LAPORAN RESMI KULIAH KERJA LAPANGAN
Oleh:
Cut Nurjanah 23020320120003 Muhammad Hasbi Syahbani 23020320120030
PROGRAM STUDI S1 AGRIBISNIS FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO S E M A R A N G
2023
ii
LEMBAR PENGESAHAN
Judul : LAPORAN RESMI KULIAH KERJA LAPANGAN
Anggota (1)
Nama : CUT NURJANAH
NIM : 23020320120003
Anggota (2)
Nama : MUHAMAD HASBI SYAHBANI
NIM : 23020320120030
Program Studi : S-1 AGRIBISNIS
Mengetahui :
Dosen Wali
Siwi Gayatri, S.Pt., M.Sc., Ph.D.
NIP. 19810629 200312 2 001
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kuliah kerja lapangan ini dengam baik. Selesainya laporan ini tentu tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Sehingga pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Siwi Gayatri, S.Pt., M.Sc., Ph.D. selaku Dosen Wali yang telah memberikan bimbingan dan dukungan kepada penulis.
2. Prof. Dr. Bambang Waluyo Hadi Eko Prasetiyono, M.S, M.Agr., IPU. selaku Dekan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro.
3. Ir. Kustopo Budiraharjo, M.P. selaku Ketua Program Studi Agribisnis.
4. Orang tua yang telah memberikan doa dan dukungan kepada penulis.
5. Teman-teman panitia yang telah membantu mensukseskan kegiatan kuliah kerja lapangan ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik, saran dan masukan yang membangun untuk menyempurnakan laporan praktik kerja lapangan ini. Penulis berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca umumya.
Semarang, Juni 2023
Penulis
iv DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR ILUSTRASI ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan ... 1
1.3. Manfaat ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1. Pembenihan ... 3
2.2. Agribisnis Teh ... 4
2.3. Agribisnis Lidah Buaya ... 4
2.4. Pengelolaan Agrowisata ... 5
2.5. Pelatihan Petani ... 8
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN... 9
3.1. Gambaran Umum Pelaksanaan KKL ... 9
3.2. PT BISI Internasional Tbk ... 9
3.3. Teh Villa Indonesia ... 10
3.3. Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) ... 12
3.4. PT Alove Bali ... 13
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 15
4.1. Kesimpulan ... 15
4.2. Saran ... 15
v
DAFTAR PUSTAKA ... 17 LAMPIRAN ... 19
vi
DAFTAR ILUSTRASI
Nomor Halaman
1. Benih PT BISI Internasional Tbk. ... 10 2. Produk Teh Villa Indonesia ... 11 3. Biofertilizer Aloe Vera ... 13
vii
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Dokumentasi Kegiatan KKL ... 19
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) merupakan kegiatan perkuliahan yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapat pengalaman langsung agar mampu memahami dunia kerja sesuai bidang ilmu yang digeluti selama belajar di kampus. Tujuan utama KKL adalah agar mahasiswa dapat memahami dan mengaplikasikan pengetahuan serta keterampilan yang diperoleh di kampus ke dalam konteks nyata di industri atau lembaga terkait. KKL dijadikan sebagai mata kuliah wajib dalam program studi S-1 Agribisnis dengan bobot 1 sks dan dilaksanakan oleh seluruh mahasiswa satu angkatan pada waktu yang bersamaan, yaitu saat berada di semester 6.
Selama kegiatan KKL berlangsung, mahasiswa ditugaskan untuk melakukan kegiatan observasi, wawancara, atau bahkan partisipasi langsung dalam kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan yang menjadi tempat KKL. Setelah kegiatan selesai, mahasiswa diharuskan untuk melaporkan pengalaman dan hasil observasi dalam bentuk laporan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh dosen pembimbing KKL. Melalui KKL, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan pemahaman yang lebih luas tentang dunia kerja di bidang agribisnis, memperoleh wawasan tentang praktik dan inovasi dalam industri, serta dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman kerja yang relevan dan meningkatkan persiapan untuk memasuki dunia kerja setelah lulus.
1.2. Tujuan
Tujuan dari Kuliah Kerja Lapangan adalah :
1. Mengetahui implementasi studi agribisnis pada perusahaan yang bergerak di bidang pertanian..
2
2. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang pelaksanaan operasional perusahaan pertanian untuk dapat dibandingkan dengan literatur yang ada.
