Uji Toleransi Beberapa Jenis Pestisida Entomopatogen sebagai Agensia Pengendali Hama Spodoptera litura
Akhmad Celvin Nurwindi 202110200311070 [email protected]
Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian-Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang (University of Muhammadiyah Malang), Jl.Raya Tlogomas No.246, Malang, Jawa Timur, Indonesia
ABSTRAK
Hama Spodoptera litura atau dikenal dengan sebutan ulat grayak adalah hama pertanian, hama Ini polifagus, memakan banyak jenis tanaman. Upaya pengendalian hama ulat grayak yang dilakukan petani adalah menggunakan pestisida sintetik, karena dampak negatif penggunaannya terhadap kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem alam. Adanya alternatif pengendalian yang dampak negatifnya rendah terhadap lingkungan, salah satu pestisida yang ramah lingkungan yaitu dengan menggunakan agen hayati. Tujuan praktikum Uji Toleransi Pestisida terhadap Hama yaitu untuk Memahami teknik-teknik uji toleransi pestisida terhadap hama target. Mengetahui hama target dapat resisten terhadap perlakuan pestisida. Mengetahui efektivitas pestisida yang diaplikasikan pada hama target. Praktikum dilaksanakan di Laboratorium dua Universitas Muhammadiyah Malang pada hari Kamis 9 Mei 2024. Metode pelaksanaan perbanyakan isolate menyiapkan alat dan bahan, mengambil air sebanyak 90 ml dan 10 ml isolat bakteri dan jamur. Memasukkan air 90 ml ke botol sprayer 100 ml.
Memasukkan 10 ml isolat bakteri ke dalam botol sprayer. Menghomogenkan larutan yang di botol.
Agensia Pengendali Hama Spodoptera litura Menyiapkan alat dan bahan. Memasukan daun jagung ke dalam toples. Menyemprot daun dengan tiga perlakuan (K0: kontrol; K0+: Pestisida kimia; K1:
Pestisida berbasis jamur entomopatogen; K2: Pestisida berbasis bakteri entomopatogen). Memasukan ulat gerayak sebanyak 5 ulat ke setiap toples. Mengamati selama 7 hari. Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa pestisida berbasis hayati, baik jamur maupun bakteri entomopatogen, memiliki efektivitas yang sangat tinggi dalam membunuh hama Spodoptera litura, setara dengan pestisida kimia.
Namun, ada sedikit perbedaan dalam waktu kematian pada penggunaan pestisida berbasis bakteri.
Kata kunci : bakteri, hama, jamur, kimia
PENDAHULUAN
Hama Spodoptera litura atau dikenal dengan sebutan ulat grayak adalah hama pertanian global, hama Ini sangat polifagus, mampu memakan banyak jenis tanaman, termasuk yang penting tanaman seperti kapas, kacang-kacangan, tembakau, sayuran, dan beras (Xia et al., 2020). Gejala serangan berupa daun berlubang karena larva memakan jaringan daun hingga menyisakan epidermis dan tulang daun (Bayu Widhayasa & Efri Surya Dharma, 2022). Upaya pengendalian hama ulat grayak yang dilakukan petani adalah menggunakan pestisida sintetik, namun karena dampak negatif penggunaannya terhadap kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem alam, Pestisida kimia ini tidak dapat terurai di alam sehingga residunya akan terakumulasi dalam tanah, selain menempel di sayuran. Jika senyawa ini ikut terkonsumsi bersama sayuran yang kita makan maka akan sangat berbahaya karena sifatnya yang toksik dan dapat menyebabkan berbagai penyakit degeneratif seperti kanker. Sementara, pestisida yang terakumulasi dalam tanah dapat menyebabkan
resistensi pada hama selain kerusakan tanah itu sendiri (Astuti & Rini Widyastuti, 2016). penggunaan pestisida sintetik secara terus menerus dapat menyebabkan residu pada hasil pertanian, resistensi hama, resurjensi hama, munculnya hama sekunder, dan pencemaran lingkungan (Arfan et al., 2019).
