• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM BETON DAN BAHAN

N/A
N/A
willy

Academic year: 2024

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM BETON DAN BAHAN "

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM BETON DAN BAHAN

Diajukan Untuk Memenuhi Salah satu Tugas Praktikum Beton dan Bahan yang diampu oleh :

Dr. Ir. Didik S.S.Mabui, ST., MT., IPM.

Oleh :

RAHMAT SYARIF KARIM 21 611 008

FAKULTAS TEKNIK DAN SISTEM INFORMASI PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS YAPIS PAPUA 2022

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM BETON DAN BAHAN

Laporan ini telah diterima dari Kelompok 2 (dua) kelas A1 dan A2 Teknik Sipil 2021 sebagai salah satu syarat kelulusan praktikum beton dan Bahan di Laboratorium Teknik Sipil Fakultas Teknik dan Sistem Informasi Universitas Yapis Papua

Jayapura, 23 Mei 2022

Ketua Kelompok Koordinator di Lapangan

Rahmat Syarif Karim Muhammad Guntur,ST.

NPM: 21611008

Mengetahui Dosen Pengampuh

Dr. Ir. Didik S. S. Mabui, ST., MT.,IPM

(3)

BERITA ACARA PRAKTIKUM No. : 22 / ……….

TAHUN 2022

UNIVERSITAS YAPIS PAPUA JAYAPURA ( U N I Y A P )

SEMESTE R GENAP DAFTAR NILAI ALHIR PRAKTIKUM

Pada hari ini : Senin, Tanggal : 23 / 05/ 2022, Jam : 08.00 WIT

Bertempat di KAMPUS UNIVERSITAS YAPIS PAPUA (UNIYAP) JAYAPURA telah dilaksanakan PRAKTIKUM BETON DAN BAHAN.

Prog. Studi : TEKNIK SIPIL Jenjang : STRATA 1

Mata Kuliah : PRAKTIKUM BETON DAN BAHAN

SKS : 1 SKS

Kelas : A1 dan A2

Catatan : 1. Nilai kelulusan minimal ‘C’

2. Centang yang benar

Jayapura, 10 Juni 2022 Dosen Pengampuh

Dr.Ir.Didik.S.S.Mabui, ST., MT,.IPM

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan hidayah-Nya lah sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini, yang dibuat untuk memenuhi tugas UAS pengganti ujian Semester 2 (Genap) dari mata kuliah Praktikum Beton dan Bahan.

Terima kasih juga kami haturkan kepada segala pihak yang membantu dalam pengerjaan Laporan Praktikum Beton dan Bahan ini. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Ir. Didik S.S.Mabui, ST., MT., IPM. selaku Dosen Pengampu yang telah membimbing kami dalam pengerjaan laporan ini.

2. Bapak Muhammad Guntur, ST. selaku Asisten Dosen sekaligus Staff Laboraturium Teknik Sipil yang telah membantu kami dalam pengambilan data di Laboraturium.

3. Asisten Laboraturium Teknik Sipil yang telah kami dalam pengambilan data di Laboraturium.

4. Orang tua yang memberi dukungan secara moral dan materiil.

5. Kepada teman – teman Angkatan 2021 yang membantu kami dalam menyelesaikan laporan ini, baik bantuan atau dukungan kepada kami.

Disadari juga, bahwa laporan ini masih jauh dari apa yang diharapkan.

Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat diharapkan demi terciptanya laporan yang lebih dari di masa yang akan datang.

Jayapura, 2 Juni 2022

Rahmat Syarif Karim

(5)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PRAKTIKUM BETON DAN BAHAN...ii

KATA PENGANTAR...iv

DAFTAR ISI...v

DAFTAR GAMBAR...viii

DAFTAR TABEL...ix

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1. Latar Belakang...1

1.2. Rumusan Masalah...1

1.3. Tujuan Penulisan...2

1.4. Manfaat Praktikum...2

BAB II LANDASAN TEORI...3

2.1. Pengertian Beton...3

2.2. Kelebihan dan Kekurangan Beton...5

2.3. Material Penyusun Beton...6

2.4. Mekanisme Masuknya Air Ke Dalam Beton...14

BAB III GAMBARAN UMUM PRAKTIKUM...18

3.1. Umum...18

3.2. Lokasi dan waktu praktikum...18

3.3. Teknik pengumpulan data...19

3.4. Bahan dan peralatan penelitian...20

3.5. Benda uji...28

3.6. Standar Penelitian dan Spesifikasi Material Penyusun Beton...28

3.7. Standar Pengujian Beton...29

3.8. Tahapan dan Prosedur Penelitian...30

3.9. Pemeriksaan bahan...36

3.10. Perawatan benda uji...36

3.11. Rencana campuran (Mix Design)...37

3.12. Pengujian kuat tekan...38

(6)

3.13. Tenik analisis data...38

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...39

4.1. Pengujian Karakteristik Material...39

4.2. Rencana Campuran Beton...42

4.3. Pengujian Slump Test...42

4.4. Kuat Tekan Beton...43

4.5. Hasil Pengujian Beton...44

BAB V PENUTUP...45

5.1. Kesimpulan...45

5.2. Saran...45

DAFTAR PUSTAKA...47

LAMPIRAN...48

DAFTAR GAMBA

(7)

Gambar 3. 1 Lokasi Lapangan...19

Gambar 3. 2 Aggregat kasar...20

Gambar 3. 3 Aggregat halus...21

Gambar 3. 4 Air...22

Gambar 3. 5 Semen portland...22

Gambar 3. 6 Mangkok aluminium...23

Gambar 3. 7 Talang berukuran 30 x 30...23

Gambar 3. 8 Ember plastik...23

Gambar 3. 9 Timbangan digital...24

Gambar 3. 10 Serbet...24

Gambar 3. 11 Pikonemeter...24

Gambar 3. 12 Saringan aggregat...25

Gambar 3. 13 Bohler silinder...25

Gambar 3. 14 Kuas...26

Gambar 3. 15 Kerucut abraham...26

Gambar 3. 16 Batang besi penumbuk...27

Gambar 3. 17 Mesin molen...27

Gambar 3. 18 Kompor gas...28

(8)

DAFTAR TABEL

(9)

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Beton adalah suatu campuran yang terdiri dari pasir, kerikil, batu pecah atau agregat agregat lain yang dicampur jadi satu dengan suatu pasta yang terbuat dari semen dan air membentuk suatu massa mirip batuan. Terkadang satu atau lebih bahan aditif ditambahkan untuk menghasilkan beton dengan karakteristik tertentu, seperti kemudahan pengerjaan (workability), durabilitas dan waktu pengerasan (Mc.Cormac, 2004).

Bahan-bahan dasar penyusun beton merupakan faktor yang sangat menunjang terhadap kualitas beton. Perencanaan campuran, jenis, mutu dan jumlah bahan susunan beton harus dihitung dalam proporsi atau perbandingan tertentu agar menghasilkan kualitas beton yang diinginkan. Perencanaan campuran beton dimaksudkan untuk mendapatkan beton yang sebaik-baiknya, yaitu : kuat tekannya tinggi, mudah dibentuk, mampu menahan beban yang berat, tahan terhadap temperature yang tinggi dan biaya pemeliharaan yang murah.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar Belakang diatas muncul beberapa rumusan masalah yaitu:

1. Bagaimana pengaruh karakteristik agregat terhadap pembuatan beton?

2. Berapakah nilai uji kuat tekan dengan menggunakan beton dengan mutu 20 Mpa?

(10)

2

1.3. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah diatas didapatkan beberapa tujuan praktikum yaitu:

1. Untuk mengetahui pengaruh karakteristik agregat terhadap pembuatan beton.

2. Untuk mengetahui berapa hasil dari kuat tekan menggunakan beton dengan mutu 20 Mpa.

1.4. Manfaat Praktikum

Adapun yang bisa di ketahui dari praktikum yang telah kami lakukan, antara lain:

1. Pembaca dapat mengetahui cara membuat Job Mix Design beton agar mendapatkan nilai kuat tekan yang sudah direncanakan.

2. Pembaca dapat mengetahui nilai dari kuat tekan beton yang telah dibuat.

(11)

BAB II

LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Beton

Beton merupakan salah satu bahan kontruksi yang telah umum digunakan untuk bangunan gedung, jembatan, jalan dan lain-lain. Beton ini dibuat dengan cara mencampurkan agregat halus (pasir), agregat kasar (kerikil), semen serta air sampai menjadi satu kesatuan. Campuran tersebut akan mengeras seperti batuan , pengerasan terjadi karena peristiwa reaksi kimia antara semen dan air.

