PENGANTAR
Perkembangan perekonomian Indonesia tidak lepas dari dampak perekonomian global yang belum pulih terutama di beberapa negara seperti Uni Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat, namun pemerintah Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi akan melebihi 5 persen pada tahun ini. 2016 .DPR dapat memberikan alternatif target pertumbuhan ekonomi yang realistis berdasarkan realitas yang ada di daerah pemilihannya masing-masing. Proyeksi pertumbuhan ekonomi yang realistis tersebut tentunya menjadi masukan bagi pemerintah untuk menyusun anggaran sesuai kebijakan anggaran DPR.
PELAKSANAAN FUNGSI LEGISLASI
Kinerja Fungsi Legislasi
Penyusunan undang-undang ini melalui proses panjang hampir dua belas tahun dan selesai pada masa Komisi XI DPR RI. Penekanan undang-undang ini adalah pada pencegahan dan penanganan permasalahan perbankan yang sistemik sebagai bagian penting dari sistem keuangan. Di sisi lain, beberapa ketentuan dalam UU Nomor 8 Tahun 2015 perlu diselaraskan dengan putusan Mahkamah Konstitusi sehingga perlu disempurnakan.
Tantangan dan Upaya Perbaikan Pelaksanaan Fungsi Legislasi
BKD telah terbentuk dan struktur organisasinya telah lengkap, sehingga dukungannya di bidang legislasi diharapkan dapat terwujud secara maksimal guna meningkatkan kinerja DPR RI. Begitu pula jika terdapat permasalahan pada APBN, maka fokus di bidang legislasi juga harus dianut DPR RI dengan pelaksanaan fungsi lainnya yaitu fungsi pengawasan dan fungsi anggaran. Meski demikian, DPR RI akan berupaya mempercepat pembahasan rancangan undang-undang tersebut agar bisa rampung.
PELAKSANAAN FUNGSI ANGGARAN
Kinerja Fungsi Anggaran
Perkiraan belanja pemerintah pada semester II tahun 2016 mencapai Rp1.217,6 triliun, sehingga sepanjang tahun 2016, belanja pemerintah pada akhir tahun diperkirakan mencapai Rp2.082,9 triliun atau sama dengan target APBNP tahun 2016. untuk belanja non-K/L pada semester II tahun 2016 diperkirakan sebesar Rp320,4 triliun (59,4 persen dari batas APBN Perubahan 2016), sehingga secara keseluruhan tahun 2016 diperkirakan mencapai Rp538,9 triliun atau sama. sebagai pagu dalam APBNP tahun 2016. Prakiraan Pendanaan Anggaran pada semester II tahun 2016 diperkirakan sebesar Rp20,1 triliun, sehingga pada akhir tahun 2016 diperkirakan mencapai Rp296,7 triliun atau sama dengan target APBN Perubahan tahun 2016.
Tantangan dan Upaya Perbaikan Pelaksanaan Fungsi Anggaran
PELAKSANAAN FUNGSI PENGAWASAN
Kinerja Fungsi Pengawasan
Pelaksanaan fungsi pengawasan dilakukan melalui berbagai pertemuan DPR RI dengan mitra kerja dan/atau masyarakat melalui Rapat Kerja (Raker), Rapat Dengar Pendapat (RDP) dan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU). Selain kegiatan tersebut, pelaksanaan fungsi pengawasan DPR RI juga dapat dilakukan dengan melaksanakan hak DPR RI dengan membentuk Tim, Panitia Khusus (Pansus) Non-RUU, dan Panitia Kerja (Panja) yang dibentuk antara lain alias lainnya, untuk menjawab berbagai aspirasi/keluhan masyarakat yang masuk ke DPR RI, baik melalui Sekretariat Jenderal (Bagian Pengaduan Masyarakat dan Bagian Humas) maupun ke AKD. Dalam menjalankan fungsi pengawasannya, DPR RI juga memberikan pertimbangan dan persetujuan terhadap usulan pengangkatan pejabat publik. satu.
