• Tidak ada hasil yang ditemukan

iii (5)LEMBAR PENGESAHAN Karya Tulis Ilmiah Asuhan Keperawatan Pada Pasien Cholelithiasis Di Rawat Di Rumah Sakit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan " iii (5)LEMBAR PENGESAHAN Karya Tulis Ilmiah Asuhan Keperawatan Pada Pasien Cholelithiasis Di Rawat Di Rumah Sakit"

Copied!
178
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CHOLELITHIASIS YANG DIRAWAT DI RUMAH SAKIT

Oleh :

NAMA : FARY MISDINOOR ARIANTO NIM : P07220117048

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR JURUSAN KEPERAWATAN PRODI D-III

KEPERAWATAN SAMARINDA 2020

(2)

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CHOLELITHIASIS YANG DIRAWAT DI RUMAH SAKIT

Untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan (Amd.Kep) Pada Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur

Oleh :

NAMA : FARY MISDINOOR ARIANTO NIM : P07220117048

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR JURUSAN KEPERAWATAN PRODI D-III

KEPERAWATAN SAMARINDA 2020

(3)

SURAT PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah ini adalah hasil karya sendiri dan bukan merupakan jiplakan atau tiruan dari Karya Tulis Ilmiah orang lain untuk memperoleh gelardari berbagai jenjang pendidikan di perguruan tinggi manapun baik sebagian maupun keseluruhan. Jika terbukti bersalah, saya bersedia menerima sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

Balikpapan………..

Yang menyatakan FARY MISDINOOR ARIANTO P07220117048

ii

(4)

LEMBAR PERSETUJUAN

KARYA TULIS ILMIAH INI TELAH DISETUJUI UNTUK DIUJIKAN TANGGAL 14 MEI 2020

Oleh Pembimbing

Nurhayati,S.ST, M.Pd NIDN. 4024016801 Pembimbing Pendamping

Ns.Asnah, S.Kep, M.Pd NIDN. 4008047301

Mengetahui,

Ketua Program Studi D-III Keperawatan Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kaltim

Ns. Andi Lis Arming Gandini, M.Kep NIP. 196803291994022001

iii

(5)

LEMBAR PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah Asuhan Keperawatan Pada Pasien Cholelithiasis Di Rawat Di Rumah Sakit.

Telah diuji

Pada tanggal 14 Mei 2020 PANITIA PENGUJI Ketua Penguji:

Ns. Siti Nuryanti, S.kep.,M.Pd (………) NIDN. 4023126901

Penguji Anggota :

1. Nurhayati,S.ST, M.Pd (………) NIDN. 4024016801

2. Ns.Asnah. S.Kep.M.Pd (………) NIDN. 4008047301

Mengetahui,

Ketua Jurusan Keperawatan Ketua Program Studi D-III Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur

Hj. Umi Kalsum, S.Pd., M.Kes. Ns. Andi Lis Arming Gandini, M.Kep.

NIP. 19650825198503200 NIP. 196803291994022001

iv

(6)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. Data Diri

1. Nama : Fary Misdinoor Arianto 2. Jenis Kelamin : Laki-Laki

3. Tempat, Tanggal Lahir : Tabalong, November 1998

4. Agama : Islam

5. Pekerjaan : Mahasiswa

6. Alamat : Karang jati

B. Riwayat Pendidikan

1. SDN 021 Balikpapan Tengah 2. SMPN 9 Balikpapan

3. SMK KESEHATAN AIRLANGGA Balikpapan

4. Mahasiswa Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kaltim Tahun 2017 sampai sekarang.

v

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata'ala sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dalam rangka memenuhi persyaratan ujian akhir program Diploma III Keperawatan Politeknik Kesehatan Jurusan Keperawatan dengan judul “Literatur review Asuhan keperawatan pada Pasien Cholelithiasis di Ruang Flamboyan B dan E RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan”

Pada kesempatan ini, peneliti menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan moril maupun materil sehingga Karya Tulis Ilmiah ini dapat selesai. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

1. H. Supriadi B, S. Kp., M. Kep, selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Kaltim.

2. Dr. Edy Iskandar, Sp.PD.,FINASIM.,MARS, selaku Direktur Rumah Sakit Umum dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan.

3. Hj. Umi Kalsum, S. Pd., M. Kes, selaku Ketua Jurusan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kalimantan Timur.

4. Ns. Andi Lis Arming G, S. Kep, M. Kep selaku Ketua Program Studi D-III Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kalimantan Timur.

5. Ns. Grace Carol Sipasulta, M. Kep.,Sp. Kep. Mat, selaku penanggung jawab Prodi D-III Keperawatan Samarinda jurusan keperawatan Poltekkes Kemenkes Kaltim.

vi

(8)

6. Nurhayati, S.ST., M.Pd sebagai Dosen Pembimbing I penyelesaian laporan Karya Tulis Ilmiah.

7. Ns.Asnah. S.Kep.M.Pd sebagai Dosen Pembimbing II dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah.

8. Para Dosen dan seluruh staf Keperawatan Politeknik Kementerian Kesehatan Kalimantan Timur yang telah membimbing dan mendidik penulis dalam masa pendidikan.

9. Rekan-rekan mahasiswa/I jurusan keperawatan Prodi D-III Keperawatan Samarinda Poltekkes kemenkes kaltim.

Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu masukan, saran, serta kritik sangat diharapkan guna kesempurnaan proposal ini.

Balikpapan, Mei 2020

Fary Msidinoor Arianto

vii

(9)

ABSTRAK

Pendahuluan: Menjaga asupan makanan juga diperhatikan karna mengkonsumsi makanan yang memiliki kadar kalori dan lemak berlebih dari jumlah yang dibutuhkan juga berbahaya bagi tubuh karna akan menyebabkan berbagai penyakit salah satunya Cholelithiasis.Penelitian ini bertujuan untuk Mempelajari dan memahami secara mendalam mengenai Asuhan keperawatan pada pasien pre dan post Cholelithiasis di RSUD Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan.

Metode: Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pendekatan Asuhan Keperawatan dengan melaksanakan asuhan sebagai unit analisis. Unit analisis adalah klien dewasa . Instrumen pengumpulan data menggunakan format pengkajian Asuhan Keperawatan sesuai ketentuan yang berlaku di Prodi Keperawatan Poltekkes Kaltim.

Hasil dan pembahasan: Berdasarkan pada pengkajian, penegakkan diagnosa, intervensi, implementasi dan hasil evaluasi, didapatkan data dari masing-masing pasien mengeluh nyeri pada area perut. Pada pasien pertama ditemukan 1 diagnosa pre operatif dan 3 diagnosa post operatif sedangkan pada pasien 2 didapatkan 2 diagnosa post operatif dan 3 diagnosa post operatif

Kesimpulan dan saran: Dapat disimpulkan bahwa setiap pasien dengan Cholelithiasis memiliki respon yang berbeda terhadap penyakitnya. Diharapkan perawat lebih mampu melakukan asuhan keperawatan secara komprehensif serta meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien pre dan post operatif Cholelithiasis.

viii

(10)

ABSTRACT

Introduction: Maintaining food intake is also considered because consuming foods that have excessive levels of calories and fat than the amount needed is also dangerous for the body because it will cause various diseases, one of which is Cholelithiasis. This research aims to study and understand deeply about nursing care in pre and Cholelithiasis post at RSUD Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan.

Methods: This study uses the literature review method with the Nursing Care approach by carrying out care as a unit of analysis. The unit of analysis is a mature client. The data collection instrument used the format of Nursing Care assessment in accordance with the applicable provisions in East Kalimantan Poltekkes Nursing Study Program.

