• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Project Base Learning Struktur Kayu

N/A
N/A
21@003_Herdinata Sembiring

Academic year: 2025

Membagikan "Laporan Project Base Learning Struktur Kayu"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PROJECT BASE LEARNING STRUKTUR KAYU

Dosen Pengampu : Emilia Kadreni ST.,MT Disusun Oleh :

Herdinata Sembiring (210404003)

Hana Threchia Nainggolan (210404068)

Christian Sihombing (210404095)

Secillia Bernadetta (210404078)

Indra Riwanda (210404125)

Gerhard Sahala Tua Lumban Gaol (210404149)

Muhammad Aldo Tarigan (200404149)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tugas makalah tentang Konstruksi Rumah Kayu ini dalam bentuk maupun isinya yang sederhana.

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada dosen struktur kayu Ibu Emilia Kadreni S.T., M.T. yang telah memberikan tugas ini dan juga membimbing.

Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi yang membacanya.

Medan, 16 September 2024

Penulis

KELOMPOK 1

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...

DAFTAR ISI ...

BAB 1. PENDAHULUAN ...….

1.1 Latar Belakang …...………

1.2 Rumusan Masalah …...

1.3 Tujuan…………... …...

BAB 2. ALAT DAN BAHAN…...

2.1 Alat dan Bahan ...

BAB 3. PEROSES PENGERJAAN …………...

3.1 Peroses Pengerjaan...

3.2 Sambungan yang Digunakan ...

3.3 Jarak Antar Sambungan……...

3.4 Dimensi Final Produk………...

BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN ...

4.1 Kesimpulan ...

4.2 Saran ...

DAFTAR PUSTAKA ………...

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kayu adalah salah satu bahan bangunan yang sudah lama dikenal olehmasyarakat dan merupakan bahan yang sangat sering dipergunakan, termasuk sebagai bahan konstruksi bangunan, yang berfungsi sebagai struktur dan non struktur bangunan.Di Indonesia terdapat banyak sekali jeniskayu dari banyaknya jenis pohon yang dihasilkan sebagai hasil yangmempunyai sifat-sifat yang berbeda. Setiap jenis tumbuhan memiliki hasil kayu yang berbeda sifat-sifat nya (kayu), sehingga dalam pemilihan atau penentuan jenis untuk tujuan penggunaan sesuai dengan yang diinginkan, apakah untuk konstruksi (struktur), apakah itu digunakan sebagai perabot, atau sebagai bahan untuk kebutuhan seni non struktur.Bahan konstruksi kayu yang berasal dari pohon, dikenal antara lain sebagai papan, balok persegi, balok bulat, multiplek, bahkan bentuk lainhasil rekayasa industri banyak dijual di pasaran.

Kayu adalah bahan alamyang tidak homogen, yang dipengaruhi oleh pola pertumbuhan batang dankondisi lingkungan pertumbuhan, karakteristik, sifat fisis dan sifat mekaniskayu berbeda pada arah longitudinal, radial, dan tangensial. Perbedaan ketigaarah kayu dapat dilihat potongan tampang kayu pada arah longitudinal, radial,dan tangensial, mempengaruhi kekuatan kayu, kekuatan pada arah longitudinal lebih besar dibandingkan dengan arah radial maupun tangensial.

Material kayu telah lama digunakan dalam konstruksi furnitur karena memiliki kekuatan, keindahan alami, dan kemudahan pengerjaan. Dalam kehidupan sehari-hari, kursi penopang kaki menjadi salah satu kebutuhan untuk meningkatkan kenyamanan, terutama bagi orang yang sering duduk dalam waktu lama. Desain kursi ini perlu mempertimbangkan aspek ergonomi, kekuatan struktural, dan estetika. Dengan menggunakan kayu sebagai material utama, proyek ini bertujuan untuk mengembangkan kursi penopang kaki yang tidak hanya fungsional tetapi juga ramah lingkungan, mengingat kayu merupakan bahan yang dapat diperbaharui jika dikelola secara berkelanjutan.

