• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH kel.2

N/A
N/A
ANANTASYA YULI ASRIDA

Academic year: 2024

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH kel.2"

Copied!
131
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH

Disusun Oleh : KELOMPOK 2

1. Denise Putri Ridha (D100230044) 2. Amanda Anastasya (D100230106) 3. Anisa Renata Maharani (D100230173)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

SURAKARTA 2023

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah ini telah disetujuui dan telah disahkan sebagai satu syarat kelulusan mata kuliah Praktikum Ilmu Ukur Tanah Program Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Surakarta pada :

Hari : Senin

Tanggal : 4 Maret 2024

Laporan Praktikum ini disusun dan dikerjakan oleh : Kelompok 2 :

1. Denise Putri Ridha (D100230044) 2. Amanda Anastasya (D100230106) 3. Anisa Renata Maharani (D100230173)

Dosen Pengampu Praktikum Ilmu Ukur

Tanah

Hafidzul Azmi NIK.100.2217

Asisten Dosen Praktikum Ilmu Ukur Tanah

Tito Yudhistira NIM. D1002

Mengetahui,

Kepala Laboratorium Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Surakarta

Budi Setiawan, S.T., M.T. NIK. 785

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah ini dengan baik.

Pembuatan Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Ukur Tanah pada Fakultas Teknik Program Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Banyak hambatan dalam menyelesaikan Laporan Praktikum ini, namun berkat bantuan dan dorongan berbagai pihak, hambatan dapat teratasi. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penyusun ingin mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Budi Setiawan, S.T., M.T. selaku kepala Laboratorium Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Surakarta yang telah memberikan izin kepada kami untuk melaksanakan praktikum di laboratorium Teknik Sipil.

2. Ibu Nur Khotimah Handayani, S.T., M.Eng. selaku dosen pembimbing mata kuliah Praktikum Ilmu Ukur Tanah.

3. Saudari Syntia Ramanda Mayangsary selaku asisten dosen Praktikum Ilmu Ukur Tanah yang telah membimbing dan mengarahkan penulis.

4. Teman-teman dan rekan satu kelompok yang telah memberikan dorongan dan bantuan.

Penulis menyadari bahwa penulisan dan penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mohon maaf dan semoga Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah ini dapat bermanfaat bagi penulis pribadi dan kita semua.

Surakarta,

(4)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……….

HALAMAN PENGESAHAN………..

LEMBAR ASISTENSI……….

KATA PENGANTAR………...

DAFTAR ISI……….

DAFTAR TABEL……….

DAFTAR GAMBAR………

DAFTAR GRAFIK………...

BAB I. PENDAHULUAN………

A. Maksud dan Tujuan………

B. Pemetaan………

BAB II: WATERPASS………..

A. Waterpass………...

1. Prinsip Kerja Alat……….

2. Persyaratan Alat………

3. Kegunaan Alat………..

4. Kelengkapan Alat……….

5. Spesifikasi Alat……….

6. Bagian – Bagian Alat Ukur Waterpasss dan Fungsinya……….

7. Cara Mengoperasikan Alat Ukur Waterpass……….

8. Metode dan Jenis Waterpass……….

B. Petunjuk Pelaksanaan Praktikum Waterpass………..

1. Tujuan………...

2. Alat yang Digunakan………

3. Ketentuan Teknis………..

4. Langkah / Tahapan Praktikum………..

(5)

BAB III: POLYGON………

A. Theodolit………

1. Prinsip Kerja Alat……….

2. Persyaratan Alat………

3. Kegunaan Alat………..

4. Kelengkapan Alat……….

5. Spesifikasi Alat……….

6. Bagian– Bagian Alat Ukur Theodolit dan Fungsinya………

7. Cara Mengoperasikan Alat Ukur Theodolit………..

B. Skala………...

C. Kontur………

D. Pengukuran Polygon………...

1. Perhitungan Sudut………

2. Perhitungan Azimuth………

3. Perhitungan Koordinat……….

E. Pengukuran Detail………..

1. Metode Pengukuran………..

2. Pengukuran dengan Jarak Miring……….

3. Pehitungan Titik Kipas / Detail……….

F. Petunjuk Pelaksanaan Praktikum………

1. Polygon Tertutup...

a. Tujuan...

b. Alat yang Digunakan...

c. Ketentuan Teknis ...

d. Langkah atau Tahapan Pengukuran Polygon ...

2. Pengukuran Kipas ...

a. Tujuan...

b. Alat yang Digunakan...

c. Ketentuan Teknik...

d. Langkah atau Tahapan Praktikum ...

(6)

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN………...

A. Kesimpulan………

1. Polygon………..

2. Waterpass………...

B. Saran………...

PENUTUP……….

LAMPIRAN………..

(7)

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1. Garis Bidik Sejajar Garis Nivo ...

Gambar II.2. Garis Bidik Tidak Sejajar Garis Nivo ...

Gambar II.3. Sumbu Satu Tegak ...

Gambar II.4. Sumbu Satu Tidak Tegak ...

Gambar II.5. Benang Diafragma Mendatar Tegak Lurus Sumbu Satu...

Gambar II.6. Benang Diafragma Mendatar Tidak Tegak Lurus Sumbu Satu..

Gambar II.7. Benang Diafragma dan Stadia ...

Gambar II.8.Waterpass diatas kaki tiga ...

Gambar II.9. Rambu Ukur (a) dan Pin (b) ...

Gambar II.10. Waterpass sederhana...

Gambar II.11. Waterpass NK1 ...

Gambar II.12. Waterpass NK2 ...

Gambar II.13. Posisi Tiga Skrup Pendatar pada Kepala Kaki Tiga ...

Gambar II.14. Contoh Pembacaan Rambu...

Gambar II.15. Contoh Pembacaan Sudut Pada Waterpass ...

Gambar II.16. Waterpass dengan instrumen di tengah antara 2 titik ...

Gambar II.17. Waterpass dengan Instrumen Tidak di Tengah Antara 2 titik ..

Gambar II.18. Mendapatkan tinggi titik pengukuran untuk B bila titik A telah diketahui tingginya ...

Gambar II.19. Pengukuran tgv dengan titik A diketahui tingginya ...

Gambar II.20. Waterpass memanjang ...

Gambar II.21. Pembacaan waterpass pergi ...

Gambar II.22. Pembacaan waterpass pulang ...

Gambar III.1. Sumbu kesatu Tidak Vertikal ...

Gambar III.2. Sumbu Kedua tidak Mendatar...

Gambar III.3. Garis bidik tidak tegak lurus sumbu kedua ...

Gambar III.4. Teodolit Sederhana ...

Gambar III.5. Theodolit To Wild ...

(8)

Gambar III.6. Teodolit To Bumon ...

Gambar III.7. Kontur ...

Gambar III.8. Polygon ...

Gambar III.9. Pengukuran jarak miring ...

Gambar III.10. Pengukuran sudut horizontal...

Gambar II.11. Pembacaan azimuth Awal ...

