• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Magang Pengembangan Teknologi Pertanian Berkelanjutan

N/A
N/A
Amrina Rosada Rahmawati

Academic year: 2024

Membagikan "Laporan Magang Pengembangan Teknologi Pertanian Berkelanjutan"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

PROYEK PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN BERKELANJUTAN

Studi Kasus : Pada Kelompok Tani Makmur

MAGANG DAN STUDI INDEPENDEN BERSERTIFIKAT (MSIB)

AMRINA ROSADA RAHMAWATI NIM : 54521121004

FAKULTAS SAINS TERAPAN UNIVERSITAS SURYAKANCANA

2024

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

(3)

KATA PEGANTAR

Puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Ilahi Robbi, karena atas hidayah dan karunia-Nya penulis diberikan kemudahan dalam melaksanakan segala sesuatu. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.

Dengan kemudahan yang telah diberikan, penulis dapat menyelesaikan laporan magang yang berjudul : “Proyek Pengembangan Teknologi Pertanian Berkelanjutan”.

Penulis menyadari bahwa pembuatan laporan magang ini masih jauh dari sempurna karena keterbatasan kemampuan yang penulis miliki. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, guna penyempurnaan laporan magang ini.

Dalam penyelesaian laporan magang ini, penulis telah banyak memperoleh bantuan baik secara moril maupun material dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada :

1. Allah SWT yang dimana atas kuasanya penulis selalu diberi kelancaran dan kemudahan dalam melakukan setiap kegiatan termasuk magang dan menyelesaikan laporan ini.

2. Kepada kedua orang tua dan keluarga yang telah banyak memberikan semangat, motivasi, dan dukungan baik moril maupun material sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan magang ini

3. Seluruh karyawan Badan Penyuluh Pertanian Kecamatan Panimbang

4. Seluruh mentor yang telah membantu dalam melaksanakan setiap tugas dan kompetensi yang ada

Penulis berharap semoga laporan magang ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi semua pembaca.

Pandeglang, 3 Oktober 2024

Penulis

(4)

i

DAFTAR ISI

KATA PEGANTAR

DAFTAR ISI... i

DAFTAR TABEL ... i

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan ... 2

1.3 Manfaat ... 2

BAB II TEORI ... 3

2.1 Pertanian Berkelanjutan ... 3

2.2 Pestisida Nabati ... 3

2.3 Hama Wereng Pada Tanaman Padi ... 4

2.4 Pertanian Organik ... 5

2.5 Strategi Pemasaran ... 5

BAB III PROSEDUR KERJA ... 7

3.1 Prosedur Kegiatan ... 7

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 8

4.1 Alasan Pembuatan Pestisida Nabati ... 8

4.2 Tahapan Pembuatan ... 8

4.3 Strategi Pemasaran ... 10

4.4 Tantangan ... 13

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 15

5.1 Kesimpulan ... 15

5.2 Saran ... 15

DAFTAR PUSTAKA ... 16

LAMPIRAN... 18

(5)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setelah melakukan identifikasi potensi wilayah di Desa Mekarjaya, Kecamatan Panimbang, Kelompok Tani Subur diketahui bahwasannya mayoritas petani setempat menanam atau membudidayakan tanaman padi. Namun selama proses budidaya para petani mengalami berbegai macam kendala. Mulai dari lahan yang tidak memadai hingga hama penyakit yang selalu mengintai dalam proses budidaya tanaman padi ini, yang tidak sedikit menyebabkan gagal panennya petani akibat hama penyakit ini.

Tanaman padi ini sebenarnya menghadapi berbagai tantangan. Adapun 3 masalah utama dari budidaya padi ini yakni, kesulitan modal. Dimana dalam prosesnya banyak petani kecil mengalami kesulitan dalam permodalan untuk memberi beberapa keperluan untuk budidaya seperti contohnya pupuk dan pestisida. Padahal di lapangan sendiri pupuk dan pestisida ini sangat diperlukan untuk para petani melindungi dan meningkatkan produktivits dari tanaman padi itu sendiri.

Selain kesulitan modal permasalah selanjutntya yakni ancaman hama penyakit, di lapangan sendiri nyatanya hama penyakit cukup menjadi ancaman bagi para petani, terlebih hama wereng. Hama wereng menjadi ancaman yang cukup serius bagi hampir seluruh petani di Indonesia, dimana hama wereng memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang secara cepat. Bila dilapangan sendiri hama wereng dapat membuat tanaman mengalami gagal panen hanya dalam waku 1 malam saja (fuso), oleh karenanya hama wereng ini termasuk kedalam organisme pengganggu utama padi.

Masalah iklim termasuk kedalam 3 masalah utama dalam budidaya tanaman padi. Permasalahan dampak perubahan iklim, dimana dalam prosesnya sering terjadi perubahan pola cuaca, peningkatan suhu, dan kejadian cuaca ekstrem akibat perubahan iklim membuat tanaman padi sangat rentan stress terhadap lingkunan dan serangan hama.

Selain itu, penggunaan pestisida kimia yang berlebih menjadi salah satu permasalah yang cukup serius, masalah ini dapat menimbulkan masalah lingkungan dan Kesehatan yang cukup serius. Dimana residu pestisida dapat mencemari tanah dan air, juga menyebabkan hama menjadi resisten terhadap bahan kimia yang digunakan yang nantinya akan menyebabkan membludaknya serangan hama.

