• Tidak ada hasil yang ditemukan

Larangan Pernikahan (BAHASA ARAB)

N/A
N/A
Febylestari 201

Academic year: 2025

Membagikan "Larangan Pernikahan (BAHASA ARAB)"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latarbelakang Masalah

Pernikahan adalah sunatullah yang bagi semua umat manusia guna melangsungkan dan memperoleh keturunan. Islam menganjurkan untuk melaksanakan pernikahan sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Pasal 2 Komplasi Hukum Islam (KHI) menyatakan bahwa

“perkawinan menurut islam adalah pernikahan, yaitu suatu akad yang sangat kuat mitsaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah SWT dan melaksanakannya merupakan ibadah. 1

Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Selain itu perkawinan juga sebagai sebagai pemenuhan naluriah kemanusiaan, sebagai pelaksanaan ibadah dan juga untuk mendapatkan keturunan sebagai wujud kasih sayang dan penerus hidup dan kehidupan setiap manusia. Menurut Koentjaraningrat, perkawinan bukan hanya berhubungan dengan masalahmasalah seksual, akan tetapi mempunyai beberapa fungsi di dalam kehidupan kebudayaan, seperti memberi Ketentuan hak dan kewajiban serta perlindungan terhadap hasil persetubuhan, memenuhi kebutuhan akan teman hidup, memenuhi kebutuhan akan harta, gensi dan status sosial, serta memelihara hubungan baik antara kelompok-kelompok kerabat.2

Dalam Islam, perihal perkawinan merupakan perbuatan muamalah yang bermuatan ibadah. Bahkan perkawinan terkategori ibadah yang terpanjang, dilaksanakan sepanjang masih terikat dalam hubungan perkawinan. Oleh karena itu perkawinan dalam ajaran dan hukum Islam perkawinan diatur secara khusus dan sifat hukumnya bervariasi, mulai dari wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Hal ini antara lain disebabkan adanya ketentuan yang bersifat mengharamkan, baik selamanya ataupun

1 Departemen Agama RI, Bahan Penyuluhan Hukum,Jakarta; Direktorat Jendral Kelembagaan Islam,1999,h,136

2 Koenjtaraningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, (Jakarta: PT. Dian Rakyat, 1957), hlm. 89.

(2)

sementara. Larangan kawin antara seorang pria dan seorang wanita dalam shara dibagi dua, yaitu larangan yang berlaku untuk selamanya dan larangan yang berlaku untuk sementara. Larangan perkawinan yang berlaku haram untuk selamanya mengandung arti sampai kapan pun dan dalam keadaan apa pun laki-laki dan pcrempuan itu tidak boleh melakukan perkawinan.

Larangan dalan bentuk ini discbut mahram mu'abbad. Sedangkan larangan perkawinan yang berlaku haram untuk sementara waktu mengandung arti larangan itu berlaku dalam keadaan dan waktu tertentu saja, suatu ketika bila keadaan dan waktu tertentu itu sudah berubah ia tidak lagi menjadi haram. Larangan dalam bentuk ini disebut mahram mu 'aqqat.3

Untuk lebih lanjut maka dalam makalah ini akan dijelaskan lebih jelas lagi terkait dengan larangan-larangan melakukan pernikahan.

B. Rumusan Masalah

1. Definisi larangan melakukan perkawinan?

2. Dasar Hukum Larangan Perkawinan Dalam Al-Qur’an?

3. Larangan Perkawinan dalam UU RI. No.1 Tahun 1974 dan Kompilasi H ukum Islam?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui dan memahami definisi larangan melakukan perkawinan.

2. Untuk mengetahui dan memahami Dasar Hukum Larangan Perkawinan Dalam Al-Qur’an

3. Untuk mengetahui dan memahami Larangan Perkawinan dalam UU RI.

No.1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam.

