Tugas Rekayasa Ide
LAPORAN REKAYASA IDE
Tya Chintia Gusli (4203220033) Rosmida Valentina Simanullang (4203220014)
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan
2020
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur saya ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan AnugerahNya sehingga saya dapat membuat dan menyelesaikan tugas Rekayasa Ide ini dalam keadaan sehat dan penulis masih dapat membuat tugas Rekayasa Ide (RI) ini tepat pada waktunya.
Tugas ini saya susun untuk menyelesaikan mata kuliah "Anatomi Fisiologi Manusia”
Harapan saya hasil dari rekayasa ide ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya dan pada khususnya juga pada teman-teman di program studi Biologi (non dik).
Demikianlah Rekayasa Ide (RI) ini kami susun, kami sadar bahwa Rekayasa Ide (RI) ini masih sangat jauh dari kata kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat saya harapkan. Atas perhatian Dosen pengampu dan teman-teman, saya ucapkan terima kasih.
Medan , 12 Mei 2022
Penyusun KELOMPOK 7
Daftar Isi
Daftar Isi...iii
Bab I Pendahuluan...1
Bab II Originalitas Ide dan Konteks Sosialnya...2
Bab III Perangkat yang Dibutuhkan Untuk Melakukan Inovasi...3
Bab IV Ide turunan dan konteks sosialnya...4
4.1 Peluang keterwujudan...4
4.2. Nilai-nilai Inovasi...5
4.3. Perkiraan Dampak...5
Bab V Kesimpulan dan saran...6
Daftar Pustaka...7
Bab I Pendahuluan
Kesehatan reproduksi merupakan suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan social yang baik, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, tetapi juga sehat dari aspekyang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi dan prosesnya. Wanita menghadapi ancaman Kesehatan reproduksi yang unik. Tingginya angka penyakit-penyakit yang dapat dicegah, kematian akibat komplikasi pada kehamilan dan persalinan, aborsi yang tidak aman, serta penyakit menular seksual dan kanker reproduktif sering dijumpai pada wanita yang miskin dan tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang komprehensif.
Hal ini terlihat pada rentannya wanita terhadap penularan penyakit menular seksual yang disebabkan faktor anatomis-biologis dan faktor sosiologis-gender. Kondisi anatomis biologis wanita menyebabkan struktur panggul wanita dalam posisi “menampung”, dan alat reproduksi wanita sifatnya “masuk ke dalam” dibandingkan pria yang sifatnya “menonjol keluar”.
Keadaan ini menyebabkan mudahnya terjadi infeksi kronik tanpa diketahui oleh yang bersangkutan. Adanya infeksi kronik akan memudahkan masuknya virus HIV. Mukosa (lapisan dalam) alat reproduksi wanita juga sangat halus dan mudah mengalami perlukaan pada proses hubungan seksual. Perlukaan ini juga memudahkan terjadinya infeksi menular seksual.
kebersihan organ reproduksi juga menjadi faktor risiko kanker serviks (kanker leher rahim) dimana 90% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim.Kanker ini dapat hadir dengan pendarahan vagina.
Human papilloma virus (HPV) 16 dan 18 merupakan penyebab utama pada 70% kasus kanker serviks di dunia. Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 10 hingga 20 tahun. Namun proses penginfeksian ini seringkali tidak disadari oleh para penderita, karena proses HPV kemudian menjadi pra-kanker sebagian besar berlangsung tanpa gejala
Timbulnya penyakit pada organ reproduksi perempuan diakibatkan kurangnya pemahaman mengenai cara menjaga kesehatan dan kebersihan organ reproduksinya. Dalam kenyataannya wanita mengatasi keadaan krisis dengan cara menempatkan kepentingannya pada urutan terakhir. Semakin langka sumber daya bagi masyarakat berarti semakin banyak wanita yang mengorbankan kesehatannya dengan cara semakin besar mengalokasikan sumber daya perorangannya (misalnya waktu, energi, fisik, dan material) untuk mendukung keluarga dan merawat anggota keluarga, keluarga yang sakit dan berusia lanjut.
