• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KASUS: APPENDICITIS PERFORASI

N/A
N/A
Reading this will waste ur time

Academic year: 2023

Membagikan "LAPORAN KASUS: APPENDICITIS PERFORASI"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAGIAN ILMU BEDAH LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN AGUSTUS 2022

UNIVERSITAS HALUOLEO

APPENDICITIS PERFORASI

Oleh :

Sitti Mujahidah, S. Ked K1B1 21 006

Pembimbing :

dr. Edwin Ardiyansyah Mappalyle Sp. B

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI 2022

(2)

HALAMAN PENGESAHAN Yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa:

Nama : Sitti Mujahidah, S.Ked

NIM : K1B1 21 006

Program Studi : Profesi Dokter Fakultas : Kedokteran

Judul : Appendicitis Perforasi

Telah menyelesaikan tugas Kasus Besar dalam rangka kepanitraan klinik pada Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo.

Kendari, Agustus 2022 Mengetahui, Pembimbing

dr. Edwin Ardiyansyah Mappalyle Sp. B

(3)

BAB I

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN

Nama : An. H

Umur : 13 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : Belum/Tidak bekerja

Agama : Islam

Alamat : Desa Masagena, Konda

Tanggal masuk RS : 30 Juni 2022 Nomor Rekam Medik : 03 48 39

Dokter Penanggung Jawab : dr. Edwin Ardiyansyah Mappalyle, Sp. B B. ANAMNESIS

1. Keluhan Utama : Nyeri Perut kanan bawah

2. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien masuk ke IGD rumah sakit umum Dewi Sartika dengan keluhan nyeri pada perut kanan bagian bawah sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Awalnya nyeri dirasakan hilang timbul pada daerah perut kanan bawah, dan mulai menjalar hingga ke pinggang dan seluruh area perut. Nyeri dirasakan semakin memberat apabila pasien bermain bersama adiknya dirumah.

Keluhan lain seperti sesak (+), demam (+), mual (+), muntah (-), penurunan nafsu makan (+), BAB dan BAK dalam batas normal.

3. Riwayat penyakit terdahulu : Penyakit dengan keluhan yang sama (-)

4. Riwayat penyakit keluarga : DM (-), HT (-), penyakit jantung (-) 5. Riwayat alergi : Tidak ada

6. Riwayat pengobatan: Mengkonsumsi obat penurunan panas (+), Riwayat diurut 2x pada daerah perut oleh tante pasien

(4)

7. Riwayat trauma : Tidak ada

8. Riwayat sosial ekonomi : Merokok (-), alkohol (-)

C. PEMERIKSAAN FISIK 1. Status Present

 Keadaan Umum : Sakit sedang

 Kesadaran : GCS 15, Compos Mentis

 Status Gizi : Normal 2. Status Vital

 Tekanan Darah : 100/70 mmHg

 Nadi : 101x/menit, kuat angkat, reguler

 Pernapasan :22x/menit, reguler, tipe pernapasan thorakoabdominal

 Suhu : 40oC/axilla

 VAS : 8 (Nyeri Berat)

3. Status Generalisata

Kepala Normacephal

Wajah Simetris kiri-kanan, deformitas (-), eritema (-), edema (-)

Mata Pupil isokor, refleks cahaya (+/+), konjungtiva anemis (-/-), edema (-), sklera ikterik (-)

Hidung Rhinore (-), sekret (-) Mulut Bibir kering (-), pucat (-) Telinga Othore (-), sekret (-)

Leher Pembesaran tiroid (-), pembesaran KGB (-)

Thoraks Inspeksi : normochest,simetris kiri-kanan, retraksi(-) Palpasi : vokal fremitus dalam batas normal, nyeri tekan (-), massa (-)

Perkusi : sonor (+/+)

Auskultasi : Bunyi napas vesikuler (+/+), bunyi napas tambahan wheezing (-/-), rhonki (-/-)

Abdomen Inspeksi : Datar ikut gerak napas

Auskultasi : peristaltik (+) kesan normal

(5)

Perkusi : Timpani (+)

