ADIVA NOVIAL NPM. 2402501010168
LABORATORIUM PATOLOGI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA DARUSSALAM-BANDA ACEH
2025
i
ii
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin, segala puji kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Laporan Mandiri Diagnostik Patologi yang berjudul
“Infectious Laryngotracheitis pada Ayam Broiler”. Selawat dan salam senantiasa penulis sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang selalu menerangi dunia ini dengan cahaya Islam.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. drh. Etriwati, M.Si. selaku pembimbing kasus yang telah memberikan arahan dan ilmunya sehingga laporan ini dapat selesai dengan baik. Rasa terima kasih juga penulis sampaikan kepada seluruh dosen dan staff pengajar Laboratorium Patologi yang telah banyak membantu dalam pembelajaran dan pembuatan preparat di laboratorium patologi, serta kepada teman-teman kelompok 3 PPDH Gelombang XXVIII.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun selalu penulis harapkan.
Semoga laporan kasus ini bermanfaat bagi pembaca dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
Banda Aceh, 20 Januari 2025
Penulis
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan ... 3
Manfaat ... 3
METODE KEGIATAN ... 4
Sinyalemen dan Anamnesis ... 4
Pengamatan dan Pemeriksaan Patologi Anatomi ... 4
Pemeriksaan Histopatologi (Teknik Pewarnaan) ... 6
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 7
Riwayat Kasus ... 7
Keadaan Luar Kadaver ... 8
Hasil Pemeriksaan Patologi Anatomi (PA) ... 9
Edukasi Profesional ... 16
DAFTAR PUSTAKA ... 18
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Industri peternakan unggas berkembang dengan cepat dan berperan signifikan dalam menjaga ketahanan pangan dunia. Namun, akibat globalisasi, perubahan iklim, serta peningkatan populasi unggas yang pesat, berbagai penyakit mulai bermunculan. Di antara penyakit yang muncul ialah Infectious Laryngotracheitis (ILT), ILT merupakan penyakit saluran pernapasan atas yang menular pada ayam dan telah dianggap sebagai masalah utama bagi kesehatan dan kesejahteraan unggas (Munuswamy et al., 2020). ILT pertama kali dilaporkan pada tahun 1925 dan telah dilaporkan di banyak negara yang tetap menjadi penyakit serius terutama di area produksi intensif dan konsentrasi besar ayam seperti Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, Cina, Asia Tenggara dan Australia (Hidalgo, 2003).
Infectious Laryngotracheitis (ILT) adalah penyakit pernapasan virus yang sangat menular terutama menyerang ayam, meskipun burung pegar, peafowl, dan kalkun juga rentan. ILT menyebabkan morbiditas tinggi, kematian, penurunan produksi telur, dan kerugian ekonomi di seluruh dunia (Carnaccini et al., 2022).Virus Laringotrakheitis unggas termasuk dalam famili Herpesviridae, subfamili Alphaherpesvirinae , genus Iltovirus , dan secara taksonomis diklasifikasikan sebagai Gallidherpesvirus tipe 1 (Parra et al., 2016). Infectious Laryngotracheitis sangat menular khususnya pada ayam dewasa, ditandai dengan dyspnea atau sesak napas berat, batuk, ngorok dan tersengal-sengal (Prasdini, 2021). Selain itu, Gowthaman et al, (2020) mengatakan tanda klinis lainnya ialah
2
seperti konjungtivitis, mulut terbuka, eksudat berdarah,dan terkadang menemukan lesi trakheitis kataral hingga hemoragik, fibrinopurulent hingga eksudat kaseus atau perkejuan di laring dan trachea pada saat nekropsi.
Masa inkubasi setelah infeksi alami berkisar antara 6 hingga 14 hari. Hasil infeksi tergantung pada virulensi strain dan koinfeksi dengan patogen pernapasan lainnya (Zorman et al., 2021). Penularan dapat berupa dua cara yaitu penularan secara langsung melalui pengisapan benih penyakit ke dalam saluran pernapasan.