Results and discussion: Based on the assessment, diagnosis, intervention, implementation and evaluation results, data from each patient complained of pain in the fractured area. In the first patient found 1 preoperative diagnosis and 3 post operative diagnoses while in patient 2 there were 2 post operative diagnoses and 3 post operative diagnoses

Conclusions and suggestions: It can be concluded that each patient with Cholelithiasis has a different response to the disease. It is expected that nurses are better able to carry out comprehensive nursing care and increase the ability and knowledge in conducting nursing care in patients with pre and post operative Cholelithiasis

ix

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman sampul ... i

Surat pernyataan ... ii

Lembar persetujuan ... iii

Lembar pengesahan ... iv

Daftar riwayat hidup ... v

Kata pengantar ... vi

Abstrak ... viii

Daftar isi ... x

Daftar Gambar ... xiv

Daftar Tabel ... xvi

Daftar Lampiran ... xvii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6 x

(12)

1. Tujuan Umum ... 6

2. Tujuan Khusus ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 7

1. Bagi Peneliti ... 7

2. Bagi Tempat Peneliti ... 7

3. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan ... 7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Medis Cholelithiasis 1. Definisi ... 8

2. Etiologi ... 9

3. Anatomi ... 11

4. Fisiologi ... 12

5. Patofisiologi ... 14

6. Manifestasi klinis ... 15

7. Komplikasi ... 16

8. Pencegahan dan penanganan ... 16

9. Pemeriksaan diagnostik ... 19

10. Pathway ... 22

B. Konsep Masalah Keperawatan 1. Pengertian Masalah Keperawatan ... 23

2. Kriteria Mayor dan Minor ... 23

3. Kondisi Klinis Terkait ... 23

C. Konsep Asuhan Keperawatan 1. Konsep asuhan keperawatan ... 32

2. Pengkajian ... 32

3. Diagnose keperawatan ... 35

4. Intervensi ... 37

5. Implementasi ... 47 xi

(13)

6. Evaluasi ... 47

BAB III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan atau desain penelitian ... 49

B. Subjek penelitian ... 49

C. Batasan istilah ... 51

D. Lokasi dan waktu penelitian ... 52

E. Prosedur penelitian ... 53

F. Metode dan instrument pengumpulan data ... 55

G. Keabsahan data ... 56

H. Analisa data ... 56

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Gambaran lokasi penelitian ... 58

2. Data asuhan keperawatan ... 60

a. Pengkajian ... 60

b. Diagnosa keperawatan ... 79

c. Perencanaan keperawatan ... 81

d. Implementasi keperawatan ... 84

e. Evaluasi keperawatan ... 97

B. Pembahasan 1. Pengkajian ... 103

2. Diagnosa keperawatan ... 111

3. Perencanaan keperawatan ... 134

4. Implementasi keperawatan ... 146

5. Evaluasi keperawatan ... 151

xii

(14)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan ... 154 2. Saran ... 156 DAFTAR PUSTAKA

xiii

(15)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Anatomi Kandung Empedu ... 13

xiv

(16)

DAFTAR BAGAN

Bagan Pathway Cholelithiasis ... 22

xv

(17)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Intervensi Nyeri Akut pre operatif ... 37

Tabel 2.2 Intervensi Gangguan Mobilitas Fisik pre operatif ... 38

Tabel 2.3 Intervensi Hipertermi pre operatif... 39

Tabel 2.4 Intervensi Defisit Nutrisi pre operatif ... 40

Tabel 2.5 Intervensi Resiko Ketidakseimbangan Cairan pre operatif... 41

Tabel 2.6 Intervensi Resiko Syok pre operatif ... 42

Tabel 2.7 Intervensi Nyeri Akut post operatif ... 43

Tabel 2.8 Intervensi Gangguan Mobilitas Fisik post operatif ... 44

Tabel 2.8 Intervensi Resiko infeksi post operatif... 45

Tabel 2.9 Hasil anamnese pasien Cholelithiasis ... 60

Tabel 3.0 Hasil pemeriksaan fisik pasien Cholelithiasis ... 63

Tabel 3.1 Hasil pemeriksaan data penunjang ... 72

Tabel 3.1 Penatalaksanaan terapi pasien ... 74

Tabel 3.3 Analisa data pada pasien 1 pre operatif ... 75

Tabel 3.4 Analisa data pada pasien 2 pre operatif ... 77

Tabel 3.5 Diagnosa keperawatan ... 79

Tabel 3.6 Perencanaan ... 81

Tabel 3.7 Pelaksanaan ... 84

Tabel 3.9 Implementasi ... 90

Tabel 4.0 Evaluasi ... 97 xvi

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 ... Lembar Konsultasi Lampiran 2 ... Literature Riview Kasus Pasien 1 Lampiran 3 ... Literature review kasus pasien 2

(19)

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Kesehatan adalah harta paling berharga dari kehidupan, seluruh aktivitas hanya bisa dilakukan ketika kondisi badan sehat. Menjalani pola makan sehat merupakan cara termudah untuk menjaga kebugaran badan dan mencegah tubuh terserang dari penyakit. Menjaga asupan makanan merupakan pondasi untuk memiliki tubuh yang sehat. Sayangnya, masih banyak orang yang tak tergerak meluangkan waktu untuk melakukannya (Nathaniel et al., 2018).

Menjaga asupan makanan juga diperhatikan karna mengkonsumsi makanan yang memiliki kadar kalori dan lemak berlebih dari jumlah yang dibutuhkan juga berbahaya bagi tubuh karna akan menyebabkan penyakit obesitas. Obesitas merupakan suatu gangguan yang melibatkan lemak tubuh berlebihan yang meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti hipertensi, penakit jantung, stroke, penyakit kandung empedu atau Cholelithiasis (Putri Sella Agustin, 2016).

Cholelithiasis atau dikenal sebagai penyakit batu empedu merupakan penyakit yang didalamnya terdapat batu empedu yang dapat ditemukan di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu atau pada kedua-duanya.

Cholelithiasis adalah material atau kristal yang terbentuk di dalam kandung empedu (Musbahi et al., 2019).

1

(20)

Data World Health Organization (WHO) tahun 2014 menunjukkan bahwa terdapat 400 juta penduduk di dunia mengalami Cholelithiasis dan mencapai 700 juta penduduk pada tahun 2016. Cholelithiasis atau batu empedu terbentuk akibat ketidak seimbangan kandungan kimia dalam cairan empedu yang menyebabkan pengendapan satu atau lebih komponen empedu. Cholelithiasis merupakan masalah kesehatan umum dan sering terjadi di seluruh dunia, walaupun memiliki prevalensi yang berbeda beda di setiap daerah (Arif Kurniawan , Yunie Armiyati, 2017).

Di Amerika Serikat, sebanyak 10% sampai 15% populasi orang dewasa menderita batu empedu. Prevalensi tertinggi terjadi di Amerika Utara yaitu suku asli Indian, dengan presentase 64,1% pada wanita dan 29,5% pada pria. Sementara prevalensi yang tinggi juga terdapat pada suku Non Indian di Amerika Selatan, dengan presentase 49,9% pada wanita negara Chili suku Mapuche Indian asli dan 12,6% pada pria. Prevalensi ini menurun pada suku campuran Amerika yaitu 16,6%

pada wanita dan 8,6% pada pria. Prevalensi menegah terjadi pada masyarakat Asia dan masyarakat Amerika kulit hitam yaitu 13,9% pada wanita dan 5,3% pada pria.

Sedangkan prevalensi terendah ditemukan pada masyarakat Sub-Saharan Afrika yaitu

< 5% (Alhawsawi et al., 2019) .