1.3. Manfaat
Manfaat dari kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini adalah :
1. Memperoleh pengalaman praktis yang berharga untuk memahami implementasi studi agribisnis di industri pertanian.
2. Mahasiswa dapat mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh selama perkuliahan ke dalam konteks nyata pada perusahaan pertanian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pembenihan
Benih merupakan komponen vital dalam proses usaha pertanian.
Pembenihan adalah sebuah proses dalam membudidayakan organisme seperti tumbuhan dan hewan. Pembenihan padi merupakan proses yang dilakukan untuk memperbanyak dan menghasilkan bibit padi berkualitas tinggi, yang umumnya dilakukan oleh petani atau lembaga pembenihan padi (Sayaka dan Hidayat, 2015).
Benih umumnya diklasifikasikan atas beberapa kelas. Menurut peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 39 Permetan OT. 140/8/2006, beberapa kelas benih diantaranya adalah, Benih Penjenis yaitu benih yang diambil dari dua jenis galur untuk dilakukan perkawinan oleh instansi pemuliaan tanaman, Benih Dasar yaitu keturunan pertama dari Benih Penjenis, Benih Pokok yaitu keturunan dari Benih Dasar yang diproduksi dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tingkat kemurnian varietas yang ditetapkan, serta terakhir Benih Sebar yaitu keturunan dari Benih Pokok yang diproduksi dan dipelihara sedemikian rupa sehingga identitas dan tingkat kemurnian varietas dapat dipelihara (Menteri Pertanian, 2006).
Benih merupakan hasil produksi Lembaga Pusat Penelitian, Balai Benih dan produk senter tentu yang disertifikasi oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman dan Hortikultura (Darwis, 2018). Pada komoditas padi, terdapat persyaratan tertentu untuk benih yang digunakan. Khusus untuk benih sebar komoditi padi, persyaratan tersebut meliputi a) kemurnian benih minimal 98,0%, b) presentasi kotoran 2,0%, c) mempunyai daya tumbuh minimal 80,0%, d) kadar air dalam benih maksimal 13,0%, e) persentase biji tanaman lain dalam benih sebar maksimal 0,2%, f) persentase biji rumput maksimal 0,2% (Fadhla & Hamidi, 2019).
4
2.2. Agribisnis Teh
Tanaman teh (Camellia sinensis) adalah spesies tanaman yang daun dan pucuk daunnya digunakan untuk membuat teh. Daun tanaman Camellia sinensis akan mengalami proses pengeringan dan pengolahan tertentu. Tanaman teh merupakan anggota keluarga Camellia dan telah ditanam dan dikonsumsi selama berabad-abad. Teh adalah salah satu subsektor perkebunan yang berperan penting dalam perekonomian nasional sebagai pendapatan petani, sumber devisa negara, dan penyerapan tenaga kerja (Fitria, 2016). Teh memiliki beragam jenis dan variasi yang berbeda-beda berdasarkan proses pengolahannya dan semuanya berasal dari tanaman Camellia sinensis. Berdasarkan proses pengolahannya, ada tiga jenis teh yaitu teh hijau, teh hitam, dan teh oolong (Jun Xi, 2013).
Teh merupakan salah satu komoditi hasil perkebunan yang mempunyai peran yang penting dalam perekonomian nasional, yaitu sebagai sumber pendapatan petani, penyerapan tenaga kerja, dan sumber devisa negara. Agribisnis teh dapat mendorong pengembangan wilayah dan berdampak pada pelestarian lingkungan (DISBUN, 2013). Indonesia pada saat ini telah menjadi peringkat 10 besar di dunia dalam hal produksi perkebunan, salah satunya adalah komoditi teh.
Teh Indonesia termasuk produk perkebunan di peringkat ke-7 dunia dengan produksi teh kering mencapai 150.000 ton per tahun (Fitria, 2016).
2.3. Agribisnis Lidah Buaya
Lidah buaya adalah jenis tanaman obat yang memiliki kandungan manfaat yang besar bagi kesehatan. Lidah buaya juga dikenal sebagai tanaman hias dan banyak digunakan sebagai bahan dasar dari obat-obatan dan juga kosmetik (Gusviputri et al., 2017) Tanaman lidah buaya mempunyai manfaat sebagai antiinflamasi, antijamur, antibakteri, dan regenerasi sel, juga dapat menurunkan kadar gula dalam darah bagi penderita diabetes. Lidah buaya termasuk 10 jenis tanaman obat terlaris di dunia. Lidah buaya telah digunakan untuk tujuan medis tradisional di beberapa budaya selama ribuan tahun (Novyana et al., 2016).