Penularan secara tidak langsung melalui makanan, minuman, peralatan kandangdan benda lain tercemar virus (Fadilah dan Polana, 2004). Organ target untuk infeksi dan perkembangan penyakit ILT adalah epitel pernapasan. Epitel trakea dan laring adalah yang paling terpengaruh, seperti konjungtiva, sinus hidung, kantung udara, dan jaringan paru- paru terkadang dapat terinfeksi. Ketika hewan terpapar virus melalui rute oral, nasal, atau konjungtiva, dan virus bereplikasi di epitel trakea (parra et al.,2016).
Penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi pada industri unggas di seluruh dunia (Zhao et al., 2013). Kerugian berupa penurunan produksi telur dan kematian akan bervariasi tergantung pada patogenisitas strain. Unggas yang bertahan hidup umumnya pulih setelah dua minggu (Preis et al., 2014).
Kasus ILT sporadis terjadi pada semua jenis unggas, termasuk ayam hobi/pertunjukan/perburuan, ayam pedaging, ayam ras besar, dan ayam petelur komersial. Epornitis ILT ini cenderung terjadi di tempat tempat yang memiliki populasi besar unggas yang belum divaksinasi, yaitu di daerah-daerah produksi ayam pedaging yang terkonsentrasi (Hidalgo, 2003).
Meningkatnya insiden penyakit ini disebabkan oleh faktor-faktor yang lebih konkret seperti peningkatan kepadatan produksi unggas, penurunan waktu henti di lokasi produksi, biosekuriti yang buruk, dan metode vaksinasi yang buruk. Vaksin rekombinan/mutan dianggap sebagai alternatif yang lebih aman, memiliki penerapan praktis yang terbatas karena gagal menghentikan penularan virus secara menyeluruh dan keberadaan antibodi terhadap vektor dapat menetralkan vaksin (Munuswamy et al., 2020).
Tujuan
Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk menegakkan diagnosa dari kadaver yang dinekropsi berdasarkan perubahan patologi anatomi dan histopatologi yang ditemukan pada kadaver ayam yang dinekropsi.
Manfaat
Penulisan laporan kasus ini diharapkan mampu melakukan nekropsi dengan benar serta dapat memberikan informasi dan pengetahuan tentang penyebab kematian ayam yang berada di kandang sehingga dapat menegakkan diagnosa yang tepat dan menambah wawasan terkait perubahan-perubahan yang terjadi secara patologi anatomi dan hiostopatologi serta dapat dilakukan pencegahan atau pengobatan jika terjadi infeksi dari penyakit Infectious Laryngotracheitis.
4
METODE KEGIATAN
Sinyalemen dan Anamnesis
Sinyalemen merupakan pencatatan identitas dari pasien atau hewan yang meliputi jenis hewan, ras/bangsa, jenis kelamin hewan, warna, ciri khusus yang tampak, umur dan berat badan. Sedikit identitas untuk pemilik meliputi nama pemilik, nomer telepon, dan alamat pemilik. Sinyalemen sangat penting untuk dikenali dan dicatat pada awal pemeriksaan fisik. Anamnesis merupakan keterangan dan keluhan dari pemilik hewan mengenai keadaan hewannya ketika dibawa, namun dapat pula berupa keterangan tentang sejarah perjalanan penyakit hewan tersebut. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara melakukan tanya jawab kepada pemilik ayam dan melihat ciri-ciri yang terlihat pada kadaver ayam tersebut.
Pengamatan dan Pemeriksaan Patologi Anatomi
Prosedur nekropsi diawali dengan melakukan pengamatan keadaan fisik atau keadaan luar ayam secara umum yang meliputi status gizi, kondisi bulu dan kulit, selaput lendir atau mukosa mulai dari mata, paruh, hidung, telinga, bagian kaki, serta ada tidaknya lesi, fraktur, ataupun ektoparasit pada tubuh ayam tersebut secara keseluruhan. Setelah itu, tubuh ayam dibasahi dengan menggunakan air dimulai dari bagian leher ke bawah tanpa mengenai kepala sampai kloaka. Kadaver kemudian diletakkan pada posisi dorsal recumbency dengan bagian kaki
menghadap ke arah sekan. Sayatan pertama dilakukan pada kulit yang longgar diantara permukaan medial ekstremitas posterior ke arah lateral.