Palpasi : nyeri tekan (+) seluruh regio abdomen terutama daerah illiaca dextra

Asites : puddle sign (-), shifthing dullnes (-), undulasi (-)

Pemeriksaan tambahan : Mc burney sign (+), Rovsing sign (+), Illiopsoas sign (+), Obturator sign (+)

Ekstermitas Ekstermitas superior dextra: eritema (-), edema (-) Ekstermitas superior sinistra: eritema (-), edema (-), ulkus (-)

Ekstermitas inferior dextra : eritema (-), edema (-) Ekstermitas superior sinistra: eritema (-), edema (-) D. PEMERIKSAAN PENUNJANG (30/06/2022)

1. Darah Rutin

Pemeriksaan Hasil

WBC 24.9 x 103UL

RBC 5.83 x103UL

HGB 15.8 g/dL

MCV 80.0 fL

MCH 27.1 Pg

PLT 356 x 105UL

HCT 40.6%

GDS 145 mg/dL

nCov-19 Antigen

Negatif

E. RESUME

Pasien masuk ke IGD rumah sakit umum Dewi Sartika dengan keluhan nyeri pada perut kanan bagian bawah sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Awalnya nyeri dirasakan hilang timbul pada daerah perut kanan bawah, dan mulai menjalar hingga ke pinggang dan seluruh area perut. Nyeri dirasakan semakin memberat apabila pasien bermain bersama adiknya dirumah. Keluhan lain seperti sesak (+), demam (+), mual (+),

(6)

muntah (-), penurunan nafsu makan (+), BAB dan BAK dalam batas normal.

Keadaan umum sakit sedang, kesadaran compos mentis, status gizi normal. Pemeriksaan tanda vital tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 101x/menit, pernapasan 22x/menit dan suhu 40oC. Status lokalis regio Abdomen didapatkan nyeri tekan (+) seluruh regio abdomen terutama iliaca dextra, pemeriksaan Mc burney sign (+), Rovsing sign (+), Illiopsoas sign (+), Obturator sign (+)

F. DIAGNOSIS KERJA Appendicitis Perforasi G. TATALAKSANA

1. Non farmakologi a. Edukasi

b. Konsul ke dokter spesialis bedah 2. Farmakologi

a. IVFD RL 20 tpm

b. Injeksi Ranitidin 50 mg/12 jam c. Injeksi ketorolac 30 mg/ml/ 8 jam d. Injeksi Ondansentron 8 mg/12 jam e. Injeksi 1 Amp/8 jam

3. Operasi

a. Laparotomy Explorasi H. PROGNOSIS

Quo ad vitam : Dubia ad bonam Quo ad functionam : Dubia ad bonam Quo ad sanactionam : Dubia ad bonam I. DOKUMENTASI PASIEN

(7)

J. FOLLOW UP

Hari Tanggal

Pemeriksaan Terapi

1 Jum’at, 01/7/22

S : Pasien mengeluh nyeri pada seluruh area perut, mual (+), muntah (+) 3x berisi air, demam (+)

IVFD RL 20 tpm Inj. Ondansentron 8 mg/8 jam/IV

(8)

O :

KU : sakit sedang

Kesadaran : composmentis Status Gizi : baik

TD : 100/60 mmHg N : 105x/Menit P : 20x/menit S : 37oC

A : Abdominal pain e.c susp.

Appendicitis akut

Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam/IV Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam/IV Konsul ke dokter Sp.B

Rencana operasi pukul 20.00 WITA 2 Jum’at,

01/7/22 (23.00)

S : nyeri luka bekas operasi (+) O :

KU : sakit sedang TD : 110/80 mmHg N : 96 x/menit P : 20x/menit S : 36,5 oC

A : POH0 Post Laparotomi Appendektomi

Infus RL : D5, 2 : 2, 32 tpm

Inj. Meropenem 0,5 gr/12 jam/IV Inf.