Beton yang sudah mengeras dapat juga dikatakan sebagai batuan tiruan, dengan rongga-rongga antara butiran yang besar (agregat kasar atau batu pecah), dan diisi oleh butiran kecil (agregat halus atau pasir), dan pori-pori antara agregat halus diisi oleh semen dan air. Semen juga berfungsi sebagai perekat atau pengikat dalam proses pengerasan, sehingga butiran-butiran agregat saling terekat dengan kuat sehingga terbentuklah suatu kesatuan yang padat. Beton keras yang baik adalah beton yang kuat, tahan lama, kedap air, tahan aus, dan kembang susutnya kecil.

Beton mempunyai fungsi yang penting dalam suatu bangunan kontruksi yang digunakan baik untuk struktur rumah tinggal, gedung bertingkat, dan berbagai macam infrastruktur yang lain.

2.1.1. Jenis – Jenis Beton

Ada sepuluh jenis beton yang digunakan dalam kontruksi, yaitu:

1) Beton Non-Pasir

Seperti namanya, beton non-pasir, proses pembuatannya sama sekali tidak menggunakan pasir. Hanya kerikil, semen dan air. Hal ini menyebabkan terbentuknya rongga-rongga yang berisi udara di celah-celah kerikil sehingga total berat jenisnya pun lebih rendah. Karena tanpa pasir. persentase semen pada beton ini juga lebih sedikit. Beton non-pasir biasanya digunakan pada pembuatan struktur ringan, kolom dan dinding sederhana, bata beton, serta buis beton.

(12)

2) Beton Ringan

Beton ringan dibuat dengan memakai agregat yang berbobot ringan.

Seringkali ditambahkan zat aditif yang dapat menyebabkan terbentuknya gelembung-gelembung udara di dalam adonan beton. Banyaknya gelembung udara yang terjadi menyebabkan volume adonan juga semakin besar sementara bobotnya lebih ringan dibandingkan beton lain dengan volume yang sama. Beton ringan biasanya digunakan untuk dinding non-struktural.

3) Beton Hampa

Beton jenis ini banyak digunakan untuk pembangunan gedung-gedung tinggi, karena memiliki kekuatan yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena proses penyedotan air pengencer adonan beton dengan alat vakum sehingga adonan hanya mengandung air yang sudah tercampur dengan semen saja.

4) Beton Serat

Beton serat dibuat dengan menambahkan serat-serat tertentu ke dalam adonan beton, seperti: asbestos, plastik, kawat baja, dan sebagainya. Denghan penambahan serat, beton yang dihasilkan memiliki nilai keuletan tinggi (ductility) sehingga tidak mudah retak.

5) Beton Mortar

Beton mortar terdiri atas mortar, pasir, dan air. Ada tiga jenis mortar yang sering digunakan antara lain semen, kapur, dan lumpur.

6) Beton Massa

Beton massa adalah penuangan beton yang sangat besar di atas kebutuhan rata-rata. Umumnya, beton massa memiliki dimensi yang berukuran lebih dari 60 cm. Perbandingan antara volume dan luas permukaannya pun sangat tinggi. Beton ini digunakan dalam pembuatan pilar-pilar bangunan, pondasi berukuran besar, dan juga bendungan.

7) Beton Bertulang

Beton bertulang adalah adukan beton yang diberi tulangan dari baja.

Penambahan tulangan baja ini akan meningkatkan kekuatan terhadap gaya tarik dan juga ductility struktur bangunan. Beton bertulang cocok digunakan dalam

(13)

struktur dengan bentangan yang lebar, seperti jalan raya, jembatan, pelat lantai dan sebagainya.

8) Beton Prategang

Beton prategang adalah beton bertulang yang tulangan bajanya diberi tegangan lebih dulu sebelum dicor, sehingga kuat untuk menyangga struktur dengan bentangan lebar.

9) Beton Pracetak

Beton pencetak adalah beton yang dicetak terpisah di luar area pekerjaan.

Hal ini biasanya dilakukan karena terbatasnya lahan area pekerjaan dan juga karena alasan kepraktisan. Pengerjaan bangunan dapat dipersingkat sehingga lebih efektif dan efisien.

10) Beton Siklop

Beton jenis ini menggunakan bahan tambahan agregat yang berukuran besar (sekitar 15 sampai 20 cm) dalam adonan beton. Hal ini untuk meningkatkan daya tahan beton untuk digunakan dalam pengerjaan bangunan yang bersinggungan dengan air, seperti jembatan dan bendungan.

2.2. Kelebihan dan Kekurangan Beton

Beton memiliki beberapa keunggulan seperti :

a) Beton mudah dibentuk menggunakan bekisting sesuai dengan kebutuhan struktur bangunan, memiliki ketahan yang tinggi terhadap temperature yang tinggi,

b) Beton memiliki kuat tekan yang tinggi, c) Bahan baku beton relatif mudah didapat,

d) Beton relatif tidak memerlukan perawatan dan tahan lama.

e) Beton tahan aus dan bakar sehingga perawatannya relatif lebih murah dan mudah.

(14)

Namun beton juga memiliki kekurangan seperti :

a) Mutu akhir pekerjaan beton sangat dipengaruhi oleh mutu beton itu sendiri dan proses pelaksanaan pengecorannya,

b) Beton merupakan material dengan berat jenis yang lumayan besar yaitu 2400 kg/m3 dan memiliki kuat tarik yang kecil sekitar 9-15% dari kekuatan tekannya.

c) Beton bersifat getas atau tidak daktail sehingga harus dihitung dengan teliti agar setelah dikompositkan dengan baja tulangan menjadi bersifat daktail, terutama pada struktur tahan gempa.

Membuat beton sebenarnya sederhana hanya sekedar mencampurkan bahan-bahan dasarnya untuk membentuk campuran tersebut menjadi benda padat (beton). Tetapi jika ingin membuat beton yang baik, dalam artian memenuhi persyaratan yang lebih ketat karna tuntutan yang lebih tinggi, maka harus diperhitungkan dengan cara seksama agar memperoleh adukan beton yang baik dan menghasilkan beton yang keras. Beton yang baik adalah beton yang dapat diaduk, dapat diangkut, dapat dituangkan, dapat dipadatkan, tidak ada kecendrungan untuk terjadi pemisahan kerikil dari adukan maupun pemisahan air dan semen dari adukan. Beton keras yang baik adalah beton yang kuat, tahan lama, kedap air, tahan aus dan kembang susutnya kecil.

2.3. Material Penyusun Beton

Berdasarkan SNI 03-2834-2000 beton normal adalah beton yang mempunyai berat isi (2200 – 2500) kg/�3 menggunakan agregat alam yang dipecah. Untuk memenuhi syarat nilai kuat tekan beton normal direncanakan f’c =25 MPa dengan proporsi campuran didasarkan pada perbandingan berat badan. Komponen penyusun beton terdiri dari semen, agregat kasar, agregat halus, air dan bahan tambah (jika diperlukan).

(15)
(16)

1. Semen

Semen adalah bahan campuran kimiawi yang bereaksi setelah berhubungan dengan air. Semen memiliki sifat adhesi dan kohesi sehingga dapat digunakan sebagai bahan perekat. Jika semen ditambahkan air maka akan menjadi pasta semen. Jika pasta semen ditambahkan agregat halus akan menjadi mortar, yang jika ditambahkan agregat kasar maka mortar akan menjadi campuran beton segar yang setelah mengeras akan menjadi beton keras.

Menurut SNI 15-2049-2004 semen portland dibedakan menjadi 5 tipe, yaitu:

a. Tipe I, semen portland yang dalam penggunaannya tidak memerlukan persyaratan khusus seperti jenis- jenis yang lainnya.

b. Tipe II, semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang.

c. Tipe III, semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan kekuatan awal yang tinggi dalam fase permulaan setelah pengikatan terjadi.

d. Tipe IV, semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan panas hidrasi yang rendah.

e. Tipe V, semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan yang tinggi terhadap sulfat.

2. Air

Air dalam campuran beton diperlukan agar semen dapat bereaksi membentuk senyawa-senyawa kimia dan juga berguna sebagai bahan pelumas antara butiran agregat agar campuran beton mudah dikerjakan dan dipadatkan. Air juga digunakan pada saat perawatan beton agar beton dapat mengeras dengan sempurna.

(17)

Penambahan air yang berlebihan pada campuran beton untuk kemudahan dalam pengerjaan dapat menyebabkan penurunan kekuatan beton, beton menjadi porus, dan akan menyebabkan terjadinya bleeding.

