Laporan Praktikum II Sistem Pertanian-Peternakan Terpadu BUDIDAYA TANAMAN SAYURAN
OLEH :
NAMA : SRI AYU AZHARI
NIM : L1A120217
KELAS : E
KELOMPOK : IV (EMPAT)
ASISTEN : WA ODE WINDA NUR SABILA
JURUSAN PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI 2023
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pupuk organik adalah hasil dekomposisi bahan-bahan organik oleh mikroorganisme yang menghasilkan unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pupuk organik berperan penting dalam meningkatkan kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah. Aplikasi pupuk organik dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik karena pupuk organik bersifat lepas lambat. Pupuk organik biasanya digunakan untuk sayuran dan tanaman lain yang membutuhkan unsur hara.
Sayuran merupakan sebutan umum bagi bahan pangan asal tumbuhan yang biasanya mengandung kadar air tinggi dan dikonsumsi dalam keadaan segar atau setelah diolah secara minimal. Sayuran merupakan komoditas penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Komoditas ini memiliki keragaman yang luas dan berperan sebagai sumber karbohidrat, protein nabati, vitamin dan mineral (Taufik 2017).
Pentingnya mengetahui budidaya sayuran yaitu untuk melihat perkembangan dan pertumbuhan tanaman yang ditanam menggunakan pupuk organik. Jika tanaman tumbuh subur, artinya tanah tersebut memiliki unsur hara yang cukup untuk sayuran tersebut dan sebaliknya jika tanaman tidak tumbuh dengan subur, artinya tanaman tersebut kekurangan unsur hara. Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat dilakukan praktikum budidaya sayuran.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pupuk Organik
Pupuk organik merupakan pupuk yang diproduksi dari bahan-bahan alam seperti protein hewan, tulang hewan, dan bahan dari tumbuh-tumbuhan, sehingga menghasilkan suatu campuran nutrisi yang benar-benar mudah diserap oleh tanaman dan dapat memperbaiki kondisi lahan. Penggunaan pupuk organik memberikan berbagai keuntungan bagi keberlangsungan alam dan lingkungan (Riyadi et al. 2022).
Penggunaan pupuk organik dapat mengembalikan unsur hara tanah yang berperan menyediakan hara bagi tanaman untuk mendapat produktifitas yang optimal. Pupuk organik memberikan dampak positif bagi tanah dibandingkan dengan pupuk kimia. Apabila tanaman terus menerus diberi pupuk kimia, akan berdampak buruk bagi tanah (Amini et al. 2020).
Sifat yang di miliki oleh pupuk organik adalah sebagai elemen pengikat tanah dengan tekstur pasir, serta jadi pengikat air, sistem drainase serta pola udara dalam tanah, dan penyediaan mikroba bagi tumbuh tanaman dan mengurangi mikroorganisme yang di rasa akan merugikan tanaman, dan pelapukan unsur mineral (Handayani et al. 2019).
2.2. Jagung
Jagung merupakan salah satu tanaman serelia dan bahan pangan yang penting karena mengandung sumber karbohidrat. Tanaman ini memiliki daya hasil yang tinggi dan kegunaan yang luas. Tanaman ini memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional dan memiliki fungsi multiguna, seperti pakan ternak.
Dengan kata lain, jagung juga dapat digunakan sebagai bahan baku industri (Rosiani 2020).
Klasifikasi tanaman jagung adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledone
Ordo : Graminae
Famili : Graminaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L. (Paeru dan Dewi 2017).
Tanaman jagung terbagi menjadi beberapa bagian utama, yaitu akar, batang, daun, bunga dan buah (tongkol). Jagung mempunyai tiga macam akar serabut, yaitu (a) akar seminal, (b) akar adventif dan (c) akar kait atau penyangga.
