• Tidak ada hasil yang ditemukan

llmu Hukum Oktober,20l7 - Unissula

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "llmu Hukum Oktober,20l7 - Unissula"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

llmu Hukum

LAFORAN HASIL

PENELMAN

PRODUK TER.APAN

Tahun perhma 20i7

-__ PENGEMBANGAN^STRATEGI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PELAKU USAHA I.'Cii iii}i-ii XO'A SEMARANG

TIM

PENGUSUL:

Ketua :

Dr.

Maryanto,

SH,. M.H. (NIDN.0629036301) Angglota:

Arpangi,

SH,M,H. (NIDN. 061

106680,

TINTVERSITAS ISLAM SULTAN AGTING SEMARANG

Oktober,20l7

48 o

orf

UN L,L.A

(2)

llmu Hukum

LapoRm xast

PENELITIAN PRODUK

TERAPAN Tahun pertama 20i7

PENGEMBANGAN^qTIATEGI

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PELAKU USAHA KE'ii iliiT-OT KOTA SEMARANG

TIM

PENGUSUL:

Ketua :

Dr.

Maryanto,

SH,. M.H. (NIDN. 0629086301) Anggota:

Arpangi,

SH,NI.H. (NIDN. 061 1066E05)

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMAR{NG

Oktober,20t7

m

q!

jI

(3)

Judul

HALAMAN PENGESAHAN

: PENGEMBANGAN

STRATEGI

PERLINDUNGAN HUKI]M TERHADAP PELAKU USAHA KECIL RITEL DI KOTA SEMARANG

: MARYANTO,

S.H.,

M.H.

:

Universitas Islam Sultan Agung :0629086301

:

Lektor Kepala

: Ilmu

Hukum

:

081326114495

:

[email protected]

: ARPANGI

S.H.

:0611066805

:

Universitas Islam Sultan Agung

:

Tahun

ke I

dari rencana 2 tahun

:

Rp 62,000,000

: Rp

137,000,000

Kota S

24-tO-20t'7

Peneliti/Pelsksane Nama Lengkap Perguruan

Tinggi NIDN

Jabatan Fungsional Program Studi Nomor HP

Alamat surel (e-mail)

Anggota (l)

Nama Lengkap

NIDN

Perguruan

Tinggi

Institusi Mitra (ika

ada) Nama tnstitusi

Mitra

Alamat

Penanggrmg Jawab

Tahul

Pelaksanern Biaya Tahun Bet'alan Biaya Keselumhan

, .1,

v

Mengetahui,

ekan FakultasHukum Unissula

tc ta

$\, . Gunarto, SE,Akt, SH.M.Hum.)

NIP/I{IK

21038901 6

(MAR

Menyenrjui,

U

ula

L{$? LPPM

tyo, SE,.MSi.) 10493032

S

.,M.H.)

NIP 21 92035

tI

o

=

6,

!

(4)

T

E

(5)

RINGKASAN

Sebagai landasan

dalam

menjalankan demokrasi

ekonomi

sebagaimana tersurat

dalam

Pasal

33 Ayat (4),

Pasal

33 Ayat (l)

Undang-Undang Dasar Negara Republik

lndonesia 1945 telah

menggariskan secara tegas bahwa paham

ekonomi yang

harus

dijalankan

adalah paham yaog didasarkan pada asas kebersamaan dan asas kekeluargaan.

Berdasarkan paham tersebut maka kepentingan masyarakat hanslah menjadi tujuan urama Pelaku usaha

kecil di

bidang

ritel

sebagai bagian dari masyarakat yang

jpmtafuly2

sangat banyak

dan

menduduki

uruEn

kedua setelah pertanian dalam penyerapan tenaga

kerja di

Indonesia, sudah sepantasnya mendapatkan perhatian .ran perlindungan hukum dari negara apalagi telah terbukti bahwa pelaku usaha

kecil

telah menjadi katup pengaman

ketika

negeri

ini

mengalami resesi ekonomi

di

tahrm 1997.

Bukti

belum adanya perhatian yang cukup

dari

negara antara

lain

karena terdapat berbagai pengertian

dari

lembaga dan peraturan penmdangan

yang

mengatur tentang pelaku usaha

kecil. Hal

mana berakibat

tidak fokusnya

pembina"n, karena masing-masing lembaga hanya melakukan tindakan s€suai tugasnya

yang bersifat

egosektoral sehingga

pelaku usa}a kecil semakin

lemah

posisinya-

Tujuan

Penelitian adalah

Untuk

Mengetahui Mengapa perlindungan

Hukum

yang

diberikan kepada Pelaku Usaha Kecil di bidang Ritel belum ,tapat

mewujudkan Persaiangan Usaha

yang Be*eadilan.

Jenis Penelitian

yang kami lakukan

adalah Jenis Penelitian

Deskriptif Analitis

dengan menggunakan Metode pendekatan y

uridis Normatif yakni

Penelitian yang menggunakan data sekunder sebagai data utamanya.

Hasil penelitian tahun

perrama

yang peneliti lakukan adalah bahwa

semakin

lemahnya posisi pelaku usaha kecil pasar tradsional sebagai akibat

banyaknya bermunculan

Ritel toko Modem di

berbagai

wilayah

perkampungan

di kota

Semarang, sehingga

berakibat semakin mundumya Ritel tradisional

sebagaimana

UU

persaingan usaha

yang

ada dirasakan dan

belum

dapat memberikan

perlindungan bagi

persaingan yang berkeadilan antara Pelaku Usaha

Kecil Rirel

dengan pelaku Usaha

Ritel Modem.

.

OIeh

karena

itu peneliti

akan

mengembangkan

pada

penelitian berikutnya

yairu Pengembangan

strategi Peraturan

Daerah terhadap

Perlindungan Hukum bagi

pelaku Usaha

Kecil

Ritel

di

Kota semar:rng.

Kata Kunci

: Pengembangan

Strategi, Perlindungan Hukum, pelaku

Usaha

KeciV Ritel.

l

(6)

PRAKATA

;4&tsx;--_t\

Alhamdulillab, Puji

dan syukur

kami

panjatkan kehadirat

Allah SWT, yang

telah

melimpal*an

rahmat dan hidayah-Nya" sehingga

dhamdulillah

kami dapat menyelesaikan

Laporan Penelitian Terapan Tahun Ke-l yang berjudul "pengembangan

Strategi Perlindnngan

Hukum

Terhadry Pelaku Usaha

Kecil

Ritel

di

Kota Semarang.

Lapomn penelitian ini belum sepenuhnya s€mpurna, dan masih

dalam

p.nyempunuun sehingga peneliti berharap semoga laporan penelitian ini

dapat

memberikan

wacana

baru

dan dapat bermanfaat

bagi

para

Ritel di Kota

Semarang dan

L lrususnya

bagr para pemeftati para

pengembang

Pelaku

Usaha

Kecil Ritel di Kota

Semarang

agar dapat

mernberikan

peluang dan

kes€mpatan

bagi pelaku

usaha

kecil tradisional

agar mereka

tidak

termarginalkan daiam merrgembangkan usahanya, sehingga sama-sarna merasiakan hak yang sama sebagai warga nergara.

oleh

karenanya tanpa ada pihak yang dirugikan demi untuk mencapai berkeadilan.

Bahwa laporan penelitian ini dapat tersusun

merupakan

hasil

kerjasama

tim,

seiringga kami

ingin

mengucapkan banyak terima

kasih

kepada:

l- Direktur Penelitian dan

PengaMian kepada Masyarakal,

Ditjen Dikti,

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional yang telah memberikan kesempatan dan bantuan dana penelitian.

2.

Pirnpinan Fakultas

IIukum Unissula

yang telah menrberikan

ijin

untuk melaksanakan kegiatan penelitian

ini.

sehingga dapat kami selesaikan dengan baik.

I

(7)

3- Kehn Lembaga Penelitian dan PengaMian pada Masyarakat (LppM)

Unissula Semarang

4. Para

Pelaku usaha

Kecil di

Kota Semarang (Superindo, lndomart dan

Alfamart)

yang telah bekerjasama

d"lam

membantu pelaksanaan penelitian

ini.

Peneliti menyadari

bahwa

dalam

penulisan laporan

penelitian ini masih

banyak kekurangan dan masih

jauh

dari sempuma

oleh

karena

itu

segala

kritik

dan saran sangat peneliti harapkan dari pihak rnanap,rrt demi kesempqmaan penelitian

ini.

Akhimya kami

berharap dan berdo'a semoga hasil penelitian

ini

dapat memberikan sumbangsih khususnya

bagi

institusi Fak. Hukum unissula dan

umumnya

para pemerhati

Ritel di

Kota Semaraag.

Wassalarnu'alaikum Wr.

Wb.

