LAPORAN PENDAHULUAN ULKUS PEDIS SINISTRA
Pembimbing:
Ns. Julvainda Eka P.U, M.Kep.
Oleh :
Julius Afta Setyonugroho NIM : 2003022
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN UNIVERSITAS KARYA HUSADA SEMARANG
A. PENGERTIAN
Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolisme yang ditandai dengan kadar gula yang tinggi yang berhubungan dengan abnormal metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi insulin atau penurunan sensitivitas insulin secara efektif. Insulin merupakan hormone penting yang diproduksi di pancreas (Jannah, 2019). Diabetes Melitus merupakan penyakit yang serius. Lebih dari setengah beban penyakit adalah Diabetes Melitus yang disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat (International Diabetes Federation (IDF, 2017).
Ulkus diabetikum merupakan infeksi, tukak, dan destruksi jaringan kulit pada kaki penderita diabetes melitus yang disebabkan karena adanya kelainan saraf dan rusaknya arteri perifer. Alasan utama penderita diabetes melitus untuk berobat kerumah sakit adalah karena ulkus diabetikum dan sudah dikenal sebagai beban pada aspek ekonomi, sosial, maupun medis (Rizqiyah. 2020).
Pendapat lain mengungkapkan Ulkus diabetikum merupakan terbentuknya luka yang bisa mengenai seluruh jaringan kulit pada kaki penderita diabetes melitus sehingga dapat menyebabkan terjadinya neuropan dan penyakit vaskuler perifer ulkus diabetikum menjadi salah satu efek dari penyakit DM (Anggraini, 2020)
B. ETIOLOGI
Etilogi Etiologi dari penyakit diabetes yaitu gabungan antara faktor genetik dan faktor lingkungan. Etiologi lain dari diabetes yaitu sekresi atau kerja insulin, abnormalitas metabolik yang menganggu sekresi insulin, abnormalitas mitokondria, dan sekelompok kondisi lain yang menganggu toleransi glukosa.
Diabetes mellitus dapat muncul akibat penyakit eksokrin pankreas ketika terjadi kerusakan pada mayoritas islet dari pankreas.
Hormon yang bekerja sebagai antagonis insulin juga dapat menyebabkan diabetes (Putra, 2015). Resistensi insulin pada otot adalah kelainan yang paling awal terdeteksi dari diabetes tipe 1 (Taylor, 2015). Adapun penyebab dari resistensi insulin yaitu:
obesitas/kelebihan berat badan, glukortikoid berlebih (sindrom cushing atau terapi steroid), hormon pertumbuhan berlebih (akromegali), kehamilan, diabetes gestasional, penyakit ovarium polikistik, lipodistrofi (didapat atau genetik, terkait dengan akumulasi lipid di hati), autoantibodi pada reseptor insulin, mutasi reseptor insulin, mutasi reseptor aktivator proliferator peroksisom (PPAR γ), mutasi yang menyebabkan obesitas genetik (misalnya:
mutasi reseptor melanokortin), dan hemochromatosis (penyakit keturunan yang menyebabkan akumulasi besi jaringan) (Ozougwu et al., 2017).
Pada diabetes tipe I, sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun, sehingga insulin tidak dapat diproduksi.
berada di dalam darah dan menyebabkan hiperglikemia postprandial (setelah makan), glukosa tidak dapat disimpan di hati.
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak akan dapat menyerap kembali semua glukosa yang telah disaring.
Oleh karena itu ginjal tidak dapat menyerap semua glukosa yang disaring. Akibatnya, muncul dalam urine (kencing manis). Saat glukosa berlebih diekskresikan dalam urine, limbah ini akan disertai dengan ekskreta dan elektrolit yang berlebihan. Kondisi ini disebut diuresis osmotik. Kehilangan cairan yang berlebihan dapat menyebabkan peningkatan buang air kecil (poliuria) dan haus (polidipsia).
Kekurangan insulin juga dapat mengganggu metabolisme protein dan lemak, yang menyebabkan penurunan berat badan. Jika terjadi kekurangan insulin, kelebihan protein dalam darah yang bersirkulasi tidak akan disimpan di jaringan. Dengan tidak adanya insulin, semua aspek metabolisme lemak akan meningkat pesat.