Selanjutnya, dikuakkan eksterimitas posterior ayam ke arah lateral dan patahkan hubungan persendian panggul. Diincisi kulit lateral tersebut kemudian dihubungkan dengan incisi kulit transversal ke arah paruh melewati pertengahan abdomen untuk menguakkan kulit bagian sternum dan abdomen. Lalu diamati perubahan yang terjadi pada jaringan di bawah kulit. Rongga thoracoabdominal.
dibuka dengan cara memotong sternum pada bagian cartilago intercostalis dan dipisahkan bagian sternum. Selanjutnya, dilakukan pengamatan terhadap kondisi luar organ visceral serta airsac (meliputi kejernihan, perubahan warna, serta ada tidaknya eksudat).
Organ visceral meliputi hati, jantung dan limpa dikeluarkan, lalu dilakukan pengamatan terhadap ukuran, konsistensi, serta perubahan warna. Setelah itu, dipotong paruh bagian atas dan dilakukan penyayatan ke arah lateral bagian samping paruh untuk mengeluarkan saluran pernapasan bersama paru-paru lalu diamati lumen (eksudat atau parasit). Paru-paru diamati (warna dan konsistensi) dan lakukan uji apung pada organ paru-paru dengan cara memotong sedikit bagian paru-paru yang memiliki lesi dan memasukkannya ke dalam air dan diamati perubahannya. Saluran pencernaan juga dikeluarkan dengan cara memotong esofagus, proventrikulus, penggantung usus, dan airsac attachments sampai kloka kemudian menguraikannya lalu diamati isi dan lumen dari setiap bagian.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan ureter dan ginjal secara in situ serta organ genitalia. Nervus yang berlokasi di paha atas bagian dalam pada kedua bagian kaki
6
diperiksa. Dipotong bagian kloaka dan dilakukan pemeriksaan bursa fabrisius.
Selanjutnya, dilakukan disartikulasi persendian kepala dan leher. Kuliti bagian kepala lalu buat garis horizontal dari foramen magnum menuju ke os. frontalis pada kedua sisi tulang tengkorak dan gunting tulang tengkorak lalu amati bagian otak ayam. Setelah itu, pada musculus dilihat apakah ada lesi pada bagian m.
pectoralis, m. femoralis, et m. branchialis. Kemudian, pada bagian persendian tulang dilihat apakah ada lesi di bagian ossa. Metatarsalis. Amati dan catat perubahan patologis yang ditemukan pada setiap organ pada protokol seksi. Organ- organ yang mengalami perubahan dilakukan fiksasi kedalam Formalin 10% guna mempertahankan morfologi jaringan untuk kemudian dibuat preparat histologi.
Pemeriksaan Histopatologi (Teknik Pewarnaan)
Pembuatan preparat histopatologi hati dimulai dari sampel hati yang telah difiksasi dipotong menjadi ukuran 1 × 1 × 1 cm. Selanjutnya organ direndam di alkohol dengan konsentrasi bertingkat yaitu alkohol 70%, 80%, 90%, alkohol absolut I dan absolut II selama masing-masing 2 jam. Kemudian, dilakukan penjernihan dengan menggunakan silol. Setelah itu organ dicetak dengan menggunakan parafin lalu disimpan di dalam lemari es. Selanjutnya blok jaringan difiksir pada microtome. Lalu blok jaringan dipotong dengan microtome setebal 5- 6 µm, pilih potongan dengan jaringan terbaik, tidak mengkerut dan tidak tergores.