Semarang,

24

OktobfJr 2017

Tim

Peneliti
(8)

DAF"TAR ISI

Halaman

RINGKASAN ... iii

KATA PENGANTAR- ... iv

BAB I. PENDAHULUAN I

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

5

BAB III. METODE PENELITIAN 56

BAB IV.IIASIL DAN PEMBAHASAN 63

BAts V. KESIMPULAN DAN SARAN 93

DATTAR PUSTAKA LAMPIRAN - LAMPIRAN

\t

(9)

DAFTAR GAMBAR

NO. Nomor Nama Bagan/Gambar Halaman

1. 2.1 Bagan

ditinjau dari Kajian Hukum Ekonomi

7

, 3.1. Bagan Alir Penelitian 56

\ tl

(10)

DAF-IARTABEL

NO. Nomor Nama Tabel Ifalaman

I 4.1 Jenis dagangan yang diperjualbel ikan

di Pasar Peterongan tahun 2015 dan 2016

79

) 4.2. Rata - rata tingkat Pendapatan di

Pasar Peterongan tahun

201

5 dan 2016

80

3. 43 Tingkat Perkembangan Pasar Modem tahun 2015 dan2o16

8l

I

If

i

)

\lI

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

l. Later Belakeng

Sebagai landasan

dalam

menjalankan dernokrasi

ekonomi

sebagaimana

ter$rat di dalam

Pasal

33 Ayar (4),

Pasal

33 ayat (l) UUD NRI

1945 telah menggariskan secara tegas bahwa paham ekononomi yang harus dijalankan adalah

pabam yang didasarkan pada asas kebersamaan rtan asas

kekeluargaan.

Berdasarkan

paham tersebut maka kepentingan

masyarakat

haruslah

menjadi

hmpuar

utama,

tetapi

dalam perjalanan bangsa Indonesia

ke

depan paham

ini

telah digantikan oleh paham liberal yang lebih mengutamakan kedaulatan pasar.

Sebagaima'ra yang terjadi, selama

kunrn

waktu 5 tahun terakhir

ini,

pasar

tradisonal

menjadi

korban dari

perkembangan

mini market

yang

terjadi di

kota dan

di

daerah

pingglran

kota yang begitu

pesat

s€hingga

berakibat

menjadikan konsumen atau masyarakat beralih kepada

mini martet

seperti indoman dan alfa bahkan

indomart. Oleh

karena

itu banyak

berakibat pedagang pasar tradisional banyak yang

jatuh

miskin, akibat adanya pasar bebas.

Perkembangan

mini market yang

memberikan dampak

bagi

masyarakat

kecil

khususnya pedagang tradisional yang

tidak dapat

berkembang

lebih

maju.

dalam

menj

ual

dagangannya" bahkan

lebih jauh dalam

mempromosikan barang

produksinya. Maka kemakmuran suatu bangsa sangat ditentukan

oleh kemampuan menjalankan roda perekonomian yang dilakukan oleh para pedagang.

Di

lndonesia para pedagang

ini

sering disebut sebagai pelaku usaha yang berdasar Pasal

I Ul

I

No

5 tahun 1999 Tentang Larangan Praktik

Monopoli

Dan persaingan Usaha

l'idak

Sehat(Susanti

Adi

Nugroho.

2001),

yang selanjutnya disebut sebagai

liU

Persaingan

Usaha,

didetlnisikan sebagai sctiap orang atau badan usaha, baik

1

(12)

yang berbentuk badan hukurn alau bukan badan hukurn yang didirikan

dan berkedudukan atau melakukan kegiatan

dalam wilayah hukum

negara Republik

lndonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui

perjanjian, meryelerggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi.

Hilanpya m"kna keadilan ini terutama

dirasakan

oleh

sebagian besar masyarakat lndonesia dengan semakin kuatnya arus globalisasi

di

segala bidang

terutama di bidang ekonomi. Melalui globalisasi

ekonomi/liberalisasi perdagangan/perdagangan bebas tercipta peluang maupun tantangan bagi negara- negara

di

dunia- Proses

gobalisasi

telah mengubah wajah dunia secara mendasar, yalng

terutama

disebabkan

oleh dtra faktor

pendorong,

yaitu kebijakan

negara- negara

untuk saling

membuka

diri satu

sama

lain

pada berbagai aspek, serta perkembangan

teknologi

informasi. Globalisasi telah menjadi metafora baru bagi

kelompok

pendukung

utopia

pasar

abad sembilan

belas mengenai pandangan neoliberal mereka. Kredo

inti

dari neolibemlisme

meliputi prioritas

pertumbuhan

ekonomi,

pentingnya perdagangan bebas

unnrk

merangsang pertumbuhan, pasar bebas

yang tidak

terbatas,

pilihan individual,

pemangkasan regulasi pemerintah

dan

dukungan pada

model

pembangunan

sosial yang

evolusioner sebagaimana yang telah ditcrapkan

di

negara-negara barat.(Nanik

'Irihastuti,

201 I )

Banyak negara tclah menikmati manfaat positif dari

liberalisasi perdagangan,

namun banyak pula yang justru terpinggirkan sebagai

akibat gagalnya mekanisme pasar karena pasar yang

tidak

sempuma. Hal tersebut terjadi

karena pelaku

usaha cenderung

untuk mencari jalan pintas dalam

penerapan

prinsip

ekonomi,

yaitu untuk

mencari kcuntungan yang sebesar-besamya dengan mengutamakan

prinsip

efisiensi. Selain

itu

dalam dunia usaha

juga

sering terjadi adanya kecenderungan

unluk berperilaku

sebagai

pcmburu renle (rtnl

seeking
(13)

behavior) yakni

suatu

sifat

pelaku usaha

untuk

memudahkan cara mernperoleh keuntungan dengan cara menggunakan modal yang menjadi

hak milik

orang

lain

atau

hak milik publik untuk

kepentingan dan keunttmgannya

sendiri. (Didik

J

Rachbini,20t)2)

Berdasarkan lafar belakang

di

atas,

kami tertarik

dan berkeinginan untuk mengusulkan permasalalmn tersebut

di

atas, untuk karni usulkan Penelitian Produk Terapan dengan

judul penelitian "

Pengembangan Strategi Perlindrmgan Hukum Terhadap Pelaku Usaha

Kecil

Ritel

di

Kota Semaftrng

"

.

lI.

Permasalahan

Perkernbangan

ritel modem yang demikian agresif di wilayah

perkamprmgan

telah

menjadikan

iritel tradisional yang

umumnya diusahakan oleh pelaku usaha

kecil

semakin

tidak

menjadi

pilihan

bagr masyarakat dalam

berbelanja memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Persaingan bisnis

tidak seimbang antara

ritel modern dan tradisional terjadi

karena

ritel

tradisional ditempatkan pada posisi yang lemah. Perbedaan

karakteristik

yang berbanding

terbalik

semakin memperlemah posisi

ritel

tradisional, regulasi yang tidak jelas berkenaan dengan

industri ritel.

terutama menyangkut lokasi,

jarak

antara

ritel tradisional

dengan

ritel modcm

telah menambah

berat

upaya

melindungi ritel

tradisional yang ada

di hdonesia

Guna mengupas problematik yang ada dalam masyarakat

dan

memfokuskan kajian secara mendalam terhadap persoalan di atas,

maka dirumuskan pcrmasalahan sehagai

berikut. yakni

:

,:)

(14)

l. Mengap prlindrmgan

hukum yang

diberikan

kepada pelaku usaha

kecil di

bidang

ritel

behmr dapat mewujudkan persaingan usaha yang berkeadilan?

2.

Bagafunanakah pengembangan strategi perlindungan hukum terhadap

pelaku usaha kecil di bidang ritel delarn rangka

mewujudkan persaingan usaha yang berkeadilan?

I

(15)

BAB

TI

TINJAUAN PUSTAXA

l.

Sistem

Perekonomian Indonesia

dan

Hukum Ekonomi Indonesia.

I.l.

Sistcm

Perekonomien Indonesia.

lruD NRI 1945 telah menggariskan dengan tegas

sistim perekonomian yang hanrs dijalankan oleh bangsa Indonesia

ke

depan yakni

Sistim

Ekonomi Pancasila

Sistim

ekonomi Pancasila adalah sistim ekonomi

yang

didasarkan

pada

keteotuan Pasal

33 ayat (I) truD NRI 1945

yang berorientasi pada asas kebermmaan dan asas kekeluargaan. Berdasarkan pada ketentuan pasal terscbut

m"ka

yang menjadi tujuan utama dari

jalannya

roda

perekonomian dalam mencapai

kesejahteraan adalah rakyat, bukan golongan atau

individu.

(Jimly Ashidiqie,2O08)

Berdasarkan

pedoman seperti itu, Rewisond Baswir

berpendapat bahwa

tidak

berarti persaingan sama sekali dilarang

dalam

sistem ekonomi Pancasila-

Akan

tetapi, sesuai dengan panduan ayat pertama tersebut, dalam penyelenggaraan

sistim ekonomi

kerakyatan, kerjasama

harus tetap

lebih

diutamakan daripada persaingan.