Gambar III.12. Pembacaan bak ukur...

Gambar III.13. Pengukuran kipas tinggi...

Gambar III.14. Pengukuran kipas pada bangunan jalan ...

Gambar III.15. Polygon prime sketsa pada pengukuran kipas...

Gambar CAD Grafik Waterpass Memanjang...

Gambar CAD Peta Pengipasan dan CS...

Gambar CAD Peta Cross Section...

Gambar CAD Cross Section Titik B,1, dan 2...

Gambar CAD Cross Section Titik 3,4, dan 5...

Gambar CAD Cross Section Titik 6,7, dan A...

Gambar CAD Peta Pengipasan...

Gambar CAD Pengipasan Titik B,1, dan 2...

Gambar CAD Pengipasan Titik 3,4, dan 5...

Gambar CAD Pengipasan Titik 6,7, dan A...

Gambar CAD Polygon Tertutup……... ...

Gambar CAD Sudut Azimuth...

Gambar CAD Sudut Dalam...

Gambar CAD Sudut Luar...

Gambar CAD Pengipasan D...

Gambar CAD Pengipasan E...

Gambar CAD Pengipasan A ...

Gambar CAD Pengipasan B...

Gambar CAD Pengipasan C...

Gambar CAD Pengipasan Tanpa Kontur...

(9)

Gambar Kontur...

Gambar Denah Kontur...

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel II.1. Limitasi kesalahan dalam pengukuran Waterpass...

Tabel II.2. Perhitungan Waterpass ...

Tabel II.3. Contoh formulir pengisian data pada pengukuran Waterpass...

Tabel Perhitungan Waterpass Memanjang Pergi ...

Tabel Perhitungan Waterpass Memanjang Pulang...

Tabel Perhitungan Waterpass Memanjang...

Tabel Data Cross Section Titik B ...

Tabel Data Cross Section Titik 1...

Tabel Data Cross Section Titik 2...

Tabel Data Cross Section Titik 3...

Tabel Data Cross Section Titik 4...

Tabel Data Cross Section Titik 5...

Tabel Data Cross Section Titik 6...

Tabel Data Cross Section Titik 7...

Tabel Data Cross Section Titik A...

Tabel Data Pengipasan Titik B...

Tabel Data Pengipasan Titik 1 ...

Tabel Data Pengipasan Titik 2 ...

Tabel Data Pengipasan Titik 3 ...

Tabel Data Pengipasan Titik 4 ...

Tabel Data Pengipasan Titik 5 ...

Tabel Data Pengipasan Titik 6 ...

Tabel Data Pengipasan Titik 7 ...

Tabel Data Pengipasan Titik A...

Tabel III.1. Perhitungan koordinat...

Tabel III.2. Contoh kesalahan penutup polygon dan imbangannya ...

Tabel III.3. Pengukuran kipas bila menjumpai bangunan...

Tabel III.4. Contoh data pengukuran kipas ...

(11)

Tabel Data Polygon...

Tabel Data Polygon Besar...

Tabel Data Pengipasan D ...

Tabel Data Pengipasan E ...

Tabel Data Pengipasan A ...

Tabel Data Pengipasan B ...

Tabel Data Pengipasan C ...

(12)

DAFTAR GRAFIK

Grafik Profil Waterpass Memanjang ...

Grafik Profil Cross Section B ...

Grafik Profil Cross Section 1 ...

Grafik Profil Cross Section 2 ...

Grafik Profil Cross Section 3 ...

Grafik Profil Cross Section 4 ...

Grafik Profil Cross Section 5 ...

Grafik Profil Cross Section 6 ...

Grafik Profil Cross Section 7 ...

Grafik Profil Cross Section A ...

Grafik Polygon ...

(13)

BAB I PENDAHULUA

N A. Maksud dan Tujuan

Maksud dari pengukuran yang akan kita lakukan adalah untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk membuat suatu gambaran secara planimetris dan topografis. Yang dimaksud Planimetris adalah kedudukan bangunan-bangunan yang dibuat oleh manusia, sedangkan konigurasi dari keadaan tanah disebut sebagai topografi.

Peta yang menunjukan gambaran planimetris dan topografis disebut topografimap. Di mana dalam peta tersebut ditunjukkan sekaligus jarak-jarak horizontal dan vertikal dari suatu dataran. Dalam mempersiapkan pembuatan peta topografi, diperlukan pengukuran di lapangan termasuk penentuan titik- titik tetap, pekerjaan hitungan dan penggambaran.

B. Pemetaan

Definisi : peta adalah sarana guna memperoleh informasi ilmiah mengenai keadaan permukaan bumi dengan cara menggambar berbagai tanda dan keterangan sehingga mudah di baca dan dimengerti. Dalam ilmu ukur tanah, kita mengenal peta tranches yaitu peta yang dilengkapi dengan garis kontur (garis tinggi) yang menunjukkan ketinggian suatu tempat, situasi dan sebagainya. Peta tersebut biasanya digunakan untuk pembangunan, jadi jenis peta ada bermacam-macam tergantung dari penggunaannya.

(14)

BAB II WATERPAS

S A. Waterpass (Sifat Datar)

Waterpass adalah alat ukur menyipat datar dengan teropong yang dilengkapi dengan nivo dan sumbu mekanis tegak, sehingga teropong dapat berputar ke arah horizontal. Alat ini tergolong alat penyipat datar kaki tiga atau Tripod Level, karena bila digunakan alat ini harus dipasang di atas kaki tiga atau statif.

1. Prinsip Kerja Alat

Prinsip alat kerja ini sama dengan alat penyipat datar lainnya, yaitu garis bidik kesemua arah harus dalam keadaan mendatar, sehingga membentuk bidang datar atau bidang horizontal, dimana titik-titik pada bidang tersebut akan menunjukkan ketinggian yang sama.

2. Persyaratan Alat

Untuk memenuhi prinsip kerja di atas, alat ini mempunyai beberapa persyaratan agar tergolong laik untuk digunakan, yaitu :

1) Garis bidik di dalam tergolong harus sejajar dengan garis arah nivo (Gambar II.1). Tidak sejajarnya garis bidik dengan garis nivo,berarti bidang yang dibentuk oleh garis bidik itu tidak merupakan bidang datar, sehingga titik-titik pada bidang tersebut ketinggiannya tidak sama, semakin jauh dari alat ketinggian garis bidik atau bidang akan semakin rendah(Gambar II.2).

Gambar II.1. Garis Bidik Sejajar Garis Nivo

(15)

2) Sumbu vertikal atau sumbu satu harus betul-betul tegak atau tegak lurus garis bidik dalam keadaan mendatar (Gambar II.3). Bidikan ke dua arah (a) dan (b) mendatar. Tidak tegaknya sumbu satu (Gambar II.4) akan mengakibatkan teropong yang dibidikan ke Gambar II.3. Sumbu satu tegak satu arah dan garis bidiknya sudah dapat diatur mendatar (a), kemudian dibidikan ke arah lain, maka garis bidiknya akan berubah menjadi tidak mendatar lagi (b).

