• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KULIAH LAPANGAN

N/A
N/A
aisyah nur (Aisyah Nur@peserta)

Academic year: 2024

Membagikan " LAPORAN KULIAH LAPANGAN "

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KULIAH LAPANGAN

DISUSUN : Nama : Yenni safitri

Npm : E1B017023 Kelompok : 3 ( tiga )

Dosen : M. Fajrin Hidayat, S.Hut., M.Si

Co-ass : 1. Akbar Roberta (E1B014001) 2. Adi Sutoyo (E1B015100) 3. Ani latifah (E1B015047) 4. Ivana Rindi Antika (E1B016035) 5. Ikhwandi S Lubis (E1b015006) 6. Feny Enjelina (E1B016011)

JURUSAN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU

2019

(2)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Hutan merupakan salah satu bentuk tata guna lahan yang lazim di jumpai dimana-mana, didaerah tropis maupun di daerah yang beriklim dingin, di negara yang sudah maju maupun di negara yang sedang berkembang, di daerah dataran rendah maupun dataran tinggi pegunungan dan di pulau kecil sampai benua yang sangat luas. Bahkan di daerah-daerah yang beriklim kering, hutan masih di jumpai. Di Australia dan Afrika, kawasan hutan sering kali berbatasan dengan gurun-gurun pasir yang gersang.

Di Indonesia memiliki beberapa sumber daya, baik sumberdaya alam fisik maupun sumberdaya alam hayati yang sangat bermanfaat bagi manusia. Untuk memanfaatkan sumber daya alam yang pada dasarnya merupakan suatu ekosistem, perlu mengetahui dan memahami karakteristik ekosistem tersebut. Dalam mempelajari ekosistem kita perlu melakukan pembagian wilayah secara ekologis dengan mempertimbangkan faktor-faktor fisik lingkungan dan faktor-faktor hayati.

Disamping itu juga perlu juga memahami komponen pembentuk ekosistem, terutama yang menyangkut flora, fauna, keadaan iklim dan tanah serta bagaimana cara persebaran vegetasinya.

Keanekaragaman hayati di Indonesia mempunyai pola penyebaran yang sangat spesifik berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut, dari hutan pantai hingga dataran tinggi dan hutan pegunungan. Formasi suatu hutan sangat ditentukan oleh lingkungannya. Ini dapat terlihat oleh lingkungan yang berbeda terdapat formasi berbeda pula, perbedaan ini dapat terjadi karena kemampuan tumbuhan untuk beradaptasi dengan lingkungannya yang berbeda-beda. Adaptasi tersebut baik secara fisiologis maupun morfologis.

Karakteristik tempat tumbuh tumbuh dimana hutan berada dipengaruhi oleh beberapa macam faktor, yaitu faktor iklim, faktor edafik, faktor fisiografik dan faktor biaotik. Faktor – faktor tersebut tida hanya mempengaruhi kondisi ekologi vegetasi yang tumbuh diatasnya tetapi juga mempengaruhi proses terjadinya suksesi untuk mencapai bentuk hutan yang dikenal sebagai bentuk hutan klimaks

1.2 Tujuan

Untuk mengamati dan mengetahui perubahan struktur dan komposisi jenis vegetasi hutan terhadap perubahan ketinggian dari permukaan laut yang meliputi formasi hutan mangrove, hutan pantai, hutan dataran rendah dan hutan dataran tinggi.

(3)

BAB II

KARAKTERISTIK LOKASI KEGIATAN 2.1 Mangrove

Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (terutama di daerah terlindung, laguna, muara sungai) yang tergenang pada saat surut yang komunitas tumbuhan bertoleransi terhadap garam. Hutan mangrove sering disebut juga hutan pasang surut, hutan payau atau hutan bakau. Istilah bakau sebenarnya hanya merupakan nama dari salah satu jenis tumbuhan yang menyusun hutan mangrove yaitu Rhizophora sp. (Kusmana, 1995).

Hutan mangrove merupakan hutan yang berada di daerah tergenang sesuai dengan literature yang saya dapat . pada hutan mangrove jenis yang ada rata-rata di dominasi tumbuhan mangrove dan beberapa tumbuhan lainnya seperti waru . tumbuhan mangrove tersebut beradaptasi dengan cara mengembangkan akar tunjang untuk memperkuat dari terjangan air laut. Menumbuhkan akar nafas untuk mengambil oksigen dari udara , menebal kan daun untuk menghemat siklus respirasi agar air tetap ada selama di butuh kan di daun .

2.2 Hutan Pantai

Hutan pantai disebut juga vegetasi litoral yang berkembang di wilayah pasang-surut pesisir berperairan masin dangkal dengan substrat air atau karang. Vegetasi di perairan dangkal dekat pantai didominasi oleh lamun dan ganggang laut. Berbeda dengan kondisi pantai kering, terdapat terna (herba) yang didominiasi oleh Ipomoea pes-caprae yang bercampur dengan tumbuhan merayap lainna seperti Canavallia maritima dan Vigna marina. Terdapat pula rumput Ischaemum muticum dan Spinifex littoreus serta teki-tekian Cyperus pedunculatus (Kartawinata 2013).

Dari literature tersebut dapat benar di buktikan dilapangan bahwasannya banyak di temukan tanaman ipomea pes-caprae yang merayap di atas pantai yang sering disebut scaviolae, pohon cemara, pohon waru dan nyamplung. Selain itu tekstur tanah berpasir merupakan sebab komposisi suatu hutan pantai berbeda dgn yang lain.

2.3 Taba Penanjung

Pengertian dan Definisi dari Hutan hujan tropis adalah hutan yang berada pada daerah tropis dengan curah hujan yang melimpah berkisar 2000 - 4000 mm pertahun. Suhunya tinggi (rata-rata sekitar 25-26°C) dan mempunyai kelembaban rata-rata sekitar 80%. Komponen dasar hutan tersebut adalah pohon dengan ketinggian mencapai rata-rata 30 meter. Hutan hujan tropis merupakan suatu komunitas yang sangat kompleks dengan ciri yang utama adalah pepohonan dengan berbagai ukuran.

Kanopi hutan menyebabkan iklim mikro yang berbeda dengan keadaan di luarnya; cahaya kurang dan kelembaban yang lebih tinggi dengan suhu yang rendah.

Hutan hujan tropis merupakan hutan yang mempunyai tajuk pohon yang lebar-lebar, pohon berdiameter besar-besar dan tingkat keanekaragaman yang tinggi itu karena tingkat curah hujan yang tinggi serta unsur hara yang melimpah dan sinar matahari tersedia setiap hari yang membuat siklus karbon cepat berputar dan unsur hara melimpah.hal ini sesuai dengan literature yang di dapat bahwa curah hujan yang melimpah sekitar 2000-4000 mm pertahun yang mebuat ketersediaan air melimpah sebagai sumber pohon untuk berfotosintesis .

(4)

2.4 Bukit Kaba

Pengertian Dataran tinggi adalah suatu daerah berbentuk datar di permukaan bumi yang mempunyai ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukaan laut. Dataran tinggi biasanya memiliki suhu udara yang sejuk dengan tanah yang subur sehingga cocok digunakan untuk pengembangan daerah pertanian. Tidak semua dataran tinggi di atasnya sempit, melainkan terdapat pula dataran tinggi yang puncaknya datar dan cukup luas, dataran tinggi semacam ini biasa disebut plato, Hutan dataran tinggi adalah hutan dengan posisi setelah hutan dataran rendah. Hutan dataran tinggi merupakan hutan yang tumbuh di daerah dengan ketinggian 1000 - 1750 meter diatas permukaan laut. Hutan dataran tinggi sangat jarang disebutkan dalam beberapa materi pembelajaran karena hutan dataran tinggi biasanya disatukan keberadaannya dengan hutan dataran rendah. Oleh karena itu kondisi alam dan ciri – ciri serta manfaat dari hutan dataran tinggi masih sedikit.

Angka-angka ini akan lebih bervariasi lagi bila menyebut batas-batas subzona vegetasi pegunungan.

Dari studinya selama berpuluh-puluh tahun di kawasan Malesia, van Steenis menyimpulkan bahwa terdapat tiga subzona hutan pegunungan, yakni :

a.) Submontana (sub-pegunungan atau disebut juga hutan pegunungan bawah), antara ketinggian 1.000—1.500 m dpl.

b.) Montana (hutan pegunungan atas) antara 1.000—2.400 m.

c.) Subalpin, di atas ketinggian 2.400 m.

A) Hutan Montana

Hutan pegunungan atau hutan motana (montane forest) adalah salah satu formasi hutan tropika basah yang terbentuk di wilayah pegunungan. Salah satu cirinya, hutan ini kerap diselimuti awan, biasanya pada ketinggian atap tajuk (kanopi) nya. Pepohonan dan tanah di hutan ini acapkali tertutupi oleh lumut, yang tumbuh berlimpah-limpah. Oleh sebab itu, formasi hutan ini juga dinamai hutan lumut, hutan kabut, atau hutan awan (cloud forest).

B.) Hutan Sub Montana

Terletak pada ketinggian 1000-2500 meter di atas permukaan laut. Dominasi vegetasi di hutan ini berbeda-beda, tergantung pada ketinggiannya. Ketinggian 1000-1500 meter didominansi oleh tumbuhan semak, sedangkan pada ketinggian lebih dari 1500 meter didominansi oleh lumut, anggrek, dan tumbuhan paku efifit.

C.) Hutan Sub Alpin

Hutan sub alpin juga disebut hutan kabut atau hutan berlumut. Hutan ini banyak terdapat di Papua di mana terdapat pegunungan yang tinggi. Ciri-ciri hutan subalpin sebagai berikut.Terdapat pada ketinggian 2.400–4.000 meter di atas permukaan laut.

Pohon-pohonnya rapat, tetapi rendah. Tinggi pohon berkisar antara 8–20 meter.

