LAPORAN
ILMU UKUR TANAH
PRAKTIK THEODOLIT
Disusun Oleh :
Ivan Delising (073001500056)
Teknik Pertambangan
BAB I
TUJUAN PRAKTIKUM
BAB II
TEORI DASAR
Theodolit adalah salah satu alat ukur tanah yang digunakan untuk menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak. Berbeda dengan waterpass yang hanya memiliki sudut mendatar saja. Di dalam theodolit sudut yang dapat di baca bisa sampai pada satuan sekon (detik).
Di dalam pekerjaan – pekerjaan yang berhubungan dengan ukur tanah, theodolit sering digunakan dalam bentuk pengukuran polygon, pemetaan situasi, maupun pengamatan matahari. Theodolit juga bisa berubah fungsinya menjadi seperti Pesawat Penyipat Datar bila sudut verticalnya dibuat 90º.
Dengan adanya teropong pada theodolit, maka theodolit dapat dibidikkan kesegala arah. Di dalam pekerjaan bangunan gedung, theodolit sering digunakan untuk menentukan sudut siku-siku pada perencanaan / pekerjaan pondasi, theodolit juga dapat digunakan untuk menguker ketinggian suatu bangunan bertingkat.
A. BAGIAN – BAGIAN DARI THEODOLIT
Secara umum, konstruksi theodolit terbagi atas dua bagian :
1.Bagian atas, terdiri dari :
o Teropong / Teleskope
o Nivo tabung
o Sekrup Okuler dan Objektif
o Sekrup Gerak Vertikal
o Teropong bacaan sudut vertical dan horizontal
o Nivo kotak
o Sekrup pengunci teropong
o Sekrup pengunci sudut vertical
o Sekrup pengatur menit dan detik
o Sekrup pengatur sudut horizontal dan vertikal
2.Bagian Bawah terdiri dari :
o Statif / Trifoot
o Tiga sekrup penyetel nivo kotak
o Unting – unting
o Sekrup repitisi
o Sekrup pengunci pesawat dengan statif
B.MACAM / JENIS THEODOLIT
Macam Theodolit berdasarkan konstruksinya, dikenal dua macam yaitu: 1. Theodolit Reiterasi ( Theodolit sumbu tunggal )
Dalam theodolit ini, lingkaran skala mendatar menjadi satu dengan kiap, sehingga bacaan skala mendatarnya tidak bisa di atur.
2.Theodolite Repitisi
Konsruksinya kebalikan dari theodolit reiterasi, yaitu bahwa lingkaran mendatarnya dapt diatur dan dapt mengelilingi sumbu tegak.
Akibatnya dari konstuksi ini, maka bacaan lingkaran skala mendatar 0º, dapat ditentukan kearah bdikan / target myang dikehendaki. Theodolit yang termasuk ke dakm jenis ini adalah theodolit type TM 6 dan TL 60-DP (Sokkisha ), TL 6-DE (Topcon), Th-51 (Zeiss)
1.Macam Theodolit menurut sistem bacaannya:
Ø Theodolite sistem baca dengan Indexs Garis
Ø Theodolite sistem baca dengan Nonius
Ø Theodolite sistem baca dengan Micrometer
Ø Theodolite sistem baca dengan Koinsidensi
Ø Theodolite sistem baca dengan Digital
2.Theodolit menurut skala ketelitian
Ø Theodolit Presisi (Type T3/ Wild)
Ø Theodolit Satu Sekon (Type T2 / Wild)
Ø Theodolit Spuluh Sekon (Type TM-10C / Sokkisha)
Ø Theodolit Satu Menit (Type T0 / Wild)
BAB III
ALAT DAN BAHAN
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu :
Theodolit
Statif
Rambu Ukur
Alat Tulis
Formulir atau lembar pengamatan
CARA KERJA
1. Menyiapkan peralatan yang digunakan, check seluruh peralatan. Hal ini perlu karena siapa tahu ada salah satu alat yang rusak.