Gambar II.2. Garis Bidik Tidak Sejajar Garis Nivo

Gambar II.3. Sumbu Satu Tegak

3) Benang diafragma mendatar harus tegak lurus pada sumbu satu atau dalam keadaan mendatar (Gambar II.5). Tidak mendatarnya benang diafragma mendatar atau tigak tegak lurus sumbu satu, yang berarti benang diafragma vertikal tidak tegak akibatnya akan menyulitkan menetapkan bidikan atau pembacaan rambu (Gambar II.6).

(16)

Gambar II.4. Sumbu Satu Tidak Tegak

Gambar II.5. Benang Diafragma Mendatar Tegak Lurus Sumbu Satu

Gambar II.6. Benang Diafragma Mendatar Tidak Tegak Lurus Sumbu Satu

(17)

3. Kegunaan Alat

Sesuai konstruksi alat yang dipersiapkan dengan prinsip menyipat datar, maka alat ini dapat digunakan untuk :

1) Memperoleh pandangan mendatar atau mendapatkan garis bidikan yang sama tinggi, sehingga titik-titik yang tepat dengan garis bidik/bidikan akan mempunyai ketinggian yang sama.

2) Dengan pandangan mendatar ini dan diketahuinya jarak dari garis bidik yang dapat dinyatakan sebagai ketinggian garis bidik terhadap titik-titik tertentu, maka akan diketahui atau ditentukan beda tinggi atau ketinggian dari titik-titik tersebut.

Kedua hal diatas adalah kegunaan utama dari alat ukur waterpass sesuai dengan fungsinya sebagai sifat ukur datar dan minimal bagian-bagian alat ya ng semestinya ada,yaitu sumbu satu, teropong dengan garis bidiknya dan nivo. Alat ini dapat ditambah fungsi atau kegunaan dengan menampah bagian alat lainnya.

Umumnya alat ukur waterpass ditambah bagian alat lain, seperti :

a. Benang stadia, yaitu dua buah benang yang berada diatas dan dibawah s erta sejajar dan dengan jarak yang sama dari benang diafragma mendatar, seperti pada Gambar II.7.

Dengan adanya benang stadia ini dan bantuan kelengkapan alat ukur waterpass berupa rambu atau bak ukur, alat ini dapat digunakan atau difungsikan sebagai alat pengukur jarak horizontal atau jarak mendatar.

Pengukuran jarak seperti ini dikenal dengan jarak optik.

Gambar II.7. Benang diafragma dan Stadia

(18)

b. Lingkaran berskala yaitu lingkaran di badan alat yang dilengkapi dengan skala ukur sudut. Dengan adanya lingkaran berskala ini arah yang dinyatakan dengan bacaan sudut dari bidikan yang ditunjukkan oleh benang diafragma tegak dapat ditentukan atau diketahui, sehingga alat dapat ditentukan atau dengan kata lain alat ukur waterpass ini dapat pula difungsikan sebagai alat pengukur sudut horizontal.

4. Kelengkapan Alat

Alat ukur waterpass ini dapat dikatakan sebagai alta yang tidak berdiri sendiri, karena pada penggunanya diperlukan kelengkapan alat lain.

Kelengkapan alat ini ada yang tergolong mutlak harus ada atau kelengkapan utama dan ada yang tergolong sebagai tambahan. Kelengkapan utama adalah kaki tiga atau statif, sehingga pada waktu digunakan alat ukur waterpass terpasang seperti pada Gambar II.8.

Kelengkapan lain yang dapat digolongkan pada kelengkapan tambahan, antara lian :

a. Unting-Unting. Alat ini selain digunakan sebagai centering yaitu menepatkan alat ukur waterpass dipasang tepat diatas titik yang diukur juga dapat digunakan sebagai sasaran bidikan pada pengukuran sudut.

Gambar II.8. Waterpass diatas kaki tiga

(19)

b. Rambu ukur atau bak ukur adalahh alat semacem mistar dengan ukur panjang antara 3 sampai 4 meter yang dapat dipendekan baik dilipat atau sebagian dapat dimasukkan ke bagian lain dan ditarik bila perlu dipanjangkan. Sebagai penunjuk skala yang setiap stripnya menunjukkan 1 cm biasanya selang seling berbentuk hutuf E yang menunjukkan panjang 5 cm, seperti pada Gambar II.9 (a). Alat ini terbuat dari kayu atau bahan almunium. Rambu ukur digunakan sebagai pelengkap alat ukur optik, seperti waterpass sewaktu melakukan pengukuran jarak atau beda tinggi dan pila digunakan untuk mengukur tinggi kedudukan alat waterpass atau teropong diatas kaki tiga dari permukaan tanah.

(a) (b)

Gambar II.9. Rambu Ukur (a) dan Pilox (b)

c. Pilox adalah cat semprot legendaris berkualitas tinggi terbuat dari bahan modifikasi akrilik seperti pada Gambar II.9 (b). Alat ini berfungsi untuk pemberi tanda sementara dari titik-titik pengukuran.

5. Spesifikasi Alat

Spesifikasi alat atau sering dikenal juga istilah data teknis alat adalah data ya ng menunjukkan karakteristik dari alat yang bersangkutan. Pengetahuan ini diperlukan antara lain untuk memperlancar penggunaannya dan untuk

(20)

menentukan atau memilih alat sesuai dengan jenis dan tingkat ketelitian pengukuran yang akan dikerjakan. Perbedaan spesifikasi alat yang paling diperlukan untuk diketahui antara lain satuan bacaan sudut yang digunakan, derajat atau grid dan tingkat ketelitian alat yang ditunjukkan oleh satuan bacaan sudut terkecil ya dapat dibaca dari lat yang bersangkutan. Spesifikasi alat ini biasanya tercantum dalam buku manual dari alat tersebut.

6. Bagian-bagian Alat Ukur Waterpass dan Fungsinya Alat ukur waterpass yang sederhana hanya terdiri dari 4 komponen alat, yaitu :

1) Teropong yang di dalamnya terdapat lensa objektif, lensa okuler, dan dianfragma.

2) Nivo kotak dan nivo tabung.

3) Sumbu satu, dan

4) Tiga sktup pendatar, seperti pada Gambar 2.10.

Gambar II.10. Waterpass sederhana

Dibawah ini disajikan sebagai contoh bagian-bagian alat dan fungsinya dari alat ukur waterpass NK1 dan NK2 buatan Wild Jerman, Gambar II.11 adalah waterpass NK1 dan Gambar II.12 adalah waterpass NK2. Bagian utama dari waterpass NK1/NK2 dan fungsinya adalah sebagai berikut :

(21)

1) Teropong : fungsinya sebagai alat untuk membidik. Bagian yang harus terlihat sewaktu membidik melalui teropong ini adalah benang diafragma dan kalau ada juga benang stadia. Benang diafragmategak fungsinya untuk menepatkan bidikan ke arah horizontal, sedangkan benang diafragma mendatar menunjukkan ketinggian garis balik.