Jumlah jenis pohon sedikit dengan batang-batang yang membengkok dan diselimuti berjenis-jenis lumut.

(5)

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

4.1.2 Data awal Hutan Pantai Plot 1

Kelompok 1

Pohon/Pancang No. Jenis ᴓ (cm) Tinggi Lebar tajuk

TT TBC U S T B

Pohon

1. Cemara laut 58 21 9 4 6 6 3

2. Nyamplung 34,07 17 3 7 2 8 4

3. Nyamplung 32 19 2 3 4 4 4

Sapihan

1 Waru 4,8 4 - 1 0,5 0,8 1

2 Waru 3,8 3,5 - 1 0,6 1 0,3

3 Waru 3,5 5 - 1 1 0,7 1,4

4 Waru 4,8 6 - 0,6 1 1 0,4

5 Waru 6,7 5 - 0,6 1 0,9 0,2

6 Waru 4,4 3 - 1 1,2 1 0,3

7 Argicia L. 7,6 4 - 0,5 1 0,8 0,4

8 Argicia L. 2,2 4 - 0,6 0,5 1 1

9 Argicia L. 2,8 3,5 - 1 0,8 1,1 0,7

Kelompok 2

Pohon

1 Cemara lau 35,7

2 Waru 26,7

3 Waru 23,2

Tiang

1 Waru 10,1

2 Waru 11,5

3 Waru 14,2

Pancang

1 Waru 3,8

2 Waru 4,1

(6)

3 Waru 4 Tanaman

bawah

4 Rumput (70) - - - -

5 Bunga kuning (2)

- - - -

Kelompok 3

Pohon 1 Cemara laut 52.87 21.25 9 5 3 4

2 Cemara laut 53.82 34 15 4 3.5 4 5

3 Cemara laut 41.4 35.5 18 3 3.5 4.6 4.5

Tiang 1 Waru 11.14 9.5 4.5 1 0.7 2 0.8

2 Waru 19.7 12.8 4.3 1.2 1.8 0.7 1

Pancang 1 Ketapang 5.67 13.6 6.4 1 1 1.3 1.5

2 Ketapang 5.1 4.1 1.4 - - - -

3 Ketapang 3.4 3.9 1.1 - - - -

Anakan 1 Ketapang - 0.5 - - - - -

Kelompok 4 Pohon

1 Akasia 23.08 10 4 - - - -

2 Akasia 20.38 8 6 - - - -

3 Waru 23.24 13 2.5 - - - -

4 Cemara laut 25 15 3.5 - - - -

Tiang

1 Akasia 12.7 14 8 - - - -

2 Spesies a 10.5 12 5 - - - -

Pancang 1 Spesies a 7.6 - - - -

Anakan 1

Ardisia

humilis 4.14 - - - -

Kelompok 5

Pohon

1 Cemara laut 52 7 2 1.5 1.5 1.5 2

2 Cemara laut 41 5 1.5 1.5 1.5 1 1

3 Cemara laut 41 5.5 1.5 2 2 1.5 1.5

4 Cemara laut 66 6 2 2 2 1.5 2

Tiang - - - - -

Pancang 1 Cemara laut 32 7 1.5 - - - -

2 Waru 27 4 2 - - - -

Tumbuhan

bawah 1

Rumput teki

(50) - - - -

Kelompok 6

Pohon 1 Waru 32.8 7.5 2.4 - - - -

2 Cemara laut 44.26 35 2.3 - - - -

Pancang

1 Waru 7 3.4 1.7 - - - -

2 Nyamplung 3.1 1.7 - - - - -

3 Ketapang 2.9 1.8 - - - - -

Anakan

4 Katang-katang - - - -

5

Stenotapharum

sp - - - -

(7)

6 Nyamplung - 8 - - - - -

7 Nyamplung - 9 - - - - -

Kelompok 7

Pohon 1 Cemara laut 39,8 30 13 2.5 3 1.5 4

Pancang 1 Cemara laut 5,19 4 1,5 - - - -

2 Cemara laut - - - -

3 Cemara laut 5,09 3 2,5 - - - -

4 Waru 5,41 4 1.5 - - - -

5 Waru 5,09 3,5 1 - - - -

6 Waru 6,05 4,5 2 - - - -

7 Waru 5,41 4 2 - - - -

1 Cemara laut - - - -

Kelompok 8

Pohon 2 Cemara laut 31,52 16 10 - - 4 2

3 Cemara laut 33,75 20 12 - - 5 2

Tiang 1 Waru 46,49 22 6 - - 4 3

Pancang

2 Waru 14,01 11 4 2 0,8 1 0,5

3 Waru 13,69 12,3 5 1 1,5 0,8 0,5

1 Waru 12,43 13 5,5 1 1 1,5 2

2

Ardisia

elliptica 5,19 4 1,5 - - - -

3 Waru 5,09 3 1,25 - - - -

Anakan 1 Waru 7 4,5 2 - - - -

Tumbuhan

bawah 1 Rumput teki - - - -

Kelompok 9

Pohon - - - -

Tiang - - - -

Pancang

1 Waru - 2,6 1,7 - - - -

2 Waru 3,1 2,3 - - - -

3 Waru - 4,3 2,1 - - - -

Anakan - - - -

4.1.3 Data awal Hutan pantai Plot 2

Pohon/pancang No. Jenis ᴓ (cm) Tinggi Lebar tajuk

Tt Tbc U S T B

Pohon

1. Cemara laut 24 18 10 3 1 0,4 0,8

2. Cemara laut 25 14 9 4 2 0,6 1

3. Cemara laut 39 19 14 2 0,8 1,2 0,8

4. Nyamplung 20 13 8 3 1 0,8 0,7

(8)

5. Ketapang 20 15 7 4 2 1 2

Tiang

1. Nyamplung 10 7 4 1 0,4 0,4 1,1

2. Nyamplung 10 9 5 1 1 0,8 1,5

3. Nyamplung 12 9 7 1,3 0,4 1 1,4

4. Nyamplung 10 8 5 1 1 0,5 0,5

5. Nyamplung 11 11 7 0,5 1 1,4 0,4

6. Nyamplung 15 10 5 0,6 1,2 0,4 1

7. Ardisia 17 6 4 0,4 0,9 1 0,3

8 Ardisia 14 9 5 0,9 1,1 0,3 1

Sapihan

1. Nyamplung 9 5 - 0,2 1 0,5 0,4

2. Nyamplung 9 4 - 1 0,2 1 1,4

3. Nyamplung 9 5 - 1,2 1 0,7 0,8

Anakan

1. Spesias A - 1 - - - - -

2. Nyamplung - 1 - - - - -

3. Nyamplung - 1,3 - - - - -

4. Nyamplung - 2 - - - - -

5. Nyamplung - 1,5 - - - - -

Kelompok 2,3,4,5,6,7 Tidak ada data

Kelompok 8

Pohon 1 Cemara laut 37,89 24 12 4 2 3 2

2 Cemara laut 75,98 20 14 3 3 4 1

3 Cemara laut 29,29 16 11 4 3 2 3

Tiang 1 Waru 11,30 12 4 1,2 1 2 0.8

2 Waru 12,7 13 6 2 1 1,8 1

Pancang 1 Waru 9,55 8 5,5 - - - -

2 Waru 5,41 10 6 - - - -

Kelompok 9

(9)

Pohon 1 Cemara laut 62,74 25 8 3 2 5 3

Tiang 1 Waru 14,65 10 3 1 1.3 1.5 3

2 Waru 15,56 9.5 3.2 2 1 1.5 2

3 Waru 12,1 8.2 3 1 1 1 1.4

4 Waru 14,01 8.5 3.1 1.2 1 1.5 2

5 Waru 10,83 7 3.5 1 1.2 1 0.5

6 Waru 11,46 6.5 3.6 1 1 1 1.2

7 Waru 16,88 9 3 1 0.8 1 1

8 Waru 12,74 9.5 3.1 1.2 0.5 2 1

9 Waru 11,45 9 3 1 1 2 0.5

10 Waru 13,05 9.5 4 0.7 1 1 1

Pancang 1 Waru 5,32 5.1 2.3 - - - -

2 Waru 4,21 4.8 1.8 - - - -

3 Waru 6,32 3.3 2.6 - - - -

4 Waru 5,45 4.8 2.5 - - - -

5 Waru 3,12 3 1.9 - - - -

6 Waru 3,45 4.2 2.1 - - - -

7 Waru 4,45 7 2 - - - -

8 Waru 3,12 4.6 1.6 - - - -

9 Waru 3,45 3.4 1.3 - - - -

10 Waru 3,42 3 1.2 - - - -

11 Waru 3,52 3.2 1.4 - - - -

Tumbuhan bawah

1 T.bawah 1 (25)

- - - -

2 T.bawah 2 (2) - - - -

3 T.baawah3 (1)

- - - -

(10)

4.1.4 Data awal Hutan Mangrove

Pohon/pancang No. Jenis ᴓ (cm) Tinggi Lebar tajuk

TT Tbc U S T B

Pohon

1. Rhizopora 21,34 17 8 3 3 1 3

2. Avisenia 21,34 17 6 3 2 2 2

3. Sonneratia 30,25 23 16 5 3 1 3

4. Rhizopora 23,89 24 17 3 4 1 2

5. Rhizopora 22,29 22 17 3 1 2 3

6. Sonneratia 32,80 27 16 4 2 1,2 2

7. Sonneratia 24,20 24 17 1 1 2 1

Tiang

1. Rhizopora 18,78 18 10 2 1 1 1,5

2. Rhizopora 10,19 15 6 2 2 1 1

3. Sonneratia 10,83 17 14 2 1 3 2

4. Rhizopora 11,46 18 13 3 1 2 1

5. Rhizopora 18,15 18 15 2 1 3 1

Kelompok 2

Tiang 1 Soneratia 16,5 23 1 - - - -

2 Soneratia 14,8 20 3,2 - - - -

Pancang

1 Rhizopora 9,5 7 - - - - -

2 Rhizopora 6,3 7,2 - - - - -

3 Rhizopora 7,9 5 - - - - -

4 Soneratia 9,2 6 - - - - -

5 Rhizopora 11,3 6,5 - - - - -

6 Soneratia 8,7 5,2 - - - - -

Anakan

1 Rhizopora 4 4 - - - - -

2 Rhizopora 4,2 4,5 - - - - -

3 Rhizopora 4,5 5 - - - - -

4 Rhizopora 3,4 4 - - - - -

(11)