Seandainya

terjadi persaingan

antara sesama

pelaku ekonomi Indonesia, maka tujuan utama bukanlah

untuk

berlomba-lomba melipatgandakan keuntungan. apalagi untuk

saling meniadakan,

tujuan utama

persaingan

dalam sistem ekonomi

kerakyatan harus tetap

diletallan dalam

kerangka

untuk

mengutamakan kemakmuran masyarakat

di

atas kemakmuran orang seorang-

1.2. llukum l,kononri Indonesia

llukum Persaingan usaha sebagai bagian dari lrukum

ekonomi Indonesia mcrupakan

hukum yang lahir

setelah bangsa Indonesia menikmati

l

(16)

kemerdek""nnya selama

lebih dari

setengah abad dan setelah pendobrakan tata

hukum kolonial menjadi tata hukum nasional, maka kedudukan

hukum persaingan usaha berada

di luar

sistem

hukum

Indonesia yang sebagaian besar

berasal dari peninggalan

pemerintahan

kolonial yang berlaku

berdasarkan kctentuan Pasal

II

Aturan Peralihan

UtlD

1945.

Sistem hukum di lndonesia tersebut selama ini dibagi

secara

konvensional dalam beberapa asas

hukum yakni Hukum Publik

yang

meliputi

Hukum

Pidana

Hukum Tata Negara

dan Hukum

Administrasi Negara, serta Hukum Privat

yang meliputi

Hukum Perdata dan Hukum Dagang.

Apabila

tetap

berpijak

pada pembagian

hukun

secara konvensional

tersebut maka pertumbuhan dan perkembangan ekonomi tidak

dapat

terwadahi oleh hukum, hal ini akan dapat menyebabkan

terganggunya perekonomian nasional. Sebagaimana dikernukan

oleir

pakar

hukum

ekonomi

Sri Redjeki

Hartono

yang

berpendapat bahwa bidang

kajian hukum

ekonomi

adalah sangal luas, karena meliputi dua ruang lingkup sekaligus,yaitu: Pertama, pengaturan

usaha-usaha pembangunan ekonomi

dalam pcngertian peningkatan kehidupan ekonomi nasional

secara makro;

Kedua.

pengaturan usaha-usaha pembagian hasil pembangunan ekonomi secara mcrata.

Mengingat luasnya bidang kajian hukum ekonomi pada umumnya, maka hukum ekonomi dapat dikatakan mampu mengakomodasikan dua aspek hukum sekaligus sebagai suatu kajian yang komprehensif.

Adapun aspek hukum yang dimaksud

meliputi

baik aspek hukum publik maupun aspek hukum perdata, sehingga

dari

kedua aspek tersebut mengandung

6

I

I

(17)

Hukum ekonomi

berdasarkan

uraian di

atas,

memiliki dimensi

baik

hukum publik

dan

hukum

perdata.

Oleh

karena

itu hukum

persaingan usaha merupakan

bagian dari hukum ekonomi maka dapat dikatakan pula

bahwa

hukum

persaingan usaha

juga memiliki dimensi bidang hukrrm tata

negara (lembaga dan instansi resmi, pusat dan daerah, sep€rti eksistensi Departemen

dan Dinas

Perindustrian

dan

Perdagangan,

dan

eksistensi

Komisi

Pengawas Persaingan Usaha;

bideng hukum

perdata

(seperti

eksistensi

perjanjian

dan

kontrak di ddam

kasusu-kasus persaingan usaha);

dan

bidang pidana (sanksi pidana dalam

UU

No.5

Tahm

1999)-

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam kerangka

sistem

hukum

nasional, hukum persaingan usaha sebagai bagian

dari

hukum ekonomi

tidak hanya berdimensi hukum

perdata

saja, tetzpi lebih h:as lagi

yakni

melingkupi

hukurn

publik.

s t

2.

Peran

Negara dalem

Negara Kesejahteraan,

Peran negara sebagai regulator sangat menenlukan

bagi

terselenggaranya negara kesejahteraan. Tanpa peran negara melalui regulasinva- maka pelaku usaha

kecil

khususnya

bidang riteel akan tetap berposisi lemah dalam

pelaksanaan kegiatan ekonomi dibandingkan dengan pelaku usaha yang lehih besar.

2.1 .

Kewajiban den

Tanggung Jawab Negara

Dalam melindungi

PelakuUsahe

Kecil di

Bidang

Ritel.

Dibentuknya suatu negara mempunyai

tujuan

yang secara garis besar

adalah untuk melindungi seluruh pendrrduk agar lercapai rasa

aman.

lercapainya kesejahteraan bcrsama serta meningkatkan derajat sebagai umat a

?

,

(18)

ma lsia Ildonesia sebagai

sebuah negara

memprmyai kewajiban

dan tanggmg

jawab

yang serupa dengan apa yang disebutkan

di

atas.

Perkemhangan

peran

negam

dalam

sejarah perjalanan negara pada urnrnnnya

telah terjadi

beberapa

kali

pergeseran pandqngan tentang negara sebagai

akibaf

kegagalan

dalarn

mencapai

tujuan

bersama terutama dalam

al6lingkatkan derajat sebagai umat maousia Kegagalan ini

telah mengakibatkan

terjadinya

kelas-kelas

di dalam

masyarakat. Konsep negara hukum

tidak lain

adalah suatu usaha rmtuk meningkatkan derajat kemanusiaan serta

ti.lak

adanya

diskrimirnsi

antar

rsama umat

manusia

sebagai

warga negara dari suatu negara

Perjalanan

sejarah negara dalam mengemban tanggungiawabnya terus

berkembang

sejalan dengan

perkembangan

sejarah tersebut, secara garis besar dapat digarnbarkan sebagai berikut

yakni

mutai dari

pemikiran

negara

hukum liberal atau

yang lebih

dikenal

sebagai negara

penjaga

malam (night watchn

an

state)

ke

negara hukum

formal

kemu<iian

menjadi

negara hukum

meteriil hingga

parla

konsepsi

negara kesejahteraan

(welfare stale)

Negara kesejahleraan

adalah suatu bentuk pemerintahan yang demokratis

yang menegaskan bahwa negara bertanggung

jawab

terhadap kesejahteraan rakvar

yang minimal. Dalam konteks ini pemerintah harus mengatur

pembagian kekayaan negara agar

tidak

ada rakyat yang kelaparan dan

tidak

ada rakyat yang menemui ajalnya karena tidak dapat membayar biaya rumah

sakit.

Dapat

dikatakan bahwa

negara kesejahteraan mengandung

unsur

sosialisme yang mementingkan keseiahter:ran

di bidang politik

maupun

di bidang

ekonomi.

Dapat

juga

dikatakan bahwa negara kesejahteraan mengandung asas kebebasan

(libertv),

asas kesetaraan hak

(ttluality)

maupun asas persahabatan (lraternit.v)

I

(19)

atau kebersamaan

(mutuality)

yang dapat disamakan dengan asas kekeluargaan dan gotong royong.

Negara huktrm

liberal

atau yang sering disebut sebagai negara hukum

dalam arti sempit

adalah konsepsi yang

diberikaa oleh Imanuel Kan!

yang

kemrmculannya bersamaan dengan lahimya faham liberalisme

yang menentang kekuasaan

absolut

dari para raja pada masa

itu.

Faham liberalisme

muncul

sebagai

antitesis dari faham mercontalisme yang pada

saat

itu tumbuh subur di

Perancis

di

masa pemerintahan

Lodewijk XIV,

Spanyol dan

port4as.

Sementara

di

Jerman

d"n Australia

faham mercantalisme bemama

karnelis5snscffi.

Faham

ini menghendaki

suatu

negara perdagangan

yang

positif yang mana hal ini berpengaruh pada bentuk

negera

dan

bentuk

pemerintahan yaitu monorchi absolule, di mana raja yang

menentukan

sebagala

kepentingan

rakyatnya

tetapi

rakyat tidak

-tidak

boleh

ikut

campur

tangan. Faham liberalism berpendapat bahwa

justru

negara harus melepaskan

dir,nya dari campur tangan unrsan kepentingan rakyatnya. Hal ini

berpengaruh pada

bentuk

negara

dan

bentuk

pemerintahan yang

kemudian

menjadi monarchi konstitusionul. yaitu

adanya pembatasan kekuasaan raja oleh konstitusi sebagai akibat dan perjanjian yang dilakukan dengan rakyatnya yang menentukan kedua belah pihak dalam kedudukan yang sama.

OIeh karena

itu

tipe negara pada masa

itu

adalah negara hukum litreral.

Dalam negara

hukum liberal ini

terdapat

jaminan

bahwa setiap warga negara mempunyai kedudukan

yang

sama dan

tidak boleh diperlakukan

sewenang-

wenang oleh

penguasa.

Maka untuk mencapai tujuan ini. negara

harus

mengadakan pemisahan kekuasaan yang masing-masing

mempunyai kedudukan yang sama

linggi,

tidak boleh saling mempcngaruhi dan ridak boleh

l0

(20)

campur tengan satu sama

lain

sehingga

untuk

dapat

disebut

sebagai negara

hukum tipe ini

harus

memiliki 2

(dua)

"nsur

pokok

yaitu : (l)

Perlindrurgan terhadap hak asasi manusia; dan

(2)

Pemisalnn kekuasaan dalam negara.(Moh.