Tim yang dibentuk pimpinan DPR RI adalah: 1) Tim Pengawas DPR RI tentang Otonomi Khusus Aceh, Papua dan DIY; DPR RI menyimpulkan hasil pembahasan dengan berbagai pihak terkait mengenai Otonomi Khusus Papua, antara lain:. Untuk mengatasi permasalahan pertanahan di DIY harus ada kemauan politik dari DPR RI berupa:.
Panja yang dibentuk pada perangkat pembantu DPR RI khususnya Komisi untuk melaksanakan fungsi pengawasan DPR RI berjumlah 46 Panja (nama panitia yang ada dan yang bekerja sebagaimana terlampir). DPR RI sebagai wakil rakyat dituntut tanggap terhadap berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat. Pengaduan dan/atau permohonan masyarakat yang disampaikan kepada DPR RI saat ini telah difasilitasi dalam berbagai bentuk dan media.
Sepanjang tahun legislatif, DPR RI menerima 806 surat pengaduan/aspirasi masyarakat yang dikirimkan melalui website.
Tantangan dan Upaya Perbaikan Pelaksanaan Fungsi Pengawasan
Praktik yang baik dalam menindaklanjuti permintaan/pengaduan masyarakat dilakukan oleh ketiga komisi tersebut dengan mengacu pada keputusan Dewan Perwakilan Rakyat (BURT) nomor 03/BURT/DPR RI/2010-2011 tentang pedoman umum penanganan aspirasi dan pengaduan masyarakat. Peraturan ini memberikan pedoman yang jelas dan tegas bagi Perangkat Dewan Perwakilan Rakyat (AKD) DPR RI dan Sekretariat Jenderal DPR RI dalam menangani permohonan dan pengaduan masyarakat yang disampaikan kepada DPR RI. Perubahan yang paling penting adalah penerapan sistem satu pintu dalam penanganan surat aspirasi dan pengaduan yang disampaikan kepada DPR RI, baik yang ditujukan kepada Ketua DPR RI, pimpinan AKD DPR RI terkait (komisi dan lembaga) maupun surat. itu adalah salinan.
Peraturan DPR RI ini diharapkan mampu mengikat seluruh AKD untuk mematuhinya dan juga menjadi pedoman bagi Sekretariat Jenderal DPR RI dalam pengelolaannya. Fungsi pengawasan hendaknya menjadi barometer yang memastikan bahwa setiap kinerja DPR RI tidak hanya memenuhi tujuannya, namun benar-benar dapat dipertanggungjawabkan demi kepentingan masyarakat. Namun perlu diingat juga bahwa fungsi pengawasan harus selalu diikuti dengan tindakan nyata DPR RI terhadap suatu persoalan atau permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan peraturan perundang-undangan di lapangan.
Hal lain yang tidak boleh diabaikan oleh DPR RI adalah DPR RI harus mendorong pemerintah untuk selalu bertindak cepat atas rekomendasi DPR RI terhadap permasalahan atau permasalahan yang diidentifikasi DPR RI dalam menjalankan fungsi pengawasannya. Hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi DPR RI, dimana DPR RI harus berupaya menciptakan sinergi dalam menjalankan fungsi pengawasannya terhadap Pemerintah. Selain itu, dalam peraturan tersebut diatur bahwa setiap perangkat DPR RI wajib menyusun tata kerja sebagai petunjuk pelaksanaan yang lebih rinci atas pelaksanaan fungsi pengawasan yang ditetapkan dengan peraturan DPR RI.
Misalnya saja dalam pengelolaan pengaduan/aspirasi masyarakat yang hingga saat ini hanya diatur dalam Keputusan Badan Perwakilan Rakyat (BURT) nomor 03/BURT/DPR RI tentang Petunjuk Umum Pengelolaan Aspirasi Masyarakat. dan Pengaduan, seluruh AKD tidak wajib menindaklanjuti pengaduan/aspirasi yang telah disalurkan oleh Bagian Pengaduan Masyarakat pada Sekretariat Jenderal RP RI.
