• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN EFILING DALAM RANGKA

MENINGKATKAN KEPATUHAN PELAPORAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DI KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA JAKARTA GAMBIR EMPAT TAHUN

2016

Tim Peneliti :

Roike Tambengi, SE., M.Si., MBA Mainita Hidayati, S.Sos., M.Si

INSTITUT ILMU SOSIAL DAN MANAJEMEN STIAMI

2017

(2)
(3)

iii

rahmat dan karunia-Nya, serta dengan semangat dan kerja keras kami akhirnya dapat menyelesaikan penelitian ini yang diberi judul “Analisis Implementasi Elektronic Filing (e-Filing) dalam upaya meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Menteng Tiga.”

Dalam pelaksanaan penelitian ini tidak lepas dari adanya peran serta berbagai pihak baik langsung maupun tidak langsung, oleh karenanya pada kesempatan yang baik ini kami menyampaikan terima kasih yang tak terhingga khusnya kepada:

1. Bapak Dr. Ir. Panji Hendrarso, M.M, selaku Rektor Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI.

2. Bapak Dr. Bambang Irawan, MM, M.Si, selaku Dekan Ilmu Administrasi Publik IISM STIAMI.

3. Bapak Dr. Ir. A.H. Rahadian, M.Si, selaku Kepala LPPM

4. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu baik langsung maupun tidak dalam pelaksanaan penelitian ini.

Terima kasih atas bantuan semua pihak yang sungguh tidak ternilai harganya, semoga Alloh SWT memberikan balasan yang terbaik atas smua jasa-jasa yang telah diberikan, terima kasih.

Kami akui bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu adanya kritik dan saran yang membangun sangat memberikan manfaat khususnya bagi yang bermaksud untuk melakukan penelitian lanjutan.

Jakarta, Juli 2017 Peneliti

(4)

iv

internet. EFiling adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pajak yang bertujuan untuk memudahkan wajib pajak dalam penyampaian SPT Tahunan dan meningkatkan kepatuhan wajib pajak dalam pelaporan pajaknya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan data yang diperoleh dari data rekapan pajak dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Gambir Empat serta wawancara dengan pihak yang bersangkutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan E-Filing sudah berjalan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Gambir Empat, namun belum sesuai yang diharapkan pemerintah. Penyebab utamanya adalah kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada wajib pajak mengenai kebijakan E-Filing.

Berdasarkan hal ini, sebaiknya Direktorat Jenderal Pajak ebih meningkatkan sosialisasi yang berkesinambungan kepada wajib pajak tentang tata cara penggunaan E-Filing.

Kata kunci : Implementasi e-filing, kepatuhan perpajakan

(5)

v

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PRAKATA ... iii

RINGKASAN ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Ruang Lingkup Penelitian ... 5

C. Pertanyaan Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN LITERATUR A. Penelitian Terdahulu ... 7

B. Kajian Pustaka ... 11

C. Kerangka Pemikiran ... 33

D. Model Konseptual ... 35

(6)

vi BAB IV METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 38

B. Fokus Penelitian ... 42

C. Teknik Pengumpulan Data ... 43

D. Penentuan Informan ... 44

E. Teknik Analisis Data ... 46

F. Lokasi dan Jadwal Penelitian ... 47

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Obyek Penelitian ... 48

B. Hasil Penelitian ... 53

C. Pembahasan ... 74

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 88

B. Saran ... 89

DAFTAR PUSTAKA ... 91

LAMPIRAN ... 93

(7)

vii

No. Keterangan Tabel Hal

2.1 Tabel Materi penelitian sebelumnya ... 8 4.1 Tabel Jadwal Penelitian ... 47 5.1 Tabel Statistik Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi di KPP

Pratama Gambir Empat Tahun 2013-2016 ... 67 5.2 Tabel Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak atas Penyampaian

SPT Tahunan Tahun Pajak 2013-2016 ... 84

(8)

viii

2.1 Gambar Model Konseptual ... 35

(9)

1 A. Latar Belakang Penelitian

Dewasa ini, teknologi internet memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan informasi dunia. Dahulu memerlukan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan informasi mengenai kejadian yang terjadi hari ini. Namun sekarang informasi dapat menyebar dengan cepat. Hanya dibutuhkan waktu satu detik saja untuk mendapatkan informasi dari internet. Saat ini, informasi menjadi kunci terpenting dalam kehidupan manusia. Pengaruh perkembangan dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi tersebut juga sampai ke aspek-aspek lain di pemerintahan, salah satunya adalah aspek perpajakan. Lembaga perpajakan menggunakan teknologi untuk memberikan kemudahan dalam pelayanan dan informasi kepada pelanggannya.

Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara terbesar yang sangat berperan dalam kesejahteraan masyarakat di Indonesia.

Oleh karena itu, hasil pungutan pajak di negara kita pada masa sekarang ini menjadi sumber utama penerimaan negara yang kontribusinya diharapkan semakin meningkat setiap tahunnya. Dan seiring dengan hal

(10)

tersebut maka berbagai usaha telah dilakukan oleh aparat Direktorat Jenderal Pajak dalam meningkatkan penerimaan pajak dari wajib pajak dengan cara melakukan pembaharuan- pembaharuan dalam sistem perpajakan.

Pembaharuan dalam sistem perpajakan ini ditandai dengan penerapan teknologi informasi terkini dalam pelayanan perpajakan.

Peningkatan pelayanan perpajakan ini terlihat dengan dikembangkannya administrasi perpajakan modern dan teknologi informasi diberbagai aspek kegiatan. Perubahan mendasar yang berkaitan dengan modernisasi pajak terjadi di awal tahun 2005 yaitu dilaksanakannya jenis pelayanan kepada Wajib Pajak dalam rangka penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) tahunan menggunakan elektronik (e-Filing). Tepatnya pada tanggal 24 Januari 2005 bertepatan di Kantor Kepresidenan, Presiden Republik Indonesia bersama-sama dengan Direktorat Jenderal Pajak meluncurkan produk e-Filing atau Electronic Filing System yaitu sistem pelaporan atau penyampaian pajak dengan Surat Pemberitahuan (SPT) secara elektronik (e-Filing) yang dilakukan melalui sistem online yang yang diberlakukan untuk karyawan Direktorat Jendral Pajak.

Saat ini wajib pajak sudah semakin kritis dalam melihat setiap perubahan kebijakan pemerintah terutama dalam bidang fiskal. Kondisi ini mau tidak mau mengharuskan Direktorat Jendral Perpajakan untuk melakukan reformasi dibidang perpajakan. Sebagaimana yang menjadi

(11)

sasaran sejak tahun 2002, bahwa reformasi perpajakan secara komperhensif sebagai satu kesatuan dilakukan terhadap tiga bidang pokok atau utama secara langsung menyentuh pilar perpajakan, yaitu:

1. Bidang administrasi, yakni melalui modernisasi administrasi perpajakan

2. Bidang peraturan, dengan melakukan amandemen terhadap undang-undang perpajakan

3. Bidang pengawasan, membangun bank data perpajakan nasional.

Program reformasi administrasi perpajakan atau modernisasi perpajakan dilaksanakan pada tahun 2002. Program ini bertujuan untuk mendukung terselenggaranya Good Governance, yaitu penerapan sistem administrasi perpajakan yang transparan dan akuntabel, dengan memanfaatkan sistem informasi teknologi yang handal dan terkini. Program ini terdiri dari empat (4) bidang perubahan, yaitu struktur organisasi, teknologi informasi dan komunikasi, manajemen sumber daya manusia dan pelaksanaan Good Governance.

