a
LAPORAN SURVEY ILMU PANGAN DAN GIZI
KEBIASAAN MAKAN MAHASISWA BERDASARKAN SUKU DAN RAS
Dosen Pengampu:
Dr. Oke Anandika Lestari, S.TP., M.Si
Oleh:
1. Tyara Dewi Safitri (C1061231005) 2. Nabilah Azzahra Aprilia (C1061231007) 3. Ahmad Farhan Fadhlurrohiim (C1061231015) 4. Alma Kurnia (C1061231017)
5. Nagita Amelia (C1061231032) 6. Nilam Cahyadi (C1061231037) 7. Devita Vilania (C1061231041) 8. Eta Makharani Barus (C1061231045) 9. Keysha Dilla Kristanti (C1061231051) 10. Sely Septia Aristi (C1061231061) 11. Pasha Auliadisti (C1061231065)
PRODI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHUN 2024
i DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... i
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan ... 1
C. Manfaat ... 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 2
A. Keberagaman Suku dan Ras di Indonesia ... 2
B. Kebiasaan Makan Masyaraka Indonesia... 2
BAB III. METODE SURVEY ... 3
A. Tempat Dan Waktu ... 3
B. Alat Dan Bahan ... 3
C. Prosedur Kerja ... 3
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 4
A. Hasil ... 4
B. Pembahasan ... 4
BAB V. PENUTUP ... 5
A. Kesimpulan ... 5
B. Saran ... 5
DAFTAR PUSTAKA ... 6
1 BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perilaku makan merupakan istilah yang menggambarkan berbagai aspek terkait dengan frekuensi makan, pola makan, kesukaan makan, dan pemilihan makanan.
Faktor-faktor seperti budaya, agama, dan lingkungan sosial memengaruhi kebiasaan makan individu dan komunitas (Warsilah, 2013). Budaya memainkan peran penting dalam membentuk perilaku makan. Setiap suku atau komunitas memiliki kebiasaan makan yang berbeda sesuai dengan nilai-nilai budaya yang dianut. Lingkungan sosial juga memengaruhi pola makan. Masyarakat dengan status sosial yang berbeda cenderung mengonsumsi makanan dengan nilai sosial yang sesuai. Letak geografis memengaruhi jenis makanan yang diinginkan oleh suatu masyarakat. Misalnya, daerah pegunungan cenderung mengonsumsi ikan air tawar.
Keberagaman agama yang dianut oleh masyarakat juga berperan signifikan dalam menentukan jenis makanan yang dikonsumsi dan cara pengolahannya(Mahzura et al., 2023). Misalnya, umat Islam menghindari konsumsi daging babi dan alkohol, sementara umat Hindu cenderung menghindari daging sapi. Praktik puasa yang dianut dalam berbagai agama juga mempengaruhi pola makan pada waktu-waktu tertentu dalam setahun, seperti bulan Ramadan bagi umat Islam dan puasa Lent bagi umat Kristen.
Globalisasi dan kemudahan akses transportasi dan komunikasi telah membawa perubahan pada ketersediaan dan keberagaman makanan. Makanan dari berbagai belahan dunia kini dapat dinikmati di hampir setiap kota besar di dunia. Hal ini tidak hanya memperkenalkan variasi baru dalam pola makan, tetapi juga memperkaya kebudayaan makan lokal dengan pengaruh-pengaruh internasional.
B. Tujuan
Untuk mengetahui kebiasaan mahasiswa Universitas Tanjungpura terkait dengan pola makan mereka dan juga hubungannya dengan suku dan ras dari masing-masing individu mahasiswa.
C. Manfaat
Manfaat dari survei ini adalah agar mengetahui kebiasaan mahasiswa Universitas Tanjungpura terkait dengan pola makan mereka dan juga hubungannya dengan suku dan ras dari masing-masing individu mahasiswa.
2 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Keberagaman Suku dan Ras di Indonesia
Kemampuan untuk mengenali dan memahami keanekaragaman yang ada dalam suku, agama, ras, dan antargolongan adalah suatu kecakapan intelektual yang mengandalkan proses mental dalam mengklasifikasikan individu atau objek ke dalam kategori tertentu berdasarkan ciri-ciri khas yang dimiliki.
Keanekaragaman ini, khususnya yang terdapat di Indonesia, menawarkan sebuah kaleidoskop budaya yang kaya, di mana setiap suku bangsa membawa warna unik melalui budaya, bahasa, dan tradisi mereka yang berbeda-beda(Mahzura et al., 2023).
Indonesia, dengan pluralitasnya, menciptakan sebuah mozaik budaya yang mengagumkan. Istilah "kebhinnekaan" dalam Bahasa Indonesia, menggambarkan esensi pluralisme dan multikulturalisme yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara, menegaskan pentingnya penerimaan dan penghormatan terhadap perbedaan.
Keragaman suku dan ras di Indonesia adalah sebuah harta budaya yang tidak ternilai (Tabi’in, 2020). Dengan mendalami dan menghargai setiap perbedaan serta menghormati identitas setiap kelompok, kita berkontribusi pada penguatan ikatan persatuan dan kesatuan yang tertuang dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti "Berbeda-beda tetapi tetap satu".