5
Permintaan negara Jepang terhadap Lidahbuaya segar mencapai 300 ton per bulan, dan kebutuhan tersebut baru dapat dipenuhi oleh supplier dari Brazil dan Thailand.
Sedangkan kebutuhan industri minuman nata de aloe dalam negeri seperti INACO dan PT Niramas Utama, masing-masing membutuhkan bahan baku Lidah buaya segar sebesar 100 ton per bulan.
Agribisnis lidah buaya (Aloe vera) merupakan sektor penting dalam industri pertanian dan obat-obatan. Lidah buaya adalah tanaman yang populer dengan berbagai manfaat kesehatan dan kecantikan. Kegiatan agribisnis lidah buaya dapat memproduksi berbagai jenis produk olahan baik berupa makanan, minuman, dan berbagai bentuk lainnya seperti obat dan kosmetik. Adanya berbagai produk olahan tersebut memberikan nilai tambah dan keuntungan yang berbeda-beda (Dahari et al., 2014). Agribisnis lidah buaya melibatkan budidaya, pengolahan, dan pemasaran produk-produk yang terkait dengan lidah buaya. Indonesia sebagai negara tropis memiliki potensi besar dalam pengembangan Lidah buaya. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang mulai menyadari nilai manfaat tanaman ini, menjadikan peluang pasar di bidang agribisnis Lidah buaya sangat besar. Dilihat dari potensi produksi dan harga, lidah buaya mempunyai prospek yang sangat menjanjikan (Kusumawaty et al., 2018).
2.4. Pengelolaan Agrowisata
Agrowisata adalah jenis wisata yang berfokus pada pengalaman dan pembelajaran tentang kegiatan pertanian. Agrowisata didefinisikan sebagai sebuah bentuk kegiatan pariwisata yang memanfaatkan usaha agro (agribisnis) sebagai objek wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, rekreasi, dan hubungan usaha di bidang pertanian (Saputra et al., 2018). Agrowisata mampu memberikan manfaat yang berarti khususnya bagi masyarakat setempat. Konsep agrowisata memiliki potensi dan prospek yang menguntungkan yaitu membuka lapangan pekerjaan, serta meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan masyarakat desa (Sulaiman et al., 2017). Namun, untuk dikategorikan sebagai agrowisata, ada
6
beberapa kriteria tertentu yang perlu dipenuhi oleh lokasi tersebut. Menurut Bappenas (2004) kriteria kawasan agrowisata adalah sebagai berikut:
a. Memiliki potensi atau basis Kawasan disektor agro baik pertanian, hortikultura, perikanan maupun peternakan
b. Adanya kegiatan masyarakat yang didominasi oleh kegiatan pertanian dan wisata dengan keterkaitan dan ketergantungan yang cukup tinggi, antara lain kegiatan pertanian yang mendorong tumbuhnya industri pariwisata, dan sebaliknya kegiatan pariwisata yang memacu berkembangnya sektor pertanian.
c. Adanya interaksi yang intensif dan saling mendukung bagi kegiatan agro dengan kegiatan pariwisata dalam kesatuan kawasan, antara lain berbagai kegiatan dan produk wisata yang dikembangkan secara berkelanjutan.
Perencanaan yang baik menjadi landasan kuat untuk mengembangkan dan mengelola agrowisata dengan efektif. Langkah-langkah penting dalam perencanaan agrowisata yang matang (Septiani, 2022) yaitu:
1. Analisis potensi dan sumber daya pada lokasi yang akan dikembangkan sebagai agrowisata. Meliputi identifikasi kekayaan alam, kegiatan pertanian yang ada, potensi wisata, infrastruktur, dan sumber daya manusia yang tersedia.
Pemahaman yang baik tentang potensi ini akan membantu dalam menentukan jenis agrowisata yang cocok dan mengidentifikasi kegiatan yang dapat dilakukan.
2. Setelah melakukan analisis potensi, langkah berikutnya adalah memilih konsep agrowisata yang sesuai dengan potensi dan tujuan pengembangan. Ini melibatkan pemilihan fokus kegiatan, seperti kebun buah, peternakan, perkebunan teh, atau wisata edukasi pertanian.
3. Perlu dibuat rencana pengembangan yang mencakup aspek infrastruktur, fasilitas, pemasaran, dan sumber daya manusia. Rencana harus mencakup estimasi biaya dan waktu yang dibutuhkan, serta sumber pendanaan yang mungkin diperlukan. Pengembangan infrastruktur dan fasilitas yang memadai, seperti jalur setapak, area parkir, pusat informasi, toilet, dan area penjualan, adalah langkah penting dalam mempersiapkan agrowisata yang sukses.