Benang stadia yang berdiri dari benang stadia atas dan benang stadia bawah digunakan untuk mengukur jarak.

2) Visir : berfungsi sebagai alat pengarah bidikan secara kasar sebelum dibidik dilakukan melalui teropong atau lubang tempat membiik.

3) Lubang tempat membidik

4) Nivo Kotak : digunakan sebagai penunjuk sumbu satu dalam keadaan tegak atau tidak. Bila nivo berada di tengan berarti sumbu satu dalam keadaan tegak.

5) Nivo tabung pada NK1 dan Nivo U pada NK2 adalah penunjuk apakah garis bidik sejajar garis nivo atau tidak. Bila gelembung nivo tabung ada ditengah atau nivo U membentuk huruf U, berarti garis bidik sudah sejajar garis nivo.

6) Pemokus diafragma : berfungsi untuk memperjelas keberadaan benang diafragma.

7) Skrup pemokus bidikan : berfungsi untuk mengatur agar sasaran yang di bidik dari teropong terlihat dengan jelas.

Gambar II.11. Waterpass NK1

(22)

8) Tiga Skrup Pendatar : berfungsi untuk mengatur gelembung nivo kotak.

Pada NK1 sekaligus mengatur nivo tabungnya.

9) Skrup pengatur nivo U : berfungsi untuk mengatur nivo U membentuk huruf U.

10) Skrup pengatur gerakan halus horizontal : berfungsi untuk menepatkan bidikan atau benang diafragma tegak tepat di sasaran yang dibidik.

11) Sumbu tegak atau sumbu satu (tidak nampak) : berfungsi air teropong dapat diputar kearah horizontal.

Gambar II.12. Waterpass NK2

12) Lingkaran horizontal berskala yang berada di badan alat : berfungsi sebagai alat bacaan sudut horizontal.

13) Lubang tempat membaca sudut horizontal

14) Pemokus bacaan sudut : berfungsi untuk memperjelas skala bacaan sudut (pada NK2).

7. Cara Mengoperasikan Alat Ukur Waterpass

Ada 4 jenis kegiatan yang harus dikuasai dalam mengoperasikan alat ini, yatu:

1. Memasang alat diatas kaki tiga

Alat ukur waterpass tergolong kedalam Tripod Levels yaitu dalam penggunaanya harus terpasang diatas kaki tiga. Oleh karena itu kegiatan pertama yang harus dikuasai adalah memasang alat ini pada

(23)

kaki tiga atau statif. Pekerjaan ini jangan dianggap sepele jangan hanya dianggap sekedar menyambungkan skrup yang ada di kaki tiga kelubang yang ada di alat ukur, tetapi dalam pemasangan ini harus diperhatikan juga antara lain :

a. Kedudukan dasar alat waterpass dengan dasar kepala kaki tiga harus pas sehingga waterpass terpasang di tengah kepala kaki tiga.

b. Kepala kaki tiga umumnya bentuk menyerupai segi tiga, oleh karena itu sebaiknya tiga skrup pendatar yang ada di alat ukur tepat di bentuk segitiga tersebut,seperti terlihat pada Gambar 2.13.

c. Pemasangan skrup di kepala kaki tiga pad lubang harus cukup kuat agar tidak mudah bergeser apalagi sampai lepas skrup penghubungan kaki tiga dan alat terlepas.

Gambar II.13. Posisi Tiga Skrup Pendatar pada Kepala Kaki Tiga 2. Mendirikan Alat (Set Up)

Mendirikan alat adalah memasang alat ukur yang sudah terpasang pada kaki tiga tepat diatas titik pengukuran dan siap untuk dibidikan yaitu sudah memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a. Sumbu satu sudah dalam keadaan tegak, yang diperlihatkan oleh kedudukan gelembung nivo kotak ada di tengah.

b. Garis bidik sejajar garis nivo, yang ditunjukan oleh kedudukan gelembung nivo tabung ada di tengah atau nivo U membentuk huruf U.

(24)

3. Membidikan Alat

Membidikan alat adalah kegiatan yang dimulai dengan mengarahkan teropong ke sasaran yang akan di bidik, memfokuskan diafragma agar terlihat denagan jelas, memfokuskan bidikan agar objek yang dibidik terlihat jelas dan terakhir mendapatkan benang diafragma tegak dan diafragma mendatar tepat pada sasaran yang diinginkan.

4. Membaca Hasil Pembidik

Ada 2 hasil pembidik yang dapat dapat dibaca, yaitu : 1. Pembacaan benang atau Pembacaan Rambu

Adalah bacaan angka pada bak ukur yang dibidik yang tepat dengan benang diafragma mendatar dan benang stadia atas dan bawah.

Bacaan yang tepat dengan benang diafragma mendatar biasa disebut dengan Bacaan Tengah (BT), sedangkan yang tepat dengan benang stadia atas atau Bacaan Atas (BA) dan yang tepat dengan benang stadia bawah disebut Bacaan Bawah (BB). Karena jarak antara benang diafragma mendatar ke benang stadia atas dan bawah sama,maka :

BA-BT = BT-BB atau BT = 1⁄2 (BA-BB)

Persamaan ini biasanya digunakan untuk mengecek benar atau salahnya pembacaan.

Kegunaan Pembacaan benang ini adalah :

a) Bacaan benang tengah digunakan dalam penentuan beda tinggi a ntar tempat berdiri alat dengan rambu ukur yang dibidik atau diantara rambu-rambu ukur yang dibidik.

b) Bacaan benang atas dan bawah digunakan dalam penentuan jarak ntara tempat berdiri alat dengan tempat rambu ukur yang di bidik. Pembacaan rambu ukur oleh alat ini ada yang terlihat dalam keadaan tegak danada yang terbalik, sementara pembacaannya dapat dinyatakan dalam satuan m atau cm.

(25)

Sebagai contoh terlihat pada Gambar II.14.

Gambar II.14. Contoh Pembacaan Rambu 2. Pembacaan sudut

Waterpass seringkali juga dilengkapi dengan lingkaran mendatar berskala, sehingga dapat digunakan untuk mengukur sudut mendatar atau sudut horizontal.

Ada 2 satuan ukuran sudut yang biasa digunakan, yaitu : a. Satuan derajat

Pada satuan ini satu lingkaran dibagi kedalam 360 bagian, setiap bagian dinyatakan dengan 1 derajat (1°), setiap derajat dibagi lagi menjadi 60 bagian, setiap bagian dinyatakan dengan 1 menit (1’) dan setiap menit dibagi lagi kedalam 60 bagian dan setiap bagian dinyatakan dengan 1 detik (1”).

b. Satuan grid

Pada satuan ini lingkaran dibagi menjadi 400 bagian, setiap bagian dibagi menjadi grid ( 1g ), setiap grid dibagi lagi menjadi 100 bagian, setiap bagian dinyatakan dengan centigrid ( 1cg ) dan setiap centigrid dibagi lagi kedalam 100 bagian dan setiap bagian dinyatakan dalam 1 centi-centigrid ( 1ccg ).

