UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL- QUR’AN MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA SISWA KELAS VII SMPN 6 PALANGKA
RAYA
Ani Sri Lestari1, Saudah2
Sekolah Menengah Pertama Negeri 6 Palangka Raya Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya
E-mail; [email protected]1, [email protected]2 Abstract
Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca Al- Qur'an pada siswa kelas VII di SMPN 6 Palangka Raya melalui penerapan model pembelajaran Problem-Based Learning (PBL). Metode penelitian yang digunakan terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII di SMPN 6 Palangka Raya. Data dikumpulkan melalui tes sebelum dan setelah penerapan model PBL, observasi partisipatif selama proses pembelajaran, Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam kemampuan membaca Al-Qur'an setelah penerapan model PBL. Rata-rata skor kemampuan membaca meningkat dari sebelumnya, menunjukkan bahwa penerapan model PBL berdampak positif pada kemampuan membaca Al-Qur'an. Selain itu, tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan model PBL secara umum positif, dengan mayoritas siswa merasa lebih terlibat dan antusias dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an pada siswa kelas VII di SMPN 6 Palangka Raya. Model ini mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan isi Al-Qur'an, sehingga meningkatkan kemampuan dalam membaca Al-Qura’an sesuai dengan kaidah ilmu tajwid
Kata kunci: Problem Based Learning, kemampuan membaca.
Pendahuluan
Proses pembelajaran di sekolah sebagai suatu aktivitas mengajar dan belajar yang di dalamnya terdapat dua subyek yaitu guru (pendidik) dan peserta didik.
Tugas dan tanggung jawab utama dari seorang guru adalah menciptakan pembelajaran yang efektif, efisien, kreatif, dinamis, dan menyenangkan (Habibi, 2022). Hal ini berimplikasi pada adanya kesadaran dan keterlibatan aktif antara dua subyek pembelajaran yaitu guru sebagai penginisiatif awal, pembimbing dan fasilitator dengan peserta didik sebagai orang yang mengalami dan terlibat aktif untuk memperoleh perubahan diri dalam pembelajaran itu sendiri serta harus memiliki kompetensi (Zulkarnain et al., 2020). Untuk mengoptimalkan pencapaian hasil belajar maka diperlukan sebuah interaksi edukatif dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran pokok yang tidak hanya mengantarkan peserta didik untuk dapat menguasai berbagai kajian keislaman, tetapi lebih menekankan pada pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran Pendidikan agama Islam tidak lepas dari materi membaca ayat- ayat Al-Qur’an. Kemampuan membaca adalah salah satu keterampilan bahasa yang fundamental dan penting dalam proses pembelajaran bahasa Arab.
Dengan kemampuan membaca yang baik, siswa dapat mengakses berbagai sumber bacaan, memahami isi teks dengan baik, dan mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap kaidah bahasa Arab. Kemampuan siswa dalam menyerap materi yang diberikan oleh guru tergantung keahlian siswa dalam menyerap materi, semakin ahli seorang siswa, semakin cepat ia menyerap materi yang diberikan oleh guru (kholiq, 2021). Kesulitan yang dihadapi siswa nampak jelas dari tingkatan prestasi belajarnya.Muhibbin Syah mengemukakan aspek pemicu permasalahan belajar (Syah, 2015). beliau menggarisbesarkan aspek pemicu munculnya kesusahan belajar atas 2 aspek, yaitu aspek internal dan aspek eksternal.
Berdasarkan hasil observasi awal yang telah dilakukan di Kelas VII-9 SMPN 6 Palangka Raya diperoleh kenyataan bahwa adanya permasalahan yang cukup signifikan terkait kemampuan membaca Al-Qur’an pada siswa. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya kemampuan membaca ayat ini antara lain: Siswa seringkali mengalami kesulitan dalam memahami teks Arab karena kurangnya pemahaman tentang huruf, kata, dan tata bahasa Arab. Ini menghambat kemampuan mereka dalam membaca dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an, selain itu rendahnya kemampuan membaca Al-Qur’an pada siswa ini memiliki implikasi yang serius. Siswa yang tidak mampu membaca dan memahami ayat ini dengan baik akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh nilai-nilai penting yang terkandung di dalamnya. Selain itu,
kemampuan membaca ayat-ayat Al-Qur’an juga merupakan kunci dalam memahami dan mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Memperhatikan latar belakang permasalahan ini, peneliti merasa perlu melakukan upaya yang sistematis dan terarah untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an pada siswa. Dalam hal ini, peneliti memilih model PBL (Problem Based Learning) sebagai pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, memperkaya pemahaman siswa tentang ayat ini dan mendorong penerapannya dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk menerapkan model Problem Based Learning dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an pada siswa kelas VII di SMPN 6 Palangka Raya. Diharapkan bahwa dengan penerapan model ini, kemampuan membaca siswa akan meningkat secara signifikan, minat mereka dalam membaca Al-Qur’an akan meningkat, dan proses pembelajaran bahasa Arab akan menjadi lebih menarik dan bermakna bagi mereka.