Terjadinya bleeding akan membentuk buih yang merupakan lapisan tipis disebut laitance (selaput tipis). Laitance yang terbentuk menyebabkan berkurangnya lekatan antara lapis-lapis beton sehingga menjadi bidang sambung yang lemah.

Air yang dapat digunakan sebagai bahan pencampur beton adalah air yang bila digunakan akan menghasilkan beton dengan kekuatan lebih dari 90%

kekuatan beton yang menggunakan air suling. Air yang memenuhi persyaratan sebagai air minum dapat digunakan sebagai bahan campuran beton.

Jenis-jenis air untuk campuran beton :

1. Air hujan, air hujan menyerap gas dan udara pada saat jatuh ke bumi.

Biasanya air hujan mengandung unsur oksigen, nitrogen dan karbondioksida.

2. Air permukaan, terdiri dari air sungai, air danau, air genangan, dan air reservoir. Air sungai atau danau dapat digunakan sebagai air pencampuran beton asal tidak tercemar limbah industri. Sedangkan air rawa atau genangan yang mengandung zat-zat alkali tidak dapat digunakan.

3. Air tanah, biasanya mengandung unsur kaiton dan anion. Selain itu juga kadang-kadang terdanpar unsur CO2, H2S dan NH3.

4. Air laut, air laut mengandung 30.000 – 36.000mg/liter gram (3 %-3,6 %) dapat digunakan sebagai air campuran beton tidak bertulang. Air laut yang 25 mengandung garam diatas 3% tidak boleh digunakan untuk campuran beton. Untuk beton pra tekan, air laut tidak diperbolehkan karena akan mempercepat korosi pada tulangannya.

Air yang dipergunakan harus memenuhi syarat sebagai berikut :

1. Tidak mengandung lumpur dan benda melayang lainnya yang lebih dari 2 gram / liter.

(18)

2. Tidak mengandung garam atau asam yang dapat merusak beton, zat organik dan sebagainya lebih dari 15 gram / liter.

3. Tidak mengandung klorida (C1) yang lebih dari 1 gram / liter.

4. Tidak mengandung senyawa sulfat lebih dari 1 gram / liter.

Air yang diperlukan untuk campuran beton dipengaruhi oleh : a. Ukuran agregat maksimum, diameter membesar maka kebutuhan air

menurun, begitu juga jumlah mortar yang digunakan lebih sedikit.

b. Bentuk butir, bentuk butir yang bulat akan menyebabkan kebutuhan air menurun misalkan untuk batu pecah perlu lebih banyak air.

c. Gradasi agregat, gradasi yang baik akan menyebabkan kebutuhan air menurun untuk kelecakan yang sama.

d. Kotoran dalam agregat, makin banyak silt, tanah liat dan lumpur maka akan meningkatkan kebutuhan air meningkat.

e. Jumlah agregat halus (dibandingkan agregat kasar) jika agregat halus lebih sedikit, maka kebutuhan air akan menurun.

3. Agregat Halus

Agregat halus yang digunakan dalam campuran beton dapat berupa pasir alami yang diperoleh langsung dari sungai maupun dari tanah galian, atau pasir yang dihasilkan dari proses pemecahan batu.

Agregat halus adalah agregat dengan ukuran butiran lebih kecil dari 4,8 mm. Agregat yang memiliki butiran lebih kecil dari 1,2 mm disebut pasir halus, jika lebih kecil dari 0,075 mm disebul silt dan jika lebih kecil

dari 0,002 mm disebut clay. Agregat halus adalah semua butiran lolos saringan 4,75 mm. agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alami, hasil pecahan dari

(19)

batuan secara alami,atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh mesin pemecah batu yang biasa disebut abu batu. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5%, serta tidak mengandung zat-zat organik yang dapat merusak beton.Kegunaannya adalah untuk mengisi ruangan antara butir agregat kasar.

(20)

4. Agregat Kasar

Agregat kasar adalah agregat yang butirannya lebih besar dari 5

mm atau

agregat yang semua butirannya dapat tertahan diayakan 4,75 mm. agregat kasar untuk beton dapat berupa kerikil sebagai hasil dari disintegrasi dari batu-batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan manual atau mesin. Agregat kasar harus terdiri dari butiran-butiran yang keras, permukaan yang kasar.agregat harus memenuhi syarat kebersihan yaitu, tidak mengandung lumpur lebih dari 1 %, dan tidak mengandung zat-zat organik yang dapat merusak beton.

Menurut Tjokrodimulyo (1996), beberapa faktor yang harus diperhatikan pada saat pemilihan untuk pekerjaan campuran beton, yaitu : 1) Bentuk Agregat

Bentuk agregat dipengaruhi oleh dua sifat, yaitu kebulatan dan sperikal.

Kebulatan atau ketajaman sudut ialah sift yang dimiliki yang tergantung pada ketajaman relatif dari sudut dan ujung butir. Sedangkan sperikal adalah sifat yang tergantung pada rasio anatara luas bidang permukaan butir dan volume butir.

Bentuk butiran agregat lebih berpengaruh pada beton segar dari pada setelah beton mengeras. Berdasarkan bentuk butiran agregat dapat dibedakan menjadi : bulat, tidak beraturan, bersudut, memanjang, pipih, panjang dan pipih.

a) Bulat

Umumnya agregat ini berbentuk bulat atau bulat telur.Permukaannya agak licin, pengaruh gesekan selama transportasi terbawa arus air.Pasir atau kerikil jenis ini umunya berasal dari sungai atau pantai.

b) Tidak Beraturan

Bentuk alamnya tidak beraturan, atau sebagian terjadi karena pergeseran dan mempunyai sisi tepi bulat.Pasir atau kerikil jenis ini biasanya berasal dari sungai, darat, atau dari lahar gunung.

(21)
(22)

c) Bersudut

Bentuk ini tidak beraturan memiliki sudut-sudut yang tajam dan permukaannya kasar.Yang termasuk jenis ini adalah semua yang dihasilkan dari alat mesin pemecah dari berbagai jenis batu.

d) Memanjang

Butir agregat dikatakan memanjang jika panjangnya melebihi kedua sisi dimensi lainnya atau panjang lebih dari tiga kali lebarnya.

e) Pipih

Disebut pipih jika tebalnya jauh lebih kecil darikedua dimensi lainnya.Biasa disebut pipih bila tebalnya kurang dari sepertiga lebar.Agregat in berasal dari batuan-batuan yang berlapis.

f) Panjang dan Pipih

Material yang panjangnya melebihi lebarnya dan lebarnya melebihi tebalnya.

2) Tekstur Permukaan Butir

Tekstur permukaan adalah suatu sifat permukaan yang tergantung pada ukuran, halus atau kasar, mengkilap atau kusam. Pada dasarnya tekstur permukaan butir dapat dibedakan menjadi : sangat halus (glassy), halus, granuler, kasar, berkristal, berpori, dan berlubang-lubang. Tekstur permukaan butir tergantung pada kekerasan, ukuran molekul, tekstur batuan, dan besar gaya yang bekerja pada

permukaan butiran yang menyebabkan kehalusan permukaan agregat. Jika ditinjau dari permukaannya, agregat dapat dibedakan menjadi 6, antara lain :

 Agregat permukaan seperti gelas, mengkilat. Contoh : flint hitam, obsidian.

 Agregat dengan permukaan licin, biasanya agregat ini ditemukan pada batuan yang butiran-butirannya sangat kecil atau halus. Contoh : kerikil sungai, chart, batu lapis, marmer dan rhyolite.

(23)

 Agregat dengan permukaan berbutirpecahan dari batuan ini menunjukan adanya butir-butir bulat yang seragam atau merata. Contoh : batuan pasir, colite.

 Agregat dengan permukaan kasar umumnya berupa pecahan batuan, permukaan tampak kasar, berbutir halus sampi medium kristal tidak tampak jelas. Contoh : basalt, felsites, porphyry, batu kapur.

 Agregat dengan permukaan berkristal mempunyai susunan Kristal yang tampak jelas. Contoh : granite, gabbro gneiss.

 Agregat dengan permukaan berpori dan berongga seperti sarang lebah, batuan ini mempunyai pori dan rongga-rongga yang mudah terlihat.

Contoh : batu bata, batu apung, batu klinker, batu lahar merapi.

3) Berat Jenis Agregat

Berat jenis agregta adalah rasio antara massa padat agregat dan massa air dengan volume sama pada suhu yang sama. Karena butiran agregat umumnya mengandung butiran pori-pori yang ada dalam butiran tertutup atau tidak berhubungan, maka berat jenis agregat dibedakan menjadi dua istilah, yaitu berat jenis mutlak, jika volume benda padatnya tanpa pori dan berat jenis semu, jika volume benda padatnya termasukpori-pori tertutupnya.