(6)

2

Dalam hal ini dibuatlah Proyek Pengembangan Teknologi Pertanian Berkelanjutan, setelah dilakukannya Identifikasi Potensi Wilayah ternyata didapat permasalahan yang paling berpengaruh di lapangan adalah permasalahan serangan hama wereng pada tanaman padi dan perubahan iklim menjadi permasalahan yang cukup serius.

Oleh karenanya setelah di identifikasi permasalah ditemukan solusi yang cukup efektif untuk mengatasi masalah yang ada di lapang tersebut yakni dibuatnya produk pestisida nabati yang pembuatannya memanfaatkan bahan bahan yang mudah didapat dilapangan yakni limbah kulit bawang merah dan bawang putih, serai, dan juga daun bebadotan yang nantinya akan diambil ekstraknya untuk dibuat pestisida nabati ini.

1.2 Tujuan

1. Mengatasi permasalahan yang ada sesuai dengan hasil identifikasi potesi wilayah 2. Membuat inovasi dari pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan

3. Memperkenalkan kepada petani tentang inovasi pertanian organik

1.3 Manfaat

1. Mahasiswa mampu membantu mengatasi permasalahn yang ada sesuai dengan skala prioritas permasalahan yang ada di IPW yang telah di susun

2. Mahasiswa mampu membuat inovasi pertanian yang baik untuk pertanian berkelanjutan

3. Mahasiswa mampu memperkenalkan kepada petani tentang inovasi pertanian organik

(7)

3

BAB II TEORI

2.1 Pertanian Berkelanjutan

Pada tahun 1980, istilah “sustainable agriculture” atau diterjemahkan menjadi

‘pertanian berkelanjutan’ digunakan untuk menggambarkan suatu sistem pertanian alternatif berdasarkan pada konservasi sumberdaya dan kualitas kehidupan di pedesaan.

Sistem pertanian berkelanjutan ditujukan untuk mengurangi kerusakan lingkungan, mempertahankan produktivitas pertanian, meningkatkan pendapatan petani dan meningkatkan stabilitas dan kualitas kehidupan masyarakat di pedesaan. Tiga indikator besar yang dapat dilihat adalah lingkungannya lestari, ekonominya meningkat (sejahtera), dan secara sosial diterima oleh masyarakat petani (Efendi, 2016).

Dijelaskan juga bahwa Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan adalah pengelolaan sumber daya alam hayati dalam memproduksi komoditas pertanian guna memenuhi kebutuhan manusia secara lebih baik dan berkesinambungan dengan menjaga kelestarian lingkungan hidup (Pemerintah Republik Indonesia, 2019).

Pertanian berkelanjutan berarti usaha pertanian dapat dilaksanakan pada sumberdaya lahan yang bersangkutan secara terus-menerus dan menguntungkan.

Namun pemaknaan yang demikian baru ditinjau dari segi agronomis produksi. Ahli lingkungan mungkin menghendaki pertanian berkelanjutan dengan menekankan kepada kelestarian mutu lingkungan, keseimbangan agroekosistem dan kelestarian keanekaragaman hayati (Las, 2012).

Sebagaimana di jelaskan dalam Undang undang No.22 Tahun 2019 bahwa sistem sistem pembangunan berkelanjutan perlu ditumbuh kembangkan dalam pembangunan dibidang pertanian dimulai sistem budi daya pertanian untukmencapai kedaulatan pangan dengan memperhatikan dayadukung ekosistem, mitigasi, dan adaptasi perubahan iklim guna mewujudkan sistem pertanian yang maju, efisien, tangguh, dan berkelanjutan (Budi - Daya - Pertanian 2019, 2019).

2.2 Pestisida Nabati

Pestisida hayati (pestisida nabati dan pestisida mikroba) merupakan salah satu komponen dalam konsep PHT yang ramah lingkungan. Pestisida hayati (biopestisida) adalah senyawa organik dan mikroba antagonis yang menghambat atau membunuh hama dan penyakit tanaman. Penggunaan biopestisida kurang disukai petani karena efektivitasnya relatif tidak secepat pestisida kimia. Biopestisida cocok untuk

(8)

4

pencegahan sebelum terjadi serangan hama dan penyakit (preventif) pada tanaman (Sutriadi et al., 2019).

Pestisida nabati adalah pestisida yang berasal dari tumbuhan, sedangkan arti pestisida itu sendiri adalah bahan yang dapat digunakan untuk mengendalikan populasi OPT. Pestisida nabati bersifat mudah terdegradasi di alam (Bio-degredable), sehingga residunya pada tanaman dan lingkungan tidak signifikan (Haryano, 2012).

