147
LAW JU'ALAH IN ISLAM Ahmad Fadhly Roza, Mhd. Yadi
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA [email protected]
ABSTRACT
In everyday life humans cannot live alone or meet their own needs, in general humans certainly always do activities, in these daily activities there is work that cannot be done alone, so they must need others to do the work. Because of this, there must be a reward for the work done by the other person. In Islam, This wage or gift is called Ju'alah. To know how the law of ju'alah and the postulates related to jua'lah so that we can understand in taking istinbath laws related to ju'alah, these hadiths have a sanad that is tsiqah and fulfills the condition that the hadith can be accounted for even the eyes are not contradictory to the Qur'an, so that scientifically the hadith can really be believed that the hadith is true like the Prophet Muhammad SAW, so that based on the hadiths it is very clear that the law of ju'alah is permissible, even this transaction has existed since ancient times as explained in the Qur'an Surat Yusuf verse 72.
Keywords, law, Ju'alah. Islam
ABSTRAK
Dalam kehidupan seharai-hari manusia tidak dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhan sendiri, secara umum manusia tentunya selalu melakukan kegiatan, pada kegiatan sehari-hari tersebut ada pekerjaan yang tidak dapat dilakukan sendiri, sehingga harus membutuhkan orang lain untuk melakukan pekerjaan tersebut. Karena hal ini maka harus ada imbalan atas pekerjaan yang dilakukan orang lain tersebut. Dalam Islam, upah atau pemberian ini disebut dengan ju’alah.Untuk mengetahui bagaimana hukum ju’alah dan dalil-dalil yang berkaitan dengan jua’lah sehingga kita dapat memahami dalam pengambilan istinbath hukum terkait ju’alah, hadis-hadis tersebut memiliki sanad yang tsiqah dan memenui syarat bahwa hadis dapat tersebut bisa dipertanggungjawabkan bahkan matan-matanya pun tidak ada yang bertentangan dengan Alquran, sehingga dengan demikian secara ilmu hadis hadis tersebut benar-benar dapat diayakini hadis tersebut benar sabda baginda Nabi Muhammad SAW, sehingga berdasakan hadis-hadis tersebuy sangat jelas hukum ju’alah adalah boleh, bahkan transaski jua’lah ini telah ada sejak zaman dahulu sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Quran Surat Yusuf ayat 72.
Kata Kunci, Hukum, Ju’alah. Islam
148 A. PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, dalam kehidupan seharai-hari manusia tidak dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhan sendiri, secara umum manusia tentunya selalu melakukan kegiatan, pada kegiatan sehari- hari tersebut ada pekerjaan yang tidak dapat dilakukan sendiri, sehingga harus membutuhkan orang lain untuk melakukan pekerjaan tersebut. Karena hal ini maka harus ada imbalan atas pekerjaan yang dilakukan orang lain tersebut. Dalam Islam, upah atau pemberian ini disebut dengan ju’alah. Hal-hal yang berkaitan dengan ju’alah ini dijelaskan ulama-ulama dalam fikih muamalah, Ju’alah menurut Ibn Rusyd adalah pemberian upah (hadiah) atas sesuatu manfaat yang diduga akan terwujud, seperti mempersyaratkan kesembuhan dari seorang dokter, atau kemahiran dari seorang guru, atau pencari/menemukan hamba yang lari.1
Dalam fikih, dikenal istilah ju’alah atau ju’l yang biasa diterjemahkan dengan
‘sayembara’. Ju’alah atau sayembara adalah perlombaan atau kompetisi dengan memperebutkan suatu hadiah. Hal ni menjadi perhatian para ulama fikih karena di dalam praktiknya terdapat muamalah (urusan kemasyarakatan), juga ada akad (janji) antara dua pihak yang harus dipenuhi. Ulama fikih telah menyusun beberapa ketentuan ju’alah atau sayembara agar hal tersebut bisa terlaksana dengan efektif, dua pihak sama-sama merasakan kemanfaatannya. Beberapa ketentuan yang sudah disusun tidak lain merupakan turunan atau penjelasan ulama fikih yang menjadi dasar hukum dari adanya ju’alah atau sayembara.
Secara Bahasa ju’alah berarti mengupah. Sedangkan secara terminologi, definisi ju’alah sebagaimana diterangkan oleh Wahbah Az-Zuhaili dalam Kitab Al fiqhul Islami Wadillatuh
لعجب مزتلي نمك اهلوصح نظي ةعفنم ىلع دقع ةلاعجلا
“al Ju’alah adalah akad atas suatu manfaat yang diperkirakan akan mendapatkan imbalan sebagaimana yang dijanjikan atas suatu pekerjaan.”2
1Ibn Rushd, Bidayah al-Mujtahid wa al-Nihayah al-Muqtasid, (Beirut: Dar al-Jil,1989), h. 101
2 Wahbah Al Zuhaili
149 Dalam implementasinya akad ju’alah adalah suatu kontrak antara dua pihak. Pihak pertama menjanjikan untuk memberikan sejumlah imbalan tertentu kepada pihak kedua atas suatu usaha yang sifat, jenis dan batasannya termaktub dalam perjanjian.
B. PEMBAHASAN 1. Hadis Tentang Ju’alah
Bahwa berdasarkan penelitian Penulis dari aplikasi kutubu tis’ah berbahasa arab ada beberapa hadis yang berkaitan dengan ju’alah penulis ada menemukan bebarapa hadis, yaitu dalam Kitab Shahih Bukhori adalah sebagai berikut:
1) Hadis Sahih Bukhari Nomor, 2276;
2) Hadis Sahih Bukhari Nomor, 5007 dalam Kitab Fadhail al Quran Bab Fatihatil Kitab;
3) Hadis Sahih Bukhari Nomor, 5749 dalam Kitbu al thib Al Naftsi fi al ruqiyah;
4) Hadis Sahih Bukhari Nomor, 5736 dalam Kitbu al thib Bab Ruqiyah bi fatihatil kitab ;
Hadis-hadis yang penulis temukan melalui aplikasi kutubu tis’ah sebagaimana tersebut di atas, selanjutnya Penulis mengecek dan mencocokan Kembali kepada kitab aslinya yaitu Kitab Shahih Bukhari cetakakan Dar al Fikr tahun 2019/1440-1441 H, semuanya relevan dengan pembahasan penulis terkait ju’alah
a. Shahih Al-Bukhari Hadia Nomor 2276 dalam Kitabu al Ijarah
َلَ :ُّيِبۡعَّشلا َلاَق َو.)ِالله ُباَتِك ا ًر ۡجَأ ِهۡيَلَع ۡمُتۡذَخَأ اَم ُّقَحَأ( :ﷺ ِ يِبَّنلا ِنَع ، ٍساَّبَع ُنۡبا َلاَق َو ا َر ۡجَأ َه ِرَك اًدَحَأ ۡعَم ۡسَأ ۡمَل :ُمَكَحۡلا َلاَق َو .ُهۡلَبۡقَيۡلَف اًئۡيَش ىَطۡعُي ۡنَأ َّلَِإ ،ُمِ لَعُمۡلا ُط ِرَت ۡشَي َعُمۡل
. ِمِ ل
:ُلاَقُي َناَك :َلاَق َو.اًسۡأَب ِماَّسَقۡلا ِر ۡجَأِب َني ِريِس ُنۡبا َرَي ۡمَل َو .ًة َرَشَع َمِها َرَد ُنَسَحۡلا ىَط ۡعَأ َو . ِص ۡرَخۡلا ىَلَع َن ۡوَطۡعُي اوُناَك َو ،ِم ۡكُحۡلا يِف ُة َو ۡش ِ رلا :ُت ۡحُّسلا
Ibnu ‘Abbas mengatakan dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Upah yang paling pantas kalian ambil adalah pada pengajaran kitab Allah.” Asy-Sya’bi berkata, “Si pengajar tidak boleh mempersyaratkan. Kecuali apabila dia diberi sesuatu, maka silakan dia terima.” Al-Hakam berkata, “Aku tidak mendengar seorang pun yang membenci upah pengajar.” Al-Hasan pernah memberi upah sepuluh dirham. Ibnu Sirin berpendapat tidak mengapa dengan upah orang yang membagi-bagi hak kepada pemiliknya. Beliau berkata,
“Dahulu, dikatakan bahwa yang dimaksud penghasilan yang buruk adalah suap dalam
150 masalah hukum. Dahulu, orang-orang biasa memberikan upah kepada orang-orang yang memiliki keahlian memperkirakan hasil buah.”