Struktur kayu pada kursi penopang kaki harus dirancang untuk menahan beban pengguna tanpa deformasi yang signifikan. Desain struktur melibatkan pengaturan elemen- elemen kayu agar saling menopang, menciptakan keseimbangan antara stabilitas dan fleksibilitas. Faktor ergonomi juga menjadi pertimbangan penting. Kursi penopang kaki dirancang untuk memberikan kenyamanan maksimal, terutama bagi pengguna yang duduk

(5)

dalam waktu lama. Posisi kaki yang terangkat membantu melancarkan sirkulasi darah, mengurangi tekanan pada tungkai bawah, dan meningkatkan kenyamanan.

Secara historis, kursi penopang kaki berkembang dari kebutuhan dasar untuk meningkatkan kenyamanan. Pada awalnya, desainnya sangat sederhana, seringkali hanya berupa batang kayu melintang yang digunakan sebagai sandaran kaki. Seiring perkembangan zaman, desain menjadi lebih kompleks, dengan tambahan elemen artistik dan fungsional. Saat ini, desain kursi penopang kaki tidak hanya memperhatikan kenyamanan, tetapi juga estetika yang sesuai dengan gaya interior modern.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang di bahas pada paper ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana merancang kursi penopang kaki yang ergonomis dan estetis menggunakan material kayu?

2. Apa jenis kayu yang cocok untuk digunakan agar kursi memiliki kekuatan dan daya tahan yang optimal?

3. Bagaimana metode pembuatan kursi dengan struktur kayu yang sederhana namun tetap memenuhi kebutuhan pengguna?

1.3 Tujuan

1. Mengembangkan desain kursi penopang kaki yang ergonomis dan estetis menggunakan material kayu.

2. Menentukan jenis kayu yang sesuai untuk konstruksi kursi dengan mempertimbangkan kekuatan, ketahanan, dan efisiensi biaya.

3. Membuat kursi penopang kaki dengan metode pengerjaan yang sederhana, menggunakan peralatan dasar, sehingga mudah direproduksi.

1.4 Maksud Penulisan Laporan

Menyusun desain dan menghasilkan kursi penopang kaki dari bahan kayu yang kuat, tahan lama, dan nyaman digunakan, sekaligus menunjukkan bahwa material kayu tetap kompetitif di era modern. Laporan ini bertujuan memberikan panduan untuk pengerjaan dan meningkatkan pemahaman mengenai penggunaan kayu sebagai bahan utama

(6)

BAB II

ALAT DAN BAHAN 2.1 Alat dan Bahan

Pemilihan alat dan bahan yang tepat sangat penting untuk memastuikan hasil yang akurat dan dapat diulang. Setiap eksperimen membutuhkan berbagai peralatan yang mendukung pelaksanaan tugas-tugas spesifik, serta bahan-bahan yang menjadi objek atau substansi yang diuji atau digunakan dalam percobaan.

Pembuatan kursi penopoang kaki melibatkan berbagai jenis alat dan bahan yang perlu dipilih dengan hati-hati agar kursi penopang kaki yang dihasilkan kuat dan dapat menopang kaki dengan baik, tahan lama, dan estetis. Dalam peroses pembuatan kursi penopang kaki dengan material kayu ini, ada dua komponen utama yang sangat penting, yaitu alat dan bahan.

2.1.1 Alat

Untuk memulai pembuatan kursi penopang kaki material kayu, ada beberapa alat utama yang harus dipersiapkan. Alat-alat tersebut diperlukan untuk memotong merakir, menghaluskan, hingga memberikan sentuhan akhir pada kursi penopang kaki. Adapun alat- alat yang digunakan tertera pada table 2.1.

Table 2.1 Alat-alat yang digunakan

No Nama Gambar

1 Gergaji

2 Martil

(7)

3 Penggaris

4 Pensil

5 Amplas

6 Kuas

2.1.2 Bahan

bahan utama yang dibutuhkan adalah kayu yang menjadi komponen utama dalam pembuatan kursi penopang kaki. Kayu dapat bervariasi dalam jenis dan kualitas, seperti kayu jati, mahoni, pinus, atau bahkan kayu lapis, untuk pilihan yang lenih ekonomis. Dalam proses pembuatan ini menggunakan kayu mahoni. Selain kayu, adalah bahan tambahan seperti paku, lem, dan cat. Adapun bahan yang digunakan tertera pada table 2.2.