5 Rhizopora 3 3,5 - - - - -

6 Rhizopora 3 3,7 - - - - -

7 Rhizopora 3 4 - - - - -

8 Rhizopora 3 4 - - - - -

9 Rhizopora 3 4 - - - - -

10 Rhizopora 2,8 3,7 - - - - -

11 Rhizopora 2,3 3,5 - - - - -

12 Rhizopora 2,2 3,2 - - - - -

13 Rhizopora 4 5 - - - - -

14 Rhizopora 4 5 - - - - -

15 Rhizopora 4 5,2 - - - - -

16 Rhizopora 4 5,1 - - - - -

17 Rhizopora 4,2 5,5 - - - - -

18 Rhizopora 4,2 5,6 - - - - -

19 Rhizopora 3,8 5,9 - - - - -

20 Rhizopora 4 5 - - - - -

21 3,4 4 - - - - -

22 4,5 5 - - - - -

23 3,4 4 - - - - -

24 4 5 - - - - -

Kelompok 3

Pohon

1 Sonneratia 24.36 9 14 4 2.2 2.6 1.5

2 Rhizopora 21.5 17 13.6 1.7 2.1 3.1 2.6 3 Rhizopora 21.76 16.4 12.3 2.7 1.6 2.8 2.6

Tiang 1 Sonneratia 15.8 12 7.8 1.3 1.8 0.9 1.1

2 Rhizopora 17.63 11.5 6.3 1.2 1.8 0.8 1.5 3 Rhizopora 14.74 12.3 5.9 2 1.4 1.1 1.2

Pancang 1 Rhizopora 3.52 3.5 1.5 - - - -

(12)

2 Rhizopora 8.43 2.4 1.1 - - - -

3 Rhizopora 2.45 2.1 0.9 - - - -

4 Rhizopora 4.8 1.9 1 - - - -

5 Rhizopora 6.6 2 0.8 - - - -

Kelompok 4

Tiang 1 Sonneratia 16.24 10 1 - - - -

2 Avecinea alba 12.42 9 2 - - - -

Anakan 1 Avecinea alba 2.8 2 - - - - -

2 Avecinea alba 2.3 1.5 - - - - -

3 Avecinea alba 2.5 1.8 - - - - -

4 Avecinea alba 2.3 1.2 - - - - -

Kelompok 5

Pohon 1 Sonneratia 49.5 5 4 2 1.5 1.5 1.5

2 Sonneratia 33 4 3 1.5 2 1.3 1.5

Kelompok 6

Pohon 8 Bakau - 15 5 - - - -

9

Mangrove

merah - 7 1.3

- - - -

Kelompok 7 Pohon

1 Soneratia 27,7 13 8 3 2.5 2.7 1.5

2 Soneratia 25,95 15 11 1,9 2,2 3,2 2,7

3 Soneratia 19,74 17 12 2,7 2,2 2,1 3

4 Soneratia 31,21 22 15 2,1 2,4 2,6 2,3

5 Soneratia 20,38 19 14 2 2,8 1,8 2,6

6 Soneratia 16,24 20 15 3,2 2,5 2,7 2,5

7 Soneratia 19,26 19 13 2,4 2 2,6 1,9

8 Soneratia 21,33 16 10 1,9 2,7 2,3 2,1

9 Soneratia 21,65 22 6 2,1 2,6 2,3 3,1

Pancang 1 Rhizopora 6,05 4.5 - - - - -

2 Rhizopora 6,36 4.8 - - - - -

3 Rhizopora 7,64 5.1 - - - - -

4 Rhizopora 1,5 5 - - - - -

5 Rhizopora 7,16 4.2 - - - - -

Kelompok 8

Pohon 1 Soneratia 19,10 10 2 2,8 7.9

2 Soneratia 24,84 19 4 8,2 6

3 Soneratia 29,29 22 5 2,8 4,6 2,1 3,4

Tiang 1 Senneratia 18,78 16 6 2,5 4,5 2

2 Senneratia 19,10 7 7 2,4 4.2 -

Pancang 1 Rhizopora 6 5 1,7 - - - -

2 Rhizopora 7,4 7 2,3 - - - -

Anakan 1 Rhizopora - - - -

(13)

2 Rhizopora - - - -

3 Rhizopora - - - -

4 Rhizopora - - - --

Kelompok 9

Pohon 1 Sonneratia 20.06 12 10 3 2.5 2 4

2 Sonneratia 20.06 14 8 2 3 3 2.6

3 Sonneratia 25.16 15 2.8 3 2 3 2.5

Tiang 1 Sonneratia 7 13 2.5 2 2.9 3.2 3

2 Rhizopora 12.1 11 2 2.5 2 3 2

3 Rhizopora 19.43 12 6 1.7 1.5 2 2.1

4 Sonneratia 10.51 11 2 2 2 2 1.5

5 Rhizopora 19.1 16 2.4 1.5 1.5 2.3 2

6 Sonneratia 14.01 4 8 2 1.9 3 2

Pancamg - - - -

Anakan - - - -

4.1.5 Hasil perhitungan hutan pantai INP Hutan Pantai

No .

Spesies K KR F FR D DR INP

1 Cemara 0,012 4,541 1 18,14 444,67 97,28

2 Akasia 0,0016 0,605 0,11 1,9 0,61 0,13

3 Waru 0,033 12,48 0,88 15,97 2,09 0,45

4 SP.A 0,001 0,378 0,11 1,99 0,50 0,11

5 Ardisia 0,0038 1,438 0,33 5,9 0,25 0,05

6 B.Kuning 0,084 31,788 0,22 3,9

(14)

231,7 708 7

Ketapang 0,0027 1,02 0,22 3,99 0,2 0,04

8 Nyamplung 0,01 3,78 0,22 3,99 1,43 0,31

9 Stenotapharum 0,00055 0,208 0,11 1,9

10 Katang 0,00055 0,208 0,11 1,9

11 Rumput teki 0,066 24,97 0,22 3,99

12 TB 1 0,0138 5,222 0,11 1,9

13 TB 2 0,001 0,378 0,11 1,9

14 TB 3 0,00055 0,208 0,11

1,9

Jumlah 82,2708 51,13 98,37

INP Hutan Mangrove

No Spesies K KR F FR D DR INP

1 Rhizophora 0,032 12,19 0,66 11,9 2,45 0,53

59,34 4

2 Avicenia 0,0044 1,66 0,22 5,9 0,20 0,043

3 Bakau 0,001 0,38 0,11 1,9

4 Soneratia 0,03 11,43 0,66 11,9 4,68 1,02

Jumlah 25,66 31,6 2,084

(15)

4.1.5 Denah plot 1

4.1.6 Proyeksi horizontal plot 1

(16)

4.1.7 Proyeksi vertical plot 1

4.1.8 Plot denah 2

(17)

4.1.9 Proyeksi horizontal plot 2

4.1.10 Proyeksi vertikal plot 2

(18)

4.1.11 Proyeksi vertical 2

4.1.12 Denah plot

(19)

4.1.13 Proyeksi horizontal plot

4.1.14 Proyeksi vertikal plot

(20)

3.1.3 Hutan Hujan Tropis (Hutan Lindung Bukit Daun Taba Penanjung) a. Analisis Vegetasi Hutan

Tumbuhan Bawah (1m x 1m) No Nama Jenis K

(ind/ha) KR (%) F FR (%) INP (%) 1 Spesies A 8 20,51282 1,6 20,51282 41,02564 2 Spesies B 7 17,94872 1,4 17,94872 38,46154 3 Spesies C 9 23,07692 1,8 23,07692 43,58974 4 Spesies D 3 7,692308 0,6 7,692308 28,20513 5 Spesies E 2 5,128205 0,4 5,128205 25,64103 6 Spesies F 7 17,94872 1,4 17,94872 38,46154 7 Spesies G 2 5,128205 0,4 5,128205 25,64103 8 Paku-Pakuan 1 2,564103 0,2 2,564103 23,07692

Total 39 100 7.8 100 200

Tiang (10m x 10m) No Nama

Jenis

Jumlah Individu

K

(ind/ha) KR (%) F FR (%) D DR (%) INP (%)

1 Sp A 4 40 28,57143 0,8 28,57143 1326,65 12,00924 69,1521

2 Sp B 3 30 21,42857 0,6 21,42857 1766,25 15,98863 58,84577

3 Sp C 1 10 7,142857 0,2 7,142857 2268,65 20,53651 34,82222

4 Laban 2 20 14,28571 0,4 14,28571 1430,663 12,95079 41,52222 5 Ficus 2 20 14,28571 0,4 14,28571 1766,25 15,98863 44,56006 6 Kemenyan 1 10 7,142857 0,2 7,142857 949,85 8,59833 22,88404

7 Sp G 1 10 7,142857 0,2 7,142857 1538,6 13,92787 28,21359

TOTAL 14 140 100 2,8 100 11046,91 100 300

(21)