4) Berat Satuan dan Kepadatan

Berat satuan agregat adalah berat agregat satu satuan volume, dinyatakan dengan kg/liter atau ton/m3. Jadi berat satuan dihitung berdasarkan berat agregat dalam suatu tempat tertentu, sehingga yang dihitung volumenya ialah volume padat (meliputi pori tertutup) dan volume pori terbuka.

5) Ukuran Maksimum Agregat

(24)

Ukuran maksimum agregat yang biasa dipakai adalah 10 mm, 20 mm, atau 40 mm.

(25)

6) Gradasi Agregat

Gradasi agregat adalah distribusi ukuran butiran dari agregat. Bila butir- butir agregat mempunyai ukuran yang sama (seragam), maka volume pori akan besar .sebaliknya bila butirannya bervariasi akan terjadi volume pori yang kecil.

Hal ini karena butiran yang kecil mengisi pori diantara butiran yang lebih besar, sehingga pori-porinya menjadi sedikit.

7) Kadar Air Agregat

Kandungan didalam agregat dibagi menjadi beberapa tingkat, yaitu :

 Kering tungku, dimana agregat benar-benar tidak berair atau dalam kondisi yang benar-benar dapat secara penuh menyerap air.

 Kering udara, dimana permukaan agregatnya kering namun mengandung sedikit air di dalam porinya.

 Jenuh kering muka, yaitu tidak ada air dipermukaan tetapi butir-butirnya berisi air sejumlah yang dapat diserap. Dengan demikian butiran tidak dapat

menyerap dan menambah jumlah air jika dipakai dalam campuran adukan beton.

 Basah, dimana butir-butir mengandung banyak air baik dipermukaan maupun di dalam butiran, sehingga bila dipakai dalam campuran akan menambah air.

Keadaan kering jenuh muka (Saturated Surface Dry) lebih dipakai sebagai standar, karena merupakan kebasahan agregat yang hamper sama dengan agregat dalam beton, sehingga agregat tidak akan menambah dan mengurangi air dari pastanya, dan kadar air di lapangan lebih banyak mendekati keadaan SSD dari pada kering tungku.

(26)
(27)

8) Kekuatan dan Keuletan Agregat

Kekerasan agregat tergantung dari kekerasn bahan penyusunnya. Butiran agregat dapat bersifat kurang kuat disebabkan dua hal yaitu, karena terdiri dari bahan yang lemah atau terdiri dari partikel-partikel yang kuat tapi tidak terikat dengan kuat dan pada umumnya kekuatan dan elastisitas agregat tergantung dari jenis batuan, tekstur dan struktur butirannya, karena agregat merupakan bagian terbesar dari beton sehingga kekuatan agregat akan mempengaruhi kekuatan beton.

5. Bahan Tambah

Bahan tambah yaitu bahan selain unsur pokok pada beton (air, semen, dan agregat) yang ditambahkan pada adukan beton, baik sebelum, segera atau selama pengadukan beton dengan tujuan mengubah satu atau lebih sifat-sifat beton sewaktu masiih dalam keadaan segar atau setelah mengeras. Fungsi-fungsi bahan tambah antara lain : mempercepat pengerasan, menambah kelecekan (workability) beton segar, menambah kuat tekan beton, meningkatkan dektilitas atau mengurangi sifat getas beton, mengurangi retak-retak pengersan dan sebagainya.

2.4. Mekanisme Masuknya Air Ke Dalam Beton

Masuknya gas, air atau ion dalam suatu larutan ke dalam beton berlangsung melalui pori-pori atau micro-cracks didalam campuran pasta semen.

Variasi dari perbedaan fisik dan mekanisme kimia dapat membangun pengaliran media tersebut ke dalam beton, tergantung dari unsur yang mengalir dan konsentrasinya, kondisi lingkungan, struktur pori pada beton, jari-jari pori atau lebar dari micro- cracks , kelembaban dari sistem pori dan temperatur. Penelitian mengenai karakteristik pengaliran pada beton diwujudkan dalam satu mekanisme pengaliran dalam rangka untuk mendapatkan koefisien pengaliran sesuai dengan dasar permodelan secara teoritis proses pengaliran.

Prosedur ini bagaimanapun juga sangat terbatas sebab dalam beberapa kasus beton tidak sebagai suatu bentuk yang berpori seragam. Sebagai

(28)

konsekuensinya struktur fisik beton dapat berubah, penyerapan kimia dapat terjadi dan berbagai macam mekanisme pengaliran dapat berlangsung selama proses percobaan. Oleh karena itu, penyederhanaan asumsi harus dilakukan dalam perhitungan dan prosedur test standar adalah wajib. Ada 3 cara mekanisme transportasi air yang dapat beroperasi pada media semi- permeable seperti juga pada beton (Jackson dan Dhir, 1996), yaitu :

1) Absorption / Penyerapan

Terjadi dengan cara masuknya air melalui pipa kapiler atau pori-pori pada beton dan biasanya terjadi pada bangunan air. Aliran zat cair yang disebabkan oleh tegangan permukaan.

Menurut Joseph F. Lamond absorspi merupakan besaran yang menunjukkan perbandingan antara berat sampel dalam keadaan kering dengan sampel yang terendam air. Nilai absorpsi merupakan salah satu indikator dari stuktur yang berpori. Absorpsi merupakan proses masuknya air ke dalam beton melalui pori-pori yang ada.

Menurut Levit (1984) dan (Concrete Society) terdapat 3 kategori absorpsi, yaitu absorpsi rendah yang nilainya berkisar 3%, absorpsi sedang yaitu berkisar 3- 5%, dan absorpsi tinggi yaitu berkisar 5%.

2) Diffusion

Terjadi akibat perbedaan konsentrasi baik cairan, gas maupun ion.

Perbedaan konsentrasi atau molaritas bahan fluida membuat transport terjadi dari media konsentrasi tinggi ke media dengan konsentrasi rendah.

Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Difusi ion Cl- di dalam beton dapat menyebabkan terjadinya korosi pada beton bertulang sesuai dengan reaksi pada persamaan Fe + 2 Cl- FeCl2 Fe2 + 2 Cl- +2e- . Hal ini dapat dijelaskan secara teoritis melalui hukum difusi Fick’s kedua.

(29)

1– erf( x

2 Dt)

C(x , t)−C0=(CSC0)¿

...

(1)

dengan :

C(x,t) = kosentrasi klorida pada jarak x dan waktu t (kg/m3 ) Cs = kosentrasi klorida di permukaan beton (kg/m3 )

C0 = kosentrasi klorida pada beton (kg/ m3)

erf = fungsi error ( fungsi numerik yang tersedia dalam tabel matematika) D = koefisien difusi (m2/ s)

x = jarak dari permukaan beton (m) t = waktu (s)

Secara umum penetrasi ion klorida melalui proses difusi akan menjadi dasar dalam pemodelan tahap inisiasi. Tahap inisiasi dimulai saat struktur tersebut berdiri hingga korosi tulangan dimulai. Tahap ini berarti tahapan yang diperlukan oleh ion klorida untuk dapat masuk ke dalam beton dan mencapai level tulangan dimana konsentrasi klorida yang berada pada level tulangan tersebut telah mencapai jumlah yang memadai untuk merusak lapisan pasif dan menginisiasi proses korosi. Bila diasumsikan nilai D dianggap seragam pada berbagai kedalaman dan nilai C(x,t)= Ccr maka persamaan (1) dapat dijadikan sebagai dasar dalam pemodelan waktu inisiasi. Dimana To menyatakan waktu inisiasi.

¿=d2c

4D [erf−1CsCcr CsCo ]−2

...

(2)

3) Permeability

Terjadi akibat perbedaan tekanan, baik tekanan cairan maupun tekanan gas. Contohnya adalah pada bangunan yang selalu bersinggungan dengan tekanan air, tangki dan atau pipa bertekanan, bangunan penahan air, dam, bendungan atau bangunan di dalam air.

(30)

Permeabilitas adalah kemampuan media yang porus untuk mengalirkan fluida. Material dengan ruang kosong diantaranya disebut pori, dan apabila ruang kosong itu saling berhubungan maka ia akan memiliki sifat permeabilitas. Batuan, beton, tanah dan bahan material lain dapat merupakan material porus dan permeabel. Material dengan ruang kosong yang lebih besar biasanya mempunyai angka pori yang lebih besar pula (Bowles, JE 1986).