٢٢٧٦ ۡنَع ، ٍر ۡشِب يِبَأ ۡنَع ،َةَنا َوَع وُبَأ اَنَثَّدَح :ِناَمۡعُّنلا وُبَأ اَنَثَّدَح -
،ِلِ ك َوَتُمۡلا يِبَأ
ٍة َرۡفَس يِف ﷺ ِ يِبَّنلا ِباَح ۡصَأ ۡنِم ٌرَفَن َقَلَطۡنا :َلاَق ُهۡنَع ُالله َي ِض َر ٍديِعَس يِبَأ ۡنَع ۡنَأ ا ۡوَبَأَف ۡمُهوُفاَضَت ۡساَف ،ِب َرَعۡلا ِءاَي ۡحَأ ۡنِم ٍ ىَح ىَلَع اوُل َزَن ىَّتَح ،اَهو ُرَفاَس ِ يَس َغِدُلَف ، ۡمُهوُفِ يَضُي : ۡمُهُضۡعَب َلاَقَف ،ٌء ۡىَش ُهُعَفۡنَي َلَ ٍء ۡىَش ِ لُكِب ُهَل ا ۡوَعَسَف ِ ىَحۡلا َكِلٰذ ُد
،ٌء ۡىَش ۡمِه ِضۡعَب َدۡنِع َنوُكَي ۡنَأ ُهَّلَعَل ،اوُل َزَن َنيِذَّلا َط ۡه َّرلا ِء َلَُؤ َٰه ۡمُتۡيَتَأ ۡوَل ۡمُه ۡوَتَأَف
َس َّنِإ ،ُط ۡه َّرلا اَهُّيَأ اَي :اوُلاَقَف ٍدَحَأ َدۡنِع ۡلَهَف ،ُهُعَفۡنَي َلَ ٍء ۡىَش ِ لُكِب ُهَل اَنۡيَعَس َو ،َغِدُل اَنَدِ ي
ۡمُكاَن ۡفَضَت ۡسا ِدَقَل ِالله َو ۡنِكَل َو ،يِق ۡرَ َلَ يِ نِإ ِالله َو ، ۡمَعَن : ۡمُهُضۡعَب َلاَقَف ؟ٍء ۡىَش ۡنِم ۡمُكۡنِم َّتَح ۡمُكَل ٍقا َرِب اَنَأ اَمَف ،اَنوُفِ ي ِضُت ۡمَلَف َنِم ٍعيِطَق ىَلَع ۡمُهوُحَلاَصَف ، ًلًۡعُج اَنَل اوُلَع ۡجَت ى
،ٍلاَقِع ۡنِم َطِشُن اَمَّنَأَكَف ﴾َنيِمَلاَعۡلا ِ ب َر ِ ِلِل ُد ۡمَحۡلا﴿ :ُأ َرۡقَي َو ِهۡيَلَع ُلِفۡتَي َقَلَطۡناَف ، ِمَنَغۡلا َلۡعُج ۡمُه ۡوَف ۡوَأَف :َلاَق .ٌةَبَلَق ِهِب اَم َو يِش ۡمَي َقَلَطۡناَف َلاَقَف ،ِهۡيَلَع ۡمُهوُحَلاَص يِذَّلا ُمُه
يِذَّلا ُهَل َرُكۡذَنَف ﷺ َّيِبَّنلا َيِتۡأَن ىَّتَح اوُلَعۡفَت َلَ :ىَق َر يِذَّلا َلاَقَف ،اوُمِسۡقا :ُمُهُضۡعَب
،اَن ُرُمۡأَي اَم َرُظۡنَنَف ،َناَك َو( :َلاَقَف ،ُهَل او ُرَكَذَف ﷺ ِالله ِلوُس َر ىَلَع اوُمِدَقَف
َكي ِرۡدُي اَم
َك ِحَضَف .)اًم ۡهَس ۡمُكَعَم يِل اوُب ِر ۡضا َو ،اوُمِسۡقا ،ُمُتۡبَصَأ ۡدَق( :َلاَق َّمُث )؟ٌةَيۡق ُر اَهَّنَأ ثيدحلا[ .اَذ َٰهِب :ِلِ ك َوَتُمۡلا اَبَأ ُتۡعِمَس : ٍر ۡشِب وُبَأ اَنَثَّدَح :ُةَبۡعُش َلاَق َو.ﷺ ِالله ُلوُس َر ٢٢٧٦ –
:يف هفارطأ ٥٠٠٧
، ٥٧٣٦ ،
٥٧٤٩ .]
2276. Abu An-Nu’man telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Abu Bisyr, dari Abu Al-Mutawakkil, dari Abu Sa’id—radhiyallahu
‘anhu—. Beliau mengatakan: Serombongan sahabat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berangkat dalam sebuah safar yang mereka lakukan, hingga mereka singgah di salah satu perkampungan Arab. Rombongan itu meminta agar diterima sebagai tamu, namun penduduk kampung itu tidak mau menjamu mereka. Tak lama kemudian tokoh kampung itu tersengat. Penduduk kampung itu berusaha untuk mengobatinya, namun tidak ada sesuatu pun yang bermanfaat untuknya. Sebagian penduduk itu berkata, “Coba kalian datang kepada rombongan yang sedang singgah itu! Barangkali ada suatu obat yang dimiliki oleh sebagian mereka.” Penduduk kampung itu mendatangi rombongan para sahabat seraya berkata, “Wahai rombongan, sesungguhnya tokoh kami tersengat dan kami sudah mengusahakan semua ikhtiar untuk mengobatinya namun tidak ada yang berhasil.
Apakah salah seorang dari kalian memiliki suatu obat?” Sebagian rombongan sahabat berkata, “Iya, demi Allah, sesungguhnya aku bisa merukiah. Akan tetapi, demi Allah, kami sebelumnya sudah meminta kalian untuk menerima kami sebagai tamu namun kalian tidak mau menjamu kami. Jadi aku tidak mau merukiah kecuali kalian memberi kami imbalan.” Penduduk kampung itu menjanjikan beberapa ekor kambing untuk mereka.
Salah seorang sahabat berangkat ke tempat tokoh itu lalu sedikit meludahinya dan membaca surah Al-Fatihah. Bagaikan orang yang terlepas dari ikatan, tokoh itu beranjak berjalan dan tidak merasakan sakit. Abu Sa’id berkata: Penduduk kampung itu memenuhi imbalan para sahabat yang telah mereka janjikan. Sebagian sahabat berkata, “Bagilah imbalan itu!” Orang yang merukiah tadi berkata, “Jangan kalian lakukan sampai kita
151 datang kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu kita sebutkan yang telah terjadi, baru setelah itu kita tunggu apa yang beliau perintahkan kepada kita.” Mereka datang menemui Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu menyebutkan kejadian itu kepada beliau. Rasulullah bertanya, “Apa yang membuat engkau tahu bahwa surah Al- Fatihah adalah rukiah?” Beliau melanjutkan, “Kalian sudah tepat. Bagilah dan jatahkan satu bagian untukku bersama kalian!” Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—
tertawa.
Syu’bah berkata: Abu Bisyr menceritakan kepada kami: Aku mendengar Abu Al- Mutawakkil meriwayatkan hadis ini.
b. Shahih Al-Bukhari Hadis Nomor 5736 Kitbu al thib
Disebutkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam.
٥٧٣٦ ۡنَع ، ٍر ۡشِب يِبَأ ۡنَع ،ُةَبۡعُش اَنَثَّدَح : ٌرَدۡنُغ اَنَثَّدَح : ٍراَّشَب ُنۡب ُدَّمَحُم يِنَثَّدَح -
ِ يِبَّنلا ِباَح ۡصَأ ۡنِم اًساَن َّنَأ :ُهۡنَع ُالله َي ِض َر ِ ي ِرۡدُخۡلا ٍديِعَس يِبَأ ۡنَع ،ِلِ ك َوَتُمۡلا يِبَأ َي ۡحَأ ۡنِم ٍ ىَح ىَلَع ا ۡوَتَأ ﷺ ُدِ يَس َغِدُل ۡذِإ ، َكِلٰذَك ۡمُه اَمَنۡيَبَف ، ۡمُهو ُرۡقَي ۡمَلَف ِب َرَعۡلا ِءا
ىَّتَح ُلَعۡفَن َلَ َو ،اَنو ُرۡقَت ۡمَل ۡمُكَّنِإ :اوُلاَقَف ؟ٍقا َر ۡوَأ ٍءا َوَد ۡنِم ۡمُكَعَم ۡلَه :اوُلاَقَف ، َكِئٰلوُأ ِم اًعيِطَق ۡمُهَل اوُلَعَجَف ، ًلًۡعُج اَنَل اوُلَع ۡجَت ُعَم ۡجَي َو ،ِنآ ۡرُقۡلا ِ مُأِب ُأ َرۡقَي َلَعَجَف ،ِءاَّشلا َن
ُهوُلَأَسَف ،ﷺ َّيِبَّنلا َلَأ ۡسَن ىَّتَح ُهُذُخۡأَن َلَ :اوُلاَقَف ،ِءاَّشلاِب ا ۡوَتَأَف َأ َرَبَف ،ُلِفۡتَي َو ُهَقا َزُب ُب ِر ۡضا َو اَهوُذُخ ،ٌةَيۡق ُر اَهَّنَأ َكا َرۡدَأ اَم َو( :َلاَق َو َك ِحَضَف :يف هفرط[ .) ٍم ۡهَسِب يِل او
٢٢٧٦ .]