B. Kebiasaan Makan Masyaraka Indonesia
Kebiasaan makan menjadi cerminan unik dari setiap individu, tercermin dalam cara mereka memilih dan mengkonsumsi makanan, yang membentuk sebuah pola perilaku makan yang beragam (Andriyanty & Dewi, 2021). Pengaruh kuat dari budaya, lingkungan sosial, dan pemahaman mengenai nutrisi berperan dalam menentukan pilihan makanan seseorang. Dalam konteks peningkatan kualitas gizi masyarakat, sangat penting untuk mengenali praktik-praktik makan yang sehat dan strategi menggantikan kebiasaan makan yang kurang baik dengan pilihan yang lebih bernutrisi, seperti mengurangi kecenderungan konsumsi fast food yang sering kali rendah serat dan tinggi kalori (Ana Veria Setyawati et al., 2016).
Faktor-faktor langsung seperti ketersediaan makanan, kemampuan finansial, dan kecukupan pengetahuan nutrisi secara signifikan mempengaruhi kebiasaan makan. Remaja, yang menjadi sasaran utama industri makanan, cenderung memilih produk makanan instan yang lebih terjangkau(Bantacut, 2014). Pengetahuan mengenai gizi memainkan peran penting dalam membantu individu memilih makanan berdasarkan kandungan nutrisinya, menunjang pilihan yang lebih sehat.
3 BAB III. METODE SURVEY
A. Tempat Dan Waktu
Survey dilakukan melalui G-Form. Survey dilakukan dari tanggal 20 Maret 2024 sampai 21 Maret 2024.
B. Alat Dan Bahan
Alat yang digunakan adalah Handphone dan Laptop, Bahan yang digunakan adalah Google formulir dan Koneksi Internet.
C. Prosedur Kerja
Responden mengisi formulir secara daring melalui link yang berisi 94 pertanyaan yang sudah diberikan.
4 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Kriteria Responden:
Jenis kelamin dari 60 responden: 72,1% (43) wanita dan 27,9% (17) pria.
Suku dari 60 responden: 49,2% (29) Melayu, 26,2% (16) Jawa, 5% (3) Dayak, 5%
(3) Batak, 3,3% (2) Bugis, 3,3% (2) Chinese, dan 1,7% (1) Minang, Chindo, Campuran Jawa-Melayu, Betawi dan Sunda. Usia dari 60 responden: 58,4% (35) 18 Tahun dan 31,7% (19) 19 Tahun, 5% (3) 20 Tahun, 3,3% (2) 21 Tahun dan 1,7% (1) 22 Tahun
Kebiasaan Makan Mahasiswa UNTAN :
Dari survei yang telah dilakukan ditemukan kebiasaan dari para responden sebagian besar masih terbilang belum mengonsumsi gizi seimbang, khususnya dalam mengonsumsi air putih, buah, dan sayur. Oleh karena itu, penting untuk memberikan informasi kepada mereka terkait menerapkan pola makan gizi seimbang ke dalam hidup sehari-hari
B. Pembahasan
Survei tentang kebiasaan makan mahasiswa Universitas Tanjungpura (UNTAN) melibatkan 60 responden, mayoritas adalah wanita (72,1%) dan dominan suku Melayu (49,2%). Usia terbanyak berada pada kelompok 18 dan 19 tahun. Hasil survei menunjukkan bahwa kebanyakan mahasiswa belum mencapai pola makan gizi seimbang, terutama kurangnya konsumsi air putih, buah, dan sayur.
5 BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dengan memahami kondisi kebiasaan makan yang kurang seimbang di kalangan mahasiswa UNTAN, langkah-langkah rekomendasi yang disarankan di atas dapat menjadi titik awal untuk perubahan positif. Melalui pendekatan yang terintegrasi dan partisipatif, diharapkan mahasiswa dapat mengembangkan kebiasaan makan yang lebih sehat, yang tidak hanya mendukung kesejahteraan fisik mereka tetapi juga kontribusi mereka terhadap komunitas akademik dan masyarakat luas. Kesadaran dan perubahan perilaku makan yang sehat adalah investasi penting untuk masa depan yang lebih cerah bagi mahasiswa dan generasi mendatang.
B. Saran
Semoga pembahasan ini bermanfaat dan menjadi pemantik bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap pentingnya gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi para mahasiswa yang merupakan generasi penerus bangsa.
6 DAFTAR PUSTAKA
Ana Veria Setyawati, V., Rimawati, E., & Dian Nuswantoro. (2016). POLA KONSUMSI FAST FOOD DAN SERAT SEBAGAI FAKTOR GIZI LEBIH PADA REMAJA. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujph
Andriyanty, R., & Dewi, D. U. (2021). FAKTOR-FAKTOR SOSIAL YANG MEMPENGARUHI KESADARAN GAYA HIDUP CINTA PRODUK DALAM NEGERI GENERASI MUDA INDONESIA.
Bantacut, T. (2014). Indonesian Staple Food Adaptations For Sustainability in Continuously Changing Climates. 4(21). www.iiste.org
Mahzura, E., Ummi, N. &, Husna, A., Fakultas, N., Dan, E., & Islam, B. (2023).
Konsumsi Makanan Halal Dan Haram dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Hadis. 3(2), 2781–2790.
Tabi’in, A. (2020). Pengenalan Keanekaragaman Suku Agama Ras dan Antar Golongan (SARA) untuk Menumbuhkan Sikap Toleransi pada Anak Usia Dini.
Warsilah, H. (2013). PERAN FOODHABITS MASYARAKAT PERDESAAN PESISIR DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN: KASUS DESA BAHOI DAN BULUTUI. In Jurnal Masyarakat & Budaya (Vol. 15, Issue 1).