Penggunaan abu sekam padi dengan kombinasi campuran yang sesuai pada semen akan menghasilkan komposit semen yang lebih baik (Singh et al., 2002). Abu sekam padi telah digunakan sebagai bahan pozzolan reaktif yang sangat tinggi untuk meningkatkan mikrostruktur pada daerah transisi interfase antara pasta semen dan agregat.Sarawathy and Song (2007) menyarankan penggunaan abu sekam padi sebesar 25% untuk membuat komposit semen tetapi penggunaan abu sekam padi sampai 30% sebagai pengganti sebagian semen masih dapat mengurangi penetrasi klorida, mengurangi permeabilitas, meningkatkan kekuatan, dan meningkatkan sifat anti karat komposit semen.

(31)

BAB III

GAMBARAN UMUM PRAKTIKUM

3.1. Umum

Beton adalah suatu campuran yang terdiri dari pasir, kerikil, batu pecah atau agregat agregat lain yang dicampur jadi satu dengan suatu pasta yang terbuat dari semen dan air membentuk suatu massa mirip batuan. Terkadang satu atau lebih bahan aditif ditambahkan untuk menghasilkan beton dengan kataristik tertentu, seperti,kemudahan pengerjaan (workability), durabilitas, dan waktu pengerasan (Mc.Cormac, 2004).

Secara Sederhana Beton dibentuk oleh pengkerasan campuran antara semen, air, agregat halus (pasir), dan agregat kasar (batu pecah kerikil). Kadang- kadang ditambahkan campuran bahan lain (admixture) untuk memperbaiki kualitas beton.(Asroni, 2010).

Beton diperoleh dengan cara mencampurkan semen, air, agregat dengan atau tanpa bahan tambah tertentu. Material pembentuk beton tersebut dicampur merata dengan komposisi tertentu menghasilkan suatu campuran yang plastis sehingga dapat dituang dalam cetakan untuk dibentuk sesuai dengan keinginan.

Perbandingan campuran bahan susun disebutkan secara urut, dimulai dari ukuran butir yang paling kecil (lembut) ke butir yang besar, yaitu :semen, pasir, dan kerikil. Jadi jika campuran beton menggunakan semen 1 : 2 : 3, berarti campuran adukan betonnya menggunakan semen 1 bagian, pasir 2 bagian, dan kerikil 3 bagian. (Asroni, 2010).

3.2. Lokasi dan waktu praktikum

Praktikum ini di laksanakan di Laboratorium Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Sistem Informasi Universitas Yapis Papua yang terletak di Jl. Dr. Sam

(32)

Ratulangi No.11, Mandala, Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua. Praktikum ini dilakukan pada tanggal 23 s/d 28 Mei 2022,

Gambar 3. 1 Lokasi Lapangan (Sumber : google.com)

Waktu pelaksanaan praktikum dibagi menjadi:

1. Pemeriksaan Agregat Halus dilaksanakan pada tanggal 23 Mei 2022 2. Pemeriksaan Agregat Kasar dilaksanakan pada tanggal 23 Mei 2022 3. Mix design dan Slump Test dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2022 4. Uji Kuat Tekan Beton dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 2022 3.3. Teknik pengumpulan data

Untuk memperoleh data sebagai bahan utama dalam penelitian ini, maka digunakan dua metode pengumpulan data yaitu :

1. Studi pustaka, diperoleh melalui berbagai literatur seperti jurnal

penelitian, artikel-artikel penelitian dan standar-standar pengujian sebagai landasan teori dalam penelitian ini.

2. Test laboratorium, dimana setiap pemeriksaan dan pengujian sampel dilakukan di laboratorium untuk mendapatkan data primer yang akan digunakan dalam menganalisa hasil dari penelitian yang dilaksanakan.

(33)

3.4. Bahan dan peralatan penelitian

Adapun bahan atau material yang digunakan dalam pelaksanaan praktikum:

1. Agregat Kasar

Agregat kasar adalah agregat yang butirannya lebih besar dari 5 mm atau agregat yang semua butirannya dapat tertahan diayakan 4,75 mm. agregat kasar untuk beton dapat berupa kerikil sebagai hasil dari disintegrasi dari batu-batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan manual atau mesin.

Gambar 3. 2 Aggregat kasar Sumber: cube.ums.ac.id

(34)

2. Agregat halus

Agregat halus adalah pasir alam sebagai hasil desintegrasi secara alami dari batuan besar menjadi butiran batuan yang berukuran kecil. Agregat halus didefinisikan sebagai butiran batuan yang mempunyai ukuran terbesar 5,0 mm atau tertahan di saringan no. 4. Hasil desintegrasi alami ini menghasilkan butiran agregat halus yang berbentuk cenderung membulat dan bertekstur kasar.

Gambar 3. 3 Aggregat halus Sumber: cube.ums.ac.id

3. Air

Air merupakan salah satu faktor penting dalam pembuatan beton, karena jika air digambungkan dengan semen akan bereaksi sebagai pasta pengikat anggregat. Air juga sangat berpengaruh pada kuat tekan beton, jika air berlebihan akan berpengaruh pada penurunan kuat tekan beton, serta akan mengalami blending.

(35)

Gambar 3. 4 Air Sumber: .beritasatu.com

4. Semen

Semen portland adalah semen hidraulis yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker yang terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidraulis dengan gips sebagai bahan tambahan.

Gambar 3. 5 Semen portland Sumber: bukalapak.com

Peralatan atau alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaan praktikum : 1. Mangkok alumunium

Mangkok ini digunakan untuk menaruh serta menimbang material (agregat halus dan agregat kasar)

(36)

Gambar 3. 6 Mangkok aluminium Sumber: tokopedia.com 2. Talang berukuran 30 x 30

Sama seperti mangkok aluminium, talang ini berguna untuk menaruh serta menimbang bahan material (aggregat halus dan aggregat kasar)

Gambar 3. 7 Talang berukuran 30 x 30 Sumber: shoope.co.id

3. Ember plastik

Ember digunakan sebagai wadah untuk mengambil bahan material seperti kerikil, pasir, dan air

Gambar 3. 8 Ember plastik

(37)

Sumber: padiumkm.id

(38)

4. Timbangan digital

Timbangan digital digunakan untuk menimbang agregat kasar, semen maupun fly ash untuk pembuatan benda uji. Selain untuk menimbang bahan- bahan, timbangan ini digunakan untuk mengetahui berat dari beton sebelum beton tersebut di uji tekan.

`

Gambar 3. 9 Timbangan digital Sumber: shopee.co.id 5. Serbet

Digunakan untuk mengelap aggregat kasar yang telah dicuci.

Gambar 3. 10 Serbet Sumber: shoope.co.id 6. Piknometer

Piknometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur nilai masaa jenis atau densitas fluida.Digunakan piknometer dengan ukuran 500 ml, nilai volume ini valid pada temperatur yang tertera pada piknometer tersebut.

(39)

Gambar 3. 11 Pikonemeter Sumber: shopee.co.id 7. Saringan agregat

Saringan agregat ialah penentuan persentase berat butiran agtegat yang lolos dari satu set saringan kemudian angka-angka persentase digambarkan pada grafik pembagian butir.

Gambar 3. 12 Saringan aggregat Sumber: docplayer.info 8. Bohler kubus

Cetakan benda uji berbentuk silinder yang terbuat dari baja memiliki ukuran diameter 150 mm dan tinggi 300mm.

(40)

Gambar 3. 13 Bohler silinder Sumber: testindobeton.com

(41)

9. Kuas

Digunakan untuk membersihkan alat-alat yang telah di pakai

Gambar 3. 14 Kuas Sumber: lazada.co.id 10. Kerucut abhram

Benda berbentuk kerucut ini terbuat dari baja yang memiliki tinggi 30 cm, diameter atas 10cm dan diameter bawah sebesar 20 cm. Fungsi kerucut Abhram adalah untuk mengetahui nilai slump beton segar.

Gambar 3. 15 Kerucut abraham Sumber: indoprecast.com

(42)

11. Batang Besi Penumbuk

Besi yang memiliki diameter 1,6 cm dan panjang 60 cm digunakan untuk menumbuk beton segar ketika pengujian slump dan digunakan untuk menumbuk ketika beton dimasukan kedalam cetakan benda uji.

Gambar 3. 16 Batang besi penumbuk Sumber : amazon.in

12. Mesin molen

Merupakan alat untuk mencampur semua bahan bahan seperti agregat,semen, dan air.

Gambar 3. 17 Mesin molen Sumber: mesinkomplit.com

(43)

13. Kompor gas

Sebagai pengganti oven dalam proses pengeringan Agregat untuk meminimalisir waktu praktikum.

