Rumusan masalahnya adalah sejauh mana keberadaan yurisprudensi Mahkamah Agung dapat menegakkan hukum keluarga Islam di Indonesia. Manfaatnya terlihat dari sejauh mana keberadaan yurisprudensi Mahkamah Agung dapat menegakkan hukum keluarga Islam di Indonesia.
Kesimpulan
Selam, Nor, 2010, Pembaharuan Hukum Keluarga Islam Melalui Putusan Mahkamah Konstitusi (Studi Analitik Putusan Mahkamah Konstitusi No. 14 Romlah, 2016, Pembaharuan Hukum Keluarga Islam di Indonesia Mengenai Keabsahan Akad Bagi Ibu Hamil, Jurnal Al-'Adalah Jil.
Peran Pemerintah dalam Pengelolaan Limbah Medis pada Apotek dan Praktik Bidan Mandiri
Metode Penelitian
- Kewenangan pemerintah dalam pengelolaan limbah medis Apotik, dan praktik bidan mandiri
- Hambatan dalam pengelolaan limbah medis Apotik, dan praktik bidan mandiri
Kewenangan pemerintah terhadap pengelolaan limbah medis farmasi, dan praktik kebidanan mandiri dan praktik kebidanan mandiri. Hal ini akan menjadi permasalahan, karena tidak diaturnya teknis pengelolaan limbah medis di pelayanan kesehatan.
Hambatan Implementasi Pencegahan
Tindak Pidana Korupsi pada Pelaksanaan Program Dana Desa di Kabupaten Gresik
Latar Belakang Masalah
Polisi kini mempunyai kewenangan untuk melakukan kontrol dan dapat menyelesaikan masalah jika ada permasalahan dalam penggunaan dana desa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan hambatan pelaksanaan pencegahan korupsi penggunaan dana desa.
Hasil dan Pembahasan
Prioritas penggunaan dana desa adalah pembiayaan pelaksanaan program dan kegiatan lintas sektoral. Penggunaan dana desa periode I di Desa Suci Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik dengan dana sebesar Rp.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
- Gereja Stasi Santa Maria Kolong dan Praktik Toleransi
47 penduduk Desa Kolong. Proses toleransi beragama yang dilakukan masyarakat Desa Kolong dimulai dengan berdirinya Gereja Stasi Santa Maria di desa tersebut. Kedua, perlu adanya penguatan Wisata Toleransi (double T) yang dapat dijadikan sebagai objek wisata belajar toleransi dengan konsep DWIPA (Desa Wisata Pancasila), yang dapat dilakukan dengan memasang photobooth yang tulisannya dapat meningkatkan rasa toleransi, pendirian Taman Baca Pancasila (TBC) yaitu diskusi lintas agama dan budaya secara berkala serta paket wisata kerukunan hidup khusus yaitu hidup bersama dan merasakan hidup bersama masyarakat Desa Kolong yang dekat dengan Gereja Stasi Santa Maria Kolong dengan bermalam akomodasi.
Kebijakan Penjaminan Tanah Melalui Hak Tanggungan di Indonesia
Mekanisme Penjaminan Hak Tanggungan Secara Elektronik (HT el)
Hal ini diatur dalam “Peraturan Menteri Pertanian dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pelayanan Hipotek Terintegrasi Secara Elektronik”. Sistem HT-el sebagaimana dimaksud dalam “PMATR/BPN Nomor 9 Tahun 2019” merupakan serangkaian proses pelayanan hak tanggungan dalam rangka pemeliharaan data pendaftaran tanah yang dilakukan melalui sistem elektronik yang terintegrasi. Dokumen elektronik, sertifikat hak tanggungan yang diterbitkan oleh sistem HT-el dilengkapi dengan tanda tangan elektronik.
Dengan demikian, dengan layanan Hipotekarna praviča melalui sistem HT-el, Anda akan memperoleh sertifikat hak tanggungan dan catatan hak tanggungan dalam daftar tanah, serta sertifikat tanah atau hak milik atas rumah susun dalam bentuk elektronik. dokumen. diterbitkan oleh Sistem HT-el. Tahapan pemberian hak tanggungan dengan sistem HT-el oleh PPAT Kabupaten Badung merupakan tahap pemberian HT.
Perbedaan Pengaturan Kebijakan Penjaminan HT Menurut UUHT dengan PMATR/KBPN No. 9 tahun 2019
Hal ini sesuai dengan yang diatur dalam “PMATR/KBPN No. 9 Tahun 2019”, bahwa yang dapat mendaftarkan HT di Kantor Pertanahan adalah kreditur. Sehubungan dengan jaminan HT elektronik, PPAT dikecualikan dari kewajiban mewakili pemohon (kreditur) untuk mendaftarkan HT pada Kantor Pertanahan. PMATR/KBPN No.9 Tahun 2019” mengatur bahwa penyerahan APHT ke Kantor Pertanahan merupakan tugas PPAT, dan permohonan pendaftaran HT-el merupakan kewajiban Kreditur.
