berat.

“Aku akan berjalan dan ikut denganmu, tapi ada syaratnya,” ucap batu hitam itu tiba-tiba. “Ceritakan kepada bangsa peri agar membangun rumah dengan menggunakan teman- temanku. Mereka sangat senang jika berguna,” lanjutnya.

Peri Petty mengangguk menyetujui syarat batu hitam itu. Batu hitam pun mengikuti ke mana pun Peri Petty pergi.Peri Petty terbang ke pucuk pohon. Dia hendak memetik daun-daunnya. Tiba-tiba ... plak! Sebuah hantaman kuat mengenai tubuhnya.

“Jangan petik daunku!” geram pohon itu marah.

“Sudilah engkau berbagi sedikit daunmu, wahai, Pohon. Aku sangat membutuhkannya untuk obat ibuku,” pinta Peri Petty mengiba.

Mendengar cerita Peri Petty, pohon itu pun mengizinkannya memetik beberapa daun. Dia juga menghadiahkan beberapa buahnya untuk ibu Peri Petty.

Peri Petty terbang lebih tinggi ke langit. Di sana, dia bertemu pelangi.

Dia meminta pelangi ikut dengannya untuk membantu pengobatan ibunya.

Pelangi yang baik hati dengan senang menolong Peri Petty. Setelah itu, Peri Petty terbang ke tengah hutan untuk menemui Peri Topu. Dia berpapasan dengan seekor burung. Dia pun menggandeng sayap burung agar terbang bersamanya.

“Wahai, Peri Topu! Aku sudah membawa benda-benda ciptaan Tuhan yang kamu minta. Tolong buatkan ramuan obat untuk ibuku,” pinta Peri Petty, setelah tiba di gua cahaya dan bertemu Peri Topu.

“Keluarkan benda-benda itu!” perintah Peri Topu.

(22)

29 Petualangan Peri Petty Beriman, Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia

28

Peri Petty segera mengeluarkan air, batu, pelangi, daun-daun, buah-buahan, dan burung. Peri Topu menumbuk daun-daun dengan batu. Daun yang sudah lumat ditambahkan air dan dimasukkan ke gulungan pelangi. Kedua ujung pelangi kemudian dipuntir. Jadilah ramuan permen pelangi yang sangat manjur. Buah-buahan diambil dagingnya, sedangkan biji-bijinya harus ditanam di sekitar rumah.

Burung harus dilepas dan dibiarkan terbang bebas.

“Bawalah pulang ramuan permen pelangi ini. Daging buah harus dimakan setiap pagi dan sore. Biarkanlah burung ini terbang bebas dan taburlah benih buah ini di sekitar rumahmu,” begitu pesan Peri Topu.

Peri Petty mengucapkan terima kasih dan berpamitan kepada Peri Topu.

Sesampai di rumah, Peri Petty segera memberikan ramuan permen pelangi kepada ibunya. Tak lupa, dia menanam biji-biji di sekitar rumah dan melepaskan

burung yang kemarin ditangkapnya. Peri Petty juga rutin mengingatkan ibunya agar memakan buah.

Benih yang ditanam Peri Petty pun mulai tumbuh, tumbuh, dan tumbuh. Bersamaan dengan itu, kesehatan ibu Peri Petty berangsur pulih. Pohon-pohon buah yang rindang menghadirkan kesejukan. Burung yang dahulu dilepaskan Peri Petty bersarang di pepohonan itu dan berkicau setiap pagi.

Ibu Peri Petty sangat menyukai udara segar dan nyanyian burung di sekitar rumahnya. Kini, dia sudah bisa beraktivitas seperti sediakala. Peri Petty sangat bahagia melihat ibunya kembali sehat. Dia pun mengucap syukur kepada Tuhan yang menciptakan alam yang indah dan banyak manfaat.

(23)

Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia 31

30 Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia Petualangan Tukik

30

H

iks! Hiks! Hiks!” Terdengar suara Tukik si bayi penyu menangis di tengah laut yang begitu dalam dan luas.

Ia baru saja dilepaskan dari tempat penangkaran penyu.

“Di mana, ya, teman-temanku berada?”

Tukik berenang ke sana kemari tanpa kenal lelah meski sesekali ia menangis dalam kesendirian. Di tengah perjalanan, Tukik bertemu dengan sepasang kuda laut.

“Permisi, Pak, Bu. Apakah kalian melihat teman-temanku?” tanya Tukik dengan sopan.

“Maaf, kami tidak melihatnya.” jawab sepasang kuda laut.

Mereka merasa kasihan kepada Tukik yang terlihat begitu lelah dan sedih. Mereka pun mempersilakan Tukik untuk beristirahat di rumah mereka.

Sepasang kuda laut itu melakukan beberapa pertunjukan untuk menghibur Tukik. Mereka mendorong tubuhnya ke depan dengan bantuan tenaga dari getaran sirip mungil di punggung yang mampu bergetar hingga 35 kali per detik.

Penulis: Rizki Dwi Ilustrator: Octaviaayu

Pindai QR Code untuk dengar

Audiobook

(24)

Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia 33

32 Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia Petualangan Tukik

32

Bahkan mereka juga menunjukkan kemampuannya untuk mengubah corak tubuh sesuai dengan lingkungan sekitar. Mereka tampak seperti tumbuhan laut. Biasanya mereka melakukannya untuk menghindari dan mengelabui predator yang bermaksud memakan mereka.

“Wooow... itu sangat menakjubkan, Pak Kuda Laut!”

puji Tukik.

