LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PESTISIDA DAN TEKNIK APLIKASI
OLEH :
NAMA : MIRNA DEFRIYA WULANDARI NO BP : 2110253032
KELAS : PTA PROT D
ASISTEN PRAKTIKUM: 1. JOKO PRASETYO (1910251004) 2. RAYHAN FADHLURRAHMAN (1910253005) DOSEN PENJAB : 1. Prof. Dr. Ir. TRIZELIA, MSi
2. Ir. REFLIN, MP
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS PADANG
2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Laporan Akhir Praktikum Pestisida Dan Teknik Aplikasi ini tepat pada waktunya.
Terlebih dahulu, saya mengucapkan terima kasih kepada asisten dan dosen penjab yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni. Adapun tujuan dari penyusunan laporan ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Pestisida Dan Teknik Aplikasi dan sebagai syarat untuk mengkuti Ujian Akhir Praktikum.
Saya selaku penyusun menyadari bahwa laporan praktikum ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, saya menerima dengan terbuka semua kritik dan saran yang membangun agar laporan praktikum ini tersusun lebih baik lagi. Saya juga berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Padang, Juni 2023
MDW
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………..i
DAFTAR ISI...ii
DAFTAR TABEL... iii
DAFTAR GAMBAR... iv
BAB I. PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Tujuan...2
C. Manfaat...2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA...3
A. Pestisida...3
B. Formulasi Pestisida...5
C. Alat Aplikasi Pestisida...6
D. Kalibrasi... 7
E. Polo Plus...7
BAB III. METODOLOGI...8
A. Waktu danTempat... 8
B. Alat dan Bahan... 8
C. Cara Kerja...8
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...10
A. Hasil...10
B. Pembahasan...14
BAB V. PENUTUP...17
A. Kesimpulan...17
B. Saran...18
DAFTAR PUSTAKA...19
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Pengenalan Pestisida...10 Tabel 2 Formulasi Pestisida Nanoemulsi...11 Tabel 3.1 Pengamatan Ulat C. pavonana yang Mati
Tabel 3.2 Pengamatan Jumlah Daun yang Berlubang Tabel 4 Kalibrasi Alat Semprot Pestisida
Tabel 5 Mortalitas Ulat Krop Setelah Perlakuan
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Pengenalan Pestisida... 10 Gambar 2 Formulasi Pestisida Nanoemulsi...11
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pestisida adalah substansi kimia (bahan kimia, campuran bahan kimia atau bahan-bahan lain) bersifat racun dan bioaktif yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai hama, baik insekta, jamur maupun gulma. Menurut USEPA (United States Environmental Protection Agency), pestisida merupakan zat atau campuran yang digunakan untuk mencegah, memusnahkan, menolak, atau memusuhi hama dalam bentuk hewan, tanaman dan mikroorganisme pengganggu. Pestisida dapat dikelompokkan berdasarkan jenis sasaran, bentuk fisik, bentuk formulasi, cara kerjanya, cara masuk, golongan senyawa, dan asal (bahan aktif) (Aglios, 2015).
Peraturan menteri Pertanian Nomor : 07/Permentan/SR.140/2/2007 mendefinisikan bahwa pestisida adalah zat kimia atau bahan lain dan jasad renik serta virus yang digunakan untuk: 1) memberantas atau mencegah hama-hama tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian, 2) Memberantas rerumputan, 3) Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan tanaman yang tidak diinginkan, 4) Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagianbagian tanaman, tidak termasuk pupuk, 5) Memberantas atau mencegah hamahama luar pada hewan-hewan piaraan dan ternak, 6) Memberantas dan mencegah hama-hama air, 7) Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam rumah tangga, bangunan dan alat-alat pengangkutan,dan 8) Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang perlu dilindungi dengan penggunaan pada tanaman, tanah atau air (Kementerian Pertanian, 2014).
Bahan terpenting yang bekerja aktif dalam pestisida terhadap hama sasaran dinamakan bahan aktif. Bahan aktif dengan kadar bahan aktif yang tinggi tersebut tidak dapat digunakan sebelum diubah bentuk dan sifat fisiknya dan dicampur dengan bahan lainnya. Pencampuran ini dilakukan agar bahan aktif tersebut mudah disimpan, diangkut, dapat digunakan dengan aman, efektif dan ekonomis.
Produk jadi yang merupakan campuran fisik antara bahan aktif dan bahan tambahan yang tidak aktif dinamakan formulasi (formulated product). Formulasi
sangat menentukan bagaimana pestisida dengan bentuk dan komposisi tertentu harus dipergunakan, berapa dosis atau takaran yang harus dipakai, berapa frekuensi dan interfal penggunaan, serta terhadap sasaran apa pestisida dengan formulasi tersebut dapat digunakan dengan efektif (Yuantari, 2015).
Di bidang pertanian, penggunaan pestisida juga telah dirasakan manfaatnya untuk meningkatkan produksi. Terutama digunakan untuk melindungi tanaman dan hasil tanaman, ternak maupun ikan dari kerugian yang ditimbulkan oleh berbagai jasad pengganggu. Akan tetapi, penggunaan pestisida yang tidak tepat dapat membahayakan kesehatan petani dan konsumen, mikroorganisme non target serta berdampak pada pencemaran lingkungan baik itu udara, tanah dan air.