Dalam proses penjaminan HT, PPAT Kabupaten Badung hanya menyerahkan APHT beserta berkas terkait perbuatan hukum pemberian HT kepada Kantor Pertanahan secara online. Berdasarkan kebijakan UUHT, tindakan penyerahan akta dan pendaftaran Hak Tanggungan dilakukan oleh PPAT, sedangkan PMATR/KBPN Nomor 9 Tahun 2019 mengatur bahwa penyerahan APHT ke Kantor Pertanahan merupakan tugas PPAT dan permohonan HT- el pendaftaran adalah kewajiban kreditur.
Grondkaart; Problematika Hukum dan Penyelesaiannya
Kronologis kasus gugatan sengketa Tata Usaha Negara (TUN) oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Kudus
Kasus dalam penelitian ini adalah konflik kepentingan kepemilikan tanah antara PT KAI (Persero) dengan PT Pura Barutama dan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Kudus. Satu pihak mempunyai bukti kepemilikan atas obyek tanah sengketa dengan Grondkaart oleh PT KAI Persero sebagai penggugat di PTUN, dan di sisi lain mempunyai bukti kepemilikan sertifikat HGB no.18 atas nama PT Pura Barutama. yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kudus. 3916/1990 tanggal 14 Oktober 1990 seluas kurang lebih 5731 m2 adalah atas nama pemegang hak PT Pura Barutama yang berkedudukan di Kudus atas benda yang sama tersebut di atas, sehingga terjadi tumpang tindih kepemilikan; Sertifikat HGB ini diterbitkan berdasarkan PP No.
Berdasarkan alasan di atas, PT KAI Persero mengajukan permohonan kepada PTUN Semarang untuk membatalkan Sertifikat HGB No.18/Desa Jati Kulon atas tanah PT Pura Barutama. Kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Kudus untuk mendapatkan Sertifikat HGB Buku Tanah No.
Kedudukan Hukum Grondkaart dan sertipikat hak atas tanah dalam penguasaan dan kepemilikan tanah dari Perspektif Hukum Tanah Nasional
Kekayaan PT KAI merupakan kekayaan negara yang dipisahkan dan tunduk pada Undang-Undang Keuangan Negara (ICW). PT KAI merasa dirugikan dengan diterbitkannya sertifikat HGB atas nama PT Pura Barutama, sehingga mengajukan gugatan ke PTUN atas sertifikat HGB No.18/Desa Jati Kulon yang diterbitkan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Kudus karena batal. atau tidak valid. Adapun tanah yang disengketakan merupakan tanah negara PT KAI (Persero) yang apabila didaftarkan melalui permohonan hak atas tanah negara menjadi prioritas PT KAI (Persero).
Pihak lain bisa mengajukan hak atas tanah negara dengan syarat ada surat pelepasan hak dari PT KAI. Maka PT Pura Barutama dalam mengajukan permohonan tanah pemerintah, salah satu syaratnya adalah surat penyerahan hak atas tanah dari Menteri Keuangan cq PT KAI (Persero).
Praktik Ratifikasi Perjanjian Internasional Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-XVI/2018
Ketentuan Mengenai Ratifikasi Perjanjian Internasional
12 Damos Dumoli Agusman, 2017, Hukum Perjanjian Internasional (ikhtisar teori dan praktik di Indonesia), PT.Refika Aditama, Bandung, hal.71. Lembaga ratifikasi internal diartikan sebagai persetujuan parlemen terhadap rencana kepala negara untuk meratifikasi (mengikat) suatu perjanjian, sebagaimana disyaratkan oleh perjanjian internasional itu sendiri. Wayan Prathiana menyatakan ratifikasi sebagai bentuk deklarasi negara untuk berkomitmen terhadap suatu perjanjian internasional melibatkan dua aspek, yaitu aspek internal dan aspek eksternal.
Misalnya, badan mana yang berwenang mengajukan permohonan persetujuan untuk terikat, bagaimana mekanismenya, dan konsekuensinya bagi hukum nasional jika mengikat suatu perjanjian internasional.16. Aturan mengenai aspek eksternal dalam ratifikasi perjanjian internasional tentu saja berbeda-beda di setiap negara.
Praktik Ratifikasi Perjanjian Internasional di Indonesia
Para Pemohon mendalilkan ketentuan Pasal 2, Pasal 9 ayat (2), Pasal 10, Pasal 11 ayat (1) dan penjelasan Pasal 11 ayat (1) UU Perjanjian Internasional adalah inkonstitusional karena bertentangan. Persetujuan DPR diperlukan apabila suatu perjanjian internasional memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) UUD 1945. Sedangkan perjanjian internasional mempunyai tiga tahap yang terdiri dari tahap perundingan, tahap penandatanganan, dan tahap ratifikasi.
