NAMA: KURNIAWAN NUR FIRDAUS NIM: G10122032
Lokal Wisdom Suku KAILI
Masyarakat di pesisir danau lindu memberlakukan pantang atau tabu menangkap ikan pada masa atau waktu tertentu yang disebut”masa ombo”kearifan lokal dalam bentuk menangkap ikan ,masa ombo bertujuan untuk mengatur populasi ikan yang ada di danau lindu supaya tidak terjadi ketidak stabilan ekosistem di danau lindu,sanksi terhadap pelanggaran ombo berupa teuran secara langsung dari pemuka adat,diyakini bahwa yang melanggar akan terkena bala seperti sakit atau meninggal dunia sanksi lain yaitu berupa 10 dulam (piring adat),satu buah kain adat dan satu kerbau.
Suku kaili itu tersendiri tesebar di seluruh provinsi Sulawesi tengah,masyarakat kaili lebih menekankan ke sakralan yang dimiliki perairan danau lindu,hutan,pantangan/tabu,ungkapan ungkapan dan upacara adat lainnya.kesakralan terhadap sumber daya alam membentuk sikap dan perilaku mereka untuk selalu menjaga kelestarian alam di sekitar,suku kaili yang dipalu yaitu suku kaili ledo atau suku asli palu yang suudah lama mendiami lembah palu,adat adat yang ada di palu masih cukup kental dengan nuansa sakral,seperti penyambutan tamu penting yang datang kepalu dengan tarian penyambutan,ada juga ungkapan yang cukup sakral di palu yaitu “masuk lora”biasa ungkapan ini digunakan untuk menawarkan makanan yang sudah di hidangkan oleh pemilik makanan dengan orang ang berkunjung biasanya orang yang menolak makanan yang sudah di sajikan oleh pemilik rumah maka dia akan mengalami musibah yang tak terduga seperti kecelakaan,demam,bahkan ada yang sampai meninggal dunia.di palu juga masih menerapkan acara adat yang cukup sakral yang bisa dikatak jika ada kesalah sedikit dalam tata cara melakukan adat maka daerah yang sebagai acara adat tersebut akan di timpa bencana atau musibah besar,contohnya seperti pada 28 september 2018 yang dimana pada saat itu ketua ketua adat yang ada di palu melakukan adat yang sangat sakral yang tidak boleh ada kesalahan dalam tata cara adat
tersebut,yang dimana pada saat itu ada kesalahan yang tidak sesuai dengan adat yang berlaku sehingga pada saat itu juga kota palu mengalami bencana yang cukup besar yang menewaskan puluhan ribu orang,dalam upacara pesta perkawinan sama sekali tidak di benarkan memecahkan sesuatu selama berlangsungnya proses upacara,jika ada yang melanggar maka di yakini usia pernikahan mereka tidak lama.ada juga simbol simbol yang masih di gunakan dalam adat di kehidupan sehari hari seperti dalam membangun rumah baru terutama rumah panggung maka di tengah tengah rumah”posi banua”atau
“posi karava”biasanya di lengkapi dengan bahan bahan yang di ikat atau di gantung pada tiang tengah rumah berupa:pisang mengkal satu tandan,nangka bear yang sudah masak,tebu dan air garam satu botol.
Jadi pada dasarnya masyarakat kota palu atau suku kaili masih menggunakan adat lokal dalam kehidupan sehari hari dari kebiasan hingga jenjang pernikahan,maka bisa di simpulkan bahwa masyarakat palu sangat menghormati dan juga melstarikan adat lokal dengan begini adat lokal bisa bertahan dengan adanya globalisasi yang sangat pesat.