Potongan tersebut diambil dengan gelas slide, dan slide yang berisi tempelan jaringan ditempatkan di atas pelat pemanas slide selama minimal 2 jam. Terakhir dilakukan pewarnaan Hematoxylin dan Eosin (Yolanda et al., 2022).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Riwayat Kasus
Pada kegiatan koasistensi kelompok 3 gelombang XXVIII yang telah dilaksanakan di Laboratorium Patologi, didapatkan berbagai macam kasus yang terjadi pada unggas dan mamalia. Selama nekropsi ditemukan total kadaver berjumlah 44 ekor, dengan rincian kadaver unggas berjumlah 40 ekor dan kadaver mamalia berjumlah 4 ekor. 26 ekor unggas didiagnosa Newcastle Disease (ND), 2 ekor unggas didiagnosa Infectious Bronchitis (IB), 1 ekor unggas didiagnosa Infectious Laryngotracheatis (ILT), 3 ekor unggas didiagnosa Fowl Cholera, 2 ekor unggas didiagnosa Cocidiosis, 1 ekor unggas didiagnosa Leucocytozoonosis, 1 ekor unggas didiagnosa Colibasilosis, 1 ekor unggas didiagnosa Chronic Respiratory Disease (CRD), 1 ekor unggas didagnosa Ascariasis, 1 ekor unggas didagnosa Salmonellosis, dan 1 ekor unggas didagnosa Helminthiasis. Sedangkan pada pemeriksaan mamalia didapatkan 1 ekor kucing didiagnosa Diabetes Mellitus, 1 ekor kucing didiagnosa Feline Viral Rhinotracheitis, 1 ekor kucing didiagnosa Trauma Thoracoabdominalis dan 1 ekor cerape didiagnosa Trauma Thoracoabdominalis.
Pada tanggal 08 Januari 2025 pukul 14.00 WIB., telah dilakukan nekropsi pada kadaver ayam broiler dengan nomor kasus U/1017/25 memiliki jenis kelamin jantan yang diperoleh dari pasar Lamdingin Banda Aceh, diperkirakan sudah berumur ±35 hari. Berdasarkan hasil anamnesa dengan pedagang dapat diketahui bahwa ayamtersebut ditemukan mati dalam kandang penampungan di Pasar
8
D E
A B C
Lamdingin y a n g b e r i s i k a n 1 0 e k o r , pada pagi hari diperkirakan mati sekitar jam 05.30 WIB.
Keadaan Luar Kadaver
Hasil pemeriksaan keadaan luar kadaver ayam broiler dengan nomor kasus U/1017/25 menunjukkan Body Condition Score yaitu 4 (1-5) yang dapat dikategorikan normal, Selaput lender mata anemis, kloaka hemoragi, pada telinga dan mulut anemis dan pada rongga hidung ditemukan eksudat mukous, pada rongga mulut juga ditemukan eksudat mucous bercampur darah dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. (A) Mata: selaput mata mengalami anemis, (B) Mulut: anemis dan terdapat eksudat mucous bercampur darah (C) Rongga hidung: terlihat adanya eksudat mucous, (D) Telinga:
Anemis, (E) Kloaka: hemoragi, (F) Kulit: mengalami hiperemi.
Hasil Pemeriksaan Patologi Anatomi (PA)
Berdasarkan hasil pemeriksan perubahan patologi anatomi yang terlihat pada organ kadaver ayam (U/1017/25), terlihat hiperemi pada jaringan dibawah kulit. Bagian saluran pernafasan ditemukan adanya perubahan pada laring terlihat eksudat mucous, trakea terlihat eksudat mukos bercampur darah dan mengalami hemoragi, airsac tampak keruh, paru-paru terlihat berwarna merah hitam dengan aspek sayatan terdapat cairan serta mengapung ketika di uji apung yang diduga mengalami pneumonia interstitial.
Pada alat peredaran darah, jantung mengalami pembengkakan, konsistensi keras dengan bidang sayatan terbuka, dan juga terdapat ptikie pada lemak jantung.