Salah satu contoh pembacaan sudut horizontal dari alat ukur waterpass NK2 dari wild, terlihat pada Gambar II.15.

(26)

(a) Satuan grid ( 392,66g atau 392g 66ccg) (b) Satuan derajat (314°41’) Gambar II.15. Contoh Pembacaan Sudut Pada Waterpass

8. Metode dan jenis waterpass a. Penentuan beda tinggi antara dua titik

HB = HB – HA

Gambar II.16. Waterpass dengan instrumen di tengah antara 2 titik

Selisih tinggi antara titik a dan b adalah sebesar H. Arah bidikan ke titik A disebut pembacaan baak belakang dan titik B disebut baak muka dan untuk mengurangi kesalahan diusahakan letak instrumen di tengah- tengah antara titik A dan B.

Selisih tinggi besarnya adalah :

ΔH = BT blk – BT muka Dimana :

BT blkg = Pembacaan benang tengah pada baak

belakang. BT muka = Pembacaan benang tengah pada baak muka.

(27)

Jika hasil h positif maka kondisi permukaan tanah dari titik A ke titik B naik, sebaliknya bila h negatif maka titik A ke B turun. Pembacaan dilakukan melalui rambu-rambu ukur yang dapat dilihat dari teropong. P embacaan mana terlihat dalam suatu bidang diafragma (Gambar 7) di mana benang atas (BA), benang tengah (BT), benang bawah (BB), dimana :

ΔH = BT blk – BT muka Dan untuk mencari jarak : D = 100 x (BA - BB)

Angka yang tercantum menunjukkan jarak antara angka tersebut dengan alas mistar.

Gambar II.17. Waterpass dengan instrumen tidak di tengah antara 2 titik.

Cara lain untuk menentukan beda tinggi, seperti terlihat pada gambar 8. Instrumen ditempatkan di sebelah kanan titik B atau di sebelah kiri titik A. Selisih tinggi (H) besarnya :

H = HA – HB Dimana,

H = selisih tinggi (m)

HB = pembacaan benang tengah di titik B HA = pembacaan benang tengah di titik A

Pembacaan pada rambu di titik B bisa dianggap pembacaan muka, sedangkan pada rambu di titik A adalah pembacaan belakang

(28)

b. Pengukuran tinggi dengan garis tinggi bidik

Apabila seliaih tinggi (H) telah di ketahui, maka suatu titik dapat dicari, bila tinggi titik lainnya diketahui.

Gambar II.18. Mendapatkan tinggi titik pengukuran untuk B, bila titik A telah diketahui tingginya.

Tinggi garis vizir / bidik (tgv) adalah : t.g.v = Tp + TA

Dimana :

t.g.v = garis tinggi vizir Tp = tinggi pesawat TA = tinggi titik A

Tinggi titik B dapat di cari yaitu : TB = t.g.v – BT

Pengukuran cara ini dipakai untuk pengukuran titik detail / kipas, yang akan diuraikan kemudian. Cara lain untuk mencari garis vizir adalah :

Gambar II.19. Pengukuran tgv dengan titik A diketahui tingginya

(29)

Dimana :

t.g.v = BT + TA tgv = tinggi garis BT = benang tengah TA = tinggi titik A

c. Waterpass memanjang

Waterpass memanjang / berantai dimaksud untuk memperoleh suatu rangkaian / jaring-jaring.

Gambar II.20. Waterpass memanjang

Untuk menentukan h antara titik A dan B dibagi dalam jarak-jarak yang lebih kecil. Jarak-jarak tersebut 1 slag, sehingga pengukuran dapat dilakukan dengan mudah dan teliti.

h1 = b1 – m1

h2 = b2 – m2

h3 = b3 – m3

h4 = b4 – m4

1n h = (b + b + …+ b) – (m + m + …+ m)

n1 h = n1 b - n1 m

(30)

Dimana :

h = jumlah beda tinggi (m)

 b = jumlah pembacaan benang tengah belakang

m = jumlah pembacaan benang tengah muka

Untuk memberikan hasil yang teliti maka dilakukan pengukuran pergi pulang, dimana apabila hasil antara dua pengukuran mempunyai selisih terhadap hasil rata-rata antara dua pengukuran tersebut maka harganya harus memenuhi toleransi yang disyaratkan. Toleransi tersebut dinyatakan dalam rumus :

E = k  s Dimana,

E = nilai kesalahan K = konstanta S = jarak

Tabel berikut adalah toleransi kesalahan pada berbagai tingkat pengukuran

Tabel II.1. Limitasi kesalahan dalam pengukuran waterpass Tingkat

pertama

Tingkat kedua

Tingkat ketiga

Catatan

Ketelitian Perbedaan dua pembacaan (kedepan dan

kebelakang)

2.5 mms 5 mms 10 mms S adalah jarak satu

arah.

Kesalahan

penutup 2 mms

5 mms 10mms

S dalam Km.

(31)

Dalam praktikum ini tingkat pengukuran waterpass dikategorikan pada tingkat ketiga.

d. Waterpass lapangan

Yang dimaksud dengan waterpass lapangan adalah untuk menentukan ketinggian dari titik-titik di lapangan sehingga mendapatkan gambaran lengkap tentang kedudukan tinggi dari lapangan tersebut. Metode ini disebut metode koordinat kutub.

Titik-titik di lapangan diukur sudut horizontal dan vertikalnya serta jarak optisnya dengan menggunakan theodolit. Dengan cara ini semua ti tik-titik dilapangan dapat ditentukan letak situasi maupun tingginya.

Cara ini diuraikan lebih lanjut pada pengukuran detail pada pengukuran sub bab 3.

(32)

Tabel II.2. Perhitungan waterpass

N o

S E K S I

N o

T I T I K

Panjang seksi (D)

meter

Perbedaan tinggi

Tinggi thd titik nol

meter N o

T I T I K

Salah menengah tiap

Km sejalan p=s2/D2n

Ket Pergi

PG meter

Pulang PL meter

Pukul rata

Koreksi

S S2

A

1

2

3

4

76.28

84.90

92.80

72.66

2.036

-1.606

1.900

2.039

-2.034

1.605

-1.897

-2.037

2.038 -0.002 -1.606

1.902 -0.002

2.041 0.002

345.150

347.186

345.500

347.480

349.519

 326.64  4.369  4.363  4.375

Selisih pengukuran 6 mm

Toleransi pengukuran untuk tingkat ketiga 10s = 10 0.326 = 5.7 mm (6 mm diulangi) kesalahan lebih besar dari toleransi yang

disyaratkan.

(33)

B. PETUNJUK PELAKSANAAN PRAKTIKUM WATERPASS 1. Tujuan

Tujuannya adalah untuk mengukur selisih tinggi (∆h) antara dua titik yang telah ditentukan sehingga apabila ketinggian titik yang telah ditentukan sehingga apabila ketinggian titik awal diketahui maka ketinggian titik-titik lain bisa dicari.