Tukik sangat senang dan merasa terhibur. Tiba-tiba ada kuda laut lain menghampiri dan saling memberi salam. Mereka mengubah warna tubuhnya sesaat atau mengeluarkan suara “klik-klik” yang dihasilkan oleh rahang mereka. Ini adalah cara kuda laut untuk saling sapa ketika mereka bertemu. Ternyata kuda laut adalah hewan yang sangat sopan.

“Pak Kuda Laut, kenapa perutmu tampak lebih besar dari Bu Kuda Laut?” tanya Tukik.

“Oh, perutku, ya? Perutku ini isinya telur dan akan menjadi bayi kuda laut setelah menetas nanti,” jawab Pak

Kuda Laut. Dia bertugas mengerami telur-telur tersebut hingga akhirnya menetas dan keluar dari dalam perutnya. Telur-telur itu harus dijaga dan dilindungi dengan baik.

Saat ini, kuda laut sangat sulit untuk ditemui.

Jumlah kuda laut semakin sedikit dan terancam punah. Perubahan lingkungan habitatnya, pencemaran lingkungan, dan penangkapan yang berlebihan untuk dijual yang menjadi

penyebabnya. Kuda laut pun semakin sulit untuk bertahan hidup dan berkembang biak.

Tak terasa malam pun tiba. Sepasang kuda laut mempersilakan Tukik untuk menginap di rumah mereka. Perjalanan malam hari tentu membahayakan untuk penyu kecil. Hari ini, Tukik tak lagi bersedih dan merasa bahagia.

Sinar matahari pagi telah menembus dalamnya lautan. Tukik bangun dari tidurnya. Ia ingin berpamitan dan berterima kasih kepada sepasang kuda laut yang baik hati. Tak hanya menghiburnya, tapi juga membiarkannya untuk tinggal semalam.

Tukik kembali melanjutkan petualangan mencari teman-temannya.

Perjalanan yang begitu panjang telah dilalui Tukik.

“Hap! Nyam, nyam, nyam! Ini sangat lezat!” Tukik melahap ubur-ubur makanan favoritnya.

Ubur-ubur keempat dilahapnya, tapi terasa berbeda. Ternyata Tukik hampir menelan plastik bening yang menyerupai

ubur-ubur.

Sampah plastik sangat banyak ditemui di lautan. Laut jadi tercemar. Banyak hewan laut yang mati, termasuk penyu.

Penyu seringkali mengira bahwa plastik adalah ubur-ubur.

Di tengah perjalanan, Tukik melihat sesuatu yang sangat besar berenang di atasnya. Mata Tukik tertuju padanya dan terkagum-kagum dibuatnya. Ia terlihat seperti burung elang yang terbang di lautan.

(25)

Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia 35

34 Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia Petualangan Tukik

34

Apakah ada burung yang dapat berenang di laut? Tukik bertanya-tanya dalam hati, dan tanpa sadar terus mengikutinya.

Hewan itu sadar ada yang mengikutinya dan berbalik ke arah Tukik.

“Hai! Halo, Penyu Kecil!”

“Iya, Pak. Halo! Apakah Bapak juga seekor ikan? Kenapa Bapak seperti memiliki sayap?” tanya Tukik penasaran.

“Hahaha ... aku juga termasuk jenis ikan. Aku biasa dipanggil ikan pari manta.”

Rasa penasaran Tukik akhirnya terjawab.

Tubuh pari manta sangat besar mencapai tujuh meter. Memiliki sirip dada berbentuk segitiga, sirip kepala berbentuk tanduk, dan mulut besar yang menghadap ke depan. Makanan utamanya plankton.

Pari manta bisa melompat keluar dari air. Tubuhnya yang besar menarik perhatian saat sedang melakukan lompatan.

Pari manta dan Tukik terus berbincang dengan asyik. Tukik juga bercerita mengenai petualangannya mencari kawanan penyu. Pari manta menawarkan tumpangan pada Tukik agar dapat berenang lebih cepat. Kebetulan, pari manta pernah melihat segerombolan penyu ketika berenang bebas di laut lepas.

Pari manta juga bercerita bahwa dari hari ke hari penyu semakin jarang terlihat. Ia memperingatkan Tukik untuk terus berhati-hati dan harus pandai menjaga diri. Banyak manusia yang melakukan pemburuan penyu untuk mengambil karapas dan memakan daging serta telurnya.

Selain itu banyak hal yang membuat penyu semakin terancam punah termasuk perubahan iklim, hilangnya habitat untuk tempat tinggal, dan pencemaran lingkungan.

Setelah berenang begitu jauh bersama pari manta, Tukik menemukan kawanannya. Ia sangat bahagia karena kini tidak sendiri lagi. Banyak sekali pelajaran berharga dalam petualangannya kali ini. Tukik berharap manusia tidak lagi membuang sampah di laut serta mau menjaga dan melindungi seluruh penghuni laut.

(26)

Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia Pohon Kesayangan Momo 37 36

(27)

39 Pakai Apa Ya?

Berkebinekaan Global 38

T

ing Tong! Bel di rumah Lovi berbunyi.

Lovi si lovebird kecil berbulu kuning yang lucu, segera berlari membuka pintu. Ada Pak Merpati Putih yang mengantar surat.

“Surat untuk Lovi,” kata Pak Merpati Putih.

“Terima kasih, Pak Merpati,” ucap Lovi.

Pak Merpati Putih tersenyum dan kembali terbang.

Lovi penasaran. Ia segera membuka suratnya. Ternyata surat undangan pesta dari Putri Elang, putri Kerajaan Elang. Lovi menari-nari senang.

Putri Elang mengadakan pesta besok malam dan mengundang seluruh burung di hutan. Akan ada kejutan spesial untuk burung tercantik.