(8)

Table 2.2 Bahan yang Digunakan

No Nama Dimensi Jumlah

1 Elemen kayu bagian bawah depan belakang horizontal

2cm x 5cm 25cm = 250c m3

2 unit

2 Elemen kayu bagian bawah kanan kiri horizontal

4cm x 5cm x 20cm

= 400c m3

4 unit

3 Elemen kayu bagian tiang 3cm x 5cm x 32cm

= 480c m3

4 unit

4 Elemen kayu bagian atas (tempat dudukan)

32cm x 20cm x 3 cm

= 1920c m3

1 unit

5 Paku 3 inch 30 unit

6 Lem kayu Warna coklat secukupnya

(9)

BAB III

PEROSES PENGERJAAN 3.1 Peroses Pengerjaan

1. Persiapan Kayu:

Potong kayu sesuai ukuran yang dibutuhkan. Misalnya:

o 1 bagian untuk dudukan bangku (papan utama di atas).

o 4 bagian untuk kaki bangku.

o 6 bagian untuk penyangga horizontal di antara kaki.

2. Pemotongan:

 Gunakan meteran dan pensil tukang untuk menandai ukuran kayu yang akan dipotong.

 Potong kayu menggunakan gergaji sesuai dengan ukuran yang telah ditandai.

3. Pengamplasan:

 Amplas semua permukaan kayu agar halus dan tidak ada serat kasar yang bisa melukai tangan atau kaki.

4. Perakitan:

 Pasang kaki bangku pada papan dudukan dengan menyatukan menggunakan sekrup atau paku. Sebelum memasang, Anda bisa menggunakan lem kayu untuk menambah kekuatan pada sambungan.

 Pastikan posisi kaki bangku lurus dan sejajar.

 Pasang penyangga horizontal di antara kaki bangku untuk menambah kestabilan.

 Jika diperlukan, gunakan penjepit (clamp) untuk menahan bagian-bagian kayu saat menyekrup.

5. Penyelesaian:

 Setelah seluruh bagian tersambung dengan baik, pastikan bangku berdiri stabil dan tidak miring.

 Amplas lagi area sambungan jika diperlukan untuk menghilangkan sisa-sisa lem atau ujung kasar.

 Jika ingin, Anda bisa melapisi bangku dengan pelitur atau cat untuk melindungi kayu dan menambah estetika.

(10)

3.2 Sambungan yang Digunakan

Dalam produk ini dibuat sambungan yang menggunakan paku dikenal sebagai sambungan mekanis dengan paku. Secara umum, sambungan ini termasuk dalam kategori sambungan paku atau sambungan pasak mekanis, karena melibatkan elemen pengikat berupa paku untuk menghubungkan dua atau lebih elemen kayu.

Karakteristik Sambungan Paku 1. Jenis Sambungan:

o Sambungan tumpang: Dua elemen kayu saling bertumpang tindih, kemudian diikat dengan paku.

o Sambungan sudut: Sambungan membentuk sudut 90 derajat, misalnya untuk rangka atau sudut bingkai.

o Sambungan sambung panjang: Menyambungkan dua batang kayu secara memanjang.

2. Fungsi Sambungan Paku:

o Meningkatkan kekakuan dan kekuatan struktural sementara atau permanen.

o Digunakan untuk konstruksi sederhana, seperti furnitur, rangka dinding, atau pelapis.

3. Keunggulan Sambungan Paku:

o Cepat dan mudah dipasang tanpa memerlukan alat berat.

o Cocok untuk aplikasi sementara atau semi-permanen.

4. Keterbatasan Sambungan Paku:

o Sambungan ini kurang tahan terhadap beban tarik atau geser yang besar.

o Pada kayu lunak, paku dapat mudah terlepas jika sambungan mengalami beban dinamis.