Adanya alternatif pengendalian yang dampak negatifnya rendah terhadap lingkungan, salah satu pestisida yang ramah lingkungan yaitu dengan menggunakan agen hayati. secara umumpengembangan agen hayati dapat mengurangipenggunaan pestisida kimia sehingga dapatmengembalikan keseimbangan ekosistem dialam (Purnama et al., 2015). Agensia hayati memiliki pengertian organisme (serangga, bakteri, virus, cendawan serta mikroorganisme lainnya) yang mampu mengendalikan hama dan penyakit organisme pengganggu tanaman. Sehingga pengertian dari pemanfaatan agensia hayati yaitu pemanfaatan musuh alami untuk mengendalikan populasi hama (Sopialena, 2018). Adapun keunggulan dari agensia hayati dibandingkan dengan pestisida kimiawi diantaranya sebagai produk tanaman yang dihasilkan bebas dari residu, sangat aman badi manusia, mudah didapat dan hemat biaya serta, mencegah ledakan opt sekunder (Sugiarti, 2022). Jamur entomopatogen merupakan organisme heterotrof yang hidup sebagai parasit pada serangga (Permadi et al., 2018) dan dimanfaatkan dalam pengendalian hayati hama tanaman sebagai upaya mengurangi penggunaan insektisida sintetik dan ramah lingkungan. Tidak seperti upaya pengendalian secara kimiawi yang dapat bersifat persistens di lingkungan, upaya pengendalian dengan memanfaatkan bakteri entomopatogen bersifat lebih ramah lingkungan, sehingga tidak akan memberi efek negatif terhadap lingkungan (Dan et al., 2016). Pemanfaatan agensia mikroba sebagai pengendali serangga hama secara hayati diakui sebagai cara yang tepat dan efektif dalam mengendalikan hama pertanian (Arfan et al., 2019). Tujuan praktikum Uji Toleransi Pestisida terhadap Hama yaitu untuk Memahami teknik-teknik uji toleransi pestisida terhadap hama target. Mengetahui hama target dapat resisten terhadap perlakuan pestisida. Mengetahui efektivitas pestisida yang diaplikasikan pada hama target.
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum dilaksanakan di Laboratorium 2 Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang pada hari Kamis 9 Mei 2024.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan meliputi toples plastik, seprayer, gunting, pinset, tabung reaksi dan alat dokumentasi.
Bahan yang digunakan meliputi daun jagung (Zea mays), air, Entomopatogen bakteri dan jamur, dan ulat gerayak (Spodoptera litura).
Metode Pelaksanaan Perbanyakan isolat
Menyiapkan alat dan bahan, mengambil air sebanyak 90 ml dan 10 ml isolat bakteri dan jamur. Memasukkan air 90 ml ke botol sprayer 100 ml. Memasukkan 10 ml isolat bakteri ke dalam botol sprayer. Menghomogenkan larutan dalam botol Agensia Pengendali Hama Spodoptera litura
Menyiapkan alat dan bahan. Memasukkan daun jagung ke dalam toples.
Menyemprot daun dengan tiga perlakuan (K0: kontrol; K0+: Pestisida kimia; K1:
Pestisida berbasis jamur entomopatogen; K2: Pestisida berbasis bakteri entomopatogen). Memasukan ulat gerayak sebanyak 5 ulat ke setiap toples.
Mengamati selama 7 hari dengan intervar penyemprotan 2 hari sekali.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Hasil toleransi pestisida hayati terhadap hama Spodoptera litura Perlakuan Hama Waktu
kematian Dokumentasi Persentase Mortalitas K0
1 - - 0 %
2 - -
3 - -
4 - -
5 - -
K0+ 1 2 hari 5
5×100 %=¿ 100%
2 2 hari
3 2 hari
4 2 hari
5 2 hari
K1
1 2 hari 5
5×100 %=¿ 100%
2 2 hari
3 2 hari
4 2 hari
5 2 hari
K2 1 2 hari 5
5×100 %=¿ 100%
2 2 hari
3 2 hari
4 4 hari
5 4 hari
Keterangan= K0: kontrol; K0+: Pestisida kimia; K1: Pestisida berbasis jamur entomopatogen; K2:
Pestisida berbasis bakteri entomopatogen
Tabel di atas menunjukkan hasil pengujian toleransi hama Spodoptera litura terhadap berbagai perlakuan pestisida hayati. Perlakuan K0 (kontrol) tidak menunjukkan adanya kematian pada hama, dengan persentase mortalitas sebesar 0%.
Ini mengindikasikan bahwa tanpa perlakuan pestisida, hama tetap hidup selama periode pengamatan. Pada perlakuan K0+ (pestisida kimia), semua hama (hama 1 hingga 5) mati dalam waktu 2 hari, menghasilkan persentase mortalitas sebesar 100%. Ini menunjukkan efektivitas tinggi dari pestisida kimia dalam membunuh hama Spodoptera litura dengan cepat. Penggunaan jamur entomopatogen dalam pengendalian hama antara lain ditentukan oleh konsentrasi/kepadatan dan daya kecambah spora. Semakin tinggi kepadatan dan daya kecambahnya maka peluang jamur dalam mematikan serangga juga semakin cepat (Jarlina et al., 2015).