BAB II PEMBAHASAN

3 Abd. Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2003) hlm.13.

(3)

A. Larangan Pernikahan

Islam memberikan kebebasan bagi laki-laki dan perempuan untuk memilih calon pasangan sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Tentunya, Memilih pasangan harus selektif dan mempertimbangkan banyak hal, terutama persoalan agama. Hukum Perkawinan Islam mengenal asas yang disebut dengan asas selektivitas, yang berarti seseorang yang hendak kawin harus terlebih dahulu menyeleksi dengan siap ia boleh kawin atau menikah dan dengan siapa ia dilarang atau terlarang untuk melakukan perkawinan. 4 Walaupun pada dasarnya setiap laki-laki Islam boleh kawin dengan wanita mana saja namun demikian diberikan pembatasan-pembatasan dan permbatasan tersebut bersifat larangan.5 Rasulullah juga memberi kriteria untuk memilih pasangan dalam berbagai aspek, baik aspek ekonomi, nasab, fisik, dan yang pasti adalah agama. Beberapa aspek tersebut bukanlah menjadi syarat dalam pernikahan kecuali aspek persamaan agama. Seorang laki-laki kaya boleh menikah dengan perempuan miskin. Begitu juga seorang laki-laki anak seorang tokoh masyarakat boleh menikah dengan perempuan anak orang biasa. Akan tetapi persoalan agama, laki-laki muslim hanya boleh menikah dengan perempuan muslim.

Adanya kebebasan memilih pasangan bukan berarti bebas secara penuh. Ada beberapa aturan agama yang harus dipatuhi agar pernikahannya dianggap sah. Jika aturan ini dilanggar, maka pernikahannya tidak sah. Hal inilah yang disebut dengan larangan-larangan dalam pernikahan yang berkaitan dengan aspek calon suami dan istri. Adanya larangan pernikahan ini dimaksudkan agar suami istri terhindar dari dampak bahaya dan madarat yang dihasilkan dari pernikahan yang tidak sah. Karena pada hakikatnya, pernikahan yang sah akan mengantarkan kemaslahatan dan pernikahan yang tidak sah akan mengatarkan pada kemudaratan (bahaya). Salah satu aturan

4 Amir Nuruddin dan Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih UU N0. 1 Tahun 1974 sampai KHI. (Jakarta: Prenada Media. 2004). H. 144.

5 Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan. (Yogyakarta: Liberty, Cet.

1. 1982). H. 31.

(4)

penting berkenaan dengan calon pasangan adalah laki-laki dilarang menikah dengan mahramnya. Aturan ini dijelaskan dalam al-Qur’an surat an-Nisa’

ayat 23 dan selanjutnya disimpulkan dalam KHI Pasal 39-44.

Larangan perkawinan yang dimaksud dalam bahasan ini adalah orang-orang yang tidak boleh melakukan perkawinan. Perempuan- perempuan mana saja tidak boleh dikawini oleh seorang laki-laki atau sebaliknya laki-laki mana saja yang tidak boleh mengawani seorang perempuan. Keseluruhannya diatur dalam al-Qur’an dan dalam hadis Nabi.

Larangan-larangan itu ada dua macam; pertama, larangan yang berlaku haram untuk selamanya dalam arti sampai kapan pun dan dalam keadaan apa pun laki-laki dan perempuan itu tidak melakukan perkawinan. Larangan dalam bentuk ini disebut mahram muabbad. Kedua, larangan perkawinan untuk sementara waktu dalam arti larangan itu berlaku dalam keadaan dan waktu tertentu, suatu ketika apabila keadaan dan waktu tertentu itu sudah berubah, maka tidak lagi menjadi haram, yang disebut mahram muaqqat.6

Dalam kitab fiqh Sunnah Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa tidak semua perempuan dapat dikawini, tetapi syarat perempuan yang boleh dikawini hendaklah bukan orang yang haram bagi laki-laki yang mengawininya, baik keharaman tersebut bersifat abadi maupun keharaman yang bersifat sementara.7

B. Dasar Hukum Larangan Perkawinan Dalam Al-Qur’an

Adapun wanita-wanita yang haram untuk dikawini oleh laki-laki terdapat dalam firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa/4: 22, 23, dan 24.

QS. An-Nisa ayat 22:8

6 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, antara Fikih Munakahat dan Undang- Undang (Cet. II; Jakarta: Kencana, 2007), h.109-110.