2. Alat yang digunakan

 Pesawat ukur waterpass

 Bak ukur 2 buah

 Statif

 Pegas ukur dan perlengkapan lain ( unting-unting,dsb )

3. Ketentuan teknis

a) Jarak antara dua titik tidak mengikat, asalkan tidak terpengaruh oleh hambatan-hambatan misalnya: undulasi udara, fatamorgana, bangunan-bangunan, dsb.

b) Pada waktu pembacaan, bak ukur tidak berdiri diatas patok melainkan berdiri diatas tanah.

c) Ketinggian titik awal dan terakhir telah ditentukan.

d) Harus memenuhi syarat sebagai berikut :

 Garis vizir atau bidik teropong harus // dengan gariss arah nivo

 Garis arah nivo harus tegak lurus sumbu I

4. Langkah / tahapan praktikum a) Menyetel alat

 Stabilkan kedudukan pesawat melalui statif agar kedudukan pesawat tidak bergerak.

 Stabilkan nivo melalui sekrup penyetel (3 skrup penyetel).

(34)

 Putar pesawat 180° sehingga berbalik arah, check apakah nivo masih seimbang, jika masih seimbang berarti garis bidik // garis arah nivo.

 Check sumbu I tegak lurus garis bidik dengan mengatur unting- unting tepat diatas titik yang telah ditentukan sedemikian rupa sehingga tidak merubah keseimbangan nivo.

b) Pembacaan

Pergi Belakang

Gambar II.21. Pembacaan waterpass pergi

 Pesawat diusahakan berdiri di tengah-tengah antara dua titik

 Lakukan pembacaan bak muka catat benang tengah (BT), benang atas (BA), dan banana bawah (BB), dimana :

BT = 1⁄2 (BA + BB)

Gambar II.22. Pembacaan waterpass pulang

(35)

 Lakukan langkah seperti di atas untuk pembacaan bak belakang. Masukkan data pada formulir yang ada

 Bak tetap ditempat, geser kedudukan pesawat namun alat masih tetap berdiri antara 2 titik kemudian stel kembali seperti yang dijelaskan diatas.

 Lakukan pembacaan bak lagi, catat dalam formulir data.

 Setelah dilakukan pengukuran, pasang patok pada tempat dimana baak ukur tadi berdiri atau tentukan terlebih dahulu patok tersebut asalkan pada waktu pengukuran, baak tidak berdiri diatas patok.

 Setelah selesai pesawat dipindahkan.

Langkah diatas adalaah pengukuran arah PULANG dan cara pengukuran waterpas seperti ini biasanya disebut pengukuran waterpass pergi pulang atau lazim disebut double stand. Perlu diingat bahwa pembacaan bak muka atau belakang pada waktu pengukuran pergi dan pulang berlawanan tanda.

(Lihat gambar II.22).

Tabel II.3. Contoh formulir pengisian data pada pengukuran waterpass

Alat No Arah Benang tengah Benang atas bawah

Jarak Beda

tinggi ting

gi

Blkg Muka Blkg Muka Blkg Muka Bl

kg M uk a

BM 0.530 0.430 0.540

0.520

0.440 .420 Cp1 0.674 0.510 0.700

0.684

0.520 0.500 Cp2 0.740 0.620 0.760

0.720

0.640 0.600 Cp3 0.700 0.520 0.710

0.690

0.530 0.510

(36)

Tinggi Alat ∆H (m) TP

(m) belakang Muka belakang Muka belakang Muka (m)

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

AS 1,510 1,270 100,000 blk 0o 291◦

1,210 0,970 mka 180o 291◦

1,665 1,300 blk 0o 291◦

1,365 1,000 mka 180o 291◦

1,385 1,385 blk 0o 291◦

1,085 1,085 mka 180o 291◦

1,490 1,255 blk 0o 291◦

1,190 0,955 mka 180o 291◦

1,455 1,325 blk 0o 291◦

1,155 1,025 mka 180o 291◦

1,485 1,360 blk 0o 291◦

1,185 1,060 mka 180o 291◦

1,460 1,360 blk 0o 291◦

BS 1,160 1,060 101,195 mka 180o 291◦

Azimuth Besar

Sudut

0,100 0,125 0,130 0,235 0,000 0,365 0,240 BT blk - BT mk

101,095 100,970 100,840 100,605 100,605 100,240 Tinggi

Titik D = Jarak

Benang Tengah

1,310 1,335 1,305 1,340 1,235 1,515

1,210 1,210 1,175 1,105 1,235 1,150 1,120

LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Telp ( 0271 ) 717417-219 Tromol Pos I Surakarta 57162 :

Diukur Oleh Kelompok 2 Lokasi Praktik Kampus 4 UMS:

:

Tanggal 4,5,6 Maret 2024 Halaman : PERHITUNGAN WATERPASS MEMANJANG PERGI

BA = Benang Atas BB = Benang Bawah No

Titik

1

2

3

4

5

6

1,330

1,300

1,280

1,250

1,320

1,300

1,320

1,360 30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

30,00

(37)

Tinggi Alat ∆H (m) TP

(m) belakang Muka belakang Muka belakang Muka (m)

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

AS 1,220 1,450 101,195 blk 0o 291◦

0,920 1,150 mka 118o 291◦

1,230 1,590 blk 0o 291◦

0,930 1,290 mka 180o 291◦

1,315 1,335 blk 0o 291◦

1,015 1,035 mka 180o 291◦

1,210 1,480 blk 0o 291◦

0,910 1,180 mka 180o 291◦

1,290 1,425 blk 0o 291◦

0,990 1,125 mka 180o 291◦

1,300 1,430 blk 0o 291◦

1,000 1,130 mka 180o 291◦

1,320 1,420 blk 0o 291◦

BS 1,020 1,120 99,940 mka 180o 291◦

LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Telp ( 0271 ) 717417-219 Tromol Pos I Surakarta 57162 :

Diukur Oleh Kelompok 2 Lokasi Praktik Kampus 4 UMS:

:

Tanggal 4,5,6 Maret 2024 Halaman : PERHITUNGAN WATERPASS MEMANJANG PULANG

BA = Benang Atas No

Titik BB = Benang Bawah

1,250

1,250

1,250

1,200

1,300

30,00

30,00

30,00

30,00

100,595

100,575

100,305

100,170

30,00

100,040 30,00

1,330

1,275 1,185

30,00

30,00

1,300

1,300

30,00

30,00

30,00

1 6

5

4

3

2

1,300

1,440

1,060 1,060

1,080

1,165

1,140

1,150

1,170

1,280

1,270 30,00

30,00

30,00 FAKULTAS TEKNIK

BT blk - BT mk

-0,240

-0,360

-0,020

-0,270

-0,135

-0,130

-0,100

Besar

Sudut Azimuth

Benang Tengah D = Jarak Tinggi

Titik

100,955

(38)
(39)

: Lokasi Praktik

: Halaman

Rata - rata Pergi Pulang (Mutlak Pulang)