Metode/Metodologi
Penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang melibatkan intervensi atau tindakan yang direncanakan dan dilaksanakan secara berulang dalam konteks kelas. Dalam penelitian ini, PTK digunakan untuk menerapkan model Problem Based Learning (PBL) secara berulang dalam pembelajaran Al- Qur’an pada siswa. Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap model ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah (Kamdi, 2007 )
Metode penelitian yang digunakan terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII di SMPN 6 Palangka Raya, sedangkan obyek penelitian adalah upaya meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an melalui model Problem-Based Learning pada subyek penelitian tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 6 Palangka Raya dengan durasi penelitian berlangsung selama periode tertentu yang telah ditentukan,yaitu Waktu Mulai: 19 Juli sampai 20 Agustus 2023.
Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu tes kemampuan membaca, angket, observasi dan wawancara. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu instrumen tes kemampuan membaca yang digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap Al- Qur’an sebelum dan sesudah penerapan model PBL. Validasi instrument dilakukan dengan langkah – langkah merancang instrument, validasi isi (content validity), uji coba (pilot testing),
reliabilitas instrument dan implementasi PTK. Analisis data dilakukan menggunakan metode statistik atau analisis kualitatif, tergantung pada jenis data yang dikumpulkan. Hasil analisis akan memberikan wawasan tentang perubahan kemampuan membaca siswa setelah penerapan model PBL.
Hasil Dan Pembahasan
Berdasarkan dari hasil tes awal kemampuan siswa membaca Al-qur’an khususnya mengenai Makharajul huruf dan Bacaan Madh (Tajwid) masih sangat rendah. Kemudian dilakukan perencanaan baru dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an yaitu dengan menggunakan model PBL di setiap siklusnya. Aktivitas- aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan model Problem Based Learning mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.
Data analisis aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran
No Kegiatan Rata – Rata Skor
Siklus I Siklus II
1 Aktivitas Guru 3,25 4,4
2 Aktivitas Siswa 4,2 4,4
Aktivitas belajar membaca Al-Qur’an dilakukan dengan dua siklus. Perolehan skor pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2. Perolehan skor pada aktivitas belajar membaca Al- Qur’an siklus I No Kode
Siswa
Skor
Bacaan Kepashihan Ket.Bacaan
Makharajul huruf Bacaan Madh
1 A 45 20 25 Terbata
2 B 60 30 30 Kur Lan
3 C 55 25 30 Kur lan
4 D 70 30 40 Lancar
5 E 60 30 30 Sedang
6 F 60 30 30 Sedang
7 G 65 30 35 Lancar
8 H 60 30 30 Sedang
9 I 70 30 40 Lancar
10 J 50 25 25 Terbata-
11 K 60 30 30 Sedang
12 L 50 25 25 Kur Lan
13 M 75 40 35 Lancar
14 N 45 25 25 Terbata-
15 O 60 30 30 Sedang
16 P 70 30 40 Lancar
17 Q 70 40 30 Lancar
18 R 50 25 25 Kur lanc
19 S 75 40 35 Lancar
20 T 50 25 25 Terbata
21 U 60 30 30 Sedang
Rata- rata
60
Berdasarkan Tabel 2 dapat diperoleh informasi bahwa dari 21 siswa terperinci masih ada yang mempunyai nilai dengan kategori dibawah KKM. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya dari Astria (2016) bahwa Hasil keterampilan membaca siswa dapat dijelaskan bahwa dari 20 siswa terdapat 14 siswa yang termasuk tuntas yaitu mereka yang mencapai nilai minimal 75. Sementara ada 6 siswa yang termasuk dalam kategori belum tuntas yaitu mereka yang mencapai nilai kurang dari standar KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) 75. Hasil penilaian keterampilan membaca pada siklus I memperlihatkan adanya beberapa siswa yang masih kurang dalam membaca.
Berdasarkan keadaan-keadaan di atas dapat dikatakan bahwa aktivitas belajar membaca Al-Qur’an peserta didik kelas VII-9 SMPN 6 Palangka Raya pada siklus I rata-rata nilai masih di bawah standar yaitu skor 60. Selain itu, distribusi persentase perolehan hasil angket pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.