DIPLOMASI PARLEMEN
DPR RI berpendapat bahwa dimensi pembangunan harus tetap menjadi bagian penting dalam sistem perdagangan dunia. Melalui aktivitas diplomasi parlemen di forum internasional, termasuk IPU, DPR RI kerap menyampaikan pentingnya pencapaian SDGs. DPR RI juga menjadi garda depan dalam menginisiasi resolusi terkait SDGs sebagai bentuk komitmen politik yang mengikat.
Isu perubahan iklim juga menjadi salah satu isu penting yang mendapat perhatian dalam kegiatan diplomasi DPR RI. Keterwakilan perempuan dalam partisipasi politik juga menjadi salah satu perhatian DPR RI di forum internasional. Selain mengganggu kedaulatan geografis, delegasi DPR RI juga melakukan diplomasi untuk mempertahankan kedaulatan hukum Indonesia.
Pertemuan dengan Parlemen Italia pada saat Parlemen GKSB DPR RI di Italia mengunjungi Italia pada bulan November 2015. Pertemuan dengan Parlemen di Lebanon pada saat GKSB DPR RI Parlemen di Lebanon mengunjungi Lebanon pada bulan Desember 2015. Dalam kerangka bilateral, DPR RI pada tahun 2015 adalah meresmikan juga pembentukan 49 Kelompok Kerja Sama Bilateral (GKSB) dengan parlemen negara sahabat.
Maksud dan tujuan dibentuknya GKSB adalah untuk mempererat hubungan DPR RI dengan parlemen negara sahabat dalam rangka pelaksanaan Diplomasi Parlemen.
PENANGANAN PERKARA DI LEMBAGA PERADILAN DAN MAHKAMAH
Sepanjang tahun sidang, DPR RI menerima 4 (empat) kali gugatan perdata dan 1 (satu) kali gugatan tata usaha negara. Selain ikut serta dalam pertimbangan beberapa perkara di peradilan, DPR RI juga ikut serta dalam pertimbangan perkara di Mahkamah Konstitusi. Pertimbangan perkara di Mahkamah Konstitusi dilakukan berdasarkan Pasal 41 ayat (4) juncto Pasal 54 UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi yang mengatur bahwa DPR RI wajib memberikan keterangan lisan dan/atau tertulis di persidangan. di Mahkamah Konstitusi jika diminta oleh majelis hakim.
Dalam melaksanakan kewajiban tersebut, Pimpinan DPR RI telah membentuk Tim Kekuasaan DPR RI yang mempunyai tugas mewakili DPR RI dalam menghadiri dan ikut serta dalam proses hukum substantif dan/atau formil terhadap UUD 1945 di hadapan Mahkamah Konstitusi. . Selama tahun legislatif, DPR RI menerima 99 perkara (sampai 22 Juli 2016) dengan permohonan uji materi UUD 1945 dan merevisi 81 undang-undang. Penanganan perkara di Mahkamah Konstitusi oleh DPR RI pada prinsipnya merupakan konsekuensi dari pelaksanaan fungsi legislasi DPR RI berdasarkan Pasal 20A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945).
Undang-undang yang dibentuk oleh DPR RI bersama Pemerintah merupakan produk pelaksanaan fungsi legislasi. Penanganan perkara DPR RI di Mahkamah Konstitusi merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi logis dari kedudukan DPR RI sebagai lembaga perwakilan rakyat, yang secara konstitusional mempunyai kekuasaan legislatif untuk menyikapi atau keberatan terhadap produk legislasi. DPR RI bersama Presiden. Permohonan uji materi UUD 1945 ke Mahkamah Konstitusi hendaknya tidak menjadi tolak ukur kualitas suatu undang-undang yang dibuat oleh DPR RI dan Pemerintah selaku pembentuk undang-undang.