Koesnardi dan Bintan Saragih. 2009)

Dalam pe*embangan selanjutnya faham liberalisme ini

tidak

dikehendaki

oleh masyaraka! sehingga negara terpaksa

turut

campur tangan delqm ruusan

kepentingan

rakyat, hanya saja

masih

dalam batas-batas yang ditentukan.

Sejak

itulah Iahir

negara

hukum fonnil yakni

suatu negara yang didalamnya mengandrmg

uo$r-unsur: (l)

Perlindungan

tertradq hak

asasi

manusi4

(2)

Pemisahan

pembagian kekuasaan;

(3) Setiap tindakan pemerintah

harus

didasarkan pada peraturan

perundang-undangan

yang telah ada; dan

(4)

Adanya peradilan Administrasi yang berdiri sendiri (Hasan

Zaini, l97l).

Dalam

persfektif

negara

hukum formii ini,

negara

hanya

dipandang e,bagai instrument of

power

belaka.

Akibat

pandangan yang

demikian

maka timbulah reaksi di dalam masyarakat yang berwujud pemikiran-pemikiran baru tentang sistem kenegaraan.

yakni aliran-aliran

yang

tidak

hernya memandang negara sebagai

iratrumenl of power

belaka tetapi

justru

negara dipandang

sebagai agency

of

service. Berdasarkan konsep yang demikizur maka lahirlah

konx,p

welafare s/a/e. Konsep

l{el/itre

state

ini

merupakan

istilah lain

untuk menyebut negara hukum

materiil,

yang sebenamya merupakan perkembangan lebih lanjut dari konsepsi negara hukum

lbrmil.

Dalam konsepsi negara hukum

materiil ini

tindakan pengua-sa

dalarn

keadaan mendesak

demi

kepentingan warg:mya dibenarkan bertindak menyimpang dari undang-undang.

Tipe

negara

lt

(21)

semakin luasnya peranan negara dalam kehidupan sosial,

ekonomi

dan budaya.l

Dalam

kosepsi negara

hukum meteriil ini

kewenangan negara dalam penyelenggaraan kepentingan

umum

sangatlah

luas

sehingga

terjadi

banyak kecenderungan penyalahgrmaan kekuasaan

dalarn

pelaksananaannya. Guna menghindari hal yang demikian maka peradilan administrasi menjadi sangatlah

urgen demi

mempertanggmgiawabkan adanya penyelewengan

oleh

alat-alat

negara dal6p melaksanakan tugasnya Indonesia, sebagai negara

yang meneguhkan

diri

sebagai negara

hukum

sebagaimana ditetapkan dalam

UUD 1945

sebelum amandement 5662

rlal41 Pasal I Ayat (3) UUD NRI

1945

dinyatakan bahwa

lndonesia adalah negara hukum.2.

Jika dikaitkan

dengan

lmsur-unsur

negara

hukum

maka

dapat ditemukan

beberapa elemen negara hukum dalam

UtlD NRI

1945 sebagai

berikut:

l.

Perlindungan terhadap

HAM.

2.

Pemisahar/pembagian kekuasaan.

3.

Pemerintahanberdasarkanundang-undang.

4.

Peradilan administrasi yang

bcrdiri

sendiri.

'

,S,re4ono So€kanto, Beheropci permasalohan

hukun tlalam

kerangka pembangunan di lndonesie,Yayasan Penerbit

tjl.

lakula 19'15- hlm.54-55. pada sisi 1,ane lain ada vanr berpendapr konsep negara hukum modern merupakan penggabungan konsep negara hukum dari Julis stahl dan Av Dicey , Konsep negara hukum dari Julius Stahi mencakup empat elemen penting yakni perlindungan terhadap

[IAM;

pembagian kekuasaan; p€merintahan berdasrkan UU; adanya peradilan tata usaha_

Sedang konsep negara hukum menurut

Av

Dicey yang disebutnya The rule of lau,adalah sebagai

berikut supremacy

of low;

Eqaality before the law: due process of

/an.

Bahkan lnternaio;al commision ofiuris, menambahkan prinsip peradilan yang bebas dan tidak memihak (independence arul impurtiulity ofludic ir.rry) sebagai prinsip konsep negara hukum yang demokratis.

'

Jimly Asshidiqic. Menyahkan bahwa terdapat bcbcrdpa prinsip negara hukunr yakni

l)

Asas legalitas, pembatasan kebeba-san wiuga negarir (oleh pemerintah) harus ditemukan dasamya dalam undang- undang yang merupakan peraturan umum. Kemauan undang-undang itu harus mcmbcrikan jaminan

\(!!,,qsep ,tqisu iir;jiiri linii t;;;;:;aii (p;;iic;iiiiiit) ,,.i,{ ".*.i,..i,*-i,citoi,r. i..1.,,_ .1a,, i,.,l,.xd; ;eris tindakan yang tidak bcnar, pelaksanaan wewenang oleh organ pemerintah harus dikembalikan dasamla pada undang-undang tenulis, yakni undang-undang formal; 2)perlindungan hak asasi manusia 1HAMl;

l)

Keterikatan pemcrintah pada hukum:4) Monopoli paksaan pemerin.eh untuk menjamin penegakan

hukum; dan

5)

pcngawasan oleh hakim yang rnerdcka dalam

hal

organ

organ

pemerintah

melaksanakan dan nrcnegakkan atumn-aruran hukum. (Jirnly Asshidiqie. Dento*ru.ti tlan \onokrasi . Prusurantt l4enuit lnthtncsiLt lJunt. Kupita Selcktd

lari

lluAum. f'H-tll. Jakana l0{)0-

hllr

l4i-l;14)

ri

a

a

(22)

Dalam

konsep negara

hukum yang harus dijadikan panglima

dalam kehidupan kenegaraan adalah

hukum,

bukan

politik

ataupun

ekonomi.

Oleh karena itu

istilah

yang digunakm dalam bahasa Inggris untuk menyebut prinsip negara

hukum

adalah rule of law, not

of

man.3

Berdasarkan gambaran

di alas dapaf dijelaskan bahwa

negara

harus ikut

campur

tangan

dalam segala bidang

yakni politik,

sosial dan terutama bidang

ekonomi. Negara harus

bertanggrmgiawab

terhadap

kesejahteraan rakyat

dengan cara memberi

pemahaman

pada pelaku usaha besar agar

mau membatasi

diri

dalam berusaha sesuai dengan

etika bimis yang

sehat s€rta

tidak

melakukan

praktik

bisnis yang mengarah pada tindakan

monopoli

serta memberikan perlindungan pada

pelaku

usaha

kecil

agar dapat berkiprah

di

bidang ekonomi.

Dalam konsepsi negara kesejahteraan/kemakmuran

ini,

negara dituntut

untuk memperluAs tanggung jawabnya kepada

masalah-masalah sosial

ekonomi

yang dihadapi oleh rakyat banyak, peran

individu untuk

menguasai hajat hidup rakyat banyak ditiadakan. Perkcmbangan

inilah

yang membcrikan legislasi bagi negara intervensionis pada abad ke-20.4 Negara

justru

perlu dan

'

Jimly assidhiqie, Gagason Negara Hukum Inr*tnesia, pDF Created with desk pDF

Writer

'Irial

diunduh 4 Nopember 201 I menyatakan bahwa *... dalam konsep negara hukum ini, diidealkan bahwa vang harus dijadikan panglima dalam dinamika kehidupan kenegaraan adalah hukum, bukan politik ataupun ekonomi- Karena itu jargon yang biasa digunakan dalam bahasa Inggris untuk menyebut prinsip negara hukum adalah 'the rule of law, not man'- Yang disebut p€merintah pada pokoknya adalah hukum sebagai sistem, bukan orang per orang yang hanya berrindak sebagui ..wayung,.

duri skenario yang mengaturnya. cagasan negara hukum itu dibangun dengan mengembangkan perangkat hukum itu sendiri sebagai salah satu sistem yang fungsional dan berkeadilan. dikembangkin den-qan menata supra struktur dan infi-a struktur kelembagaan. politik- ekonomi, dan sosial vang tertib dan la1:!ttI ian2,l;h;,r. ,J^-.a,r -',--rL.-,,,'n h,,r-.-. r,,,, l,n.r/r-..,^ r",,1,,,,-.,.no r. . ; ^ ,. ., r , t ^ - : ..,.1,i. -,.,,..ii. - . . - . . - . ..--r dalam kehidupan masvarakar, b,erbanssa dan bemegara. untuk itu sistem hukum perlu dibangun (1aw maling).

a Gunrher Teubner menyatakan bah*a negara keseiahteraan adalah negara vang suka meneintervensi (intervensionist str-rte,./. Scnada dengan Teubner. l,awrence Friedman menyatakan bahu.a negara kese'iahteraan adalah negara yang suka mengatur (rhe w.elafore regulatory J/d/c,/ sebagainana yang

din\alakannya thc stut.: in rther

'.rrdi

is {idnl nd(hine /i)t" ttekinp aru} applt ing ld$.