Bab II
Originalitas Ide dan Konteks Sosialnya
Ide ini muncul setelah penulis membaca dan menemukan artikel pada website k.link yang memuat Berbagai gangguan kesehatan reproduksi wanita biasanya muncul karena perilaku dan kebiasaan buruk. Hal ini berawal dari infeksi bagian luar hingga ke bagian dalam yang disebabkan gaya hidup tidak sehat.
Masalah reproduksi remaja selain berdampak secara fisik, juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental dan emosi, keadaan ekonomi dan kesejahteraan sosial dalam jangka panjang. Dampak jangka panjang tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap remaja itu sendiri, tetapi juga terhadap keluarga, masyarakat dan bangsa pada akhirnya. Permasalahan Kesehatan reproduksi pada remaja terutama perempuan dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Perilaku berisiko
2. Kurangnya akses pelayanan Kesehatan
3. Kurangnya informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan 4. Banyaknya akses pada informasi yang salah tanpa tapisan
5. Masalah PMS termasuk infeksi HIV/AIDS
6. Tindak kekerasan seksual, seperti pemerkosaan, pelecehan seksual dan transaksi seks komersial
7. Kehamilan dan persalinan usia muda yang berisiko kematian ibu dan bayi.
8. Kehamilan yang tak dikehendaki, yang sering kali menjurus kepada aborsi yang tidak aman dan komplikasinya.
Masih kurangnya kesadaran remaja wanita mengenai cara menjaga kebersihan alat kelamin luar wanita yang baik dan benar untuk meningkatkan derajat kesehatan. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan remaja wanita mengenai cara menjaga kebersihan alat kelamin luar wanita yang baik dan benar. Oleh sebab itu, perlu diberikan informasi mengenai cara menjaga kebersihan alat kelamin luar wanita yang baik dan benar melalui media penyuluhan.
Dalam hal konteks sosialnya, melalui kegiatan seperti yang dimaksud oleh penulis adalah untuk meningkatan pengetahuan, akan meningkatkan pemahaman akan pentingnya menjaga kebersihan alat kelamin luar wanita yang baik dan benar. Dengan pemahaman yang baik akan membentuk perilaku menjaga kebersihan alat kelamin luar wanita yang baik dan benar. Sehingga pada akhirnya akan meningkatkan derajat Kesehatan.
Dan melalui penyuluhan online dan secara offline tersebut kiranya akan semakin menekan masalah reproduksi remaja selain berdampak secara fisik, juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental dan emosi, keadaan ekonomi dan kesejahteraan sosial dalam jangka Panjang, Dan meningkatkan rasa percaya diri dan edukasi secara gratis bagi wanita yang masih remaja.
Bab III
Perangkat yang Dibutuhkan Untuk Melakukan Inovasi
Suatu kebijakan atau suatu inovasi tentu membutuhkan perangkat- perangkat agar kebijakan tersebut dapat berjalan dan terlaksana dengan baik. Sehubungan dengan ide yang dipaparkan penulis yakni “Edukasi Remaja Terhadap Kebersihan Alat Reprosuksi”. akan terlibat Tenaga Kesehatan (KEMENKES) di Indonesia, Sekolah, Forum Anak dan Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia.
A. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Kunci dari terlaksananya kegiatan yang dimaksud penulis semuanya berawal dari keputusan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang merupakan perangkat/lembaga pendidikan tertinggi di Indonesia. Faktor yang bersifat internal terkait dengan persoalan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi akan lebih baik jika disetujui oleh kementerian Kesehatan dan diawasi secara langsung oleh tenaga Kesehatan
B. Sekolah
Sekolah haruslah mendukung penuh kegiatan dengan cara menyiapkan sarana prasarana yang dibutuhkan. Baik itu dimulai dari tenaga pendidiknya hingga peralatan yang dibutuhkan harus dipersiapkan dengan baik oleh sekolah agar para remaja memahami betapa pentingnya menjaga kebersihan alat Reproduksi.