Berkenaan dengan dalil-dalil permohonan yang diajukan uji materi terhadap ketentuan Pasal 2, Pasal 9 ayat 2, Pasal 10, Pasal 11, ayat 1, Undang-Undang Perjanjian Internasional. Pemerintah menilai perjanjian tersebut masuk dalam kriteria Pasal 10 UU Perjanjian Internasional karena berkaitan dengan masalah pertahanan.
KESIMPULAN
Ratifikasi perjanjian AIIB dengan Keppres ini menunjukkan adanya ketidakselarasan mengenai kualifikasi untuk meratifikasi perjanjian internasional melalui undang-undang atau keppres. Tidak adanya penafsiran yang jelas terhadap kriteria perjanjian internasional “yang mempunyai akibat luas dan mendasar bagi kehidupan masyarakat sehubungan dengan beban perekonomian negara dan/atau memerlukan perubahan atau pembentukan undang-undang” berpotensi menimbulkan permasalahan di kemudian hari. karena ketidakpastian hukum. Perlu adanya revisi terhadap UU Perjanjian Internasional yang memberikan penafsiran dan penjelasan mengenai kriteria perjanjian internasional yang mempunyai implikasi luas dan mendasar sehingga memerlukan persetujuan DPR dalam pengesahannya.
Dumoli, Damos Agusman, 2017, Hukum Perjanjian Internasional (Studi Teori dan Praktek Indonesia), PT.Refika Aditama, Bandung. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-XVI/2018 Revisi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 Tentang Perjanjian Internasional Pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Konflik Kekuatan Hukum (Daya Mengikat) antara Akta Perdamaian dengan Putusan Mahkamah Agung
- Apa pengertian gugatan perdata, dan bagaimana proses pengajuannya sampai gugatan tersebut berkekuatan hukum tetap?
- Berdasarkan fakta perbuatan yang dilakukan oleh K bin SS, jelaskan apa dasar hukumnya ?
- Bisakah saudara jelaskan apakah pengertian perkara perdata telah memiliki kekuatan hukum yang tetap dan apakah perkara ini telah memiliki
- Adakah upaya hukum lain setelah adanya putusan kasasi Mahkamah Agung atas Verzet/perlawanan dalam perkara perdata dan apakah dasar
- Bagaimana pendapat saudara tentang perkara ini apabila dikaitkan dengan Peraturan Mahkamah Agung nomor 1 tahun 1956 dan bisakah saudara
- Terkait jawaban nomor 7 tersebut, apakah yang dimaksud dengan kerugian materiil dan kerugian imateriil serta apakah perbuatan K SS tersebut
Sebelum adanya putusan kasasi oleh Mahkamah Agung nomor: 3450 K/Pdt/1993, tanggal 28.08.1995 dan Putusan Eksekutif Pengadilan Negeri Pati nomor: 3/Pen.Anm.Ex/2014/PN Pti, tanggal 07.03.2014. , terjadilah perdamaian dan permohonan kasasi ditarik kembali oleh pemohon kasasi. Berdasarkan hal tersebut apakah putusan Kasasi Mahkamah Agung dengan nomor: 3450 K/Pdt/1993 tanggal 28 Agustus 1995 tetap sah atau tidak dan apa dasar hukumnya. Dalam perkara ini telah terdapat Putusan Kasasi Mahkamah Agung dengan nomor: 3450 K/Pdt/1993 tanggal 28 Agustus 1995 dan Putusan Eksekusi Pengadilan Negeri Pati nomor: 3/Pen.Anm.Ex/2014/PN Pti. , tanggal 3 Juli 2014, namun eksekusinya belum dilakukan.
Pati, pasca Putusan Kasasi Mahkamah Agung Nomor: 3450 K/Pdt/1993, tanggal 28.08.1995 dan Putusan Eksekusi Pengadilan Negeri Pati Nomor: 3/Pen.Anm.Ex/2014/PN Pti, tanggal 03. Juli 2014 tapi masih belum dilaksanakan Eksekusi ini termasuk perbuatan melawan hukum dan apa dasar hukumnya? Pati, berdasarkan Putusan Kasasi Mahkamah Agung Nomor: 3450 K/Pdt/1993, tanggal 28.08.1995 dan Putusan Penindakan Pengadilan Negeri Pati Nomor: 3/Pen.Anm.Ex/2014/PN Pti. , tanggal 03 Juli 2014, padahal belum dilakukan eksekusi dan apa dasar hukumnya?
Implementasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-XIII/2015 terhadap Hukum Perkawinan di Indonesia
Pengujian Terhadap Pasal 21 Ayat (1) dan (3) serta Pasal 36 Ayat (1) UUPA Salah satu prinsip atau asas UU 5/1960 adalah asas nasionalitas (kebangsaan), asas ini
Untuk menghindari hal tersebut, dibuatlah perjanjian pranikah antara calon suami dan istri, sebelum mereka menikah. Sebelum adanya Putusan Mahkamah Konstitusi, pembuatan Perjanjian Pranikah setelah menikah diatur dalam Pasal 186 KUH Perdata. Dalam hal keabsahan perjanjian pranikah bagi perkawinan campuran yang dilakukan secara siri, perlu diketahui bahwa salah satu tujuan perjanjian pranikah adalah untuk menyimpang dari kesatuan harta sebagaimana dimaksud dalam pasal 29 ayat (1). menurut hukum. Hukum perkawinan.
Fhauzi Prasetyawan, Peran Notaris Terkait Sahnya Perjanjian Perkawinan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-XII/2015, diakses pada 20 Maret 2019. Imam Yustika Putri, Prija Djatmika, Dhiana Puspitawati, Perjanjian Yuridis Nyonya, Implikasi Yudisial terhadap Akad Nikah Utang Bersama Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-XIII/2015, diakses pada 20 Maret 2019.
Batasan Hukum Keterbukaan Data Medis Pasien Pengidap Covid-19
Perlindungan Privasi VS Transparansi Informasi Publik
Perspektif Berbagai Aturan Hukum Nasional Terhadap Hak atas Informasi Publik Pada Data Rekam Medis Pasien Penderita Covid-19
Titik-titik informasi yang akurat, terbuka dan akuntabel diharapkan dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah untuk mengurangi risiko melalui kebijakan yang tepat guna mengurangi peningkatan jumlah orang yang menderita virus Covid-19. Dalam ketentuan Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit disebutkan bahwa rumah sakit wajib memberikan informasi yang akurat mengenai pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Rekam medis pada dasarnya terdiri dari dua aspek, yaitu informasi yang bersifat rahasia dan informasi yang tidak mengandung kerahasiaan11.
Informasi rahasia berupa laporan atau hasil pemeriksaan kondisi kesehatan pasien, sehingga isi dokumen ini tidak boleh dibuka atau diteruskan kepada orang yang tidak berkepentingan. Konten informasi yang berisi berkas medis dan data pribadi non medis pasien Covid-19 merupakan informasi yang dikecualikan dan dibatasi untuk publikasi publik.
Perlindungan terhadap Rekam Medik Pasien Penderita Covid-19 dan Implikasinya atas Pelanggaran Atas Kerahasiaan Data Pasien
- Perlindungan Hukum Terhadap Data Rekam Medis Pasien Covid-19 dan Implikasi Pelanggaran atas Kerahasiaan Data Medis
- Implikasi dan Tantangan Hukum Dalam Menangani Penentuan Prioritas Kepentingan Antara Keterbukaan dan Perlindungan Kerahasiaan Data Pasien Pada
Jika mengacu pada aturan keterbukaan data rekam medis pasien positif Covid-19 yang normatif dalam undang-undang. Hak privasi pada data rekam medis pasien merupakan bagian dari hak dasar individu (hak menentukan nasib sendiri) dalam pelayanan kesehatan. Sementara itu, penyimpanan data rekam medis pasien oleh institusi penyelenggara pelayanan kesehatan non rumah sakit (klinik dan puskesmas) wajib dilakukan sekurang-kurangnya selama jangka waktu tertentu.
Konflik mengenai keterbukaan informasi publik melalui pengecualian hak akses data rekam medis pribadi pasien positif Covid-19 menjadi permasalahan hukum yang muncul di masa pandemi ini. Pengecualian untuk mempublikasikan secara sah informasi tentang data rekam medis pasien mempunyai dasar perlindungan.
Evaluasi Untuk Menengahi Konflik Keterbukaan Informasi dengan Perlindungan Ha atas Privasi Data Medis Pasien Covid-19
Ketiga indikator sistem hukum di atas menunjukkan bahwa perlindungan yang diberikan undang-undang belum cukup untuk melindungi data pribadi pasien penderita Covid-19. Evaluasi untuk memediasi konflik antara keterbukaan informasi dengan Ha Melindungi privasi data medis pasien Covid-19. Di Singapura, data pribadi yang relevan dapat dikumpulkan, digunakan, dan dikumpulkan tanpa persetujuan untuk pembayaran kontak dan tindakan respons lainnya.
Dalam praktiknya, negara-negara seperti Korea Selatan dan Singapura di atas sama-sama memiliki dasar hukum berupa undang-undang perlindungan data pribadi yang kuat. Jadi meskipun ada kebijakan untuk mengakses data pribadi pasien yang diduga atau tertular Covid-19 (Contact Tracing), namun cakupan data pribadi yang dilacak juga mencakup rekam jejak aktivitasnya.
Law, Development & Justice Review Indexed by