Penerapan sistem administrasi perpajakan terkini diharapkan dapat membangun Good Governance. Menurut Sedarmayanti (2010: 279) Membangun Good Governance bukan hanya masalah memperbaiki kondisi institusi pemerintah, kondisi pelaku dalam masyarakat juga harus mendapat perhatian. Masyarakat sebagai institusi memiliki berbagai kelompok sosial dengan kondisi dan kepentingan berbeda. Oleh karena itu, Good

(12)

Governance membutuhkan cara agar keragaman dapat diperhitungkan.

Keterkaitan unsur kepemerintahan yang baik dengan penyelenggaraan negara, Governance digambarkan dengan tiga kaki yaitu: Economic Governance, Political Governance, dan Administrative Governance.

Dalam hal pembaharuan sistem perpajakan ini pemerintah sedang membangun Administrative Governance atau sistem implementasi kebijakan yang baik.

Persepsi kebermanfaatan menjadi penentu suatu sistem dapat diterima atau tidak Wajib pajak yang beranggapan bahwa e-Filing akan bermanfaat bagi mereka dalam melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) menyebabkan mereka tertarik menggunakannya. Semakin besar ketertarikan mereka menggunakannya maka semakin

besar juga intensitas pengguna dalam menggunakan sistem informasi tersebut.

Namun, fenomena yang terjadi saat ini adalah belum semua wajib pajak menggunakan e-Filing karena wajib pajak masih menganggap bahwa penggunaan sistem komputer dalam pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) pajak sangat membingungkan dan menyulitkan.

Hal ini dikarenakan masih banyak wajib pajak yang belum paham tentang pengoperasian e-Filing serta kemampuan wajib pajak untuk menggunakan e-Filing masih minim, padahal pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) secara komputerisasi memiliki manfaat yang lebih

(13)

besar bagi wajib pajak maupun Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Impelentasi kebijakan e-Filing dalam rangka meningkatkan pelaporan wajib pajak orang pribadi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Gambir Empat tahun 2016”.

B. Ruang Lingkup Penelitian

Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, peneliti membatasi ruang lingkup penelitian ini hanya pada penerapan kebijakan e-Filing, hambatan dalam penerapan k e b i j a k a n e-Filing, dan upaya dalam penerapan kebijakan e-Filing.

C. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan ruang lingkup penelitian di atas maka pertanyaan dalam penelitian ini, sebagai berikut :

1. Bagaimana implementasi kebijakan e-Filing dalam rangka meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Gambir Empat?

2. Apa saja hambatan penggunaan e-Filing oleh Wajib Pajak Orang Pribadi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Gambir Empat?

(14)

3. Bagaimana upaya meningkatkan pelaporan SPT tahunan Orang Pribadi secara e-Filing di Kantor Pelayanan Pajak Jakarta Gambir Empat?

(15)

7

KAJIAN LITERATUR

Dalam bab ini peneliti membahas mengenai penelitian terdahulu, teori- teori yang menjadi landasan dalam penelitian serta berisi uraian mengenai kerangka pemikiran dan model penelitian. Teori yang menjadi landasan penelitian adalah administrasi, administrasi publik, administrasi perpajakan, kebijakan, kebijakan publik, kebijakan perpajakan, implementasi, pengertian pajak, pengertian surat pemberitahuan (SPT), jenis SPT, batas waktu penyampaian SPT, sanksi terlambat atau tidak menyampaikan SPT, pengertian pelayanan publik, pelayanan pajak secara online, kriteria penilaian pelayanan perpajakan, sistem pajak online, e-Filing, pengertian kepatuhan wajib pajak, bentuk kepatuhan wajib pajak, dan governance

A. Penelitian Terdahulu

Berikut judul penelitian terdahulu atau jurnal yang terkait dengan penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

(16)

Table 2.1

Materi penelitian sebelumnya

No Nama Peneliti Judul Penenlitian Hasil Penelitian 1 Sisilia Abdurrohman

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 3, No. 5

implementasi program e-Filing dalam upaya peningkatan Wajib Pajak Orang Pribadi

langkah-langkah dalam

implementasi pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama

Bojonegoro telah sesuai dengan teori pendekatan prosedural atau manajerial dalam proses

implementasi.

Namun

implementasi e- Filing belum berperan secara optimal dalam peningkatan kepatuhan pajak.

Hal tersebut terjadi karena e- Filing belum mampu

menghilangkan faktor perbedaan individu yang berpengaruh pada tingkat kepatuhan wajib pajak.

2 Wulandari Agustiningsih Volume V nomor 2 tahun 2016

PENGARUH PENERAPAN E- FILING, TINGKAT PEMAHAMAN PERPAJAKAN

Penerapan e-filing berpengaruh positif dan signifikan terhadap

Kepatuhan Wajib

(17)

DAN KESADARAN WAJIB PAJAK TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK DI KPP PRATAMA YOGYAKARTA

Pajak di KPP Pratama

Yogyakarta. Nilai koefisien regresi yang positif yaitu sebesar 0,293.

Koefisien

determinasi 0,454 ini berarti penerapa penerapan e-filing mempengaruhi Kepatuhan Wajib Pajak sebesar 45,4%. Besarnya nilai koefisien regresi 0,293 dengan nilai konstanta 7,427.

Persamaan garis regresinya adalah Y= 7,427 +

0,293X1. Hal ini berarti semakin tinggi Penerapan e- filing maka semakin tinggi Kepatuhan Wajib Pajak.

3 Gusma Dwi Avianto Sri Mangesti Rahayu Bayu Kaniskha

Jurnal Perpajakan (JEJAK)|

Vol. 9 No. 1 2016|

ANALISA PERANAN E- FILING DALAM RANGKA

MENINGKATKAN KEPATUHAN PELAPORAN SURAT

PEMBERITAHUAN TAHUNAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI

(Studi Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Selatan)

Melalui e-filing wajib pajak dapat

melaksanakan kewajibannya dalam hal ini pelaporan SPT Tahunan dengan praktis, mudah, cepat, dan efisien.

E-filing dapat menumbuhkan suatu kepatuhan sukarela bagi wajib pajak melalui program

pelayanannya yang baik dan prosedur

(18)

yang sederhana serta memudahkan wajib pajak, wajib pajak dapat terbantu dalam memenuhi kewajiban

perpajakan sebagai bentuk kepatuhan.

Ditahun 2013 (sebelum ada e- filing) jumlah wajib pajak yang

melaporkan SPT Tahunannya sejumlah 32.909, selanjutnya ditahun 2014 dimana pertama kalinya e- filing berjalan jumlah wajib pajak yang melaporkan tidak meningkat meningkat namun masih cukup stabil dengan 32.464, dan ditahun 2015 jumlah wajib pajak yang melaporkan SPT Tahunannya jauh meningkat dengan 40.825. Hal ini dibuktikan karena meningkatnya jumlah wajib pajak orang pribadi yang melakukan

pelaporan SPT melalui e-filing ditahun 2014 sejumlah 3.403 dan ditahun 2015 sejumlah 11.161 serta

perkembangan jumlah pelapor

(19)

untuk SPT Tahunan secara manual tidak lebih besar

daripada

perkembangan dari pelaporan melalui e-filing. Dengan meningkatnya angka pelaporan SPT Tahunan wajib pajak orang pribadi maka dapat

menggambarkan peran dari e-filing dalam

meningkatkan kepatuhan.

B. Kajian Pustaka

1. Administrasi

Menurut Nawawi (Syafiie, 2013: 13), “Administrasi adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan sebagai proses pengendalian usaha kerja sama sekelompok manusia untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan sebelumnya.”

Pendapat lain dikemukakan oleh Simon (Harbani 2013:

50), “Administrasi adalah kegiatan-kegiatan kelompok kerjasama untuk mencapai tujuan-tujuan bersama.”

Dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa administrasi merupakan suatu proses pengendalian usaha kerjasama sekelompok orang dalam melakukan hal-hal

(20)

yang telah ditetapkan sebelumnya untuk mencapai tujuan bersama.

2. Administrasi Publik

Pengertian Administrasi publik menurut Gordon (Syafiie, 2013: 14) adalah

Administrasi publik dapat di rumuskan sebagai seluruh proses yang dilakukan organisasi maupun perseorangan yang berkaitan dengan penerapan atau pelaksanaan hukum dan peraturan yang di keluarkan badan legislatif, yudikatif, dan eksekutif.

Dari pengertian administrasi publik diatas maka dapat peneliti jelaskan kembali bahwa administrasi publik yaitu seluruh proses berkenaan dengan implementasi atau pelaksanaan hukum dan peraturan yang di keluarkan oleh badan legislatif, yudikatif, dan eksekutif.

3. Administrasi perpajakan

Menurut Priantara (2012: 8) Administrasi Perpajakan adalah

Instrumen untuk mengoperasionalkan kebijakan perpajakan dan hukum perpajakan yang berlaku.

Administrasi pajak merupakan kunci bagi berhasilnya kebijakan perpajakan. Administrasi perpajakan merupakan prosedur atau tata cara yang lebih rinci dan teknis yang di butuhkan untuk memenuhi kewajiban yang

(21)

di atur dalam undang-undang. Misalnya, bagaimana prosedur pendaftaran sebagai wajib pajak, prosedur pengisian dan penyampaian SPT.

Dari penjelasan diatas dapat peneliti jelaskan kembali bahwa administrasi perpajakan merupakan suatu instrumen untuk mengoperasionalkan kebijakan perpajakan dan hukum perpajakan yang berlaku, juga merupakan kunci bagi berhasilnya kebijakan perpajakan.

4. Kebijakan

Menurut Suharto (2013: 3) Pengertian kebijakan sebagai berikut:

Kebijakan adalah sebuah instrument pemerintahan, bukan hanya dalam arti government yang hanya menyangkut aparatur negara, melainkan pula governance yang menyentuh pengelolaan sumberdaya publik. Kebijakan pada intinya merupakan keputusan- keputusan atau pilihan tindakan yang secara langsung mengatur pengelolaan dan pendistribusian sumberdaya alam, finansial, dan manusia demi kepentingan publik, yakni rakyat banyak, penduduk, masyarakat atau warga negara. Kebijakan merupakan hasil dari adanya sinergi, kompromi atau bahkan kompetisi antara berbagai gagasan, teori, ideologi, dan kepentingan- kepentingan yang mewakili sistem politik suatu negara.

Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan merupakan sebuah instrumen pemerintah yang dihasilkan dari adanya sinergi, kompromi atau bahkan kompetisi antara berbagai gagasan, teori, ideologi dan kepentingan- kepentingan dari yang mewakili sistem politik suatu negara yang berbentuk sebuah keputusan-keputusan atau pilihan tindakan yang secara langsung mengatur hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan publik.

(22)

5. Kebijakan publik

Menurut Dye (Soetari 2013: 35) pengertian kebijakan publik adalah sebagai berikut:

Segala sesuatu yang di kerjakan atau tidak dikerjakan oleh pemerintah, alasan suatu kebijakan harus dilakukan dan manfaat bagi kehidupan bersama harus menjadi pertimbangan yang holistik agar kebijakan tersebut mengandung manfaat yang besar bagi warganya dan tidak menimbulkan kerugian, di sinilah pemerintah harus bijaksana dalam menetapkan suatu kebijakan.

Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik adalah segala sesuatu yang dikerjakan atau tidak dikerjakan oleh pemerintah yang dipertimbangkan secara holistic agar kebijakan tersebut mengandung manfaat yang besar bagi warganya.

6. Kebijakan perpajakan

Mansury (1999: 1) membagi kebijakan fiskal ke dalam dua pengertian, yaitu berdasarkan pengertian luas dan pengertian sempit. Kebijakan fiskal dalam arti yang luas adalah kebijakan untuk mempengaruhi produksi masyarakat, kesempatan kerja, dan inflasi, dengan menggunakan instrumen pemungutan pajak dan belanja negara. Sedangkan pengertian kebijakan fiskal dalam arti yang sempit dalah kebijakan yang berhubungan dengan penentuan siapa–siapa yang akan dikenakan pajak, apa yang akan di jadikan dasar pengenaan pajak, bagaimana menghitung besarnya pajak yang harus dibayar dan bagaimana tata cara pembayaran pajak yang terutang.Kebijakan fiskal berdasarkan pengertian sempit ini disebut juga dengan kebijakan pajak.

Kebijakan perpajakan menurut Marsuni (2006: 37-38) dapat dirumuskan sebagai :

1) Suatu pilihan atau keputusan yang diambil oleh

(23)

pemerintah dalam rangka menunjang penerimaan negara, dan menciptakan kondisi ekonomi yang kondusif.

2) Suatu tindakan pemerintah dalam rangka memungut pajak,guna memenuhi kebutuhan dana untuk keperluan negara.

3) Suatu keputusan yang diambil pemerintah dalam rangka meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak untuk

digunakan menyelesaikan kebutuhan dana bagi negara.

Pemerintah mengeluaran kebijakan perpajakan baru di pertengahan tahun 2014 guna meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak, yaitu PER – 1/PJ/2014 Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi Menggunakan Formulir 1770S atau 1770SS Secara e-Filing melalui website Direktorat Jendral Pajak (www.pajak.go.id) Kebijakan pajak yang berkaitan dengan penelitian ini adalah kebijakan pajak penghasilan. Yang menjadi titik tolak dari pajak penghasilan adalah penghasilan itu sendiri. Terdapat tiga cara pemajakan atas pajak penghasilan yaitu schedular income tax system, global income tax dan Adualistic or composite system. Sebelum membahas schedular income tax system terlebih dahulu dijelaskan mengenai global income tax. Global income tax dikenakan dari seluruh sumber penghasilan yang diterima oleh wajib pajak yang sama. Artinya, dalam menentukan penghasilan yang akan dikenakan pajak tidak lagi melihat sumbernya. Seluruh penghasilan tersebut kemudian dikenakan tarif pajak dengan formula tertentu untuk menentukan pajak yang terutang. Ault dan Arnold berpendapat bahwa pengenaan pajak atas global income harus juga memperhitungan biayanya.

From a theoretical perspective, income tax is often said to be structured on either a global or schedular basis. A global income tax involves tax applied to a person's total income and income consists of all types of income. All

amounts whatever their nature or source are included in income and deductions are permitted without regard to the type of incomein connection with which they were incurred. In short, income and deductions are combined to produce an over all

(24)

taxable income amount to which the tax rate is applied (Ault & Arnold, 2004: 167).

Kutipan di atas menjelaskan bahwa global tax income dikenakan atas semua penghasilan dari berbagai macam jenis.

Sebelum dikenakan pajak seluruh penghasilan tersebut dikurangi dengan biaya yang diperkenankan. Biaya tersebut harus berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh. Setelah dikurangkan, maka akan dihasilkan penghasilan kena pajak yang kemudian dikenakan tarif tertentu untuk menentukan pajak terutang.

Adapun tipe kedua, yaitu schedular income tax adalah bahwa penghasilan dari berbagai sumber dikenakan dengan pajak yang terpisah. Masing-masing jenis atau kategori penghasilan dikenakan pajak tersendiri dengan tarif pajak yang dapat berbeda pula meskipun diterima oleh wajib pajak yang sama.

Pengertian schedular income tax ini dijelaskan oleh Ault dan Arnold (2004: 167) sebagai berikut.