7
4. Agrowisata sering melibatkan kerjasama dengan petani lokal, kelompok tani, atau pelaku usaha lainnya. Membangun kemitraan yang baik dengan para pemangku kepentingan tersebut sangat penting. Misalnya, kesepakatan tentang penggunaan lahan, distribusi produk, dan keterlibatan masyarakat setempat.
Kerjasama yang kuat dapat meningkatkan keberlanjutan agrowisata dan mendukung pembangunan ekonomi lokal.
5. Agar agrowisata berhasil, perlu dilakukan upaya pemasaran dan promosi yang efektif dengan identifikasi target pasar, strategi pemasaran, pembuatan materi promosi seperti brosur, website, maupun media sosial. Promosi juga dapat berupa kegiatan partisipasi dalam pameran, kerjasama dengan agen perjalanan, atau kerjasama dengan penginapan dan atraksi wisata terkait.
6. Setelah agrowisata berjalan, evaluasi secara berkala sangatlah penting. Evaluasi mulai dari kinerja finansial, kepuasan pengunjung, keberlanjutan lingkungan, dan dampak sosial. Dari evaluasi ini, dapat diidentifikasi area yang perlu diperbaiki, peluang pengembangan baru, dan tindakan korektif yang perlu diambil untuk meningkatkan kualitas dan keberlanjutan agrowisata.
Pengelolaan agrowisata merupakan aspek penting dalam pengembangan dan operasionalisasi destinasi agrowisata yang sukses. Pengelolaan agrowisata melibatkan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian sumber daya yang terlibat dalam kegiatan agrowisata. Pengelolaan yang efektif memerlukan pemahaman yang mendalam tentang aspek pertanian, keuangan, pemasaran, kelestarian lingkungan, dan pengalaman pengunjung (Eddyono, 2019).
Pengelolaan agrowisata juga melibatkan keterlibatan pemangku kepentingan yang beragam. Pemangku kepentingan, seperti petani, kelompok tani, pemerintah daerah, masyarakat lokal, dan pihak swasta terkait pariwisata, dapat memberikan kontribusi yang beragam dalam mendukung agrowisata. Mereka dapat berperan dalam menyediakan sumber daya yang diperlukan, mengembangkan program- program edukasi, melakukan kegiatan promosi, mengelola risiko yang mungkin timbul, serta memantau kualitas dan keberlanjutan lingkungan dan sosial dalam konteks agrowisata (Chrismawati & Pramono, 2021).
8
2.5. Pelatihan Petani
Pelatihan petani adalah proses yang melibatkan transfer pengetahuan, keterampilan, dan praktik kepada petani dengan tujuan meningkatkan kemampuan mereka dalam mengelola usaha pertanian secara efisien. Pelatihan petani merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang diperlukan, mengembangkan keterampilan, serta meningkatkan kesadaran dan pemahaman petani tentang inovasi dalam sektor pertanian (Wahyuni et al., 2022).
Pelatihan juga dapat membantu petani meningkatkan produktivitas dan pendapatan mereka. Pelatihan petani dapat memainkan peran kunci dalam mengurangi kesenjangan pengetahuan antara petani tradisional dengan perkembangan teknologi dan praktik modern dalam pertanian (Pujriyani, 2022).
Pelatihan petani dapat mencakup berbagai aspek. Teknik budidaya yang lebih baik, pengelolaan hama dan penyakit, penggunaan sumber daya air secara efisien, atau pemasaran produk pertanian, menjadi aspek-aspek yang dapat ditekankan dalam pelatihan petani, sehingga melalui pelatihan, petani dapat mengoptimalkan potensi pertanian mereka, meningkatkan hasil panen, dan mengurangi kerugian yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti cuaca ekstrem atau hama dan penyakit (Euriga et al., 2018).