Biasanya hal ini terjadi di antara waktu makan, saat sekresi insulin minimal, namun saat sekresi insulin mendekati, metabolisme lemak pada DM akan meningkat secara signifikan. Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah pembentukan glukosa dalam darah, diperlukan peningkatan
jumlah insulin yang disekresikan oleh sel beta pankreas. Pada penderita gangguan toleransi glukosa, kondisi ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan, dan kadar glukosa akan tetap pada level normal atau sedikit meningkat. Namun, jika sel beta tidak
dapat memenuhi permintaan insulin yang meningkat, maka kadar glukosa akan meningkat dan diabetes tipe II akan berkembang.
C. Klasifikasi
Menurut Smeltzer dan Bare (2015), patofisiologi dari diabetes melitus adalah:
1. Diabetes tipe I
Pada Diabetes tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemia puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Disamping itu, glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan). Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar, akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urin (Glukosuria).
Ketika glukosa yang berlebih dieksresikan dalam urin, ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan. Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Sebagai akibat dari kehilangan cairan yang berlebihan, pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia). Defisiensi insulin juga mengganggu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan
tanpa hambatan dan lebih lanjut turut menimbulkan hiperglikemia. Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan lemak. Badan keton merupakan asam yang mengganggu keseimbangan asam basa tubuh apabila jumlahnya berlebihan. Ketoasidosis diabetik yang diakibatkannya dapat menyebabkan tandatanda dan gejala seperti nyeri abdominal, mual, muntah, hiperventilasi, napas berbau aseton dan bila tidak ditangani akan menimbulkan perubahan kesadaran, koma bahkan kematian.
2. Diabetes tipe II
Pada Diabetes tipe II terdapat dua masalah yang berhubungan dengan insulin, yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa didalam sel.
Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat dan progresif maka awitan diabetes tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi. Jika gejalanya dialami pasien, gejala tersebut sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsia, luka yang lama sembuh, infeksi vagina atau pandangan yang kabur (jika kadar glukosanya sangat tinggi).
Penyakit Diabetes membuat gangguan/ komplikasi melalui kerusakan pada pembuluh darah di seluruh tubuh, disebut angiopati diabetik. Penyakit ini berjalan kronis dan terbagi dua yaitu gangguan pada pembuluh darah besar (makrovaskular) disebut makroangiopati, dan pada pembuluh darah halus (mikrovaskular) disebut mikroangiopati. Ulkus Diabetikum terdiri dari kavitas sentral biasanya lebih besar disbanding pintu masuknya, dikelilingi kalus keras dan tebal. Awalnya proses pembentukan ulkus berhubungan dengan hiperglikemia yang berefek terhadap saraf perifer, kolagen, keratin dan suplai vaskuler. Dengan adanya tekanan mekanik terbentuk keratin keras pada daerah kaki yang mengalami beban terbesar.
Neuropati sensoris perifer memungkinkan terjadinya trauma berulang mengakibatkan terjadinya kerusakan jaringan dibawah area kalus. Selanjutnya terbentuk kavitas yang membesar dan akhirnya ruptur sampai permukaan kulit menimbulkan ulkus.
Adanya iskemia dan penyembuhan luka abnormal manghalangi resolusi. Mikroorganisme yang masuk mengadakan kolonisasi didaerah ini. Drainase yang inadekuat menimbulkan closed space infection. Akhirnya sebagai konsekuensi sistem imun yang abnormal, bakteria sulit dibersihkan dan infeksi menyebar ke jaringan sekitarnya, (Anonim 2018).
D. Penatalaksanaan medis
Hampir 85% kasus ulkus diabetikum harus diamputasi, berikut penatalaksanaan dalam memanajemen infeksi kaki diabetik agar meminimalisir terjadinya amputasi:
1) Pembedahan
Tujuan pembedahan adalah untuk mengalurkan pus, dan meminimalkan kerusakan jaringan dengan pengurangan tekanan di kaki dan mengangkat jaringan yang terinfeksi.
2) Antibiotik
Antibiotik hanya digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi bukan untuk penyembuhan luka, jadi Meskipun luka belum sembuh Terapi antibiotik dapat dihentikan jika tanda dan gejala infeksi sudah menghilang.