Penggunaan pestisida yang berlebihan akan meningkatkan biaya pengendalian, mempertinggi kematian organisme non target serta dapat menurunkan kualitas lingkungan (Supriadi, 2013).
Intensifikasi penggunaan pestisida kimia sintetis pada kenyataannya mengakibatkan berbagai dampak yang tidak diinginkan. Berbagai upaya untuk mengontrol penggunaan pestisida sintetis telah dilakukan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dilakukan pembenahan terhadap cara budi daya tanaman agar lebih berwawasan lingkungan dengan memerhatikan dan memanfaatkan sumber daya hayati yang melimpah di alam antara lain dengan memanfaatkan senyawa sekunder tanaman sebagai bahan aktif pestisida. Pestisida dengan bahan aktif yang bersumber dari tanaman dikenal sebagai pestisida nabati (Rosma, 2015).
B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum pestisida dan teknik aplikasi ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis pestisida, bahan aktif, formulasi dan sasarannya, pemberian label pada kemasan pestisida, kalibrasi dan cara mengaplikasikan pestisida, dan penggunaan polo plus.
C. Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum pestisida dan teknik aplikasi ini yaitu praktikan dapat mengetahui penggolongan pestisida dan dapat membedakan
formulasi pestisida, dan mengetahui cara pengaplikasian pestisida sehingga penggunaanya lebih efektif.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pestisida
Pestisida secara umum diartikan sebagai bahan kimia beracun yang digunakan untuk mengendalikan jasad penganggu yang merugikan kepentingan manusia. Dalam Undang-Undang No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, yang dimaksud dengan pestisida adalah zat pengatur dan perangsang tumbuh, bahan lain, serta organisme renik, atau virus, yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman. Menurut Direktorat Jendral Prasaran dan Sarana Pertanian, Kementrian Pertanian, pestisida merupakan bahan yang banyak memberikan manfaat sehingga banyak dibutuhkan masyarakat pada bidang pertanian (pangan, perkebunan, perikanan, peternakan), penyimpanan hasil pertanian, kehutanan (tanaman hutan dan pengawetan hasil hutan), rumah tangga, dan penyehatan lingkungan, pemukiman, bangunan, pengangkutan, dan lain-lain (Kementerian Pertanian, 2014).
Dalam sejarah peradaban manusia, pestisida telah cukup lama digunakan terutama dalam bidang kesehatan dan bidang pertanian. Pestisida telah secara luas digunakan untuk tujuan memberantas hama dan penyakit tanaman dalam bidang pertanian. Dengan bantuan pestisida, petani meyakini dapat terhindar dari kerugian akibat serangan jasad pengganggu tanaman yang terdiri dari kelompok hama, penyakit maupun gulma. Keyakinan tersebut, cenderung memicu pengunaan pestisida dari waktu ke waktu meningkat dengan pesat (Djojosumarto, 2013).
Penggunaan pestisida yang tidak tepat dapat membahayakan kesehatan petani, konsumen, dan lingkungan. Dampak negatif dari penggunaan pestisida oleh petani tidak menyurutkan petani untuk mengurangi penggunaan pestisida hal ini dapat diketahui dari beberapa hasil penelitian antara lain, adanya peningkatan penggunaan pestisida khususnya endosulfan dan cypermethrin oleh Nafees, et al (2008), hal ini dapat berdampak pada bahaya kesehatan serta berbahaya pada lebah madu, ikan, burung serta pengembangbiakan insektisida. Perlu adanya
perhatian dalam pencampuran dalam menggunakan pestisida serta kesadaran dan pencegahan (Jefinsa et al., 2016).
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tanpa disadari menghasilkan produk yang terlalu tinggi bahan berbahayanya. Akibatnya akan menjadi ancaman dalam jangka panjang. Untuk mengantisipasi hal tersebut, diperlukan teknologi yang mampu menjamin kesehatan jangka panjang bagi masyarakat dengan muatan lokal dan ramah lingkungan. Perkembangan teknologi yang semakin maju dan pesat sangat mempengaruhi pola pikir manusia khususnya kesadaran terhadap kesehatan yang semakin tinggi. Kebutuhan akan makanan sehat tanpa campuran bahan yang berbahaya saat ini sangat diperlukan oleh masyarakat (Aglios, 2015).
Konsep pertanian ramah lingkungan adalah konsep pertanian yang mengedepankan keamanan seluruh komponen yang ada pada lingkungan ekosistem dimana dengan mengutamakan tanaman maupun lingkungan serta dapat dilaksanakan dengan menggunakan bahan yang relatif murah dan peralatan yang relatif sederhana tanpa meninggalkan dampak yang negatif bagi lingkungan (Kardina, 2014).
Penggunaan pestisida sintetik telah banyak memberikan dampak negatif pada lingkungan, sehingga diperlukan penggunaan pestisida nabati untuk menuju pertanian yang ramah lingkungan. Melihat bahaya dari penggunaan pestisida kimia tersebut, untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dilakukan pembenahan terhadap cara budidaya tanaman agar lebih berwawasan lingkungan dengan memerhatikan dan memanfaatkan sumber daya hayati yang melimpah di alam (Rosma, 2015).
Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tanaman atau tumbuhan dan bahan organik lainya yang berkhasiat mengendalikan serangan hama pada tanaman. Pestisida ini tidak meninggalkan residu yang berbahaya pada tanaman maupun lingkungan serta dapat di buat dengan mudah menggunakan bahan yang murah dan peralatan yang sederhana. Tanaman yang berpotensi sebagai bahan pestisida memiliki ciri beraroma kuat, rasa yang pahit, tidak disukai serangga hama dan dapat digunakan sebagai tanaman obat (Amelia, 2021).
Sebagai salah satu alternatif pertanian ramah lingkungan khususnya dalam hal pengendalian serangga hama tanaman, penggunaan pestisida nabati dinilai aman digunakan. Sifat pestisida nabati mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga tidak mencemarkan lingkungan. Selain itu, Pestisida nabati digolongkan menjadi pestisida alami yang bahan bakunya mudah diperoleh di alam sehingga berpengaruh pula pada harga yang relatif murah. Hal ini dapat mengatasi kesulitan ketersediaan dan mahalnya harga pestisida sintetis atau kimiawi (Abdul et al., 2014).
B. Formulasi Pestisida
Upaya peningkatan produksi pertanian dengan penggunaan pestisida dianggap cara paling aman dan baik. Penggunaan pestisida mampu menekan kehilangan hasil tanaman akibat serangan hama dan penyakit. Karena keberhasilan tersebut, pestisida seakan-akan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budidaya segala jenis tanaman baik tanaman holtikura, pangan maupun perkebunan (Yadav, 2017).
Pestisida merupakan salah satu sarana produksi yang sangat penting dalam upaya perlindungan tanaman. Saat ini penggunaan pestisida sangat tinggi dan ketersediaan pestisida di lapangan sangat beragam, sehingga petani/pengguna memiliki kesempatan untuk memilih sesuai dengan kebutuhan dan harga yang sesuai. Berdasarkan hasil pengawasan ditingkat lapangan, masih ditemukan pestisida beredar yang tidak sesuai dengan ketentuan berlaku seperti pestisida yang tidak terdaftar di Kementerian Pertanian, pestisida palsu, pestisida yang kemasan/label tidak sesuai dengan aturan berlaku dan mutu diluar batas toleransi yang ditetapkan (Yuniastuti, 2018).
Pada dasamya pestisida yang beredar telah dalam bentuk formulasi yaitu campuran antara bahan aktif dengan bahan tambahan. Penambahan bahan tambahan tersebut berguna untuk memudahkan aplikasi, menambah efektifitas, menambah efisiensi dan keamanan dalam aplikasi. Bentuk formulasi pestisida dinyatakan dalam kode huruf kapital yang dicantumkan dibelakang angka setelah merek yang tertulis pada label kemasan. Kode huruf kapital tersebut merupakan singkatan dalam bahasa Inggris (Jefinsa et al., 2016).
Pestisida dalam bentuk teknis (technical grade) sebelum digunakan perlu diformulasikan dahulu. Formulasi pestisida merupakan pengolahan (processing) yang ditujukan untuk meningkatkan sifat-sifat yang dengan keamanan, penyimpanan, penanganan (handling), penggunaan, dan keefektifan pestisida.
Formulasi sangat menentukan bagaimana pestisida dengan bentuk dan komposisi tertentu harus digunakan, berapa dosis atau takaran yang harus digunakan, berapa frekuensi dan interval penggunaan, serta terhadap jasad sasaran apa pestisida dengan formulasi tersebut dapat digunakan secara efektif. Selain itu, formulasi pestisida juga menentukan aspek keamanan penggunaan pestisida dibuat dan diedarkan (Huddaya, 2013).
Berdasarkan bentuk formulasi, pestisida dikelompokkan menjadi: Butiran\
Granul, biasanya pestisida dengan formulasi bentuk ini dapat langsung diaplikasikan tanpa harus diiarutkan terlebih dahulu. Ukuran butiran bervariasi antara 0,7 – 1 mm. Wettable Powder (WP), biasanya harus dilarutkan terlebih dahulu sebelum diaplikasikan. Formulasi bentuk ini membentuk sediaan pestisida berupa suspensi. sehingga sangat diperlukan pengadukan yang terus menerus karena sifat sediaan ini dapat mengendap dan dapat merusak alat aplikasi atau terjadinya penyumbatan pada nozel. Soluble Powder (SP), merupakan formulasi berbentuk tepung yang jika dicampur air akan membentuk larutan homogen.
Emulsifiable Concentrate atau Emulsible Concentrate (EC), merupakan sediaan berbentuk pekatan (konsentrat) cair. formulasi berbentuk EC ini akan membentuk emulsi (seperti susu) pada larutan semprot. Larutan jadi ini tidak memerlukan pengadukan yang terus menerus. Aquaeous Solution (AS), Pestisida dengan formulasi ini akan membentuk iarutan yang homogen setelah dicampurkan dengan air (Mollet, 2014).