Pelatihan petani tidak hanya bermanfaat bagi petani sendiri, tetapi juga memiliki dampak yang lebih luas pada pembangunan pertanian dan pembangunan pedesaan. Dengan meningkatkan kapasitas petani, pelatihan dapat berkontribusi pada peningkatan keamanan pangan, peningkatan kesejahteraan masyarakat pertanian, pengurangan kemiskinan, serta pertumbuhan ekonomi di wilayah pedesaan (Dinas Pertanian, 2021). Oleh karena itu, penting bagi pemerintah, lembaga pendidikan, lembaga penelitian, dan organisasi pertanian untuk bekerja sama dalam menyediakan pelatihan petani yang efektif, relevan dengan kebutuhan lokal, serta berkelanjutan untuk mendukung perkembangan pertanian yang berkelanjutan dan inklusif.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Gambaran Umum Pelaksanaan KKL
Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan dilaksanakan selama 5 hari, yaitu pada tanggal 20 Februari 2023 - 25 Februari 2023 dengan mengunjungi perusahaan di bidang pertanian yaitu PT Bisi Internasional, PT Teh Villa Indonesia, Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC), dan PT Alove Bali.
3.2. PT BISI Internasional Tbk
PT BISI International Tbk adalah perusahaan yang bergerak di bidang produksi dan penjualan benih tanaman, dengan produk utama yang dihasilkan adalah benih jagung, benih hortikultura, benih padi, pestisida dan pupuk. PT BISI International Tbk didirikan pada 22 Juni 1983 dengan nama PT Bright Indonesia Seed Industry dan beroperasi secara komersial mulai tahun 1983. Kantor pusat BISI International Tbk berada di Jl. Raya Surabaya – Mojokerto KM 19, Desa Bringinbendo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dengan lokasi pabrik yang dikunjungi beralamat di Jl Raya Wates KM 9 Jawa Timur, Karang Nongko, Sumberagung, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Kegiatan produksi perusahaan didukung oleh adanya laboratorium bioteknologi yang terdiri dari laboratorium rekayasa genetik, laboratorium kultur jaringan, laboratorium proteksi tanaman, laboratorium fisiologi tanaman, dan laboratorium molekuler. Oleh karena itu, PT BISI Internasional mampu menghasilkan berbagai macam benih tanaman yang berkualitas. Adapun produk benih PT BISI Internasional dapat dilihat pada Ilustrasi 1 berikut.
10
Ilustrasi 1. Benih PT BISI Internasional Tbk.
Benih yang diproduksi oleh PT BISI International Tbk memiliki keunggulan dalam hal kualitas dibanding dengan benih dari perusahaan lain.
Kualitas produk benih tanaman diawasi dengan ketat oleh tim quality control. Tim quality control bertanggung jawab untuk memastikan bahwa benih yang diproduksi memenuhi standar kualitas yang ditetapkan. Mereka melakukan pengawasan dan pengujian benih untuk memastikan bahwa benih tersebut memenuhi persyaratan seperti kemurnian varietas, tingkat kecambah yang tinggi, daya tumbuh yang baik, dan kesesuaian terhadap standar fisiologis. Selama fase vegetatif tanaman, pengawasan terus berlanjut untuk memantau pertumbuhan dan kesehatan tanaman.
Kemudian, selama proses transportasi atau pemindahan tanaman benih menuju pabrik pengolahan, pengawasan dan pengawalan tetap diterapkan untuk memastikan benih terlindungi dan dalam kondisi optimal. Ini termasuk kontrol suhu, kelembaban, perlindungan terhadap kerusakan fisik, dan penanganan yang benar. Menurut Ningsih et al. (2018), kontrol kualitas yang ketat adalah aspek yang penting dalam industri benih, karena kualitas benih yang baik sangat penting untuk mencapai hasil pertanian yang optimal.
3.3. Teh Villa Indonesia
Teh Villa Indonesia merupakan produk teh dengan bahan utama teh hitam yang diproduksi oleh PT Karya Mas Makmur. Merek “Teh Villa” telah dibuat sejak tahun 1981 di Surabaya, dan sampai saat ini perusahaan PT Karya Mas Makmur
11
berlokasi di Rungkut Industri II Nomor 53, Kecamatan Rungkut, Surabaya, Jawa Timur. Produk yang diproduksi oleh PT Karya Mas Makmur diantaranya yaitu Teh Villa Celup berukuran 2 gram yang tersedia dalam kemasan sachet dan kemasan kotak berisi 25 kantong teh, Teh Celup Jumbo berukuran 7 gram, Teh Merah Wangi, dan Premium Black Tea (200 gram/pak) dengan grade ekspor. Menurut Anggraini et al. (2016), untuk memperoleh teh hitam dengan kualitas tinggi, diperlukan bahan baku berupa daun pucuk teh yang berkualitas.