5736. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepadaku: Ghundar menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Abu Bisyr, dari Abu Al- Mutawakkil, dari Abu Sa’id Al-Khudri—radhiyallahu ‘anhu—bahwa beberapa orang sahabat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—datang di salah satu perkampungan Arab, namun penduduknya tidak menerima mereka sebagai tamu. Ketika itu, tiba-tiba tokoh penduduk itu disengat. Penduduk kampung itu bertanya, “Apakah kalian membawa obat atau seorang yang bisa rukiah?” Para sahabat menjawab, “Kalian tidak menerima kami sebagai tamu. Jadi kami tidak mau merukiah, kecuali kalian memberi imbalan untuk kami.” Penduduk kampung itu menjanjikan beberapa ekor kambing. Salah seorang sahabat mulai membacakan umulquran, mengumpulkan sedikit ludah di mulut, lalu meludahkannya. Lalu tokoh kampung itu sembuh. Penduduk kampung itu pun memberikan kambing-kambing. Para sahabat berkata, “Kita jangan mengambilnya sampai kita bertanya kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”Para sahabat bertanya kepada beliau. Beliau tertawa dan bersabda, “Apa yang membuatu tahu bahwa surah Al- Fatihah adalah rukiah. Ambilah kambing-kambing itu dan berilah untukku jatah satu bagian!”
152 c. Shahih Al-Bukhari Hadis Nomor 5007
٥٠٠٧ ۡنَع ،ٍدَّمَحُم ۡنَع ،ٌماَشِه اَنَثَّدَح : ٌب ۡه َو اَنَثَّدَح :ىَّنَثُمۡلا ُنۡب ُدَّمَحُم يِنَثَّدَح -
: ۡتَلاَقَف ٌةَي ِراَج ۡتَءاَجَف ،اَنۡل َزَنَف اَنَل ٍريِسَم يِف اَّنُك :َلاَق ِ ي ِرۡدُخۡلا ٍديِعَس يِبَأ ۡنَع ،ٍدَبۡعَم ،ٌميِلَس ِ ىَحۡلا َدِ يَس َّنِإ ُهُنُبۡأَن اَّنُك اَم ٌلُج َر اَهَعَم َماَقَف ؟ٍقا َر ۡمُكۡنِم ۡلَهَف ٌبَّيُغ اَن َرَفَن َّنِإ َو
َتۡنُكَأ :ُهَل اَن ۡلُق َعَج َر اَّمَلَف ،اًنَبَل اَناَقَس َو ،ًةاَش َنيِث َلًَثِب ُهَل َرَمَأَف َأ َرَبَف ،ُهاَق َرَف ،ٍةَيۡق ُرِب ِق ۡرَت َتۡنُك ۡوَأ ،ًةَيۡق ُر ُنِس ۡحُت اوُثِد ۡحُت َلَ :اَن ۡلُق ،ِباَتِكۡلا ِ مُأِب َّلَِإ ُتۡيَق َر اَم ، َلَ :َلاَق ؟ي
:َلاَقَف ،ﷺ ِ يِبَّنلِل ُهاَن ۡرَكَذ َةَنيِدَمۡلا اَن ۡمِدَق اَّمَلَف ،ﷺ َّيِبَّنلا َلَأ ۡسَن ۡوَأ ،َيِتۡأَن ىَّتَح اًئۡيَش ۡضا َو اوُمِسۡقا ؟ٌةَيۡق ُر اَهَّنَأ ِهي ِرۡدُي َناَك اَم َو(
.) ٍم ۡهَسِب يِل اوُب ِر
5007. Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepadaku: Wahb menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami dari Muhammad, dari Ma’bad, dari Abu Sa’id Al-Khudri. Beliau mengatakan: Dahulu, di tengah suatu perjalanan, kami singgah di suatu tempat. Seorang budak wanita datang lantas berkata, “Sesungguhnya tokoh kampung itu disengat, sedangkan orang-orang kami sedang pergi. Apakah di antara kalian ada yang bisa merukiah?” Seorang lelaki yang kami kira tidak pandai rukiah berdiri (pergi) bersamanya. Lelaki ini merukiah tokoh itu, lalu dia sembuh dan memerintahkan agar memberinya tiga puluh ekor kambing dan memberi minum kami dengan susu. Ketika lelaki itu kembali, kami bertanya kepadanya, “Apakah engkau memang ahli rukiah atau sekadar merukiah?” Lelaki itu menjawab, “Aku tidak ahli, aku hanya merukiah dengan induknya Alquran (yaitu surah Al-Fatihah).” Kami berkata, “Kalian jangan lakukan sesuatupun (terhadap tiga puluh kambing itu) sampai kita mendatangi atau bertanya kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.” Ketika kami tiba di Madinah, kami menyebutkan kisah tersebut kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Bagaimana dia bisa tahu bahwa surah Al-Fatihah adalah rukiah? Bagilah (kambing-kambing itu) dan berilah aku jatah satu bagian!”
ۡعَم يِنَثَّدَح :َني ِريِس ُنۡب ُدَّمَحُم اَنَثَّدَح :ٌماَشِه اَنَثَّدَح :ِث ِرا َوۡلا ُدۡبَع اَنَثَّدَح : ٍرَمۡعَم وُبَأ َلاَق َو ِ ي ِرۡدُخۡلا ٍديِعَس يِبَأ ۡنَع ،َني ِريِس ُنۡب ُدَب
:يف هفرط[ .اَذ َٰهِب ٢٢٧٦
.]
Abu Ma’mar berkata: ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami: Muhammad bin Sirin menceritakan kepada kami: Ma’bad bin Sirin menceritakan hadis ini kepadaku dari Abu Sa’id Al-Khudri.
d. Shahih Al-Bukhari Hadis Nomor 5749
٥٧٤٩ يِبَأ ۡنَع ، ٍر ۡشِب يِبَأ ۡنَع ،َةَنا َوَع وُبَأ اَنَثَّدَح :َليِعاَم ۡسِإ ُنۡب ىَسوُم اَنَثَّدَح -
ٍة َرۡفَس يِف اوُقَلَطۡنا ﷺ ِالله ِلوُس َر ِباَح ۡصَأ ۡنِم اًط ۡه َر َّنَأ :ٍديِعَس يِبَأ ۡنَع ،ِلِ ك َوَتُمۡلا َي ۡحَأ ۡنِم ٍ ىَحِب اوُل َزَن ىَّتَح ،اَهو ُرَفاَس ، ۡمُهوُفِ يَضُي ۡنَأ ا ۡوَبَأَف ۡمُهوُفاَضَت ۡساَف ،ِب َرَعۡلا ِءا
ۡمُت ۡيَتَأ ۡوَل : ۡمُهُضۡعَب َلاَقَف ،ٌء ۡىَش ُهُعَفۡنَي َلَ ،ٍء ۡىَش ِ لُكِب ُهَل ا ۡوَعَسَف ،ِ ىَحۡلا َكِلٰذ ُدِ يَس َغِدُلَف
ۡنَأ ُهَّلَعَل ، ۡمُكِب اوُل َزَن ۡدَق َنيِذَّلا َط ۡه َّرلا ِء َلَُؤ َٰه
ۡمُه ۡوَتَأَف ،ٌء ۡىَش ۡمِه ِضۡعَب َدۡنِع َنوُكَي
153
ۡلَهَف ،ٌء ۡىَش ُهُعَفۡنَي َلَ ٍء ۡىَش ِ لُكِب ُهَل اَنۡيَعَسَف ،َغِدُل اَنَدِ يَس َّنِإ ،ُط ۡه َّرلا اَهُّيَأ اَي :اوُلاَقَف َل َو ،ٍقا َرَل يِ نِإ ِالله َو ، ۡمَعَن : ۡمُهُضۡعَب َلاَقَف ؟ٌء ۡىَش ۡمُكۡنِم ٍدَحَأ َدۡنِع ِدَقَل ِالله َو ۡنِك
ۡمُهوُحَلاَصَف ، ًلًۡعُج اَنَل اوُلَع ۡجَت ىَّتَح ۡمُكَل ٍقا َرِب اَنَأ اَمَف ،اَنوُفِ يَضُت ۡمَلَف ۡمُكاَنۡفَضَت ۡسا ىَّتَح ،﴾َنيِمَلاَعۡلا ِ ب َر ِ ِلِل ُد ۡمَحۡلا﴿ ُأ َرۡقَي َو ُلُفۡتَي َلَعَجَف َقَلَطۡناَف ،ِمَنَغۡلا َنِم ٍعيِطَق ىَلَع َأَكَل يِذَّلا ُمُهَلۡعُج ۡمُه ۡوَف ۡوَأَف َلاَق ،ٌةَبَلَق ِهِب اَم يِش ۡمَي َقَلَطۡناَف ،ٍلاَقِع ۡنِم َطِشُن اَمَّن َيِتۡأَن ىَّتَح اوُلَعۡفَت َلَ :ىَق َر يِذَّلا َلاَقَف ،اوُمِسۡقا :ُمُهُضۡعَب َلاَقَف ،ِهۡيَلَع ۡمُهوُحَلاَص
يِذَّلا ُهَل َرُكۡذَنَف ﷺ ِالله َلوُس َر ﷺ ِالله ِلوُس َر ىَلَع اوُمِدَقَف ،اَن ُرُمۡأَي اَم َرُظۡنَنَف ،َناَك
ۡمُكَعَم يِل اوُب ِر ۡضا َو اوُمِسۡقا ،ُمُتۡبَصَأ ؟ٌةَيۡق ُر اَهَّنَأ َكي ِرۡدُي اَم َو( :َلاَقَف ،ُهَل او ُرَكَذَف :يف هفرط[ .) ٍم ۡهَسِب ٢٢٧٦
.]