Pancang No Nama

Jenis

Jumlah Individu

K

(ind/ha) KR (%) F FR (%) INP

1 Ficus Sp 8 80 57,14286 1,6

57,14286 114,2857

2 Laban 1 10 7,142857 0,2 7,142857 14,28571

3 Sp A 2 20 14,28571 0,4 14,28571 28,57143

4 Sp B 2 20 14,28571 0,4 14,28571 28,57143

5 Sp C 1 10 7,142857 0,2 7,142857 14,28571

Total 14 140 100 2,8 100 200

Pohon (20m x 20m) N

o

Nama Jenis

Jumlah Individ

u

K (ind/ha

)

KR (%) F FR (%) D DR (%) INP (%)

1 Sp A 4 40 17,3913 0,8 17,3913 7065 8,73786

4

43,5204 7

2 Sp B 3 30 13,0434

8 0,6 13,0434

8 12560 15,5339

8

41,6209 4

3 Sp C 3 30 13,0434

8 0,6 13,0434

8 11335,4 14,0194 2

40,1063 7

4 Sp D 4 40 17,3913 0,8 17,3913 14514,6

5

17,9514 6

52,7340 7

5 Sp E 4 40 17,3913 0,8 17,3913 5722,65 7,07767 41,8602

8 6 Shorea

Sp

2 20 8,69565

2 0,4 8,69565

2 8038,4 9,94174 8

27,3330 5 7 kemenya

n

2 20 8,69565

2 0,4 8,69565

2 5722,65 7,07767 24,4689 7

8 Sp F 1 10 4,34782

6 0,2 4,34782 6

15896,2 5

19,6601 9

28,3558 5

Total 23 230 100 4,6 100 80855 100 300

(22)

3.1.4 Hutan Pegunungan (TWA Bukit Kaba) 3.1.4.1 Hutan Pegunungan Rendah (Sub Montana)

a. Analisis Vegetasi Hutan Tumbuhan Bawah (1m x 1m)

Tiang (10m x 10m) No Nama

Jenis

Jumlah Individu

K (ind/ha)

KR

(%) F FR (%) D DR (%) INP (%)

1 Sp A 4 40 40 1 45,454545 1766,25 20,77562327 106,2302

2 Sp B 2 20 20 0,4 18,181818 1326,65 15,60480148 53,78662

3 Laban 2 20 20 0,4 18,181818 2009,6 23,63804247 61,81986

4 Ficus 1 10 10 0,2 9,0909091 1130,4 13,29639889 32,38731

5 Kemenyan 1 10 10 0,2 9,0909091 2268,65 26,68513389 45,77604

TOTAL 10 100 100 2,2 100 8501,55 100 300

No Nama Jenis K (ind/ha)

KR

(%) F FR

(%) INP (%)

1 Paku Resam 28 35 5,6 35 70

2 Siperus 1 1,25 0,2 1,25 2,5

3 Seduduk 7 8,75 1,4 8,75 17,5

4 Rumput Teki 8 10 1,6 10 20

5 Melastoma 3 3,75 0,6 3,75 7,5

6 Tapokea 4 5 0,8 5 10

7 Ilalang 3 3,75 0,6 3,75 7,5

8 Spesies A 9 11,25 1,8 11,25 22,5

9 Spesies B 12 15 2,4 15 30

10 Spesies C 3 3,75 0,6 3,75 7,5

11 Spesies A 2 2,5 0,4 2,5 5

Total 80 100 16 100 200

(23)

Pancang No Nama

Jenis

Jumlah Individu

K (ind/ha)

KR

(%) F FR

(%)

INP (%)

1 A 4 40 25 0,8 25 50

2 B 3 30 18,75 0,6 18,75 37,5

3 FICUS 8 80 50 1,6 50 100

4 LABAN 1 10 6,25 0,2 6,25 12,5

Total 16 160 100 3,2 100 200

Pohon (20m x 20m) No Nama

Jenis

Jumlah Individ

u

K (ind/ha

)

KR (%) F FR (%) D DR (%) INP

(%)

1 A 3 30

33,3333

3 0,6

33,33333 3

11335, 4

23,1113956 5

89,7780 6

2 B 3 30

33,3333

3 0,6

33,33333 3

18086, 4

36,8758002 6

103,542 5

3 C 3 30

33,3333

3 0,6

33,33333

3 19625 40,0128041

106,679 5 TOTAL

9 90 100 1,8 100

49046,

8 100 300

(24)

4.2 Pembahasan 4.2.1 Mangrove

Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat pada daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut. Hutan mangrove/hutan payau di pengaruhi oleh pasang surut dan tidak terpengaruh oleh iklim. Yang ditumbuhi hutan payau adalah daerah pantai yang landai dan biasanya di tempat-tempat gelombang laut yang tidak terlalu besar. Tanahnya lumpur, pasir atau lumpur berpasir. Di dalam hutan ini hanya terdapat satu stratum tajuk. Dan pohon-pohon dapat mencapai tinggi 50 meter.

Dari hasil pengamatan yang kami lakukan, banyak jenis yang dapat kami temukan pada hutan mangrove yang berada di Taman Wisata Alam pantai panjang. Seperti Avicinea, Rhizopora dan sonneratia untuk orang yang belum pernah melihat ataupun belum mengetahui prihal jenis mangrove karena jenis mangrove karena memiliki ciri yang hampir serupa.

Mangrove yang ada dihutan mangrove tergolong dengan tanaman berukuran besar.meskipun diameternya tidak cukup besar. Akar yang ada pada tanaman terbilang kuat dan kokoh jika dilihat dari pinggir maka keberagaman pada mangrove semakin banyak terutama semakin dekat dengan pinggir maka vegetasinya semakin beragam juga kondisi fisiknya berbeda.

Kedaan tanah pada hutan mangrove adalah becek dengan tekstur lempung berpasir untuk itulah tumbuhan pada hutan mangrove mempunyai perakaran yang khas, yang mana akarnya sangat kuat. Perakaran yang kuat ini digunakan tumbuhan tersebut untuk menahan dari pasang surut air dan menahan dari pengaruh salinitas yang tinggi INP yang didapat di hutan magruv adalah 59,344.

4.2.2 Hutan Pantai

Hutan pantai terdapat pada daerah-daerah kering tepi pantai. Hutan tersebut tidak dipengaruhi oleh iklim. Tumbuhan pada hutan pantai tumbuh pada tanah berpasir dan berbatu serta terletak diatas garis pasang tertinggi. Hutan pantai tidak terlalu luas dan hanya tumbuh memanjang sepanjang pantai dan sejajar dengan pantai.

Jenis-jenis yang banyak terdapat pada hutan pantai Taman Wisata Alam, adalah :waru, cemara, nyamplung dan beberapa jenis tumbuhan yang tidak kami ketahui. Tumbuhan pada hutan pantai berbeda dengan hutan mangrove. Pada hutan mangrove tumbuhannya memiliki perakaran yang dalam dan kuat, sedangkan tumbuhan pada hutan pantai mempunyai perakaran yang dangkal.

Bentuk percabangan pada hutan pantai tidak beraturan, pada umumnya tumbuhannya mempunyai tajuk yang merata dan tinggi bebas cabang yang tinggi. Bentuk cabang seperti ini merupakan adaptasi tumbuhan pada hutan pantai yang peka terhadap terpaan angin yang kencang.

Yang mana hutan pantai di di gunakan/berfungsi untuk mencegah angin. Karena itulah pada hutan pantai hanya di tumbuhi oleh pohon yang tahan terhadap terpaan angin yang kencang.

Tipe substratnya berpasir dan sistemnya kering, sehingga pohon-pohon pada hutan pantai sangat mudah terbakar.Angin yang kencang dan keadaan sistem yang kering sangat mendukung mudahnya api menjalar. Pada hutan pantai tubuhannya memiliki dua tempat tumbuh daerah yang berpasir kandungan haranya kurang, sedangkan pada daerah yang ditumbuhi oleh rumput lebih stabil dan mengandung hara yang agak lebih dari daerah berpasir.

Bentuk adaptasi dari tumbuhan pada hutan pantai adalah kulit buah yang tebal, daun yang tebal dan mengkilap. Yang mana dengan kulit buah yang tebal akan melindungi biji dari kerusakan,

(25)

ciri khas dari buah tumbuhan hutan ini adalah akan tumbuh dan bertunas apabila kulit bijinya rusak karena imbibisi air dan akhirnya jatuh dan akan tumbuh INP yang di dapat di hutan pantai 231,7708.

4.2.3 Taba penanjung

Hutan ini terdapat pada ketinggian 700 m dpl dan merupakan hutan tropis campuran. Di dalam vegetasi ini pohon-pohon besar merupakan anggota yang terbanyak, meskipun beberapa juga ada yang kecil. Biasanya hutan ini terdiri dari 3-4 strata.

Hutan ini merupakan campuran dari banayk jenis terutama di Sumatera dan Kalimantan, jenis suku Dipterocarpaceae adalah merupakan pohon-poohon yang tertinggi dan terbanyak Jenis yang juga terdapat banyak, antara lain suku-suku : Lauraceae, Burseraceae, Myristecaceae, Gutiferaceae, Ebenaceae dan Meliolaceae.

Pada pengamatan tumbuhan hutan dataran rendah Taba Penanjung, kami menggunakan tiga plot, plot 20 x 20 m adalah untuk melihat tingkatan pohon, 5 x 5 m untuk tingkatan pancang dan plot 1 x 1 m untuk tingkat tumbuhan bawah atau anakan. Pada hutan dataran rendah pohonnya ada yang mencapai tinggi total 31 m.

Pada pohon-pohon yang besar banyak di jumpai Ephypyt yaitu jenis anggrek dan paku- pakuan. Jenis paku-pakuan adalah dari jenis paku sarang burung. Selain itu juga terdapat pohon yang mempunyai banir/tumang yang besar dan tinggi, sehingga akan menyebabkan kesulitan dalam penghitungan diameter pohon.