Distribusi Persentasi Perolehan Hasil Angket
No Kriteria Respon Siswa Persentasi
Pencapaian 1 “Lebih percaya diri” dan Sedikit
lebih percaya diri” 42,9 %
2 “Sangat Ingin” dan “Ingin” 47,6 %
3 “Sangat Mampu” dan “Mampu” 23,8 %
4 “Sangat Efektif” dan “ Efektif” 33,3%
Berdasarkan tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa perolehan persentasi pencapaian untuk masing-masing kriteria respon siswa masih belum memenuhi. Kemudian perolehan skor aktivitas belajar membaca Al-Qur’an siklus II dapat dilihat pada skor aktivitas belajar membaca siswa. Perolehan skor aktivitas belajar membaca
Al-Qur'an siswa mengungkapkan bahwa dari data yang tercatat dari 21 siswa, mereka telah berhasil mencapai pencapaian skor belajar dan kemampuan membaca Al-Qur'an yang melebihi Ketuntasan Minimal (KKM). Dalam analisis rinci, rata-rata skor yang diperoleh adalah sebesar 73,09.
Hal ini menunjukkan bahwa siswa-siswa tersebut telah menunjukkan komitmen dan usaha yang tinggi dalam mengembangkan keterampilan membaca Al- Qur'an. Pencapaian skor di atas KKM juga dapat diartikan sebagai indikasi bahwa siswa-siswa ini telah berhasil mencapai tingkat penguasaan yang memadai terhadap bacaan Al-Qur'an, serta pemahaman terhadap tajwid dan aturan-aturan baca yang diperlukan. Data ini mencerminkan adanya upaya belajar yang berkelanjutan dan kemungkinan adanya dukungan yang efektif dari pihak sekolah, guru, dan mungkin juga lingkungan keluarga. Pencapaian di atas KKM juga dapat memotivasi siswa-siswa ini untuk terus meningkatkan keterampilan mereka dalam membaca Al-Qur'an dan memperdalam pemahaman tentang konten-konten religius yang terkandung di dalamnya.
Berdasarkan hasil data tersebut dapat diperoleh informasi dari 21 siswa terperinci bahwa perolehan skor belajar dan belartih membaca Al-Qur’an siswa sudah diatas KKM dengan rata – rata 73,09. Selain itu, distribusi persentase perolehan hasil angket dapat dilihat pada siklus II. Distribusi persentase perolehan hasil angket yang menggambarkan respon siswa terhadap beberapa pernyataan tertentu berisi informasi tentang persentase pencapaian untuk setiap kategori respon yang telah diidentifikasi. Terdapat empat kategori respon yang dievaluasi yaitu :
Kategori pertama, dengan respon "Lebih percaya diri" dan "Sedikit lebih percaya diri", mendapatkan persentase pencapaian sebesar 71,4%. Ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa (71,4%) merasa memiliki tingkat kepercayaan diri yang meningkat setelah terlibat dalam kegiatan atau pengalaman yang diselidiki oleh angket. Kategori kedua, yang terdiri dari respon "Sangat Mampu" dan "Mampu", memiliki persentase pencapaian sebesar 42,9%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian siswa (42,9%) merasa memiliki kemampuan yang signifikan atau cukup dalam konteks tertentu yang ditanyakan dalam angket.
Kategori ketiga, dengan respon "Sangat Efektif" dan "Efektif", memiliki persentase pencapaian sebesar 52,4%. Ini mengindikasikan bahwa lebih dari separuh siswa (52,4%) merasa bahwa metode atau strategi yang dianalisis dalam angket sangat efektif atau efektif dalam mencapai tujuan tertentu. Kategori terakhir, yang melibatkan respon "Sangat Ingin" dan "Ingin", memiliki persentase pencapaian sebesar 71,4%. Ini menggambarkan bahwa mayoritas siswa (71,4%) menunjukkan minat atau motivasi yang tinggi terhadap suatu hal yang menjadi
fokus dalam angket. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa perolehan persentasi pencapaian untuk masing-masing kriteria respon siswa sudah memenuhi.