3.3 Jarak Antar Sambungan

(11)

3.4 Dimensi Final

(12)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan

Kursi penopang kaki bebahan dasar kayu ini mempunya dimensi panjang 20cm, lebar 30cm dan tingginya 35cm dengan kegunaan untuk dapat menopang kaki agar tidak keram dan juga menjadi alat bantu refleksi. Sering menggantungkan kaki pada saat duduk di kursi dapat membuat kaki menjadi keram, bengkak, pegal, dll. Kursi penopang kaki ini adalh solusi untuk menjaga kenyaman terhadap kaki saat duduk dikursi dengan wakyu yang lama atau panjang.

4.2 Saran

Pembuatan kursi penopang kaki bebahan dasar kayu ini bisa dibuat menggunakan kayu berkualitas tinggi dan desain yang lebih bagus dan menambahkan busa pada bagian atas dudukan kaki agar dapat menmbanh harga jual dari kursi penopang kaki tersebut.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Darmansyah, A. (2015). Teknik Dasar Pertukangan Kayu. Penerbit Andi.

Sugiarto, B. (2017). Panduan Lengkap Kerajinan Kayu: Membuat Furnitur Kayu Secara Mandiri. Graha Ilmu.

Muladi, E. (2017). Kajian Alternatif Detail Sambungan Untuk Mainan Kayu. Vitruvian: Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan6(3), 185910.

Saifuddin, M. I., Edison, B., & Fahmi, K. (2014). Pengaruh Penambahan Campuran Serbuk Kayu Terdahap Kuat Tekan Beton. Jurnal Mahasiswa Teknik1(1).

Setiawan, A. P. (2003). Potensi Tumbuh-tumbuhan Dalam Menciptakan Ragam Material Finishing Untuk Interior. Dimensi Interior1(1), 46-60.

Basri, E., & Wahyudi, I. (2013). Sifat dasar kayu jati plus perhutani dari berbagai umur dan kaitannya dengan sifat dan kualitas pengeringan. Jurnal Penelitian Hasil Hutan31(2), 93-102.

Hidayati, F., Fajrin, I. T., Ridho, M. R., Nugroho, W. D., Marsoem, S. N., & Na'iem, M. (2016).

Sifat Fisika dan Mekanika Kayu Jati Unggul" Mega" dan Kayu Jati Konvensional yang Ditanam di Hutan Pendidikan, Wanagama, Gunungkidul, Yogyakarta. Jurnal Ilmu Kehutanan10(2), 98-107.

Putri, S. E., Shulhan, M. A., & Priyanto, A. (2020). Evaluasi Tegangan Tarik Acuan Kayu Lokal Berdasarkan SNI 7973: 2013. RENOVASI: Rekayasa Dan Inovasi Teknik Sipil5(2), 29-35.

file:///C:/Users/Fredy%20Rafael%20Pane/Downloads/6.BAB%20II.pdf http://eprints.itenas.ac.id/1469/4/04%20Bab%201%20222015043.pdf https://eprints.uny.ac.id/48428/9/MODUL%20AJAR.pdf

(14)

Referensi

Dokumen terkait

Dalam merancang struktur kayu, hal penting pertama yang harus di lakukan adalah menetapkan besarnya gaya yang bekerja pada batang, kemudian menetapkan besarnya tegangan ijin

Mengacu kepada uraian di atas dengan menunjukkan bukti hasil penelitian sebelumnya tentang hasil belajar dan pembelajaran berbasis proyek, ditegaskan bahwa untuk meningkatkan

Dari kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran berbasis proyek yang dilakukan oleh guru sudah baik setelah dilakukan perbaikan-perbaikan

Dari begitu banyak model pembelajaran inovatif, salah satu yang tepat untuk meningkatkan kemandirian belajar mahasiswa adalah pembelajaran berbasis proyek ( project

Dalam merancang struktur kayu, hal penting pertama yang harus di lakukan adalah menetapkan besarnya gaya yang bekerja pada batang, kemudian menetapkan besarnya tegangan ijin kayu

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Kajian Struktur Anatomi dan Kualitas Serat Kayu Normal, Kayu Tarik, dan Kayu Opposite dari Jenis

Berdasarkan model dan alat sambungan di atas maka untuk memenuhi Tugas Besar Struktur Kayu, dilakukan perencanaan struktur kuda-kuda model Polynesian Truss dengan sambungan paku untuk

Makalah yang berisi tentang sistem dan struktur politik dan ekonomi pada masa