In contrast a scedular income tax involves separate taxes on different types or sources of income. For each category of income, amounts included in income and deductions allowed are determined separately. If an amount is not included in any schedule, it is not taxable, although there is usually a schedule that includes

(25)

residual amounts (i.e. amounts not covered in other schedules).

Pendapat di atas menerangkan bahwa schedular income tax dikenakan sendiri sesuai degan tipe penghasilan yang di terima. Berbeda dengan pengertian Plasschaer, Ault dan Arnold menerangkan bahwa dalam setiap kategori penghasilan termasuk didalamnya penghasilan dan juga biaya, sehingga pada saat perhitungan, bukan hanya penghasilan saja yang dikenakan pajak, namun biaya juga melekat kepadanya.Di samping itu, Ault dan Arnold juga menekankan bahwa apabila terdapat penghasilan yang tidak masuk dalam kategori penghasilan yang tidak dikenakan pajak, maka atas penghasilan tersebut tidak dikenakan pajak (non taxable).

Tipe yang ketiga adalah A dualistic or composite system .

Tipe ini mengkombinasikan antara global income tax dan scheduler income tax. Dalam tipe ini tidak semua penghasilan digabung untuk dikenakan pajak secara global, namun terdapat penghasilan-penghasilan yang dikenakan pajak tersendiri, meskipun keduanya diterima oleh wajib pajak yang sama. Oleh karena itu, pada saat perhitungan harus dipisahkan terlebih dahulu penghasilan yang dikenakan pajak tersendiri dengan

(26)

penghasilan global, termasuk pemisahan biaya yang berkaitan dengan penghasilan yang dikenakan pajak tersendiri.

Menurut Priantara (2012: 8) pengertian kebijakan perpajakan adalah sebagai berikut

Kebijakan perpajakan merupakan pemilihan unsur- unsur dari berbagai alternatif perpajakan yang tersedia terhadap tujuan yang akan dicapai. Pemilihan unsur-unsur tersebut berhubungan dengan siapa yang akan dikenakan pajak (subjek pajak), apa yang di kenakan pajak (objek pajak), cara perhitungan dan prosedur pajak.

Kebijakan perpajakan juga harus mempertimbangkan strategi pembangunan nasional, ekonomi makro, dan aspek ekonomi, sosial, dan politik.

7. Analisis

Pengertian analisis menurut Schreiter (1991) sebagai berikut:

Analisis merupakan “membaca” teks, yang melikalisasikan tanda-tanda yang menempatkan tanda-tanda itu dalam interaksi yang dinamis, dan pesan-pesan yang disampaikan.

Menurut Hanif (2007:182) analisis adalah sebagai berkut :

Analisis adalah tahap awal dalam pengembangan sistem yang tahap fundamental yang sangat menetukan kualitas sistem informasi yang dikembangkan.

8. Implementasi

(27)

Menurut Mazmanian dan Sabatier (1983: 81) pengertian implementasi sebagai berikut

Implementasi adalah Apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program diberlakukan atau dirumuskan, yakni peristiwa-peristiwa dan kegiatan-kegiatan yang terjadi setelah proses pengesahan/legislasi kebijakan publik, baik itu usaha- usaha untuk mengadministrasikannya maupun usaha-usaha untuk memberikan dampak tertentu pada masyarakat ataupun peristiwa-peristiwa.

Edward III (Indiahono 2009: 33) mengemukakan beberapa variabel yang mempengaruhi implementasi sebuah kebijakan, yakni:

a. Komunikasi

1) Siapakah implementor dan kelompok sasaran dari program/kebijakan?

2) Bagaimana sosialisasi program/kebijakan efektif dijalankan?

b. Sumberdaya

1) Kemampuan implementor 2) Ketersediaan dana

c. Disposisi

1) Tingkat Komitmen dan kejujuran: dapat diukur dengan konsistensi antara pelaksanaan kegiatan dengan guideline yang telah ditetapkan.

2) Tingkat demokratis: dapat diukur dengan intensitas pelaksana melakukan proses sharing dengan kelompok sasaran

d. Struktur Birokrasi

1) Ketersediaan SOP yang mudah dipahami 2) Struktur organisasi

Edward III (Juliartha 2009:58) mengatakan bahwa masalah utama dari administrasi publik adalah lack attention to implementation bahwa without effective implementation the decision of policymakers will not be carried out successfully.

(28)

Komunikasi berkenaan dengan bagaimana kebijakan dikomunikasikan kepada organisasi dan/atau publik, ketersediaan sumber daya untuk melaksanakan kebijakan, sikap, dan tanggapan dari para pihak yang terlibat dan bagaimana struktur organisasi pelaksanaan kebijakan.

a. Komunikasi, keberhasilan kebijakan mensyaratkan agar implementor mengetahui apa yang harus dilakukan. Apa yang menjadi tujuan dan sasaran kebijakan (target group) sehingga akan mengurangi distorsi implementasi. Apabila tujuan dan sasaran suatu kebijakan tidak jelas atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh kelompok sasaran, maka kemungkinan akan terjadi resistensi dari kelompok sasaran.

b. Sumber daya, walaupun isi kebijakan sudah dikomunikasikan secara jelas dan konsistensi, tetapi apabila implementor kekurangan sumber daya untuk melaksanakan, implementasi tidak akan berjalan efektif.

Sumber daya tersebut dapat berwujud sumber daya manusia, yakni kompetisi implementor, dan sumber daya financial. Sumber daya adalah faktor penting untuk implementasi kebijakan agar efektif. Tanpa sumber daya, kebijakan hanya tinggal di kertas menjadi dokumen saja.

c. Disposisi, adalah watak dan karakteristik atau sikap yang dimiliki oleh implementor seperti komitmen, kejujuran, sifat demokratis. Apabila implementor memiliki disposisi yang baik, maka dia akan dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Ketika implementor memiliki sifat atau perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses implementasi kebijakan juga menjadi tidak efektif.

d. Struktur birokrasi yang bertugas mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan. Salah satu dari aspek struktur yang penting dari setiap organisasi adalah adanya prosedur operasi yang standar (standard operating procedures) atau SOP. SOP menjadi pedoman bagi setiap implementor dalam bertindak. Struktur organisasi yang terlalu panjang akan cenderung melemahkan pengawasan dan menimbulkan red tape, yakni prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks. Ini pada

(29)

gilirannya menyebabkan aktivitas organisasi tidak fleksibel. Dijelaskan oleh Edward III secara singkat bahwa pedoman yang tidak akurat, jelas atau konsisten akan memberikan kesempatan kepada Implementors membuat diskresi. Diskresi ini bisa langsung dilaksanakan atau dengan jalan membuat petunjuk lebih lanjut yang ditujukan kepada pelaksana tingkat bawahnya. Jika komunikasi tidak baik maka diskresi ini akan memunculkan disposisi. Namun Komunikasi yang terlampau detail akan mempengaruhi moral dan independensi implementor, bergesernya tujuan dan terjadinya pemborosan sumber daya seperti keterampilan, kreatifitas, dan kemampuan adaptasi. Sumber daya saling berkaitan dengan komunikasi dan mempengaruhi disposisi dalam implementasi. Demikian juga disposisi dari implementor akan mempengaruhi bagaimana mereka menginterpertasikan komunikasi kebijakan baik dalam menerima maupun dalam mengelaborasi lebih lanjut ke bawah rantai komando.Dari pengertian beberapa ahli di atas, dapat peneliti jelaskan kembali bahwa implementasi merupakan kegiatan-kegiatan yang terjadi pada sebuah kebijakan setelah proses pengesahan/legislasi dilakukan dan terdapat beberapa variabel yang mempengaruhi implementasi sebuah kebijakan, yaitu komunikasi, sumberdaya, disposisi dan struktur organisasi.