2.3 Hama Wereng Pada Tanaman Padi

Wereng cokelat (brown planthopper = BPH) Nilaparvata lugens Stal.

merupakan hama tua yang masih menjadi masalah dalam usaha produksi padi di Indonesia. Hama ini termasuk ordo Homoptera, Sub ordo Auchenorrhyncha, Infra ordo Fulgoromorpha, Famili Delphacidae, Genus Nilaparvata, dan spesiesnya Nilaparvata lugens Stal. Wereng cokelat tersebar luas di wilayah Palaeartik (China, Jepang dan Korea), Oriental (Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Malaysia, Serawak, Taiwan, Muangthai, Vietnam, dan Filipina), dan Australian (Australia, Kep. Fiji, Kaledonia, Kep. Solomon, dan New Gunea)

Ledakan wereng cokelat dipicu oleh perubahan iklim global yang mempengaruhi sikap hama terhadap tanaman padi. La Nina dengan curah hujan yang tinggi menimbulkan kelembaban yang tinggi pada musim kemarau dapat mengaktifkan sifat ontogeni wereng cokelat untuk berkembang dengan populasi yang tinggi. Tanam tidak serempak merupakan pemicu kedua ledakan wereng cokelat. Petani bertanam padi saling mendahului karena air selalu mengalir dan harga gabah cukup tinggi, bahkan pada saat terjadi ledakan wereng cokelat banyak petani yang menanam varietas rentan seperti IR42, Muncul, hibrida, dan ketan Derti. Ledakan hama wereng cokelat juga dipicu oleh penggunaan insektisida yang tidak akurat oleh lebih 90% petani menjadi penyebab tidak turunnya populasi wereng cokelat, ditambah lagi dengan 71% dari jumlah petani tersebut masih menggunakan insektisida bukan anjuran.(Baehaki &

Mejaya, 2014).

Wereng batang coklat menyerang langsung tanaman padi dengan mengisap cairan sel tanaman sehingga tanaman menjadi kering. Serangan tidak langsungnya yaitu wereng dapat mentransfer tiga virus yang berbahaya bagi tanaman padi, yaitu virus kerdil hampa, virus kerdil rumput tipe 1, dan virus kerdil rumput tipe 2. Gejala serangan wereng batang coklat pada individu rumpun dapat terlihat dari daun-daun yang menguning, kemudian tanaman mengering seperti terbakar (hopperburn). Gagal panen (puso) dapat terjadi bila jumlah serangga lebih dari 20 ekor/rumpun. Upaya pengendalian perlu segera dilakukan jika wereng batang coklat telah mencapai ambang

(9)

5

ekonomi 4 ekor/rumpun pada fase vegetatif dan 7 ekor/rumpun pada fase generatif.

Wereng batang coklat sulit diatasi dengan satu cara pemberantasan. Hal ini disebabkan wereng batang coklat mempunyai daya perkembangbiakan cepat dan segera dapat menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan (Besar et al., 2011).

2.4 Pertanian Organik

Pertanian organik merupakan perpaduan dari pengembangan pertanian tradisional, inovasi, dan ilmu pengetahuan yang menguntungkan lingkungan bersama dan mempromosikan kualitas hidup, menggunakan prinsip kesehatan, ekologi, keadilan, dan perlindungan. Beberapa dasawarsa sejak diterapkan revolusi hijau, mulai muncul persoalan dampak lingkungan akibat penggunaan bahan kimia di bidang pertanian.

Berbagai kajian tentang dampak buruk penggunaan bahan sintetis dalam sistem pertanian mulai banyak dilakukan dan ditemukan telah terjadinya dampak negatif dari revolusi hijau, antara lain: (1) petani Indonesia menjadi sangat tergantung pada penggunaan bibit unggul, pupuk, dan pestisida yang boros energi; (2) teknologi pertanian yang diterapkan merusak kelestarian alam dan lingkungan, yang dapat dilihat dari timbulnya resistensi dan resurgensi pada pertanaman serta adanya residu pada tanah, air, udara, dan hasil pertanian. Residu pupuk dan pestisida kimia yang tertinggal di tanah, air, dan udara menjadi racun bagi makhluk hidup dan menjadi salah satu penyebab degradasi lahan Penggunaan pupuk Nitrogen (dalam bentuk Ammonium Sulfat dan Sulfur Coated Urea) yang terus-menerus selama 20 tahun menyebabkan pemasaman tanah sehingga populasi cacing tanah turun dengan drastic (Purwantini &

Sunarsih, 2020).

Tujuan utama dari pertanian organik adalah menggunakan bahan dan praktik budidaya yang dapat mendorong keseimbangan lingkungan secara alami. Hal ini akan meningkatkan kesehatan dan produktivitas serta saling ketergantungan antara tanah, tanaman, hewan, dan manusia. Di Amerika, penerapan pertanian organik untuk mendorong petani menggunakan pupuk organik lebih banyak dan mengendalikan jasad pengganggu secara alami tanpa menggunakan pupuk dan pestisida kimia sintetik, juga melindungi lingkungan serta menghasilkan bahan pangan alami dan aman (Sugiyanta

& Aziz, 2016).

2.5 Strategi Pemasaran

Strategi pemasaran adalah upaya memasarkan suatu produk, baik itu barang atau jasa, dengan menggunakan pola rencana dan taktik tertentu sehingga jumlah penjualan menjadi lebih tinggi. Strategi Pemasaran punya peranan penting dalam sebuah perusahaan atau bisnis karena berfungsi untuk menentukan nilai ekonomi

(10)

6

perusahaan, baik itu harga barang maupun jasa. Ada tiga faktor penentu nilai harga barang dan jasa, yaitu, Produksi, Pemasaran, Konsumsi (Haque-fawzi et al., n.d.).