2. Tentukan titik dimana alat / patok akan didirikan
3. Tancapkan patok pada titik yang telah ditentukan
4. Lakukan proses centering dengan sumbu I vertical dengan langkah – langkah sebaai berikut :
Tancapkan 1 kakai statif dengan kokoh sedangkan 2 kaki lainnya diangkat dan smbil ditahan dengan tangan.
Amati teropong centering sehingga tepat berada ditengah – tengah garis diagonal patok yang telah ditancapkan.
Lepaskan kedua kaki dan tancpkan dengan kokoh kemudian kunci kedua kaki tersebut.
Ulangi lagi pengamatan pada teropong centering apabila belum tepat berada ditengah – tengah patok maka lakukan pemasangan seperti langkah awal kembali.
5. Lakukan proses sumbu I vertikal dengan langkah sebagai berikut :
Amati nivo kotak, apabila gelembung tidak berada tepat ditengah maka lakukan pendekatan dengan mengatur kaki statif (meninggikan / merendahkan), sehingga gelembung udara pada nivo kotak berada tepat ditengah – tengah.
o Tempatkan gelembung nivo tabung berada sejajar dengan sekrup A, B ketengahkan gelembung udara dengan memutar sekrup A dan B serentak berlawanan arah hingga gelembung nivo tepat ditengah – tengah.
o Putar alat theodolit sejauh 180˚,sehingga tabung nivo masih sejajar dengan sekrup A, B kemudian putar salah satu sekrup apabila gelmbung masih belum berada ditengah – tengah.
o Putar lagi alat theodolit sejauh 90˚, sehingga nivo tabung tegak llurus terhadap sekrup A dan B, kemudian putar sekrup C hingga gelembung tepat berada ditengah – tengah.
o Kemudian putar alat theodolit kesembarang arah untunk memastikan bahwa alat sudah benar – benar datar dengan melihat apakah gelembung nivo maih tetap ditengah atau tidak, apabila tidak ditengah maka ulangi lagi dari awal.
6. Arahkan teropong ke rambu ukur. Baca angka yang tertera di rambu ukur dengan menggunakan benang silang (ba,bb,bt).
7. Baca sudutnya. Catat pada buku ukur.
8. Kemudian alat diarahkan ke titik berikutnya (rambu muka). Kemudian lakukan metode 6 dan 7 seperti diatas.
9. Untuk mencari besaran sudutnya dengan cara diselisihkan antara bacaan sudut kedua titik tersebut.
BAB V
Tabel 5.3
Hasil Pengamatan yang sebetulnya dengan faktor koreksi
Titik Sudut Hz Azimut Jarak Dsin Dcos X Y
1 10106’12’’ 1000 1000
-51028’19’’ 295041’23’’ 21.99 m -19.82 9.53
2 18009’46’’ 5.64 0.09 985.82 1009.62
-51028’19’’ 244022’50’’ 29.99 m -27.04 -12.97
3 104039’35’’ 7.69 0.13 966.46 996.78
-51028’19’’ 117034’6’’ 9.93 m 8.80 -4.6
4 179057’43’’ 2.55 0.04 977.81 992.22
-51028’19’’ 6603’30’’ 18.96 m 17.33 7.70
1 4.86 0.08 1000 1000
BAB VI
PEMBAHASAN
Dari percobaan yang telah dilakukan praktikan mendapatkan nilai dari azimuth pada theodolite.Sudut azimuth yaitu sudut yang terbentuk berdasarkan sumbu Y atau sudut yang dibentuk searah putaran jarumjam sampai sudut yang ditentukan.Beda tinggi antara dua titik diperoleh setelah dilakukan pengukuran jarak mendatar, sudut helling, tinggi alat, dan benang tengah.Untuk pengukuran menggunankan rambu ukur atau bisa juga dengan menggunakan pita ukur (roll meter) ini berguna untuk menentukan jarak dari titik yang praktikan ukur.