C. Forum Anak dan Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia.
Faktor yang bersifat ekternal bisanya merupakan faktor yang berhubungan dengan hal yang berada di luar kemampuan diri individu seperti lingkungan, pergaulanan, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, dan lain-lain. Faktor pemahaman mengenai kesehatan reproduksi menymbangkan kontribusi yang begitu besar terkait dengan persoalan-persoalan reproduksi remaja. Orang dengan pemahaman tentu mengarahkan dirinya untuk tidak melakukan faktor yang menyebabkan resiko dan dampak negatif bagi diri sendiri. Disnilah forum wanita dan forum anak diharapkan sebagai wadah untuk mengedukasi secara langsung karena forum ini lebih akrab dan dekat dengan kemasyarakatan yang bisa dibarengi dengan event yang menarik dan sesuai selera kaula muda.
Bab IV
Ide turunan dan konteks sosialnya
4.1 Peluang keterwujudan
Dalam hal ini akan dilakukan berbagai kegiatan atau event yang menarik agar para remaja menyukai materi yang akan disampaikan.
Melakukan webinar online melalui media daring seperti zoom, google meet dan webex dengan sistematika :
1. Membuat Tema menarik
Daya tarik utama dari sebuah seminar digital datang dari tema yang akan dibahas. Ada beberapa pilihan tema yang mungkin akan menarik bagi para peserta, seperti tips and trik dalam meenjaga kebersihan Alat Reproduksi. Dari tema yang dipilih, kemudian buatlah judul yang cukup membangkitkan rasa penasaran banyak orang. Missal digunakan “One Way With Reproduction”
2. Memilih audiens dengan benar
Setelah menemukan tema yang dirasa cukup menarik, maka kami akan menyebarkan informasi webinar ke audiens yang tepat. Disini menentukan audiens yang cocok untuk tema kami adalah remaja dan mahasiswa dallam rentang usia 15-21 tahun. Langkah pertama adalah kami akan meneliti latar belakang demografi. Yang termasuk di dalamnya adalah jenis kelamin peserta, usia, hingga latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Kemudian, kami juga perlu menganalisa persoalan yang mungkin mereka alami. Apakah seminar digital yang akan kami laksanakan menawarkan solusi untuk persoalan mereka? Langkah terakhir adalah membuat survey. Kami bisa membuat beberapa pertanyaan yang disebar layaknya kuisioner. Di dalamnya, kami akan menanyakan kata kunci yang berkaitan dengan seminar digital yang akan kami sampaikan
3. Pembicara kompeten
Pembicara sama pentingnya dengan audiens, beberapa pendapat bahkan mengatakan bahwa pembicara adalah faktor utama. Tentunya, harus memilih pembicara yang memiliki kapasitas dalam topik atau tema yang disampaikan. Jika pembicara memiliki kompetensi yang baik, jalannya seminar pastinya akan lebih menarik. Pasalnya, audiens seringkali melontarkan reaksi yang di luar dugaan. Jika pembicara menguasai topik, maka apa pun reaksi maupun pertanyaan peserta pasti dapat dijawab dengan memuaskan. Para pembicara pun wajib memiliki karakteristik yang interaktif. Bagaimanapun juga, para peserta seminar digital tentu ingin diakui kehadirannya. Cara yang paling mudah adalah dengan me-notice respon mereka. Jika tidak, sesekali sebut nama peserta yang hadir secara acak. Hal itu secara tidak langsung dapat membuat peserta lebih merasa dihargai.
4. Membuat susunan acara
Seminar digital biasanya memiliki durasi khusus yang bertujuan agar semua materi bisa disampaikan. Agar durasi tidak berlarut-larut, yang berpotensi membuat peserta merasa bosan, ada baiknya agar membuat susunan acara. Susunan tersebut dibuat sedemikian rupa agar kami memiliki panduan saat berbicara di depan para peserta seminar digital. Dalam susunan acara tersebut, juga perlu diselipkan sesi khusus untuk tanya jawab. Tujuannya adalah untuk mengukur sedalam apa para peserta memahami topik seminar online. Sesi ice breaking juga sangat disarankan, untuk memecah kebuntuan atau membuat rileks para peserta, jika seminar digital berlangsung cukup panjang.