Pada bagian saluran pencernaan, di rongga mulut terlihat adanya eksudat mukous bercampur darah, pada Oesophagus, duodenum, jejenum, ileum, seca tonsil dan caecum Tidak terlihat adanya perubahan yang signifikan, pada organ tembolok, proventiculus dan juga ventriculus juga tidak terlihat adanya perubahan yang signifikan. Organ hati terlihat bewarna merah dan bintik hitam di beberapa bagian.
Organ kantung empedu berisi cairan penuh dengan warna hijau,
Bursa fabrisius mengalami perubahan ditandai dengan adanya ptikie ketika di sayat. Limpa bengkak dan hemoragi, konsisten keras, bidang sayatan terbuka dan pada uji usap tidak ada yang terikut. Pada rongga dada dan rongga abdomen tidak mengalami perubahan, Nervus Ischiadicus dexter et sinister tidak mengalami perubahan. Cerebrum dan cerebellum tidak ada perubahan, Musculus pectoralis dan femoralis mengalami hemoragi dan brachialis tidak mengalami
10
perubahan. Perubahan lesi patologi yang didapatkan pada kadaver ayam dengan nomor protocol U/1017/25 dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Patologi anatomi kadaver U/1017/25, (A) hiperemi di jaringan bawah kulit, (B) faring dan laring terdapat eksudat mukous dan hemoragi, (C) trakea mengalami hemoragi dan terdapat eksudat kataral hemoragik, (D) paru-paru bewarna merah hitam, (E) bronkus dan bifokartio terdapat hemoragi, (F) Jantung bengkak, dan terdapat ptikie pada lemak jantung. (G) limpa bengkakdan hemoragi, (G) hati mengalami nekrosis fokal.
A
C
B
D
E F
G H
Gambar 2. Patologi anatomi kadaver U/1017/25. (I) airsac keruh .
Penyakit Infectious Laryngotracheitis (ILT) disebabkan oleh Hespervirus grup A yang termasuk dalam famili Hespesviridae dan subfamili Alphaherpesvirinae. Penyakit ini sering terjadi di daerah dengan konsentrasi tinggi peternakan ayam dan biasanya merupakan masalah di daerah endemik atau lokasi tertentu. Keparahan penyakit dipengaruhi oleh virulensi virus, kondisi stres, adanya koinfeksi denganpatogen lain, status kekebalan kelompok, serta usia unggas (Gowthaman et al., 2016). Infeksi ini dapat muncul dalam bentuk perakut, akut, atau kronis. ILT juga dapat diperburuk oleh infeksi patogen lain,
Hasil pemeriksaan patologi anatomi kadaver ayam (U/1017/25) menunjukkan keadaan umum dengan Body Condition Score dengan nilai 4, patologi anatomi yang terlihat pada ayam maka dapat didiagnosis penyakit Infectious Laryngotracheitis (ILT). Menendez et al., (2014) menyatakn bahwa, pada infeksi ILT terjadi trakeitis hemoragik bersama dengan napas tersengal sengal, batuk, dan pengeluaran lendir berdarah. Menurut Davison (2015), lesi postmortem pada ILT terutama pada trakea. Lesi yang paling umum adalah pendarahan atau material kaseosa di trakea, namun pada beberapa kasus tidak menunjukkan gejala dari penyakit tersebut. Dalam beberapa kasus lain, ayam hanya menunjukkan
I
12
peradangan pada konjungtiva dan trakea (Kirkpatrick et al., 2006). Pada kasus U/1017/25, selaput mata ayam mengalami anemis, namun pada trakea dan rongga mulut sejalan dengan yang ditulis peneliti sebelumnya yang mana pada mulut terlihat adanya eksudat bercampur darah, trakea mengalami hemoragi dan juga terdapat eksudat bercampur dengan darah. Pada bifokartio dan brongkus mengalami hemoragi.