lt

is (;innt

11

)

I

t

, I
(23)

bahkan harus melakukan intervensi dalam berbagai masalah sosial

dan ekonomi rmtuk menjamin terciptanya kesejahteraan bersama dalam masyarakat Pada

sisi yang lain, Sri Redjeki Hartono

berpendapat

bahwa

asas campur taogan negara tertadap kegiatan ekonomi merup,kan salah satu dari tiga asas penting yang dibutuhkan dalarn rangka pembinaan

cita hukum dari

asas-asas hukum

nasional

ditinjau dari aspek hukum dagang dan ekonomi, Dua asas lain

adalah

asas keseimbangan

dan

asas p€ngawasan

publik. Menurut

beliau, kegiatan ekonomi yang terjadi dalam masyarakat membutuhkan campur tangan negara, mengingat

tuj,'an

dasar

ekonomi itu sendiri

adalah

untuk

mencapai kermtrmgan. Sasaran tersebut mendorong

terjadinya

berbagai penyimpangan bahkan kecurangan yang dapat menrgikan pihak-pihak tertentu, bahkan semua

pihak. Oleh karena itu beliau

menegaskan

bahwa campur tangan

negam terhadap kegiatan ekonomi secara umum dalam rangka hubungan hukum yang terjadi tetap dalam batas-batas keseimbangan kepentingan umum semua pihak.

Campur tangan negara dalam hal ini adalah dalam rangka

menjaga

keseimbangan kepentingan semua pihak dalam masyarakat,

melindungi

kepentingan konsumen dan produsen. sekaligus melindungi

kepentingan negara dan kepentingan umum terhadap kepentingan perusahaan atau pribadi.j

Dalam hubungannya dengan indusri ritel saat ini, yakni

atlanya

ketidakseimbangan

dan ketidakadilan antara ritel modern dengan

ritel

tradsional,

konsumen

dan

pemasok

yang terjadi

karena diserahkan kepada mekanisme pasar. Guna mengatasi

hal demikian

maka pengaturannya harus

machine of social conrrol, but social control which

k

exercised rhrough law.... The welfare state untl regulotory slale is a stqte commified to programs. Government is a problem solver, as well os the guardian of

low"-

( Gunther Tetbner.The Transformation of Lov, in The the llelafore Srare, dalam dilemmas of low in the welufare srare, Editor Gunther Teubner, walter de Gruter, Berlin 19g6. hlm.

i.

r3,15. /.

tSri

Red.ieki Hartono- Koprta Selefua \lukum Ehonomi. Nlawl* Maiu. Bandung 2000. hlrn. lj-15.

t5

(24)

diambil alih oleh

negara

(pemerintah) melalui peran aktif negar4

yang didasarkan

pada kombinasi

antara

teori

kebebasan pasar

dari adam

Smith

dengan teori difierence principle dari John Rawls. Sebagai solusi

atas

ketidakadilan distribusi ekonomi oleh pasar, maka disamping

menjaga kebebasan yang

sama bagi

sernua negara

dituntut

untuk mengarnbil langkah

dan kebijakan khusus tertentu yang

serc,rra

khusus dimaksudkan

untuk membantu keadaan

sosial

dan ekonomi kelompok yang secara

obyektif

tidak

bermtung

bukan karena kesalaharmya sendiri, dan mereka tirtak mampu untuk

memperbaiki kon disi ekonomi dan

sosialnya sebagai

akibat struktur

sosial

yang ada Indusfi ritel modern maupun tradisional

sangatlah dibutuhkan;

dengan

demikian

keberadaannya

tidak

boleh

saling

memtaikan. Keberadaan pasar

ritel

modem hanrs ditata agar tidak menghilangkan atau mematikan

ritel fadisional di pasar tradisional maupun di

kampung-kampung.

Untuk itu pemerintah harus mengambil tindakan sebagai untuk meiindungi

dan mengembangkan

peritel tradisional

yang

meliputi produk,

produsen maupun

gerai (outlet). 6

Negara disatu sisi merupakan pusat pengambilan keputusan

yang penting dan kekuasaan administrasi, sedangtan

di

sisi

lain

merupakan sumber

untuk

membatasi tindakannya

sendiri

dzrn

tindakan warga

negaranya_ Oleh sebab

itu berdasarkan "Power of

Economic

Regulation"

yang

dimiliki

oleh p€merintah untukmengatur pasar, pemerintah harus mengambil tindakan tegas kepada siapa saja yang merugikan maupun yang melindungi pihak-pihak yang melanggar hukum. Pemerintah tidak boleh mengeluarkan peraturan perundang- undangan yang hanya akan menguntungkan atau melindungi pelaku ekonomi

5 Nanik Trihastuti- Perkembongon lnt*tstri Ritel cli lntknesirt ukum BisnisVol

3l

No. 5 Tahun 2011. h1m.522.

Sualu Koii.rn Socio /egal dalam Jurnal

l6

(25)

tertentu. Keputusan

apapm

yang dikeluarkan oleh pemerintah haruslah tetap

berada dalam ranah keadilan sosial, yaitu dalam rangka

mewujudkan kesejahteraan bagi wargury

a'

22.

Peren Negara

dallm Mekenisme

Pesar.

Secara

umum peran negara di dalam pasar tergantung pada

sistim perekonomian yang dianut oleh sebuah negara Sistim perekonomian yang dianut oleh sebuah negara secara garis besar dapat digolongkan ke dalam beberapa sistim :

l. Sistem ekonomi liberalafau yang oleh Gregory rlan

Stuar.t disebut

sebagai sistem ekonomi kapitalis.(Gregory dan Stuart,

1992)pada sistem

ekonomi ini

pasar mempunyai peran utama. Peran pemerintah dibuat seminimal

mungkin

dan mernaksirnalkan peran swasta/individu dalam kegiatan ekonomi. Sistem ekonomi

ini

menghendaki pasar bebas

untuk

menyelesaikan permasalahan

ekonomi, mulai dari

produksi,

konsumsi sampai distribusi..

2.

Sistem ekonomi sosialis. Sistem ekonomi

ini

muncul sebagai jawaban

atas sistem ekonomi liberal yang

mengeksploitasi

manusia.

peran negara

dalam sistem ekonomi sosialis ini

sangat

dominan

sehingga

peran individu sangatlah terbatas/ tidak ada kebebasan

dalam menjalankan aktivitas ekonomi.

Untuk itu

negara harus berperan secara signilrkan tmtuk mewujudkan

equilibrium

dan keadilan ekonomi dalam pasar. Dalam

sistinr ekonomi

sosialis

ini.

harga-harga ditetapkan olch

pemerintah, penyaluran barang dikendalikan oleh negara.

sehingga

7 Narik -Irihasruti.

lbil

l1

(26)

tidak terdapat

kebebasan

pasar. Seluruh kegiatan ekonomi

atau

produksi

harus diusahakan

bersama Tidak

ada usaha swasta" semua perusahaan adalah usaha

negara

Semua didasarkan pada perancanaan

pemerintah pusat dan diusahakan langsung oleh negara.

Secara akademik sistim sosialis

ini

dapat

dibagi menjadi 2 yalni : l.

sosialis pasar (market

socialism) dan sosialis

terencana Qtlanned socialism).

Ciri dari

sistem sosialisme pasar adalah kepemilikan

faktor

produksi

oleh negara

dan

atau kepemilikan

secara

kolektif oleh publik.

Apa yang harus diproduksi berdasarkan perencanzxm pusal dan para pelaku

ekonomi

terikat untuk melaksanakan apa yang telah direncanakan oleh pusat tersebut.

Motivasi

para pelaku ekonomi adalah

insentif

material dan moral.

(Adi

Sulistoyono, 2010)

3. Sistem ekonomi

campruan.

Sistem ekonomi ini

memadukan antara

sistem ekonomi liberalis dan sistem ekonomi sosialisme.

Dimana

negara turut serta.campur tangan dalam kegiatan ekonomi

guna mewujudkan keadilan

distribusi

pendapatan dan hasil produksi kepada seluruh masyarakat.

4.

Sistem ekonomi Islam.

Sistim ekonomi

Islam hadir

jauh lebih

dahulu

dari

sistim ekonomi

liberal/kapitalis

(abad

ke t7)

dan sistim ekonomi sosialis

(

abad

ke l8).

Dalam

sistim

ekonomi Islam, pasar, negara dan

individu

berada

dalam

keseimbangan,

tidak boleh

ada

sub

ordinat, sehingga salah satunya menjadi dominan

dari

yang

lain.

pasar

dijamin

kebebasannya

dalam lslam. Negara mempunvai peran vang

sama dengan pasar.

Konsep

mekanisme pasar

dalam lslam dapat dirujuk dalam lladist Rasullullah SAW

sebagaimana disampaikan

oleh

Anas

r8

(27)

bahwa Rasullullah

tidak

menentukan

harg4

namun diserahkan kepada

mekanisme pasar karena hal ini merupakan kehendak Allah

(sunatullah).