Lovi begitu bersemangat. Ia segera masuk kamar. Ia bingung melihat dirinya di cermin. Ia ingin menjadi burung tercantik dan menarik perhatian. Akan tetapi, bagaimana caranya?

Lovi mengingat kembali sosok Putri Elang, seekor elang jawa yang memiliki jambul indah seperti mahkota.

Penulis: Fenty Windyanurkarina Ilustrator: Octaviaayoe

Pindai QR Code untuk dengar

Audiobook

(28)

40 Berkebinekaan Global Pakai Apa Ya? 41

“Apa aku harus menyisir bulu kepalaku ke atas agar terlihat seperti jambul Putri Elang?” gumamnya sambil menyisir bulu kepalanya ke atas, namun, ia tampak konyol. Ia jadi tertawa terpingkal-pingkal, menertawakan diri.

Apa menyisir bulu kepala hingga seperti Rara si merpati mahkota biru? Lovi menyisir bulu kepalanya sedemikian rupa sehingga mirip seperti mahkota Rara.

“Ah, tidak! Ini kurang cocok!” Lovi mengacak-acak bulu kepalanya.

“Lupakan bulu kepala, mungkin aku harus menghias mataku agar terlihat cantik. Aku akan memberi warna biru seperti Sari si jalak bali. Warna biru di sekitar matanya membuatnya terlihat cantik,” pikir Lovi.

Selesai menghias mata, Lovi tersenyum puas. Ia lantas mengamati sayapnya, “Seperti ada yang kurang,” gumamnya lagi.

Lovi membuka isi lemarinya mencari sesuatu yang bisa dikenakan untuk pesta. Ada jubah hijau indah yang biasa dipakai untuk terbang jauh. Ada syal merah muda yang biasa dipakainya saat cuaca dingin.

Ada beberapa pernak-pernik aksesoris.

Wajah Lovi langsung cemberut. Ia tidak punya sesuatu yang spesial, yang bisa membuatnya menjadi lebih cantik dari burung-burung lain.

Ia mengamati dirinya di cermin.

“Andai aku secantik Mery si merak, Cece si cendrawasih, atau seanggun Bubu si bangau, pasti tidak perlu serepot ini. Tidak berdandan saja sudah cantik,” sungut Lovi dalam hati.

Lovi kembali mematung di depan cermin. Cukup lama. Ah, walaupun mereka cantik, mungkin yang akan menarik perhatian Putri Elang ialah Ara si murai batu!

Selain ekornya indah, ia sangat pandai menyanyi. Atau mungkin, Rangkong si enggang? Keindahan paruhnya tidak ada yang bisa menandingi. Lovi terus membandingkan-band- ingkan teman-temannya.

“Aku bingung! Aku harus pakai apa untuk menandingi mereka?!” Lovi berteriak kesal. Ia kembali melihat isi lemarinya. Mengambil jubah hijaunya dan membuat gambar mata bulu merak dengan cat putih. Ia memotong karton dan membuatnya seperti paruh Rangkong lalu mengikat tongkat ke kakinya agar tampak anggun seperti Bubu. Ia mencoba menyanyi seperti Ara. Ia benar-benar begitu sibuk meniru burung lain.

Menjelang malam, Mama Lovi memanggil Lovi dengan lantang, “Waktunya makan malam!”

Tidak ada jawaban dari kamar Lovi, selain suara nyanyiannya yang parau. Mama jadi penasaran. Ia mengetuk pintu kamar Lovi dan membukanya perlahan, “Lovi! Kamu sedang apa?” tanyanya kaget.

Lovi menghentikan nyanyiannya dan menoleh ke arah mamanya.

Melihat penampilan Lovi, Mama ingin tertawa, tetapi ia menahannya.

“Mama, jangan tertawa!” kata Lovi dengan wajah terlihat marah.

“Kamu ini sedang apa? Mau ikut karnaval?” tanya Mama beberapa saat kemudian.

(29)

42 Berkebinekaan Global Pakai Apa Ya? 43

“Bukan, Ma! Aku mau ke pesta Putri Elang besok malam,” jawab Lovi pelan. “Apa aku sudah terlihat cantik?”

Mama Lovi menarik napas pelan. Ia tidak mengenal Lovi karena telah mengubah penampilan. Sayap seperti merak, kaki seperti bangau, mata dan jambul seperti jalak bali. “Nak, kamu ini sebenarnya siapa?”

tanyanya kemudian.

“Aku …, aku lovebird.”

“Kalau kamu lovebird, jadilah lovebird. Anak Mama yang imut dan lucu. Anak Mama yang paling berharga di dunia dan tiada duanya.

Bukan jadi burung lain.”

Lovi terdiam seribu bahasa mendengar kalimat Mama. Matanya terlihat mulai berkaca-kaca. Sebelum Mama melihatnya, ia segera memeluk Mama sambil mengucapkan terima kasih.

Malam pesta telah tiba. Putri Elang membuat pesta yang meriah dan penuh dengan cahaya. Burung-burung yang datang berkumpul dengan bahagia.

Lovi datang mengenakan pita cantik di lehernya. Samar-samar terdengar suara merdu nyanyian Ara di atas panggung. Terlihat Mery sibuk berfoto-foto dengan burung-burung lain. Putri Elang pun tak kalah cantik dengan jubah kerajaannya.

Saat semua burung sedang menikmati pesta, Putri Elang berseru,

“Wahai semua burung penghuni hutan! Kini saatnya pemberian penghargaan bagi burung tercantik malam ini.”

Semua burung bertepuk tangan dengan semangat. Mereka tampak sibuk merapikan penampilan. Lovi berbesar hati untuk tidak mengharapkan apapun malam ini.