Metronidazole 250 mg/8 jam/Drips Inj. Ketrolac ½ amp/8 jam/IV Inj. Ranitidin ½ amp/8 jam/IV Pasien di puasakan

Bila sudah flatus, minum 5

sendok/jam

3 Sabtu,

02/7/22

S : nyeri bekas operasi (+) O :

KU : sakit sedang TD : 100/70mmHg

Infus RL : D5, 2 : 2, 32 tpm

Inj. Meropenem 0,5 gr/12 jam/IV

(9)

N : 86x/menit P : 20x/menit S : 36 oC

A : POH1 Post Laparotomi Appendektomi

Inf.

Metronidazole 250 mg/8 jam/Drips Inj. Ketrolac ½ amp/8 jam/IV Inj. Ranitidin ½ amp/8 jam/IV Pasien tetap di puasakan

4 Minggu,

03/7/22

S : nyeri bekas operasi (+) O :

KU : sakit sedang TD : 100/70mmHg N : 88x/menit P : 20x/menit S : 36,6 oC

A : POH2 Post Laparotomi Appendektomi

Infus RL : D5, 2 : 2, 32 tpm

Inj. Meropenem 0,5 gr/12 jam/IV Inf.

Metronidazole 250 mg/8 jam/Drips Inj. Ketrolac ½ amp/8 jam/IV Inj. Ranitidin ½ amp/8 jam/IV Diet Cair

5 Senin,

04/7/22

S : nyeri bekas operasi (+) O :

KU : sakit sedang TD : 100/70mmHg N : 88x/menit P : 20x/menit S : 36,6 oC

A : POH2 Post Laparotomi

Infus RL : D5, 2 : 2, 32 tpm

Inj. Meropenem 0,5 gr/12 jam/IV Inf.

Metronidazole 250 mg/8 jam/Drips

(10)

Appendektomi Inj. Ketrolac ½ amp/8 jam/IV Inj. Ranitidin ½ amp/8 jam/IV Diet Cair 6 Selasa,

05/7/22

S : nyeri bekas operasi (+) O :

KU : sakit sedang TD : 100/70mmHg N : 92x/menit P : 20x/menit S : 36,6 oC

A : POH3 Post Laparotomi Appendektomi

Infus RL : D5, 2 : 2, 32 tpm

Inj. Meropenem 0,5 gr/12 jam/IV Inf.

Metronidazole 250 mg/8 jam/Drips Inj. Ketrolac ½ amp/8 jam/IV Inj. Ranitidin ½ amp/8 jam/IV Diet bubur 5 sendok x 3 Minum ½ gelas/jam Aff kateter Boleh duduk/jalan

7 Rabu,

06/7/22

S : nyeri bekas operasi berkurang O :

KU : sakit sedang TD : 100/70mmHg N : 88x/menit P : 20x/menit S : 36,5 oC

Infus RL : D5, 2 : 2, 32 tpm

Inj. Meropenem 0,5 gr/12 jam/IV Inf.

Metronidazole 250 mg/8

(11)

A : POH4 Post Laparotomi Appendektomi

jam/Drips Inj. Ketrolac ½ amp/8 jam/IV Inj. Ranitidin ½ amp/8 jam/IV 8 Kamis,

07/7/22

S : - O :

KU : sakit sedang TD : 100/70mmHg N : 88x/menit P : 20x/menit S : 36,5 oC

A : POH5 Post Laparotomi Appendektomi

Aff infus Boleh pulang Cefadroxil syr 125 mg/5 ml (2x1)

Asam mefenamat tab 500 mg (3x1) Ranitidin tab 150 mg (3x1)

K. PEMBAHASAN

KASUS TEORI

An. H, Laki-laki, usia 13 tahun, keluhan nyeri pada perut kanan bagian bawah sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Awalnya nyeri dirasakan hilang timbul pada daerah perut kanan bawah, dan mulai menjalar hingga ke pinggang dan

Gejala klasik appendisitis adalah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium di sekitar umbilikus.

Keluahn ini sering disertai mual dan kadang ada muntah.Umumnya nafsu makan menurun. Dalam bebapa jam,

(12)

seluruh area perut. Nyeri dirasakan semakin memberat apabila pasien bermain bersama adiknya dirumah.