7 Sayyid Sabiq. Fiqh Sunnah, (Beirut Lebannon: Dar. Al-Fikr. 2006) Cet. II. H. 487.

8 https://tafsirweb.com/1554-surat-an-nisa-ayat-22.html

(5)

دْقَ امَ لَّاإِ ءِآسَنِّل نَمَ مكُؤُآبَاءِ حَكَنَ امَ وحُكَنِّتَ لَّاوَ ٱ ا۟

لًايبِسَ ءِآسَوَ ا تًقْمَوَ ةًشَحُ)فَٰ نَاكُ هُنَإِ فَلَسَ ۥ ۚ

Artinya: Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).

QS. an-Nisa ayat 23:9

مكَتً)مَّٰعَوَ مكَتَ)وخَأَوَ مكَتَانِّبَوَ مكَتً)هَٰمَأَ مكَيلَعَ تْمَرِّحُ

مكَنِّعْضَرْأَ :ىٓتً)ل مكَتً)هَٰمَأَوَ تْخَلْأُ تُانِّبَوَ خِلْأُ تُانِّبَوَ مكَتً)لَ)خَوَ ٱ ٱ ٱ ىٓفَٰ ىٓتً)ل مكَبِئِ:)بَرْوَ مكَئِآسَنَ تْ)هَٰمَأَوَ ةًعْ)ضَرِّل نَمَ مكَتَ)وخَأَوَ ٱ ٱ ونَوكَتَ مل نَإِفَٰ نَهَٰبَ متًلَخَدَ ىٓتً)ل مكَئِآسَنَ نَمَ مكُرْوجُحُ

ا۟ ٱ

نَمَ نَيذِل مكَئِآنِّبَأَ لُئِ:)لَحُوَ مكَيلَعَ حَانِّجُ لًافَٰ نَهَٰبَ متًلَخَدَ ٱ هُلَل نَإِ فَلَسَ دْقَ امَ لَّاإِ نَيتًخَلْأُ نَيبَ وعْمَّٰجُتَ نَأَوَ مكَبِ)لَصْأَ ٱ ۗ ٱ ا۟

ا مَّٰيحُرْ ا رْوفُغَ نَاكُ

Artinya: Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak- anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan

9 https://tafsirweb.com/1555-surat-an-nisa-ayat-23.html

(6)

diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

QS. An-Nisa Aayat 24:10

هُلَل بَ)تًكُ مكَنِّ)مَّٰيأَ تْكَلَمَ امَ لَّاإِ ءِآسَنِّل نَمَ تْ)نِّصَحُمَّٰل وَ ٱ ۖ ٱ ٱ مكَل)ومَأَبَ وغُتًبِتَ نَأَ مكَل)ذَٰ ءِآرْوَ امَ مكَل لُحُأَوَ مكَيلَعَ ا۟ ۚ نَهَٰنِّمَ هُبَ متًعْتًمَّٰتًسَ امَّٰفَٰ نَيحُفُ)سَمَ رِّيغَ نَينِّصَحُRمَ ۦ ٱ ۚ متًيضَ)رِّتَ امَّٰيفَٰ مكَيلَعَ حَانِّجُ لَّاوَ ةًضَيرِّفَٰ نَهُرْوجُأَ نَهُوتَاUـَٔفَٰ ۚ ا مَّٰيكَحُ ا مَّٰيلَعَ نَاكُ هُلَل نَإِ ةًضَيرِّفُل دْعْبَ مَ هُبَ ٱ ۚ ٱ نۢ ۦ

Artinya: Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Hukum Islam mengatur perempuan-perempuan yang dilarang dikawini berdasarkan dalam al-Qur’an surah al-Nisa/ 4: 22, 23 dan 24, maka dapat disistematiskan, sebagai berikut:

1. Perempuan yang haram dikawini untuk selamanya (Al-Muharramat al- Muabbadah)

10 https://tafsirweb.com/1556-surat-an-nisa-ayat-24.html

(7)

Al-Muharramat al-Muabbadah adalah sebab yang menghalangi seorang laki-laki menikahi seorang perempuan selamanya karena sebab tersebut tidak bisa hilang atau dihilangkan, ia akan terus melekat pada diri masing- masing, baik laki-laki maupun perempuan. Yang termasuk dalam kategori ini, yaitu:

a. Haram dikawini sebab hubungan nasab, di antaranya;

(1) Ibu, termasuk dalam pengertian ibu adalah nenek dan seterusnya ke atas baik dari pihak bapak maupun dari pihak ibu.