Ephypyt merupakan tumbuhan yang mampu beradaptasi untuk memperoleh cahaya dan hara yang cukup dengan menempati cabang-cabang pohon yang tinggi. Pada hutan dataran rendah memiliki kelembaban udara 70%, memiliki lapisan tajuk yang berlapis-lapis sehingga dapat dilihat stratum tajuknya dan jenis lebih beragam sehingga tidak terdapat zonasi-zonasi.Hutan dataran rendah mempunyai tanah yang lebih gembur karena terdapat banyak terdapat seresah dan tanahnya berwarna hitam.

4.2.4 Hutan Dataran Tinggi

Hutan dataran tinggi tersusun dar jenis pohon yang berbeda dari hutan dataran rendah.

Daerah peralihan antara kedua zone ialah 700 – 2.000 m dpl. Dalam daerah ini masih terdapat pohon khas bagi hutan di bawah 700 , tetapi jug sudah terdapat jenis yang hanya di ketemukan pada

ketinggian >700 m.

Makin tinggi tempatnya semakin rendah pohon-pohonnya. Pada tempat-tempat yang banyak kabut akan di jumpai apa yang dinamakan hutan lumut atau hutan kabut. Di sini terdapat banyak sekali lumut yang menutupi tanah dan batang pohon. Pada ketinggian 1.200 m dpl, lantai hutan di dominasi oleh semak-semak dan paku-pakuan.Lapisan organiknya cukup dan banyak terdapat Ephypyt serta tekstur tanahnya di dominasi oleh liat, seresahnya sedikit.

Pada ketinggian 1.300 m dpl, dapat dilihat perubahan yang nyata dari ketinggian yang lebih rendah, dimana pada ketinggian ini meningkatnya lichenes pada pohon-pohon serta Ephypyt semakin banyak. Strata tajuknya makin berkurang dan tinggi bebas cabangnya rendah.Pada ketinggian ini juga dapat dirasakan bahwa kecepatan angin semakin tinggi sedangkan tekanan udaranya rendah Lapisan pasir juga semakin meningkat, karena titik kondensasi menurun pada ketinggian maka tingkat pelapukan meningkat dari lapisan bawah. Tetapi lapisan atas seresahnya tinggi.

Pada ketinggian 1000 m dpl mulai di dominasi oleh jenis Pandanus. Kelembaban yang semakin rendah karena tekstur tanah yang berpasir hingga curah hujan langsung terserap kedalam

(26)

tanah, juga karena intensitas cahaya yang tinggi perbedan suhu yang ekstrim antara siang dan malam serta curah hujan yang tinggi juga terpaan angin yang kencang menyebabkan pandanus beradaptasi dari susunan daun yang melingkar dan bentuk percabangan yang estistik.

Sedangkan pada puncak Bukit Kaba (ketinggian 1.610 m dpl) jenis tumbuhan yang ada adalah jenis semak-semak, yaitu rumput-rumputan, paku-pakuan, yaitu paku resam dan jenis Melastoma (senduduk) yang mendominasi pada ketinggian ini. senduduk merupakan ciri dari tanah yang marginal (termasuk vegetasi pioner), dan juga pada ketinggian ini horizon “O” tidak ada lagi.

Tekstur tanahnya berpasir.

(27)

BAB IV KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan di lapangan dan pembahasan terhadap vegetasi hutan dari berbagai tempat pengamatan menurut ketinggian tempat maka dapat di tarik beberapa kesimpulan secara umum, antara lain :

1) Tiap ekosistem dengan ketinggian tempat yang berbeda yang diukur dari permukaan laut akan memperlihatkan struktur dan komposisi jenis vegetasi yang berbeda-beda pula.

2) Ketinggian tempat memberikan pengaruh faktor-faktor penting, seperti : presipitasi, intensitas cahaya, kadar salinitas, suhu, kelembaban, tekstur dan struktur tanah yang mempengaruhi jenis apa yang akan tumbuh dei tempat tersebut.

3) Supaya mampu bertahan hidup tumbuhan melakukan berbagai adaptasi yang khusus agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan maksimum

4) Jumlah stratum tajuk ditentukan oleh keanekaragaman spesies yang ada pada tempat tersebut.

5) Tipe Zonasi dipengaruhi oleh faktor edafic di lokasi hutan seperti keadaan salinitas.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Kartawinata. 2013. Kalawarta Konservasi Alam. Balai Konservasi Sumberdaya Alam II – Tanjung Karang. Direktorat Jenderal Kehutanan. Lampung.

Kusmana. 1995. Buku Panduan Kuliah Lapang Kehutanan. Frog Forestafarian. Angkatan 2009 Kehutanan Universitas Lampung. Lampung.

Widada, Mulyani S., Kobayashi H., 2006. Sekilas tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. PHKA dan JICA. Jakarta.

(29)

LAMPIRAN

TABA PENANJUNG Data awal Hutan Pantai Plot 1

Kelompok 1

Pohon/Pancang No. Jenis ᴓ (cm) Tinggi Lebar tajuk

TT TBC U S T B

Pohon

1. Cemara laut 58 21 9 4 6 6 3

2. Nyamplung 34,07 17 3 7 2 8 4

3. Nyamplung 32 19 2 3 4 4 4

Sapihan

1 Waru 4,8 4 - 1 0,5 0,8 1

2 Waru 3,8 3,5 - 1 0,6 1 0,3

3 Waru 3,5 5 - 1 1 0,7 1,4

4 Waru 4,8 6 - 0,6 1 1 0,4

5 Waru 6,7 5 - 0,6 1 0,9 0,2

6 Waru 4,4 3 - 1 1,2 1 0,3

7 Argicia L. 7,6 4 - 0,5 1 0,8 0,4

8 Argicia L. 2,2 4 - 0,6 0,5 1 1

9 Argicia L. 2,8 3,5 - 1 0,8 1,1 0,7

Kelompok 2

Pohon

1 Cemara lau 35,7

2 Waru 26,7

3 Waru 23,2

Tiang

1 Waru 10,1

2 Waru 11,5

3 Waru 14,2

Pancang

1 Waru 3,8

2 Waru 4,1

(30)

3 Waru 4 Tanaman

bawah

4 Rumput (70) - - - -

5 Bunga kuning (2)

- - - -

Kelompok 3

Pohon 1 Cemara laut 52.87 21.25 9 5 3 4

2 Cemara laut 53.82 34 15 4 3.5 4 5

3 Cemara laut 41.4 35.5 18 3 3.5 4.6 4.5

Tiang 1 Waru 11.14 9.5 4.5 1 0.7 2 0.8

2 Waru 19.7 12.8 4.3 1.2 1.8 0.7 1

Pancang 1 Ketapang 5.67 13.6 6.4 1 1 1.3 1.5

2 Ketapang 5.1 4.1 1.4 - - - -

3 Ketapang 3.4 3.9 1.1 - - - -

Anakan 1 Ketapang - 0.5 - - - - -

Kelompok 4 Pohon

1 Akasia 23.08 10 4 - - - -

2 Akasia 20.38 8 6 - - - -

3 Waru 23.24 13 2.5 - - - -

4 Cemara laut 25 15 3.5 - - - -

Tiang

1 Akasia 12.7 14 8 - - - -

2 Spesies a 10.5 12 5 - - - -

Pancang 1 Spesies a 7.6 - - - -

Anakan 1

Ardisia

humilis 4.14 - - - -

Kelompok 5

Pohon

1 Cemara laut 52 7 2 1.5 1.5 1.5 2

2 Cemara laut 41 5 1.5 1.5 1.5 1 1

3 Cemara laut 41 5.5 1.5 2 2 1.5 1.5

4 Cemara laut 66 6 2 2 2 1.5 2

Tiang - - - - -

Pancang 1 Cemara laut 32 7 1.5 - - - -

2 Waru 27 4 2 - - - -

Tumbuhan

bawah 1

Rumput teki

(50) - - - -

Kelompok 6

Pohon 1 Waru 32.8 7.5 2.4 - - - -

2 Cemara laut 44.26 35 2.3 - - - -

Pancang

1 Waru 7 3.4 1.7 - - - -

2 Nyamplung 3.1 1.7 - - - - -

3 Ketapang 2.9 1.8 - - - - -

Anakan

4 Katang-katang - - - -

5

Stenotapharum

sp - - - -

(31)

6 Nyamplung - 8 - - - - -

7 Nyamplung - 9 - - - - -

Kelompok 7

Pohon 1 Cemara laut 39,8 30 13 2.5 3 1.5 4

Pancang 1 Cemara laut 5,19 4 1,5 - - - -

2 Cemara laut - - - -

3 Cemara laut 5,09 3 2,5 - - - -

4 Waru 5,41 4 1.5 - - - -

5 Waru 5,09 3,5 1 - - - -

6 Waru 6,05 4,5 2 - - - -

7 Waru 5,41 4 2 - - - -

1 Cemara laut - - - -

Kelompok 8

Pohon 2 Cemara laut 31,52 16 10 - - 4 2

3 Cemara laut 33,75 20 12 - - 5 2

Tiang 1 Waru 46,49 22 6 - - 4 3

Pancang

2 Waru 14,01 11 4 2 0,8 1 0,5

3 Waru 13,69 12,3 5 1 1,5 0,8 0,5

1 Waru 12,43 13 5,5 1 1 1,5 2

2

Ardisia

elliptica 5,19 4 1,5 - - - -

3 Waru 5,09 3 1,25 - - - -

Anakan 1 Waru 7 4,5 2 - - - -

Tumbuhan

bawah 1 Rumput teki - - - -

Kelompok 9

Pohon - - - -

Tiang - - - -

Pancang

1 Waru - 2,6 1,7 - - - -

2 Waru 3,1 2,3 - - - -

3 Waru - 4,3 2,1 - - - -

Anakan - - - -

4.1.3 Data awal Hutan pantai Plot 2

Pohon/pancang No. Jenis ᴓ (cm) Tinggi Lebar tajuk

Tt Tbc U S T B

Pohon

1. Cemara laut 24 18 10 3 1 0,4 0,8

2. Cemara laut 25 14 9 4 2 0,6 1

3. Cemara laut 39 19 14 2 0,8 1,2 0,8

4. Nyamplung 20 13 8 3 1 0,8 0,7

(32)