Keluhan lain seperti sesak (+), demam (+), mual (+), muntah (-), penurunan nafsu makan (+), BAB dan BAK dalam batas normal.

nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik Mc Burney. Di sini, nyeri dirasa lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat

Bila terdapat perangsangan peritoneum, biasanya pasien mengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk.

Bila appendiks terletak retrosekal retroperitoneal, tanda nyeri perut kanan bawah tidak begiru jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal karena appendiks terlindung oleh sekum.Rasa nyeri lebih kearah perut sisi kanan atau nyeri timbul pada saat berjalan karena kontraksi otot psoas mayor yang menegang dari dorsal

Status lokalis regio Abdomen didapatkan nyeri tekan (+) seluruh regio abdomen terutama iliaca dextra, pemeriksaan Mc burney sign (+), Rovsing sign (+), Illiopsoas sign (+), Obturator sign (+)

Pada palpasi perut, didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan, bisa disertai nyeri lepas. Depans muskular menunjukan adanya rangsangan peritoneum parietale. Nyeri tekan perut kanan bawah ini merupakan kunci diagnosis. Pada penekanan perut kiri bawah, akan dirasakan nyeri di perut kanan yang di sebut tanda Rovsing. Nyeri makin hebat yang meliputi seluruh perut, dan perut menjadi tegang dan kembung. Nyeri tekan dan depans muskuler terjadi di seluruh perut.

(13)

Psoas sign, rangsangan otot psoas lewat hiper ekstensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan di tahan. Bila appendiks yang meradang menempel pada otot psoas mayor,tindakan ini akan menimbulkan nyeri

Pada pasien dilakukan tindakan operasi apendiktomi

Penatalaksanaan klasik appendisitis akut menekankan penatalaksanaan bedah darurat.

Pendekatan ini didasarkan pada teori bahwa, seiring waktu, appendisitis sederhana akan berkembang menjadi perforasi, yang mengakibatkan peningkatan morbiditas dan mortalitas

Ada dua pendekatan untuk mengangkat appendiks yang tidak berlubang: melalui sayatan terbuka, biasanya sayatan kulit kuadran kanan bawah melintang (Davis-Rockey) atau versi miring (McArthur McBurney) dengan pemisahan otot searah dengan seratnya, atau sayatan paramedian, tetapi ini tidak dilakukan secara rutin.

Sayatan dipusatkan pada garis midclavicular

(14)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. DEFINISI

Apendisitis adalah radang pada usus buntu atau dalam bahasa latinnya appendiks vermivormis, yaitu suatu organ yang berbentuk memanjang dengan panjang 6-9 cm dengan pangkal terletak pada bagian pangkal usus besar bernama sekum yang terletak pada perut kanan bawah.1 Apendisitis merupakan suatu peradangan apendiks yang berbahaya karena dapat menyebabkan komplikasi yaitu pecahnya lumen usu atau perforasi yang nantinya dapat menyebabkan peritonitis ataupun sepsis sehingga meningkatkan angka morboditas dan mortalitas.2 Peesentase komplikasi apendisitis seperti perforasi dan peritoneal abscess, khususnya pada anak- anak sebesar 30-70 % dan dapat meningkatkan angka morboditas dan mortalitas.3

Perforasi ditandai dengan nyeri abdomen yang berat serta demam dan biasanya terjadi dalam waktu 12 jam pertama pada kasus apendisitis.

Salah satu faktor yang dapat meningkatkan laju terjadiinya perforasi pada apendisitis yaitu diagnosis apendisitis yang sulit untuk ditegakkan pada pasien usia lanjut karena memiliki banyak kemungkinan diagnosis diferensial serta sulitnya melakukan komunikasi yang efektif. Pemeriksaan dan diagnosis dan diagnosis yang terlambat dapat juga meningkatkan terjadinya apendisistis perforasi. Adanya gejala yang tidak khas, keterlambatan penangan, adanya aterioksklerosis dan terjadinya perubahan anatomi apendiks veriformis seperti terdapat penyempitan lumen dapat menjadi faktor yang mempengaruhi tingginya insiden apendisitis perforasi.3

Kejadian apendisitis perforasi dapat diturunkan apabila dapat dideteksi lebih awal. Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa terddapat faktor yang dapat dijadikan prediktor terjadinya perforasi pada kasus apendisitis. Pemeriksaan Total Leucocyte Count (TLC) merupakan

(15)

pemeriksaan laboratorium merupakan pemeriksaan laboratorium yang dapat dijadikan predikator terjadinya apendisitis akut dan perforasi.