3) Perawatan pada luka
Kebanyakan luka ulkus diabetikum membutuhkan perawatan debridement untuk mempercepat penyembuhan Tula lengan cara mengangaat jaringan yang terinfeksi dan jinga nekrotik (Hutagalung 2019)
E. Patofisiologi
Salah satu penyebab penderita diabetes mengalami ulkus diabetikum, berupa penurunan sensasi pada kaki yang berhubungan dengan luka pada kaki Dan dapat menjadikan Kehilangan sensasi di daerah distal tungkai, hingga amputasi adalah neuropati perifer.
Neuropati diabetikum yang khas atau sering dijumpai adalah Neuropati sensori, motorik dan otonom. Ulkus kaki yang disebabkan oleh neuropati biasanya terjadi pada permukaan plantar
kaki, yaitu di area yang mengalami tekanan tinggi, seperti di area atas tulang atau area lain di atas deformitas tulang. Ulkus kaki diabetik sering menyebabkan lebih dari 50% penderitanya mengalami nyeri dan memar. penyebab ulkus yang sulit dikendalikan pada kaki penderita diabetes adalah neuropati perifer.
Hilang aya sensasi menyebabkan berkurangnya rasa sakit, dan dapat mengakibatkan kerusakan kulit akibat trauma atau tekanan.
dari sandal dan sepatu sempit yang dikenakan oleh pasien, yang dapat menimbulkan luka dan infeksi.
Orang yang memiliki riwayat diabetes lebih dari 5 tahun bisa mengalami ulkus hampir 2 kali jika dibandingkan dengan orang yang menderita diabetes kurang dari 5 tahun. Besar peluang terkena hiperglikemia kronik jika memiliki riwayat diabetes yang cukup lama dan akhirnya bisa menyebabkan komplikasi diabetes meliputi retinopati, nefropati, PJK, dan ulkus diabetikum. Pada DM type 1 dan type 2 keduanya dapat memicu munculnya kelainan profil lipid dalam darah yang menyebabkan gangguan kardiovaskular, nefropati dan hipertensi. Luka yang terbuka mampu menghasilkan gas gangren yang berakibat terjadinya osteomielitis yang disebabkan karena Luka yang timbul secara spontan ataupun karena trauma. Penyebab dari dilakukannya amputasi kaki nontraumatik adalah genggren kaki. Penderita diabetes rawan mengalami amputasi karena kondisi penyakit yang kronik dan risiko komplikasi yang sangat besar (Fitria, 2017).
Iskemik, neuropati, dan infeksi merupakan faktor yang disebut trias dan bisa menyebabkan Ulkus diabetikum. Jika Pada penderita Diabetes kadar glukosa darah tidak terkendali maka dapat menyebabkan komplikasi kronik neuropati, yang dapat memicu perubahan jaringan syaraf dikarenakan adanya penumpukan sorbitol dan fruktosa (Yunus, 2015). Selain im adanya infeksi, gangguan persyaratan, dan gangguan pada pembulu darah juga dapat menyebabkan kelainan terjadinya ulkus diabetikum (Tambunan M dan Gultom Y, 2015).
F. Patway
Diabetes I Diabates II
Faktor Keturunan gaya hidup, Usia, gnetik
Tidak bisa memproduksi insulin dengan baik
Pola makan tidak sehat, merokok dan obesitas
Sistemimune menurun
Resiko autoimmune
Sel B pancreas hancur Antibodie tidak berkerja
dengan baik
Jumlah sel pancreas menurun Retensi Insulin
Resiko Infeksi Kenaikan gula darah/tidak stabil
Gangguan resitensi insuline Diabetikum
Perawatan Luka Gangguan eleminasi
Urine Nekroluka
Infeksi menyebar kesekitar jaringan
dan tulang Nyeri Ulkus
Neuropati Aktivitas tehambat
Osteomylitis Gangguan mobilitas fisik
Klien tidak merasa sakit
Prosedur amputasi Gangguan integritas kulit
Gangguan citra tubuh
G. PENGKAJIAN KEPERAWATAN 1. Identitas Klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal
dan jam MRS, nomor register, dan diagnosis medis.
2. Riwayat Kesehatan
a.
Keluhan utamaSering Pasien tidak sadar sejak sadar sejak pukul empat subuh dan terdapat luka dikaki kiri sejak satu minggu yang lalu.
b. Riwayat penyakit sekarang
Perawat memberi kan pertanyaan terkait riwayat penyakit sekarang dan keluarga pasien mengatakan tidak sadar sejak pukul empat subuh, ada luka di kaki kiri, sejak satu minggu, mengalami sesak dan batuk.
c.