Akar seminal adalah akar yang berkembang dari radikula dan embrio. Akar adventif adalah akar yang berkembang dari buku di ujung mesokotil. Akar kait atau penyangga adalah akar adventif yang muncul pada dua atau lebih buku di atas permukaan tanah (Subekti et al. 2018).
2.3. Terong
Terong (Solanum melongena L.) adalah komoditas hortikultura yang cukup populer di masyarakat. Berbagai sayuran olahan maupun bentuk mentah telah menjadi kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi terong. Nilai gizi yang terkandung dalam terong juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi.
Tanaman terong mampu hidup dengan baik dari dataran rendah sampai ketinggian mencapai 1000m. Tanaman terong menghendaki suhu lingkungan berkisar antara 22-30º C dengan tingkat kemasaman tanah 5-6 (Musthafa 2022).
Klasifikasi tanaman terong adalah sebagai berikut : Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida Ordo : Solanales Famili : Solanaceae Genus : Solanum
Spesies : Solanum melongena L. (Prahasta 2018).
Tanaman terong menghendaki sifat kimia dan fisik tanah yang baik untuk menunjang pertumbuhannya. Perbaikan sifat kimia tanah dilakukan dengan penambahan unsur hara melalui pemupukan. Pertumbuhan melalui pembentukan jaringan tanaman membutuhkan unsur kimia yang disebut unsur hara tanaman tersebut. Tanaman membutuhkan unsur hara esensial sebanyak 16 jenis, yaitu karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, belerang, besi, mangan, boron, molibdenum, tembaga, seng dan klor (Sahetapy, 2017).
2.4. Kacang Panjang
Tanaman kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan tanaman kelompok kacang-kacangan. Kacang panjang biasa dikonsumsi sebagai sayuran, baik diolah terlebih dahulu ataupun dimakan secara langsung karena memiliki gizi yang tinggi. Tanaman ini memiliki kandungan gizi berupa karbohidrat sebesar 70,00%, protein sebesar 17,30%, lemak sebesar 1,50% serta air 12,20% (Sudartik dan Thamrin 2019).
Klasifikasi tanaman kacang panjang adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae - Plants
Subkingdom : Tracheobionta - Vascular plants Superdivision : Spermatophyta - Seed plants Division : Magnoliophyta - Flowering plants Class : Magnoliopsida - Dicotyledons Subclass : Rosidae
Orde : Fabales
Family : Fabaceae - Pea family Genus : Vigna Savi - cowpea P
Species : Vigna unguiculata (L.) (USDA 2018).
Kacang panjang (Vigna sinensis L.) dwiguna yaitu sayuran polong dan sebagai penyubur tanah. Tanaman sebagai penyubur tanah karena pada akar- akarnya terdapat bintil-bintil bakteri Rhizobium. Serta mengandung zat gizi seperti protein, kalori, vitamin A dan vitamin B (Anto 2016).
III. METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Budidaya Tanaman Sayuran dilaksanakan selama 2 minggu yaitu dimulai pada tanggal 10 Juni – 26 Juni 2023, bertempat di Laboratorium Unit Agrostologi, Fakultas Peternakan, Universitas Halu Oleo, Kendari.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Alat dan kegunaan
No Alat Kegunaan
1 Pacul Untuk menggemburkan tanah
2 Sekop Untuk membuat bedeng
3 Pita ukur Untuk mengukur tanaman
4 Bambu Untuk tempat merambat tanaman
5 Parang Untuk membersihkan lahan
6 Alat tulis Untuk mencatat hasil pengamatan
7 Hp Untuk dokumentasi
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Bahan dan kegunaan
No Bahan Kegunaan
1 Pupuk organik Untuk menambah unsur hara tanaman 2 Bibit jagung Sebagai objek pengamatan
3 Bibit kacang panjang Sebagai objek pengamatan 4 Bibit terong Sebagai objek pengamatan
3.3. Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Membersihkan lahan, menggemburkan tanah dan membuat 4 bedengan.