Pada organ lainnya seperti paru-paru dan airsac pada kasus yang diperiksa, paru-paru ayam menunjukkan perubahan pada warna yaitu merah hitam, dan paru- paru tersebut terdapat cairan ketika uji sayat serta mengapung dalam uji apung, airsac keruh. Kongesti pada paru-paru dan penebalan airsac dengan eksudat kaseus di lumen dapat terjadi dalam penyakit ini (Aziz, 2010).
Gambaran patologi anatomi trachea pada penyakit ini terlihat dalam 3 bentuk yaitu:
1. Bentuk berat, ditemukan eksudat selaput mucus dan perdarahan di trachea yang mengakibatkan penyumbatan laring
2. Bentuk ringan, ditemukan mucus yang berlebihan disertai atrau tanpa disertai eksudat di dalam trachea. Peradangan berisi eksudat pada lubang hidung.
Ditemukan pula konjungtivitis. Paru-paru mengalami kongesti dan kantong udara menebal yang tertutup oleh eksudat.
3. Bentuk per akut, pada daerah trachea ditemukan perdarahan dan darah membeku.
Bisa juga trachea hanya berisi mucus yang ternoda oleh darah, bronci primer dapat juga menunjukkan lesi yang sama dengan trachea (Prasdini, 2021).
Hasil Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi merupakan prosedur yang melibatkan pemeriksaan jaringan utuh yang diambil melalui biopsi dan diperiksa dibawah mikroskop. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat perubahan morfologi sel dari jaringan, melihat penyebaran penyakit dan melihat perubahan pada jaringan baik yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen maupun oleh senyawa kimia (toksik).
Pada pemeriksaan histopatologi ditemukan adanya perubahan pada organ trakea dan paru-paru. Pada tampilan secara mikroskopis terlihat gambaran perubahan pada sel epitel trakhea ditemukan adanya badan inklusi, seperti yang dinyatakan oleh Preis et al., (2013), badan inklusi virus ini akan terbentuk karena akumulasi intranuklear dari partikel virus, protein, dan genom. Pada trachea mengalami deskuamasi sel epitel mengandung beberapa inti, adanya badan inklusi yang merupakan ciri khas lesi diamati pada kasus akut ILT. Kebanyakan unggas yang di laporkan menunjukkan lesi khas pada sinus, laring dan seluruh trakea, meskipun konjungtiva dan paru-paru lebih jarang terinfeksi (Kirkpatrick et al., 2006). Berdasarkan pernyataan Preis et al, (2013) juga di dapat pada kasus ini yang mana terdapat badan inklusi di trakea pada gambar 3B.
Perubahan histopatologi pada kasus Infectious Laryngotracheitis U/1017/25 terlampir pada Gambar 3.
14
Gambar 3. Histopatologi trakea kadaver U/1017/25. (A) 1. Hemoragi, 2. Hiperemi, 3. Badan Inklusi (perbesaran 4x), (B) 4. Badan inklusi (perbesaran 10x), (C) 5. Sinsitia (perbesaran 4x), D.
Sinsitia (Perbesaran 10x).
Pada tahap awal infeksi, area sel epitel mukosa yang terinfeksi bersifat fokal hingga multifokal bengkak, tidak terorganisir, dan menyatu membentuk sel sinsitia dengan badan inklusi intranuklear. Itu adanya satu atau beberapa sel sinsitia intraepitel dengan badan inklusi intranuklear di dalamnya epitel mukosa mungkin merupakan satu-satunya lesi yang terlihat. Selain itu, beberapa sel sinsitia dengan badan inklusi intranuklear hadir di mukosa atau mengelupas ke dalam lumen (Aziz, 2010). Terjadinya sinsitium dengan badan inklusi intranuklear eosinofilik dianggap sebagai temuan patognomonik pada infeksi virus ILT. Badan inklusi virus herpes adalah kelompok partikel virus, protein dan genom dan paling sering terjadi pada bentuk penyakit yang parah dan sedang (Pajic et al., 2022). Selain terdapat
A
C
B
3
5 1 2
4
D
5
hemoragi , juga terdapat adanya sinsitium dan badan inklusi yang merupakan lesi khas pada Infectious Laryngotracheitis pada kasus kadaver U/1017/25.