C. Alat Aplikasi Pestisida
Semua alat yang digunakan untuk mengaplikasikan pestisida dengan cara penyemprotan disebut alat semprot atau sprayer. Apapun bentuk dan mekanisme kerjanya, sprayer berfungsi untuk mengubah atau memecah larutan semprot yang dilakukan oleh nozzle, menjadi bagian-bagian atau butiran-butiran yang sangat halus (droplet). Pada alat pengkabut (miss blower) dimasukkan kedalam pengertian sprayer. Fogging machine dan coldaerosol
generator sebenarnya juga dapat dianggap sebagai sprayer (Kardina, 2014).
Sprayer adalah alat/mesin yang berfungsi untuk memecah suatu cairan, larutan atau suspensi menjadi butiran cairan (droplets) atau spray.
Kinerja sprayer sangat ditentukan oleh kesesuaian ukuran droplet aplikasi yang dapat dikeluarkan dalam satuan waktu tertentu sehingga sesuai dengan ketentuan penggunaan dosis pestisida yang akan disemprotkan.
D. Alat yang digunakan dalam aplikasi pestisida tergantung formulasi
yang digunakan.
E. Pestisida yang berbentuk butiran untuk
menyebarkannya tidak membutuhkan alat
khusus,
F. cukup dengan ember
atau alat lainnya yang
bisa dugunakan untuk menampung pestisida G. tersebut dan
sarungtangan agar tangan tidak
berhubungan langsung dengan pestisida.
H. Pestisida berwujud cairan (EC) atau
bentuk tepung yang dilarutkan (WP atau Suntuk menyebarkannya.
Sedangkan pestisida yang berbentuk
I. tepung hembus bisa
digunakan alat
penghembus. Pestisida berbentuk fumigant
dapat
J. diaplikasikan dengan alat penyuntik, misalnya alat penyuntik tanah
untuk nematisida atau K. penyuntik pohon
kelapa untuk jenis insektisida yang
digunakan memberantas penggerek
L. batang
Alat yang digunakan dalam aplikasi pestisida tergantung formulasi yang digunakan (Hidayat, 2016).
D. Kalibrasi
Penggunaan pestisida pada suatu lahan, diperlukan ketepatan teknik. Hal ini untuk menghindari terbuangnya pestisida yang berlebihan atau tanaman menerima pestisida dalam jumlah berlebih. Oleh karena itu, sprayer
perlu untuk dikalibrasi terlebih dahulu. Kalibrasi ini ditentukan oleh luas lahan, jenis tanaman, dan jenis pestisida apa yang akan diaplikasikan (Kardina, 2014).
Kalibrasi adalah serangkaian
kegiatan yang membentuk
hubungan antar- nilai yang
ditunjukkan oleh instrumen
pengukuran atau
sistem pengukuran, atau yang diwakili oleh
bahan ukur, dengan
nilai-nilai yang sudah
diketahui yang berkaitan dari
besaran yang diukur dengan kondisi
tertentu.
Kalibrasi adalah serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antar-nilai yang ditunjukkan oleh instrumen pengukuran atau sistem pengukuran, atau yang diwakili oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran yang diukur dengan kondisi tertentu.
Kalibrasi dilakukan untuk menghindari pemborosan petisida, memperkecil terjadinya keracunan pada tanaman akibat penumpukan pestisida dan memperkecil pencemaran lingkungan, untuk mengetahui berapa banyak larutan semprot yang diperlukan untuk menyemprot suatu satuan luas tertentu sehingga dapat diketahui konsentrasi yang harus dibuat agarsesuai dengan dosis yang diperlukan (Moekasan, 2013).
Semua alat yang
digunakan untuk
mengaplikasikan
pestisida dengan
cara
penyemprotan
disebut alat semprot atau sprayer. Apapun bentuk dan
mekanisme kerjanya, sprayer berfungsi untuk mengubah atau memecah
larutan semprot yang dilakukan oleh
nozzle, menjadi
bagian-bagian atau butiran-butiran yang sangat halus
(droplet). Pada alat
pengkabut (miss
blower) dimasukkan kedalam pengertian sprayer. Fogging
machine dan cold
aerosol generator sebenarnya juga dapat dianggap sebagai sprayer.
Banyak jenis alat
penyemprot yang
bisa digunakan,
yaitu penyemprot
gendong, pengabut
bermotor tipe
gendong (Power Mist Blower and Dust),
mesin penyemprot
tekanan tinggi (High Pressure
Power Sprayer), dan jenis penyemprot
lainnya. Penggunaan alat penyemprot ini disesuaikan
dengan kebutuhan terutama yang
berkaitan dengan luas areal
pertanaman
sehingga
pemakaian pestisida menjadi efektif dan efisien
Semua alat yang digunakan untuk mengaplikasikan pestisida dengan cara penyemprotan
disebut alat semprot atau sprayer. Apapun bentuk dan
mekanisme kerjanya,
sprayer berfungsi
untuk mengubah
atau memecah
larutan semprot yang dilakukan oleh
nozzle, menjadi
bagian-bagian atau butiran-butiran yang sangat halus
(droplet). Pada alat pengkabut (miss
blower) dimasukkan kedalam pengertian sprayer. Fogging
machine dan cold
aerosol generator
sebenarnya juga
dapat dianggap
sebagai sprayer.