Dengan kata lain, strategi pemasaran adalah serangkaian tujuan dan sasaran, kebijakan dan aturan yang memberi arah kepada usaha-usaha pemasaran perusahaan dari waktu ke waktu, pada, masing-masing tingkatan dan acuan serta alokasinya, terutama sebagai tanggapan perusahaan dalam menanggapi lingkungan dan keadaan pesaing yang selalu berubah. Oleh karena itu penentuan strategi pemasaran harus didasarkan atas analisis keunggulan dan kelemahan perusahaan dari lingkungannyaFaktor lingkungan yang dianalisis dalam penyusunan strategi pemasaran adalah keadaan pasar atau persaingan, perkembangan teknologi, keadaan ekonomi, peraturan dan kebijakan pemerintah, keadaan sosial budaya dan keadaan politik (Dimas Realino et al., 2023)

(11)

7

BAB III

PROSEDUR KERJA

1.3 Prosedur Kegiatan

Kompetensi Kegiatan Keterangan

Mampu melaksanakan program prioritas berdasarkan programa yang telah disusun

Menyusun Langkah- langkah pelaksananaan program yang terukur, sistematis dan

komprehensif

Membuat action plan yang baik dan dapat

diimplementasikan

Mampu menetapkan model project

Project ditentukan dengan mengacu pada

pengembangan teknologi peningkatan produksi padi lahan pertanian dan pengembangannya beruoa strategi pemasaran yang paling efektif berbasis korporasi (atau rintisan korporasi petani)

Proyek mengacu pada 2 capaian besar yaitu

peningkatab produkasi dan pemasaran

Mampu

mengimplentasikan project

Langkah-langkah

implementasi project bisa mengacu pada tugas kompetensi Budidaya Tanaman Lahan pertanian dan Kelembagaan dan Korporasi Petani

Implementasi dilakukakan selama program MSIB ini berlangsung, dilakukan sebaik-baiknya di bawah supervisi mentor

Mampu mengevaluasi project berbasis inovasi dan perilaku

Melaksanakan evaluasi pencapaian project di akhir kegiatan ini (bisa mengacu pada tugas kompetensi evaluasi pemberdayaan) Melaksanakan

pengembangan proyek dan tindak lanjut seperti memaksimalkan

pemanfaatan media sosial, aplikasi pintar, dll untuk meningkatkan performa hasil project dan upaya keberlanjutannya

Evaluasi dilakuakn secara periodik baik mencakup teknis, sosial dan ekonomi baik pada aspek perilaku mapun non perilaku.

Menyusun capaian evaluasi sesuai dengan target yang telah ditentukan dan dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan keberlanjutan project.

Table 1 Prosedur Kerja

(12)

8

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Alasan Pembuatan Pestisida Nabati

Pestisida nabati menjadi salah satu upaya untuk mengembalikan lagi pertanian ke konsep Back To Nature, dimana dalam prosesnya pemanfaatan bahan bahan yang ada di alam dan mudah didapatkan menjadi point penting terlaksananya konsep tersebut. Setelah dilakukannya Identifikasi Potensi Wilayah disadari bahwa sudah waktunya untuk mengembalikan pertanian ke konsep Back To Nature ini, dimana tidak adanya penggunaan bahan bahan kimia dalam pertanian yang dapat merusak alam itu sendiri.

Karena setelah melakukan beberapa kali wawancara dengan petani dan petugas Desa Mekarjaya ditemukan bahwa hama Wereng Batang Coklat masih menjadi musuh utama para petani dalam budidaya tanaman padi, dan sempat dilakukan perbincangan dengan Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman dari Balai Penyuluh Pertanian Panimbang, besar kemungkinan beberapa tahun kedepan terjadi pembludakan serangan hama wereng batang coklat karena penggunaan pestisida kimia berlebih yang menyebabkan resistennya hama wereng terhadap segala bentuk pestisida kimia.

Pestisida nabati menjadi salah satu upaya untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia yang cukup berpengaruh penggunaannya terhadap lingkungan, tanaman, maupun hama itu sendiri. Adapun penggunaan Pestisida Nabati ini nantinya diharapkan selain mengurangi penggunaan bahan kimia juga dapat mengurangi resistensi hama, aman bagi tanaman, tidak menghasilkan residu bagi lingkungan, dan dapat dengan mudah bahan bahannya ditemukan disekitar.

4.2 Tahapan Pembuatan 1. Alat dan Bahan

Adapun alat yang dibutuhkan antara lain : a. 2 Baskom

b. Blender namun bila tidak ada bisa menggunakan ulekan c. Pisau,

d. 3 Botol bekas, e. Saringan

(13)

9

Adapun bahan yang perlu disiapkan : a. Daun bebadotan

b. Limbah kulit bawag merah maupun bawang putih c. 2 Batang Serai

d. 2 Liter Air

e. Lidah buaya bisa diganti menggunakan minyak nabati

2. Cara Pembuatan

Dengan bahan bahan dan alat yang dibutuhkan kita akan membuat Pestisida nabati sebanyak 2 liter. Adapun cara pembuatan Pestisida nabati dengan daun bebadotan, serai, dan limbah kulit bawang sebagai bahan utamanya yakni sebagai berikut :

a. Cuci terlebih dahulu bahan bahan utama yakni daun bebadotan, serai, dan limbah kulit bawang dalam air bersih dalam baskom yang sudah disiapkan b. Selanjutnya keringkan bahan bahan yang telah dicuci bersih

c. Setelah semua bahan kering potonglah bahan bahan menjadi bagian bagian kecil agar mudah untuk dihaluskan menggunakan blender atupun ulekan d. Lalu semua bahan dipotong potong selanjutnya haluskanlah bahan bahan

menggunakan blender ataupun ulekan

e. Kemudian semua bahan yang sudah halus dimasukan kedalam botol bekas yang sudah disediakan dan masukanlah air kedalam botol

f. Kocoklah botol berisi air, daun bebadotan, serai, dan limbah kulit bawang yang telah dihaluskan agar semua bahan tercampur

g. Setelah simpanlah botol berisi Pestisida nabati tersebut di tempat aman dan tidak tersinari matahari secara langsung

h. Proses penyimpanan dilakukan kurang lebih selama 2-3 hari sebelum dapat diapliksikan