9. Pengertian Pajak

Menurut Resmi (2009: 1) pengertian pajak adalah sebagai berikut

Pajak adalah sebagai suatu kewajiban menyerahkan sebagian dari kekayaan ke kas negara yang disebabkan oleh suatu keadaan, kejadian, dan perbuata yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan yang telah ditetapkan pemerintah tetapi tidak ada jasa timbale balik langsung dari negara secara langsung, untuk memelihara kesejahteraan umum.

(30)

Menurut Soemitro (Mardiasmo 2009: 1), pengertian pajak adalah sebagai berikut

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

Dari beberapa pengertian di atas, peneliti memberikan kesimpulan bahwa pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubungan dengan tugas Negara yang menyelenggarakan pemerintahan.

10. Pengertian Surat Pemberitahuan (SPT)

Menurut Mardiasmo (2013: 31) Surat Pemberitahuan (SPT) Adalah Surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan.

Dari pengertian diatas, peneliti memberikan kesimpulan bahwa Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang digunakan oleh

(31)

Wajib Pajak untuk melaporkan pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

11. Jenis SPT

Menurut Mardiasmo (2013: 34) terkait jenis SPT adalah sebagai berikut

Secara garis besar SPT dibedakan menjadi dua, yaitu : a. Surat Pemberitahuan Masa adalah Surat

Pemberitahuan untuk suatu Masa Pajak b. Surat Pemberitahuan Tahunan adalah

SuratPemberitahuan untuk suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak.

SPT Meliputi:

a. SPT Tahunan Pajak Penghasilan;

b. SPT Masa yang terdiri dari

1) SPT Masa Pajak Penghasilan 2) SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai 3) SPT Masa Pajak pertambahan nilai

bagi Pemungut Pajak Pertambahan Nilai

12. Batas Waktu Penyampaian SPT

Batas waktu penyampaian SPT menurut Mardiasmo (2013: 35) Batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan adalah :

a. Untuk Surat Pemberitahuan Masa, paling lama 20 (dua puluh) hari setelah akhir Masa Pajak. Khusus untuk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai disampaikan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak.

b. Untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi, paling lama 3 (tiga) bulan

(32)

setelah berakhirnya Masa Pajak

c. Untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan, paling lama 4 (empat) bulan setelah akhir Tahun Pajak.

13. Sanksi Terlambat atau Tidak Menyampaikan SPT Menurut Mardiasmo (2013: 36)

Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan atau batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar

a . Rp. 500.000,- untuk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai

b . Rp. 100.000,- untuk Surat Pemberitahuan Masa lainnya

c . Rp. 1000.000,- untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak penghasilan Wajib Pajak Badan d . Rp. 100.000 untuk Surat Pemberitahuan Tahunan

pajak peghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi

14. Pengertian Pelayanan publik

Menurut Santosa (2008: 55) pelayanan publik adalah,

“Pemberian jasa, baik oleh pemerintah, pihak swasta atas nama pemerintah, atau pun pihak swasta kepada masyarakat, dengan atau tanpa pembayaran guna memenuhi kebutuhan dan atau kepentingan masyarakat.”

Konsep pelayanan publik yang diterangkan oleh Zeithaml (Santosa 2008: 59) mengonsepkan bahwa

Mutu layanan publik pada dua pengertian yaitu

(33)

expected service dan preceived service. Keduanya terbentuk oleh dimensi-dimensi mutu layanan, yaitu tangibles (terjamah), rehability (andal), credibility (bisa dipercaya), responsiveness (tanggap), competence (kompeten), courtesy (ramah), security (aman), access (akses), communication (komunikasi), understanding the customer (memahami pelanggan).

Dapat peneliti jelaskan kembali bahwa pelayanan publik merupakan pemberian jasa oleh suatu instansi dengan atau tanpa pembayaran guna memenuhi kebutuhan dan atau kepentingan masyarakat. Mutu layanan publik dibentuk dari berbagai macam dimensi-dimensi yang akhirnya menciptakan expected service dan preceived service.

15. Pelayanan Pajak Secara Online

Mengenai pelayanan pajak secara online, Sakti (2015: 6) mengatakan bahwa:

Pengelolaan pelayanan dalam pemenuhan kewajiban Pelaksanaan perpajakan menjadi tanggung jawab Ditjen Pajak yang merupakan otoritas perpajakan di Indonesia.

Untuk itu, pelayanan yang diberikan oleh Ditjen Pajak harus dapat memberikan kemudahan bagi wajib pajak dalam melakukan pendaftaran, penghitungan, pembayaran, dan pelaporan pajak. Pada saat ini, proses pemenuhan kewajiban perpajakan sudah dapat menggunakan sistem daring (dalam jaringan) atau online,

(34)

sehingga membuat wajib pajak lebih mudah dalam mendaftar, membayar, dan melaporakan pajak nya.Sistem pelayanan yang di buat secara daring (dalam jaringan) atau online di bangun untuk meningkatkan pelayanan kepada wajib pajak. Dengan tingkat penetrasi internet yang sudah semakin tinggi dan terus meningkat di Indonesia, di harapkan wajib pajak dapat memanfaatkan fasilitas tersebut sehingga dapat menghemat waktu dan biaya. Konsep ini dapat dilihat dilayanan aplikasi e- Filling, yakni wajib pajak dibimbing secara bertahap, sehingga tidak terlalu sulit dalam mengisi SPT Tahunan yang menjadi kewajiban nya. Dengan konsep pengisian SPT dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di sediakan secara online, tanpa di sadari wajib pajak telah mengisi SPT secara otomatis. Pengembangan layanan ini adalah penyatuan aplikasi online untuk pendaftaran pembayaran dan pelaporan pajak.

16. Kriteria Penilaian Pelayanan Perpajakan

Pegawai Pajak juga harus memberikan Kepercayaan dan Kenyamanan untuk Wajib Pajak yang akan membayarkan pajaknya pada Kantor Pelayanan Pajak. Beberapa tolok ukur perusahaan atas tingkat kepercayaan terhadap konsultan pajak.

Menurut Sumarman (2012: 6) a. Komitmen (commitment)

Pegawai pajak dapat dinilai bagaimana dia memberikan nasihat dan masukkan kepada Wajib Pajak atau perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku dan harus berkomitmen untuk membantu Wajib Pajak dan klien pada waktu yang lama.

b. Integritas dan Kejujuran (integritty and honesty)

(35)

Pegawai Pajak harus memiliki kejujuran tetapi juga mempunyai integritas tinggi. Kejujuran yaitu tidak melakukan kebohongan, tidak tepat janji, tidak tepat waktu.