5749. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Abu Bisyr, dari Abu Al-Mutawakkil, dari Abu Sa’id: Bahwa serombongan sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berangkat dalam suatu safar yang mereka tempuh. Hingga mereka singgah di salah satu perkampungan Arab.
Mereka minta diterima sebagai tamu oleh penduduk kampung itu, namun penduduk kampung tersebut tidak mau menerima mereka sebagai tamu. Tak lama kemudian tokoh kampu`ng itu disengat. Penduduk kampung itu mengusahakan semua untuk menyembuhkannya namun tidak ada yang berhasil. Sebagian penduduk berkata, “Coba kalian datangi rombongan yang singgah di tempat kalian itu! Barangkali sebagian mereka memiliki sesuatu untuk mengobatinya.” Penduduk kampung mendatangi para sahabat seraya berkata, “Wahai rombongan, sesungguhnya tokoh kami disengat. Kami sudah mengusahakan semuanya untuk mengobatinya namun tidak berhasil. Apakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu untuk mengobatinya?” Sebagian sahabat menjawab, “Ya, demi Allah, aku bisa merukiah. Tetapi, demi Allah, kami tadi meminta diterima sebagai tamu kepada kalian namun kalian tidak mau menerima kami. Jadi aku tidak mau merukiah sampai kalian menjanjikan imbalan untuk kami.” Penduduk kampung menjanjikan beberapa ekor kambing. Sahabat tadi berangkat ke tempat tokoh kampung itu.
Sahabat itu sedikit meludah dan membaca surah Al-Fatihah. Bagaikan terlepas dari ikatan, tokoh kampung itu beranjak berjalan dan tidak merasakan sakit. Abu Sa’id berkata:
Penduduk kampung itu menunaikan janji untuk memberi imbalan kepada para sahabat. Sebagian sahabat berkata, “Bagilah kambing itu!” Orang yang merukiah berkata,
“Jangan kalian lakukan sampai kita mendatangi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sehingga kita ceritakan yang terjadi kepada beliau. Kita tunggu apa yang beliau perintahkan kepada kita.” Para sahabat datang menemui Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan menceritakannya kepada beliau. Beliau bersabda, “Apa yang membuatmu tahu bahwa surah Al-Fatihah adalah rukiah? Kalian sudah benar. Bagilah dan beri aku jatah satu bagian bersama kalian!”
2. Hadis Dari Kitab Shahih Muslim
Bahwa berdasarkan penelitian Penulis dari aplikasi kutubu tis’ah berbahasa arab ada beberapa hadis yang berkaitan dengan ju’ala, penulis ada menemukan bebarapa hadis,
154 yaitu dalam Kitab Shahih Muslim adalah sebagai berikut: Shahih Muslim 2201 (hanya satu hadis yang penulis temukan) Shahih Muslim Hadis Nomor 2201
٦٥ – ( ٢٢٠١ )
، ٍر ۡشِب يِبَأ ۡنَع ،ٌمۡيَشُه اَن َرَب ۡخَأ :ُّيِميِمَّتلا ىَي ۡحَي ُنۡب ٰىَي ۡحَي اَنَثَّدَح -
ﷺ ِالله ِلوُس َر ِباَح ۡصَأ ۡنِم اًساَن َّنَأ ؛ِ ي ِرۡدُخۡلا ٍديِعَس يِبَأ ۡنَع ،ِلِ ك َوَتُمۡلا يِبَأ ۡنَع اَي ۡحَأ ۡنِم ٍ ىَحِب او ُّرَمَف ، ٍرَفَس ىف اوُناَك . ۡمُهوُفي ِضُي ۡمَلَف ، ۡمُهوُفاَضَت ۡساَف ،ِب َرَعۡلا ِء
. ۡمَعَن : ۡمُهۡنِم ٌلُج َر َلاَقَف . ٌباَصُم ۡوَأ ٌغيِدَل ِ ىَحۡلا َدِ يَس َّنِإَف ؟ٍقا َر ۡمُكيِف ۡلَه : ۡمُهَل اوُلاَقَف اًعيِطَق َيِط ۡعُأَف ،ُلُج َّرلا َأ َرَبَف .ِباَتِكۡلا ِةَحِتاَفِب ُهاَق َرَف ُهاَتَأَف .اَهَلَبۡقَي ۡنَأ ٰىَبَأَف ، ٍمَنَغ ۡنِم
،ِالله َلوُس َر اَي :َلاَقَف .ُهَل َكِلٰذ َرَكَذَف ﷺ َّيِبَّنلا ىَتَأَف ،ﷺ ِ يِبَّنلِل َكِلٰذ َرُكۡذَأ ٰىَّتَح :َلاَق َو َهَّنَأ َكا َرۡدَأ اَم َو( :َلاَق َو َمَّسَبَتَف .ِباَتِكۡلا ِةَحِتاَفِب َّلَِإ ُتۡيَق َر اَم ِالله َو :َلاَق َّمُث .)؟ٌةَيۡق ُر ا
.) ۡمُكَعَم ٍم ۡهَسِب يِل اوُب ِر ۡضا َو ، ۡمُهۡنِم اوُذُخ(
[ :مقر ،...برعلا ءايحأ ىلع ةيقرلا يف يطعي ام باب ،ةراجلإا باتك :يراخبلا ٧٦
٢٢ .]
65. (2201). Yahya bin Yahya At-Tamimi telah menceritakan kepada kami: Husyaim mengabarkan kepada kami dari Abu Bisyr, dari Abu Al-Mutawakkil, dari Abu Sa’id Al- Khudri; Bahwa beberapa orang dari sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—
pernah dalam suatu safar, mereka melewati salah satu perkampungan Arab. Mereka minta diterima sebagai tamu penduduk kampung itu, namun penduduk kampung itu tidak mau menjamu mereka. Penduduk kampung itu bertanya kepada para sahabat, “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang bisa merukiah? Karena tokoh kampung ini sedang disengat atau sakit.” Seorang lelaki di antara para sahabat berkata, “Ya.” Lelaki itu mendatangi tokoh kampung itu dan merukiahnya menggunakan surah Al-Fatihah. Tokoh kampung itu sembuh. Dia memberikan beberapa ekor kambing, namun lelaki tadi tidak mau menerimanya dan berkata, “Tunggu sampai aku menyebutkan hal itu kepada Nabi—
shallallahu ‘alaihi wa sallam—.” Dia mendatangi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—
lalu menyebutkan kejadian itu kepada beliau. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, aku tidak merukiah kecuali menggunakan surah Al-Fatihah.” Nabi tersenyum dan bersabda, “Apa yang membuatmu tahu bahwa surah Al-Fatihah adalah rukiah?” Kemudian beliau bersabda, “Ambillah (kambing-kambing itu) dari mereka dan berilah aku jatah satu bagian bersama kalian!”
)...(
ِنۡب ِدَّمَحُم ، ٍرَدۡنُغ ۡنَع اَمُه َلًِك ،ٍعِفاَن ُنۡب ِرۡكَب وُبَأ َو ٍراَّشَب ُنۡب ُدَّمَحُم اَنَثَّدَح -
.ِداَن ۡسِ ۡلإا اَذ َٰهِب ، ٍر ۡشِب يِبَأ ۡنَع ،َةَبۡعُش ۡنَع ، ٍرَفۡعَج َلاَق َو
َّمُأ ُأ َرۡقَي َلَعَجَف :ِثيِدَحۡلا يِف
.ُلُج َّرلا َأ َرَبَف ،ُلِفۡتَي َو ،ُهَقا َزُب ُعَم ۡجَي َو ،ِنآ ۡرُقۡلا
(…) Muhammad bin Basysyar dan Abu Bakr bin Nafi’ telah menceritakan kepada kami.
Kedua-duanya dari Ghundar, yaitu Muhammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Abu Bisyr melalui sanad ini.
155 Beliau berkata dalam hadis ini, “Si sahabat itu mulai membaca surah Al-Fatihah, mengumpulkan, dan meniupkan sedikit ludahnya. Lalu tokoh kampung itu pun sembuh.”