Leukositosis pada pemeriksaan laboratorium sering ditemukan pada kasus apendisitis dengan komplikasi berupa perforasi. Nilai TLC. Secara signifikan meningkat pada kasus apendisitis dengan perforasi yaitu 10.000- 18.000 WBC/mm3. Studi ini juga mengatakan bahwa faktor lain yang dapat dijadikan sebagai prediktor terjadinya perforasi apendisistis adalah faktor usia, jenis kelamin, dan symmptoms duration.3

B. EPIDEMIOLOGI

Prevalensi appendisitis akut di Indonesia berkisar 24,9 kasus per 10.000 populasi. Appendisitis ini bisa menimpa pada laki-laki maupun perempuan dengan risiko menderita appendisitis selama hidupnya mencapai 7-8%. Prevalensi tertinggi terjadi pada usia 20-30 tahun.

Appendisitis perforasi memiliki prevalensi antara 20-30% dan meningkat 32-72% pada usia lebih dari 60 tahun dari semua kasus apendisitis (Gunawan, 2018). Berdasarkan data pre-survey di RSUD DR. H. Abdul Moeloek tahun 2017 – 2019 terdapat 116 kasus penderita appendisitis.

Pada tahun 2017 terdapat 59 kasus penderita appendisitis. Tahun 2018 terdapat 36 kasus penderita appendisitis. Dan tahun 2019 terdapat 21 kasus penderita appendisitis.4

C. ANATOMI

Apendiks vermiformis atau yang se ring disebut sebagai apendiks saja, pada manusia merupakan struktur tubular yang rudimenter dan tanpa fungsi yang jelas. Apendiks berkembang dari posteromedial sekum dengan panjang bervariasi dengan rata-rata antara 6-10 cm dan diameter sekitar 0,5-0,8 cm . Posisi apendiks dalam rongga abdomen juga bervariasi, tersering berada posterior dari sekum atau kolon asendens. Hampir seluruh permukaan ap endiks dikelilingi oleh peritoneum, dan mesoapendiks

(16)

(mesenter dari apendiks) yang merupakan lipatan peritoneum berjalan kontinyu disepanj ang apendiks dan berakhir di ujung apendiks

.

Vaskularisasi dari apendiks berjalan sepanjang mesoapendiks kecuali diujung dari apendiks dimana tidak terdap at mesoapendiks. Arteri apendikular, derivat cabang inferior dari arteri iliocoli yang merupakan cabang trunkus mesenterik superior. Selain arteri apendikular yang memperdarahi hampir seluruh apendiks, juga terdapat kontri busi dari arteri asesorius. Untuk aliran balik, vena apendiseal cabang dari vena ileocoli berj alan ke vena mesenterik superior dan kemudian masuk ke sirkulasi portal. Dr ainase limfatik berjalan ke nodus limfe regional seperti nodus limfatik ileocoli. Persarafan apendiks merupakan cabang dari nervus vagus dan pleksus mesenterik superior (simpatis).

Secara umum, permukaan eksternal apendiks tampak halus dan berwarna merah kecoklatan hingga kelabu. Permukaan dalam atau mukosa secara umum sama seperti mukosa kolon, berwarna kuning muda dengan gambaran nodular, dan komponen limfoid yang prominen. Komponen folikel limfoid ini mengakibatkan lumen dari apendiks seringka li berbentuk irregular (stelata) pada potongan melintang dengan diameter 1-3 cm

.

5

Gambar 1. Posisi Apendiks Vermiformis dalam Tubuh Manusia

(17)

Gambar 2. Anatomi appendiks Gambar 3. Posisi Appendiks

Appendiks disebut tonsil abdomen karena ditemukan banyak jaringan limfoid. Jaringan limfoid pertama kali muncul pada appendiks sekitar dua minggu setelah lahir, jumlahnya meningkat selama pubertas sampai puncaknya berjumlah sekitar 200 folikel antara usia 12-20 tahun dan menetap saat dewasa. Setelah itu, mengalami atropi dan menghilang pada usia 60 tahun.

Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dari arteri appendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis X . Oleh karena itu, nyeri viseral pada appendicitis bermula di sekitar umbilikus.

Appendiks didarahi oleh arteri apendikularis yang merupakan cabang dari bagian bawah arteri ileocolica. Arteri appendiks termasuk arteri. Bila terjadi penyumbatan pada arteri ini, maka appendiks mengalami ganggren.5

D. FISIOLOGIS

Apendiks menghasilkan lender 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke caecum.

Hambatan aliran lender di muara apendiks tampaknya berperan pada pathogenesis appendicitis. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks, ialah IgA. Immunoglobulin itu sangat efektif

(18)

sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limf disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh.6

E. ETIOLOGI

Appendicitis disebabkan karena adanya obstruksi pada lumen appendix sehingga terjadi kongseti vaskuler, iskemik nekrosis dan akibatnya terjadi infeksi. Appendicitis umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Penyebab obstruksi yang paling sering adalah fecolith. Fecolith ditemukan pada sekitar 20% anak dengan appendicitis. Penyebab lain dari obstruksi appendiks meliputi: Hiperplasia folikel lymphoid Carcinoid atau tumor lainnya Benda asing (pin, biji-bijian) Kadang parasit 1 Penyebab lain yang diduga menimbulkan Appendicitis adalah ulserasi mukosa appendix oleh parasit E. histolytica. Berbagai spesies bakteri yang dapat diisolasi pada pasien appendicitis yaitu7 : Bakteri aerob fakultatif Bakteri anaerob Escherichia coli Viridans streptococci Pseudomonas aeruginosa Enterococcus Bacteroides fragilis Peptostreptococcus micros Bilophila species Lactobacillus species

F. KLASIFIKASI

Beberapa macam klasifikasi Apendesitis menurut para ahli berdasarkan lokasi meatus urethra, adalah sebagai berikut:

a. Appendicitis Akut Purulenta (Supurative Appendicitis)

Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney, defans muskuler, dan

(19)

nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum

b. Appendicitis Infiltrat

Appendicitis infiltrat adalah proses radang appendiks yang penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum, usus halus, sekum, kolon dan peritoneum sehingga membentuk gumpalan massa flegmon yang melekat erat satu dengan yang lainnya.

c. Appendicitis Abses

Appendicitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah (pus), biasanya di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrocaecal, subcaecal, dan pelvic.

d. Appendicitis Perforasi

Appendicitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah ganggren yang menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis umum. Pada dinding appendiks tampak daerah perforasi dikelilingi oleh jaringan nekrotik.

e. Appendicitis Kronis

Appendicitis kronis merupakan lanjutan appendicitis akut supuratif sebagai proses radang yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensi rendah, khususnya obstruksi parsial terhadap lumen.

Diagnosa appendicitis kronis baru dapat ditegakkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik appendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Secara histologis, dinding appendiks menebal, sub mukosa dan muskularis propia mengalami fibrosis. Terdapat infiltrasi sel radang limfosit dan eosinofil pada submukosa, muskularis propia, dan serosa. Pembuluh darah serosa tampak dilatasi.

G. GEJALA KLINIS

(20)

1) Nyeri kuadran nyeri kuadran bawah terasa bawah terasa dan biasany dan biasanya disertai disertai dengan demam dengan demam ringan, m ringan, mual, muntah mual, muntah dan hilangnya nafsu makan.

2) Nyeri tekan local pada titik Macburney bila dilakukan dilakukan tekanan.

3) Nyeri tekan lepas dijumpai.

4) Terdapat konstipasi konstipasi atau diare.

5) Nyeri lumbal, lumbal, bila appendiks appendiks melingkar melingkar di belakang belakang sekum

6) Nyeri defekasi, bila appendiks appendiks berada dekat rektal.