Perlakuan K1, yang menggunakan pestisida berbasis jamur entomopatogen, juga menunjukkan hasil yang sangat efektif. Semua hama mati dalam waktu 2 hari, dengan persentase mortalitas sebesar 100%. Efektivitas pestisida berbasis jamur ini setara dengan pestisida kimia. Pada perlakuan K2, yang menggunakan pestisida berbasis bakteri entomopatogen, tiga hama pertama (hama 1 hingga 3) mati dalam waktu 2 hari, sementara dua hama terakhir (hama 4 dan 5) mati dalam waktu 4 hari.
Meskipun ada variasi dalam waktu kematian, persentase mortalitas tetap 100%, menunjukkan bahwa semua hama akhirnya mati meskipun membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk beberapa hama. Pestisida kimia memiliki beberapa kekurangan signifikan. Penggunaannya dapat merusak lingkungan melalui polusi tanah dan air, serta mengganggu keanekaragaman hayati dengan membunuh organisme non-target. Hama juga dapat mengembangkan resistensi, sehingga memerlukan dosis yang lebih tinggi atau pestisida baru. Bagi manusia, paparan pestisida dapat menyebabkan masalah kesehatan serius, dan residu pada produk pertanian berisiko bagi konsumen.
KESIMPULAN
Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa pestisida berbasis hayati, baik jamur maupun bakteri entomopatogen, memiliki efektivitas yang sangat tinggi dalam membunuh hama Spodoptera litura, setara dengan pestisida kimia. Namun, ada sedikit perbedaan dalam waktu kematian pada penggunaan pestisida berbasis bakteri.
DAFTAR PUSTAKA
Arfan, Satyani, T., & Sayani. (2019). Evaluation Of The Use Of Pesticides In Red Onion Farmers In Wombo Mpanau Village, Tanantovea Sub District Donggala District. Jurnal Agritech, 9(1), 26–32.
Astuti, W., & Rini Widyastuti, C. (2016). Pestisida Organik Ramah Lingkungan Pembasmi Hama Tanaman Sayur. Rekayasa, 14(2), 115–120.
Bayu Widhayasa, & Efri Surya Dharma. (2022). Peranan Faktor Cuaca Terhadap Serangan Ulat Grayak Spodoptera Frugiperda (Lepidoptera: Noctuidae) Pada Tanaman Jagung Di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur Bayu Widhayasa 1* , Efri Surya Darma 2**.
Agroekoteknologi Tropika Lembab, 4(2), 94–99.
Dan, L. ), Rini, M. S., Rahadian, R., Hadi, M., & Zulfiana, D. (2016). Uji Efikasi Beberapa Isolat Bakteri Entomopatogen Terhadap Kecoa (Orthoptera) Periplaneta americana. In Jurnal Biologi (Vol. 5, Issue 2).
Jarlina, S., Wibowo, L., & Hariri, A. M. (2015). Kompatibilitas Metarhizium Anisopliae Dan Ekstrak Daun Babadotan Untuk Mengendalikan Hama Kepik Hijau Di Laboratorium. In Jurnal Agrotek Tropika (Vol. 3, Issue 2).
Permadi, M. A., Lubis, R. A., Sari, D., Pengajar, S., Pertanian, F., Muhammadiyah, U., & Selatan, T. (2018). Eksplorasi Cendawan Entomopatogen Dari Berbagai Rizosfer Tanaman Hortikultura Di Beberapa Wilayah Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara.
Agritech, 1, 2580–5002.
Purnama, H., Hidayati, N., & Setyowati, D. E. (2015). Pengembangan Produksi Pestisida Alami Dari Beauveria Bassiana Dan Trichoderma Sp. Menuju Pertanian Organik. Warta, 18(1).
Sopialena. (2018). Pengendalian Hayati Dengan Memberdayakan Potensi Mikroba.
Sugiarti, L. (2022). Penyuluhan Agen Hayati Jamur Entomopatogen Beauveria Bassiana Untuk Mengendalikan Serangga Hama Pada Tanaman Pangan Di Desa Sukasari Kecamatan Sukasari Kabupaten Sumedang (Vol. 2, Issue 1).
Xia, X., Lan, B., Tao, X., Lin, J., & You, M. (2020). Characterization of Spodoptera litura Gut Bacteria and Their Role in Feeding and Growth of the Host. Frontiers in Microbiology, 11.
https://doi.org/10.3389/fmicb.2020.01492
LAMPIRAN
Perlakuan K0 0
5×100 %=¿ 0%
Perlakuan K0+ 5
5×100 %=¿ 100%
Perlakuan K1 5
5×100 %=¿ 100%
Perlakuan K2 5
5×100 %=¿ 100%
DOKUMENTASI
Menyiapkan alat dan bahan
Membuka hasil perbanyakan pestisida
Menyiapkan daun jagung pada toples
Meletakkan ulat pada toples
Menuang air dalam sprayer
Semprotkan pestisida pada daun jagung