Bahan baku produk berupa teh hitam diperoleh Teh Villa melalui kesepakatan jual beli dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Teh hitam dipilih menjadi bahan baku utama Teh Villa karena memiliki banyak manfaat, diantaranya yaitu menyingkirkan radikal bebas, mengurangi resiko penyakit jantung karena mengandung vitamin E, menyegarkan tubuh, menurunkan resiko kanker, memperkuat tulang dan gigi, serta mengurangi stress. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudaryat et al. (2015), bahwa kunci manfaat teh bagi kesehatan terletak pada komponen bioaktifnya, yaitu polifenol yang secara optimal terkandung dalam daun teh dan senyawa di dalamnya dapat mencegah penyakit kardiovaskuler dengan cara menurunkan laju oksidasi lemak. Adapun produk dari Teh Villa Indonesia dapat dilihat pada Ilustrasi 2.
Ilustrasi 2. Produk Teh Villa Indonesia
12
3.4. Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC)
Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) merupakan salah satu bentuk Corporate Social Responsibility yang diterapkan oleh PT HM Sampoerna, Tbk. sebagai upaya dalam membantu pemerintah untuk mengembangkan masyarakat. SETC terletak di Dusun Betiting Desa Gunting Kecamatan Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur dan diresmikan pada tahun 2007 di dengan luas tanah yaitu 27 ha. SETC dilengkapi dengan fasilitas untuk pelatihan terhadap UMKM seperti pelatihan pemeliharaan tanaman ventrikultur, pemeliharaan ikan air tawar, peternakan kambing boerja, peternakan sapi potong, dan pengolahan limbah berupa biogas dan urine fermentation technology (UFT). SETC tidak mengambil keuntungan dalam hal pelaksanaan pelatihan tersebut kepada masyarakat, hanya memberikan syarat berupa pembayaran biaya pendaftaran tanpa mengambil keuntungan. SETC juga menyediakan fasilitas berupa sarana pemasaran produk ritel hasil UMKM dengan tidak menerapkan adanya keuntungan atau fee marketing terhadap SETC.
Permasalahan yang dihadapi oleh Sampoerna Entepreneurship Training Center (SETC) adalah akses menuju lokasi yang berada di dalam desa sehingga jalan yang ada tidak dapat dilalui oleh bus, sehingga hanya bisa dilalui bus elf dan kendaraan lain yang lebih kecil. Hal ini dapat menjadi kendala apabila terdapat kunjungan massal yang menggunakan bus. Hal tersebut mungkin dapat dijadikan evaluasi mengingat kunjungan yang telah diterima oleh SETC sejauh ini sudah sampai ratusan ribu pengunjung dalam tiga belas tahun terakhir dan akan terus bertambah seiring dengan terpublikasinya kegiatan SETC yang menarik minat masyarakat.
Solusi untuk permasalahan yang dihadapi SETC adalah perlu adanya perluasan jalan sebagai akses menuju SETC agar dapat memudahkan pengunjung membawa transportasi yang digunakan. Diperlukan pembaharuan terhadap fasilitas SETC untuk dapat menjangkau berbagai jenis UMKM yang berkembang di masyarakat sekitar. Selain itu, perlu lebih aktif untuk mengadakan promosi SETC di berbagai media sosial agar masyarakat lain dapat mengetahui keberadaan dan fungsi SETC
13
sehingga dapat menjangkau masyarakat lebih luas. Media sosial berpotensi membantu pelaku bisnis UMKM memasarkan produknya (Syifa et al., 2012).
3.5. PT Alove Bali
PT Alove Bali bergerak dalam bidang pembuatan raw material berbahan dasar aloe vera. PT Alove merupakan salah satu perusahaan penghasil pupuk organik cair yang terbuat dari ekstrak lidah buaya dan diolah dengan fasilitas pengelolaan terpadu. Perusahaan ini terletak di Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali. PT Alove Bali didirikan pada tahun 2003 oleh seorang investor Belanda bernama Henk Swanenberg dan diprakarsai oleh Bapak Karang Sumadi. PT Alove Bali merupakan PMA dari Belanda sehingga menerapkan standar kualitas yang tinggi. Perusahaan tersebut juga dapat membuat produk raw sesuai dengan permintaan pelanggan. Perusahaan ini hanya memproduksi ekstrak lidah buaya pada tahun 2008 hingga 2010, lalu pada tahun 2011 mereka beralih untuk memproduksi pupuk organik cair yang berbahan dasar lidah buaya. Pupuk organic cair tersebut dapat dilihat pada Ilustrasi 3.