3. Menaburkan pupuk pada 2 bedengan dan 2 bedengan lagi tidak ditaburkan pupuk untuk melihat perbedaan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
4. Melakukan penanaman jagung dan terong dalam satu bedeng yang dipupuk dan dalam satu bedeng yang tidak dipupuk.
5. Melakukan penanaman kacang panjang pada bedengan yang dipupuk dan pada bedengan yang tidak dipupuk, serta menancapkan bambu di pinggir tanaman tersebut untuk tempatnya merambat.
6. Melakukan pengamatan selama 2 minggu.
7. Mencatat hasil pengamatan 8. Membuat laporan.
3.4. Diagram Alir
Gambar 1. Diagram Alir
Menyiapkan alat dan bahan Menyiapkan alat dan bahan
Membersihkan lahan, menggemburkan tanah dan
membuat 4 bedengan Membersihkan lahan, menggemburkan tanah dan
membuat 4 bedengan Menaburkan pupuk pada 2 bedengan dan 2 bedengan lagi
tidak ditaburkan Menaburkan pupuk pada 2 bedengan dan 2 bedengan lagi
tidak ditaburkan Melakukan penanaman jagung
dan terong Melakukan penanaman jagung
dan terong Melakukan penanaman kacang
panjang
Melakukan penanaman kacang panjang
Melakukan pengamatan selama 2 minggu
Melakukan pengamatan selama 2 minggu
Mencatat hasil pengamatan dan membuat laporan
Mencatat hasil pengamatan dan membuat laporan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan tanaman jagung dapat disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil pengamatan tanaman jagung Pengamatan Tanama
n
P0 P1
TT JD TT JD
Minggu 1
1 5 2 5 2
2 0 0 0 0
3 0 0 0 0
Minggu 2
1 9 3 26 5
2 0 0 0 0
3 0 0 0 0
Rata-rata 2,3 0,83 5,17 1,17
Hasil pengamatan tanaman kacang panjang dapat disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil pengamatan tanaman kacang panjang Pengamatan Tanama
n
P0 P1
TT JD TT JD
Minggu 1
1 6 2 10 2
2 0 0 7 2
3 3 0 11 2
Minggu 2
1 13 5 22 5
2 0 0 16 5
3 5 4 22 5
Rata-rata 4,5 1,83 14,67 3,5
Hasil pengamatan tanaman terong dapat disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Hasil pengamatan tanaman terong Pengamatan Tanama
n
P0 P1
TT JD TT JD
Minggu 1 1 0 0 0 0
2 0 0 0 0
3 0 0 0 0
Minggu 2 1 0 0 0 0
2 0 0 0 0
3 0 0 0 0
Rata-rata 0 0 0 0
4.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan pada Tabel 3 menujukkan bahwa rata-rata tinggi tanaman jagung yang tidak diberi pupuk yaitu 2,3 cm, sedangkan rata-rata tinggi tanaman jagung yang diberi pupuk yaitu 5,17. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan pupuk organik sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman karena pupuk organik menyediakan zat unsur hara yang cukup untuk tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan subur. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutedjo (2018) bahwa dalam usaha pengadaan zat hara bagi tanah yang telah diberi pupuk, maka pupuk organik mempunyai fungsi yang penting yaitu untuk menggemburkan lapisan tanah, meningkatkan populasi jasad renik, mempertinggi daya serap dan daya simpan air, yang seluruhnya dapat meningkatkan kesuburan tanah. Hal ini diperkuat oleh Junaidi (2022) bahwa budidaya jagung memerlukan bahan organik seperti pupuk kandang ayam yang kaya akan unsur hara atau nutrisi, dan memliki aerasi yang baik, memperbaiki tekstur tanah, memberikan unsur hara yang baik sehingga pertumbuhan tanaman dapat berkembang dengan baik.