Dalam pengukuran theodolit, penentuan posisi suatu titik menggunakan sistim koordinat dan yang dipakai adalah sistim koordinat kartesian
yangdinyatakan dengan absis dan ordinat.Titik yang dimaksud disini adalah berupa pilar ( bench mark ) atau patokkayu. Untuk penentuan titik dilakukan pengukuran sudut dan jarak.Pengukuran sudut dan jarak disini ada dua macam yaitu sudut vertikal dan horizontal sementara jarak yang dimaksud adalah jarak lurus dan horizontal.
Pada praktikum kali ini kita menggunakan teknik pengukuran system tachimetri.Sistem tachimetri adalah suatu teknik pengukuran dimana alat hanyaberdiri pada suatu titik dan dapat menembak lebih dari satu titik
untukmenentukan posisi dan ketinggian titik tersebut.Pada pengukuran tachymetri ini karena posisi teropong dalam keadaan miring, maka jarak ukuran dapat berupa jarak miring, jarak vertikal dan jarak mendatar
saat posisi visir di atas disebut posisi biasa, sedangkan bila posisi visir di bawah disebut posisi luar biasa. Bacaan sudut horizontal pada posisi biasa dan luar biasa akan berselisih 180°.Adanya bacaan biasa dan luar biasa ini dapat digunakan sebagai koreksi bacaan, yaitu bila bacaan biasa dan luar biasa dari satu arah bisikan tidak berselisih 180°, berarti ada kesalahan baca, sehingga dapat segera dilakukan perbaikan. Pada pengukuran yang tidak menghendaki tingkat ketelitian yang tinggi, biasanya pembacaan cukup dilakukan pada posisi biasa
Dari hasil pengukuran sudut antara kedua titik praktikan dapat mebuat polygon nya. Prinsip dari polygon theodolit adalah menetapkan sudut jurusan dan panjang dari gabungan beberapa garis yang bersama sama membentuk kerangka dasar untuk keperluan pemetaan dari sudut daerah tertentu. Sudut jurusan dan jarak kemudian digambarkan dengan busur derajat atau dengan system koordinat. Sudut sudut diukur dengan theodolit searah jarum jam dan sudut jurusan dihitung darisudut yang diukur. Jarak mendatar dari setiap gaaris dari polygon harus diukur kemudian dibandingkan dengan pengukuran sudut, pengukuran jarak biasanya lebih sulit dan untuk mencapai hasil yang baik harus dilakukan pengukurandengan teliti dan cermat dan diberikan koreksi koreksi untuk mendapatkan jarak mendatar.
Dalam percobaan ini juga terjadi berbagai kesalahan.Kesalahan yang
bersumber pada theodolite seperti : jarum kompas tidak benar - benar lurus,jarum kompas tidak dapat bergerak bebas pada porosnya,garis bidik tidak tegak lurus sumbu mendatar (salah kolimasi),garis skala 0° - 180° atau 180° - 0° tidak sejajar garis bidik,Letak teropong eksentris,poros penyangga magnet tidak sepusat dengan skala lingkaran mendatar.
Kesalahan yang bersumber dari pengukur terjadi karena kurangnya hati-hati, kurang pengetahuan, kurang pengalaman dan kurang perhatian.Serta kesalahan yang bersumber dari keadaan alam seperti angina yang dapat menggerakkan kaki-kaki statif sehingga harus dilakukan pengesetan ulang.
BAB VII
KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan sebagai berikut : 1. Dari azimut yang didapatkan dapat diketahui koordinat titik – titik yang
akan diplotkan ke kertas gambar.
2. Setiap proses perhitungan dari satu titik ke titik lain terdapat suatu keterkaitan, jika salah dalam proses perhitungan pertama (langah pertama) maka akan berakibat salahpula pada perhitungan selanjutnya, bahkan semua perhitungan yang kita lakukanbisa salah hanya karena sedikit kesalahan pada langkah pertama
3. Sebelum menggunakan theodolite harus dilakukan centering dan leveling
4. Dari data praktikum dapat diambil beberapa hal, yaitu : sudut, jarak dan azimut dari suatu titik.