"

Harga-harga

melambung

padla

zanan

Rasulullah

SAW.

Orang-orang

ketika itu mengajukan

saran

kepada beliau

dengan berkata

.. ya Rasulullah hendaklah engkau menenhrkan harga ..

Rsasulullah

berkata "Sesungguhnya Allahlah yang menentukan harg4

yang menahan dan

melapangkan

dan memberi

rizki. Sangat

aku harapkan bahwa

kelak aku menemui Allah dalam

keadaan

tidak

seorangprm dari

kamu

menuntutku tentang

kezaliman

dalam darah harta ..

5.

Sistem

ekonomi

Pancasila.

(Adi Sulistoyono, 2010)

Sistem ekonomi Pancasila merupakan sebuah sistim

ekonomi

yang

tidak ditemui

dalam

literatur

Barat, namun sisrim

ini

merupakan

sistim ekonomi ciri

khas

bangsa Indonesia yang didasarkan pada kepentingan

rakyat sebagaimana

disebutkan dalam

Penjelasan

Pasal 33 UUD 1945 * .Dalam demokrasi ekonomi kemakmuran masyarakatlah

yang diutanrakan bukan kemakmuran orang seorang."

. lnilah ciri

sosialistik Pasal 33

UUD

1945 yang

juga

merupakan

doktrin

demokrasi ekonomi.

Selanjutnya guna menjamin posisi rakyat yang substansial

dan kemakmuran rakyat yang diutamakan maka

disusunlah Ayat (2)

pasal

33

UUD

1945 yang berbunyi

"

Cabang-cabang produksi yang penting

bagi

negara

dan

menguasai

hajat hidup orang

banyak

dikuasai

oleh negara'- Secara

garis

besar

sitim ekonomi

Pancasila pusatnya adalah

l9

(28)

kemakmuran rakyat-t Hal mana berafti kemakmuran

rakyat

didahulukan

dan

hal

tersebut dibangun secara berencana

hal-hal

dan

fidang-biclang dari

kehidupan

rakyat.

Sistem

ekonomi

pancsila oleh sebagian

ekonom

dimasukkan

pula dalam kategori sitem

ekonomi

qlmpuftm.

Dalam praktek

sehari-hari, sistem

ekonomi

Pancasilae banyak

disimpangi dan lebih berpihak pada sistem

ekonomi

liberaVkapitalismero -Yoshihara Kmio menyebutnya

sebagai kapitalisme

*mu

"ersatz

capitalism"

dan selanjutnya melahirkan

rezl seeking befuwiour- yang kemudian berevolusi menjadi

neo

liberalismell

yang memungkinkan negara melakukan intervensi atas

E Sumantoro, Hubtm Ekonomi, UI Press, Jakarta I9E6, hlm. 258. pada sisi yang lain ada juga yang berpendapat bahwa sisitim ekonomi Pancasila merupakan bagian dari sistim ekonomi campuran'dan dis€hx juga dengan demokrasi

ekonomi

Bung Hatta mengemukakan bahwa demokrasi ekonomi Indonesia didasari atas tiga pdnsip, yakni Etika Sosial yang tertuang sila-sila Pancasila, Rasionalitas ekonomi yang diwujudkan dalam perencanaan ekonomi serta organisasi ekonomi berdasarkan asas kebersamaaq keswadayaan. ( soewito, Reformosi strategi lndustri dzlan yoserwan, Huktn Ekonomi lndonesia Delom Era Reformasi dan Globaiisasi, Andalas universiry press, padang 2006. hlm. 100)

'ciri-ciri

sistim ekonomi pancasila adalah sebagai berikur : 1t). [oda kegiatan -ekonomi

digeraklan oleh rangsangan-rangsangan ekonomi, sosiai dan moral; (2). Ada tekat kuat seluruh bangia untuk mewuju<ikan kemerataan sosial; (3)-Ada nasionalisme ekonomi; (4) Koperasi merupakan sokoguru ekonomi nasional; (5) Ada keseimbangan yang selaras, serasi dan seimbang dari perencanaan ekonomi d"engan pelaksanaannya di daerah-daerah. (Mubyarto, .snrrn Ekonomi Nasiona!- Konrpas 5 Juli 1997)

''

. Hal

ini

terbukti semakin banyaknya perusahaan negara yang diprivatisasi dan terpinggirkannya kehidupan ekonomi rakyat kecil dengan banyak tumbuhnya rit;l m"odern/ntel asing dan bennodal besar

serta

semakin tergantungnya negara pada asing dalam pemenuhan sembilan bahan pokok. oleh beberapa pakar dikatakan bahwa Indonesia selama ini menganut sistim ekonomi kapitalis :malu-malu"

dalam arti pemerintah malu mengakui bahwa Indonesia menerapkan sistim ekonomi kapitalis, sehingga peraturan perundang-undangar bidang ekonomi lebih banyak yang mengabdi pada konglomerasi dibanding pada rakyat kecil, Selanjutnya baca Adi Sulistyono. Op.Cit, hlm.23

Penyimpangan praktek perekonomian

di

Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya menurut Yoshihara

Kunio

merupakan Kapitalisme sem., (ercatz k pitalisn) bukan kapitalisme mumi. Erual, terjadi karena para pengusaha besar (kapitalis) tidak mampu berdiri sendiri dan bersaing dengan kompetitomya tanpa bantuan pemerintah, Kebanyakan mereka adalah pemburu rente (reni seekzrs) yang mencoba mencari keuntungan melalui jalinan/kerjasama&ongkalingkong dengan penguasa pemerintahan, Mereka mencari peluang menerima rente dengan memanfaatkan proteisi.

lisensi bisnis atau monopoii kegiatan bisnis tcrtentu dengan pemerintah Mereka antara lainanggota

^cluarga Picsi.i;ir- kri,;ri

l'i""i.ici,

aiir.ir l,ir.,L;ai didu iljiio,d taiis

l,.,riii,. ..ii, j..ii

1,",,g.""ii.

'.,i,

para politisi. Sedangkan para kapitalisme mumi sangal mengandalkan persaingan,&ornpetisi dan inovasi reknologi sepeni

di

Jepang misalnya- (Kapitalisme Semu

:

penguasa dan pengusaha <ii Indonesia C.iunduh l6 Seprember

l0li

iam 13.00 WIB)

"

Dengan tok.h utarnan_ra Alexander Rustow dan Wilhelm Roepke yang pada iahun 1932 telah rnerumuskan riasar dasar dari neo liberalism- 1,ang menggarisbawahi betapa penti.gnya suatu sisterlr perekonomian rang bebas dan hqlus didukung olch suaru pemerintahaa tang kuat Ullpf melindungin\ a

20

(29)

terhadap inlerest qro,,p (kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan tertentu dalair perekonomian.

Neo libelisme beranggapan bahwa adalah suatu kesalahan besar yang dibuat oleh liberaiism ekonomi klasik terutarna adalah karena pelaksanaan proses ekonomi diserahkan pada pihak swasta dan telah meminggirkan peranan pemerinrah (negara). Baca prof. Rudiger Fun\ Op.Cir.,hlm_ g.

''

Berkaitan dengan ini Sri Edi Swasono menyatakan bahwa membangun ekonomi rakyat memang memerlukan 'premihakan', suatu sikap ideologis yang memihak untuk memuliakan kedaulatan rakyat_

Pembangunan ekonomi ralryat memang merupakan suatu sh?tegi yang tepat untuk mengembanglan perekonomian nasional- yaitu suatu strategi meningkatkan produktivitas rakyat (rakyat nmenjadi asset nasional) dan utilisasi efektif sumber-sumber daya yang tersedia. Lebih dari itu. membangun ekonomi .a-kyat mempakan salah satu ujud mendasar prelaksanaan pendekatan partisipatori dan emansipasipatori vang 'rt.-r-.r.-!.-- dituntut oleh paham demokrasi ..{.)..t-.-ekonomi. Baca Adi Sulistiyono, Op.Cit, hlm_ 23.

UiIrii d rr!idrd udrdrir u!,!^r,l(Il,dii nrempunyai dua macam peranan yakni sebagai rcgulat'or a"^ ,"U"g"i

".',-o;.

,!r- izi;;k;;il;

peranan negara sebagai aktor yang berupa BUMN. Peranan negara sebagai regulator tidak dijelaskan dalam rumusan yans ada- kecuali istilah "dikuasai" diinterprstasikan :ebasai "diatur''- tetapi vang diatur disini adalah sumber daya alam yang diarahkan sebesar-besar kemakmuran rakyar, M. Darvarn raharrljo.

Evaluasi don Dampak Amandemen {JL'D tt)lirerhodap perekonontiun lndonesitt.

t',\,lslA,

No.

19/"0ir'1i t.,)003

pasar mengingat adanya banyak ketimpangan

yang ditimbulkan

oleh

sistim

liberalisme yang salah satrmya adalah terjadinya eksploitasi atas manusia dan

tidak

meratanya pembagian pendapatan dalam masyarakat

rhingga

menimbulkan

jurang

pemisah

yang

semakin

lebar

antara si kaya dan si

miskin.