5. Waktu yang tepat
Seminar digital akan memberikan dampak yang lebih terasa jika dilakukan pada waktu yang tepat. Ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa pukul 11 hingga 2 siang adalah rentang waktu yang tepat untuk menyajikan seminar digital.
B. penyuluhan secara offline
Kami akan melakukan penyuluhan secara langsung dari sekolahke sekolah yang akan dibantu oleh tim tenaga Kesehatan dan forum anak. Dalam melakukan penyuluhan ini tidak akan ada pungutan biaya.
4.2. Nilai-nilai Inovasi
Dengan adanya Kerjasama Tenaga Kesehatan (KEMENKES) di Indonesia, Sekolah, Forum Anak dan Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia maka melalui penyuluhan online dan secara offline tersebut kiranya Dalam hal konteks sosialnya, melalui kegiatan seperti yang dimaksud oleh penulis adalah untuk meningkatan pengetahuan, akan meningkatkan pemahaman akan pentingnya menjaga kebersihan alat kelamin luar wanita yang baik dan benar. Dengan pemahaman yang baik akan membentuk perilaku menjaga kebersihan alat kelamin luar wanita yang baik dan benar. Sehingga pada akhirnya akan meningkatkan derajat Kesehatan.
Dan melalui penyuluhan online dan secara offline tersebut kiranya akan semakin menekan masalah reproduksi remaja selain berdampak secara fisik, juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental dan emosi, keadaan ekonomi dan kesejahteraan sosial dalam jangka Panjang, Dan meningkatkan rasa percaya diri dan edukasi secara gratis bagi wanita yang masih remaja.
mental dan emosi, keadaan ekonomi dan kesejahteraan sosial dalam jangka Panjang, Dan meningkatkan rasa percaya diri dan edukasi secara gratis bagi wanita yang masih remaja.
Bab V
Kesimpulan dan saran
1. Kesehatan reproduksi merupakan suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan social yang baik, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, tetapi juga sehat dari aspekyang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi dan prosesnya.
2. Dalam hal konteks sosialnya, melalui kegiatan seperti yang dimaksud oleh penulis adalah untuk meningkatan pengetahuan, akan meningkatkan pemahaman akan pentingnya menjaga kebersihan alat kelamin luar wanita yang baik dan benar. Dengan pemahaman yang baik akan membentuk perilaku menjaga kebersihan alat kelamin luar wanita yang baik dan benar. Sehingga pada akhirnya akan meningkatkan derajat Kesehatan. Dan melalui penyuluhan online dan secara offline tersebut kiranya akan semakin menekan masalah reproduksi remaja selain berdampak secara fisik, juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental dan emosi, keadaan ekonomi dan kesejahteraan sosial dalam jangka Panjang, Dan meningkatkan rasa percaya diri dan edukasi secara gratis bagi wanita yang masih remaja.
Daftar Pustaka
Haviz. (2013). Dua Sistem Tubuh: Reproduksi dan Endokrin. In Jurnal Saintek (Vol. 5, Issue 2, pp. 153–168).
Mandriwati, G. A., & Padmiyani, N. K. (2013). Habits of Maintaining Genital Hygiene in Patiens With Abortion at Sanglah Public Hospital Denpasar 2013. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 4(3), 141–151.
Purnasari, E. B. (2018). Hubungan antara Perilaku Hygiene Genetalia dengan Kejadian Keputihan Patologis. In Jurnal Biometrika dan Kependudukan (Vol. 7, Issue 1, p. 20).
https://doi.org/10.20473/jbk.v7i1.2018.20-28
Puspitasari, R. D., Utama, W. T., Anggraini, D. I., & Aditya, M. (2015). Penyuluhan dan Simulasi Menjaga Kebersihan Alat Kelamin Luar Wanita Di SMA Muhammadiyah 2 Bandarlampung. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Abstrak, 1(1), 30–32.
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JPM/article/view/1142
Termorshuizen, G. (2021). Semarang. Journalisten En Heethoofden, 11(1), 320–432.
https://doi.org/10.1163/9789004487123_015