Banyak jenis alat penyemprot yang bisa digunakan, yaitu penyemprot gendong, pengabut bermotor tipe
gendong (Power Mist Blower and Dust),
mesin penyemprot
tekanan tinggi (High Pressure
Power Sprayer), dan jenis penyemprot
lainnya. Penggunaan
alat penyemprot ini disesuaikan
dengan kebutuhan terutama yang
berkaitan dengan luas areal
pertanaman sehingga
pemakaian pestisida menjadi efektif dan efisien
E. Polo Plus
POLO-PC merupakan program dalam DOS yang dirancang khusus sesuai dengan dosis yang diperlukan untuk menghitung analisis probit atau untuk mengelola data hubungan. Analisis probit mulai diperkenalkan oleh Chester Ittner Bliss pada tahun 1934 dalam sebuah artikel Science tentang bagaimana mengolah data persentase pengaruh pestisida terhadap hama. Regresi Probit merupakan modifikasi regresi logistik dengan menetapkan persamaan regresi logit mengikuti distribusi normal (Lina, 2016).
BAB III. METODOLOGI A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pestisida dan Teknik Aplikasi dilaksanakan setiap hari Rabu, mulai tanggal 1 Maret sampai 24 Mei 2023 pukul 07.30 – 09.10 di Laboratorium Bioekologi Serangga, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah sarung tangan, cawan petri, pinset, tabung reaksi, beaker glass, bunsen, mikropipet, spatula, alat semprot, penggaris, gunting, ember. Sedangkan bahan yang digunakan larutan EC, insektisida Decis, kertas milimeter, daun kubis, larva instar 2 Crocidolomia pavonana 10 ekor, air, aquades, tali rafia.
C. Cara Kerja
1. Pengenalan Pestisida dan Jenis Formulasi
Pertama siapkan alat tulis, dan kamera Hp. Kemudian, pestisida yang ada dilihat merk dagangnya, jenisnya, bentuk fisik dan formulasinya, bahan aktifnya, komposisi serta OPT sasaran yang terdapat pada label pestisida. Setelah itu, dokumentasikan dan dicatat pada logbook
2. Formulasi pestisida nanoemulsi
Pertama siapkan pestisida, air, 3 beaker glass, dan alat pengaduk. Kemudian pestisida dengan bentuk formulasi EC, WP, SP dimasukkan ke dalam masing- masing beaker glass sesuai dengan takaran yang ditentukan. Setelah itu masing- masing beaker glass tersebut yang sudah dimasukkan pestisida di beri air dan diaduk menggunakan alat pengaduk sampai terlarut. Kemudian, diamati bentuk pestisida dan lama pestisida tersebut terlarut dan mengendap, lalu dokumentasikan.
3. Peracunan media PDA
Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan terlebih dahulu. Dilakukan perlakuan pestisida sintetik dengan decis 100ml (0,8ml/l). Dipotong daun kubis (2x2). Pada cawan petri diletakkan 2 tembar tisu dengan posisi memanjang.
Kemudian, diletakkan ulat Crocidolomia pavonana kedalam cawan petri, masing masing 10 ekor sesuai perlakuan. Selanjutnya masukkan sintetik decis kedalam
labu ukur yang telah berisi aquades. Daun tadi, dicelupkan kedalam labu ukur selama 30 detik lalu diangkat. Keringkan daun tersebut sampai benar benar kering. Lalu dimasukkan kedalam cawan petri yang telah berisi ulat, kemudian diamati.
4. Kalibrasi
a. Kecepatan Curah Nozzel
Dimasukkan air ke dalam sprayer yang telah disediakan, lalu dipompa atau ditekan kemudian dilakukan penyemprotan ke dalam gelas ukur sebanyak tiga kali dan dihitung kecepatan curah nozzel.
b. Lebar Gawang
Dimasukkan air ke dalam sprayer, dilakukan penyemprotan dengan ketinggian nozel 60cm dari permukaan tanah, diukur lebar penyemprotan dari air yang keluar dari nozzel, diulangi sebanyak tiga kali dan dihitung berapa lebar gawang per meter.
c. Kecepatan Jalan
Dilakukan penyemprotan sambil berjalan secara teratur sejauh 10 meter, kemudian dihitung waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak 10 meter dengan menggunakan stopwatch, dan diulangi sebanyak tiga kali dan dihitung berapa kecepatan jalan
5. Polo plus
Didownload aplikasi polo plus pada laptop. Dimasukkan data yang terdapat pada jurnal ke dalam apk polo+ terdapat didalam note, konsentrasi jumlah larva yang diiju dan jumlah mortalitas dari larva yang teruji lalu masuk ke apk polo+.
Klik open " a data file " lalu klik open, dan terdapat data yang dari note lalu dimasukkan jika sudah muncul jumlah data dan sama dengan data dari note yang kita tulis, lalu klik choose options selanjutnya mucul LDs to calculate, lalu masukkan angka 50 dan 95 selanjutnya klik ok.
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil
1. Pengenalan Pestisida
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan yaitu mengamati beberapa kemasan pestisida, didapat hasil berupa komponen yang ada di kemasan pestisida yang disajikan pada tabel 1.