“Burung tercantik malam ini adalah Mery!” seru Putri Elang. Mery si merak berjalan ke atas panggung dengan bangga. Semua burung sepertinya sudah menduga.

Tidak hanya sampai di sana ternyata karena Putri Elang punya kejutan lain.

“Selain penghargaan Burung Tercantik, ada penghargaan lain untuk kalian,” seru Putri Elang sambil tersenyum lebar.

Burung dengan Paruh Tercantik diberikan kepada Rangkong!

Mata Tercantik diberikan kepada Sari! Putri Elang terus memanggil semua burung dan memberi penghargaan sesuai dengan kelebihan masing-masing. Semua burung yang hadir di pesta terharu dan bahagia, bahkan Riri si kasuari diberi penghargaan sebagai Burung Tercantik di Daratan.

Hingga akhirnya Putri Elang berseru, “Burung Kecil Tercantik karena kelucuannya, diberikan kepada Lovi!”

Lovi terkejut bukan main. Ia segera terbang menerima penghargaan dari Putri Elang dengan penuh haru.

Sungguh, malam itu menjadi malam terindah bagi semua burung di hutan, termasuk bagi Lovi, si lovebird yang lucu dan imut seperti kamu!

(30)

Berkebinekaan Global

44 Asal-Usul Siamang 45

D

ahulu kala, ada sebuah kerajaan di Sumatra bernama Hatorusanta yang dipimpin seorang raja bernama Hatora.

Raja Hatora punya anak tunggal bernama Mangaraja.

Sejak kecil Mangaraja sudah dipersiapkan menjadi seorang raja yang adil dan bijaksana. Dia ditempa menjadi laki-laki yang kuat, gagah, dan berani. Dia pun kini terampil menunggang kuda, lihai menggunakan pedang, jago memanah, dan ahli menombak.

Wajahnya yang tampan, tubuhnya yang tinggi, tegap, dan kekar membuat rakyat mengaguminya. Setiap kali pergi bersama hulubalang dan pasukan raja mengunjungi desa, rakyat ingin berlama-lama menatapnya. Hanya saja, ada satu hal yang membuat rakyat gusar. Mangaraja kurang bisa menjaga sikap dan kurang bisa menghargai orang lain. Seperti saat ini, saat mengunjungi Desa Porsia.

Penulis: Sumni To Ilustrator: Octaviaayoe

Pindai QR Code untuk dengar

Audiobook

(31)

47

46 Berkebinekaan Global Asal-Usul Siamang

Rombongan raja disambut dengan tari-tarian. Tarian lincah diiringi musik gendang. Kaki-kaki penari menghentak dan tubuh meliuk mengikuti irama. Mangaraja yang belum pernah melihat tarian itu, tertawa terbahak-bahak dan ikut melompat-lompat dengan gerakan yang tidak beraturan. Hulubalang raja terpaksa menarik Mangaraja agar duduk tenang di samping raja.

“Tarian jelek!” umpat Mangaraja sambil tertawa keras.

Penduduk desa saling pandang. Mereka terkejut sekaligus marah mendengar umpatan Mangaraja. Walau begitu, mereka masih menahan diri. Mereka menjamu rombongan raja. Ibu-ibu sibuk menghidangkan makanan. Wajah penduduk kembali sumringah setelah melihat mangkuk di hadapan mereka. Semangkuk mi yang bentuknya agak gemuk dengan kuah santan kuning beraroma rempah menggenangi mangkuk.

“Apa ini?” tanya Mangaraja saat semangkuk mi dihidangkan kepadanya. Ekspresi jijik tergambar di wajahnya.

Mangkuk itu akan ditarik kembali, tetapi Mangaraja mencegahnya.

Semua makan dengan nikmat. Rasa pedas yang menggigit membuat lidah mereka mendesis puas.

“Rasanya enak. Makanlah, Amang,” kata Raja kepada Mangaraja.

Amang adalah panggilan sayang dari orang tua kepada anaknya.

“Menjijikkan. Seperti gerombolan cacing yang sedang berenang,”

ucap Mangaraja. Dia mengabaikannya. Dia hanya memakan pisang yang tersajikan.

Di istana, makanan sehari-hari Mangaraja adalah buah, daging, telur, dan ikan laut. Kata mantri kesehatan istana, makanan yang banyak protein yang bisa membuat tubuh Mangaraja tinggi dan kekar.

Kemudian, Desa Salahi menjadi tujuan berikutnya. Letak Desa Salahi persis di tepi danau besar. Pemimpin desa yang disebut Datu Bolon bersama penduduk, menyambut rombongan raja. Mereka mengenakan jubah berbulu hitam dan mengikat kepala dari kain tenun.

“Pakaian apa yang kalian kenakan? Kalian tidak menghormati raja dengan memakai pakaian jelek seperti itu?” bentak Mangaraja tanpa mempertimbangkan perasaan orang-orang desa.

“Jaga bicaramu, Amang. Mereka memakai pakaian adat mereka untuk menghormati raja,” ujar ayahanda Raja.

Desa Salahi juga melakukan jamuan makan. Ikan mujair menjadi hidangan utama. Ikan mujair banyak di danau. Ikan mujair utuh diletakkan seperti berenang di atas nasi dengan menggunakan piring bulat yang lebar. Mujair yang kehitamanan berubah menjadi kekuningan karena berbalur bumbu.

“Ueeek! Menjijikan!” Perut Mangaraja mulas. Dia hampir muntah. Dia lantas menggerutu sedemikian rupa karena tidak suka dengan makanan yang dihidangkan.