Hasil pengamatan pada Tabel 3 menunjukkan bahwa rata-rata jumlah daun tanaman jagung yang tidak diberi pupuk yaitu 0,83, sedangkan rata-rata jumlah daun yang diberi pupuk yaitu 1,17. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik dapat mempengaruhi jumlah daun karena adanya zat unsur hara pada tanah. Hal ini sesuai dengan pendapat Gusniawati et al. (2018) unsur hara Nitrogen (N) yaitu unsur hara terpenting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, dimana unsur hara tersebut merupakan unsur hara esensial untuk
pembentukan pada bagian-bagian vegetatif tanaman, yaitu pada bagian daun, batang dan akar. Hal ini diperkuat oleh Agustine et al. (2022) bahwa jumlah Nitrogen (N) dalam pupuk organik dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman jagung untuk menghasilkan daun yang lebih banyak.
Berdasarkan hasil pengamatan pada Tabel 4 menunjukkan bahwa rata-rata tinggi tanaman kacang panjang yang tidak diberi pupuk yaitu 4,5 cm, sedangkan rata-rata tinggi tanaman kacang panjang yang diberi pupuk yaitu 14,67. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya pupuk yang diberikan pada tanaman, maka tanaman tersebut akan menyerap unsur hara melalui akar sehingga pertumbuhannya meningkat. Hal ini sesuai dengan pendapat Lubis et al. (2019) bahwa semakin tinggi dosis pupuk yang diberikan, maka semakin banyak unsur hara yang dapat diserap oleh akar tanaman. Akibatnya pertumbuhan tanaman produksi per tanaman akan meningkat. Hal ini diperkuat oleh Hanisar (2019) bahwa pupuk N, P dan K sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman terutama dalam merangsang pertumbuhan tinggi tanaman dan pembesaran diameter batang.
Hasil pengamatan pada Tabel 4 menujukkan bahwa rata-rata jumlah daun tanaman kacang panjang yang tidak diberi pupuk yaitu 1,83, sedangkan rata-rata jumlah daun yang diberi pupuk yaitu 3,5. Hal ini menujukkan bahwa pemberian pupuk organik memperlihatkan pengaruh yang lebih baik terhadap jumlah daun dibandingkan dengan yang tidak diberi pupuk. Hal ini sesuai dengan pendapat Kahar et al. (2022) bahwa pupuk organik yang diberikan pada tanaman kacang panjang telah tersedia sehingga dapat diserap oleh tanaman untuk memacu pertumbuhannya termasuk tinggi tanaman dan jumlah daun. Hal ini diperkuat oleh
Angkur (2021) bahwa jumlah daun berhubungan dengan penyerapan unsur hara dan peningkatan penyerapan unsur hara menyebabkan peningkatan kadar klorofil tanaman, sehingga meningkatkan laju fotosintesis.
Berdasarkan hasil pengamatan pada Tabel 5 menunjukkan bahwa tanaman terong yang diberi pupuk dan yang tidak diberi pupuk tidak tumbuh. Hal ini disebabkan karena kualitas tanah yang kurang baik dan metode penyiraman yang tidak baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Habibie (2020) bahwa kandungan unsur hara yang rendah khususnya N dapat menyebabkan tanaman tidak tumbuh dengan subur. Hal ini diperkuat oleh Dwidjoseputro (2018) bahwa tanaman akan tumbuh subur dan memberikan hasil yang baik jika unsur hara yang dibutuhkannya tersedia dalam jumlah cukup dan seimbang.
DAFTAR PUSTAKA
[USDA] United State Departement of Agriculture. 2018. Classification for Kingdom Plantae Down to Species Vigna unguiculata (L.) Walp. Ssp.
Unguiculata.
Agustine L, Ramadhan RAM, Andri dan Manurung R. 2022. Pengaruh pemberian pupuk anorganik, organik, dan pupuk campuran terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun pada tanaman jagung (Zea mays l.). JTech 10(2): 1-4.