(2) Anak perempuan, termasuk dalam pengertian anak perempuan adalah cucu perempuan dari anak laki-laki maupun dari anak perempuan dan terus ke bawah.

(3) Saudara perempuan, baik sebapak dan seibu, maupun sebapak saja atau seibu saja.

(4) Bibi, yaitu saudara perempuan bapak dan ibu, baik sekandung maupun sebapak dan seibu.

(5) Kemanakan (keponakan) perempuan, yaitu anak perempuan saudara laki-laki atau saudara perempuan dan seterusnya ke bawah.

Hikmah keharaman wanita yang disebabkan hubungan nasab adalah mengagungkan kerabat. Menikahi kerabat menyebabkan pemutusan rahami. Pernikahan bermakna perluasan kasih sayang yang berlaku antara dua orang yang menikah, tetapi pernikahan dengan satu nasab menyebabkan gesekan-gesekan yang kasar antara mereka berdua yang kemudian menyebabkan pemutusan rahim hukumnya haram, maka penyebab hal haram yang hukumnya haram pula. Terlebih ibu yang secara khusus, pengagungan wajib karedan ada perintah menemani kedua orangtua degan baik dan penuh kasih sayang. Semua syari’at sepakat mengharamkan menikahi wanita yang ada hubungan nasab. Ayat-ayat Al-qur’an telah menjelaskan hal tersebut secara jelas.

b. Haram dikawini sebab hubungan sesusuan (Rada’ah) Diantara sebab keharaman yang abadi ialah persususan:

(8)

(1) Ibu susuan, yaitu seorang wanita yang pernah menyusui seorang anak. Ibu tersebut dipandang sebagai ibu kandung, sehingga haram untuk dikawini.

(2) Nenek sesusuan, yaitu ibu dari yang menyusui, atau ibu dari suami yang menyusui.

(3) Bibi sesusuan, yaitu saudara perempuan dari ibu susuan atau saudari perempuan dari suami ibu susuan.

(4) Saudara perempuan, baik saudara sebapak kandung maupun seibu saja.

Adapun hikmah diharamkannya menikahi sesusuan (Rada’ah) adalah ketentuan mengenai larangan kawin karena hubungan rada’ah ini juga mewujudkan kemaslahatan bagi manusia, sesuai dengan prinsip hukum Islam yang senantiasa menginginkan kebaikan dan kemaslahatan bagi umat manusia. Bahkan nilai kemaslahatan yang diberikan tidak hanya untuk pemeluk agama Islam saja, melainkan seluruh umat manusia termasuk non- muslim.

Jika dilihat secara seksama, larangan kawin karena hubungan susuan ini memiliki implikasi yang sangat besar bagi terciptanya masyarakat yang sehat dan kuat. Dalam ilmu kedokteran dapat dibuktikan bahwa perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang masih satu hubungan susuan memiliki resiko lebih besar untuk menularkan penyakit mematikan. Di samping itu, ada banyak kemaslahatan yang di dapat dari ketentuan larangan kawin karena hubungan rada’ah ini. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Hasbi Ash Shiddieqy dalam bukunya dijelaskan bahwa adanya sesuatu di dalam hukum syara’ yang agak sedikit memberatkan itu memang disengajakan oleh syara’, tetapi yang demikian itu tidaklah dinamakan pemberatan seperti usaha mencari rezeki atau mengerjakan sesuatu.11 Maka dengan demikian berbedalah antara pemberatan yang tidak dipandang berat dengan pemberatan yang memberatkan. Sesuatu perbuatan yang apabila kita

11 Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Filsafat Hukum Islam, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2001), hlm. 207.

(9)

mengerjakannya timbul sesuatu kecederaan pada diri, harta, kesadaran kita.

Maka, itulah yang dinamakan pemberatan yang luar biasa. Kalau tidak demikian maka tidaklah dipandang pemberatan.