Datu Bolon terkejut mendengar gerutuan Mangaraja. Senyum yang sedari tadi tersungging di bibirnya, lenyap seketika. Datu Bolon menatap Raja Hatorusanta seakan menuntut penjelasan atas sikap Mangaraja.

(32)

49 Berkebinekaan Global

48 Asal-Usul Siamang

Raja tidak berkata apa-apa. Di dalam hati, Raja menyesali tingkah laku Mangaraja. Lagi-lagi Mangaraja hanya makan pisang untuk mengganjal perutnya yang lapar. Tujuan berikutnya adalah Desa Sampuren. Sebenarnya, Hulubalang sudah meminta raja menunda kunjungan, namun raja tetap pada rencana. Penduduk menyambut raja dengan alunan lagu. Lagu disertai tarian yang gerakannya menggeliat bagai ular membuat Mangaraja terbahak-bahak.

Wajah penduduk sangat tidak senang melihat tawa Mangaraja. Itu bukan tawa pujian, itu tawa ejekan. Mereka pun tersinggung.

Raja menahan murka melihat perilaku putranya. Raja melatih Mangaraja berbagai keterampilan, tetapi lupa mengajarkan cara bersikap yang baik dan menghargai orang lain.

“Tolong jaga sikapmu, Amang. Ini adalah lagu dan tarian kebanggaan desa ini,” pinta Raja pelan.

Mangaraja menutup mulut dengan mimik wajah menahan tawa.

Datu Bolon Desa Sampuren sangat murung melihat tingkah Mangaraja. “Raja terkenal bijaksana. Raja bisa menyatukan kerajaan meski setiap desa memiliki budaya yang berbeda,” bisiknya kepada Raja.

“Tentu, perbedaan bukan penghalang untuk bersatu,” sabda sang raja.

“Bagaimana dengan Mangaraja?

Dia akan menghancurkan persatuan itu,” sambung Datu Bolon. Datu Bolon kemudian berdiri di hadapan rombongan raja dan penduduk desa. “Mangaraja, mendekatlah,” pintanya kemudian.

Raja heran sekaligus cemas. Raja tahu, Datu Bolon Desa Sampuren orang yang sakti. Mangaraja mendekati Datu Bolon dengan percaya diri.

“Mangaraja, Kerajaan Hatorusanta memiliki banyak desa. Setiap desa memiliki makanan khas, tarian, nyanyian, dan pakaian adat yang berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan itu bisa menyatu dalam kepemimpinan seorang Raja. Mengapa?” tanya Datu Bolon sambil berjalan mengelilingi Mangaraja.

“Tentu karena ayahku raja yang bijaksana. Ha! Ha! Ha!” Mangaraja menjawab bangga disertai tawa lebar.

Datu Bolon mengangguk. “Kebijaksanaan Raja hadir karena menerima dan menghargai setiap perbedaan yang ada. Apakah kau seperti itu?”

Datu Bolon menghentakkan tongkatnya ke lantai.

Mangaraja mengangkat bahu lalu kembali ke tempatnya. Dia mengabaikan Datu Bolon yang masih hendak melanjutkan ucapannya.

Datu Bolon semakin geram. Wajah Raja Hatorusanta semakin cemas.

Datu Bolon memendam angkara murka. Sama seperti Desa lainnya, rombongan raja dijamu dengan hidangan istimewa. Bubur kuning bercampur petai menjadi sajian utama. Mangaraja bergidik melihat hidangan itu.

“Ihhh, bau sekali!” protesnya sambil menutup hidung.

Makanan lain pun disajikan. Kue beras berbentuk kepalan tangan.

Kue polu-polu namanya. Mangaraja mengendus kue itu, kemudian melemparnya ke tanah.

(33)

51 Asal-Usul Siamang Berkebinekaan Global

50

Datu Bolon membelalak. “Laaraiii bebbebebaba luuuu birong bulu bulu ambebbe karrmamanan!”

suara Datu bolon menggelegar meneriakkan mantera.

Matanya merah. Tangan kanannya yang memegang tongkat, mengacung ke arah Mangaraja.

Tiba-tiba, kepulan asap menyelimuti Mangaraja.

Petir sambar menyambar di langit. Ketika kepulan asap menghilang, Mangaraja ikut menghilang. Tepat di tempat berdirinya Mangaraja kini terlihat seekor kera besar berbulu hitam, berlengan panjang dengan kantung suara di leher.

“Ouuu! Ouuu!”

Kera itu bersuara seraya mengamati tubuhnya.

Kera berlari menuju raja untuk meminta bantuan.

Beberapa orang penduduk menghalangi, bahkan berupaya menangkapnya. Kera panik dan berlari menuju hutan.

Raja ditemani pengawal berupaya mengejar sambil berteriak, “Aman! Amang! Kembali Amang!”

katanya dengan sedih.

Mangaraja lenyap masuk ke hutan. Ia masih terus menjerit, ”Ouuu! Ouuu!”

Raja memerintahkan hubulabalang mengejar Kera. Walau suara kera itu sering terdengar tetapi wujudnya tidak ditemukan. Sejak saat itu, apabila penduduk kerajaan Hatorusanta mendengar jeritan kera, mereka menyebutnya jeritan siamang.

(34)

53 Aturan Si Raja Hutan Berkebinekaan Global

52

Penulis: Barbara Eni Ilustrator: Octaviaayoe

R

aja Hutan membeli berkaleng-kaleng cat. Cat warna cokelat. Untuk apa? Semua binatang di hutan bertanya-tanya.

“Pakailah untuk mengecat tubuh kalian!” begitu perintah Singa, si Raja Hutan.