٦٦ – )...(
َبۡيَش يِبَأ ُنۡب ِر ۡكَب وُبَأ اَنَثَّدَح َو - ُماَشِه اَن َرَب ۡخَأ :َنو ُراَه ُنۡب ُدي ِزَي اَنَثَّدَح :َة
ٍديِعَس يِبَأ ۡنَع ،َني ِريِس ِنۡب ِدَبۡعَم ،ِهي ِخَأ ۡنَع ،َني ِريِس ِنۡب ِدَّمَحُم ۡنَع ،َناَّسَح ُنۡب ِ ىَحۡلا َدِ يَس َّنِإ : ۡتَلاَقَف ٌةَأ َر ۡما اَنۡتَتَأَف ، ًلَ ِزۡنَم اَنۡل َزَن :َلاَق .ِ ي ِرۡدُخۡلا ۡلَهَف .َغِدُل ،ٌميِلَس
ِةَحِتاَفِب ُهاَق َرَف ،ًةَيۡق ُر ُنِس ۡحُي ُهُّنُظَن اَّنُك اَم ،اَّنِم ٌلُج َر اَهَعَم َماَقَف ؟ٍقا َر ۡنِم ۡمُكيِف اَم :َلاَقَف ؟ًةَيۡق ُر ُنِس ۡحُت َتۡنُكَأ :اَنۡلُقَف ،اًنَبَل اَن ۡوَقَس َو اًمَنَغ ُه ۡوَط ۡعَأَف ،َأ َرَبَف ،ِباَتِكۡلا ُهُت ۡيَق َر
ﷺ َّيِبَّنلا اَنۡيَتَأَف .ﷺ َّيِبَّنلا َيِتۡأَن ٰىَّتَح اَهوُك ِ رَحُت َلَ :ُتۡلُقَف :َلاَق .ِباَتِكۡلا ِةَحِتاَفِب َّلَِإ ٍم ۡهَسِب يِل اوُب ِر ۡضا َو اوُمِسۡقا ؟ٌةَيۡق ُر اَهَّنَأ ِهي ِرۡدُي َناَك اَم( :َلاَقَف .ُهَل َكِلٰذ اَن ۡرَكَذَف .) ۡمُكَعَم
[ :مقر ،باتكلا ةحتاف لضف باب ،نآرقلا لئاضف باتك :يراخبلا ٥٠٠٧
.]
(…) Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami: Hisyam bin Hassan mengabarkan kepada kami dari Muhammad bin Sirin, dari saudaranya, yaitu Ma’bad bin Sirin, dari Abu Sa’id Al-Khudri.
Beliau mengatakan: Kami singgah di suatu tempat. Lalu ada seorang wanita mendatangi kami seraya berkata, “Sesungguhnya tokoh kampung ini disengat. Apakah di tengah- tengah kalian ada yang bisa merukiah?” Salah seorang lelaki di antara kami beranjak pergi bersama wanita tadi. Tadinya kami tidak mengira dia pandai merukiah. Lelaki itu merukiah tokoh kampung itu menggunakan surah Al-Fatihah, lalu tokoh kampung itu sembuh. Penduduk kampung itu memberikan kambing kepada lelaki tadi dan memberi kami minuman susu. Kami bertanya kepada lelaki itu, “Apakah engkau pandai merukiah?” Dia menjawab, “Aku tidak merukiahnya kecuali menggunakan surah Al- Fatihah. Abu Sa’id berkata: Aku berkata, “Jangan kalian giring kambing itu hingga kita mendatangi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.” Kami pun mendatangi Nabi—
shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu menyebutkan kejadian itu kepada beliau. Beliau bersabda, “Bagaimana dia bisa mengetahui bahwa surah Al-Fatihah adalah rukiah?
Bagilah kambing itu dan berilah aku jatah satu bagian bersama kalian!”
)...(
اَذ َٰهِب ،ٌماَشِه اَنَثَّدَح : ٍري ِرَج ُنۡب ُب ۡه َو اَنَثَّدَح : ٰىَّنَثُمۡلا ُنۡب ُدَّمَحُم يِنَثَّدَح َو -
.ٍةَيۡق ُرِب ُهُنِبۡأَن اَّنُك اَم .اَّنِم ٌلُج َر اَهَعَم َماَقَف :َلاَق ُهَّنَأ َرۡيَغ .ُه َو ۡحَن ...ِداَن ۡسِ ۡلإا
(…) Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepadaku: Wahb bin Jarir menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami melalui sanad ini, semisal hadis tersebut. Hanya saja beliau berkata: Lalu seorang lelaki di antara kami beranjak pergi bersama wanita itu. Kami tadinya tidak mengira dia bisa merukiah.
156 3. Kitab Hadis Sunan Abu Daud
Bahwa berdasarkan penelitian Penulis dari aplikasi kutubu tis’ah berbahasa arab ada beberapa hadis yang berkaitan dengan ju’alah penulis ada menemukan bebarapa hadis, yaitu dalam Kitab Shahih Bukhori adalah sebagai berikut: Hadis Sunan Abu Daud Nomor 3418 dalam Bab Fi Kasbi al athibba’;
٥٧٤٩ يِبَأ ۡنَع ،ِلِ ك َوَتُمۡلا يِبَأ ۡنَع ، ٍر ۡشِب يِبَأ ۡنَع ،َةَنا َوَع وُبَأ اَنَثَّدَح ددَسُم اَنَثَّدَح -
ىَّتَح ،اَهو ُرَفاَس ٍة َرۡفَس يِف اوُقَلَطۡنا ﷺ ِالله ِلوُس َر ِباَح ۡصَأ ۡنِم اًط ۡه َر َّنَأ :ٍديِعَس ۡساَف ،ِب َرَعۡلا ِءاَي ۡحَأ ۡنِم ٍ ىَحِب اوُل َزَن َكِلٰذ ُدِ يَس َغِدُلَف ، ۡمُهوُفِ يَضُي ۡنَأ ا ۡوَبَأَف ۡمُهوُفاَضَت
َط ۡه َّرلا ِء َلَُؤ َٰه ۡمُتۡيَتَأ ۡوَل : ۡمُهُضۡعَب َلاَقَف ،ٌء ۡىَش ُهُعَفۡنَي َلَ ،ٍء ۡىَش ِ لُكِب ُهَل ا ۡوَعَسَف ،ِ ىَحۡلا ۡعَب َدۡنِع َنوُكَي ۡنَأ ُهَّلَعَل ، ۡمُكِب اوُل َزَن ۡدَق َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي :اوُلاَقَف ۡمُه ۡوَتَأَف ،ٌء ۡىَش ۡمِه ِض
ۡمُكۡنِم ٍدَحَأ َدۡنِع ۡلَهَف ،ٌء ۡىَش ُهُعَفۡنَي َلَ ٍء ۡىَش ِ لُكِب ُهَل اَنۡيَعَسَف ،َغِدُل اَنَدِ يَس َّنِإ ،ُط ۡه َّرلا ِدَقَل ِالله َو ۡنِكَل َو ،ٍقا َرَل يِ نِإ ِالله َو ، ۡمَعَن : ۡمُهُضۡعَب َلاَقَف ؟ٌء ۡىَش ۡمَلَف ۡمُكاَن ۡفَضَت ۡسا
َنِم ٍعيِطَق ىَلَع ۡمُهوُحَلاَصَف ، ًلًۡعُج اَنَل اوُلَع ۡجَت ىَّتَح ۡمُكَل ٍقا َرِب اَنَأ اَمَف ،اَنوُفِ يَضُت ۡنِم َطِشُن اَمَّنَأَكَل ىَّتَح ،﴾َنيِمَلاَعۡلا ِ ب َر ِ ِلِل ُد ۡمَحۡلا﴿ ُأ َرۡقَي َو ُلُفۡتَي َلَعَجَف َقَلَطۡناَف ، ِمَنَغۡلا
َلاَقَف ،ِهۡيَلَع ۡمُهوُحَلاَص يِذَّلا ُمُهَلۡعُج ۡمُه ۡوَف ۡوَأَف َلاَق ،ٌةَبَلَق ِهِب اَم يِش ۡمَي َقَلَطۡناَف ،ٍلاَقِع ُهَل َرُكۡذَنَف ﷺ ِالله َلوُس َر َيِتۡأَن ىَّتَح اوُلَعۡفَت َلَ :ىَق َر يِذَّلا َلاَقَف ،اوُمِسۡقا :ُمُهُضۡعَب َم َرُظۡنَنَف ،َناَك يِذَّلا اَم َو( :َلاَقَف ،ُهَل او ُرَكَذَف ﷺ ِالله ِلوُس َر ىَلَع اوُمِدَقَف ،اَن ُرُمۡأَي ا
.) ٍم ۡهَسِب ۡمُكَعَم يِل اوُب ِر ۡضا َو اوُمِسۡقا ،ُمُتۡبَصَأ ؟ٌةَيۡق ُر اَهَّنَأ َكي ِرۡدُي
3418: Musaddad telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Abu Bisyr, dari Abu Al-Mutawakkil, dari Abu Sa’id: Bahwa serombongan sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berangkat dalam suatu safar yang mereka tempuh. Hingga mereka singgah di salah satu perkampungan Arab. Mereka minta diterima sebagai tamu oleh penduduk kampung itu, namun penduduk kampung tersebut tidak mau menerima mereka sebagai tamu. Tak lama kemudian tokoh kampung itu disengat. Penduduk kampung itu mengusahakan semua untuk menyembuhkannya namun tidak ada yang berhasil. Sebagian penduduk berkata, “Coba kalian datangi rombongan yang singgah di tempat kalian itu! Barangkali sebagian mereka memiliki sesuatu untuk mengobatinya.” Penduduk kampung mendatangi para sahabat seraya berkata, “Wahai rombongan, sesungguhnya tokoh kami disengat. Kami sudah mengusahakan semuanya untuk mengobatinya namun tidak berhasil. Apakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu untuk mengobatinya?” Sebagian sahabat menjawab, “Ya, demi Allah, aku bisa merukiah. Tetapi, demi Allah, kami tadi meminta diterima sebagai tamu kepada kalian namun kalian tidak mau menerima kami. Jadi aku tidak mau merukiah sampai kalian menjanjikan imbalan untuk kami.” Penduduk kampung menjanjikan beberapa ekor kambing. Sahabat tadi berangkat ke tempat tokoh kampung itu. Sahabat itu sedikit meludah dan membaca surah Al-Fatihah. Bagaikan terlepas dari ikatan, tokoh kampung itu