3. Cara Pengaplikasian

Setelah Pestisida nabati dibiarkan selama 2-3 hari kini Pestisida nabati dapat langsung diaplikasikan, Adapun cara pengalikasian sebagai berikut :

a. Setelah disimpan selama 2-3 hari botol berisi Pestisida nabati boleh dibuka dan keluarkan semua isinya untuk di saring juga memisahkan ekstrak daun bebadotan, serai, dan limbah kulit bawang dengan ampasnya.

(14)

10

b. Siapkan baskom dengan saringan di atasnya lalu tuangkan Pestisida nabati kedalamnya

c. Setelah dilakukan penyaringan selanjutnya buang ampas yang masih terdapat pada botol bekas penyimpanan Pestisida nabati sebelumnya d. Setelah dirasa botol sudah bersih dari ampas masukan kembali Pestisida

nabati yang telah disaring ke dalam botol

e. Lalu campurkan ekstrak lidah buaya atau minyak nabati kedalam botol Pestisida nabati sebanyak 2 sendok saja, ekstrak lidah buaya atau minyak nabati ini berfungsi sebagai perekat nantinya

f. Setelahnya kocok botol berisi Pestisida nabati tersebut agar menyatu dengan ekstrak lidah buaya atau minyak nabati

g. Maka kemudian Pestisida nabati sudah dapat digunakan dengan mencampurkan 1 liter Pestisida nabati dengan 10 liter air, jadi untuk penggunaannya 1:10 rasionya.

4.3 Strategi Pemasaran

Adapun strategi pesmasaran dari produk pestisida nabati ini meliputi analisis segmen pasar, target pasar, dan positioning, lebih jelasnya sebagai berikut :

1. Segmentasi Pasar

Pestisida nabati ini memiliki segmentasi pasar yang dibahas berdasarkan aspek aspek sebagai berikut :

a. Berdasarkan Geografis

Berdasarkan kategori ini yang dijadikan sebagai target pasar adalah masyarakat yang memang aktif dalam industri pertanian serta daerah yang masyarakatnya masih identik dengan pesawahan karena memang pada dasarnya pestisida nabati ini dibuat dengan fungsi untuk mencegah hama wereng batang coklat pada tanaman padi

b. Berdasarkan Demografis

Berdasarkan kategori ini yang dilihat adalah aspek pekerjaan.

Dimana masyarakat dengan pekerjaan sebagai petani cukup menjadi mayoritas di tempat tempat yang memang masih banyak memproduksi atau aktif falam industri pertanian.

c. Berdasarkan Psikologis

Berdasarkan psikologinya banyak masyarakat yang tertarik pada kegiatan yang berhubungan dengan inovasi dan informasi informasi terbaru

(15)

11

seputar pertanian. Banyak juga masyarakat yang memiliki minat lebih terhaap pengembangan pertanian organik, mulai dari petani kecil hingga kelompok tani serta masyarakat yang memiliki hobi bertani di lahan kecil.

2. Target Pasar

Berdasarkan segmentasi pasar yang telah dilakukan, target utama produk pestisida nabati ini ditujukan pada masyarakat yang memang di daerahnya masih aktif dalam menjalankan industri pertanian dan petani sebagai mayoritas pekerjaannya.

3. Positioining

Bila dilihat dari target pasar yang dapat dipastikan pestisida nabati yang terbuat dari bahan dasar daun bebadotan, serai, dan limbah kulit bawang dapat menjadi alternatif pestisida yang menawarkan solusi ramah lingkungan dan efektif bagi petani yang memang sadar nakan pentingnya pertanian berkelanjutan. Pestisida nabati ini dirancang tidak hanya untuk mencegah dan mengatasi hama pada tanaman seperti wereng batang coklat saja namun juga dapat menjadi upaya untuk mendukung pemanfaatan limbah dan pencegahan keresistenan hama. Karena dapat dilihat dari bahan bahan utama yang digunakan yakni daun bebadotan yang memiliki kandungan saponin, flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri yang dapat menjadi senyawa senyawa pengusir hama. Serta pada serai sendiri memiliki kandungan citronella, dan limonene yang aromanya tidak disukai hama. Dan limbah kulit bawang sebagai pelengkap yang memiliki kandungan acetogenin, flavonoid, saponin, dan mineral (kalsium, magnesium, kalsium,fosfor, dan zinc). Yang bila mana ke 3 bahan utama tersebut digabungkan akan menghasilkan pestisida nabati yang efektif untuk pencegahan maupun pengendalian hama wereng batang coklat.