Tabel 1 Pengenalan Pestisida N
o
Merek Dagang
Bahan Aktif
Bentu k Form
ulasi
Jenis Pestisida
Sifat OPT
Sasaran
Gambar
1 Callicro n 500
EC
Profe nofos
EC 500g/l
Insektisi da
Kontak + Lambung
Ulat grayak,
thrips, kutu daun 2 Folicur
25 WP
Tebuk onazo l 25%
WP Fungisid a
Sistemik Jamur
3 Agrept 20 WP
Strept omisi
n sulfat
20%
WP Bakterisi da
Antibiotik Layu bakteri
4 Roundu p
Glifos at
SL Herbisid a
Sistemik Gulma
5 Bentan 60 WP
Fentin asetat
WP Moluskis ida
Protektif, kuratif
Keong
2. Formulasi Pestisida Nanoemulsi
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan yaitu mengamati bentuk formulasi larutan EC, SP, WP untuk melihat berapa lama jenis pestisida tersebut terlarut dan mengendap yang disajikan dalam tabel 2.
Tabel 2 Formulasi Pestisida Nanoemulsi
No Formulasi Terlarut Mengendap Gambar
1 WP (Wettable Powder)
3 detik 15 menit
2 SP (Soluble Powder)
1 detik -
3 EC (Emulsifiable Concentrate)
3 detik -
3. Peracunan Media PDA
Berdasarkan praktikum pengamatan pengaruh pemberian Insektisida Decis terhadap ulat C. pavonana didapatkan hasil yang disajikan dalam tabel 3.
Tabel 3.1 Pengamatan ulat C. pavonana yang Mati
No Perlakuan Jumlah Ulat Mati Mortalitas
1 Decis 25 EC konsentrasi 0,8 ml 9 90%
2 Decis 25 EC konsentrasi 0,8 ml 9 90%
No Perlakuan Jumlah Ulat Mati Mortalitas
1 Decis 25 EC konsentrasi 0,8 ml 10 100%
2 Decis 25 EC konsentrasi 0,8 ml 9 90%
Tabel 3.2 Pengamatan Jumlah Daun yang Berlubang
No Perlakuan Lubang Daun
1 Decis 25 EC konsentrasi 0,8 ml 7/900 x 100% = 0,7%
2 Decis 25 EC konsentrasi 0,8 ml 11/900 x 100% = 1,2%
No Perlakuan Lubang Daun
1 Decis 25 EC konsentrasi 0,8 ml 7/900 x 100% = 0,7%
2 Decis 25 EC konsentrasi 0,8 ml 452/900 x 100% = 50,2%
4. Kalibrasi
Berdasarkan praktikum materi kalibrasi yang telah dilakukan didapatkan hasil yang disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 4 Kalibrasi Alat Semprot Pestisida
Ulangan
Curah nozzle (C)
Lebar gawang (G)
Kecepatan jalan (K)
Waktu Cm Waktu
1 5,00 390 16,82 detik
2 5,06 290 17,32 detik
3 5,57 385 14,71 detik
Rata-Rata 5,21 355 16,28 detik
5. Polo Plus
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan menggunakan aplikasi polo plus dengan menggunakan data dari jurnal, didapatkan hasil yang disajikan dalam tabel 5.
Tabel 5 Mortalitas Ulat Krop Setelah Perlakuan
No Perlakuan
(ml/l)
Mortalitas (100%)
24 jsp 48 jsp 72 jsp 96 jsp
1 Kontrol 0,00 c 1,67 c 1,67 b 3,33 b
2 Keprok, 10 8,33 b 6,67 b 13,33 a 15,00 a
3 Keprok, 20 10,00 b 15,00 ab 16,67 a 18,33 a
4 Besar, 10 6,67 b 11,67 ab 15,00 a 16,67 a
5 Besar, 20 6,67 b 15,00 ab 20,00 a 23,33 a
6 Nipis, 10 10,00 b 13,33 ab 18,33 a 20,00 a
7 Nipis, 20 15,00 ab 20,00 ab 23,33 a 26,67 a
8 Purut, 10 11,67 b 18,33 ab 18,33 a 20,00 a
9 Purut, 20 21,67a 25,00 a 26,67 a 26,67 a
B. Pembahasan
1. Pengenalan pestisida
Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, atau membasmi organisme pengganggu tanaman. Pestisida telah secara luas digunakan untuk tujuan membrantas hama dan penyakit tanaman dalam bidang pertanian.
Pada dasamya pestisida yang beredar telah dalam bentuk formulasi yaitu campuran antara bahan aktif dengan bahan tambahan. Penambahan bahan tabahan tersebut berguna untuk memudahkan aplikasi, menambah efektifitas, menambah efisiensi dan keamanan dalam aplikasi. Pestisida dapat dikelompokkan berdasarkan jenis sasaran, bentuk fisik, bentuk formulasi, cara kerjanya, cara masuk, golongan senyawa, dan asal (bahan aktif). Beberapa contoh pestisida yaitu Callicron 500 EC, Folicur 25 WP, Agrept 20 WP, Roundup, dan Bentan 60 WP.