Ilustrasi 3. Biofertilizer Aloe Vera
PT Alove Bali membantu petani menanam lidah buaya dengan memberikan benih dan mengajari mereka cara merawat tanaman. Perusahaan memeriksa tanaman hingga tiba waktunya panen dan kemudian membeli lidah buaya dari
14
petani. PT Alove Bali menggunakan lidah buaya untuk membuat pupuk organik cair bermerek Sunland yang membantu tanaman lain tumbuh lebih baik, pupuk organik cair Sunland inilah yang menjadi produk utama perusahaan. Mereka bahkan menjual pupuk ini ke berbagai negara seperti Korea, Belanda, dan Australia.
PT Alove Bali juga membuat produk lain dari lidah buaya, seperti gel untuk kecantikan dan Aloe Vera Juice. Adanya berbagai produk olahan tersebut memberikan nilai keuntungan yang berbeda-beda (Dahari et al., 2014).
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang telah dilaksanakan pada tanggal 20 – 25 Februari 2023 dengan mengunjungi beberapa perusahaan yang bergerak dibidang pertanian yaitu PT Bisi International Tbk., Teh Villa Indonesia, PT HM Sampoerna Tbk., dan PT Alove Bali. Kegiatan KKL ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mahasiswa, serta membuat mahasiswa mengetahui kondisi penerapan agribisnis secara langsung pada perusahaan pertanian tersebut, yang dimana hal ini akan meningkatkan pengetahuan terkait pelaksanaan operasional perusahaan. Mahasiswa dapat menganalisis keunggulan perusahaan, permasalahan pada perusahaan, dan memberikan solusi terhadap masalah yang terjadi pada setiap perusahaan tersebut. Mahasiswa juga dapat mengetahui peran perusahaan dalam pelatihan para petani seperti yang dilakukan oleh SETC, mengetahui cara produksi serta pengolahan teh dan juga aloe vera melalui Teh Villa dan PT Alove Bali, serta dapat mengetahui keunggulan dan proses pembenihan dari PT BISI.
4.2. Saran
Melihat beberapa permasalahan yang terjadi pada setiap perusaahaan, maka solusi yang dapat diberikan untuk Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) yaitu dengan memperluas atau mempermudah jalan bagi pengunjung yang berjumlah banyak dan menggunakan bus besar untuk masuk ke dalam perusahaan, sehingga pengunjung akan merasa lebih nyaman dan juga perjalanan akan menjadi lebih efisien. PT Alove sendiri diharapkan dapat mengeksplorasi daan juga mengembangkan produk-produk yang dapat dihasilkan dari lidah buaya itu sendiri.
Teh Villa juga diharapkan dapat memasarkan produknya secara luas melalui media
16
online, sehingga dapat menjangkau lebih banyak anak muda. PT Bisi International Tbk. Kediri mungkin dapat meluaskan jenis benih yang dijual. Kegiatan KKL berjalan dengan cukup lancar meskipun sistem rangkaian kegiatan yang terlalu padat yang menyebabkan sedikit waktu untuk beristirahat. Diharapkan, kegiatan KKL kedepannya akan terjalankan secara lebih sistematis dan lebih baik.
17
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, Q. D., Haryono, & Aksioma, D. F. (2016). Pengendalian kualitas proses produksi teh hitam di PT Perkebunan Nusantara XII Unit Sirah Kencong. J.
Sains dan Seni, 5(2): 327–332.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). 2004. Tata cara Perencanaan Pengembangan Kawasan Untuk Percepatan Pembangunan Daerah. Direktorat Pengembangan Kawasan Khusus dan Tertinggal. Jakarta:
Bappenas.
Chrismawati, Y. & Pramono, R. W. D. (2021). Pemetaan stakeholder yang berperan dalam pengembangan agrowisata minapadi samberembe. J. Riset Pengembangan, 4(1): 26–46.
Dahari, J., Setiawan, B., & Muhaimin, A. W. (2014). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pelaku Usaha dalam Pengembangan Agribisnis Lidah Buaya (Aloe Vera L.) (Studi Kasus di Kota Depok Jawa Barat).
Agricultural Socio-Economics Journal, 14(3), 218-218.
Darwis, V. (2018). Sinergi kegiatan desa mandiri benih dan kawasan mandiri benih untuk mewujudkan swasembada benih. J. Analisis Kebijakan Pertanian, 16(1): 59–72.
Dinas Perkebunan Jawa Barat. (2013). Statistik Perkebunan Jawa Barat dalam Angka 2013. Bandung.
Eddyono, F. (2019). Pengelolaan Destinasi Pariwisata: Edisi Pertama. Uwais Inspirasi Indonesia: Ponorogo.