Gambar 4. Histopatologi paru-paru kadaver U/1017/25, (1) Hemoragi, (2) Emfisema, (3) Hiperemi, (4) Edema, (5) infiltrasi sel radang.
Pada pemeriksaan histopatologi yang diteliti oleh Yavuz et al. (2018), telah disebutkan bahwa ILT menyerang saluran pernafasan terutama saluran pernafasan bagian atas seperti laring dan trakea, namun lesi juga dapat terlihat di organ organ seperti kantung udara dan paru-paru. Pada penelitian Pajic et al. (2022), lesi yang ditemui pada organ paru-paru yang mengalami ILTV ialah terjadi hyperemia pada pembuluh darah. Pada kasus unggas dengan kode U/1017/25 yang diamati juga terdapat perubahan pada paru-paru ditemukan adanya hiperemi di dalam jaringan paru-paru.
Menurut Indriani et al., (2004) perubahan histopatologi pada organ lain seperti paru, terlihat respon immunologi pada Bronchial Asossiate Lymphoid Tissue (BALT) yang terlihat adanya respon positif dari BALT dengan ciri-ciri beberapa limfoid folikel yang terdiri dari sel-sel limfosit dan makrofag. Adanya respon
1
3
2 4
5 4
5
16
positif dari BALT, merupakan perubahan yang disebabkan oleh reaksi imun akibat reaksi BALT tersebut terhadap antigen virus ILT dari isolat yang diberikan.
Perubahan ini bukan merupakan kerusakan akibat virus ILT yang bersifat mild, tetapi merupakan respon dari reaksi antigen.
Edukasi Profesional
Penularan dapat berupa dua cara yaitu penularan secara langsung melalui pengisapan benih penyakit ke dalam saluran pernapasan. Penularan secara tidak langsung melalui makanan, minuman, peralatan kandangdan benda lain tercemar virus (Fadilah dan Polana, 2004). Langkah-langkah pengendalian hal tersebut harus difokuskan pada diagnosis tepat waktu, penerapan biosekuriti yang ketat, pembersihan, dan disinfeksi, penerapan teknologi sistem informasi geografis (SIG), vaksinasi, dan komunikasi antara peternak unggas dan lembaga pengendalian (Gowthaman et al., 2020).
Penyebaran penyakit ini dapat dicegah melalui program karantina ketat, stamping out bila ada kasus, pengaturan lalu lintas karyawan, pekerja, tamu, kendaraan, hewan peliharaan maupun hewan liar yang bisa menjadi sumber penularan serta pemberantasan vector pembawa penyakit seperti tikus dengan menggunakan insektisida. Ransum dan air minum jangan sampai terkontaminasi eksudat kental/lendir yang berasal dari ayam sakit. Apabila ditemukan bangkai ayam mati akibat ILT, segera dikuburkan atau dibakar (Jordan, 1996).
Pemeliharaan system all in-all out merupakan salah satu pilihan untuk memutus siklus hidup virus di lokasi peternakan dan menghindari penularan dari
ayam tua ke ayam muda. Pemusnahan kandang kandang ayam sakit dan barang- barang tempat bekas ayam sakit harus dihapushamakan atau dibakar. Pemeliharaan ayam harus terpisah dengan unggas ternak lain. Program vaksinasi untuk daerah endemic atau daerah yang memiliki sejarah ledakan kasus ILT merupakan kegiatan untuk mencegah penyebaran ILT (Prasdini, 2021).
Vaksin yang dilemahkan dapat diberikan melalui tetes mata, air minum, atau disemprot aerosol. Vaksinasi bisa dilakukan jika ayam sudah berumur 4 minggu. Namun, umumnya vaksinasi dilakukan ketika ayam berumur 8-12 minggu.
Belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ILT. Jika mendiagnosis ILT dilakukan secara dini, vaksinasi kepada ayam yang belum terinfeksi merupakan cara paling efektif untuk mencegah terjadinya ILT (Fadilah dan Polana, 2004).
18
DAFTAR PUSTAKA
Aziz, T. (2010). Infectious Laryngotracheitis (ILT) targets broilers. World Poult.
25:17–18.
Carnaccini, S., Palmieri, C., Stoute, S., Crispo, M. and Shivaprasad, H. L. (2022).
Infectious laryngotracheitis of chickens: Pathologic and immunohistochemistry findings. Veterinary Pathology, 59(1), 112-119.
Davison, S. (2015). Manual of Poultry Diseases. AFAS Press, USA
Fadilah, R. dan Polana, A. (2004). Aneka Penyakit pada Ayam dan Cara Mengatasinya. Agromedia Pustaka, Tangerang.
Gowthaman, V., Kumar, S., Koul, M., Dave, U., Murthy, T. G. K., Munuswamy, P.and Joshi, S. K. (2020). Infectious laryngotracheitis: Etiology, epidemiology, pathobiology, and advances in diagnosis and control–a comprehensive review. Veterinary Quarterly, 40(1), 140-161.
Hidalgo, H. (2003). Infectious laryngotracheitis: a review. Brazilian Journal of Poultry Science, 3(5): 157-168.
Jordan, F. T. W. (1966). A review of the literature on infectious laryngotracheitis (ILT). Avian Diseases, 10(1), 1-26.
Kirkpatrick N. C., Mahmoudian A., Colson C. A., Devlin J. M. and Noormohammadi A. H. (2006) Differentiation of Infectious Laryngotracheitis virus iso-lates by restriction fragment length polymorphic analysis of polymerasechain reaction products amplified from multiple genes. Avian Pathol. 35:449-53.
Menendez, K. R., García, M., Spatz, S. dan Tablante, N. L. (2014). Molecular epidemiology of infectious laryngotracheitis: a review. Avian Pathology, 43(2) : 108-117.
Parra, S. H. S., Nuñez, l. F. N. and Ferreira, A. J. P. (2016). Epidemiology of Avian Infectious Laryngotracheitis with Special Focus to South America: an update. Brazilian Journal of Poultry Science, 18(04): 551-562.
Prasdini, W. A. (2021). Kupas Tuntas Penyakit Viral Unggas. Media Nusa Creative, Malang.
Preis, I. S., Fiúza, A. T. L., Silva, C. C., Braga, J. F. V., Couto, R. M., Martins, N.
D. S. and Ecco, R. (2014). Pathological, immunohistochemical, and molecular findings in commercial laying hens and in backyard chickens naturallyinfected with the infectious laryngotracheitis virus. Brazilian Journal of Poultry Science, 16, 359-366.
Yavuz, O., Ozdemir, O., Aras, Z. dan Terzi, V. (2018). Immunohistochemical studies on Infectious Laryngotracheitis in the respiratory tract lesions in naturally infected laying hens. Vetdergikafkas, 24(2): 257-264
Yolanda, S., Etriwati, E., Erwin, E., Masyitha, D., Roslizawaty, R. dan Sayuti, A.
(2022). Gambaran histopatologi hati tikus putih (Rattus norvegicus) setelah pemasangan implan wire material logam. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner, 6(4):234-242.
Zorman Rojs, O., Dovc, A., Krapež, U., Žlabravec, Z., Racnik, J. and Slavec, B.
(2021). Detection of Laryngotracheitis virus in poultry flocks with respiratory disorders in Slovenia. Viruses, 13(4), 707.
19
Zhao, Y., Kong, C., Cui, X., Cui, H., Shi, X., Zhang, X. dan Wang, Y. (2013).
Detection of infectious laryngotracheitis virus by real-time PCR in naturally and experimentally infected chickens. PloS one, 8(6): 2-10.
20
LAMPIRAN
21
22
23
24