Di Asia prevalensi Cholelithiasis yaitu sebesar 3% sampai 10%. Di indonesia, riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi Cholelithiasis pada dewasa adalah sebesar 15,4%, dan prevalensi tersebut meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2016 yaitu 11,7%. Saat ini penderita Cholelitiasis di Indonesia cenderung meningkat karena perubahan gaya

(21)

hidup seperti orang-orang barat yang suka mengkonsumsi makanan cepat saji yang dapat menyebabkan kegemukan karena timbunan lemak dan menjadikan pemicu terjadinya Cholelitiasis (Riskesdas, 2018).

Insiden batu empedu dapat dilihat dalam kelompok berisiko tinggi yang di singkat dengan “6F” yaitu : fat, fifties, female, fertile, food, dan family.

Terbentuknya batu empedu disebabkan oleh banyak faktor risiko dimana kejadiannya akan meningkat seiring dengan banyaknya faktor risiko yang dimiliki, dimana faktor risikonya terdiri dari usia, jenis kelamin, obesitas, dan diabetes mellitus. Di dalam kantung empedu terdapat cairan yang disebut sebagai empedu dan berperan dalam pencernaan lemak. Batu empedu akan terbentuk ketika cairan empedu tersebut mengeras. Ukuran batu empedu bisa bermacam- macam, mulai dari yang sekecil butiran pasir hingga sebesar bola pingpong.

Cairan empedu yang mengeras dan menjadi batu tersebut memiliki jumlah yang bervariasi. Seseorang bisa memiliki banyak batu, bisa juga hanya memiliki satu batu pada kantong empedu, jika orang tersebut mengidap batu empedu (Andalas, 2017).

Batu empedu bisa terjadi karena adanya kolesterol yang mengeras dan tertimbun dalam cairan empedu. Ini terjadi karena ada ketidakseimbangan antara senyawa kimia dan kolesterol dalam cairan tersebut. pada umumnya batu empedu tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, apabila batu empedu menyumbat saluran empedu, maka pengidap batu empedu akan mengalami rasa sakit pada bagian kanan perut yang datang secara tiba-tiba atau disebut juga kolik bilier.

(22)

Cholelithiasis dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan. Cholelithiasis dapat menyebabkan terjadinya kolesistitis, kolangitis, pankreatitis, jaundice, dan kanker kandung empedu (Winata et al., 2018).

Pada pasien yang sudah didiagnosa mengalami Cholelithiasis dapat dilakukan tindakan dengan cara bedah maupun non-bedah. Penanganan secara bedah adalah dengan cara kolesistektomi. Sedangkan penanganan secara non- bedah adalah dengan cara melarutkan batu empedu menggunakan MTBE, ERCP, dan ESWL. Sehingga masalah yang terjadi pada saat sebelum tindakan bedah pasien mengalami gejala nyeri mendadak dan terus-menerus pada perut kanan atas bahkan mengalami kecemasan saat ingin menjalani tindakan pembedahan, dan setelah dilakukannya tindakan Cholecystectomy dapat menimbulkan masalah baru yaitu, terputusnya kontinuitas jaringan akibat prosedur tindakan invasive mengakibatkan munculnya gangguan integritas kulit dan mengakibatkan kuman atau bakteri mudah masuk kedalam jaringan kulit, sehingga pasien beresiko untuk terkena infeksi (Bruno, 2019).

Maka disini perawat berperan penting dalam memberikan asuhan pre maupun post agar tidak terjadinya peningkatan keparahan penyakit pada pasien.

Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan di tatanan pelayanan kesehatan, dituntut mampu melakukan pengkajian secara komprehensif, menegakkan diagnose, merencanakan intervensi, memberikan intervensi keperawatan dan intervensi yang berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam melaksanakan

(23)

pemberian asuhan keperawatan kepada pasien, serta melakukan evaluasi dan tindak lanjut. Salah satu intervensi perawat dalam penanganan Pasien Cholelithiasis pada pre operasi adalah dengan mengurangi keluhan nyeri pada pasien dengan cara pencegahan observasi, terapeutik, edukasi dan kolaborasi.

Selain itu perawat juga berperan penting dalam melakukan perawatan luka kepada pasien selesai tindakan pembedahan atau post operasi untuk mencegah terjadinya infeksi (Arif Kurniawan , Yunie Armiyati, 2017).

Berdasarkan observasi ruangan di RSUD dr. Kanudjoso Djatiwobowo didapatkan data bahwa dalam dua tahun terakhir kasus pasien dengan diagnosa Cholelithiasis di ruangan Flamboyan E mengalami peningkatan. Selama Tahun 2018 kasus pasien dengan diagnosa Cholelithiasis di ruangan flamboyan E adalah sebanyak 36 kasus. Sedangkan data kasus pasien dengan diagnosa Cholelithiasis diruangan falmboyan E selama tahun 2019 adalah sebanyak 46 kasus (Rekam Medik RSUD dr. Kanudjoso Djatiwibowo, 2019) .

Berdasarkan fenomena tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang kejadian penyakit Cholelitiasis pada ruang Flamboyan E RSKD dr. Kanujoso Djatiwibowo.

(24)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, maka rumusan masalah ini adalah “Bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien Tn.x di RSUD dr.

Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan tahun 2020?”

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penulisan proposal karya tulis ilmiah ini dibedakan menjadi dua tujuan yaitu sebagai berikut:

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Cholelithiasis di RSUD dr.

Kanujoso Djatiwibowo tahun 2020 di Balikpapan ? 2. Tujuan Khusus

a. Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan pre dan post operatif Cholelithiasis di RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo tahun 2020 di Balikpapan.

b. Mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien dengan pre dan post operatif Cholelithiasis di RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo tahun 2020 di Balikpapan.

c. Mampu menyusun perencanaan tindakan keperawatan yang sesuai dengan masalah keperawatan pada pasien dengan pre dan post operatif Cholelithiasis di RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo tahun 2020 di Balikpapan.

(25)

d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan perencanaan tindakan keperawatan pada pasien pre dan post Cholelithiasis di RSUD dr.

Kanujoso Djatiwibowo tahun 2020 di Balikpapan.

e. Mampu mengevaluasi dari pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada pasien Cholelithiasis di RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo tahun 2020 di Balikpapan.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti

Melalui kegiatan penelitian ini diharapkan dapat menjadikan pengalaman belajar di lapangan dan dapat memberikan Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Cholelithiasis.

2. Bagi tempat penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada bidang Pelayanan Kesehatan mengenai Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Cholelithiasis sehingga dapat menjadi perantara untuk mengatasi masalah pasien dalam proses penyembuhan.

3. Bagi perkembangan ilmu keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperoleh gambaran tentang aplikasi teori Asuhan Keperwatan pada pasien Cholelithiasis secara langsung

(26)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Medis Cholelithiasis

1. Definisi

Cholelithiasis atau dikenal sebagai penyakit batu empedu merupakan penyakit yang didalamnya terdapat batu empedu yang dapat ditemukan di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu atau pada kedua-duanya. Cholelithiasis adalah material atau kristal yang terbentuk di dalam kandung empedu. Beberapa faktor risiko yang sering ditemui pada kejadian Cholelithiasis dikenal dengan “6F” (Fat, Female, Forty, Fair, Fertile, Family history). Keluhan klinis yang sering ditemukan adalah nyeri pada perut kanan atas, nyeri epigastrium, demam, ikterus, mual, muntah. Kandung empedu merupakan sebuah kantung yang terletak di bawah hati yang mengonsentrasikan dan menyimpan empedu sampai dilepaskan ke dalam usus. Fungsi dari empedu sendiri sebagai ekskretorik seperti ekskresi bilirubin dan sebagai pembantu proses pencernaan melalui emulsifikasi lemak oleh garam-garam empedu. Selain membantu proses pencernaan dan penyerapan lemak, empedu juga berperan dalam membantu metabolisme dan pembuangan limbah dari tubuh, seperti pembuangan hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolesterol. Garam empedu membantu

8

(27)

proses penyerapan dengan cara meningkatkan kelarutan kolesterol, lemak, dan vitamin yang larut dalam lemak (Musbahi et al., 2019).