7) Nyeri kemuh, jika kemuh, jika ujung appendiks ujung appendiks berada di dekat kandung dekat kandung kemih atau kemih atau ureter.

8) Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks ujung appendiks berada di ujung pelvis.

9) Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang secara paradoksial menyebabkan nyeri kuadran kanan.

10) Apabila appendiks sudah ruptu , nyeri menjadi menyebar, disertai abdomen terjadi akibat ileus paralitik.

11) Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi. Pasien mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi ruptur appendiks.

H. DIAGNOSA

Diagnosis apendisitis dapat dibuat berdasarkan beberapa temuan, baik berupa temuan fisik, pemeriksaan laboratorium maupun pemeriksaan radiografi. Salah satu pemeriksaan laboratorium yang sering digunakan adalah pemeriksaan jumlah leukosit darah. Pemeriksaan ini biasanya digunakan dalam membantu mendiagnosis apendisitis. Pasien dengan apendisitis pada umumnya mengalami leukositosis, yaitu peningkatan jumlah leukosit diatas 10.000 sel/mm3. Leukosit pada pada panedisits akut dan perforasi, memperoleh hasil jumlah leukosit 10.0000-18.0000 sel/mm3 banyak ditemukan pada pasien apendisits akut sebesar (75.7%) dan jumlah leukosit >18.000 sel/mm3 banyak ditemukan pada pasien

(21)

apendisitis perforasi sebesar (90.7%).7 Pada kasus perforasi, apendiks mengalami ruptur, pecah atau berlubang dan kemudian pus yang terdapat didalam lumen apendiks akan keluar menyebar ke organ-organ lain maupun di dalam fosa apendiks vermiformis sehingga dapat mengakibatkan peritonitis, serta memungkinkan bakteri akan berkembang dan menimbulkan infeksi yang lebih banyak. Keadaan tersebut akan merangsang respon imun tubuh dengan lebih banyak menghasilkan leukosit yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap agen-agen infeksius.

Jumlah leukosit dalam batas normal yang banyak ditemukan pada apendisitis akut dapat dipengaruhi pemakaian antibiotic secara bebas oleh pasien sebelum masuk rumah sakit.

Keterlambatan dalam mendiagnosis apendisitis akut dapat meningkatkan terjadinya komplikasi berupa perforasi. Jumlah leukosit darah akan meningkat dan terjadi leukositosis ringan pada pasien dengan apendisitis akut dan bahkan leukositosis akan semakin berat pada pasien yang telah mengalami perforasi . Nyeri hilang timbul dan tumpul pada regio epigastrium adalah tanda gejala yang timbul pada appendisitis akut.

Lokasi nyeri berpindah pada titik McBurney, disertai mual, muntah dan anoreksia. Jika diabaikan dalam waktu lama akan menimbulkan komplikasi. Penegakan diagnosis dan penanganan yang lama akan berakibatkan fatal dan meningkatkan terjadinya appendisitis perforasi.

Salah satu pemeriksaan laboratorium yang cepat dan murah adalah pemeriksaan jumlah leukosit darah. Hal ini digunakan untuk mendukung diagnosa appendisitis akut dan apendisitis perforasi. Keterlambatan dalam mendiagnosis apendisitis akut dapat meningkatkan jumlah leukosit darah Peningkatan leukosit dalam darah menujukkan adanya proses infeksi atau peradangan dalam tubuh. Apendisitis menandakan adanya proses peradangan pada apendiks. Sesuai dengan fungsinya dalam pertahanan tubuh, leukosit akan bermigrasi dari lumen pembuluh darah ke tempat yang mengalami radang untuk mefagosit kan, sehingga saat proses peradangan berlangsung terjadi peningkatan jumlah semakin tinggi jumlah

(22)

leukosit menandakan proses peradangan yang hebat dan semakin luas daerah peradangannya. Selain itu, usia dan onset peradangan juga mempengaruhi jumlah leokosit di dalam tubuh.