Berdasarkan hasil perolehan persentase tersebut, maka hipotesis pada penelitian ini dinyatakan benar bahwa yang dicapai pada siklus I terlihat bahwa aktivitas belajar siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia sesuai dengan langkah- langkah pembelajaran Problem Based Learning dan tergolong pada kategori cukup baik. Akan tetapi pada siklus II, aktivitas belajar siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia mengalami peningkatan, yaitu sudah sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran Problem Based Learning dan tergolong kategori sangat baik. Dan peningkatan yang terlihat jelas ada pada aspek membaca teks bacaan bersama kelompoknya. Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran dengan menerapkan model Problem Based Learning dapat meningkatkan keterampilan membaca siswa dalam pelajaran bahasa Indonesia. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya dari Astria, (2016) bahwa penggunaan model Problem Based Learning dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada membaca dapat meningkatkan ketrampilan membaca siswa kelas IV SD Insan Teladan Parung Bogor.
Berdasarkan data – data yang sudah diperoleh menyatakan bahwa aktivitas- aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan model Problem Based Learning mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II, Perbandingan aktivitas guru pada siklus I memperoleh skor rata-rata 4,2 dan siklus II memperoleh skor rata- rata 4,4. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 0,2. Demikian juga perbandingan aktivitas-aktivitas siswa pada siklus I memperoleh skor rata-rata 3,25 dan siklus II memperoleh skor rata-rata 4,4. Jadi aktivitas siswa juga mengalami peningkatan sebesar 1,15. Perolehan skor pada aktivitas belajar membaca Al-Qur’an dinyatakan dengan skor rata-rata yaitu pada siklus I 60 dan naik pada siklus II menjadi 73,09.
Data analisis Hasil Angket untuk mengetahui Respon Siswa terhadap penerapan Model PBL pada pembelajaran membaca Al-Qur’an untuk masing-masing kriteria respon siswa mengalami peningkatan peningkatan dari siklus I ke siklus II yaitu : kriteria jawaban siswa “Percaya diri” dan “Sedikit lebih pada siklus I mencapai 42,9% naik pada siklus II mencapai 71,4%, jawaban siswa “Sangat ingin “ dan “ingin” pada siklus I mencapai 47,6% naik pada siklus II mencapai 71,4% , jawaban siswa “Sangat mampu” dan “Mampu” pada siklus I mencapai 23,8% naik pada siklus II mencapai 42,9% dan jawaban siswa “ Sangat efektif’
dan “Efektif” pada siklus I mencapai 33,3% juga mengalami kenaikan pada siklus II mencapai 52,4%.
Berdasarkan hasil tersebut, maka hipotesis pada penelitian ini dinyatakan benar bahwa dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an siswa kelas VII SMPN 6
Palangka Raya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya dari Astria (2016) bahwa penggunaan model Problem Based Learning dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada membaca dapat meningkatkan ketrampilan membaca siswa kelas IV SD Insan Teladan Parung Bogor. Berdasarkan keadaan-keadaan di atas maka model pembelajaran Problem Based learning dapat memberikan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna sehingga efektif untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa dalam membaca Al-Qur’an khususnya QS: An-Nisa Ayat 5.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari Siklus 1 dan Siklus 2, dapat diambil kesimpulan bahwa model Problem Based Learning (PBL) efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an siswa kelas VII SMPN 6 Palangka Raya. PBL telah membantu siswa untuk lebih aktif terlibat dalam pembelajaran, mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap isi Al-Qur'an, serta meningkatkan keterampilan analitis, kolaboratif, dan kritis mereka.
Meskipun demikian, perlu diingat bahwa implementasi PBL memerlukan dukungan yang berkelanjutan dan evaluasi berkelanjutan untuk memastikan keberlanjutan dan perbaikan terus menerus dalam proses pembelajaran.
Referensi
A.Kholik dan A. Mahruddin. Konsep Adab Belajar Murid Dalam Kitab Ta’lim Muta’alim The Concept Of Learning Attitude In The Book Of Ta’lim Muta’alim.
Jurnal Sosial Humainiora.4, No. 1 (2013).
Habibi,2022 “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Melalui Model Pembelajaran Discovery Learning dan Media Audio Visual Pada Materi Iman Kepada Kitab- Kitab Allah SWT di Kelas XI “
Kamdi, W. dkk. (2007). Model- model Pembelajaran Inovatif. Malang:
Universitas Negeri Malang.
Muhibbin Syah. 2015. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Astri, 2016 “Implementasi Model Problem Based Learning untuk meningkatkan Keterampilan Membaca Siswa Kelas IV SD Insan Teladan Parung Bogor”
Zulkarnain, A. I., Supriadi, G., & Saudah, S. (2020). Problematika Lembaga PAUD dalam Memenuhi Kebutuhan Tenaga Pendidik Sesuai Kualifikasi. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), 14.
https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i1.491