Raja Hutan ingin semua binatang mempunyai warna tubuh yang sama dengannya. Karena itu, Raja Hutan membagikan satu kaleng cat untuk setiap binatang.

Para binatang saling pandang keheranan. Tidak ada satu pun yang berani membantah perintah si Raja Hutan.

Karena takut, para binatang bergegas pulang membawa sekaleng cat. Kemudian, mereka saling bantu mengecat

tubuh masing-masing.

Sekarang semua binatang di dalam hutan itu memiliki warna yang sama dengan si Raja Hutan.

“Bagus... bagus...,” kata Singa sambil mengangguk- anggukkan kepala. Ia bertepuk tangan dengan

bangga. Tidak ada satu pun binatang yang boleh memiliki warna berbeda dengan Singa.

Lihatlah akibatnya!

Pindai QR Code untuk dengar

Audiobook

(35)

55 Aturan Si Raja Hutan 54 Berkebinekaan Global

Bunglon menahan diri untuk tidak mendekati dedaunan. Ia takut warna kulitnya berubah menjadi hijau yang berakibat dimarahi Singa.

Kuda dan Zebra malah sering dikira binatang yang sama. Mereka sering dipanggil terbalik.

Kuda Nil dan Buaya tidak berani berlama-lama berendam di dalam air. Mereka takut cat cokelatnya cepat luntur. Kalau minta cat lagi, khawatir dimarahi Singa.

Semua binatang menjadi tidak nyaman. Sayangnya, tidak ada satu pun yang berani menyampaikan keluh kesahnya kepada Singa.

Sampai pada suatu hari, para binatang dipanggil untuk berkumpul.

Seisi hutan berharap Singa mengizinkan mereka mengembalikan warna tubuhnya. Akan tetapi, …

***

“Pakailah ini untuk menyisir rambut kalian!” begitu perintah Singa.

Para binatang terkejut ketika dibagikan sisir kayu. Ini perintah baru Singa. Mereka harus menyisir rambut supaya modelnya sama dengan rambut Singa yang megar mengembang. Mana bisa?

Namun, tidak ada satu pun binatang yang berani membantah perintah Singa. Karena takut, para binatang itu menurut saja. Mereka pulang dan saling bantu menyisir

agar rambut mereka mirip dengan rambut Singa.

Para binatang sekuat tenaga mencoba. Kuda dan Zebra paling mendingan. Rambutnya masih bisa dibentuk seperti rambut Singa. Namun, beberapa binatang yang berambut pendek hampir menangis karena kesulitan mengaturnya.

Gajah memohon kepada Kuda agar diberi sedikit rambut ekornya. Rambut ekor kuda itu ditempelkan di kepala Gajah dengan lem dari tepung tapioka. Buaya dan Kuda Nil ikut-ikutan. Ular sampai malu sendiri melihat pantulan kepalanya ditempeli rambut palsu.

“Bagus ... bagus ...,” kata Singa mengangguk- anggukkan kepala. Ia bertepuk tangan sambil tertawa.

Bagaimana tidak? Semua binatang terlihat lucu dengan rambut yang dibuat semirip mungkin dengan rambutnya.

Lihatlah akibatnya!

(36)

57

56 Berkebinekaan Global Aturan Si Raja Hutan

Kuda Nil dan Buaya semakin tidak berani masuk kolam. Mereka takut rambut tempelannya lepas kena air. Ular kesakitan saat melata karena rambut palsunya sangat kaku. Beruang terlihat tidak garang lagi dengan rambut yang megar. Musang merasa seperti badut karena semua binatang selalu tertawa setiap melihatnya lewat.

Semua binatang menjadi sangat tidak nyaman. Sayangnya, masih saja tidak ada yang berani menyampaikan keluh kesahnya kepada Singa.

Sampai pada suatu hari, para binatang kembali dipanggil. Seisi hutan berharap Singa mengizinkan mereka untuk mengembalikan warna tubuh dan bentuk rambut kepalanya.

Ternyata …

“Mengaumlah seperti aku!” begitu perintah Singa.

Para binatang terkejut dan sebagian hampir pingsan. Ini perintah yang aneh dari si Raja Hutan. Bagaimana caranya agar para binatang bisa mengaum seperti Singa?

“Berlatihlah setiap saat,” Singa memberikan saran.

Seperti biasa, semua binatang hanya diam. Tidak ada satu yang berani membantah. Mereka pulang dan mulai latihan mengaum.

Beribu kali para binatang berlatih, tak sekali pun suara auman keluar dari mulut mereka. Ayam betina sampai tercekik dan terus saja mengeluarkan bunyi petok, petok. Kuda menendang-nendang batang pohon karena jengkel terus meringkik. Katak sampai menangis berguling-guling karena aumannya hanya kung kong kung kong.

Semua binatang menjadi sangat menderita. Tetap saja tidak ada yang berani menyampaikan keluh kesahnya kepada Singa. Akhirnya mereka memilih diam dan bersembunyi. Sebab, tidak ada satu pun yang bisa mengaum seperti Singa.

Tidak ada lagi ayam jantan yang berkokok membangunkan seisi penghuni hutan. Tidak ada lagi burung beraneka warna yang berkicau riang di pagi hari. Tidak ada lagi senda gurau para binatang. Hutan pun jadi sunyi senyap seperti tanpa penghuni.

Singa heran, semua binatang pergi ke mana?

Karena penasaran, Singa bangkit dan berjalan berkeliling. Ia berharap bertemu seekor binatang dan ingin menanyakan penyebabnya.

Namun, sampai matahari hampir tenggelam, tak satu pun binatang yang ia temui. Semua rumah binatang tertutup rapat pintu dan jendelanya.