157 beranjak berjalan dan tidak merasakan sakit. Abu Sa’id berkata: Penduduk kampung itu menunaikan janji untuk memberi imbalan kepada para sahabat. Sebagian sahabat berkata,
“Bagilah kambing itu!” Orang yang merukiah berkata, “Jangan kalian lakukan sampai kita mendatangi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sehingga kita ceritakan yang terjadi kepada beliau. Kita tunggu apa yang beliau perintahkan kepada kita.” Para sahabat datang menemui Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan menceritakannya kepada beliau. Beliau bersabda, “Apa yang membuatmu tahu bahwa surah Al-Fatihah adalah rukiah? Kalian sudah benar. Bagilah dan beri aku jatah satu bagian bersama kalian!”3
4. Kitab Hadis Sunan Tirmidzi
Bahwa adapun hadis dalam kitab Imam Tirmidzi adalah sebagai berikut:
- Hadis Nomor 2063 dalam Bab Maa Ja’a fi akhdzil Ajri A’la Ta’widz - Hadis Nomor 2064 dalam Bab Maa Ja’a fi akhdzil Ajri A’la Ta’widz 5. Hadis Musnad Imam Ahmad
Adapun Hadis dalam kitab Musnad Imam Ahmad adalah sebagai berikut:
- Hadis Nomor 10985;
- Hadis Nomor 11070;
- Hadis Nomor 11399;
- Hadis Nomor 11472;
- Hadis Nomor 11787;
Dalam kitab-kitab tersebut di atas atau dikenal dengan kutubu tis’ah tersebut Penulis tidak mencantumkan semua hadis-hadis dikarenakan pada pokoknya hadis tersebut matannya hampr sama dan tidak jauh beda maknanya. Sedangkan dalam kitab Sunan Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Imam Ad-Darimi dan Muwattho’ Imam Malik penulis tidak menemukan hadis-hadis yang berkaitan dengan ju’alah, wallahu a’lam.
2. Sanad dan Matan
Penulis tidak semua menguraikan sanad yang ada di dalam hadis-hadis di atas, akan tetapi hanya menguraikan sanad yang ada dalam hadis shahih Bukhari Nomor 2276 saja, adapain sandnya adalau sebagai berikut:
ناَمۡعُّنلا وُبَأ َةَنا َوَع وُبَأ -
ٍر ۡشِب وُبَأ - -
وُبَأ لِ ك َوَتُمۡلا ديِعَس وُبَأ -
Abu Nu’man - Abu A’wanah - Abu bisyrin - Abu Mutawakkil - Abu Sa’id R.A.
3Hadis Sunan Abu Daud Nomor 3418 dalam Bab Fi Kasbi al athibba’
158 Penulis akan menguraikan bagaimana kualitas dan akuntabilitas, ataupun syarat sebagai perawi sebagaimana tersebut pada hadis Nomor 2276 dala Kitab Shahih Bukhari, yaitu sebagai berkut:
Abu Nu’man nama aslinya Muhammad ibn Al Fadhl Al Sudusi, Abu Nu’man Al Bishri, dikenal dengan nama A’rim dan begitulah laqabnya (panggilannya), Kinyahnya Abu Nu’man, nasabnya Al Sudusi, Al bishri, thobaqoh ke 9, menetap di Basrah, tanggal wafat 223 H. ada yang mengatakan 123 H., pendapat Ulama tentangnya adalah, Yahya bin Mui;n sebagaimana yang dikatakan ibnu muharriz bahwa Abu Nu;man soduq, Abu Hatim a Razi mengatakan tsiqah, Al Daru Qutni Tsiqah, Ibnu Hajar Al Aqakani mengatakan tsiqah;
Abu Awanah nama aslinya adalah al waddah ibn Abdillah Al Yasykari, Abu Awanah, Al Wasithi, Al bisry, Al Hafizh, Al Bazzar ada juga yang mengatakan Al Kindi Maula Yazid A’tha’ Ibn Yazid, Kunyahnya (gelar) Abu Awanah, Keturunan Al Wasthi, Al Bsry, AL Bazzar dan ada yang mengatakan Al Kindy, panggilan yang dikenal Abu Awanah, Thabaqah ke 7, Al iqamah/menetap di Al Wasith, Al basrah, Tanggal Lahir 122 H., Tanggal Wafat 175 H. ada yang mengatakan 176 H., Meninggal di Basrah – Mesir, Su’bah mengatakan Abu Awanah tsiqah, Ibnu Hibban mengatakan tsiqah, Al Ajala Abishri mengatakan tsiqah
berkata Affan Bin Muslim bahwa Abu Awanah adalah اثيدح حصأ
بيذهتلا بيذهت يف اذكه ةبعش نم اندنع هلاح عيمج يف
Dalam segala hal lebih shahih meriwayatkan hadis begitulah yang disampaikan oleh Syu’bah kepada kami dalam kitab tahdzibu al tahdzib4
Abu Bisyrin,5 Nama aslinya Ja'far bin Iyas bin Abi Wahsyiyah Alyaskari, Abu Bisyrin Al Wasthi, Al BISHRI nama Kuniyah: Abu Bisyir Kalangan: Tabi'in kalangan biasa Negeri Semasa Hidup, Nasab AL Yaskary Al wasithi Al bishri , Al thabaqah 5, tempat tinggal di Bashrah, Wafat di Makkah 123 H., ada yang mengatakan 124 H., ada yang mengatakan 125 H. ada yang mengatakan 126, dan ada yang mengatakan 131 H.
4Aplikasi Jami’ Kutub Tis’ah
5 Diakses dari internet https://qoola.my.id/rawi/jafar-bin-iyas-bin-abi-wahsyiyah-2138
159 Abul Mutawakkil6 nama aslinya Ali bin Daud ada juga yang mengatakan Ibni Da’ud Abu Al Mutawakkil Al Naji Al Sami, Al Bishri, Kunyahnya Abu Almutawakkil, nasab Al Naji Al Sami Al Bishri, dikenal dengan nama Abu Al Mutawakkil Al Naji, Wafat 102 H. ada juga yang mengatakan 108 H., menurut Yahya Bin Mu’in sebagaimana yang diakatakan Ishaq Bin Mansur dan diriwayatkan dari Al Duri bahwa Abu Al Mutawakkil tsiqoh, Al Darimi mengatakan abu al mutawakkil tsiqah, Ali Ibni Almadani mengatakan tsiqah, Abu zar’ah al zari mentakan tsiqah, Al Nasasi’ mengatakan tsiqah, Ibnu Hibban mengatakan Tsiqah, Al Ajali mengatakan tsiqah, al djahabi mengatakan tsiqah nabilan min jillati tabi’in, Ibnu Haja Al asqalani dalam kitab taqrib al tahdzib Abul Mutawakkil Tsiqah, AL bazzar mengatakan tsiqah.
Abu Said, nama aslinya Said bin Malik bin sana’an( نانس نب كلام نب دعس) bin Abid Bin Ts’labah bin Abid Bin Al Abjar Jhidrah bin Auf BIN Al haris Bin Al khajraj Al Anshari Al Madani, Abu Said Al Khudari , (lahir: 10 tahun sebelum Hijrah- 74 H/612-693 M)yang terkenal dengan nama Abu Said al-Khudri (يردخلا ديعس وبأ) adalah seorang sahabat Nabi Muhammad saw, dan juga termasuk sahabat Ali Ibni Abi Thalib serta pembesar suku Anshar. Ia termasuk perawi hadis Ghadir. Ayahnya juga seorang sahabat Nabi Muhammad saw. Ia turut serta dalam berbagai perang Nabi Muhammad SAW Dalam Perang Shiffin dan Nahrawan ia berada di pihak Imam Ali Ibn Abi Thalib.