Dengan demikian jelaslah bahwa, larangan kawin yang ditentukan oleh syara’ bukan hal yang memberatkan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, pelarangan yang justru memiliki manfaat yang luar biasa bagi manusia yang menjalankannya, syariat Islam menempati posisi terdepan dalam menebarkan maslahat di muka bumi.

c. Haram dikawini sebab hubungan perkawinan (Musaharah)

Musaharah adalah orang yang awalnya tidak termasuk keluarga atau kerabat dekat, namun setelah terjadi pernikahan di salah satu anggota keluarganya menyebabkan mereka tergolong kerabat. Termasuk dalam golongan ini adalah:

(1) Mertua perempuan dan nenek perempuan istri, baik dari pihak bapak maupun ibu.

(2) Anak tiri, dengan ketentuan telah bercampur dengan anak tiri itu.

(3) Menantu, yaitu istri anak, istri cucu dan terus ke bawah.

(4) Ibu tiri, yaitu bekas istri bapak.

d. Haram dikawini sebab sudah dilian. Para ulama fikih berpendapat bahwa sumpah lian mengakibatkan suami istri harus berpisah (cerai) dan tidak boleh kawin lagi selama-lamanya.12

2. Perempuan yang haram dikawini untuk sementara (Al-Muharramat al- Muaqqatah).

Al-muharramat al-muaqqatah adalah wanita-wanita yang haram dinikahi dalam jangka waktu tertentu (sementara) disebabkan adanya

12 Ali Hasan, Pedoman Hidup Berumah Tangga dalam Islam (Cet. II; Jakarta: Siraja, 2006), h. 44-50.

(10)

beberapa sebab. Apabila sebab itu sudah tiada maka pelarangan tersebut pun juga terhapus. Sebab-sebab yang dimaksud, yaitu;

a. Diharamkan karena status wanita yang sudah ditalak tiga.

Pengharaman untuk menikahi wanita yang sudah ditalak tiga atau dalam istilah fiqih adalah talaq bain berlaku bagi mantan suami yang telah menceraikannya. Hal ini didasari oleh firman Allah swt dalam QS. al-Baqarah/2: 230.

“Kemudian jika suaminya mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.”

Dari ayat tersebut dipahami bahwa seorang suami bila telah mentalak tiga isterinya maka isterinya yang sudah ditalak itu tidak halal lagi baginya. Pengharaman ini tentunya memberi pelajaran yang sangat pahit bagi suami isteri yang bercerai untuk ketiga kalinya. Kalaulah perceraian pertama terjadi, peristiwa itu kiranya menjadi pelajaran bagi keduanya untuk introspeksi dan melakukan perbaikan. Kalaupun masih terjadi perceraian untuk kedua kalinya, kesempatan terakhir harus dapat menjamin kelangsungan pernikahan, sebab kalau tidak, dan perceraian itu terjadi lagi untuk ketiga kalinya, tidak ada jalan lain untuk kembali menyatu, kecuali memberi kesempatan kepada isteri untuk kawin dengan pria lain.

b. Diharamkan karena status wanita yang terkait dengan suaminya (baik sebagai isteri, maupun sementara dalam keadaan iddah)

Perempuan yang berstatus isteri orang lain termasuk orang yang tidak boleh dinikahi, berdasarkan firman Allah swt. dalam QS.

An-Nisa’/4: 24:

(11)

“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu”

c. Diharamkan karena beda agama dan keyakinan.

d. Diharamkan karena status wanita tersebut sebagai saudara atau keluarga dekat istri yang sedang berjalan.

Seorang pria dilarang mengumpulkan dua wanita bersaudara atau lebih dan dijadikan sebagai istrinya. Hal ini didasari oleh firman Allah swt. dalam QS al-Nisa’/4: 23;

“dan (kamu juga diharamkan) menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau”

e. Diharamkan karena wanita tersebut akan menjadi isteri kelima dalam waktu bersamaan.13

Seorang pria tidak boleh menikahi seorang wanita apabila wanita tersebut akan menjadi isterinya yang kelima di saat isteri pertama sampai isteri masih ada dan sementara berjalan. Dengan kata lain, seorang pria dilarang poligami lebih dari lima isteri.