Gambar 3. 18 Kompor gas Sumber:Monotaro.com 3.5. Benda uji

Benda yang diujikan pada praktikum kali ini adalah Beton Kubus bersisi 15x 15x15 cm. Pengujian beton kubus ini dilakukan untuk mengetahui berapa nilai kuat tekan pada beton.

3.6. Standar Penelitian dan Spesifikasi Material Penyusun Beton

Untuk mengetahui sifat dan karakteristik dari bahan dasar penyusun beton maka perlu dilakukan pengujian. Pengujian ini dilakukan terhadap agregat halus dan agregat kasar.

1. Standar Pengujian Agregat Halus.

Pengujian terhadap agregat halus dilakukan berdasarkan ASTM dan disesuaikan dengan spesifikasi bahan menurut ASTM. Standar pengujian agregat halus adalah sebagai berikut :

a. ASTM C-40 : Standar penelitian untuk tes kandungan zat organik dalam agregat halus.

(44)

b. ASTM C-117: Standar penelitian untuk agregat yang lolos saringan no.200 dengan pencucian.

c. ASTM C-128: Standar penelitian untuk menentukan specific gravity agregat halus.

d. ASTM C-136 : Standar penelitian untuk analisis saringan agregat halus.

2. Standar Pengujian Agregat Kasar.

Pengujian terhadap agregat kasar dilakukan berdasarkan ASTM dan disesuaikan dengan spesifikasi bahan menurut ASTM. Standar pengujian agregat kasar adalah sebagai berikut :

a. ASTMC-127: Standar penelitian untuk menentukan specific gravity agregat kasar.

b. ASTM C-136 : Standar penelitian untuk analisis saringan agregat kasar.

c. ASTM C-131 : Standar penelitian untuk pengujian abrasi (keausan) 3.7. Standar Pengujian Beton

Praktikum ini dilakukan berlandaskan Standar Pengujian Beton segar diIndonesia yaitu pada SNI 1974:2011. Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Cara uji kuat tekan beton dengan benda uji silinder yang dicetak adalah revisi dari SNI 03-1974-1990, Metode pengujian kuat tekan beton, dengan tidak lagi mencantumkan cara pengujian beton menggunakan benda uji kubus dan merupakan adopsi modifikasi dari AASHTO T 22-03 (ASTM C 39-99), Standard Method Of Test For Compressive Strength Of Cylindrical Concrete Specimens.

Perubahan yang dilakukan adalah memasukkan appendix A dari AASHTO T 22- 03, Contoh formulir dan perhitungan pengujian.

Dengan terbitnya standar ini, maka SNI 03-6429-2000 Metode pengujian kuat tekan beton silinder dengan cetakan silinder di dalam tempat cetakan, tidak

(45)

lagi digunakan sebagai standar pengujian kuat tekan beton dengan benda uji silinder.

Standar ini disusun oleh Panitia Teknis 91-01 Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil melalui Gugus Kerja Jembatan dan Bangunan Pelengkap Jalan pada Subpanitia Teknis 91-01-S2 Rekayasa Jalan dan Jembatan.

Tata cara penulisan disusun mengikuti Pedoman Standardisasi Nasional 08:2007 dan dibahas pada forum rapat konsensus tanggal 21 Mei 2007 di Bandung, dengan melibatkan para nara sumber, pakar dan lembaga terkait.

Standar ini terdiri dari penggunaan beban tekan aksial terhadap benda uji beton berbentuk silinder yang dicetak baik di laboratorium maupun di lapangan, pada laju pembebanan yang berada dalam batas yang ditentukan hingga terjadi kehancuran. Kuat tekan benda uji dihitung dengan membagi beban maksimum yang diterima selama pengujian dengan luas penampang benda uji.

3.8. Tahapan dan Prosedur Penelitian

Tahapan serta prosedur penelitian pada agregat halus meliputi:

3.8.1. Berat Volume

Tujuan percobaan ini untuk menentukan berat isi agregat halus dan kasar baik dalam kondisi lepas/gembur maupun kondisi padat.

Alat yang digunakan : 1. Timbangan

2. Bohler

3. Tongkat pemadat 4. Sendok Spesi 5. Sendok semen

Bahan yang digunakan adalah Pasir dalam kondisi kering oven Prosedur percobaan:

1. Bohler ditimbang dalam kondisi (A).

(46)

2. Kondisi padat

1) Masukkan benda uji kedalam Bohler 4 lapisan.

2) Setiap lapis dipadatkan.

3) Lapis 1,2,3 dan 4 dipadatkan dengan 25 kali tumbukan diantaranya sisi samping 15 kali dan tengah 10 kali.

4) Ratakan permukaan atas bohler menggunakan sendok semen 5) Bohler berisi benda uji ditimbang (B).

3. Kondisi Gembur

1) Masukkan benda uji kedalam Bohler hingga rata permukaan tanpa tumbukan

2) Ratakan permukaan bohler menggunakan sendok semen.

3) Bohler berisi benda uji ditimbang (B).

4. Berat benda uji di hitung (C= B – A)

5. Menggunakan Volume Bohler (D), dengan rumus (V)= = ¼. π . D2 . T.

Dimana : π = 3,14 d = diameter bohler t = tinggi bohler

rumus untuk mentukan berat volume Berat volume = C

D

(47)

3.8.1 Kadar Air

Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui berat kadar air beton apabila terjadi kadar kelembapan beton.

Alat yang digunakan:

1. Timbangan

2. Oven

3. Talang

4. Sendok Spesi

Bahan yang digunakan adalah kerikil (kondisi lapangan) Prosedur Percobaan:

1. Talang (A) ditimbang

2. Talang beserta benda uji ditimbang (B) 3. Berat benda uji (C= B-A

4. Benda Uji dimasukkan kedalam oven selama ± 24 jam lalu dikeluarkan dan dibiarkan sejenak hingga dingin.

5. Benda uji kering oven beserta talang ditimbang (D) 6. Berat bemda uji kering oven (E=D-A)

Rumus menentukan kadar air:

Kadar air = CE

E x 100%

(48)

3.8.2 Analisis Ayakan

Tujuan percobaan ini untuk mengetahui susunan butir agregat dari yang besar sampai yang halus untuk keperluan desain beton.

Alat yang digunakan :

1. Saringan ukuran : No. 3/4, 1/2, 3/8, dan 4 2. Timbangan

3. Dan alat bantu lainnya

Bahan yang digunakan adalah keriki seberat 5000 gr, kondisi kering oven.

Prosedur percobaan : 1. Benda uji ditimbang (A).

2. Saringan dalam kondisi kosong ditimbang beratnya (B).

3. Benda uji dimasukkan kedalam susunan saringan dan disaring dengan manual (dengan cara digoyangkan selama ± 15 menit.

4. Saringan dilepas dari susunan kemudian ditimbang/saringan beserta isinya (C).

5. Benda uji yang tertahan pada masing masing saringan dihitung (D=C-B) Rumus :

% Tertahan per saringan = = D

A x 100

% Komulatif lolos = CB

A x 100%

Modulus kehalusan (Fr) = 100 %−Komulatif tertahan 100 %

(49)

3.8.3 Kadar Lumpur

Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui kadar lumpur (lempung A) pada pasir dengan cara pengendapan.

Alat yang digunakan:

1. Saringan no.200 2. Wadah pencuci 3. Talang (Wadah)

4. Oven

5. Timbangan

6. Skop

Bahan yang digunakan adalah:

1. Air

2. Agregat Kasar (Kondisi kering oven) Prosedur Percobaan :

1. Benda uji ditimbang (A)

2. Cuci benda uji kedalam baskom kemudian isi dengan air bersih.

a) Masukkan benda uji kedalam baskom kemudian isi dengan air bersih.

b) Tuangkan air cucian kedalam susunan saringan No.200.

c) Pada waktu menuangkan air cucian, usahakan agar bahan bahan yang kasar tidak ikut tertuang.

3. Masukkan air pencucian baru dan ulangi pekerjaan cucian menjadi jernih 4. Tuangkan bahan yang sudah di cuci bersih kedalam talang dan keringkan

dalam oven selama 24 jam.

5. Keluarkan benda uji dalam oven, biarkan hingga dingin kemudian ditimbang (B).

6. Menghitung berat lumpur yang terkandung dengan cara (C= A –B).

Rumus :

Kadar Lumpur = C

A x 100%

(50)

3.8.4 Spesific Grafity

Tujuan percobaan ini untuk memeriksa dan menentukan bulk apparent spesific gravity (Berat Jenis) dan absorbs (penyerapan) dari agregat halus (pasir) menurut ASTM C-128 dan untuk menentukan volume agregat halus dalam beton.