Euriga, E., Amanah, S., Fatchiya, A., & Asngari, P. S. (2018). Implementasi penyuluhan hortikultura berkelanjutan di Provinsi D.I. Yogyakarta. J.
Penyuluhan, 14(2): 289–307.
Fadhla, T., & Hamidi, A. Al. (2019). Studi Usaha Tani Pada Kelayakan Pembenihan Padi Varietas Ciherang di Kecamatan Meureudu Kabupaten Pidie Jaya. Jurnal Agriflora, 3(1), 67–76.
Fitria, A. (2016). Strategi Pengembangan Agribisnis Teh Rakyat Di Kabupaten Garut (Suatu Kasus Kabupaten Cirebon). J. Agribisnis Terpadu, 9(2).
Kusumawaty, Y., Edwina, S., & Maharani, E. (2018). Analisis Efisiensi Budidaya Tanaman Lidah Buaya Di Kelurahan Maharatu Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru. Jurnal Agribisnis, 20(1), 85-97.
Menteri Pertanian. (2006). Peraturan Menteri Pertanian Nomor 39/Permentan/Ot.140/8/2006 Tentang Produksi, Sertifikasi dan Peredaran Benih Bina.
18
Ningsih, N. N. D. R., I. G. N. Raka, I. K. Siadi, dan G. N. A. S. Wirya. (2018).
Pengujian mutu benih beberapa jenis tanaman hortikultura yang beredar di Bali. J. Agroekoteknologi Tropika, 7(1): 64–72.
Pujriyani, D. W. (2022). Generasi baru petani wirausaha: dinamika petani kecil dalam pertanian global. J. Tunas Agraria, 5(3): 254–267.
Saputra, G. B., Muksin, dan M. Muspita. (2018). Pengembangan agrowisata di Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember. JEPA, 2(4): 325–331.
Sayaka, B. & Hidayat D. (2015). Sistem perbenihan padi dan karakteristik produsen benih padi di Jawa Timur. J. Analisis Kebijakan Pertanian, 13(2): 185–202.
Septiani, I. (2022). Agribisnis jeruk dan strategi pengembangannya sebagai agrowisata di Kabupaten Lampung Timur. Tesis. Universitas Lampung.
Sudaryat, Y., Kusmiyati, M., Pelangi, C. R., Rustamsyah, A., & Rohdiana, D.
(2015). Aktivitas antioksidan seduhan sepuluh jenis mutu teh hitam (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) Indonesia. J. Penelitian Teh dan Kina, 18(2): 95–100.
Sulaiman, A.I., Kuncoro B., Sulistyoningsih, E. D., Nuraeni, H., & Djawahir, F.S.
(2017). Pengembangan agrowisata berbasis ketahanan pangan melalui strategi komunikasi pemasaran di Desa Serang Purbalingga. J. The Messenger, 9(1): 9–25
Syifa, Y. I., Wardani, M. K., Rakhmawati, S. D., & Dianastiti, F. E. (2021).
Pelatihan UMKM Melalui Digital Marketing untuk Membantu Pemasaran Produk Pada Masa Covid-19. ABDIPRAJA (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat), 2(1), 6-13.
Wahyuni, L., Riyanto, S., & Hardana, A. E. (2022). Gerakan Literasi Agraris:
Penyuluhan Pertanian Berbasis Pemberdayaan. UB Press: Malang.
Xi, J., Xue, Y., Xu, Y., & Shen, Y. (2013). Artificial Neural Network Modeling and Optimization of Ultrahigh Pressure Extraction of Green Tea Polyphenols.
Food Chemistry, 141(1), 320-326.
19
LAMPIRAN
Lampiran 1. Dokumentasi Kegiatan KKL
No. Dokumentasi Keterangan
1.
Kunjungan ke PT BISI Internasional Tbk.
2.
Pemaparan materi tentang PT BISI Internasional Tbk.
3.
Kunjungan ke Teh Villa Indonesia
4.
Pemaparan materi tentang Teh Villa Indonesia
20
5.
Proses produksi dan packing Teh Villa Indonesia
6.
Kunjungan ke Sampoerna Entrepreneurship Training
Center (SETC)
7.
Pemaparan materi tentang SETC
8.
Kunjungan ke PT Alove Bali
9.
Pemaparan materi tentang PT Alove Bali
21
10.
Tempat produksi PT Alove Bali
11.
Kebun lidah buaya milik PT Alove Bali