Untuk menghindari hal tersebut, DPR RI sebagai pemegang kekuasaan legislatif wajib mengubah (melengkapi) ayat, pasal, atau bagian tersebut.
PENGUATAN KELEMBAGAAN DPR RI
Pembenahan Internal Lembaga DPR RI Tahun Sidang 2015–2016
Penegakan Kode Etik
Pada Tahun Sidang 2015-2016, MKD melaksanakan tugasnya sesuai amanat peraturan perundang-undangan, yaitu penerimaan dan tindak lanjut pengaduan serta pemrosesan perkara tanpa pengaduan. Selain kasus-kasus tersebut, ada pula kasus-kasus yang telah diproses dari tahun persidangan sebelumnya dan akhirnya dibentuk panel. Seminar tersebut menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi, salah satunya adalah pembentukan wadah komunikasi antar lembaga perwakilan kehormatan (MKD dan BK DPRD).
Selain itu, MKD juga akan melakukan kemajuan di bidang legislasi dengan diinisiasinya RUU tentang Etika Lembaga Perwakilan. RUU tersebut memuat norma dan standar etika umum yang seragam sehingga memberikan kebebasan kepada DPRD untuk merumuskan Kode Etik yang sesuai dengan kearifan lokal. RUU tersebut mengatur tentang penyeragaman Badan Penegakan Kehormatan lembaga perwakilan yang disebut MKD, serta penguatan lembaga penegak kehormatan lembaga perwakilan dengan melibatkan pihak eksternal.
Selain itu juga diatur mengenai pemenuhan hak imunitas dan perlunya perlakuan khusus terhadap anggota lembaga perwakilan dalam penegakan hukum oleh penegak hukum.
Kinerja Sekretariat Jenderal DPR RI
Mengacu pada Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 14 Tahun 2014 tentang Pedoman Evaluasi Reformasi Birokrasi Pada Instansi Pemerintah, pada tahun 2015, Indeks Reformasi Birokrasi Sekretariat Jenderal Republik Indonesia meningkat signifikan dari 38,48 ke tahun 2014, pukul 6.99. Kategori "B". Upaya penguatan fungsi pengawasan diharapkan mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pengelolaan internal organisasi Sekretariat Jenderal dan BK DPR RI. Sekretariat Jenderal DPR RI telah menyatakan komitmennya terhadap pelaksanaan pembangunan zona integritas menuju zona bebas korupsi (WBK)/Wilayah Birokrasi Bersih dan Pelayanan (WBBM).
Penerimaan delegasi tamu merupakan kegiatan penerimaan delegasi masyarakat yang ingin mengetahui tugas dan fungsi, lembaga dan mekanisme kerja DPR RI. Dalam implementasi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, DPR RI sebagai lembaga telah menyiapkan sarana dan prasarana dalam memberikan layanan informasi kepada masyarakat. Berkat pelayanan informasinya kepada masyarakat, PPID DPR RI mendapat penghargaan dari Komisi Informasi Pusat pada tahun 2010, 2011 dan 2014 sebagai lembaga pemerintah yang sangat responsif terhadap UU No.
Analisis media adalah untuk mendapatkan penjelasan mengenai trend berita (nada berita, topik, headline, jumlah berita, produser berita) mengenai DPR RI yang diambil dari media massa. f.Majalah dan buletin Parlemen sebagai sarana komunikasi kegiatan DPR RI kepada seluruh anggota dan masyarakat. Website DPR RI adalah: www.dpr.go.id memuat: Infografis, Agenda AKD dan Sejarah AKD.
Program ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai peran dan fungsi DPR RI yang meliputi diskusi atau dialog langsung dengan anggota dewan/Setjen, pemutaran film, kunjungan museum dan kesempatan menghadiri rapat DPR RI.
PENUTUP
LAMPIRAN