Riwayat penyakit dahuluPasien diberi pertanyaan terkait riwayat penyakit yang dialami selama hidup di dalam perawatan rumah sait maupun klinik.
d.
Riwayat penyakit keluargaBiasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi, diabetes melitus, atau adanya riwayat stroke dari generasi terdahulu.
e. Genogram
Untuk mengetahui alur keluarga pasien
3.
Review of System (ROS)Meliputi keadaan umum, kesadaran, skala koma glaslow, TB/BB, TTV, sistem pernafasan, sistem kardiovaskuler, sistem gastrointestinal, sistem perkemihan, sistem persyarafan, sistem imun, sistem reproduksi, sistem muskuloskeletal, sistem endokrin, system integumen, sistem sensori, dan sistem hematologi.
1. Sistem Pernafasan
Pengkajian terkait system pernafasan Subjektif dan Objektif 2. Sistem
Kardiovaskuler
Gejala (subjektif)
a. Palpitasi, Nyeri dada dan Riwayat pemakaian obat jantung
Tanda (objektif)
a. Inspeksi, Palpasi, Perkusi dan Auskultasi 3. Sistem
Gastrointestinal
Gejala (Subjektif)
Melakukan pengkajian terkait Diit biasa (tipe), Jumlah makan per Hari, Pola diit, Nafsu/ selera makan, Mual Muntah, Nyeri ulu hati, Alergi makanan, Masalah
mengunyah/menelan, Pola BAB, Kesulitan BAB, BAB terakhir, Riwayat perdarahan, Riwayat inkontensia alvi, Riwayat
4. Sistem Perkemihan Gejala (Subyektif)
Tanda (Obyektif) :(tambahkan data jika ada masalah pada sistem ini)
5. Sistem Persyarafan Gejala (Subyektif)
Tanda (Obyektif) :(tambahkan data jika ada masalah pada sistem ini)
6. Sistem Immune Gejala (Subyektif)
Riwayat Imunisasi: Pasien mengatakan sudah lupa dengan imunisasinya.
7. Sistem Reproduksi
Sistem reproduksi sangat bagus tidak ada masalah 8. Sistem Muskuloskeletal
Gejala (Subyektif)
Riwayat cidera kecelakaan : Pasien tidak mempunyai riwayat
9. Sistem Endokrin Gejala (Subyektif)
Tanda (Obyektif) :(tambahkan data jika ada masalah pada sistem ini)
10. Sistem Integumen Gejala (Subyektif)
Tanda (Obyektif) 11. Sistem Sensori
Gejala (subjektif):
Tanda (objektif): - 12. Sistem Hematologi
Gejala (Subjektif):
Tanda (objektif):
H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosis keperawatan merupakan penilaian klinis terhadap pengalaman atau respon individu, keluarga, atau komunitas pada masalah kessehatan, risiko masalah kesehatan atau pada proses kehidupan. Diagnosis keperawatan merupakan bagian vital dalam menentukan asuhan keperawatan yang sesuai untuk membantu klien mencapai kesehatan yang optimal (PPNI, 2016). Diagnosa yang muncul pada pasien Ulkus Pedis yaitu:
1. Nyeri akut berhbngan dengan agen pincedera fisik
2. Gangguan integritas kulit dengan neuropati perifer (D.0192) ditandai dengan ulkus pada pedis sinistra
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
4. Gangguan citra tubuh behubungan dengan perubahan struktur/bentuk tubuh
5. Resiko Infeksi berhubungan dengan penyakit kronis
6. Gangguan eliminasiurine berhubungan dengan efek tindakan medis
I. RENCANA KE
PERAWATAN
No DP
TUJUAN DAN
KRITERIA HASIL (SLKI)
INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)
TTD
1 Setelah dilakukan Manajemen nyeri
maka masalah tingkat nyeri akan teratasi dengan kriteria hasil:
1.