Pegawai yang memiliki integritas tinggi adalah pegawai yang jujur dan dapat diandalkan, sehingga pegawai juga harus mempunyai etika yang tinggi juga.

c. Pengetahuan (Knowledge)

Seorang konsultan pajak atau staf perpajakan diperoleh dari pendidikan formal, yaitu sarjana ekonomi atau sarjana lainnya yang mengerti tentang peraturan dan perundang- undangan perpajakan. Pengetahuan keuangan, masalah perpajakan, maupun tentang akuntansi harus dimiliki oleh tax review.

d. Keahlian

Keahlian seorang konsultan pajak atau staf pajak adalah pengalaman, semakin banyak pengalaman maka akan semakin tinggi tingkat keahliannya.

e. Komunikasi (communication)

seorang konsultan atau pegawai pajak harus dapat berkomunikasi dengan jelas, tepat dan win-win. Banyak kesalahpahaman yang terjadi karena tidak dapat berkomunikasi dengan baik.

f. Tingkat kenyamanan (convenient level)

Tingkat kenyamanan dapat dirasakan oleh perusahaan dari ketersediaan waktu seorang pegawai pajak atau konsultan pajak untuk Kantor Pajak.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pegawai pajak yang memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak harus bersikap

(36)

dengan baik, bersikap komunikatif, memahami pelanggan, serta memberikan pelayanan yang ramah dan memberikan rasa aman agar Wajib Pajak merasa nyaman untuk melakukan pembayaran pajaknya. Pegawai Pajak juga harus dapat dipercaya, terbuka, jujur, memberikan informasi dengan jelas, dengan adil dan tepat waktu, dengan pelayanan yang diberikan tersebut maka Wajib Pajak tidak akan merasa enggan atau lebih merasa senang untuk membayar pajak pada Kantor Pelayanan Pajak yang ada.

Pegawai Pajak juga harus memiliki sikap komiten, berpengetahuan dengan baik, untuk membantu Wajib Pajak dan kliennya, serta memiliki banyak pengalaman yang berkaitan dengan pajak.

17. Sistem Pajak Online

Terkait sistem pajak online, Sakti (2015:6) dalam bukunya menjelaskan bahwa:

Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER- 41/PJ/2015 Tentang Pengamanan Transaksi Elektronik Layanan Pajak Online Direktur Jenderal Pajak :

a. Layanan Pajak Online

(37)

Layanan Pajak Online adalah sistem elektronik yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak atau pihak lain yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melakukan Transaksi Elektronik dengan Direktorat Jenderal Pajak meliputi DJP Online dan Penyedia Layanan SPT Elektronik.

b. DJP Online

DJP Online adalah Layanan Pajak Online yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak melalui laman (website) dan/atau aplikasi untuk perangkat bergerak (mobile device).

Sakti (2015:80) juga mengatakan bahwa:

sistem DJP Online merupakan sistem penyedia layanan yang fasilitasnya berupa :

a. e-Billing

e-Billing adalah metode pembayaran elektronik dengan menggunakan kode billing, sistem pembayaran pajak secara elektronik ini adalah bagian dari sistem penerimaan negara secara elektronik yang di administrasikan oleh Direktorat Jendral Pajak.

b. e-Filling

e-filing adalah suatu cara penyampaian SPT atau Surat Pemberitahuan tahunan yang di lakukan secara online yang real time melalui website Direktorat Jendral Pajak (www.pajak.go.id), penyedia jasa aplikasi atau Application Service Provider (ASP).

Dari penjelasan diatas dapat peneliti jelaskan kembali bahwa:

Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER- 41/PJ/2015 Tentang Pengamanan Transaksi Elektronik Layanan Pajak Online Direktur Jenderal Pajak dibagi menjadi dua yaitu : Layanan Pajak Online dan DJP Online. Dan sistem DJP Online merupakan sistem penyedia layanan yang fasilitasnya berupa e- Biling dan e-Filing. e-Biling merupakan metode pembayaran elektronik dengan menggunakan kode biling sedangkan e-Filing merupakan cara penyampaian SPT atau Surat Pemberitahuan tahunan yang di lakukan secara online yang real time melalui website Direktorat Jendral Pajak (www.pajak.go.id), penyedia jasa aplikasi atau Application Service Provider (ASP).

(38)

18. e-Filing

Menurut Pandiangan (2008:22), “e-Filing adalah sebagai berikut Electronic Filing adalah layanan pengisian dan penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) wajib pajak secara electronic kepada Direktorat Jendral Pajak dengan memanfaatkan jaringan internet.”

Dapat peneliti jelaskan kembali bahwa Electronic Filing adalah layanan pengisian dan penyampaian SPT yang digunakan dengan memanfaatkan jaringan internet.

19. Pengertian kepatuhan wajib pajak

Pengertian kepatuhan menurut Chaizi (Rahayu, 2009:139) adalah sebagai berikut:

a. Kepatuhan wajib pajak dalam mendaftarkan diri

b. Kepatuhan wajib pajak untuk menyetorkan kembali SPT c. Kepatuhan dalam perhitungan dan pembayaran pajak

terutang.

d. Kepatuhan dalam pembayaran tunggakan

Dari pengertian diatas dapat dilihat bahwa kepatuhan dalam memenuhi kewajiban perpajakan secara sukarela merupakan tulang punggung Self Assessment System. Wajib Pajak bertanggung jawab menetapkan sendiri kewajiban perpajakannya dan kemudian secara akurat dan tepat waktu membayar dan melaporkan pajaknya tersebut.

(39)

20. Bentuk Kepatuhan Wajib Pajak

Nurmantu (Rahayu 2010:138) mengemukakan sebagai berikut:

Kewajiban dan hak perpajakan di atas dibagi ke dalam dua kepatuhan meliputi kepatuhan formal dan kepatuhan material. Kepatuhan formal dan material ini lebih jelasnya diidentifikasi kembali dalam Keputusan Menteri Keuangan No. 544/KMK.04/2000. Menurut Keputusan Menteri Keuangan No.544/KMK.04/2000. kepatuhan wajib pajak dapat diidentifikasi dari:

a. Tepat waktu dalam menyampaikan SPT untuk semua jenis pajak dalam 2 tahun terakhir.

b. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali telah memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak.

c. Tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dalam jangka waktu 10 tahun terakhir.

d. Dalam 2 tahun terakhir menyelenggarakan pembukuan dan dalam hal terhadap wajib pajak pernah dilakukan pemeriksaan, koreksi pada pemeriksaan yang terakhir untuk masing-masing jenis pajak yang terutang paling banyak 5%,wajib pajak yang laporan keuangannya untuk 2 tahun terakhir diaudit oleh akuntan publik dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, atau pendapat dengan pengecualian sepanjang tidak mempengaruhi laba rugi fiskal.

Rahayu (2010:139) juga mengatakan bahwa

Kepatuhan formal yang dimaksud menurut Safri Nurmanto di atas misalnya, ketentuan batas waktu penyampaian surat pemberitahuan pajak penghasilan (SPT PPh) Tahunan tanggal 31 maret. Apabila wajib pajak telah melaporkan surat pemberitahuan pajak penghasilan (SPT PPh) tahunan sebelum atau pada tanggal 31 maret, maka wajib pajak telah memenuhi ketentuan formal, namun isinya belum tentu memenuhi ketentuan material, yaitu suatu keadaan di mana wajib pajak

(40)

secara substantive memenuhi semua ketentuan material perpajakan, yakni sesuai isi dan jiwa Undang-Undang perpajakan.Kepatuhan material dapat meliputi kepatuhan formal. Wajib pajak yang memenuhi kepatuhan material adalah wajib pajak yang mengisi dengan jujur, lengkap, dan benar surat pemberitahuan sesuai ketentuan dan menyampaikannya ke KPP sebelum batas waktu akhir.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan, pengertian kepatuhan wajib pajak adalah wajib pajak yang taat dan memenuhi serta melaksanakan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan.

21. Governance

Menurut Koiman (Sedarmayanti 2009: 273),

Governance merupakan serangkaian proses interaksi sosial politik antara pemerintah dengan masyarakat dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan intervensi pemerintah atas kepentingan- kepentingan tersebut. Governance merupakan mekanisme- mekanisme, proses-proses dan institusi-institusi melalui warga Negara mengartikulasi kepentingan-kepentingan mereka, memediasi perbedaan- perbedaan mereka serta menggunakan hak dan kewajiban legal mereka.