I. PENATALAKSANAAN a. Sebelum operasi

1) Observasi

Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala apendisitis seringkali masih belum jelas. Dalam keadaan ini observasi ketat perlu dilakukan. Pasien diminta melakukan tirah baring baring dan dipuasakann tidak boleh diberikan diberikan bila dicurigai dicurigai adanya apendisitis ataupun bentuk bentuk peritonitis lainnya. Pemeriksaan abdomen abdomen dan rektal serta pemeriksaan pemeriksaan darah leukosit (leukosit dan hitung jenis) diulang secara periodik foto abdomen dan thoraks tegak dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit lain. Pada kebanyakan kasus, diagnosis ditegakkan denagn lokalisasi nyeri di daerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.

2) Intubasi bila perlu 3) Antibiotik

b. Operasi apendiktomi (laparascopy ataupu bedah terbuka dengan insisi gridiron/rocky davis)

c. Pasca operasi

Perlu dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan didalam, syok, hipertermia, atau gangguan pernapasan. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar, sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Baringkan pasien dalam posisi fowler, pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan.

Selama itu pasien dipuasaka. Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada pervorasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan sampai fungsi usus kembali normal, kemudian berikan minum mulai 15 ml/jam selam 4-5 jam lalu naikkan menjasi 30 ml/jam. Keesokan harinya diberikan makanan

(23)

saring, dan hari berikutnya diberikan makanan lunak. Satu hari pascaoperasi pasien di anjurkan duduk tegak ditempat tidur selama 2x30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk diluar kamar. Hari ke tujuh jahitan dapat di buka dan pasien diperbolehkan pulang.9

DAFTAR PUSTAKA

(24)

1. Adeotus Yuda Handaya. 2017. Deteksi Dini dan atasi 31 Penyakit Bedah Saluran Cerna. Yogyakarta. Rapha Publishing

2. Rai R, Souza RC, Vijin SH, Aithala PS, Ramakrishna KP, Fernandes AM.

2017. An Evaluation of The Seasonal Variation in Acute Appendicitis.

Journal of Evolution of Medical and Dental Sciences.

3. Cokorda BN. 2020. Gambaran Prediktor Perforasi Pada Penderita Apendisitis di Rumah Sakit Umum Ari Canti. Bali. Intisari Sains Medis 11(1): 122-128.

4. Departemen Kesehatan RI. 2015 . Riset Kesehatan Dasar. Departemen Kesehatan. Hubungan Rasio Neutrofil dan Limfosit dengan Apendisitis akut di RSUD Pasar Minggu. Jakarta.

5. Eylin.2009. Karasteristik Pasien dan Diagnosis Histologi Pada Kasus Apendisitis Berdasarkan Data Register di Departemen Patologi Anatomi Fakultasn Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta

6. Warsinggih.2016.Bahan ajar DR.dr.Warsinggih Sp.B-KBD Apendisitis Akut. Available at: https://med.unhas.ac.id/kedokteran/en/wp- content/uploads/2016/10/APPEDISITIS-AKUT.pdf.

7. Amalina A. 2018. Hubungan Leukosit Pre Operasi Dengan Kejadian Komplikasi Pasca Operasi Apendiktomi Pada Pasien Apendisitis Perforasi Di RSUP DR. M. Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas, 7(4): 491-49 8. Wahyu W. 2020. Comparison of Blood Leukocyte Counts in Acute

Appendicitis Patients and Perforated Appendicitis, jiksh Vol.11 No.

9. Mochamad A. 2011. Acute Appendicitis : How Should Be The General Practitioners And Nurses Can Detect Earlier Sign And Symptoms Of This Disease. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang.

10. Ahmad. 2020. Matrix Metalloproteinase (mmp) as the Biomarker of Perforation in Acute Appendicitis. Fakultas Kedokteran.7/Universitas Sumatera Utara. Medan

Referensi

Dokumen terkait

Sebuah sawah berbentuk persegi panjang yang mana panjangnya 200 meter dan lebarnya 100 meter terletak di Desa Teluk-Labak dan sawah ini terletak jauh dari rumah-rumah warga.

TJM adalah salah satu perusahaan atau industri kayu sengon gergajian sawmill berbentuk Usaha Dagang UD yang mengolah sengon berupa Log atau kayu gelondongan berukuran panjang 130 cm dan