Callicron 500 EC merupakan pestisida golongan insektisida dengan bahan aktif Profenofos yang bersifat racun kontak. Folicur 25 WP merupakan pestisida golongan fungisida dengan bahan aktif tebukanazol yang bersifat sistemik. Agrept 20 WP termasuk golongan bakterisida, dengan bahan aktif streptomisin sulfat 20% yang dapat digunakan daalam pengendalian penyakit layu bakteri. Roundup merupakan pestisida golongan herbisida dengan bahna aktif glifosat yang bersifat sistemik dalam mengendalikan gulma. Bentan 60 WP merupakan pestisida golongan moluskisida dengan bahan aktif fentin asetat yang digunakan dalam pengendalian hama keong.
Pengenalan pestisida perlu dilakukan agar masyarakat ataupun mahasiswa dapat mengetahui dan membedakan jenis jenis pestisida dan bahan yang terkandung didalamnya agar penggunaannya menjadi lebih efektif.
2. Formulasi Pestisida Nanoemulsi
Formulasi pestisida adalah bentuk campuran antara bahan aktif dan bahan tambahan yang digunakan dalam produksi suatu jenis pestisida. Kode formulasi pestisida pada umumnya ditulis dengan 2 atau 3 huruf kapital di akhir merek dagang suatu produk yang didahului dengan angka. Adapun bentuk formulasi pestisida yang diamati pada saat praktikum yaitu WP, SP, dan EC.
Wettable Powder (WP) adalah formulasi bentuk tepung yang bila dicampur air akan membentuk suspensi. partikel dari tepung halus tersebut akan menyebar
secara rata, selalu bergerak melayang, dan tidak mudah mengendap. Dari hasil praktikum yang telah dilakukan dibutuhkan waktu 15 menit untuk formulasi WP dapat mengendap. Soluble Powder (SP), merupakan formulasi pestisida berbentuk tepung yang apabila dicampur dengan air akan membentuk larutan yang homogen. Emulsifiable Concentrate (EC), merupakan sediaan berbentuk pekatan (konsentrat) cair dengan kandungan bahan aktif yang tinggi. Jika dicampur dengan air, konsentrasi ini akan membentuk emulsi atau butiran benda cair yang melayang dalam media cair lain.
3. Peracunan Media PDA
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan diketahui bahwasanya perlakuan Decis 25 EC dapat mengendalikan Ulat krop tersebut. Pada perlakuan Decis dengan konsentrat 0,8ml/l setelah 24 jam dapat mematikan 9 ekor ulat krop tersebut dengan mortalitas 90%. Menurut Rosma (2015), insektisida Decis dapat menyebabkan racun kontak dan lambung, maka dari itu penyebab matinya larva ulat krop tersebut dikarenakan setelah memakan daun kubis yang telah direndam dengan formulasi decis dengan konsentrat 0,8 %. Dan besar daun yang dimakan oleh ulat krop tersebut setelah 24 jam yaitu 0,7 % dan 1,2%.
4. Kalibrasi
Kalibrasi adalah cara mengukur banyaknya larutan semprot yang dikeluarkan oleh alat semprot (sprayer), sehingga dapat diketahui seberapa banyak larutan semprot yang disemprotkan pada setiap satuan lahan. Kalibrasi merupakan kunci untuk menyeragamkan setiap perlakuan pestisida.
Adapun tiga faktor yang mentukan keberhasilan kalibrasi yaitu curah nozzle, lebar gawang, dan kecepatan berjalan. Ketigahal tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu faktor manusia dan alat semprot. Faktor Alat semprot yang menyebabkan perubahan adalah dari nozzel yang kemudian akan menyebabkan volume curah yang keluar dan nozzel menyebabkan perbedaan lebar gawang.
Faktor dari manusia (penyemprot) yang menyebabkan perubahan adalah kecepatan jalan, karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, kemudian lebar gawang dan tekanan. Oleh karena itu kalibrasi diperlukan karena pertimbangan hal tersebut. Dengan melakukan kalibrasi maka volume air atau larutan aplikasi per hektar akan didapatkan.
5. Polo Plus
Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel 5, ekstrak kulit buah jeruk purut memberikan dampak lebih besar dibandingkan ekstrak kulit buah jeruk lainnya. Ekstrak kulit buah jeruk purut dapat mematikan ulat krop kubis sampai 26,67% di laboratorium, mengurangi aktivitas makan, menghambat makan sampai 45,70%, dan meningkatkan lama perkembangan ulat krop kubis instar 3 dan 4 sampai 7,00 dan 6,67 hari.
BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan
Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, atau membasmi organisme pengganggu tanaman. Pestisida dapat dikelompokkan berdasarkan jenis sasaran, bentuk fisik, bentuk formulasi, cara kerjanya, cara masuk, golongan senyawa, dan asal (bahan aktif). Pengenalan pestisida perlu dilakukan untuk mengetahui dan membedakan jenis jenis pestisida dan bahan yang terkandung didalamnya agar penggunaannya menjadi lebih efektif.
Formulasi pestisida adalah bentuk campuran antara bahan aktif dan bahan tambahan yang digunakan dalam produksi suatu jenis pestisida. Penambahan bahan tabahan tersebut berguna untuk memudahkan aplikasi, menambah efektifitas, menambah efisiensi dan keamanan dalam aplikasi. Bentuk formulasi pestisida ada yang berbentuk padat misalnya WP, SP, dan Granular/butiran. Dan bentuk cair misalnya, EC, WSC, dan AS.