Keluhan Nyeri cukup menurun 2. Gelisa cukupmenurun
karakteristik,,durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
- Mengidentifikasi respon nyeri nonverbal - Identifikasi skala nyeri -
Berikan teknik
nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri - Jelaskan strategi meredakan nyeri - Mengkolaborasi
pemberian analgesik 2 Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 3x24 jam
maka masalah
integritas kulit dan jaringan akan teratasi dengan kriteria hasil:
1. Perkusi jaringan cukup
meningkat 2. Kerusakan
jaringan cukup menurun
Perawatan Luka Observasi
Monitor karakteristik luka (mis: drainase, warna, ukuran , bau)
Monitor tanda- tanda infeksi
Terapeutik
Lepaskan balutan dan plester secara perlahan
Bersihkan dengan cairan NaCl atau pembersih nontoksik, sesuai kebutuhan
lapisan kulit cukup menurun 4. Jaringan parut cukup membaik
jaringan nekrotik
Pasang balutan sesuai jenis luka
Pertahankan Teknik steril saat melakukan perawatan luka
Ganti balutan sesuai jumlah eksudat dan drainase
Berikan suplemen vitamin dan mineral (mis: vitamin A, vitamin C, Zinc, asam amino), sesuai
indikasi Kolaborasi
Kolaborasi prosedur
debridement (mis:
enzimatik, biologis, mekanis, autolitik), jika perlu
Kolaborasi
pemberian antibiotik, jika perlu
3 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, maka Mobilitas Fisik Meningkat dengan
Dukungan Mobilisasi (I.05173)
Observasi :
Terapeuti k :
ekstremitas meningkat 6. Kekuatan
otot meningkat 7. ROM
meningkat 8. Gerakan
terbatas menurun
membantu pasien dalam
meningkatkan pergerakan Edukasi :
Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi
Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan
4 Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 3×24 jam, maka tingkat infeksi menurun dengan kriteria hasil : SLKI :Tingkat Infeksi (L.14137)
a. Kemerahan menurun
b. Nyeri menurun
SIKI: Pencegahan infeksi (L.14539)
a. Observasi
-Memonitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik b. Teraupetik
- Pertahankan teknik aseptik - Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien
c. Edukasi
- Jelaskan tanda dan gejala infeksi
memeriksa kondisi luka atau luka operasi
d. Kolaborasi
- Kolaborsi pemberian imunisasi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam, maka citra tubuh meningkat, Melihat bagian tubuh 4 Respon nonverbal pada perubahan tubuh 4
Hubungan social 4
Promosi Citra Tubuh
Observasi
-Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan tahap perkembangan
-Identifikasi budaya, agama, jenis kelamin, dan umur terkait citra tubuh
-Identifikasi perubahan citra tubuh yang mengakibatkan isolasi sosial
-Monitor frekuensi
pernyataan kritik terhadap diri sendiri
-Monitor apakah pasien bisa
Terapeutik
-Diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya
-Diskusikan perbedaan penampilan fisik terhadap harga diri
-Diskusikan perubahan akibat pubertas, kehamilan, dan penuaan
-Diskusikan kondisi stress yang mempengaruhi citra tubuh (mis: luka, penyakit, pembedahan)
-Diskusikan cara
mengembangkan harapan citra tubuh secara realistis -Diskusikan persepsi pasien dan keluarga tentang perubahan citra tubuh
Edukasi
-Jelaskan kepada keluarga tentang perawatan perubahan citra tubuh
gambaran diri sendiri terhadap citra tubuh
-Anjurkan menggunakan alat bantu (mis: pakaian, wig, kosmetik)
-Anjurkan mengikuti kelompok pendukung (mis:
kelompok sebaya)
-Latih fungsi tubuh yang dimiliki
-Latih peningkatan
penampilan diri (mis:
berdandan)
-Latih pengungkapan kemampuan diri kepada orang lain maupun kelompok
Promosi Koping
Observasi
-Identifikasi kegiatan jangka pendek dan Panjang sesuai
yang dimiliki
-Identifikasi sumber daya yang tersedia untuk memenuhi tujuan
-Identifikasi pemahaman proses penyakit
-Identifikasi dampak situasi terhadap peran dan hubungan -Identifikasi metode penyelesaian masalah
-Identifikasi kebutuhan dan keinginan terhadap dukungan sosial
Terapeutik
-Diskusikan perubahan peran yang dialami
-Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
-Diskusikan alasan
mengkritik diri sendiri
-Diskusikan untuk
mengklarifikasi
mengevaluasi perilaku sendiri -Diskusikan konsekuensi tidak menggunakan rasa bersalah dan rasa malu
-Diskusikan risiko yang menimbulkan bahaya pada diri sendiri
-Fasilitasi dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan -Berikan pilihan realistis mengenai aspek-aspek tertentu dalam perawatan -Motivasi untuk menentukan harapan yang realistis
-Tinjau Kembali kemampuan dalam pengambilan keputusan
-Hindari mengambil
keputusan saat pasien berada dibawah tekanan
-Motivasi terlibat dalam kegiatan sosial
tersedia
-Damping saat berduka (mis:
penyakit kronis, kecacatan) -Perkenalkan dengan orang atau kelompok yang berhasil mengalami pengalaman sama
-Dukung penggunaan
mekanisme pertahanan yang tepat
-Kurangi rangsangan lingkungan yang mengancam Edukasi
-Anjurkan menjalin hubungan yang memiliki kepentingan dan tujuan sama
-Anjurkan penggunaan sumber spiritual, jika perlu -Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
-Anjurkan keluarga terlibat -Anjurkan membuat tujuan yang lebih spesifik
-Ajarkan cara memecahkan masalah secara konstruktif -Latih penggunaan Teknik relaksasi
-Latih keterampilan sosial, sesuai kebutuhan
-Latih mengembangkan penilaian obyektif
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam, maka eliminasi urine membaik
Sensasi berkemih meningkat
Distensi kandung kemih
Berkemih tidak tuntas menurun
Menejemen Eliminasi Urine Observasi
Identifikasi tanda dan gejala retensi atau
inkontinensia urin
Identifikasi faktor yang menyebabkan retensi atau inkontinensia urin
Monitor eliminasi urin (mis. frekuensi, konsistensi, aroma, volume, dan warna) Terapeutik
Catat waktu-waktu
jika perlu
Ambil sampel urin tengah (midstream) atau kultur
Edukasi
Ajarkan tanda dan gejala infeksi saluran berkemih
Ajarkan mengukur asupan cairan dan haluaran urin
Ajarkan mengambil spesimen urin midstream
Ajarkan mengenali tanda berkemih dan waktu yang tepat untuk berkemih
Ajarkan terapi modalitas penguatan otot- otot panggul/berkemihan
Anjurkan minum yang cukup, jika tidak ada kontraindikasi
Anjurkan mengurangi minum menjelang tidur Kolaborasi
Kolaborasi pemberian obat supositoria uretra, jika perlu
J. EVALUASI
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan keberhasilan dari diagnosis keperawatan, rencana intervensi, dan implementasinya. Tahap evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor “kealpaan”
yang terjadi selama tahap pengkajian, analisis, perencanaan, dan implementasi intervensi. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan. Hal ini dapat dilakukan dengan melihat respon klien terhadap asuhan keperawatan yang diberikan sehingga perawat dapat menggambil keputusan untuk mengakhiri asuhan keperawatan, memodifikasi asuhan keperawatan, atau meneruskan rencana asuhan keperawatan (Hariono, 2018)
DAFTAR PUSTAKA
Andyagreeni. (2017). Tanda Klinis Penyakit Diabetes Mellitus.
Jakarta: CV.TransInfoMedia.
International Diabetes Federation. (2017). One adult in ten will have diabetes by 2030. 5th edition. IDF: Diabetes
Atlas.Diakses pada tanggal 12 Desember 2020 jam 20.00 WIB.
Smeltzer, (2016) mengenai factor sekresi insulin. Jakarta Maulana, Mirza. 2016. Mengenal Diabetes: Panduan Praktis
Menangani Penyakit Kencing Manis. Jogjakarta:
Katahati. 44, 45
Sjamsu Hidayat R. De Jong Wim 2015, Buku Ajar Ilmu Bedah,
Ediasi 2 Jakarta, EGC
Sudoyo, Aru.W, dkk, 2016, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,
Edisi IV, Jakarta, FKUI Tim Pokja SDKI DPP PPNI.
(2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (1st ed.). (1st ed.). Jakarta: Dewan Penguru Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Pusat Persatuan
Perawat
Nasional
Indonesia. Retrieved from Indonesia. Retrieved from http://www.innappni.or.id http://www.inna-ppni.or.id
Tim Pokja Tim Pokja SIKI DPP SIKI DPP PPNI. (2018).
Standar Intervensi Keperawat 8). Standar Intervensi