C. Larangan Perkawinan dalam UU RI. No.1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam

1. UU RI. No.1 Tahun 1974 mengatur siapa saja yang dilarang untuk melaksanakan perkawinan, yaitu;14

Pasal 8

Perkawinan dilarang antara dua orang yang:

13 Ali Hasan, Pedoman Hidup Berumah Tangga dalam Islam, h. 50-51.

14 H. Abdurrahman, Kompilasi hukum Islam di Indonesia, Cetakan Pertama (Jakarta: Akademi Pressindo, 1992), h. 76-77.

(12)

a. berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah atau ke atas;

b. berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara, antara seorang dengan seorang saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya;

c. berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu/bapak tiri;

d. berhubungan susuan, anak susuan, saudara dan bibi/paman susuan;

e. berhubungan saudara dengan istri atau sebagai bibi atau kemenakan dari istri, dalam hal seorang suami beristri lebih dari seorang;

f. yang mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku dilarang kawin.

Pasal 9

Seorang yang terikat tali perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin lagi, kecuali dalam hal yang tersebut dalam Pasal 3 ayat (2) dan dalam Pasal 4 Undang-undang ini.

Pasal 10

Apabila suami dan istri yang telah cerai kawin lagi satu dengan yang lain dan bercerai lagi untuk kedua kalinya, maka di antara mereka tidak boleh dilangsungkan perkawinan lagi, sepanjang hukum, masing- masing agama dan kepercayaan itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain

2. Kompilasi Hukum Islam

Kompilasi Hukum Islam secara detail merincikan terkait wanita- wanita yang haram untuk dinikahi:15

Pasal 39

Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita disebabkan :

15 H. Abdurrahman, h. 11-13.

(13)

1) Karena pertalian nasab:

a. dengan seorang wanita yang melahirkan atau yang menurunkannya atau keturunannya;

b. dengan seorang wanita keturunan ayah atau ibu;

c. dengan seorang wanita saudara yang melahirkannya.

2) Karena pertalian kerabat semenda :

a. dengan seorang wanita yang melahirkan istrinya atau bekas istrinya;

b. dengan seorang wanita bekas istri orang yang menurunkannya;

c. dengan seorang wanita keturunan istri atau bekas istrinya, kecuali putusnya hubungan perkawinan dengan bekas istrinya itu qobla al dukhul;

d. dengan seorang wanita bekas istri keturunannya.

3) Karena pertalian sesusuan

a. dengan wanita yang menyusui dan seterusnya menurut garis lurus ke atas;

b. dengan seorang wanita sesusuan dan seterusnya menurut garis lurus ke bawah;

c. dengan seorang wanita saudara sesusuan, dan kemanakan sesusuan ke bawah;

d. dengan seorang wanita bibi sesusuan dan nenek bibi sesusuan ke atas;

e. dengan anak yang disusui oleh istrinya dan keturunannya.

Pasal 40

Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita karena keadaan tertentu:

a. karena wanita yang bersangkutan masih terikat satu perkawinan dengan pria lain;

(14)

b. seorang wanita yang masih berada dalam masa iddah dengan pria lain;

c. seorang wanita yang tidak beragama Islam.

Pasal 41

(1) Seorang pria dilarang memadu istrinya dengan seorang wanita yang mempunyai hubungan pertalian nasab atau sesusuan dengan istrinya;

a. saudara kandung, seayah atau seibu atau keturunannya;

b. wanita dengan bibinya atau kemenakannya.

(2) Larangan tersebut pada ayat (1) tetap berlaku meskipun istri-istrinya telah ditalak raj`i’i, tetapi masih dalam masa iddah.

Pasal 42

Seorang pria dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang wanita apabila pria tersebut sedang mempunyai 4 (empat) orang istri yang keempat-empatnya masih terikat tali perkawinan atau masih dalam iddah talak raj`i’i ataupun salah seorang di antara mereka masih terikat tali perkawinan sedang yang lainnya dalam masa iddah talak raj`i’i.

Pasal 43

(1) Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria:

a. dengan seorang wanita bekas istrinya yang ditalak tiga kali;

b. dengan seorang wanita bekas istrinya yang dili`an.