5. Ketapang 20 15 7 4 2 1 2

Tiang

1. Nyamplung 10 7 4 1 0,4 0,4 1,1

2. Nyamplung 10 9 5 1 1 0,8 1,5

3. Nyamplung 12 9 7 1,3 0,4 1 1,4

4. Nyamplung 10 8 5 1 1 0,5 0,5

5. Nyamplung 11 11 7 0,5 1 1,4 0,4

6. Nyamplung 15 10 5 0,6 1,2 0,4 1

7. Ardisia 17 6 4 0,4 0,9 1 0,3

8 Ardisia 14 9 5 0,9 1,1 0,3 1

Sapihan

1. Nyamplung 9 5 - 0,2 1 0,5 0,4

2. Nyamplung 9 4 - 1 0,2 1 1,4

3. Nyamplung 9 5 - 1,2 1 0,7 0,8

Anakan

1. Spesias A - 1 - - - - -

2. Nyamplung - 1 - - - - -

3. Nyamplung - 1,3 - - - - -

4. Nyamplung - 2 - - - - -

5. Nyamplung - 1,5 - - - - -

Kelompok 2,3,4,5,6,7 Tidak ada data

Kelompok 8

Pohon 1 Cemara laut 37,89 24 12 4 2 3 2

2 Cemara laut 75,98 20 14 3 3 4 1

3 Cemara laut 29,29 16 11 4 3 2 3

Tiang 1 Waru 11,30 12 4 1,2 1 2 0.8

2 Waru 12,7 13 6 2 1 1,8 1

Pancang 1 Waru 9,55 8 5,5 - - - -

2 Waru 5,41 10 6 - - - -

Kelompok 9

(33)

Pohon 1 Cemara laut 62,74 25 8 3 2 5 3

Tiang 1 Waru 14,65 10 3 1 1.3 1.5 3

2 Waru 15,56 9.5 3.2 2 1 1.5 2

3 Waru 12,1 8.2 3 1 1 1 1.4

4 Waru 14,01 8.5 3.1 1.2 1 1.5 2

5 Waru 10,83 7 3.5 1 1.2 1 0.5

6 Waru 11,46 6.5 3.6 1 1 1 1.2

7 Waru 16,88 9 3 1 0.8 1 1

8 Waru 12,74 9.5 3.1 1.2 0.5 2 1

9 Waru 11,45 9 3 1 1 2 0.5

10 Waru 13,05 9.5 4 0.7 1 1 1

Pancang 1 Waru 5,32 5.1 2.3 - - - -

2 Waru 4,21 4.8 1.8 - - - -

3 Waru 6,32 3.3 2.6 - - - -

4 Waru 5,45 4.8 2.5 - - - -

5 Waru 3,12 3 1.9 - - - -

6 Waru 3,45 4.2 2.1 - - - -

7 Waru 4,45 7 2 - - - -

8 Waru 3,12 4.6 1.6 - - - -

9 Waru 3,45 3.4 1.3 - - - -

10 Waru 3,42 3 1.2 - - - -

11 Waru 3,52 3.2 1.4 - - - -

Tumbuhan bawah

1 T.bawah 1 (25)

- - - -

2 T.bawah 2 (2) - - - -

3 T.baawah3 (1)

- - - -

4.1.4 Data awal Hutan Mangrove

(34)

Pohon/pancang No. Jenis ᴓ (cm) Tinggi Lebar tajuk

TT Tbc U S T B

Pohon

1. Rhizopora 21,34 17 8 3 3 1 3

2. Avisenia 21,34 17 6 3 2 2 2

3. Sonneratia 30,25 23 16 5 3 1 3

4. Rhizopora 23,89 24 17 3 4 1 2

5. Rhizopora 22,29 22 17 3 1 2 3

6. Sonneratia 32,80 27 16 4 2 1,2 2

7. Sonneratia 24,20 24 17 1 1 2 1

Tiang

1. Rhizopora 18,78 18 10 2 1 1 1,5

2. Rhizopora 10,19 15 6 2 2 1 1

3. Sonneratia 10,83 17 14 2 1 3 2

4. Rhizopora 11,46 18 13 3 1 2 1

5. Rhizopora 18,15 18 15 2 1 3 1

Kelompok 2

Tiang 1 Soneratia 16,5 23 1 - - - -

2 Soneratia 14,8 20 3,2 - - - -

Pancang

1 Rhizopora 9,5 7 - - - - -

2 Rhizopora 6,3 7,2 - - - - -

3 Rhizopora 7,9 5 - - - - -

4 Soneratia 9,2 6 - - - - -

5 Rhizopora 11,3 6,5 - - - - -

6 Soneratia 8,7 5,2 - - - - -

Anakan

1 Rhizopora 4 4 - - - - -

2 Rhizopora 4,2 4,5 - - - - -

3 Rhizopora 4,5 5 - - - - -

4 Rhizopora 3,4 4 - - - - -

5 Rhizopora 3 3,5 - - - - -

(35)

6 Rhizopora 3 3,7 - - - - -

7 Rhizopora 3 4 - - - - -

8 Rhizopora 3 4 - - - - -

9 Rhizopora 3 4 - - - - -

10 Rhizopora 2,8 3,7 - - - - -

11 Rhizopora 2,3 3,5 - - - - -

12 Rhizopora 2,2 3,2 - - - - -

13 Rhizopora 4 5 - - - - -

14 Rhizopora 4 5 - - - - -

15 Rhizopora 4 5,2 - - - - -

16 Rhizopora 4 5,1 - - - - -

17 Rhizopora 4,2 5,5 - - - - -

18 Rhizopora 4,2 5,6 - - - - -

19 Rhizopora 3,8 5,9 - - - - -

20 Rhizopora 4 5 - - - - -

21 3,4 4 - - - - -

22 4,5 5 - - - - -

23 3,4 4 - - - - -

24 4 5 - - - - -

Kelompok 3

Pohon

1 Sonneratia 24.36 9 14 4 2.2 2.6 1.5

2 Rhizopora 21.5 17 13.6 1.7 2.1 3.1 2.6 3 Rhizopora 21.76 16.4 12.3 2.7 1.6 2.8 2.6

Tiang 1 Sonneratia 15.8 12 7.8 1.3 1.8 0.9 1.1

2 Rhizopora 17.63 11.5 6.3 1.2 1.8 0.8 1.5 3 Rhizopora 14.74 12.3 5.9 2 1.4 1.1 1.2

Pancang 1 Rhizopora 3.52 3.5 1.5 - - - -

2 Rhizopora 8.43 2.4 1.1 - - - -

(36)

3 Rhizopora 2.45 2.1 0.9 - - - -

4 Rhizopora 4.8 1.9 1 - - - -

5 Rhizopora 6.6 2 0.8 - - - -

Kelompok 4

Tiang 1 Sonneratia 16.24 10 1 - - - -

2 Avecinea alba 12.42 9 2 - - - -

Anakan 1 Avecinea alba 2.8 2 - - - - -

2 Avecinea alba 2.3 1.5 - - - - -

3 Avecinea alba 2.5 1.8 - - - - -

4 Avecinea alba 2.3 1.2 - - - - -

Kelompok 5

Pohon 1 Sonneratia 49.5 5 4 2 1.5 1.5 1.5

2 Sonneratia 33 4 3 1.5 2 1.3 1.5

Kelompok 6

Pohon 8 Bakau - 15 5 - - - -

9

Mangrove

merah - 7 1.3

- - - -

Kelompok 7 Pohon

1 Soneratia 27,7 13 8 3 2.5 2.7 1.5

2 Soneratia 25,95 15 11 1,9 2,2 3,2 2,7

3 Soneratia 19,74 17 12 2,7 2,2 2,1 3

4 Soneratia 31,21 22 15 2,1 2,4 2,6 2,3

5 Soneratia 20,38 19 14 2 2,8 1,8 2,6

6 Soneratia 16,24 20 15 3,2 2,5 2,7 2,5

7 Soneratia 19,26 19 13 2,4 2 2,6 1,9

8 Soneratia 21,33 16 10 1,9 2,7 2,3 2,1

9 Soneratia 21,65 22 6 2,1 2,6 2,3 3,1

Pancang 1 Rhizopora 6,05 4.5 - - - - -

2 Rhizopora 6,36 4.8 - - - - -

3 Rhizopora 7,64 5.1 - - - - -

4 Rhizopora 1,5 5 - - - - -

5 Rhizopora 7,16 4.2 - - - - -

Kelompok 8

Pohon 1 Soneratia 19,10 10 2 2,8 7.9

2 Soneratia 24,84 19 4 8,2 6

3 Soneratia 29,29 22 5 2,8 4,6 2,1 3,4

Tiang 1 Senneratia 18,78 16 6 2,5 4,5 2

2 Senneratia 19,10 7 7 2,4 4.2 -

Pancang 1 Rhizopora 6 5 1,7 - - - -

2 Rhizopora 7,4 7 2,3 - - - -

Anakan 1 Rhizopora - - - -

2 Rhizopora - - - -

3 Rhizopora - - - -

(37)