Alat yang digunakan : 1. Keranjang Kawat

2. Oven

3. Timbangan 4. Bak Perendaman 5. Karung goni/kain lap

6. Sekop

Bahan yang digunakan:

1. Kerikil (sudah pengujian kadar lumpur & agregat yang tertahan, menggunakan saringan no.4)

2. Air

Prosedur Percobaan : 1. Tahap persiapan

1) Ambil benda uji sebanyak 5000 gram.

2) Rendam benda uji tersebut kedalam bak perendaman selama 24 jam.

2. Tahap pelaksanaan

1) Benda uji dikeluarkan dari bak perendaman,dihamparkan pada karung goni/lap kain, dilap hingga mencapai kondisi SSD.

2) Timbang keranjang di udara (dalam kondisi kosong)(A).

3) Benda uji kondisi SSD dimasukkan kedalam keranjang.

4) Keranjang + benda uji SSD ditimbang di udara (B).

5) Berat benda uji kondisi SSD di udara (C= B – A)

6) Masukkan keranjang + benda uji SSD kedalam bak perendaman, goyangkan sampai bebas dari gelembung udara.

7) Timbang keranajng + benda uji SSD didalam Air (D).

(51)

8) Keluarkan benda uji dari dalam keranjang ke talang, kemudian keringkan kedalam oven.

9) Keranjang kosong ditimbang dalam air (E).

10) Hitung berat benda uji dalam air (F = D – E).

11) Keluarkan sampel dari oven, dinginkan lalu timbang untuk mendapatkan berat kering (G).

3.9. Pemeriksaan bahan

Pemeriksaan bahan yang dilakukan berupa pemeriksaan karakteriksik agregat yaitu agregat kasar dan agregat halus.

Hasil pemeriksaan karateristik agregat ini dilakukan di laboratorium meliputi agregat kasar, agregat halus dan filler. Pemeriksaan ini dilakukan untuk dapat mengetahui kelayakan agregat yang akan digunakan dalam penelitian ini, apakah telah memenuhi spesifikasi yang disyaratkan.

3.10. Perawatan benda uji

Perawatan ini perlu dilakukan agar proses reaksi semen dan air berlangsung dengan baik. Adapun perawatan yang dikerjakan adalah dengan menjaga supaya permukaan beton tetap lembab hingga proses reaksi mencapai waktu yang ditentukan yakni kurang lebih 28 hari.

Jika permukaan beton tidak dijaga kelembabannya, maka kandungan air pada campuran beton akan keluar sehingga pada akhirnya kualitas beton menjadi menurun atau muncul retak-retak di permukaannya. Kelembaban bisa dijaga dengan cara menyirami permukaan beton, menggenangi permukaan beton, atau meletakkan karung basah di permukaan beton.

Perawatan beton segar yang dilakukan oleh kelompok saya dalam praktikum ini adalah dengan cara perawatan pembasahan yaitu merendam beton segar didalam air dan membiarkannya selama 24 jam setelah dilepas dari cetakan bohler berbentuk silinder.

(52)

3.11. Rencana campuran (Mix Design)

Metode ACI (American Concrete Institute)

Proses perancangan mengikuti langkah-langkah berikut : 1) Hitung kuat tekan rata-rata yang ditargetkan, f’cr = f’c + k.S 2) Tetapkan nilai slump, nilai ukuran butir maksimum agregat.

3) Tentukan jumlah air yang dibutuhkan berdasarkan nilai slump dan ukuran butir maksimum agregat.

4) Tentukan factor air-semen (FAS).

5) Hitung jumlah semen yang diperlukan = jumlah air : FAS.

6) Tentukan volume agregat kasar berdasarkan ukuran butir maksimum agregat dan modulus kehalusan agregat.

7) Tentukan perkiraan berat beton segar.

8) Hitung berat agregat halus = berat beton basah – berat (air + semen + kasar).

Catatan : Untuk hasil yang lebih teliti dapat dilakukan perhitungan volume absolut. Volume absolut adalah berat bahan dibagi dengan kepadatan absolut.

Kepadatan absolut = berat jenis x kepadatan air.

9) Tetapkan proporsi campuran hasil perhitungan.

10) Lakukan koreksi proporsi campuran berdasarkan kondisi agregat saat pelaksanaan.

Koreksi proporsi campuran rancangan metode ACI : Jika dengan kondisi agregat kering diperoleh proporsi, G1= berat semen/m3

G2= berat air/m3

G3= berat agregat halus/m3, kering G4= berat agregat kasar/m3, kering Cm= kadar air agregat halus (%) Ca= resapan agregat halus (%) Dm= kadar air agregat kasar (%) Da= resapan agregat kasar (%)

(53)

Proporsi campuran yang disesuaikan adalah : Semen, tetap = G1

A i r = G2 – x (Cm – Ca) G3/100 – (Dm – Da) x G4/100 Agregat halus = G3 + Cm x G3/100

Agregat kasar = G4 + Dm x G4/100 3.12. Pengujian kuat tekan

Menguji tekanan beton adalah suatu tujuan memperoleh nilai kuat tekan dengan prosedur yang benar dengan pengertian Kuat tekan beton merupakan besarnya beban per satuan luas, yang menyebabkan benda uji beton hancur bila dibebani dengan gaya tekan tertentu, yang dihasilkan oleh mesin tekan.

3.13. Tenik analisis data

Analisis data Pengujian kuat tekan beton dilakukan di Laboratorium Teknik Sipil, Jurusan Teknik Fakultas Teknik Dan Sistem Informasi. Pengujian kuat tekan beton dilakukan pada umur 3 hari yang dikonversikan menjadi 7, 14, 21 dan 28 hari.

(54)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengujian Karakteristik Material

Berikut hasil pengujian karakteristik material dari agregat kasar berupa berat volume, analisa ayakan, kadar air, kadar lumpur dan specific gravity.

Pengujian Karakteristik Material yang dilakukan dalam praktikum berupa agregat kasar dan agregat halus. Hasil pengujian karakteristik material sebagai berikut :

Hasil pengujian agregat halus sebagai berikut : a. Analisis Ayakan

Berdasarkan pengujian yang dilakukan. Hasil analisis ayakan pada agregat halus dan kasar sebagai berkiut :

Agregat Halus

0.10 1.00 10.00

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Gradasi Zona I

Agregat Uji Batas Atas Batas Bawah

Diameter Saringan (mm)

Jumlah butir lolos (%)

Gambar 4. 1 Grafik Gradasi Zona 1 Sumber : Hasil pengolahan data

(55)

Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa hasil analisis ayakan agregat halus yang telah diuji berdasarkan standar ASTM C-136-46 dalam praktikum memenuhi syarat pada gradasi zona satu.

Agregat Kasar

0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00

Zona Gradasi 1

Agregat Uji Batas Atas Batas Bawah

Diameter Saringan (mm)

Jumlah Butir Lolos (%)

Gambar 4. 2 Grafik Gradasi Zona 1 Sumber : Hasil pengolahan data

Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa hasil analisis ayakan agregat kasar yang telah diuji berdasarkan standar ASTM C-136-46 dalam praktikum memenuhi syarat pada gradasi zona satu.

(56)

Tabel 4. 1 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Agregat

Sumber : Hasil pengujian Laboratorium Teknik Sipil Universitas Yapis Papua Berdasarkan Tabel diatas dapat dilihat hasil pemeriksaan karakterisitik agregat halus dan agregat kasar. Pada analisis ayakan, kadar air dan kadar lumpur memenuhi syarat standar ASTM yang digunakan.

b. Kadar Air Agregat Halus

Kadar air agregat merupakan perbandingan antara massa air yang dikandung agregat dengan massa agregat dalam keadaan kering oven dan dinyatakan dalam satuan persen.

c. Kadar Lumpur Agregat Halus

Pemeriksaan kadar lumpur bertujuan untuk menentukan persentase kandungan lumpur dalam pasir sebagai syarat untuk bahan konstruksi. Salah satu syarat teknis adalah agregat halus (pasir) tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % berat pasir. Kadar lumpur agregat normal yang diijinkan SK SNI S–04–

1989–F untuk agregat halus (pasir) maksimal 5% dan untuk agregat kasar (split) maksimal 1%.

(57)

Dengan bertambahnya kandungan lumpur,berarti semakin banyak/luas permukaan agregat halus yang tertutup lumpur,sehingga mengurangi bereaksinya pasta semen dengan agregat halus yang berakibat memperkecil daya ikat dan mengurangi kuat tekan dan kuat tarik belah beton.