Belakang Muka Belakang Muka T 1 T2 (T1 + T2)/2 (m)

1 2 3 5 6 4 7 8 9 10

AS 100,000

BS 101,225

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Telp ( 0271 ) 717417-219 Tromol Pos I Surakarta 57162 PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

3 4 5

1,150

-0,100 -0,130

Tinggi titik

100,170 100,418 100,485 1,105

1,175

1,270 1,280 1,275 1,330 1,185 1,440

Jarak (m)

60,00 60,00

6

1,235 1,340 1,305 1,335 1,310

1,210 1,210

1,140 1,060 1,165 1,080

1,060 1,300 60,00 0,100

100,738 100,813 -0,270

-0,020 -0,360 1,360

1,515 : Tanggal

FAKULTAS TEKNIK

No Titik

1 2

PERHITUNGAN WATERPASS MEMANJANG

Beda Tinggi (m) :

Diukur Oleh Kelompok 2 Kampus 4 UMS

LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH

4,5,6 Maret 2024

60,00 60,00 60,00 60,00

0,235 0,130 0,125 1,120

1,150

1,170

1,235

0,248 0,068 0,240

0,365

0,000 -0,135

-0,240

0,170

101,055

BT Pergi BT Pulang

0,253 0,075 0,243 0,170

(40)

Diukur Oleh : Kelompok 2

LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

(41)

Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Telp ( 0271 ) 717417-219 Tromol Pos I Surakarta 57162

(42)

B

Lokasi Praktik : Jalan Utara Kampus 4 UMS

Tanggal : 4,5,6 Maret 2024 Halaman :

PROFIL WATERPASS MEMANJANG Grafik II.1 Profil Waterpass Memanjang

98,00 100,00 102,00

0,00 50,00 100,00 150,00 200,00 250,00 300,00 350,00 400,00 450,00

PERHITUNGAN MEMANJANG PULANG

6 5 4

3 2

1 BS

Titik AS 1 2 3 4 5 6 BS

Jarak antar titik (m) 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00

Jarak dari titik B (m) 0,000 60,000 120,000 180,00 240,00 300,00 360,00 420,00

Tinggi titik (m) 3,000 3,260 3,078 2,963 2,738 2,618 2,678 2,450

(43)

M

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

SURAKARTA

Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Telp ( 0271 ) 717417-219 Tromol Pos I Surakarta 57161 website : http://www.ums.ac.id

FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

2023 JUDUL GAMBAR : PROFIL MEMANJANG

WATERPASS

3,50 3,00 2,50 2,00 TINGGI TITIK (m)

BU 3,000

1

3,260 3,0782 32,963 4

2,738 5

2,618

62,678

2,450 DIGAMBAR :

ANGGOTA KELOMPOK

00,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00

JARAK (m)

PROFIL WATERPASS MEMANJANG

Titik BU 1 2 3 4 5 6 AU

Jarak antar titik (m) 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00

Jarak dari titik BU (m) 0,000 60,000 120,000 180,000 240,000 300,000 360,000 420,000

Tinggi titik (m) 3,000 3,260 3,078 2,963 2,738 2,618 2,678 2,450

WAHYU HABI BULLAH (D100220223) MUTIARA DWI R (D100220254)

BERLIANA C (D100220257)

RIZKI ARIFIANTO (D100220257) DIPERIKSA :

SYNTIA RAMANDA M (D100210250)

DISETUJUI :

NUR KHOTIMAH H, S.T., M.Eng NIK. 1910

PROFIL MEMANJANG WATERPA SS

SKALA 1 : 2000

SKALA : 1 : 2000 NO. LBR. : JML. LBR. :

I A

I

AU

(44)

: Lokasi Praktik

: Halaman

Jarak

Atas Tengah Bawah (m) ΔH = TP - BT T = CP + ΔH

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 1,480 1,435 1,390 9,00 -0,105 99,895 parit atas

2 1,990 1,945 1,900 9,00 -0,615 99,385 selokan

3 1,940 1,901 1,862 7,80 -0,571 99,429 selokan

4 1,450 1,411 1,372 7,80 -0,081 99,919 parit atas

5 1,470 1,435 1,400 7,00 -0,105 99,895 bahu jalan

6 1,270 1,258 1,245 2,50 0,073 100,073 tengah jalan

7 0,000 0,000 0,000 0,00 0,000 100,000 Tempat pesawat

8 1,470 1,460 1,450 2,00 -0,130 99,870 parit atas

9 1,840 1,830 1,820 2,00 -0,500 99,500 selokan

10 1,860 1,845 1,830 3,00 -0,515 99,485 selokan

11 1,470 1,455 1,440 3,00 -0,125 99,875 parit atas

12 1,235 1,218 1,200 3,50 0,113 100,113 bahu jalan

Tinggi Titik 100,000

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Telp ( 0271 ) 717417-219 Tromol Pos I Surakarta 57162 :

Diukur Oleh Kelompok 2 Kampus 4 UMS

:

Tanggal 4,5,6 Maret 2024

DATA CROSS SECTION TITIK A

Benang Tinggi Titik (m)

Tempat Alat

A

No. Titik Keterangan

Tinggi Pesawat

1,330

(45)

:

Diukur Oleh Lokasi Praktik :

:

Tanggal Halaman :

Titik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Jarak antar titik ( m ) 9,000 9,000 7,800 7,800 7,000 2,500 0,000 2,000 2,000 3,000 3,000 3,500

Jarak dari titik 1 ( m ) 0,000 0,000 1,200 1,200 2,000 6,500 9,000 11,000 11,000 12,000 12,000 12,500

Tinggi titik ( m ) 99,895 99,385 99,429 99,919 99,895 100,073 100,000 99,870 99,500 99,485 99,875 100,113

LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Telp ( 0271 ) 717417-219 Tromol Pos I Surakarta 57162

Kelompok 2 Kampus 4 UMS

4,5,6 Maret 2024

1

2 3

4 5 6 8

9 10

98,000 100,000 102,000

0,000 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 14,000

TP

(46)

U

B T

5 2.990 4 2.795 3 2.370 2 2.185 1 2.835

11 3.040 10 3.078 9 3.028 8 3.040 7 3.034 6 3.000

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

S SURAKARTA

Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Telp ( 0271 ) 717417-219 Tromol Pos I Surakarta 57161 website : http://www.ums.ac.id

FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

2023 JUDUL GAMBAR :

CROSS SECTION TITIK BU

DIGAMBAR : WAHYU H. B (D100220223) MUTIARA D. R (D100220254) BERLIANA C (D100220257) RIZKI A (D100220257)

DIPERIKSA :

SYNTIA RAMANDA M (D100210250)

DISETUJUI :

CROSS SECTION TITIK BU

SKALA 1 : 100

NUR KHOTIMAH H, S.T., M.Eng NIK. 1910

SKALA : 1 : 100

NO. LBR. : JML. LBR. :