(2) Larangan tersebut pada ayat (1) huruf a. gugur, kalau bekas istri tadi telah kawin dengan pria lain, kemudian perkawinan tersebut putus ba`da dukhul dan telah habis masa iddahnya.

Pasal 44

Seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam.

(15)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam ajaran Islam tidak semua perempuan dapat dinikahi. Al-Qur’an sangat ketat dan jelas merinci siapa-siapa yang tidak boleh dinikahi, akan tetapi berdasarkan beberapa ayat Al-Qur’an, orang-orang yang tidak boleh dinikahi setidaknya disebabkan oleh beberapa sebab. Fuqaha mengklasifikasi sebab-sebab pengharaman orang tidak boleh dinikahi kedalam dua sebab, yaitu; sebab yang bersifat abadi atau selamanya (al- muharramat al-muabbadah), dan sebab yang bersifat sementara (al-

(16)

muharramat al-muaqqatah). Ketentuan terkait wanita yang haram untuk dinikahi terdapat dalam Qs. Annisa ayat 22-24, UU No. 1 Tahun 1974 dalam pasal (8-10) dan KHI dalam pasal (39-44).

B. Saran

Agar makalah ini menjadi lebih baik di masa yang akan datang,kami mengharapkan adanya saran dan kritik yang membangun dari para pembaca. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan menambah pengetahuan kita terutama dalam bidang hukum pada umumnya,dan menambah pengetahuan di bidang hukum Islam pada khususnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abd. Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2003.

Ali Hasan, Pedoman Hidup Berumah Tangga dalam Islam. Cet. II; Jakarta: Siraja, 2006.

Amir Nuruddin dan Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih UU N0. 1 Tahun 1974 sampai KHI.

Jakarta: Prenada. Cet. II. 2004.

Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, antara Fikih Munakahat dan Undang-Undang. Cet. II; Jakarta: Kencana, 2007.

(17)

Departemen Agama RI, Bahan Penyuluhan Hukum,Jakarta; Direktorat Jendral Kelembagaan Islam,1999.

H. Abdurrahman, Kompilasi hukum Islam di Indonesia, Cetakan Pertama. Jakarta:

Akademi Pressindo, 1992.

https://tafsirweb.com/1554-surat-an-nisa-ayat-22.html https://tafsirweb.com/1555-surat-an-nisa-ayat-23.html https://tafsirweb.com/1556-surat-an-nisa-ayat-24.html

Koenjtaraningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: PT. Dian Rakyat, 1957.

Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Filsafat Hukum Islam. Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2001.

Sayyid Sabiq. Fiqh Sunnah. beirut Lebannon: Dar. Al-Fikr. 2006.

Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan.

Yogyakarta: Liberty, Cet. 1. 1982.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun larangan perkawinan yang bersifat sementara: 1. Mengawini dua orang suadara dalam satu masa. Bila seorang laki-laki telah mengawini seorang perempuan, dalam waktu yang

Pencegahan perkawinan adalah menghindari suatu perkawinan berdasarkan larangan hukum Islam yang diundangkan, dalam arti yang lebih luas lagi dapat dikatakan bahwa perkawinan yang

Larangan tersebut di atas didasarkan pada peraturan yang berlaku saat Prospektus ini dibuat, yang mana dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan

Larangan yang bersifat mua’aqqat (larangan untuk waktu tertentu) seperti yang termuat pada pasal 40 Kompilasi Hukum Islam, dinyatakan dilarang melangsungkan

Scara tekstual bahwa hadis tentang larangan pemakaian cincin emas bagi laki-laki, tepatnya ketika masa Nabi Saw larangan tersebut berlaku karena emas pada saat

Jika disandingkan kedua nomina tersebut diterjemahkan secara harfiyah artinya mempunyai keadaan, dan terjemahan maknawi yang penting, menarik perhatian (Ali,

Sebab yang kedua adalah hubungan perkawinan atau ikatan perkawinan, yaitu sebagai konsekuensi hukum karena adanya akad nikah seorang laki-laki dengan seorang

Pengertian Fi’il Fi’il adalah kata yang menunjukkan arti pekerjaan atau peristiwa yang terjadi pada suatu masa atau waktu tertentu lampau, sekarang dan yang akan datang.. Hampir