Cholelithiasis adalah keadaan dimana terdapatnya batu di dalam kandung empedu atau di dalam duktus koledokus, atau pada kedua- duanya. Diperkirakan lebih dari 95% penyakit yang mengenai kandung empedu dan salurannya adalah penyakit Cholelithiasis. Adanya infeksi dapat menyebabkan kerusakan dinding kandung empedu, sehingga menyebabkan terjadinya statis dan dengan demikian menaikkan batu empedu. Infeksi dapat disebabkan kuman yang berasal dari makanan.

Infeksi bisa merambat ke saluran empedu sampai ke kantong empedu.

Penyebab paling utama adalah infeksi di usus. Infeksi ini menjalar tanpa terasa menyebabkan peradangan pada saluran dan kantong empedu sehingga cairan yang berada di kantong empedu mengendap dan menimbulkan batu. Infeksi tersebut misalnya tifoid atau tifus. Kuman tifus apabila bermuara di kantong empedu dapat menyebabkan peradangan lokal yang tidak dirasakan pasien, tanpa gejala sakit ataupun demam (Musbahi et al., 2019).

2. Etiologi

Cholelithiasis adalah penyakit batu empedu yang dapat ditemukan di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu, atau pada kedua-duanya. Sebagian besar batu empedu, terutama batu kolesterol, terbentuk di dalam kandung empedu. Hati terletak di kuadran kanan atas

(28)

abdomen di atas ginjal kanan, kolon, lambung, pankreas, dan usus serta tepat di bawah diafragma. Hati dibagi menjadi lobus kiri dan kanan, yang berawal di sebelah anterior di daerah kandung empedu dan meluas ke belakang vena kava. Kuadran kanan atas abdomen didominasi oleh hati serta saluran empedu dan kandung empedu. Pembentukan dan ekskresi empedu merupakan fungsi utama hati. Kandung empedu adalah sebuah kantung terletak di bawah hati yang mengonsentrasikan dan menyimpan empedu sampai ia dilepaskan ke dalam usus. Kebanyakan batu duktus koledokus berasal dari batu kandung empedu, tetapi ada juga yang terbentuk primer di dalam saluran empedu (Alhawsawi et al., 2019) .

Batu empedu bisa terbentuk di dalam saluran empedu jika empedu mengalami aliran balik karena adanya penyempitan saluran. Batu empedu di dalam saluran empedu bisa mengakibatkan infeksi hebat saluran empedu (kolangitis). Jika saluran empedu tersumbat, maka bakteri akan tumbuh dan dengan segera menimbulkan infeksi di dalam saluran.

Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya. Berdasarkan jenis batu yang terbentuk, faktor yang mempengaruhi terbentuknya batu berbeda-beda. Kondisi-kondisi yang menjadi faktor predisposisi terbentuknya batu pigmen adalah penyakit hemolitik yang kronik, pemberian nutrisi parenteral total, kolestasis kronik dan sirosis dan pemberian obat (cefriaxone). Sedangkan faktor predisposisi terbentuknya batu pigmen coklat adalah adanya infestasi

(29)

parasit seperti Ascharis lumbricoides. Untuk batu kolesterol, faktor resiko terjadinya batu kolesterol adalah kegemukan, Jadi dari beberapa sumber penyebab dan faktor resiko terjadinya batu pada kandung empedu (Cholelithiasis) adalah penyakit hemolitik dan penyakit spesifik non- hemolitik, wanita dengan usia lebih dari 40 tahun dan menggunakan kontrasepsi hormonal, kegemukan, dan makanan berlemak (Widodo, 2015).

3. Anatomi

Gambar 1.1 Kandung empedu

Kandung empedu bentuknya seperti kantong, organ berongga yang panjangnya sekitar 10 cm, terletak dalam suatu fosa yang menegaskan batas anatomi antara lobus hati kanan dan kiri. Kandung

(30)

empedu merupakan kantong berongga berbentuk bulat lonjong seperti buah advokat tepat di bawah lobus kanan hati. Kandung empedu mempunyai fundus, korpus, dan kolum. Fundus bentuknya bulat, ujung buntu dari kandung empedu yang sedikit memanjang di atas tepi hati.

Korpus merupakan bagian terbesar dari kandung empedu. Kolum adalah bagian yang sempit dari kandung empedu yang terletak antara korpus dan daerah duktus sistika. Empedu yang disekresi secara terus-menerus oleh hati masuk ke saluran empedu yang kecil dalam hati. Saluran empedu yang kecil bersatu membentuk dua saluran lebih besar yang keluar dari permukaan bawah hati sebagai duktus hepatikus kanan dan kiri yang segera bersatu membentuk duktus hepatikus komunis. Duktus hepatikus bergabung dengan duktus sistikus membentuk duktus koledokus (Bruno, 2019).

4. Fisiologi

Fungsi kandung empedu, yaitu:

a. Tempat menyimpan cairan empedu dan memekatkan cairan empedu yang ada di dalamnya dengan cara mengabsorpsi air dan elektrolit.

Cairan empedu ini adalah cairan elektrolit yang dihasilkan oleh sel hati.

b. Garam empedu menyebabkan meningkatnya kelarutan kolesterol, lemak dan vitamin yang larut dalam lemak, sehingga membantu penyerapannya dari usus. Hemoglobin yang berasal dari

(31)

penghancuran sel darah merah diubah menjadi bilirubin (pigmen utama dalam empedu) dan dibuang ke dalam empedu.

Empedu memiliki fungsi, yaitu membantu pencernaan dan penyerapan lemak, berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolesterol, garam empedu meningkatkan kelarutan kolesterol, lemak dan vitamin yang larut dalam lemak untuk membantu proses penyerapan, garam empedu merangsang pelepasan air oleh usus besar untuk membantu menggerakkan isinya, bilirubin (pigmen utama dari empedu) dibuang ke dalam empedu sebagai limbah dari sel darah merah yang dihancurkan, serta obat dan limbah lainnya dibuang dalam empedu dan selanjutnya dibuang dari tubuh.

Garam empedu kembali diserap ke dalam usus halus, disuling oleh hati dan dialirkan kembali ke dalam empedu. Sirkulasi ini dikenal sebagai sirkulasi enterohepatik. Seluruh garam empedu di dalam tubuh mengalami sirkulasi sebanyak 10-12 kali/hari. Dalam setiap sirkulasi, sejumlah kecil garam empedu masuk ke dalam usus besar (kolon). Di dalam kolon, bakteri memecah garam empedu menjadi berbagai unsur pokok. Beberapa dari unsur pokok ini diserap kembali dan sisanya dibuang bersama tinja. Hanya sekitar 5% dari asam empedu yang disekresikan dalam feses (Reinecke, 2018).