4. Penetapan Harga

a. Penetapan harga jual yang terjangkau untuk para petani

Harga tidak melebihi harga jual dari pestisida kimia agar menarik minat petani dan masyarakat.

b. Sistem paket

Agar mendorong pembelian dalam jumlah besar dibuat system paketan yakni paket kecil berukuran 1 liter untuk penggunaan rumahan, paket medium berukuran 5 liter untuk petani kecil, dan paket besar berukuran 20 liter untuk kelompok tani.

(16)

12 c. Program diskon

Untuk menarik perhatian konsumen baru, mendorong pembelian yang lebih cepat, dan juga dapat megurangi stok berlebih. Program diskon ini tergantung jumlah pembelian bila lebih dari 10 liter maka akan mendapat diskon harga, akan diberi diskon dengan harga khusu untuk anggotan kelompok tani, dan akan ada program membe card untuk pembeli rutinan.

5. Distribusi

a. Saluran distribusi

Distribusi akan dilakukan dengan melibatkan toko pertanian dan agen distributor di setiap kelompok tani. Dimana nantinya akan disediakannya produk di toko toko pertanian yang sering dikunjungi oleh petani dan agen distirbusi di setiap kelompok tani yang sudah jelas memiliki jaringan dengan petani setempat.

b. Kerjasama

Akan dilakukan Kerjasama yakni dengan kelompok tani, gabungan kelompok tani, peyuluh pertanian, serta pengendali organisme pengganggu tanaman untuk meyakinkan dan meningkatkan kepercayaan petani terhadap produk pestisida nabati ini.

6. Promosi

Promosi produk akan dilakukan dengan 2 cara yakni promosi offline dan online, Adapun penjelasannya sebagai berikut :

a. Online Marketing

Akan dilakukan promosi secara online dengan pembuatan konten tentang produk di Instagram dan tiktok. Serta dibuat grup komunitas di facebook sebagai media promosi

b. Offline Marketing

Dalam prosesnya yang akan dilakukan yakni melakukan kunjungan ke kelompok tani untuk memperkenalkan produk pestisida nabati, dilakukannya semonstrasi plot terhadap produk, pembuatan dan pembagian brosur dan pamphlet inforasia terkait produk, pembuatan banner produk, dan pemasangan spanduk di lokasi lokasi strategis.

(17)

13 4.4 Tantangan

Tantangan selalu ada dalam upaya untuk melakukan suatu perubahan, namun bila kita dapat melewati dan melaksanakan perubahan maka dampak baik akan datang. Selain tantangan dalam awal pelaksanaan perubahan tantangan serta pro kontra dalam proses untuk mempertahankan keberlanjutan perubahan itupun akan bermunculan selama prosesnya. Adapun Pro Kontra yang akan dihadapi dalam proses terwujudnya penggunaan Pestisida nabati ini antara lain :

1. Pro

a. Mengurangi Modal yang Harus Dikeluarkan

Pestisida nabati ini bukan hanya menjadi alternatif untuk mengurangi modal yang harus petani keluarkan untuk membudidaya tanaman padi tetapi juga sebagai salah satu langkah terwujudnya pertanian berkelanjutan.

b. Pemanfaatan Limbah Secara Baik

Banyaknya limbah pertanian maupun limbah rumah tangga seperti limbah kulit bawang ini menjadikan pestisida nabati sebagai alternatif pemanfaatan limbah tersebut agar dapat lebih bermanfaat, selain itu di Desa Mekarjaya sendiri beberapa melakukan budidaya tanaman bawang.

Pembuatan pestisida nabati ini menjadi alternatif pemanfaatn bawang bila mana harga bawang turun dn tidak lagi dapat dipasarkan maupun di konsumsi pribadi.

c. Mengurangi Kemungkinan Tercemarnya Lingkungan Akibat Residu Pertanian

Banyaknya residu pertanian yang dapat mencemari lingkungan setempat menyebabkan Pestisida nabati cukup untuk mengurangi tercemarnya lingkungan, karena konsep pembuatan pestisida nabati ini yakni Back To Nature dimana dalam konsepnya sangat mempertimbangkan aspek lingkungan.

d. Mengurangi Kemungkinan Resistennya Hama Penyakit

Penggunaan bahan bahan kimia yag berlebih pada tanaman saat terserang hama maupun penyakit dapat mengakibatkan adanya mutasi gen pada hama maupun penyakit dimana hal tersebut dapat membuat hama maupun penyakit menjadi resisten terhadap pestisida bebahan kimia yang akhirnya akan mengakibatkan membludaknya serangan hama dan penyakit.

Dengan penggunaan pestisida nabati sebagai pengganti pestisida kimia

(18)

14

menjadi langkah dalam pencegahan terjadinya mutasi dan keresistenan hama dan penyakit, karena bahan bahan yang digunakan dalam pembuatan pestisida nabati adalah bahan bahan yang ramah lingkungan dan diambil dari alam.