4 Rhizopora - - - -- Kelompok 9

Pohon 1 Sonneratia 20.06 12 10 3 2.5 2 4

2 Sonneratia 20.06 14 8 2 3 3 2.6

3 Sonneratia 25.16 15 2.8 3 2 3 2.5

Tiang 1 Sonneratia 7 13 2.5 2 2.9 3.2 3

2 Rhizopora 12.1 11 2 2.5 2 3 2

3 Rhizopora 19.43 12 6 1.7 1.5 2 2.1

4 Sonneratia 10.51 11 2 2 2 2 1.5

5 Rhizopora 19.1 16 2.4 1.5 1.5 2.3 2

6 Sonneratia 14.01 4 8 2 1.9 3 2

Pancamg - - - -

Anakan - - - -

KELOMPOK 1 a) Kondisi lingkungan

Suhu : 26o

Kelembaban : 80%

Ketinggian : 800 m

pH :6,5

kemiringan : 10o ketebalan humus : 3,5 cm ketebalan seresah : 1cm b) Pohon, tiang, pancang N

o Plot

Pohon/tiang

/pancang Nama

spesies

Tinggi (m) Diam eter (cm)

Tajuk (m)

TT TBC u s t b

1

20 x 20

m

pohon Spesies A 13,5 5,5 37,26 1,5 1,7 3 1

2 Spesies B 12 6 23,8 0,8 0,7 0,5 1,5

3 Spesies C 12 5 28 0,7 2,1 0,9 1,5

4 Spesies

D

1 13 8 25,47 2,5 1,2 1,3 1,2

5 2 15 10 33,26 2,3 3,5 2 1,8

6 Spesies

E

1 11 6 22,92 0,5 2,4 2 1,3

7 2 17 1,5 30,5 2,4 1,8 5 1,6

(38)

8 Spesies F 14 8 23,56 2,3 2,7 2,9 0,6 9

10x 10

tiang

Spesies g

1 14 12 11,78 2 1 0,5 1

10 2 7 2,5 11,46 1 2 2 1

11 Spesies A 12 10 11,78 1 0,5 1 1

c) Anakan dan tumbuhan bawah No Plot Anakan /

tumbuhan bawah Nama spesies Jumlah 1

1 x 1 m

Anakan Spesies i 15

2 Spesies J 1

3 Tumbuhan bawah Spesies A 1

Spesies b 1

Spesies c 4

KELOMPOK 2 Ket : plot 1x1 taba penanjung

Seresah = 2cm Humus= 0,5 cm

Warna tanah = cokelat kekuning – kuningan Tekstur tanah = lempung

KELOMPOK 3

1. Hutan Hujan Tropis (Hutan Lindung Bukit Daun Taba Penanjung) Semai (1m x 1m)

No. Nama

Jenis Jumlah Individu Keterangan 1 Paku-

pakuan 1 Batang, dan daun meiliki

bulu-bulu halus

2 Spesies A 3

3 Spesies B 2

4 Spesies C 1

 Pancang (5m x 5m)

(39)

Nomor

Plot Nama Jenis Diameter (cm)

Tinggi Pohon (m)

Keterangan

TT TBC

1 Spesies A 5.73 3 -

Daun bagian pucuknya bewarna

merah, pengakaran

tunjang

2 Spesies B 2.07 3

3 Spesies C 2.88 3.5

 aTiang (10m x 10m) Nomor

Plot

Nama Jenis

Diameter (cm)

Tinggi Pohon (m) Luas

TAJUK Keterangan

TT TBC

1

Spesies

1 12,3 10

7

3 2 4 3

Batang licin, dipodial, permukaan daun halus,

bentuk daun oval

Spesies

2 14,3 9 7

4 2 2

3

Tulang daun belakang menonjol, memiliki ketiak tunas lateral, permukaan daun kasar,

dipodial

 Pohon (20m x 20m) Nomor

Plot

Nama Jenis

Diameter (cm)

Tinggi Pohon (m) Luas

TAJUK Keterangan

TT TBC

1 Pohon

A 26,11 27 18

3 6 4

2 KELOMPOK 4 Taba Penanjung Keadaan lantai hutan

Seresah Ketebalan 10 cm Humus Ketebalan 5 cm Lapisan A 9 cm

Tekstur tanah Liat berpasir

(40)

Komposisi tanah Debu, liat, dan pasir

10m x 10m (pohon)

kelom pok

N o

Nama tumbuhan

TT (M)

TB C (M )

D (CM

)

TAJUK

keterangan S U B T

4

1. SP A 20 5 20,0

7 5,

5 6,

5 7 8

Percabangan pohon monopodial, daun majemuk, batang memiliki banir, fisik batang kasar dan terdapat liana yang menempel.

2 SP B 37 25 57,9

6 3 4 4 4,5

Percabangan monopodial, daun majemuk, akar berbanir, keadaan fisik batang kasar dan terdapat liana yang menempel.

3 SP C 35 27 35,6

6 4 7 8,5 3

Percabangan pohon monopodial, daun tunggal, akar pohon berbanir, keadaan fisik batang kasar dan beralur dalam.

4 SP D 30 12 41,4

0 2,

5 5 4 3

Percabangan pohon monopodial, daun tunggal, akar pohon berbanir, keadaan fisik batang kasar.

5 SP E 25 10 78,6

6 5 2 6 1,5 Percabangan dipodial, daun

(41)

majemuk, akar berbanir, keadaan fisik batang kasar dan mengelupas dan ditumbuhi oleh lumut.

6 SP F 15 10 37,8

9 7 1 1,5 3,5

Percabangan monopodial, daun tunggal, akar berbanir, keadaan fifik batang kasar dan memiliki bercak berwarna merah dan pohon ditumbuhi oleh lumut.

Plot 10m x 10m ( Tiang )

NO Jenis Diameter Tinggi x y

TT TBC

1 Spesies A 14,64 15m 6m 29cm 6m

2 Spesies B 11,46 8m 7m 9m 1,6m

3 Spesies C 16,24 16m 11m 6,5 9,89m

Plot 5 x 5 m (Pancang)

Pada Plot kami tidak ditemukan pancang.

Plot 1m x 1 m (Tumbuhan Bawah) TUMBUHAN

BAWAH

NAMA JUMLAH

Spesies A 1

Spesies B 3

Spesies C 1

Spesies D 1

Spesies E 1

Spesies F 6

(42)

KELOMPOK 5

HUTAN HUJAN DATARAN RENDAH (TABA PENANJUNG) a. Kondisi lingkungan

Ph = 6,2

Kelembapan = 74 %

Suhu = 27,5ºC

Ketinggian = ± 800 mdpl Koordinat =

b. Tumbuhan Penyusun Plot 1). Tingkat Pohon (20X 10 m)

Pohon TT (m)

TBC (m)

Diameter (cm)

Lebar Tajuk Keterangan

A 27 22 48,7

4

2 5,5

5

Memiliki akar tungang, kulit mengelupas dan mempunyai liana. Salah satunya jenis liana

yaitu rotan dan mempunyai berbagai jenis efifit.

B 23 18 24,84

5

2,5 3

5,5

Memiliki akar banir, kulitnya mengelupas, mempunyai liana,

Salah satunya jenis liana yaitu rotan. Dan mempunyai berbagai

macam efifit salah satunya jenis paku-pakuan

C 14 9 21,05

1

1,5 2,5

2

Memiliki akar tungang, kulit mengelupas dan mempunyai liana. Salah satunya jenis liana

yaitu rotan.

(43)

2). Tingkat Tiang (10 X 10 m)

No Spesies T. Tot TBC D Tajuk (m) Keterangan dan ciri morfologi

U S T B

1 A 12,5 7 12,42 3,5 4,1 2,7 3 Pada batang terdapat lumut dan yang menyelimuti kulitnya. Terdapat epifit dan liana pada batang.

2 B 11 8 12,73 2,5 4 3 2,7 Pada batang terdapat lumut dan yang menyelimuti kulitnya. Terdapat liana pada batang.

3 C 12 7 12,10 4 2,6 3,2 2,8 Pada batang terdapat lumut dan yang menyelimuti kulitnya. Terdapat liana pada batang.

3). Tumbuhan Tingkat Pancang

NO Nama

Spesies

Tinggi

Total TBC K

(cm) Keterangan

D 21 1 22,13

2,5

2 5,5

6

Memiliki akar tungang, kulit mengelupas dan mempunyai liana. Salah satunya jenis liana

yaitu rotan. Dan mempunyai berbagai macam efifit salah

satunya jenis paku-pakuan

E 22 8,5 27,70

2

5 6

3

Memiliki akar gantung, kulit mengelupas dan mempunyai liana. Salah satunya jenis liana

yaitu rotan. Dan mempunyai berbagai macam efifit salah

satunya jenis paku-pakuan

(44)

1 Spesies 1 7 m 4 cm 30 cm Kulit batang Halus 2 Spesies 2 6 m

3,5

cm 14 cm Kulit batang Halus

4). Tingkat Tumbuhan Bawah (1 X 1 m)

No. Spesies Ciri morfologi

1 Spesies A Berdaun majemuk dengan ujung daun berbentuk acuminate.

2 Spesies B Merambat, bentuk helai daun sagittate

3 Spesies C Berdaun majemuk , bentuk helaian daun ovate 4 Spesies D Bentuk helaian daun elips

5 Spesies E Bentuk helaian ovale

6 Spesies F Daun bergerigi, bentuk helaian dan elips

7 Spesies G Bentuk helaian daun elips dan ujung daun meruncing, tepi daunbergerigi.

BUKIT KABA KELOMPOK 1 a) Sub Montana

No Plot Nama spesies

Tinggi (m) Diameter (cm)

Tajuk (m)

TT TBC x y t b

1

20 x 20 m

Spesies A 13,5 5,5 37,26 1,5 1,7 3 1

2 Spesies B 12 6 23,8 0,8 0,7 0,5 1,5

3 Spesies C 12 5 28 0,7 2,1 0,9 1,5

b) Kondisi lingkungan

Suhu : 26o

Kelembaban : 87%

Ketinggian : 1350 m

pH :6,6

kemiringan : 5o ketebalan humus : - cm ketebalan seresah : - cm c) Montana

-

d) Sub alpine

No Plot Nama spesies Jumlah

1 1 x 1 m Paku resam 15

(45)