Governance merupakan proses lembaga-lembaga

pelayanan mengelola sumber daya publik dan menjamin realita hak azasi manusia. Good governance memiliki hakikat yang sesuai yaitu bebas dari penyalahgunaan wewenang dan korupsi serta dengan pengakuan hak yang berlandaskan pada pemerintahan hukum.

Menurut Rochman (2009:276), “Governance adalah

(41)

mekanisme pengelolaan sumber daya ekonomi dan sosial yang melibatkan pengaruh sektor negara dan non negara dalam satu usaha kolektif”

Dari pengertian para ahli di atas dapat peneliti jelaskan kembali bahwa Governance merupakan proses interaksi sosial politik antara pemerintah dengan masyarakat dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan intervensi pemerintah atas kepentingan-kepentingan tersebut yang melibatkan pengaruh sektor negara dan non negara dalam satu usaha kolektif. Governance merupakan proses lembaga-lembaga pelayanan mengelola sumber daya publik dan menjamin realita hak azasi manusia

C. Kerangka Pemikiran

Dalam sub bab ini, peneliti akan menjelaskan entitas-entitas yang terkait langsung dengan penerapan kebijakan e-Filing dalam rangka meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Direktur Jendral Pajak (DJP) telah menerbitkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 1/PJ/2014 terkait penyampaian SPT secara electronic System, namun fenomena yang terjadi saat ini adalah kurangnya pemahaman WP mengenai informasi dan teknologi serta server atau aplikasi yang sering down saat digunakan. Berdasarkan hal tersebut, dalam penelitian ini peneliti

(42)

menganalisis hal-hal terkait penyampaian SPT secara e-Filing melalui pertanyaan penelitian.

Pertama, peneliti menganalisis pelaporan pajak orang pribadi sebelum dan sesudah penerapan kebijakan e-Filing. Kemudian, Peneliti menganalisis pencapaian dalam tujuan diberlakukannya e- Filing. Dalam hal ini salah satu tujuan dari kebijakan e-Filing yaitu meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak. Adapun teori kepatuhan yang peneliti dapat yaitu meliputi kepatuhan formal dan kepatuhan material. Kepatuhan formal terkait ketentuan batas waktu pelaporan pajak. Sedangkan kepatuhan material terkait pemenuhan wajib pajak yang mengisi dengan jujur, lengkap, dan benar surat pemberitahuan sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Dalam penelitian ini peneliti lebih menekankan pada aspek tingkat kepatuhan formal Wajib Pajak.

Selanjutnya, peneliti akan menganalisis hambatan dan upaya dalam penerapan kebijakan e- Filing. Sehingga terlihat apa saja hambatan dalam penerapan kebijakan e-Filing dan upaya yang dilakukan agar yang menjadi tujuan diberlakukannya kebijakan e-Filing dapat terwujud.

(43)

D. Model Konseptual

Gambar 2.1 Model Konseptual Teori George Edward III

Kebijakan E-filing Struktur

Birokras i

Komuni kasi

Sumbe r Daya

Disposisi atau Sikap

(44)

36 A. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, maka tujuan dalam penelitian ini sebagai berikut :

a. Untuk menganalisis implementasi kebijakan e-Filling dalam rangka meningkatkan kepatuhan wajib pajak orang pribadi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Gambir Empat.

b. Untuk menganalisis kendala penggunaan e-Filing dalam rangka meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi di Kantor Pelayanan Pajak Jakarta Gambir Empat.

c. Untuk menganalisis upaya meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi secara e-Filing di Kantor Pelayanan Pajak Jakarta Gambir Empat.

B. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini, diharapkan dapat memperoleh manfaat kepada pihak-pihak yang berkepentingan yaitu sebagai berikut :

1. Manfaat Akademik

(45)

Melalui penelitian ini, peneliti dapat terlibat langsung dalam praktek kebijakan e-Filing dan secara langsung mengetahui sampai sejauh mana teori tentang kepatuhan mampu mengatasi permasalahan yang terjadi. Selain itu juga, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan menambah wawasan pengetahuan serta kemampuan berfikir dalam bidang perpajakan khususnya mengenai tentang kepatuhan wajib pajak dengan adanya e- Filing.

2. Dari segi praktik

Diharapkan dapat berguna sebagai bahan referensi yang bermanfaat dan dapat memberikan dasar-dasar pemikiran bagi para peneliti berikutnya yang berminat atau berkaitan dengan sektor perpajakan, terutama tentang konsep kepatuhan wajib pajak terkait dengan adanya modernisasi perpajakan, khususnya sistem e-Filing.

3. Dari Segi Kebijakan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan sumbangan pemikiran mengenai implementasi kebijakan e- Filing di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Gambir Empat.

(46)

38

Dalam bab ini peneliti membahas mengenai pendekatan dan jenis penelitian, fokus penelitian, teknik pengumpulan data, penentuan informan, teknik analisis data, dan lokasi dan jadwal penelitian.

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian merupakan metode atau cara untuk mengadakan penelitian. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, Definisi metode penelitian kualitatif menurut Sugiyono (2012: 9) adalah :

Metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat postpositifisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, tekhnik pengumpulan data dilakukan dengan triangulasi (gabungan) analisis data bersifat induktif kualitatif dan hasil penelitian lebih menekankan pada makna daripada generalisasi.

Pendekatan kualitatif digunakan karena adanya pertimbangan dalam hal pencapaian fokus penelitian yaitu mengenai Kebijakan e-Filing dalam rangka meningkatkan kepatuhan wajib

(47)

pajak Selain itu dalam melakukan penelitian ini digunakan data-data tingkat kepatuhan wajib pajak setelah adanya e- Filing sehingga diperoleh gambaran yang jelas mengenai jawaban dari permasalahan yang di bahas.

2. Jenis Penelitian

Peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif. Alasan peneliti menggunakan analisis deskriptif karena analisis ini tidak hanya terbatas pada pengumpulan data dan penyusunannya saja tetapi juga meliputi analisa dan interprestasi tentang arti daripada data yang digunakan.

Teknik analisis deskriptif ini juga dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek atau objek penelitian, pada seseorang, lembaga, perusahaan, masyarakat dan lain-lain, pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya. Peneliti melakukan penelitian secara langsung untuk memperoleh informasi dan data-data tingkat kepatuhan wajib pajak setelah menggunakan sistem e- Filing, kemudian data yang telah diperoleh peneliti dianalisa dengan membandingkan landasan teoritis serta melakukan

(48)

penelitian secara mendalam tentang Kebijakan e-Filing dalam rangka meningkatkan kepatuhan wajib pajak orang pribadi.

Berdasarkan tujuan penjelasannya bersifat deskrisptif adalah sebagai berikut :

a. Dimensi Tujuan Penggunaan

Terdapat dua dimensi dilihat dari tujuan penggunannnya, yaitu penelitian bersifat dasar (basic research) dan penelitian bersifat terapan (applied research).

Menurut Semiawan (2010:13),

Penelitian dasar (basic research) adalah penelitian yang dibuat untuk memberi kontribusi kepada ilmu pengetahuan dan teorinya. Sedangkan penelitian terapan (applied research) adalah penelitian yang bertujuan untuk memberikan pencerahan atas suatu gejala social yang sedang menjadi sorotan publik.

Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti menggunakan basic research dan applied research dalam penelitian ini.

b. Dimensi Tujuan Penjelasan

Dimensi tujuan yang digunakan adalah penelitian diskriptif analitis. Menurut sumadi suryaberata (2008: 75), bahwa pengertian penelitian diskriptif analitis sebagai berikut penelitian diskriptif analitis adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai situasi

(49)

dan keadaan dengan cara pemaparan data yang diperoleh sebagaimana adanya, yang kemudian melalui berbagai analisis tersebut disusun kesimpulan.

c. Dimensi Waktu

Dimensi waktu terbagi menjadi tiga dimensi penelitian yaitu, cross-sectioanal, longitudinal, dan case study. Karena pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif maka yang digunakan dalam penelitian ini adalah case study. Dimensi waktu case study dalam bahasa indonesia di pandankan dengan studi kasus, dalam arti melakukan kajian terhadap satu realitas sosial. Kajian dilakukan secara mendalam dari berbagai segi.

d. Dimensi Pengamatan

Dimensi pengamatan yang berhubungan dengan data kualitatif melalui pelaksanaan field research dan Library Research. Field Research merupakan penelitian lapangan yang dilakukan dengan cara mendatangi objek penelitian secara langsung dengan maksud untuk mendapatkan data serta informasi tentang keadaan sebenarnya, yang dapat diyakini kebenarannya. Peneliti melakukan penelitian langsung di Kantor Pelayanan Pajak Pratama

(50)

Gambir Empat untuk melakukan observasi mengenai kebijakan e-Filing. Dan Library Research merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan berdasarkan informasi.

Peneliti melakukan pengumpulan data yang dapat menunjang dan melengkapi hasil penelitian di lapangan yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan dilakukan dengan mempelajari teori–teori dari buku referensi, literatur, majalah, jurnal, peraturan-peraturan keputusan Direktorat Jenderal Pajak serta keputusan Menteri Keuangan,dan dokumen-dokumen yang mendukung penelitian tersebut.

B. Fokus Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti hanya memfokuskan pada :

1. Implementasi kebijakan e-Filing Wajib Pajak Orang Pribadi dan tingkat kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi dalam bentuk kepatuhan formal

2. Hambatan penggunaan kebijakan e-Filing oleh wajib pajak Orang Pribadi.

3. Upaya peningkatan pelaporan SPT Orang Pribadi secara e- Filing.

(51)

C. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sugiyono (2013:224), “teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data.” Dalam penyusunan penelitian ini, dibutuhkan data yang berhubungan dengan topik pembahasan. Data yang diperoleh tersebut kemudian akan dianalisis dan dibandingkan dengan teori-teori yang dibahas. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penyusunan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Teknik Wawancara, Menurut Esterberg (Sugiyono 2013: 231),

“wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu.” Dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara (Interview) dengan pihak berwenang dan terkait untuk mendapatkan informasi yang berhubungan langsung dengan penyusunan penelitian ini, peneliti melakukan wawancara berupa pertanyaan terbuka dengan informan terkait dalam penelitian ini, diantaranya Wajib Pajak Orang pribadi, Aparatur (Fiskus), dan akademisi (dosen) yang berkompeten dibidang perpajakan. Dalam wawancara ini peneliti menggunakan jenis wawancara semistruktur (semistructure interview) yaitu wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah disiapkan sebelumnya berupa pertanyaan- pertanyaan tertulis yang diajukan kepada informan dengan meminta pendapat dan ide-ide nya. (Daftar pertanyaan dan hasil wawancara terdapat pada lampiran).

2. Teknik Pengamatan / Observasi, Sutrisno Hadi dalam (Sugiyono2013: 145) mengemukakan bahwa, “observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikhologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan

(52)

dan ingatan.” Dalam penyusunan penelitian ini peneliti datang langsung ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Gambir Empat untuk mengetahui penerapan kebijakan sistem e-Filing dalam meningkatkan kepatuhan wajib pajak.

3. Teknik Dokumentasi, Menurut Sugiyono (2013: 240)

“Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.

Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain.

Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.”

Dokumen dalam penelitian ini berupa data-data pendukung yang peneliti dapatkan dari KPP Pratama Jakarta Gambir Empat.

D. Penentuan Informan

Pemilihan informan perlu dilakukan secara sungguh-sungguh agar permasalahan dalam penelitian dapat terjawab. Informasi yang dihadirkan dalam penelitian ini adalah pihak-pihak yang terkait dalam proses pelaksanaan kebijakan. Adapun empat kriteria informan yang ideal menurut Neuman (2012:499) yaitu:

1. Informan mengenal jelas dengan mengenai fenomena yang diangkat;

(53)

2. Informan tersebut merupakan pihak yang terlibat dilapangan;

3. Informan memiliki waktu untuk melakukan wawancara dengan peniliti; dan

4. Informan merupakan individu non-analistis.

Berdasarkan uraian diatas maka dalam penelitian ini peneliti akan mewawancarai beberapa informan yang menurut peniliti dapat membantu peneliti dalam melakukan analisis terhadap perumusan masalah penelitian. Informan-informan tersebut antara lain berasal dari:

1. Fiskus KPP Pratama Jakarta Gambir Empat

Radityo Utomo (sie Pelayanan KPP Pratama Gambir Empat)

2. Wajib pajak KPP Pratama Jakarta Gambir Empat

a. Stefani santi ( Wajib Pajak KPP Pratama Gambir Empat) b. Laela Wahidah Nurmalasari ( Wajib Pajak KPP Pratama

Gambir Empat)

c. Deden Satya Graha ( Wajib Pajak KPP Pratama Gambir Empat)

d. Hardiyanti ( Wajib Pajak KPP Pratama Gambir Empat) 3. Akademisi

AM Iqbal, S.Sos,M.A.(Akademisi IISMI)

(54)

E. Teknik Analisis Data

Menurut Sujarweni (2014:103) mengemukakan bahwa “Teknik analisis data dapat diartikan sebagai cara melaksanakan analisis data, dengan tujuan mengolah data tersebut untuk menjawab rumusan masalah.”

Tahap menganalisis data adalah tahap yang paling penting dan menentukan dalam suatu penelitian. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis sesuai dengan tujuan menyederhanakan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterprestasikan untuk menjawab masalah yang diajukan.

Peneliti berusaha memberikan abstraksi teoritis lebih umum berdasarkan peristiwa melalui teknik analisis data sebagai berikut:

1. Triangulasi

Menurut Neuman (2006: 149) mengatakan bahwa:

Qualitative research are more conemed about issues of the richness, texture and feeling of raw data because their inductive approach empheasizes developing insight and generalizations out of the data collected.

Berdasarkan pernyataan di atas bahwa pada pendekatan kualitatif lebih menekankan dengan wawasan dan generalisasi dari data yang dikumpulkan. Oleh karena itu pendekatan yang digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu pendekatan induktif.

Gambar

Gambar 2.1 Model Konseptual        Teori George Edward III
Tabel 4.1 GANTT CHART PENELITIAN

Referensi

Dokumen terkait

ADMINISTRASI PERPAJAKAN MODERN TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK PRIBADI DI KANTOR PELAYANAN.. PAJAK (KPP)

Penelitian ini bertujuan menganalisis model kepatuhan pajak yang diterapkan dan pengaruh pelayanan prima terhadap kepatuhan Wajib Pajak di KPP Pratama Jakarta Gambir Empat..

Skripsi berjudul: Pengaruh self assessment system terhadap kepatuhan wajib pajak pribadi (Studi terhadap wajib pajak orang pribadi yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak KPP

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Niat Wajib Pajak Dalam Penggunaan Sistem E-Filing (Studi Kasus Pada Wajib Pajak Orang Pribadi Terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak

Implementasi program Electronic Filing (e-Filing) dalam upaya peningkatan kepatuhan wajib pajak orang pribadi di Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat pada

Pemahaman wajib pajak tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Batu dikarenakan

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN FISKUS TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK STUDI PADA WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YANG TERDAFTAR DI KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA MALANG SELATAN Oleh: Cevin

v FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI Studi Kasus Pada Wajib Pajak Orang Pribadi yang Terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bengkalis Nama :