(32)

5. Patofisiologi

Ada dua tipe utama batu empedu yaitu batu yang terutama tersusun dari pigmen dan tersusun dari kolesterol. Batu pigmen, akan terbentuk bila pigmen yang terkonjugasi dalam empedu mengalami presipitasi atau pengendapan, sehingga terjadi batu. Risiko terbentuknya batu semacam ini semakin besar pada pasien serosis, hemolysis dan infeksi percabangan bilier. Batu ini tidak dapat dilarutkan dan hanya dikeluarkan dengan jalan operasi. Batu kolesterol, merupakan unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya bergantung pada asam empedu dan lesitin (fosfo lipid) dalam empedu. Pada pasien yang cenderung menderita batu empedu akan terjadi penurunan sintesis asam empedu dan peningkatan sintesis kolesterol dalam hati, mengakibatkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol dan keluar dari getah empedu mengendap membentuk batu. Getah empedu yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu yang berperan sebagai iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu (Nanda, 2020).

Wanita yang menderita batu kolesterol dan penyakit kandung empedu 4 kali lebih banyak dari pada laki-laki. Biasanya terjadi pada wanita berusia > 40 tahun, multipara, obesitas. Penderita batu empedu meningkat pada pengguna kontrasepsi pil, estrogen dan klofibrat yang diketahui meningkatkan saturasi kolesterol bilier. Insiden pembentukan

(33)

batu meningkat bersamaan dengan penambahan umur, karena bertambahnya sekresi kolesterol oleh hati dan menurunnya sintesis asam empedu juga meningkat akibat mal absorbs garam empedu pada pasien dengan penyakit gastrointestinal, pernah operasi resesi usus, dan DM.

(Ferreira Junior et al., 2019).

6. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis pada pasien Cholelithiasis sangat bervariasi, ada yang mengalami gejala asimptomatik dan gejala simptomatik. Pasien Cholelithiasis dapat mengalami dua jenis gejala: gejala yang disebabkan oleh penyakit kandung empedu itu sendiri dan gejala yang terjadi akibat obstruksi pada jalan perlintasan empedu oleh batu empedu. Gejalanya bisa bersifat akut atau kronis. Gangguan epigastrium, seperti rasa penuh, distensi abdomen dan nyeri yang samar pada kuadran kanan atas abdomen dapat terjadi. Gangguan ini dapat terjadi bila individu mengkonsumsi makanan yang berlemak atau yang digoreng (Nanda, 2020) .

Gejala yang mungkin timbul pada pasien Cholelithiasis adalah nyeri dan kolik bilier, ikterus, perubahan warna urin dan feses dan defisiensi vitamin. Pada pasien yang mengalami nyeri dan kolik bilier disebabkan karena adanya obstruksi pada duktus sistikus yang tersumbat oleh batu empedu sehingga terjadi distensi dan menimbulkan infeksi.

Kolik bilier tersebut disertai nyeri hebat pada abdomen kuadran kanan

(34)

atas, pasien akan mengalami mual dan muntah dalam beberapa jam sesudah mengkonsumsi makanan dalam posi besar (Nanda, 2020).

7. Komplikasi

Komplikasi yang umum dijumpai adalah kolesistisis, kolangitis, hidrops dan emfiema.

a. Kolangitis adalah peradangan pada saluran empedu yang terjadi karena adanya infeksi yang menyebar akibat obstruksi pada saluran empedu.

b. Hidrops merupakan obstruksi kronik dari kandung empedu yang biasa terjadi di duktus sistikus sehingga kandung empedu tidak dapat diisi lagi oleh empedu.

c. Emfiema adalah kandung empedu yang berisi nanah. Komplikasi pada pasien yang mengalami emfiema membutuhkan penanganan segera karena dapat mengancam jiwa

d. Kolesistisis merupakan peradangan pada kandung empedu, dimana terdapat obstruksi atau sumbatan pada leher kandung empedu atau saluran kandung empedu, yang menyebakan infeksi dan peradangan pada kandung empedu (Baloyi, Rose, & Morare, 2020).

8. Pencegahan dan Penanganan

Pencegahan Cholelithiasis dapat di mulai dari masyarakat yang sehat yang memiliki faktor risiko untuk terkena Cholelithiasis sebagai upaya untuk mencegah peningkatan kasus Cholelithiasis pada masyarakat

(35)

dengan cara tindakan promotif dan preventif. Tindakan promotif yang dapat dilakukan adalah dengan cara mengajak masyarakat untuk hidup sehat, menjaga pola makan, dan perilaku atau gaya hidup yang sehat.

Sedangkan tindakan preventif yang dapat dilakukan adalah dengan meminimalisir faktor risiko penyebab Cholelithiasis, seperti menurunkan makanan yang berlemak dan berkolesterol, meningkatkan makan sayur dan buah, olahraga teratur dan perbanyak minum air putih. Pada pasien yang sudah didiagnosa mengalami Cholelithiasis dapat dilakukan tindakan dengan cara bedah maupun non-bedah. Penanganan secara bedah adalah dengan cara kolesistektomi. Sedangkan penanganan secara non-bedah adalah dengan cara melarutkan batu empedu menggunakan MTBE, ERCP, dan ESWL (Bruno, 2019).

Kolesistektomi merupakan prosedur pembedahan yang dilakukan pada sebagian besar kasus Cholelithiasis. Jenis kolesistektomi laparoskopik adalah teknik pembedahan invasif minimal didalam rongga abdomen dengan menggunakan pneumoperitoneum sistim endokamera dan instrumen khusus melalui layar monitor tanpa melihat dan menyentuh langsung kandung empedunya. Keuntungan dari kolesistektomi laparoskopik adalah meminimalkan rasa nyeri, mempercepat proses pemulihan, masa rawat yang pendek dan meminimalkan luka parut (Paasch, Salak, Mairinger, & Theissig, 2020).

(36)

Penanganan Cholelithiasis non-bedah dengan cara melarutkan batu empedu yaitu suatu metode melarutkan batu empedu dengan menginfuskan suatu bahan pelarut (monooktanion atau metil tertier butil eter) ke dalam kandung empedu. Pelarut tersebut dapat diinfuskan melalui jalur berikut ini: melalui selang atau kateter yang dipasang perkutan langsung ke dalam kandung empedu; melalui selang atau drain yang dimasukkan melalui saluran T-Tube untuk melarutkan batu yang belum dikeluarkan pada saat pembedahan; melalui endoskop ERCP atau kateter bilier transnasal. Pengangkatan non-bedah digunakan untuk mengeluarkan batu yang belum terangkat pada saat kolesistektomi atau yang terjepit dalam duktus koledokus (Baloyi et al., 2020).

Endoscopi Retrograde Cholangi Pancreatography (ERCP) terapeutik dengan melakukan sfingterektomi endoskopik untuk mengeluarkan batu saluran empedu tanpa operasi, pertama kali dilakukan tahun 1974. Batu di dalam saluran empedu dikeluarkan dengan basket kawat atau balon-ekstraksi melalui muara yang sudah besar tersebut menuju lumen duodenum sehingga batu dapat keluar bersama tinja atau dikeluarkan melalui mulut bersama skopnya. Extracorporeal Shock- Wave Lithoripsy (ESWL) merupakan prosedur non-invasif yang menggunakan gelombang kejut berulang (repeated shock waves) yang diarahkan kepada batu empedu di dalam kandung empedu atau duktus koledokus dengan maksud untuk memecah batu tersebut menjadi sebuah

(37)

fragmen. Gelombang kejut dihasilkan dalam media cairan oleh percikan listrik, yaitu piezoelektrik, atau oleh muatan elektromagnetik (Bini, Chan, Rivera, & Tuda, 2020).

Setelah penanganan bedah maupun non-bedah dilakukan, maka selanjutnya dilakukan perawatan paliatif yang fungsinya untuk mencegah komplikasi penyakit yang lain, mencegah atau mengurangi rasa nyeri dan keluhan lain, serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Perawatan tersebuit bisa dilakukan dengan salah satu cara yaitu memerhatikan asupan makanan dengan intake rendah lemak dan kolesterol (Bini et al., 2020).

9. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada pasien Cholelithiasis adalah (Bini et al., 2020) :

a. Pemeriksaan Sinar-X Abdomen

Dapat dilakukan jika terdapat kecurigaan akan penyakit kandung empedu dan untuk menyingkirkan penyebab gejala yang lain. Namun, hanya 15-20% batu empedu yang mengalami cukup kalsifikasi untuk dapat tampak melalui pemeriksaan sinar-x.

b. Ultrasonografi

Pemeriksaan USG telah menggantikan pemeriksaan kolesistografi oral karena dapat dilakukan secara cepat dan akurat, dan dapat dilakukan pada penderita disfungsi hati dan ikterus. Pemeriksaan USG

(38)

dapat mendeteksi kalkuli dalam kandung empedu atau duktus koledokus yang mengalami dilatasi.

c. Pemeriksaan pencitraan Radionuklida atau koleskintografi.

Koleskintografi menggunakan preparat radioaktif yang disuntikkan secara intravena. Preparat ini kemudian diambil oleh hepatosit dan dengan cepat diekskresikan ke dalam sistem bilier. Selanjutnya dilakukan pemindaian saluran empedu untuk mendapatkan gambar kandung empedu dan percabangan bilier.

d. ERCP (Endoscopic Retrograde CholangioPancreatography),

Pemeriksaan ini meliputi insersi endoskop serat-optik yang fleksibel ke dalam esofagus hingga mencapai duodenum pars desendens.

Sebuah kanul dimasukkan ke dalam duktus koledokus serta duktus pankreatikus, kemudian bahan kontras disuntikkan ke dalam duktus tersebut untuk memungkinkan visualisasi serta evaluasi percabangan bilier.

e. Kolangiografi Transhepatik Perkutan

Pemeriksaan dengan cara menyuntikkan bahan kontras langsung ke dalam percabangan bilier. Karena konsentrasi bahan kontras yang disuntikkan itu relatif besar, maka semua komponen pada sistem bilier (duktus hepatikus, duktus koledokus, duktus sistikus dan kandung empedu) dapat dilihat garis bentuknya dengan jelas.

f. MRCP (Magnetic Resonance Cholangiopancreatography)

(39)

Merupakan teknik pencitraan dengan gema magnet tanpa menggunakan zat kontras, instrumen, dan radiasi ion. Pada MRCP saluran empedu akan terlihat sebagai struktur yang terang karena mempunyai intensitas sinyal tinggi, sedangkan batu saluran empedu akan terlihat sebagai intensitas sinyal rendah yang dikrelilingi empedu dengan intensitas sinyal tinngi, sehingga metode ini cocok untuk mendiagnosis batu saluran empedu .

(40)
(41)

B. Konsep Masalah Keperawatan 1. Pengertian Masalah Keperawatan

Masalah keperawatan merupakan label diagnosis keperawatan yang menggambarkan inti dari respon klien terhadap kondisi kesehatan atau proses kehidupannya (PPNI, 2017).

2. Kriteria Mayor dan Minor

Kriteria mayor adalah tanda/gejala yang ditemukan sekitar 80% - 100%

untuk validasi diagnosa. Sedangkan kriteria minor adalah tanda/gejala tidak harus ditemukan, namun jika ditemukan dapat mendukung penegakan diagnosa (PPNI, 2017).

3. Kondisi Klinis Terkait

Merupakan kondisi atau situasi yang dapat meningkatkan kerentanan klien mengangkat masalah kesehatan (PPNI,2017)

Berikut adalah masalah yang timbul bagi pasien pre dan post Cholelithiasis, dengan menggunakan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (PPNI, 2017) :

Masalah keperawatan pada Pre operatif :

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (Inflamasi) b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri

c. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit

d. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan

(42)

e. Resiko ketidakseimbangan cairan dibuktikan dengan obstruksi intestinal

f. Resiko syok (Hipovolemik) dibuktikan dengan kekurangan volume cairan

Masalah keperawatan pada Post operatif :

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (Prosedur operasi)

b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri c. Resiko infeksi dibuktikan dengan efek prosedur invasive

Berikut adalah urian masalah yang timbul bagi pasien pre dan post Cholelithiasis, dengan menggunakan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (PPNI, 2017) :

Uraian diagnosa keperawatan pada Pre operatif : 1) Nyeri akut D.0077

a) Definisi

Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan actual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.

b) Penyebab

Agen pencedera fisiologis (misalnya inflamasi, iskemia, neoplasma)

(43)

c) Batasan karakteristik (1) Data mayor

Data mayor yang dapat menunjang munculnya diagnosa nyeri akut antara lain:

Subjektif Objektif

1. Mengeluh Nyeri 1. Tampak meringis 2. Bersikap protektif 3. Gelisah

4. Frekuensi nadi meningkat 5. Sulit tidur

(2) Data Minor

Data minor yang dapat menunjang munculnya diagnosa nyeri akut antara lain:

Subjektif Objektif

(Tidak tersedia) 1. Tekanan darah meningkat 2. Pola nafas berubah 3. Nafsu makan berubah 4. Proses berfikir terganggu 5. Menarik diri

6. Berfokus pada diri sendiri 7. Diaforesis

d) Kondisi Klinis Terkait Infeksi

2) Gangguan mobilitas fisik D.0054 a) Definisi

(44)

Keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih extremitas secara mandiri.

b) Penyebab Nyeri

c) Batasan karakteristik (1) Data mayor

Data mayor yang dapat menunjang munculnya diagnosa gangguan mobilitas fisik antara lain:

Subjektif Objektif

1. Mengeluh sulit menggerakan extremitas

1. Kekuatan otot menurun 2. Rentang gerak menurun

(2) Data minor

Data minor yang dapat menunjang munculnya diagnose gangguan mobilitas fisik antara lain:

Subjektif Objektif

1. Nyeri saat bergerak 2. Enggan melakukan

pergerakan 3. Merasa cemas saat

bergerak

1. Sendi kaku

2.Gerakan tidak terkoordinasi 3. Gerakan terbatas

4. Fisik Lemah

d) Kondisi klinis terkait Nyeri

3) Hipertermi D.0130 a) Definisi

Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal tubuh

(45)

b) Penyebab

Proses penyakit ( misalnya infeksi, kanker ) c) Batasan karakteristik

(1) Data mayor

Data mayor yang dapat menunjang munculnya diagnose hipertermi antara lain :

Subjektif Objektif

(Tidak tersedia) 1. Suhu tubuh di atas normal

(2) Data minor

Data minor yang dapat menunjang munculnya diagnose hipertermi antara lain :

Subjektif Objektif

(Tidak tersedia) 1. Kulit merah 2. Takikardi

3. Kulit terasa hangat

d) Kondisi klinis terkait Proses infeksi 4) Defisit nutrisi D.0019

a) Definisi

Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme

b) Penyebab

Ketidakmampuan mencerna makanan

(46)

c) Batasan karakteristik (1) Data mayor

Data mayor yang dapat menunjang munculnya diagnosa defisit nutrisi antara lain:

(2) Data minor

Data minor yang dapat menunjang munculnya diagnosa defisit nutrisi antara lain:

Subjektif Objektif

1. Kram atau nyeri abdomen 2. Nafsu makan menurun

1. Bising usus hiperaktif 2. Otot menelan lemah

d) Kondisi klinis terkait : Infeksi

5) Resiko ketidakseimbangan cairan D.0036 a) Definisi

Berisiko mengalami penurunann peningkatan atau percepatan perpindahan cairan dari intravaskuler, interstisial, atau intraselular

b) Faktor resiko Obstruksi intestinal

Subjektif Objektif

(Tidak tersedia) Berat badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal

(47)

c) Kondisi klinis terkait Perdarahan

6) Resiko syok (Hipovolemik) D0039 a) Definisi

Berisiko mengalami ketidakcukupan aliran darah ke jaringan tubuh, yang dapat mengakibatkan disfungsi seluler yang mengancam jiwa

b) Faktor resiko

Kekurangan volume cairan c) Kondisi klinis terkait

Perdarahan

Uraian diagnosa keperawatan pada Post operatif : 1) Nyeri akut D.0077

a) Definisi

Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan actual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.

b) Penyebab

Agen pencedera fisik (Prosedur operasi) c) Batasan karakteristik

(1) Data mayor

(48)

Data mayor yang dapat menunjang munculnya diagnosa nyeri akut antara lain :

Subjektif Objektif

1. Mengeluh Nyeri 1. Tampak meringis 2. Bersikap protektif 3. Gelisah

4. Frekuensi nadi meningkat 5. Sulit tidur

(2) Data Minor

Data minor yang dapat menunjang munculnya diagnosa nyeri akut antara lain:

Subjektif Objektif

(Tidak tersedia) 1. Tekanan darah meningkat 2. Pola nafas berubah 3. Nafsu makan berubah 4. Proses berfikir terganggu 5. Menarik diri

6. Berfokus pada diri sendiri 7. Diaforesis

d) Kondisi Klinis Terkait Kondisi pembedahan

2) Gangguan mobilitas fisik D.0054 a) Definisi

Keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih extremitas secara mandiri.

(49)

b) Penyebab Nyeri

c) Batasan karakteristik (1) Data mayor

Data mayor yang dapat menunjang munculnya diagnosa gangguan mobilitas fisik antara lain:

Subjektif Objektif

1. Mengeluh sulit menggerakan extremitas

1. Kekuatan otot menurun 2. Rentang gerak menurun (2) Data minor

Data minor yang dapat menunjang munculnya diagnose gangguan mobilitas fisik antara lain:

Subjektif Objektif

4. Nyeri saat bergerak 5. Enggan melakukan

pergerakan

6. Merasa cemas saat bergerak

1. Sendi kaku

2.Gerakan tidak terkoordinasi 3. Gerakan terbatas

4. Fisik Lemah d) Kondisi klinis terkait

Nyeri

3) Resiko infeksi D0142 b) Definisi

Beresiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik

c) Faktor resiko

Efek prosedur invasive

(50)

d) Kondisi klinis terkait Tindakan invasive C. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien.

Pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan tiga metode, yaitu wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik (Bolat & Teke, 2020).

Pengkajian adalah fase pertama proses keperawatan, Data yang dikumpulkan meliputi (Lestari et al., 2019) :

a. Identitas

1) Identitas klien

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor register, diagnosa medik, alamat, semua data mengenai identitaas klien tersebut untuk menentukan tindakan selanjutnya.

2) Identitas penanggung jawab

Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan dan jadi penanggung jawab klien selama perawatan, data yang terkumpul meliputi nama, umur, pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.

(51)

b. Riwayat Kesehatan 1) Keluhan utama

Merupakan keluhan yang paling utama yang dirasakan oleh klien saat pengkajian. Biasanya keluhan utama yang klien rasakan adalah nyeri abdomen pada kuadran kanan atas.

2) Riwayat kesehatan sekarang

Merupakan pengembangan diri dari keluhan utama melalui metode PQRST, paliatif atau provokatif (P) yaitu focus utama keluhan klien, quality atau kualitas (Q) yaitu bagaimana nyeri atau gatal dirasakan oleh klien, regional (R) yaitu nyeri/gatal menjalar kemana, Safety (S) yaitu posisi yang bagaimana yang dapat mengurangi nyeri/gatal atau klien merasa nyaman dan Time (T) yaitu sejak kapan klien merasakan nyeri/gatal tersebut.

3) Riwayat kesehatan yang lalu

Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit sama atau pernah di riwayat sebelumnya.

4) Riwayat kesehatan keluarga

Mengkaji ada atau tidaknya keluarga klien pernah menderita penyakit kolelitiasis

c. Pemeriksaan fisik 1) Keadaan Umum :

a) Penampilan Umum

(52)

Mengkaji tentang berat badan dan tinggi badan klien b) Kesadaran

Kesadaran mencakup tentang kualitas dan kuantitas keadaan klien.

c) Tanda-tanda Vital

Mengkaji mengenai tekanan darah, suhu, nadi dan respirasi (TPRS)

2) Sistem endokrin

Mengkaji tentang keadaan abdomen dan kantung empedu.

Biasanya pada penyakit ini kantung empedu dapat terlihat dan teraba oleh tangan karena terjadi pembengkakan pada kandung empedu.

d. Pola aktivitas 1) Nutrisi

Dikaji tentang porsi makan, nafsu makan 2) Aktivitas

Dikaji tentang aktivitas sehari-hari, kesulitan melakukan aktivitas dan anjuran bedrest

3) Aspek Psikologis

Kaji tentang emosi, Pengetahuan terhadap penyakit, dan suasana hati

4) Aspek penunjang

(53)

b) Hasil pemeriksaan Laboratorium (bilirubin, amylase serum meningkat)

c) Obat-obatan satu terapi sesuai dengan anjuran dokter.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosis keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respons klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang berlangsung aktual maupun potensial. Diagnosis keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi respons klien individu, keluarga dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan dengan kesehatan (PPNI, 2017)

Ada lima tipe diagnosa, yaitu aktual, risiko, kemungkinan, sehat dan sindrom. Diagnosa keperawatan aktual menyajikan keadaan yang secara klinis telah divalidasi melalui batasan karakteristik mayor yang dapat diidentifikasi. Diagnosa keperawatan risiko menjelaskan masalah kesehatan yang nyata akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi.

Masalah dapat timbul pada seseorang atau kelompok yang rentan dan ditunjang dengan faktor risiko yang memberikan kontribusi pada peningkatan kerentanan. Diagnosa keperawatan risiko adalah keputusan klinis tentang individu, keluarga, atau komunitas yang sangat rentan untuk mengalami masalah dibanding individu atau kelompok lain pada situasi yang sama atau hampir sama. Diagnosa keperawatan kemungkinan menjelaskan bahwa perlu adanya data tambahan untuk memastikan

(54)

masalah keperawatan kemungkinan. Pada keadaan ini masalah dan faktor pendukung belum ada tetapi sudah ada faktor yang dapat menimbulkan masalah. Diagnosa keperawatan Wellness (Sejahtera) atau sehat adalah keputusan klinik tentang keadaan individu, keluarga, dan atau masyarakat dalam transisi dari tingkat sejahtera tertentu ke tingkat sejahtera yang lebih tinggi yang menunjukkan terjadinya peningkatan fungsi kesehatan menjadi fungsi yang positif. Diagnosa keperawatan sindrom adalah diagnosa yang terdiri dari kelompok diagnosa aktual dan risiko tinggi yang diperkirakan akan muncul karena suatu kejadian atau situasi tertentu (Yeni & Ukur, 2019).