4.2. Rencana Campuran Beton

Dalam perencanaan campuran beton harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut:

Perhitungan perencanaan campuran beton harus didasarkan pada data sifat-sifat bahan yang akan dipergunakan dalam produksi beton;

Susunan campuran beton yang diperoleh dari perencanaan ini harus dibuktikan melalui campuran coba yang menunjukan bahwa proporsi tersebut dapat memenuhi kekuatan beton yang disyaratkan.

Tabel 4. 2 Rencana campuran beton

Sumber : Data perhitungan 2022 4.3. Pengujian Slump Test

Slump test beton adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui seberapa kental adukan beton yang akan di produksi. Dibalik dari kualitas sebuah mix design beton, ternyata perlu dilakukan pengujian dari kadar kekentalan beton itu sendiri agar mencapai kuat tekan beton rencana.

(58)

Setelah melakukan pencampuran (Mix Design) dilakukan pengujian slump test pengujian slump test dilakukan sekali dan mendapatkan hasil sebagai berikut.

Tabel 4. 3 Pengujian slump test

Nilai slump Hasil yang diinginkan Hasil yang didapat

100-120 mm 12 cm 17 cm

Sumber : Data perhitungan 2022

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat jika nilai slump yang diuji 100-120 mm dan hasil yang diinginkan 12 cm. Tetapi hasil dari nilai slump yang kita dapatkan sebesar 17 cm dan tidak memenuhi syarat sebab, terjadi kesalahan dalam perhitungan.

4.4. Kuat Tekan Beton

Dari pengkuran yang di lakukan telah di lakukan pada beton selinder didapatkan rata-rata volume beton kubus sebelum di uji kuat tekan beton adalah 529,9 mm³ dan rata-rata volume beton kubus setelah di uji kuat tekan beton 529,9 mm³

Luas Bidang A= π D2 cm A= 3.14.152 cm A= 706,5 cm2

Dengan demikian akan terjadi tegangan merata sebagai fungsi gaya di luas permukaan sebagai berikut:

Tegangan = F/A

Konversi 1KN = 101,971KG F’c = 110,1 x 101,971 : 70650 F’c = 158,91 Kg/Cm2

(59)
(60)

4.5. Hasil Pengujian Beton

Selain penggunaan bahan penyusun yang baik, umumnya akan dilakukan pengujian beton untuk mengetahui kekuatan beton tersebut. Pengujian beton dilakukan dengan mengukur tingkat kekerasan beton dengan berbagai metode. Uji kuat tekan beton dilakukan untuk mengukur kekuatan beton dengan cara memberikan tekanan pada sampel beton hingga beton mengalami kehancuran.

3 7 14 21 28

0 2 4 6 8 10 12 14 16

6.74 7.02 7.66

9.63

14.65

hari

hari

Kuat Tekan Beton

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa pada hari ke-3 kuat tekan memiliki nilai yaitu 6.74 Mpa , lalu mengalami peningkatan yaitu 7.02 Mpa pada hari ke – 7, lalu kuat tekan mengalami peningkatan yaitu 7.66 Mpa pada hari ke – 14 dan tidak mengalami perubahan yaitu 9.63 Mpa pada hari ke 21, dan mengalami peningkatan lagi yaitu 14.65 Mpa yang dimana hasil uji kuat tekan pada hari ke – 28 merupakan hasil kuat tekan paling tinggi.

(61)

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan

Dari hasil praktikum beton dan bahan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

1. Pada analisa saringan didapatkan nilai modulus kehalusan pada agregat halus adalah 2.716 dan agregat kasar 6.968

2. Rata rata kadar air pada kedua sampel pada aggregat halus adalah 2,898 dan agregat kasar adalah 1.494.

3. Rata-rata berat volume dari kedua sampel pada aggregat halus pada kondisi gembur 1.373 kg/ltr, kondisi padat 1.6092kg/ltr. Dan agregat kasar pada kondisi gembur 1434 kg/ltr dan kondisi padat 1.545 kg/ltr

4. Rata-rata spesific grafity yang didapatkan dari kedua sampel aggregat halus adalah apprent spec grafity = 2,82, On Dry Basic = 2,65, SSD Basic

= 2,71, dan water absoption = 2,30. Sedangkan pada agregat kasar adalah apprent spec grafity = 2,797, On Dry Basic = 2,734, SSD Basic = 2,756, dan water absoption = 2,831.

5. Berdasarkan hasil praktikum didapatkan proporsi campuran dari mix design semen = 3,89 kg, air =2,30 ltr agregat halus = 9,08 kg , aggregat kasar 12,75 kg .uji kuat tekan sampel 1 sebesar 158,91 kg/cm.

5.2. Saran

Berikut adalah saran – saran yang mungkin bias diikuti saat pelaksanaan praktikum :

1. Dalam melakukan melakukan pemeriksaan bahan-bahan yang digunakan dalam campuran beton, sebaiknya dilakukan pengecekan ulang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

2. Dalam proses pencucian aggregat halus maupun kasar sebaiknya dilakukan pencucian berulang kali sampai air terlihat jernih. Agar pada

(62)

saat penimbangan, nilai kadar lumpur yang terkandung di dalam agregat halus maupun kasar berkurang.

3. Mahasiswa harus memperhatikan berapa nilai kadar lumpur, kadar air, serta berat pada benda uji, agar pada saat perhitungan mix design tidak terjadi kesalahan perhitungan / Human Eror

4. Dalam pelaksanaan pengecoran beton pada benda uji bohler kubus mahasiswa harus memperhatikan pemadatan secara baik dan sempurna.

5. Untuk mendapatkan kualitas beton yang lebih baik, hendaknya mahasiswa memperhatikan juga faktor perawatan pada beton. Penambahan fasilitas berupa perendaman juga diperlukan untuk menghindari pengaruh cuaca terhadap proses pengerasan pada beton.

(63)

DAFTAR PUSTAKA

Kusuma 2017. Pengertian beton dapat diakses pada : http://eprints.ums.ac.id/60033/4/3.BAB%202

Hadi H, ST. 2019 Jenis-jenis beton dapat diakses pada:

https://www.ilmubeton.com/2019/10/JenisBetonDanKegunaannya

irvan 2019. Kelebihan dan Kekurangan beton, dapat diakses pada:

http://irvancivil19.blogspot.com/2016/11/kelebihan-dan-kekurangan-beton- sebagai

(64)

LAMPIRAN Lampiran 1

Pengujian analisa saringan agregat halus. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan pembagian butir (gradasi) agregat halus dengan menggunakan saringan.

Lampiran 2

Melakukan pemadatan agregat dengan ditusuk-tusuk bagian keliling bohler sebanyak 15 kali dan dibagian tengah 10 kali dan setelah padat ditimbang.

Gambar

Gambar 3. 1 Lokasi Lapangan (Sumber : google.com)
Gambar 3. 2 Aggregat kasar Sumber: cube.ums.ac.id
Gambar 3. 3 Aggregat halus Sumber: cube.ums.ac.id
Gambar 3. 4 Air Sumber: .beritasatu.com
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini dapat disebabkan karena kaca yang digunakan dalam bentuk butiran kristalis yang ketika tersebar dalam adukan beton dapat menyebabkan kerekatan antar agregat

Metode yang digunakan untuk mengetahui kualitas pakan adalah uji fisik, kimia, maupun uji mikroskopis. Secara umum sifat fisik bahan tergantung dari jenis dan ukuran partikel

Dapat disimpulkan dalam pratikum kali ini mahasiswa dapat menentukan pembagian butir (gradasi) agregat halus dan agregat kasar dengan menggunakan saringan, untuk keperluan

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan pembagian butir (gradasi) agregat halus dan agregat kasar dengan menggunakan saringan untuk.. keperluan

Agregat halus (pasir) adalah agregat yang semua butirannya menembus ayakan dengan lubang 4.8 mm, sedangkan agreagat kasar (kerikil) agregat yang semua butirannya tertinggal di

Beton adalah campuran antara semen portland, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan yang membentuk massa padat2. Bahan-bahan pembentuk beton adalah :

Agregat adalah partikel mineral yang berbentuk butiran-butiran yang merupakan salah satu penggunaan dalam kombinasi dengan berbagai macam tipe mulai dari sebagai bahan

Perhitungan kadar agregat halus berdasarkan dasar massa dilakukan dengan mengacu pada Tabel 11.5 yang bersumber dari SNI 7656:2012, yaitu untuk ukuran nominal agregat maksimum 37,5 mm