2 Siperus 1

3 Seduduk 1

a) Kondisi lingkungan

Suhu : 32o

Kelembaban : 59%

Ketinggian : 1700 m

pH :5,9

kemiringan :-

ketebalan humus : - ketebalan seresah : -

KELOMPOK 2 BUKIT KABA PLOT 10 X 10 M

KELO

MPOK JENIS

Nama tumbu han

TT (m)

TBC (m)

D (cm)

Tajuk

Keterangan

U S B T

Pohon Bayur 42 15 48,4 8 5 4 3

Memiliki daun cokelat,

Tiang - - - -

Pancan g ( PLOT

5X5)

SP A 2,2 - 1,6 - - - -

SP A 2,3 - 2,5 - - - -

SP A 1,7 - 1,4 - - - -

SP A 1,8 - 1,2 - - - -

SP A 1,9 - 2,1 - - - -

SP B 2,2 - 1,3 - - - -

SP C 2,5 - 2,3 - - - -

(46)

Plot 1 x 1 m BUKIT KABA

Kelompok Jenis ∑ Individu Keterangan

2

Paku pakuan 5

Seduduk 6

Rumput teki 8

Melastoma 3

Ket : plot 1x1 bukit kaba Ketinggian 1355 mdpl Kemiringan = 21 derajat Tebal seresah = 2cm Humus = 0,6 cm

Tekstu tanah =Tanah liat berpasir

Diketinggian 1700 mdpl melimpah paku – pakuan

KELOMPOK 3 BUKIT KABA Hutan Pegunungan (TWA Bukit Kaba)

a. Sub Montana Kondisi lingkungan

Kelembapan 60%RH

Suhu Udara 30°C

pH Tanah 6

Intensitas Cahya

Ketinggian 1952 MDPL

 Semai (1m x 1m) Nomor Plot

Nama Jenis Jumlah

Individu Keterangan

1

Spesies A 6

Spesies B 5

Spesies C 1

Spesies D 2

(47)

 Pancang (5m x 5m) Nomor

Plot Nama Jenis Diameter (cm)

Tinggi Pohon (m)

Keterangan

TT TBC

1

Spesies A1 8.91 5 4 Batang nya coklat, di batang terdapat lumut,efipit nya berlimpah,akar tidak terlihat, bagian atas daun halus, daun

monopodial,ujing nya meruncing,penulangan daunya

tidak terlalu menonjol.

Spesies A2 8.28 5 3

Spesies A3 5.73 4 -

Spesies B1 2,86 2 1,2 Pertumbuhan daun

monopodial,permukaan daun licin, bagian belakang daun licin,batang nya terdapat bercak

putih,

Batang nya kasar, pengakaran ke luar.

Spesies B2 2.22 2 -

 Tiang (10m x 10m) Nomor

Plot Nama Jenis Diameter (cm)

Tinggi Pohon (m)

Keterangan

TT TBC

1

Spesies 1 11,46 9,11 -

Spesies 2 11,46 9,13 -

Spesies 3 14,46 18,1 -

 Pohon (20m x 20m) Nomor

Plot

Nama Jenis

Diameter (cm)

Tinggi Pohon (m) Luas

Tajuk Keterangan

TT TBC

1 Spesies

A 138 22 18

6 5,5 5

4,5

Berbuah

b. Sub Alphin

Kondisi lingkungan Kelembapan

Suhu Udara pH Tanah Intensitas Cahya Ketinggian

Nomor Nama Jenis Jumlah Individu Keterangan

(48)

Plot

1

Spesies A 26 Daun memiliki bulu halus,

bentuk daunnya elip

Spesies B 30

Bentuk daunnya lanset.

daun bergerigi, memiliki buah yang berwarna ungu

bila dibuka

Ilalang 10 Memiliki daun yang

menyirip KELOMPOK 4

BUKIT KABA Keadaan lantai hutan

Seresah Ketebalan 2 cm Tekstur tanah Gembur

Komposisi tanah

Liat, pasir, dan debuh

Humus(lapisan O)

Ketebalan 24,5 cm

1. Plot 10 x 10m (POHON) kelomp

ok N

o

Nama tumbuhan

TT (M)

TB C (M)

D (CM

)

TAJUK

keterangan

S U B T

4

1. SP A 5 3 32 65,9

2 4 3 4,5 3,5

Daun

majemuk,bentuk daun oval, percabangan monopodial, pada batang ditumbuhi oleh epipit.

2. SP B 15 3 53,1

8 5 3 2,5 4

daun tunggal, bentuk daun oval bergegiji,

percabangan daun

monopodial, batang daun

(49)

memiliki banir, batang daun beralur dalam dan kasar, pada batang ada menempel liana.

(50)

2. Plot 10m x 10m (Tiang)

NO Jenis Kll/diameter Tinggi X y

TT TBC

1 Spesies A 43/13,69 8m 5m 5m 2,5

2 Spesies B 55/17,51 8m 4m 8,5 6

3. Plot 5m x 5m ( Pancang)

No Nama Keliling Diameter Tinggi

total X Y

1 Spesies A 25 7,96 8 0,1 2

2 Spesies B 15 5 5 0,5 3

Bukit Kabah Submoun tanah

- Tidak ditemukan pancang Subalpin

- Tidak diamati untuk pancang hanya anakan 4. Tumbuhan Bawah

Lokasi Pertama (Hutan Dataran Rendah)

NAMA JUMLAH KETERANGAN

Spesies A 4 daun runcing,tidak berbulu,permukaan licin,majemuk

Spesies B 3 ujung daun meruncing,tunggal

Lokasi Kedua

 Sub mountain (-)

Hanya terdapat jenis paku-pakuan

(51)

 Sub Alphin

No Nama Jumlah Keterangan

1. Paku-pakuan 3 Daun majemuk

,bentuk daun oval

2. Rumput Teki 10 Daun

tunggal,bentuk daun meruncing dan permukaan daun mengkilat

3. Laporteae 4 Daun

majemuk,bentuk daun runcing dan mengerut serta bunga berada diketiak daun

4. Spesies A 2 Daun

majemuk,bentuk daun runcing dan bergerigi serta warna daun mengkiltat

 Tekstur Tanah : Liar berbatu

 Ph tanah : 4,5

KELOMPOK 5 BUKIT KABA Hutan Hujan Dataran Tinggi (Bukit Kaba)

SUBMONTANA a.Kondisi Lingkungan

Ph :6,5

Kelembapan :86%

Ketinggian :1350

Koordinat :

Suhu :24

b.Tumbuhan Penyusun Plot 1.Tingkat Pohon (10x10)

(52)

No Spesies T.Total TBC Diameter Ciri-Ciri Morfologi

Tajuk

U S T B

1 SP.A 23 14 122 -Getah bening

-Ujung daun elliptical

-Akar Tunggang -Meiliki Epifit sebanyak 2 -Terdapat Liana -Batang Silinder

6 5,5 5,5 5

2 SP.B 27 18 160,5 -Getah berwarna

Kecoklatan -Memiliki Epifit sebanyak 8 -Batang

berlumut dan banyak cabang

5,8 4,8 5 5,6

2.Tingkat Tiang (5x5)

No Spesies T.Total TBC Diameter Ciri Morfologi Tajuk

U S T B

1 Sp.A 12 55 -Terdapat epifit

-Terdapat Liana

3 3,3 3,7 2,8

2 Sp.B 12,5 56 -Terdapat epifit

-Terdapat Liana -Batang Lurus

3,5 3,2 3 3

(53)

3.Tumbuhan Bawah (1x1)

PLOT 1cm X 1cm (Tumbuhan Bawah)

Spesies (Jenis) Jumlah

Sp. A 7

Sp. B 1

Sp. C 5

Sp. D 8

Sp. E 8

Sp. F 10

2.Sub Alvin

a.Kondisi Lingkungan

Ph :5,9

Kelembapan :66,5%

Ketinggian :(+-)1600

Koordinat :

Suhu :30

b.Tumbuhan Penyusun Plot

No Spesies Ciri-ciri Morfologi

1 Sp.A -Memiliki Buah

-Bentuk Daun Lanset -Daun bergerigi

2 Sp.B -Bentuk Daun Linear

-Batang Lurus

3 Sp.C -Daun memiliki bulu halus -Bentuk Daun eliptic 4 Paku Resam -Bentuk daun linear

-Memilki batang yang keras 5 Ilalang -Memiliki batang yang lurus

(54)
(55)
(56)

Gambar

TABA PENANJUNG  Data awal Hutan Pantai Plot 1

Referensi

Dokumen terkait

P Menghitung massa molekul zat dari penurunan titik bekunya; Menyebutkan faktor yang tidak mempengaruhi tekanan uap larutan; Menentukan logam yang mudah tereduksi;

• Peserta didik diminta untuk menjawab pertanyaan dan hipotesis yang diajukan terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi sebaran flora dan fauna, sebaran flora dan fauna

2 Dengan mempelajari proses terjadinya dan faktor yang mempengaruhi dalam proses infiltrasi terutama pada infiltrasi dibawah tegakan hutan, mahasiswa memahami berbagi

Salah satu faktor yang mempengaruhi berkurangnya ketersediaan air disebabkan oleh adanya penebangan hutan pada daerah aliran sungai (DAS) yang menyebabkan terjadinya

Menyimak kuliah dari dosen, bertanya jawab, mengerjakan tugas, dan berdiskusi Mencari beberapa rumusan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan

Faktor-faktor tanaman yang mempengaruhi evapotranspirasi : 1.) Penutupan stomata. Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara relatif

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan biogas antara lain rasio C/N, agar mikroorganisme perombak dapat tumbuh dengan maksimal maka rasio C/N yang paling baik adalah

Faktor yang mempengaruhi aktivitas organisme tanah Iklim curah hujan, suhu, kelembaban dll Tanah kemasaman, kelembaban, suhu, hara dll Vegetasi hutan, padang rumput, belukar, dll