Para sejarawan mengakui kefaqihan Abu Sa'id. Ahli rijal Syiah pun memuji kemampuannya. Kebanyakan sumber sejarah mencatat tahun wafatnya adalah 74 H, namun sebagian yang lain menuliskan bahwa tahun wafat Abu Sa'id satu tahun setelah Peristiwa Harrah pada tahun 64 H. Pusaranya, sebagaimana yang dijelaskan dalam sumber-sumber referensi, berasa di Madinah, Pemakaman Baqi.
Sebagian besar sejarawan menulis bahwa Abu Sa'id wafat pada tahun 74 H. Namun sebagian yang lainnya menuliskan satu tahun setelah peristiwa Harrah. Mereka berkata, ikhtidhar (keadaan menjelang kematian) Abu Sa'id berlangsung selama 3 hari.
Berdasarkan dari referensi-referensi yang ada, ia dikuburkan di Madinah di Pemakaman Baqi.Namun ada juga yang mengatakan bahwa kuburannya ada di Istanbul.7
6Aplikasi Jami’ Kutub Tis’ah
7Diakses dari internet https://id.wikishia.net/view/Abu_Sa%27id_al-Khudri
160 Sumber-sumber sejarah mengenal bahwa Abu Sa'id adalah termasuk pembesar suku Anshar8 dan mengakui kefaqihannya.9Para sahabatnya mengenal Abu Sa'id dengan kehidupannya yang zuhud. Terkait dengan hal ini, Abu Na'im dalam kitab Hilyah Al- Auliya10 dan Ibnu Jauzi dalam Shifat al-Shafwah11menuliskan tentang kepribadiannya.
Ahli Rijal Syiah juga menilai bahwa ia adalah seorang yang besar dan sangat memujinya, Di antara sahabat Nabi ia berada dalam satu tingkatan dengan Salman dan Abu Dzar, dan diantara sahabat Imam Ali as berada dalam golongan "Asyfiya” (penolong terpilih). Dalam Rijal Kasysyi yang dinukilkan dari Imam Shadiq as dikatakan bahwa Abu Sa'id, memiliki sikap yang konsisten dalam beragama dan mengenal kebenaran. Dari Fadhl bin Syadzan juga diceritakan bahwa Abu Sa'id termasuk pelopor para sahabat.12
Abu Sa'id13adalah salah seorang perawi kenamaan Nabi Muhammad saw. Suku Anshar dan Muhajirin meriwayatkan hadis darinya. Hadis-hadis yang diriwayatkan Abu Sa'id yang berasal dari Nabi Muhammad sejumlah 1170, dan sebagian darinya dituliskan oleh pemilik kitab Shihah Sittah seperti Muslim dan Bukhari. Buqa bin Khaul juga menuliskan banyak dari hadis-hadis tersebut di dalam Musnad Kabirnya. Diantara riwayat- riwayat dan hadis-hadis yang dinukilkan oleh Abu Sa'id adalah hadis Ghadir yang merupakan hal yang sangat penting menurut orang Syiah. Ia juga meriwayatkan hadis dari sahabat-sahabat yang masyhur. Diantara orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Abu Sa'id Khudri adalah sekelompok dari para sahabat masyhur Nabi seperti: Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik. Sangat banyak para tabiin seperti: Sa'd bin Musabab, Atha bin Yasar dan Nafi' menjumpai Abu Sa'id.
Berdasarkan uraian sanad-sanad yang telah diuraikan di atas, menurut pnulis tidak ada masalah dengan sanad-sanad tersebut. Sehingga menurut hemat penulis hadis tersebut di atas dapat dikualifikasi sebagai hadis yang disandarkan kepad Nabi Muhammad SAW,
8Ibnu Abdul Bar, al-Isti'āb, jld. 2, hlm. 602, Khatib Baghdadi, Tārikh Baghdād, jld. 1, hlm. 180;
Ibnu Atsir, Usd al-Ghābah, jld. 2, hlm. 289.
9Ibnu Sa'ad, Thabaqāt, jld. 2, hlm. 372; Khatib Baghdadi, Tārikh Baghdād, jld. 1, hlm. 180; Abul Ishaq Syirazi, Thabaqāt al-Fuqaha, hlm. 51; Nawawi, Tahdzib al-Asma wa al-Lughāt, jld. 2,
10Ibnu Abdul Barr, Yusuf bin Abdullah. Al-Isti'āb. Kairo: 1380 H/1960.
11 Ibnu Qutaibah. Al-Ma'ārif. Kairo: Tsirwat ‘Akasyah, 1960
12 Diakses dari internet https://id.wikishia.net/view/Abu_Sa%27id_al-Khudri
13Diakses dari internet https://id.wikishia.net/view/Abu_Sa%27id_al-Khudri
161 selain itu juga matan hadis tersebut tidak ada yang bertentangan dengan ayat-ayat yang ada di dalam Al Quran, berikut matan hadis tersebut:
ۡنِم ٍ ىَح ىَلَع اوُل َزَن ىَّتَح ،اَهو ُرَفاَس ٍة َرۡفَس يِف ﷺ ِ يِبَّنلا ِباَح ۡصَأ ۡنِم ٌرَفَن َقَلَطۡنا : ُهَل ا ۡوَعَسَف ِ ىَحۡلا َكِلٰذ ُدِ يَس َغِدُلَف ، ۡمُهوُفِ يَضُي ۡنَأ ا ۡوَبَأَف ۡمُهوُفاَضَت ۡساَف ،ِب َرَعۡلا ِءاَي ۡحَأ
ُكِب ُهَّلَعَل ،اوُل َزَن َنيِذَّلا َط ۡه َّرلا ِء َلَُؤَٰه ۡمُتۡيَتَأ ۡوَل : ۡمُهُضۡعَب َلاَقَف ،ٌء ۡىَش ُهُعَفۡنَي َلَ ٍء ۡىَش ِ ل
،ٌء ۡىَش ۡمِه ِضۡعَب َدۡنِع َنوُكَي ۡنَأ اَن ۡيَعَس َو ،َغِدُل اَنَدِ يَس َّنِإ ،ُط ۡه َّرلا اَهُّيَأ اَي :اوُلاَقَف ۡمُه ۡوَتَأَف
ِ لُكِب ُهَل يِ نِإ ِالله َو ، ۡمَعَن : ۡمُهُضۡعَب َلاَقَف ؟ٍء ۡىَش ۡنِم ۡمُكۡنِم ٍدَحَأ َدۡنِع ۡلَهَف ،ُهُعَفۡنَي َلَ ٍء ۡىَش
اَنَل اوُلَع ۡجَت ىَّتَح ۡمُكَل ٍقا َرِب اَنَأ اَمَف ،اَنوُفِ ي ِضُت ۡمَلَف ۡمُكاَنۡفَضَت ۡسا ِدَقَل ِالله َو ۡنِكَل َو ،يِق ۡرَ َلَ
وُحَلاَصَف ، ًلًۡعُج ِ ب َر ِ ِلِل ُد ۡمَحۡلا﴿ :ُأ َرۡقَي َو ِهۡيَلَع ُلِفۡتَي َقَلَطۡناَف ،ِمَنَغۡلا َنِم ٍعيِطَق ىَلَع ۡمُه
ُمُهَلۡعُج ۡمُه ۡوَف ۡوَأَف :َلاَق .ٌةَبَلَق ِهِب اَم َو يِش ۡمَي َقَلَطۡناَف ،ٍلاَقِع ۡنِم َطِشُن اَمَّنَأَكَف ﴾َنيِمَلاَعۡلا َف ،ِهۡيَلَع ۡمُهوُحَلاَص يِذَّلا ىَّتَح اوُلَعۡفَت َلَ :ىَق َر يِذَّلا َلاَقَف ،اوُمِسۡقا :ُمُهُضۡعَب َلاَق
،اَن ُرُمۡأَي اَم َرُظۡنَنَف ،َناَك يِذَّلا ُهَل َرُكۡذَنَف ﷺ َّيِبَّنلا َيِتۡأَن ﷺ ِالله ِلوُس َر ىَلَع اوُمِدَقَف
َّمُث )؟ٌةَيۡق ُر اَهَّنَأ َكي ِرۡدُي اَم َو( :َلاَقَف ،ُهَل او ُرَكَذَف اوُب ِر ۡضا َو ،اوُمِسۡقا ،ُمُتۡبَصَأ ۡدَق( :َلاَق
ﷺ ِالله ُلوُس َر َك ِحَضَف .)اًم ۡهَس ۡمُكَعَم يِل
2. HUKUM JU’ALAH
Berdasarkan hadi-hadis tersebut di atas sangat jelas dan terang hukum jua’lah adalah boleh, begitu juga mayoritas ulama memperbolehkan transaksi ju’alah dengan berpedoman atas hadis-hadis tersebut, sebagaimana ayat Alquran, surah Yusuf ayat 72:
ميِع َز ۦِهِب ۠اَنَأ َو ٍريِعَب ُلْم ِح ۦِهِب َءٓاَج نَمِل َو ِكِلَمْلٱ َعا َوُص ُدِقْفَن ۟اوُلاَق
Penyeru-penyeru itu berkata: “Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya”
162 Ayat diatas menjelaskan bahwa saat itu raja melakukan praktik ju’alah dalam bentuk sayembara, karena raja kehilangan alat takar kerajaan. Di situ tercantum pengumuman bagi siapa saja yang bisa menemukan alat takar tersebut akan diberikan komisi atau imbalan berupa bahan makanan seberat beban unta. (At-Thabari, Jami’ul Bayan fi Ta’wil Ayil Qur’an).14 Ayat ini juga menunjukkan bahwa praktik ju’alah atau sayembara sudah ada sejak lama sebelum masa Nabi Muhammad, sebelum ada ajaran Islam tentunya. Dan seperti biasa, Alquran tidak detail menjelaskan ketentuan tradisi tersebut ke tataran teknis. Jadi, secara historis Alquran membenarkan adanya tradisi ju’alah atau sayembara pada masa lalu. Namun untuk keabsahannya atau bagaimana hukum dari Ju’alah, menurut hemat penulis ayat ini tidak bisa dijadikan landasan untuk menentukan hukum jua’alah, dikarenkan ayat tersebut adalah kisah atau sebuah cerita tentang ju’alah yang dijelaskan oleh Allah Swt, dan ayat-tersebut bukan lah ayat ahkam, sehingga landasan hukum untuk menentukan hukum, dengan demikian untuk menntukan kebolehan hukum jua’lah dimaksud adalah hadis-hadis sebagaimana tersebut diatas.