Dimana

si

kaya semakin kaya dan

si miskin

akan

semakin terpuruk di bidang perekonomian

karena

ketidakmampuan/tidak memiliki kemampuan untuk

berkompetisi.

Karena tidak adaoya kesamaan kemampuan individu

didalam

masyarakat inilah yang

mengharuskan

negara untuk ikut

campur tangan/intervensi

di

dalam pasar.l2 Campur tangan negara dalam pasar

bukanlah

suatu

bal yang dilarang namun campur tangan ini

harus

dibatasi agar tidak memarikan kreativitas individu,/swasta

yang diidentikkan dengan pasar dalam berbagai

sisilim

perekonomian.

Peran negara

di

dalam pasar

wajib

ada mengingat negara kita menganut sistem negara kesejahteraan atau negara

penguus

menurut pendapat proklamator negara Indonesia,

Moh.

Hatta. Selain merupakan kewaj

iban imperatif

berdasarkan

UUD l945rr.

campur tangan negara

)1 t

I

(30)

juga

merupakan suatu

hal

yang lumrah dalam bidang ekonomi karena negara mernainkan

peran

sebagaimana yang dikemukanakan

oleh

W.

Friedman yakni ada empat frrngsi

negara

yakni

sebagai penjamin

Qtrovider) Kesejahteraan rakya!

pengatur

(regulato), pengusaha (

enttepreuner),

d2n

wasil (unpire)

untuk merumuskan standar-standar yang adil dalarn sektor ekonomi. la

3. Makne Perlindungan Hukum

Hukum

sangat

dibunrhkan

sebagai

alat perlindrmgan individu

dalam berinteraksi di masyarakat agar tercapai ketertiban ,lan terhindar dari konJlik dalam memenuhi kebutuhan

ekonominya

Secara

umum

pengertian perlindungan dapat

diketahui dari Kamus Besar Bahasa Indonesia yang menyatakan

bahwa perlindrmgan berasal

dari

kata

lindrmg

yang

memilik arti

mengayomi, mencegah, mempertahankan, dan memberrt€ngi. Pada

sisi

yang

lain

perlindungan

juga

dapat

diartikan

sebagai konservasi, pemeliharaan, penjagaarL

asilum,

dan

bunker.

Oleh karena

itu Perlindungan

sangatlah dibutuhkan oleh

individu

sebagai obyek hukum dalam berinleraksi

di

masyarakat karena

interaksi

akan

selalu menimbulkan

hak dan kewajiban. Selain

itu masing-masing anggota msyarakat

tentu mempunyai

hubungan kepentingan y;rng berbeda-beda dan saling

berhadapan atau berlawanan untuk mengurangi ketegangan dan

konflik.

Maka

perlindungan

yang

demikian akan bersilat mengatur dan melindungi

kepentingan tersebut. Itulah yang dinamakan Perlindungal Hukurn

Berdasarkan

sedikit

gambaran

di

atas dapat

diartikan

bahrva perlindungan hukum

adalah

suatu pcrlindungan yang diberikan terhadap subyek

hukum

dalam

22

!'

Wolfuang

Friedm an- fhe State ond The Rule of l.uw in mked eutnomy, Steven and Sons, l.ondon 1971. hlm, 3.

(31)

bentuk perangkat hukum baik yang bersifat preventif maupun yang

bersifat

represil baik

yang

tertulis

maupun

tidak tertulis.

Dengan kata

lain

perlindungan

hukum

sebagai suatu gambaran

dari fungsi hukum. yaitu

konsep dimana hukum

dapat memberikan suatu keadilan, ketertiban, kepastian, kemanfaatan

dan kedamaian.

Terdapat beberapa pengertian/makna perlindungan hukum yang disampaikan oleh para ahti, antara lain :

I. Satjipto Raharjo mendefifi5ikan perlindungan hukum artatah

memberikan

pengayoman kepada hak asasi manusia yang dirugikan orang lain

dan

perlindrmgan tersebut diberikan kepada masyarakat agar mereka

dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.

2. Philipus M. Hadjon berpendapat bahwa perlindungan hukum

adalah perlindtmgan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang

dimiliki oleh

subyek

hukum

berdasarkan ketentuan

hukum

dari kesewenangan.Pada sisi yang

lain Philipus M. Hadon juga

berpendapat bahwa perlindungan hukum adalah sebagai kumpulan peraturan atau kaidah yang akan

dapat melindungi suatu hal dari hal lainnya. Berkaitan

dengan konsumen.

berarti hukum memberikan perlindungan terhadap hak-hak pelanggan

dari sesuatu yang mengakibatkan tidak terpenuhinya hak-hak tersebut.

3. CST Kansil

berpendapat bahwa

perlindungan hukum

adalah berbagai upaya

hukum yang

harus

diberikan oleh

aparat penegak

hukum untuk

memberikan

r:rsa arnan, baik

secara

pikiran maupun fisik dari

gangguan

dan

berbagai anc,unan dari pihak manapun.

4. Muktie, A.

Fadjar menyatakan bahwa perlindungan hukum adalah penyempiran

arti dari

perlindungan.

dalam hal ini hanya

perlindungan

oleh hukum

saja.

I

I

(32)

Perlindrmgan yang diberikan oleh hukum,

terkait

pula dengan adanya hak dan

kewajibaq

dalam

hal ini

yang

dimiliki oleh

manusia sebagai subyek hukum

dalam interaksinya dengan

sesarna

manusia setu lingkungannya.

Sebagai subyek

hukum

manusia

memiliki hak

dan

kewajiban untuk

melakukan suatu tindakan hukum.

4. Teori Perlindungan Hukum

4.1. Konsep Negara

Hukum.

Pemahaman

Negara hukum selalu diawali dan berpusat

antara

pemerintah dengan yang diperintah. Secara umum negara hukum

dapat

dipahami

bahwa kekuasaan negara harus

dijalankan

atas dasar

hukum

yang

adil

dan baik. Secara garis besar dalam negara hukum terdapat dua unsur, yang

Wrlama hubrmgan antara yang memerintah dan yang diperintah

tidak berdasarkan kekuasaan,

melainkan

berdasarkan suatu

norma objektill

yang

juga mengikat pihak

yang memerintah,

dan yang kedua

norma

objektif itu

harus memenuhi syarat bahwa

tidak

hanya secara

formal, melainkan

dapat dipertahankan berhadapan dengan

idea hukum. I)i sisi lain

dapat dikatakan bahwa perkembangan konsep negara

hukum

merupakan produk

dari

sejarah.

Oleh karena itu untuk

memahami pengertian negara

hukum

harus terlebih

dahulu memahami

gambaran

sejarah pemikiran politik dan hukum,

yang mendorong

lahir

dan berkembangnya konsepsi negara hukum.1S.F. Marbun.

1997)

Ditinjau dari pcrspektil historis

perkembangan

pemikiran

fllsalar

hukum dan

kenegaraan gagasan mengsnai negara hukum sudah berkembang semenjak 1800

S-M. Akar tcrjauh mcngcnai

perkcmbangan

a*al

pcmikiran
(33)

negara

hukum

adalah pada masa

Yunani kuno.Is Menurut Jimly Asiddiqie

gagasan

kedaulatan rakyat tumbuh

dan berkembang

dari tradisi

Romawi, sedangkan

Aadisi Yunani Kuno menjadi s',mber dari

gagasan kedaulatan hukum.

Konsep Negara Hukum

di

Eropa kontinental dikembangkan antara

lain oleh

Immanuel

Kail,

Paul Laband, Julius Stahl, Fichte, dan

lain-lain

dengan

menggunakan istilah Jerman, yaitu

"rechtsstaal

". Menurut Julius

Stahl,

konsep Negara Hukrm yang disebutnya dengan istilah 'rechtsstaat" itrt

mencakup empat elemen penting, yaitu:

I.

Perlindungan hak asasi manusia-

2-

Pembagian kekuasaan,

3.

Pemerintahan berdasarkan undang-undang.

4.

Peradilan tata usaha Negara-

'r Pada masa Yunani Kuno pemikiran tentang Negara Hukum dikembangkan oleh filsuf besar seperti Plato (429-347 SM) dalam bukunya Politikos yang dihasilkan dalam penghujung hidupnya, Plato menguraikan bentuk- bentuk pemerintahan yang dapat diselenggarakan pemerintalr yang dibentuk melalui

jalan

hukum dan pemerintahan yang rerbentuk ridak melalui jalan hukum. Bandingkan pula dalam Budiono Kusumohamidjojo, Filsafat Hukum : Problematika Ketertiban yang Adil, Crasindo, Jakarta, 2004, him. 36-37, yang menjelaskan Konsep Negara hukum menurut Ariesloteles (J84-322s-M) adalah negara yang berdiri di atas

hukum yang menjamin keadilan kepada warga oegaranyr- Keadilan merupakan syarat bagi

tercrpailya kebahagiaan hidup untuk warga negaranya, dan sebagai dasar dari prda keadilan itu perlu dajarkan rasa susila k€pada s€tiap manusia agar ia menjadi warga negara yang baik;

dan bagi Aristol€s yang Deoerintah dalam negara bukan manusia seb€narnya, melainkan fikiran yang adil, sedangkan petrguasa sebenarnl'a hanya pemegang hukum dan keseimbangan.