I

CROSS SECTION

ELV TITIK BU

1 2,83

5

2 2,18

5

3 2,37

0

4 2,79

5

5 2,99

0

6 3,00

0

7 3,03

4

(47)

LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Telp ( 0271 ) 717417-219 Tromol Pos I Surakarta 57162 Diukur Oleh

Tanggal

: Kelompok 2 : 4,5,6 Maret 2024

Lokasi Praktik : Jalan Utara Kampus 4 UMS Halaman :

DATA CROSS SECTION 1 Tabel II.8 Data Cross Section Titik 1

Tempat Tinggi

No. Titik Benang Jarak Tinggi Titik (m)

Keterangan

Alat Pesawat Atas Tengah Bawah (m) ΔH = TP - BT T = CP + ΔH

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 1,300

1 0,850 0,805 0,760 9,00 0,495 100,665 Tembok

2 0,900 0,857 0,814 8,60 0,443 100,613 Pot sebelah

tembok

3 1,125 1,088 1,050 7,50 0,213 100,383 Trotoar

4 1,185 1,153 1,120 6,50 0,148 100,318 Trotoar

5 1,330 1,303 1,275 5,50 -0,002 100,168 Bahu jalan

6 1,245 1,230 1,215 3,00 0,070 100,240 Tengah jalan

7 0,000 0,000 0,000 0,00 0,000 100,170 TP

8 1,435 1,430 1,425 1,00 -0,130 100,040 parit atas

9 1,878 1,873 1,868 1,00 -0,573 99,597 Parit bawah

10 1,865 1,855 1,845 2,00 -0,555 99,615 Parit bawah

11 1,855 1,415 1,405 2,00 -0,545 99,625 Parit atas

CP = 100,170

(48)

:

Diukur Oleh Lokasi Praktik :

:

Tanggal Halaman :

Titik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Jarak antar titik ( m ) 9,000 8,600 7,500 6,500 5,500 3,000 0,000 2,000 2,000 3,000 3,000 3,500

Jarak dari titik 1 ( m ) 0,000 0,400 1,500 2,500 3,500 6,000 9,000 11,000 11,000 12,000 12,000 12,500

Tinggi titik ( m ) 100,665 100,613 100,383 100,318 100,168 100,240 100,170 100,050 99,640 99,625 100,048 100,053

LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Telp ( 0271 ) 717417-219 Tromol Pos I Surakarta 57162

Kelompok 2 Kampus 4 UMS

4,5,6 Maret 2024

1 2

3 4 5 6

8

9 10

98,000 100,000 102,000

0,000 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 14,000

TP

(49)

B T

11 3.515 10 3.538 9 3.398 8 3.410 7 3.260 6 3.260

5 3.290 4 3.220 3 2.680 2 2.775 1 3.305

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

S SURAKARTA

Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Telp ( 0271 ) 717417-219 Tromol Pos I Surakarta 57161 website : http://www.ums.ac.id

FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

2023 JUDUL GAMBAR :

CROSS SECTION TITIK 1

DIGAMBAR : WAHYU H. B (D100220223) MUTIARA D. R (D100220254) BERLIANA C (D100220257) RIZKI A (D100220257)

DIPERIKSA :

SYNTIA RAMANDA M (D100210250)

DISETUJUI :

CROSS SECTION TITIK 1

SKALA 1 : 100

NUR KHOTIMAH H, S.T., M.Eng NIK. 1910 SKALA : 1 : 100

NO. LBR. : JML. LBR. :

I

CROSS SECTION

ELV TITIK 1

1 3,305

2 2,775

3 2,680

4 3,220

5 3,290

6 3,260

7 3,260

8 3,410

9 3,398

10 3,538

11 3,515

(50)

: Lokasi Praktik

: Halaman

Jarak Keterangan

Atas Tengah Bawah (m) ΔH = TP - BT T = CP + ΔH

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 0,870 0,825 0,780 9,00 0,455 0,455 tembok

2 0,901 0,858 0,815 8,60 0,422 0,422 pot sebelah tembok

3 1,126 1,089 1,051 7,50 0,192 0,192 trotoar

4 1,185 1,153 1,120 6,50 0,128 0,128 trotoar

5 1,333 1,306 1,278 5,50 -0,025 -0,025 bahu jalan

6 1,245 1,230 1,215 3,00 0,050 0,050 tengah jalan

7 0,000 0,000 0,000 0,00 0,000 0,000 TP

8 1,440 1,430 1,420 2,00 -0,150 -0,150 parit atas

9 1,899 1,889 1,879 2,00 -0,609 -0,609 parit bawah

10 1,890 1,875 1,860 3,00 -0,595 -0,595 parit bawah

11 1,860 1,845 1,830 3,00 -0,565 -0,565 parit atas

Tinggi 100,418 12 1,425 1,408 1,390 3,50 -0,128 -0,128 bahu jalan

LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Telp ( 0271 ) 717417-219 Tromol Pos I Surakarta 57162 :

Diukur Oleh Kelompok 2 Kampus 4 UMS

4,5,6 Maret 2024

DATA CROSS SECTION TITIK 2

Benang Tinggi Titik (m)

Tempat

Alat Tinggi No. Titik Pesawat

1,280 : Tanggal

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

Gambar

Gambar II.2. Garis Bidik Tidak Sejajar Garis Nivo
Gambar II.6. Benang Diafragma Mendatar Tidak Tegak Lurus Sumbu Satu
Gambar II.8. Waterpass diatas kaki tiga
Gambar II.10. Waterpass sederhana
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari percobaan yang telah dilakukan praktikan mendapatkan nilai dari azimuth pada theodolite.Sudut azimuth yaitu sudut yang terbentuk berdasarkan sumbu Y atau sudut yang

Karena untuk menentukan koordinat titik yang lain diperlukan sudut mendatar dan jarak mendatar, maka pada pengukuran di lapangan data yang diambil adalah data sudut mendatar dan

Bila memungkinkan, atur bacaan benang tengah pada rambu di titik bidik setinggi alat, sehingga beda tinggi yang diperoleh sudah merupakan beda tinggi antara titik kerangka

langkah yang harus dilakukan untuk mengatur sumbu tegak adalah sebagai berikut: Usahakan agar nivo lingkaran mendatar sejajar dengan arah 2 skrup kaki tribrach. Tengahkan posisi

Waterpass juga bisa digunakan untuk mengukur jarak dengan cara mengetahui benang atas rambu ukur dikurangi benang bawah rambu ukur yang kemudian dari

Kebanyakan pengukkuran takimeter adalah dengan garis bidik miring karena adanya keragaman topografi tetapi perpotongan benang stadia dibaca pada rambu tegak lurus dan

Sekrup penggerak halus aldehide horisontal, berfungsi untuk menggerakkan pesawat arah horisontal secara halus setalah klem aldehide horisontal dikunci agar kedudukan

Karena untuk menentukan koordinat titik yang lain diperlukan sudut mendatar dan jarak mendatar, maka pada pengukuran di lapangan data yang diambil adalah data sudut mendatar dan