Diagnosa Keperawatan yang biasa muncul pada klien Cholelithiasis dan mengalami pembedahan adalah :

Masalah keperawatan pada Pre operatif :

g. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (Inflamasi) h. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri

i. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit

j. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan

k. Resiko ketidakseimbangan cairan dibuktikan dengan obstruksi intestinal

l. Resiko syok (Hipovolemik) dibuktikan dengan kekurangan volume cairan

(55)

Masalah keperawatan pada Post operatif :

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (Prosedur operasi)

b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri c. Resiko infeksi dibuktikan dengan efek prosedur invasif 3. Intervensi Keperawatan

Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan sebagai pedoman untuk mengarahkan tindakan keperawatan dalam usaha membantu, meringankan, memecahkan masalah atau untuk memenuhi kebutuhan klien. Proses perencanaan keperawatan meliputi penetapan tujuan perawatan, penetapan kriteria hasil, pemilihan intervensi yang tepat, dan rasionalisasi dari intervensi dan mendokumentasikan rencana perawatan. Perencanaan keperawatan adalah suatu proses di dalam pemecahan masalah yang merupakan keputusan awal tentang sesuatu apa yang akan dilakukan, bagaimana dilakukan, kapan dilakukan, dan siapa yang melakukan dari semua tindakan keperawatan (Lestari et al., 2019).

(56)

Intervensi Keperawatan yang biasa muncul pada klien Cholelithiasis dan mengalami pembedahan adalah:

Intervensi keperawatan pada pasien pre operatif :

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis D.0077 Tabel 2.1 intervensi keperawatan cholelithiasis

Tujuan Intervensi

Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama …. diharapkan nyeri pada pasien berkurang atau menurun dengan kriteria hasil:

a. Keluhan nyeri menurun b. Meringis menurun c. Sikap protektif menurun d. Gelisah menurun e. Kesulitan tidur menurun f. Menarik diri menurun

g. Berfokus pada diri sendiri menurun

h. Diaforesis menurun i. Frekuensi nadi membaik j. Pola nafas membaik k. Tekanan darah membaik l. Prilaku membaik m. Pola tidur membaik

Observasi :

a. Identifikasi lokasi,karakteristik,durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri b. Identifikasi skala nyeri

c. Identifikasi respons nyeri non verbal d. Identifikasi faktor yang memperberat dan

memperingan nyeri

e. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri

f. Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri

g. Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup

h. Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan

i. Monitor efek samping penggunaan analgetik

Terapeutik :

a. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri

b. kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri

c. fasilitasi istirahat dan tidur

d. pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri Edukasi :

a. jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri

b. jelaskan strategi meredakan nyeri c. anjurkan memonitor nyeri secara mandiri d. anjurkan menggunakan analgetik secara

tepat

e. ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri

Kolaborasi :

a. Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

(57)

b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri D.0054 Tabel 2.2 intervensi keperawatan cholelithiasis

Tujuan Intervensi

Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama …. Diharapkan mobilitas fisik pasien meningkat dengan kriteria hasil:

a. Pergerakan extremitas meningkat b. Kekuatan otot meningkat c. Rentang gerak meningkat d. Nyeri menurun

e. Kecemasan menurun

f. Gerakan tidak terkoordinasi menurun g. Gerakan terbatas menurun

h. Kelemahan fisik menurun

Observasi :

a. Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya

b. Identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi

c. Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai ambulasi

d. Monitor kondisi umum selama melakukan ambulasi

Terapeutik :

a. Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu

b. Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik c. Libatkan keluarga untuk membantu pasien

dalam meningkatkan ambulasi Edukasi :

a. Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi b. Anjurkan melakukan ambulasi dini c. Ajarkan ambulasi sederhana yang harus

dilakukan

(58)

c. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit D.0130 Tabel 2.3 intervensi keperawatan cholelithiasis

Tujuan Intervensi

Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama …. Diharapkan suhu tubuh pasien membaik dengan kriteria hasil:

a. Mengigil menurun b. Kulit merah menurun c. Akrasianosis menurun d. Pucat menurun e. Piloereksi menurun f. Kejang meurun g. Suhu tubuh membaik h. Suhu kulit membaik

i. Kadar glukosa darah membaik j. Pengisian kapiler membaik k. Ventilasi membaik l. Tekanan darah membaik

Observasi :

a. Identifikasi penyebab hipertermia b. Monitor suhu tubuh

c. Monitor kadar elektrolit d. Monitor haluan urine

e. Monitor komplikasi akibat hipertermia

Terapeutik :

a. Sediakan lingkunga yang dingin b. Basahi dan kipasi permukaan

tubuh

c. Berikan cairan oral

d. Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika terjadi hyperhidrosis e. Hindari pemberian antipiretik dan

aspirin

f. Berikan oksigen Edukasi :

a. Anjurkan tirah baring Kolaborasi :

a. Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena

(59)

d. Defisit nutrisi b.d ketidakmampuan mencerna makanan D.0019 Tabel 2.4 intervensi keperawatan cholelithiasis

Tujuan Intervensi

Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama … Diharapkan status nutrisi pasien membaik dengan kriteria hasil:

a. Porsi makanan yang dihabiskan meningkat

b. Berat badan membaik c. Indeks massa tubuh membaik d. Frekuensi makan membaik e. Nafsu makan membaik f. Nyeri abdomen menurun g. Perasaan cepat kenyang menurun h. Kekuatan otot menelan meningkat i. Membrane mukosa membaik j. Bising usus membaik

Observasi :

a. Identifikasi status nutrisi

b. Identifikasi alergi dan intoleransi makanan

c. Identifikasi makanan disukai d. Identifikasi kebutuhan kalori dan

jenis nutrient

e. Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastric

f. Monitor asupan makanan g. Monitor berat badan

h. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium

Terapeutik

a. Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu

b. Fasilitas menentukan pedoman diet

c. Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai

d. Berikan makanan tinggi seratuntuk mencegah konstipasi e. Berikan makanan tinggi kalori

dan tinggi protein

f. Berikan suplemen makanan, jika perlu

g. Hentikan pemberian makanan melalui selang nasogastric jika asupan oral dapat ditoleransi Edukasi :

a. Anjarkan posisi duduk, jika perlu b. Ajarkan diet yang deprogramkan Kolaborasi

a. Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan, jika perlu b. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk

untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient yang di butuhkan, jika perlu

(60)

e. Resiko ketidakseimbangan cairan dibuktikan dengan obstruksi intestinal D.0036

Tabel 2.5 intervensi keperawatan cholelithiasis

Tujuan Intervensi

Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama …. Diharapkan keseimbangan cairan pasien meningkat dengan kriteria hasil:

a. Asupan cairan meningkat b. Keluaran urin meningkat c. Kelembapan membrane Mukosa d. Asupan makanan meningkat e. Edema menurun

f. Asites menurun

g. Tekanan darah membaik h. Denyut nadi radial membaik i. Tekanan arteri rata-rata membaik j. Mata cekung membaik

k. Turgor kulit membaik l. Berat badan membaik

Observasi :

a. Monitor status hidrasi (mis.

Frekuensi nadi, kekuatan nadi,akral,pengisian

kapiler,kelembapan mukosa, turgor kulit, tekanan darah) b. Monitor berat badan harian c. Monitor berat badan sebelum dan

sesudah dialysis

d. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium

e. Monitor status hemodinamik Terapeutik :

a. Catat intake dan output lalu hitung balance cairan 24 jam b. Berikan asupan cairan , sesuai

kebutuhan

c. Berikan cairan intravena , jika diperlukan

Kolaborasi :

a. Kolaborasi pemberian diuretic, jika diperlukan

Gambar

Gambar 1.1 Kandung empedu
Tabel 2.5 intervensi keperawatan cholelithiasis
Tabel 2.6 intervensi keperawatan cholelithiasis
Tabel 2.9 Hasil Anamnesis Klien dengan Cholelithiasis
+7

Referensi

Dokumen terkait

g Risiko infeksi berhubungan dengan penyakit kronis Hasil evaluasi yang didapatkan pada diagnosa keperawatan risiko infeksi berhubungan dengan penyakit kronis yang dilakukan pada