Mengenai keabsahan akad ju’alah atau sayembara, Ibnu Qudamah15 memberikan komentar sebagaimana yang disebutkan dalam kitab al-Mughni,
ِقِبلآْا ِ د َرَك ًلا ْوُهْجَم ُن ْوُكَي ْدَق َلَمَعْلا َّنِإَف ،(ِةَلاَعُجلا) َكِلذ ىَلِإ ْوُعْدَت َةَجاَحْلا َّنَأ ِلذ ِرْيَغ َو ِةَّلاَّضلا َو َلا ْدَق َو اَمِهِ د َر ىَلِإ ٌةَيِعاَد ُةَجاَحْلا َو ِهْيِف ُة َراَجِلإِا ُدِقَعْنَت َلا َو ، َك
ُد ِجَي
ِلَمَعْلا ِةَلاَهَج َعَم ِهْيِف ِلْعُجْلا ِةَحاَبِإ ىَلِإ ُةَجاَحْلا ِتَعَدَف ،ِهِب ُع َّرَبَتَي ْنَم
Sesungguhnya Kebutuhan masyarakat memerlukan adanya ju’alah; sebab pekerjaan (untuk mencapai suatu tujuan) terkadang tidak jelas (bentuk dan masa pelaksanaannya), seperti mengembalikan budak yang hilang, hewan hilang, dan sebagainya. Untuk pekerjaan seperti ini tidak sah dilakukan akad ijarah (sewa/pengupahan) padahal (orang/pemiliknya) perlu agar kedua barang yang hilang tersebut kembali, sementara itu, ia tidak menemukan orang yang mau membantu mengembalikannya secara suka rela (tanpa imbalan). Oleh karena itu, kebutuhan masyarakat mendorong agar akad ju’alah untuk keperluan seperti itu dibolehkan sekalipun (bentuk dan masa pelaksanaan) pekerjaan tersebut tidak jelas.”
Komentar Ibnu Qudamah ini menunjukkan bahwa akad ju’alah atau sayembara ini ada, karena kondisi di masyarakat tidak memungkinkan untuk hanya menggunakan akad sewa (terutama sewa jasa), karena jenis pekerjaan dan masa kerjanya tidak tentu, tidak
14 Diakses dari internet, www,jua;alah dalam pandangan Isalam
15 Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 62/DSN-MUI/XII/2007
163 tetap, berubah-ubah. Jenis pekerjaan dan masa kerja pada akad ju’alah atau sayembara tergantung kebutuhan dan keperluan pemberi imbalan atau orang yang mengadakan sayembara, Ibnu Qudamah mencontohkan orang yang kehilangan hewan peliharaan dan ingin peliharaannya tersebut ditemukan. Kenapa harus menggunakan imbalan atau upah?
karena pemilik sayembara itu tidak menemukan orang yang mau membantu kebutuhannya dengan suka rela (tanpa imbalan). Oleh karena itu, terlaksanalah ju’alah atau sayembara tesrebut.
Berdasarkan hadis tersebut di atas menyatakan bahwa pelaksanaan ju‟alah bersifat tolong menolong, dimana seseorang yang membutuhkan pertolongan dan mengumumkan kepada orang lain agar dapat membantunya dalam suatu pekerjaan dan dalam hal itu terdapat upah/imbalan bagi seseorang yang mampu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tersebut. Dengan demikian, telaksanalah akad ju‟alah tersebut. Menurut Imam Syafi‟i:16
لًمع هل لمع نما لعجلا لذبي نا وهو ةلاعجلا زوجي
Akad ju’alah boleh, yaitu seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain yang telah mengerjakan pekerjaannya. Menurut Mazhab Syafi’i, ju’alah ada lah imbalan atas suatu jasa tertentu yang diketahui ataupun tidak diketahui dan sulit diidentifikasikan waktu pelaksanaannya.
Mazhab Hanbali17 mendefinisikan ju’alah untuk menyebut harta tertentu yang diperuntukkan bagi pihak yang bekerja untuk penerima manfaat atas kerjaan yang diperbolehkan dalam agama meskipun sulit diketahui, baik jumlah maupun waktunya.
Transaksi ju’alah diperbolehkan menurut syariat, sebagaimana pandangan Mazhab Syafi’i, Hanbali, dan Maliki. Namun, sebagian ulama di kalangan Mazhab Maliki menyebut diperboleh kannya ju’alah atas dasar rukhsah, atau dispensasi dengan merujuk analogi pada sejumlah dalil antara lain surah Yusuf ayat ke-72. Penyeru-penyeru itu berkata,
16Imam Abi Ishaq Ibrahim As Syairazi, Al Muhazzab Fi Fiqh Imam Syafi‟i, Juz II (Beirut : Darul Ma‟rifah), h. 437.
17Abi Muhammad Muawafiquddin Abdullah Bin Qudamah al-Miqdisi, Al-Kafi Fi Fiqhul Imamul Habbali Ibnu Hanbali, Juz II (Tanpa Tempat : Maktabah Islami, t.t), h. 186.
164
"Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya".18
Seiring perkembangannya, sebagaimana dikutip dari Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), salah satu bentuk pelayanan jasa, baik dalam sektor keuangan, bisnis, maupun sektor lainnya, yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah pelayanan jasa yang pembayaran imbalannya (reward/iwadh/ju’l) bergantung pada pencapaian yang telah ditentukan. Akad ju’alah, berdasarkan keputusan fatwa DSN-MUI, boleh dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan jasa. Dinukil dari kitab Al-Majmu’ Syarah al- Muhadzab, Imam an-Nawawi berpendapat boleh melakukan akad ju’alah, yaitu komitmen untuk memberikan imbalan tertentu atas pekerjaan tertentu atau tidak tertentu yang sulit diketahui.19
C. KESIMPULAN
Berdasarkan hadis-hadis yang penulis uraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa:
1. hadis-hadis tersebut memiliki sanad yang tsiqah dan memenui syarat bahwa hadis dapat tersebut bisa dipertanggungjawabkan bahkan matan-matanya pun tidak ada yang bertentangan dengan Alquran,
2. secara ilmu hadis dapat diyakini hadis tersebut benar sabda baginda Nabi Muhammad SAW,
3. Sehingga berdasakan hadis-hadis tersebut sangat jelas hukum ju’alah adalah boleh, bahkan transaski jua’lah ini telah ada sejak zaman dahulu sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Quran Surat Yusuf ayat 72;
18 Al Quran, Surat Yusuf ayat 72
19Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 62/DSN-MUI/XII/2007 Tentang AKAD Ju’alah
165 DAFTAR PUSTAKAAN
Abi Muhammad Muawafiquddin Abdullah Bin Qudamah al-Miqdisi, Al-Kafi Fi Fiqhul Imamul Habbali Ibnu Hanbali, Juz II (Tanpa Tempat : Maktabah Islami, t.t);
Al Quran, Surat Yusuf ayat 7;
Alikasi Jami’ Kutub Tis’ah;
Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 62/DSN-MUI/XII/2007 Tentang Akad Ju’alah Ibnu Qutaibah. Al-Ma'ārif. Kairo: Tsirwat ‘Akasyah, 1960;
Ibn Rushd, Bidayah al-Mujtahid wa al-Nihayah al-Muqtasid, (Beirut: Dar al-Jil,1989);
Imam Abi Ishaq Ibrahim As Syairazi, Al Muhazzab Fi Fiqh Imam Syafi‟i, Juz II (Beirut : Darul Ma‟rifah);
Ismail Nawawi, Fikh Muamalah Klasik dan Kontemporer, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2012);
https://id.wikishia.net/view/Abu_Sa%27id_al-Khudri www,jua;alah dalam pandangan Islam