Amini Z, Dwirayani D dan Eviyati R. 2020. Pemanfaatan pupuk organik takakura terhadap pertumbuhan tanaman pakcoy. J. Agrosintesa. 3(2): 63-70.
Angkur E, Bagus I, Mahardika K dan Sudewa IKA. 2021. Pengaruh pupuk kandang sapi, NPK mutiara terhadap tanaman kacang panjang (Vigna sinensis L.). Gema Agro. 26(01): 56–65.
Anto A. 2016. Teknologi budidaya kacang panjang. Penyuluh Pertanian. BPTP Kalimantan. 2(1): 22–28.
Dwidjoseputro D. 2018. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia.
Gusniawati, Fatia N dan Arif R. 2018. Pertumbuhan dan hasil tanaman jagung dengan pemberian kompos alang-alang. Jurnal Agronomi. 12(2).
Habibie. 2020. Pengaruh pemberian pupuk cantik dan pupuk organik cair hormonik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terong ungu (Solanum melongena L.) Varietas yuvita F1. Jurnal AGRIFOR. 19(1): 135-148.
Handayani L, Nurhayati N, Rahmawati C dan Meliyana M. 2019. Pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) dari limbah dapur bagi ibu-ibu Desa Paya Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya. Jurnal Abdimas BSI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. 2(2), 359–365.
Hanisar W. 2019. Pengaruh pemberian pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas kacang hijau (Vigna radiata L.). Universitas PGRI Yogyakarta.
Junaidi. 2022. Respon tanaman jagung manis (Zea mays saccharata sturt) terhadap jumlah benih per lubang dan pemberian pupuk kandang ayam.
Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA). 2(6): 2827-2846.
Kahar, Ahmad F dan Mustamin. 2022. Pengaruh pemberian pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.).
Jurnal Ilmiah Cendekia Eksakta. 1-7.
Lubis N, Refnizuida dan Fauzi HIR. 2019. Pengaruh pemberian pupuk organik daun kelor dan pupuk kotoran puyuh terhadap pertumbuhan dan produksi
tanaman kacang panjang (Vigna cylindrica L). TALENTA Conference Series: Science & Technology (ST)
Musthafa BM. 2022. Pertumbuhan dan hasil tanaman terong dengan penambahan pupuk kandang dan arang sekam pada media tanam. Jurnal Sosial Dan Sains. 2(2): 230-236.
Paeru RH dan Dewi TQ. 2017. Panduan Praktis Budidaya Jagung. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal: 20-22.
Prahasta A. 2018. Agribisnis Jagung. Bandung: CV Pustaka Grafika.
Riyadi S, Priyono dan Triyono K. 2022. Pengaruh pemberian konsentrasi pupuk organik cair dan pupuk kandang kambing terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman labu madu (Cucurbita moschata). Innofarm: Jurnal Inovasi Pertanian. 24 (1): 101-107.
Rosiani. 2020. Segmentasi berbasis k-means pada deteksi citra penyakit daun tanaman jagung. Jurnal Informatika Polinema. 2(1): 20-30.
Sahetapy M. 2017. Respon terong (Solanum melongena L.) terhadap perlakuan dosis pupuk herbafarm. JIU (Jurnal Ilmiah Unklab). 1–7.
Subekti NA, Syafruddin, Efendi R dan Sunarti S. 2018. Morfologi Tanaman dan Fase Tanaman Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Maros. Hal. 16- 28.
Sudartik E dan Thamrin NT. 2019. Penggunaan jarak tanam dan aplikasi dosis pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang panjang (Vigna sinensis L.). Jurnal Pertanian Berkelanjutan. 7(2): 163- 171.
Sutedjo M. 2018. Pupuk Dan Cara Pemupukan. Jakarta : Rineka Cipta.
Taufik M. 2017. Strategi pengembangan agribisnis sayuran di Sulawesi Selatan.
Jurnal Litbang Pertanian. 31(2): 43-50.