Saat hendak kembali pulang, Singa terpeleset di jembatan bambu. Ia terjatuh ke sungai dangkal yang penuh lumpur. Pantatnya sakit karena jatuh terduduk.

Singa melihat pantulan tubuhnya di air sungai yang keruh. Warna tubuhnya jadi hitam kelabu kena lumpur, persis seperti warna tubuh Kerbau. Rambut megarnya yang indah jadi basah dan lepek, mirip surai kuda yang keringatan karena kerja keras. Aumannya yang biasanya keras, kini melemah seperti suara binatang-binatang kecil. Ia merasa menjadi binatang paling menderita di hutan ini.

Singa mengingat perintah-perintahnya kemarin pada para binatang.

Mungkinkah mereka sedih dan menderita gara-gara dirinya? Wah, Singa jadi malu sendiri.

Singa langsung berdiri dan berlari menuju lapangan di tengah hutan.

Ia mengaum sekuat tenaga, memanggil semua binatang untuk berkumpul di sana. Tentu saja, kali ini ia mau membuat para binatang kembali bahagia.

(37)

59 Perjalanan Upi Berkebinekaan Global

58

U

pi si kelinci kecil tinggal bersama ibunya di hutan. Ia sangat sayang dengan ibunya sehingga ia tidak pernah ingin berteman dengan siapapun kecuali ibunya.

Suatu pagi yang cerah, Ibu mengajak Upi membersihkan rumah.

“Upi, tolong ambilkan sapu di gudang, ya!” kata Ibu sambil membersihkan meja makan.

“Baik, Bu,” jawab Upi dengan semangat. Upi pun berlari ke gudang untuk mengambil sapu.

“Aduuh!”

Upi baru saja menginjakkan kaki meninggalkan rumah. Tiba-tiba, Upi mendengar Ibu mengaduh. Buru-buru ia kembali ke rumah. “Ya ampun! Ibu kenapa?” Dia jongkok mendapati ibunya sedang kesakitan memegang kakinya.

“Tadi ibu ingin menaruh cangkir di atas lemari. Kursi tempat berpijak terguling dan Ibu jatuh terpeleset,” jawab Ibu.

“Aduh, bagaimana ini?” Upi kebingungan.

“Bantu ibu berjalan ke tempat tidur, Upi,” Ibu meringis kesakitan.

Upi memapah ibu ke tempat tidur.

“Upi, kaki ibu terkilir. Ibu ingin kamu mencari obat. Carilah Kakek Timi tikus, ia bisa membuat ramuan obat,” kata Ibu pelan sambil memberikan peta menuju rumah Kakek Timi.

Penulis: Hanatri Ilustrator: Octaviaayoe

Pindai QR Code untuk dengar

Audiobook

(38)

Berkebinekaan Global

60 Perjalanan Upi 61

“Benarkah?” wajah Upi tampak senang.

Bea mengangguk dan meminta Upi segera naik ke atas rakit.

“Kamu bisa tinggal di air?” tanya Upi heran.

“Bisa, dong. Itu lihat rumah kami!” Bea menunjukkan rumahnya yang ada di tepi sungai seberang sana.“Aku juga sangat suka berenang,” lanjutnya.

“Wah, hebat,” Upi berdecak kagum. Selama ini, ia tidak tahu ada hewan berbulu yang tinggal di air.

Setelah sampai di seberang, Upi berterima kasih kepada Bea. Ia melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba angin bertiup kencang.

“Aduh, kertasku terbang!” seru Upi terkejut.

Kertas itu terbang tinggi dan tersangkut di atas ranting.

“Ini kertasmu?” tanya tupai yang ada di atas pohon .

“I ... iya,” jawab Upi gugup.

“Aku ambilkan untukmu,” tupai itu dengan cepat melompat turun.

“Terima kasih. Kamu tinggal di atas pohon?” tanya Upi, lagi-lagi ia keheranan.

“Iya. Lihat, itu rumahku,” tupai menunjuk ke atas pohon.

Terlihat rumah mungil dari kayu. Rumah itu tampak asri berhiaskan berbagai bunga. “Kamu mau pergi ke suatu tempat, ya?” tebak tupai.

“Kakek Timi kan tinggal di seberang hutan,” Upi mengernyitkan alis.

“Iya, benar. Tolong Ibu ya, Upi,” dengan nada rendah dan tampak kesakitan. Upi khawatir sakit ibu bertambah parah. “Upi berangkat sekarang ya, Bu,” Upi mencium tangan Ibu.

“Hati-hati di jalan,” Ibu terlihat khawatir. Ibu takut terjadi sesuatu pada Upi, tapi Upi harus melakukan sesuatu tanpa ibunya.

Upi sebenarnya takut pergi sendirian. Ia tidak pernah pergi jauh dari rumah. Hutan tampak begitu menakutkan. Ada suara-suara aneh yang belum pernah ia dengar. Upi menutup telinga dan terus berjalan.

Upi mengikuti peta yang diberikan Ibu.

“Wah, aku sudah sampai sungai,” seru Upi senang.

“Hai, kamu siapa?” sapa seekor berang-berang yang berenang ke tepian sungai.

“Em... na... namaku Upi,” jawab Upi gemetar. Selama ini ia tidak pernah bicara dengan hewan lain.

“Namaku Bea. Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Bea.

“A... aku ingin menyeberang, tetapi air sungai deras sekali,” jawab Upi pelan.

“Yuk, kuantar kamu ke seberang,” Bea menarik rakit kecil di dekatnya.

(39)

62 Berkebinekaan Global Perjalanan Upi 63

Upi mengangguk.

“Kapan-kapan main ke rumahku, ya. Namaku Tupa,” Tupa memperkenalkan diri.