2. Kontra

a. Minat Pasar yang Kurang

Petani sudah sering menggunakan pestisida kimia dalam pegendalian hama maupun penyakit, hal tersebut yang membuat mereka akan cukup sulit untuk beralih ke penggunaan pestisida nabati sebagai pengganti pestisida kimia. Karena kebiasaan dan telah terbukti ampuh dalam mengatasi hama maupun penyakit. Karena sudah pasti juga bila menggunakan pestisida kimia meski terbilang mahal tapi ampuh dalam pengedalian hama penyakit menjadi faktor sulitnya meyakinkan petani tentang ke efektivitasan penggunaan pestisida nabati.

b. Ketergantungan Petani Dengan Pestisida dan Pupuk Kimia

Banyak petani yang menggunakan pestisida kimia dalam pengendalian hama penyakit karena cukup ampuh dan cukup memuaskanpara petani menjadi faktor yang sulit untuk dihindari. Dimana branding dari produk pestisida kimia ini cukup melekat di hati para petani, tanpa tau penggunaan pestisida kimia yang terus menerus dengan dosis yang tidak tepat akan berakibat buruk. Hal inilah yang menyebabkan petani begitu ketergantungan kepada pestisida kimia.

c. Proses Yang Cukup Memakan Waktu Lama Dalam Melihat Hasil dari Penggunaan Pestisida Nabati

Hasil yang dapat dilihat dengan cepat menyebabkan petani berbondong bonding menggunakan pestisida kimia, karena penggunaan pestisida kimia yang mudah dengan hasil yang cepat juga menjadi point utama bagi para petani untuk mengatasi permasalah hama penyakit.

Pestisida nabati akan cukup sulit untuk membuktikan keampuhannya bila dibandingkan dengan kecepatan pestisida kimia yang cepat dalam mengatasi serangan hama dan penyakit.

(19)

15

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa pembuatan Pestisida Nabati dengan berbahan dasar daun bebadotan, serai, dan limbah kulit bawang akan menjadi inovasi dalam pengembangan pertanian berkelanjutan dengan konsep back to nature dimana semua kembali kealam, dari alam untuk alam. Konsep ini akan menguntungkan bagi petani karena akan mengurangi kemungkinan terjadinya resistensi pada hama penyakit terhadap pestisida, dan hal tersebut akan semakin membuat mengecilnya kemungkinan membludaknya hama wereng dalam penanaman padi. Dengan penggunaan Pestisida nabati ini juga aman bagi lingkungan karena tidak ada residu dalam pemakaiannya. Hal tersebut wajib menjadi pertimbangan untuk memperbaiki kondisi tanah yang mulai rusak juga akibat dari penggunan pestisida kimia berlebih.

5.2 Saran

a) Perlu adanya pengembangan lebih lanjut untuk pembuatan pestisida nabati yang lebih efektif dalam pengendalian hama dan penyakit

b) Diperlukannya penyuluhan lebih mendalam untuk menyadarkan petani betapa pentingnya pertanian organic demi kelangsungan pertanian berkelanjutan c) Pengembangan produk harus tersu dilakukan untuk mendaatkan hasil yang lebih

maksimal dan cepat dalam mengatasi serangan hama penyakit tanpa meninggalkan residu yang berbahaya bagi lingkungan

(20)

16

DAFTAR PUSTAKA

Hartanti, A., Suud, M., Hakim, L., Rizqiah, I., Nuraini, S. U., & Safitri, E. (2023). Pemanfaatan Pestisida Dan Pupuk Organik Cair Limbah Kulit Bawang Merah Di Desa Mranggon Lawang. Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, 6(3), 635–639. DOI:

10.29303/jpmpi.v6i3.5129.

Nurhudiman, N., Hasibuan, R., Hariri, A. M., & Purnomo, P. (2018). Uji potensi daun babadotan (Ageratum conyzoides L.) sebagai insektisida botani terhadap hama (Plutella xylostella L.) di laboratorium. Jurnal Agrotek Tropika, 6(2).

Rosa, H. O., & Aidawati, N. (2024). Efektivitas Pestisida Nabati Daun Babadotan (Ageratum conyzoides L.) Terhadap Mortalitas Hama Wereng Coklat (Nilaparvata lugens Stal.) Pada Tanaman Padi. JURNAL PROTEKSI TANAMAN TROPIKA, 7(1), 840-845.

TYAS, D. W. (2022). Efektivitas Insektisida Nabati Serai Wangi (Cymbopogon nardus) dalam Pengendalian Hama Wereng Batang Cokelat (Nilaparvata lugens Stal.) (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada).

Setiawan, J. (2021). TA: EFEKTIVITAS INSEKTISIDA NABATI SERAI WANGI UNTUK

PENGENDALIAN HAMA WERENG BATANG COKELAT (Nilaparvata lugens Stål.) PADA TANAMAN PADI (Oryza sativa L.) (Doctoral dissertation, Politeknik Negeri Lampung).

Antoni, A., Muchtar, R., & Meidiantie, D. (2021). Efektivitas Insektisida Nabati (Lengkuas, Serai, dan Mimba) Terhadap Wereng Batang Coklat. Jurnal Ilmiah Respati, 12(1), 29-35.

Hamakonda, U. A., & Mau, M. C. (2023). PROSPEK PERTANIAN ORGANIK SEBAGAI SALAH SATU KONSEP PENGEMBANGAN VARIETAS PADI KUSUMA SECARA

BERKELANJUTAN DI DESA PAPE KECAMATAN BAJAWA KABUPATEN NGADA. Jurnal Pertanian Unggul, 2(1), 28-39.

Baehaki, & Mejaya, I. M. (2014). Brown planthoppers as globaly and economical value rice pest and its technological control Wereng Cokelat sebagai Hama Global Bernilai Ekonomi Tinggi dan Strategi Pengendaliannya. Iptek Tanaman Pangan, 9(1), 1–12.