Insektisida adalah jenis pestisida yang mengandung bahan-bahan kimia bersifat racun yang dipakai untuk membunuh atau mengendalikan serangga hama.
Salah satu merek dagang insektisida yang sering digunakan yaitu Decis 25 EC yang bersifat racun kontak dan lambung berbentuk pekatan yang dapat diemulsikan. Decis 25 EC sangat efektif untuk mengendalikan hama perusak daun, ulat grayak, wereng, walang sangit, gasir, orong-orong dan hama jenis lainnya yang menggagu tanaman seperti kubis, cabai, tomat dan lain sebagainya.
Kalibrasi merupakan proses verifikasi bahwa suatu akurasi alat ukur sesuai dengan rancangannya. Kalibrasi dalam pengaplikasian pestisida adalah cara mengukur banyaknya larutan semprot yang dikeluarkan oleh alat semprot (sprayer), sehingga dapat diketahui seberapa banyak larutan semprot yang disemprotkan pada setiap satuan lahan. Kalibrasi merupakan hal yang harus dilakukan ketika seorang akan melakukan pengendalian terhadap OPT menggunakan alat semprot, karena pada setiap alat semprot memiliki perbedaan volume yang keluar.
POLO-PC merupakan program dalam DOS yang dirancang khusus sesuai dengan dosis yang diperlukan untuk menghitung analisis probit atau untuk mengelola data hubungan. Analisis probit diperlukan untuk mengolah data
persentase pengaruh pestisida terhadap hama. Analisis Probit merupakan analisis yang dapat menduga besarnya dosis efektif melalui penentuan konsentrasi kematian.
B. Saran
Diharapakan setelah praktikum pestisida dan teknik aplikasi ini, penggunaan pestisida sintetik dapat dikurangi. Selain itu, pengaplikasian pestisida yang tepat juga perlu diterapkan untuk menghindari pencemaran lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Mujib, Mohamad Ana S., & Dewi H. 2014. Uji Efektivitas Larutan Pestisida Nabati terhadap Hama Ulat Krop (Crocidolomia pavonana L.) pada Tanaman Kubis (Brassica oleraceae). Jurnal Ilmu Pertanian dan Perikanan Vol 3 No 1. Hlm: 67-72.
Aglios. 2015. Pertanian Masa Depan. Kanisus. Yogyakarta
Amelia Zuliyanti S. 2021. Penggunaan Pestisida Nabati Mengendalikan Hama- Hama Padi Merah (Oryza nivara L.) Di Dusun Soporaru, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
Djojosumarto, Panut. (2013). Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius.
Hidayat. 2016. Handsprayer (Alat Penyemprot) Pertanian. Gajah Mada University Press:Yogyakarta.
Hudayya, A dan Jayanti, H. 2013. Pengelompokan Pestisida Berdasarkan Cara Kerja (Mode of Action). Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Pusat Penelitian dan Pengembangan Holtikultura. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementrian Pertanian Republik Indonesia.
Monografi No. 33, Tahun 2013 ISBN: 978-979-8304-59-0.
Jefinsa A, Suwarja S, dan Jasman. 2016. Formulasi dan Aplikasi Pestisida Terhadap Keracunan Pestisida Pada Petani Di Desa Insil Kabupaten Bolaang Mongondow. Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 6. No 2.
Kardina. 2014. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.
Kementrian Pertanian. 2014. Pedoman Pembinaan Penggunaan Pestisida.
Jakarta: Direktora Jenderal Prasaranan dan Sarana Kementrian Pertanian.
Lina, M. 2016. Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Legundi (Vitex trifolia) sebagai Pestisida Nabati Pengendalian Hama Plutella xylostella pada Tanaman Sawi (Brassica juncea). J. Biologi 5 (4): 34 – 40.
Moekasan, T. L. Dan
Lamksminiwati P.
2011. Penggunaan Pestisida
Berdasarkan Konsepsi
Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
Yayasan Bina Tani Sejahtera.
Lembang.
Moekasan, T. L. Dan Lamksminiwati P. 2013. Penggunaan Pestisida Berdasarkan Konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Yayasan Bina Tani Sejahtera.Lembang.
Mollet, H. and Grubenmann. 2014. Formulation technology: emulsion, suspensions, solid forms. Wiley-VCH Verlag.
Rosma, H. 2015. Insektisida Organik Sintetik dan Biorasional. Lampung : Plantaxia.
Supriadi. 2013. Optimasi Pemanfaatan Beragam jenis Pestisida Untuk Mengendalikan Hama dan Penyakit Tanaman. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Bogor. Jurnal Litbang Pertanian Vol. 32. No. 1.
Yadav, I., & Devi, N. (2017). Pesticides Classification and Its Impact on Human and Environment. Journal Environmental Science and Engineering, 6 Februari. Hal.140–158.
Yuantari C, Widianarko B, Sunoko H.R. 2015. Analisis Risiko Pajanan Pestisida Terhadap Kesehatan Petani. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Universitas Negeri Semarang.
Yuniastuti, A. (2018). Hubungan masa kerja, lama menyemprot, jenis pestisida, penggunaan APD dan pengelolaan pestisida dengan kejadian keracunan pada petani di Brebes. Public Health Perspective Journal, 2(2), 117–123.