Lagu Daerah Jawa Tengah
Gundul Gundul Pacul
Makna
Menurut buku Indonesia Pusaka (2020) oleh Sopan Adrianto, lagu gundul- gundul pacul bermakna tentang situasi jika seorang pemimpin kehilangan mahkotanya, maka ia juga kehilangan kehormatannya sebagai pemimpin.
Alat Musik Jawa Tengah
Gambang Kromong
Gambang kromong merupakan alat musik tradisional Jawa Tengah yang terdiri dari 18 bilah bambu dengan alat pemukul khusus. Fungsi dari gambang adalah sebagai pangrengga dalam mengiringi lagu. Cara memainkannya dengan cara dipukul. sama halnya dengan alat musik kromong, dimana kedua alat musik tersebut akan dipadukan dengan menggunakan alat musik lainnya, seperti kendang, ningnong, kecrek, gong, kempul dan masih banyak lagi yang lainnya.
Kesenian alat musik gambang kromong ini dimainkan oleh 8 hingga 12 personil dan ditambahkan dengan beberapa penari atau pemain lenong. Adapun lagu- lagu yang dibawakan adalah sebuah lagu yang bertema sindiran, humor atau kebahagiaan. Biasanya kesenian gambang kromong ini dinyanyikan oleh penyanyi wanita dan juga penyanyi pria secara bergantian.
Kesenian ini biasanya dimainkan dengan iringan 3 lagu, yakni lagu pobin, dalem dan juga sayur. Pembagian lagu dalam setiap pementasan juga sudah terarah dengan baik, dimana lagu pobin digunakan sebagai instrumen khas Cina.
Lagu ini bisa ditemukan pada lagu-lagu tradisional Tiongkok, Fujian dari
daerah Cina Selatan. Setelah lagu pobin ini selesai dimainkan, maka selanjutnya lagu akan berganti menjadi lagu dalem yang berisikan pantun dalam bahasa Melayu-Betawi yang akan dinyanyikan hingga selesai.
Apabila lagu dalem sudah selesai dimainkan, maka pemain kemudian bisa menyanyikan lagu sayur yang merupakan sebuah lagu terakhir dalam
pementasan. Lagu sayur tersebut diciptakan dengan nuansa yang ceria, hal ini bertujuan agar para penonton merasa semakin terhibur dan juga berlanjut menari.
Adapun contoh dari lagu sayur adalah kicir-kicir, jali-jali, kramat karem, ondel- ondel, gelatik ngunguk, surilang, cente manis, sayur asem dan juga sayur lodeh.
Pakaian Daerah Jawa Tengah
Surjan
Baju surjan merupakan pakaian adat Jawa Tengah yang dahulu digunakan para pria dari kalangan bangsawan dan aparatur sipil. Surjan dahulu merupakan jenis busana sehari-hari .
Saat ini surjan hanya digunakan di acara-acara resmi atau upacara adat, yang dipadukan dengan kain jarik dan blangkon. Surjan biasanya memiliki motif lurik seperti coklat dan hitam, walaupun saat ini terdapat model surjan dengan corak warna yang lain.
Surjan juga disebut sebagai bagian dari ajaran Sunan Kalijaga yang kaya dengan filosofi. Nama surjan diambil dari bahasa Arab yaitu Sirajaan yang artinya lampu atau dalam bahasa JAwa disebut dengan Pepadhang.
Lima kancing pada baju surjan melambangkan rukun Islam. Selanjutnya tiga kancing di depan yang tertutup melambangkan tiga dari rukun Islam yaitu syahadat, shalat dan puasa.
Sementara dua kancing di leher yang terlihat merupakan lambang dari dua rukun Islam lainnya yaitu zakat dan haji. Sementara blangkon yang dikenakan menggambarkan rukun iman,