Besar, B., Dan, P., Teknologi, P., Penelitian, B., Pengembangan, D. A. N., Pertanian, K., Pengkajian, B., & Pertanian, T. (2011). Pengendalian hama wereng batang coklat pada tanaman padi.

Budi - daya - pertanian 2019. (2019). 22, 2019.

Dimas Realino, Valeria Eldyn Gula, & Sofiana Jelita. (2023). Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Harga terhadap Kepuasan Konsumen. Lokawati : Jurnal Penelitian Manajemen Dan Inovasi Riset, 1(4), 68–81. https://doi.org/10.61132/lokawati.v1i4.137

Efendi, E. (2016). Implementasi Sistem Pertanian Berkelanjutan dalam Mendukung Produksi Pertanian. Jurnal Warta, 47, 1689–1699.

Haque-fawzi, M. G., Iskandar, A. S., & Erlangga, H. (n.d.). Konsep , Teori dan Implementasi.

Haryano. (2012). Pestisida Nabati. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perkebunan, 185–

197.

Las, I. (2012). Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan. Repository.Pertanian.Go.Id, 590.

http://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/15759%0Ahttp://repository.perta

(21)

17

nian.go.id/bitstream/handle/123456789/15759/Buku-Bunga-Rampai- 2018_mewujudkan pertanian berkelanjutan.pdf?sequence=1&isAllowed=y

Purwantini, T. B., & Sunarsih, N. (2020). Pertanian Organik: Konsep, Kinerja, Prospek, dan Kendala. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 37(2), 127.

https://doi.org/10.21082/fae.v37n2.2019.127-142

Sugiyanta, & Aziz, S. A. (2016). Beras dan Tanaman Pangan Organik Lainnya. In Pengembangan Pertanian Organik di Indonesia (Issue 3).

Sutriadi, M. T., Harsanti, E. S., Wahyuni, S., & Anicetus Wihardjaka. (2019). Botanical pesticide: the prospect of environmentally friendly pest control. Jurnal Sumberdaya Lahan , 13(2), 89–101.

Sultan, S., Patang, P., & Subariyanto, S. (2016). Pemanfaatan gulma bandotan menjadi pestisida nabati untuk pengendalian hama kutu kuya pada tanaman timun. Jurnal Pendidikan Teknologi Pertanian, 2(1), 77-85.

Wiharyono, L. S., Nurdasmiati, D., Nazifa, A. T., & Fatonah, S. (2019). Insektisida Nabati Lalat Dalam Pengharum Ruangan Dari Ekstrak Daun Babadotan. Jurnal Pengabdian UntukMu NegeRI, 3(2), 223-229.

Kotambunan, O. F., Salaki, C. L., & Tarore, D. (2020). Efektivitas ekstrak serai wangi

(Cymbopogon nardus) sebagai insektisida nabati untuk pengendalian larva Crocidolomia pavonana Zell. pada tanaman kubis. JURNAL ENFIT: Entomologi dan Fitopatologi, 1(1), 1-9.

Ramadani, A. H., Af'idah, S. W. A., & Tamam, M. B. (2023). Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Serai Wangi Cymbopogon nardus (L.) Rendle Terhadap Mortalitas Wereng Coklat Niparvata lugens Stal.(Hemiptera: Delphacidae). BIOMA: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya, 5(2), 64-72.

Sekaringgalih, R., Rachmah, A. N. L., Susanti, Y., A’yun, A. Q., & Ansori, A. (2023). Edukasi pembuatan pestisida nabati dari kulit bawang merah di desa Bagorejo Kabupaten Banyuwangi. Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 8(2), 318-327.

Darsan, D., Yudha, D. A., Yusdiantara, Y., & Amelia, Z. (2024). Edukasi Petani dalam Penanggulangan Hama Tanaman dengan Pestisida Nabati Kulit Bawang Merah. Manfaat: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Indonesia, 1(3), 92-100.

(22)

18

LAMPIRAN

Gambar

Table 1 Prosedur Kerja

Referensi

Dokumen terkait

Shinta Riskiani (011710101046) Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember “ Strategi Pengembangan Agroindustri Unggulan Sektor

Hasil penelitian mengenai pengembangan kelompok tani yang dilakukan penyuluh pertanian terhadap kelompok tani tanaman kopi di Desa Jongok Raya tergolong Cukup Baik dimana

Laporan kerja magang ini merupakan pengembangan fitur seller panel pada website LINISTORE yang sedang dalam proses pengembangan.. Fitur seller panel merupakan fitur

Oleh karena itu, pengabdian ini akan mengembangkan sistem informasi manajemen pertanian untuk kelompok tani Tawang Makmur Desa Bendosewu yang dapat mendukung

1... emikian laporan praktikum ini "iuat.. Kelompok tani mementuk suatu kelema'aan pertanian karena "ari masin'masin' kelompok tani memiliki *isi "an misi

JURNAL PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN (JPPTP) adalah media ilmiah primer yang memuat hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian spesifik lokasi yang

Dengan tersusunnya Pedoman Penulisan Laporan Magang Industri Politeknik Pertanian Negeri Samarinda ini, diharapkan dapat menjadi pedoman bagi seluruh dosen serta mahasiswa magang untuk

Penulis membuat laporan magang berjudul "Kelembagaan dan Korporasi Petani" pada Kelompok Tani Makmur sebagai bagian dari program Magang dan Studi Independen Bersertifikat