“Aku Upi,” jawab Upi senang.

Mereka berdua pun berpisah. Upi berjalan kembali mengikuti petunjuk dalam kertas. “Aduh, ini kan tebing,” Upi sangat terkejut. Ia hampir saja terjatuh. “Hu hu hu... bagaimana ini? Aku harus ke mana?”

Upi menangis kebingungan.

“Loh, kenapa kamu menangis?” seekor burung besar terbang turun dan mendekati Upi.

“Hi!” Upi terlonjak ketakutan.

“Jangan takut. Namaku Ale, si elang. Kamu butuh bantuan?” tanya Pak Ale mencoba menenangkan.

“I... iya, Pak. Aku ingin menuju hutan seberang, ke tempat Kakek Timi untuk meminta ramuan obat,” jawab Upi.

“Naiklah ke punggungku, aku akan membawamu melintasi tebing,”

kata Pak Ale beberapa saat kemudian.

Ale membawa Upi terbang tinggi. Ternyata bukan hanya kupu-kupu yang bisa terbang. Burung elang pun bisa.

“Itu Kakek Timi,” ucap Ale sambil terbang menukik ke bawah menemui Kakek Timi.

(40)

65 Perjalanan Upi 64 Berkebinekaan Global

“Ada apa kalian kemari?” sapa Kakek Timi begitu Upi turun dari punggung Ale.

“Kelinci kecil ini membutuhkan bantuan Kakek. Aku pamit dulu karena harus pergi ke suatu tempat,” jelas Ale sambil mengepakkan sayap.

Sebelum Ale benar-benar pergi, Upi mengucapkan terima kasih.Kakek Timi lantas mengajak Upi masuk ke dalam terowongan di bawah tanah yang panjang dan agak gelap. Berbeda dengan terowongan kecil milik Upi di rumah. Kakek Timi mempersilakan Upi duduk. Ternyata bagian dalam rumah Kakek Timi sangat nyaman. Kursi, meja, dan perabotan diatur rapi. Di ruang bagian tengah banyak guci dan wadah berisi berbagai tanaman obat.

Upi menceritakan tentang Ibu yang jatuh dan terkilir. Kakek segera meracik obat. Beberapa dedaunan dicampur rempah, kemudian direbus bersama air sampai mendidih.

Kruk kruk! Perut Upi berbunyi. Seharian Upi belum makan. Perutnya mulai terasa lapar.

“Kakek tadi membuat bubur. Kamu mau mencobanya?” ujar Kakek Timi mendengar perut Upi berbunyi.

“Iya, Kek,” jawab Upi tanpa malu-malu. Ia pun makan bubur sayur yang diberi rempah.

Kakek tersenyum melihat Upi dengan lahap menghabiskan buburnya.

Tak berapa lama, Kakek Timi selesai membuat ramuan obat yang dimasukkan ke dalam botol.

Kakek meminta bantuan burung elang bernama Digo untuk membawa Upi pulang. Sampai di rumah, Upi segera memberikan obat pada Ibu.

Upi bahagia bisa membantu Ibunya.

“Tadi aku bertemu banyak hewan,” cerita Upi setelah Ibu meminum ramuan Kakek Timi. “Ada Tupa, Bea, Ale, Kakek Timi, dan Paman Digo.

Mereka semua baik dan ramah,” Upi bercerita penuh semangat. “Ale dan paman Digo bisa terbang tinggi. Kakek Timi tinggal di dalam tanah, rumahnya sangat nyaman. Rumah Bea di sungai, dia pandai sekali berenang. Tupa tinggal di atas pohon, dia sangat lincah. Besok aku ingin bermain dengan mereka.” Upi bercerita panjang lebar. Sesekali ia tersenyum, sesekali tertawa senang.

“Itu bagus sekali, Upi.” Ibu tersenyum lebar, meski kakinya masih terasa masih sakit.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

ANALISIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA KUMPULAN DONGENG DAN CERITA RAKYAT KARYA AJENG RESTIYANI SERTA RELEVANSINYA SEBAGAI BUKU PENUNJANG BAHASA INDONESIA KELAS V DI SDM

sebagai media untuk meningkatkan minat baca anak untuk usia 8-12 tahun oleh Fandy Soegiarto, Perancangan media interaktif kumpulan dongeng rakyat yang bertemakan

meningkatkan mutu pendidikan. Minat baca Siswa Dharma Pancasila Medan penting untuk ditekerjakan. Berdasarkan observasi awal yang di lakukan oleh peneliti diperpustakaan SMA.

Sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi berbasis literature review yang berjudul “Efektivitas program dongeng anak dan remaja (DARLING) dalam meningkatkan minat

CITRAAN DALAM KUMPULAN PUISI DONGENG-DONGENG YANG TAK UTUH KARYA BOY CANDRA DAN IMPLIKASINYA 49 Kutipan di atas merupakan citraan gerak yang terdapat pada bait kesatu baris

sebagai media untuk meningkatkan minat baca anak untuk usia 8-12 tahun oleh Fandy Soegiarto, Perancangan media interaktif kumpulan dongeng rakyat yang bertemakan

Jenis Kalimat Tunggal berdasarkan Kelas Kata yang Menduduki Predikatnya Berdasarkan data yang dianalisis, ditemukan berbagai jenis kalimat tunggal dalam kumpulan

FILSAFAT DAN FALSAFAH NILAI NILAI PANCASILA FILSAFAT DAN FALSAFAH NILAI NILAI PANCASILA Filosofi MEMPELAJAR Nilai-nilai Pancasila, Merupakan upaya sadar utk menanamkan, menumbuhkan