Lihat

juga dalam

Notohamidjojo,

Mrkna

Negara Hukum Bagi Pembaharuan Negara dan Wibawa Hukum Bagi Pembaharua[ masyarakrt

di

lndonesia, Badan Penerbit Kristen, 1970,

him. 21.

Pada mrsa abad pertengahan pemikirau teDtang Negara hukum

lahir

sebagai pcrjuangan melawan kekuasastr absolule para raja- Menurut Paul Scholten dalam bukunya:

l/erzamel Geschrifien, deel - Tahun 1949, him 383, dalam pcmbicaraan Over den Reschtaot. istilah Ncgart lrukuot bcrasal rlari abat XIX, letapi gagasal lcrltarrg NcBara llukunr

ilu

tulrrbul r-li

Eropa sudah hidup dalam abad tuiuh belas. Gagasan itu tumbuh

di

Inqgris dan merupakan larar belakan.q dari Glorious Re"-olution I68E M- gagasan itu timbul sebagai reakri terhadap kerajaan r:: -: :!:.--,!:::. r::: i!!.!:-:!,r.:: J!ur|'s! r,.x

Britiinl,

yaog berisi hak dan keebasan rlari pada kawula Negara serta peratura[ p€ngganti raja di Inggris.

r5

(34)

Di

dalam tradisi

Anglo Amerika

konsep negara hukurn dikembangkan oleh

A.V. Dicey

dengan sebutan,,The Rule of

law".

Dalam hal

ini A.V.

Dicey adanya

tiga ciri penting dalam setiap Negara Hukum

yang disebntnya dengan

istilah

,,The Rule

of

Law,,,

yutu:

l-

Supremacy

of

l^ow.

2-

Equality

before the law.

3. Due Process

of

Low-

Keempat

pdtttsip

"rechtsstoot,, yang

dikembangkan

oteh Julius

Stahl tersebut

di

atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga

prinsip ?a/e of Low'yang

dikembangkan oleh

A.V. Dicey

untuk menandai

ciri_ciri

Negara

Hukum modem di zarnan sekarang. Bahkan, oleh ,,The International Commission of Jurist", prinsipprinsip Negara Hukum itu ditambah

lagi

dengan prinsip peradilan bebas dan tidak memihak

(independence and

impartiality

of

judiciary) yang di

zaman sekarang

makin

dirasakan mutlak

dlperlukan dalam setiap

negara

demokrasi. prinsip-prinsip yang

dianggap

menjadi ciri

penting Negara

Hukum

menurut "The

Internorional

Commission

ofJurists"

itu adalah :

l.

Negara harus tunduk pada hukum.

2. Pemerinlah menghormati hak-hak

individu.

3. Peradilan yang bebas dan tidak memihak.

Dalam kontek ke Indonesiaan pemahaman terhadap konsep negara hukum dapat

dijumpai dalam

penjelasan

UUD

1945. Setelah amandemen

ke

empat tahnn 2002 secara tegas konsepsi negara

hukum

atau,,Ret:h:it

ut..dirumuskan

dalam Pasal

I

ayat

(3) UUD NRI I945

yang menyatakan. ,'Ncgara Indonesia adalah Negara

Hukunr." I)alam

konsep Negara

IIukum ini.

triidearkan bahr.ia

26

I

(35)

yang

harus

dijadikan

panglima dalam kehidupan kenegaraan adalah hukum, bukan

politik

atauprm ekonomi. Karena itu,

istlah

yang biasa digrmakan dalam bahasa

Inggris

trntuk menyebut prinsip negara

Hukum

adalah'the

rule of

low,

not of mon\

Sedangkan

yang disebut

pemerintahan

pada pokoknya

adalah hukum sebagai sister4 bukan orang-perorang yang berkuasa dan sistem adalah yang mengaturnya-

Di

Indonesia negara hukum, sering diterjemahkan dari rechstaat atau the

rule of low.

Paham

rechstaat

pada dasamya

betumpu pada hukum

Eropa kontinental-

Ide

tentang rechstaats

mulai

popular

mulai

pada abad

ke XVII

sebagai

akibat dari situasi

sosial

politik

Eropa

di dominir oleh

absolutisme ra1ar6. Paham rechstaats dikembangkan

oleh ahli-ahli hukum Eropa

Barat

Kontinental, seperti Immanuel Kalrt (1724-1804) dan Frederich

Julius StahlrT. Faham the

rule of krw mulai

dikenal setelah

Albert Venn Dcey

pada

tahun

1885 yang menerbitkan

buku

Introduction

to

Study

of

The

Law of

The

Conslitulion.

Paham

the rule of law

bertumpu pada sistem huktm Anglo Saxon

atat

Common

Inw

sy.stemts

. Konsepsi Negara hukum menurut

Immanuel Kant.

dalam bukunya Methophysiche Ansfanggrunde der

Rechtslehr.

mengemukakan

mengenai konsep negara hukum liberal. Immanuel

Kant mengemukakan paharn ncgara hukrrm

dalam arti

sempit,

yang

menempatkan

fwgsi

recht pada staat, hanya sebagai alat perlindungan hak-hak

individual

dan kekuasaan negara

diartikan

secara

pasif,

yang bertugas sebagai pemelihara

tu Padmo Wahjono- Pembangunan Hukum

tli

Indonesia, Ind-Hill Co.. Jakarra- 1989, him. 30, bandingkan dengan Philiphus M. Hajon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyar

di

Indonesia: Sebuah

Studi tentang Pinsip- orinsipnva- Penerapannya oleh t,engadilan Dalam Lingkungan peradilan Umum dan Pembentul{an Peradilan Administrasi Negara. Bina Ilmu- Surabava. 1972-

It Miriam Brrdrhardl,t. ltasar-dusar ll,nu l',,lttik. Crarnedie Pustaka Ularna. jirkanr lqe8, hlm 57

18 lbid. hlm. ,")

#

27

,

I

(36)

ketertiban dan keanranan masyarakal Paham knmanuel Kant ini terkenal dengan

*blrr'r:rt nachwachkerstaat

s

atat nac hw ac ht erst oal s- t9 .

Frederich Yulius St'hl

(sarjana Jerman)

dalam karyanya :

Staat and Rechtslehre

II,

1978

him.

137, mengartikan pengertian Negara

Hukum

sebagai

berikut:

Negara hanrs menjadi

negara

hukum, itulah

semboyannya dan sebenamya

juga

daya pendorong daripada perkembangan pada zaman baru

ini.

Negara hanrs menennrkan secermat-cermatny4

jalan-jalan dan

batas-

batas kegialannya

bagaimana

lingkrmgan

(suasana) kebebasan

itu

tanpa

dapat ditembus. Negara harus mewujudkan atau

memaksakan gagasan

akhlak dari segi

negara"

juga

secara langsrmg,

tidak lebih jauh

daripada

seharusnya menurut

Gambar

Tabel  di  atas  juga  memperlihatkan  untuk  beberapa  jenis perdagangan  justru  mengalami penuruuur kuantitas pelaku usah4  seperti;
Tabel  di  atas  juga  memperlihatkan  untuk  semua  jenis

Referensi

Dokumen terkait

Kompetensi absolut PTUN adalah Sengketa Tata Usaha Negara yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang atau badan hukum perdata dengan badan atau pejabat Tata

SENGKETA KEWENANGAN LEMBAGA NEGARA YANG MEMPEROLEH KEWENANGANNYA DARI UUD 1945 ADALAH SENGKETA YANG TIMBUL DALAM BIDANG HUKUM TATA NEGARA SEBAGAI AKIBAT SATU

Kompetensi absolut dari peradilan tata usaha Negara adalah untuk memeriksa, mengadili, dan memutus sengketa yang timbul dalam bidang tata usha Negara antara seseorang atau badan

Undang-Undang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, GTZ, Deperindag dan Lembaga Pengkajian Hukum Ekonomi UI.. Hukum Persaingan Usaha: Filosofi,

Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara yang berisi tindakan hukum tata usaha negara yang

Pada koondisi terdapat UU Administrasi Pemerintahan sebagai hukum Materiil Administrasi Pemerintahan yang kemudian mengatur pula ketentuan hukum formil peradilan Tata Usaha Negara

Sebagai suatu sistem, hukum Indonesia terdiri atas subsistem atau elemen-elemen hukum yang beraneka, antara lain Hukum Tata Negara yang bagian bagiannya terdiri dari Hukum Tata Negara

Dalam buku ini Penulis mencoba menguraikan tentang Hukum Tata Negara Indonesia, dimulai dengan pembahasan tentang negara hukum, dilanjutkan tentang pembahasan tentang Konstitusi,